Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 414 : Jebakan untuk Bellina

 


“Hai, cantik ...!” sapa salah seorang pria sambil menghampiri Bellina.

 

Bellina langsung menoleh ke arah pria bertubuh jangkung yang ada di hadapannya itu. Melihat wajahnya selama beberapa detik, tidak menarik sedikit pun.

 

“Mau aku temenin?” tanya Pria itu sambil tersenyum manis.

 

Bellina menggelengkan kepala. “Pergi jauh-jauh dari sini!” perintahnya.

 

Salah seorang pria menghampiri pria jangkung tersebut, ia ikut menggoda Bellina. Diikuti dengan pria lain yang berdatangan mengerubungi tubuh Bellina.

 

“Kalian mau apa?” tanya Bellina.

 

“Kamu kelihatan jago minum. Gimana kalau kita semua temani kamu minum?”

 

Bellina menggelengkan kepala. “Kalian semua jauh-jauh dari aku! Kalo berani macam-macam, aku bakal laporin kalian semua ke polisi!” serunya kesal.

 

Pria-pria itu langsung menjauhi Bellina satu per satu. Mereka terlihat saling berbisik satu sama lain sambil melirik tubuh Bellina yang putih dan seksi.

 

“Ganggu ketenangan orang aja!” umpat Bellina lirih.

 

 

 

Bellina sangat kesal dengan pria-pria yang mencoba mendekatinya. Ia ingin menghabiskan waktunya seorang diri. Ia masih tidak mengerti, mengapa semua orang yang bersikap baik terhadap Yuna.

 

 

 

“Yuna sialan! Kenapa semua orang selalu baik sama Yuna? Suamiku, Andre, bahkan tunangan Andre yang bego itu pun suka sama dia,” ucap Bellina sambil menikmati bir yang ada di tangannya.

 

“Sudah lama banget, nggak ngerasain sebahagia ini,” tutur Bellina sambil menatap air yang ada di dalam gelasnya. “Sudah lama nggak pernah mabuk. Malam ini, aku akan minum sepuasnya sampai mabuk.”

 

Bellina mulai menangis. Meratapi hidupnya yang kacau beberapa belakangan ini. Ia benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya lagi karena sudah berada di bawah pengaruh alkohol.

 

“Kenapa nasibku kayak gini?” seru Bellina sambil terisak. “Kenapa aku selalu kalah sama dia? Kenapa ...? Bahkan suamiku sendiri, lebih peduli sama dia daripada sama aku.”

 

Bellina menjatuhkan wajahnya ke atas meja. Air matanya terus mengalir sambil menatap sloki yang ada di tangan kanannya.

 

Seorang pria bertubuh tinggi tiba-tiba menghampiri Bellina sambil mengusap air mata Bellina yang membasahi pipi. Ia tersenyum sambil menatap Bellina tanpa mengucap sepatah kata.

 

Bellina menatap pria muda yang ada di depannya. Samar-samar, ia melihat pria itu mirip dengan Wilian beberapa tahun lalu. Alisnya yang tebal dengan mata yang begitu hangat. Wajah asia yang khas, berkulit putih, hidung yang tinggi. Rambutnya yang berwarna cokelat, senada dengan warna bola matanya. Bibir bawahnya yang terbelah begitu menggoda. Setiap wanita yang melihatnya, tak ingin menyia-nyiakan pemandangan ini begitu saja. Saat tersenyum, pria itu terlihat sangat manis dengan gingsul di kanan dan kirinya.

 

“Kamu siapa?” tanya Bellina sambil memicingkan mata menatap pria itu.

 

“Kamu lupa? Aku yang menyelamatkan kamu.”

 

“Menyelamatkan?” Bellina mengernyitkan dahi sambil memicingkan mata. Ia berusaha membuka semua ingatan masa lalunya. Namun, ia tidak menemukan apa pun tentang pria yang ada di hadapannya itu.

 

Pria itu mengangguk sambil tersenyum. “Namaku Arjuna Pranapati. Panggil aja Juna!”

 

Bellina mengernyitkan dahinya. “Arjuna Pranapati? Namamu kayak tokoh wayang,” celetuk Bellina. “Zaman sekarang, masih ada orang yang pakai nama begitu?”

 

Juna tersenyum sambil menatap Bellina. “Identitas negara kita memang terkenal dengan wayangnya. Aku lahir di Indonesia. Wajar kalau namaku Indonesia banget. Walau ibuku berasal dari Tiongkok, ayahku asli orang Jawa dan memberikan nama sesuai dengan adat dan budaya nenek moyang. Ada yang salah?”

 

Bellina menggelengkan kepala. “Aneh aja. Zaman udah modern, masih ada aja yang pakai nama kuno,” celetuknya.

 

Arjuna hanya tersenyum menanggapi ucapan Bellina.

 

Bellina mengangkat wajah sambil memerhatikan wajah Arjuna. “Tapi ... kamu ganteng juga.”

 

Juna tertawa kecil menanggapi ucapan Bellina. “Kamu sudah mabuk kayak gini, masih bisa lihat cowok ganteng dengan baik?”

 

Bellina mengernyitkan dahinya. “Siapa yang bilang aku mabuk, hah!?” tanyanya sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Juna.

 

Juna mengangkat kedua alisnya. Ia bisa mencium aroma alkohol yang kuat dari tubuh Bellina.

 

Bellina terus menatap wajah Juna selama beberapa detik. Ia mengerjapkan mata beberapa kali. “Jangan bergerak!” pintanya.

 

Juna menggelengkan kepala. “Aku nggak bergerak sama sekali.”

 

“Kamu jangan gerak-gerak kayak gitu! Aku pusing!” seru Bellina.

 

Juna tertawa kecil melihat Bellina yang sudah berada di bawah pengaruh alkohol. “Ini cewek lucu juga,” batinnya sambil menatap pipi Bellina yang memerah.

 

Bellina menggoyang-goyangkan kepala sambil memejamkan mata. Saat ia membuka mata, semua lantai dan atap ruangan terus berputar. Ia berusaha meraih dada pria yang ada di sampingnya itu. Saat tangannya baru akan mencapai tubuh pria itu, bayangan pria di hadapannya semakin samar, kemudian menghilang dalam kegelapan.

 

“Bang Jun ...!” seru seorang bartender begitu melihat tubuh Bellina tersungkur ke dalam pelukkan Juna dan tidak sadarkan diri. Ia langsung memanggil seorang pelayan agar menyingkirkan Bellina dari tubuh Bosnya.

 

“Nggak papa. Biar aku tangani sendiri. Dia temenku,” tutur Juna sambil memeluk tubuh Bellina.

 

Pelayan dan bartender yang ada di sana saling pandang. Biasanya, bos mereka tidak pernah mau mengurus pelanggan yang sedang mabuk. Kali ini, bosnya sungguh mengurus wanita mabuk itu seorang diri.

 

Juna tersenyum kecil. Ia mengangkat tubuh Bellina perlahan. “Siapkan mobil saya!” perintahnya pada pelayan yang ada di klub tersebut.

 

“Oke, Bang!” Pelayan yang disuruh menganggukkan kepala dan bergegas pergi menyiapkan mobil bosnya.

 

Juna langsung menggendong Bellina keluar dari klub miliknya. Ia melangkah perlahan, masuk ke mobil yang sudah disediakan oleh anak buahnya.

 

“Perlu kuantar, Bang?”

 

Juna menggelengkan kepala. “Aku nggak mabuk. Kamu lanjutin kerjaan kamu. Thanks ya!”

 

Pelayan tersebut mengangguk dan membantu Juna menutup pintu.

 

Juna memasangkan safety belt ke pinggang Bellina.

 

Bellina membuka mata dan langsung menangkup wajah Juna yang ada di hadapannya. “Aku sayang sama kamu,” ucapnya sambil tersenyum. Kemudian mengecup pipi pria itu.

 

Juna terdiam sejenak. Ia terus menatap wajah Bellina.

 

“Li, kenapa malah diam?” tanya Bellina.

 

“Oh. Nggak papa,” jawab Juna. Ia baru menyadari kalau Bellina menganggapnya sebagai orang lain. Ia memakai safety belt ke pinggangnya sendiri. Menyalakan mesin mobil dan melaju membelah jalanan malam yang sudah lengang.

 

Tepat jam dua belas malam, Juna membawa Bellina masuk ke apartemen miliknya. Ia langsung meletakkan tubuh Bellina yang sudah tak sadarkan diri.

 

Baru beberapa detik ia berbalik. Tiba-tiba saja Bellina bangun dan terdengar ingin muntah.

 

Juna membelalakkan matanya. “Jangan muntah di kasurku!” pintanya sambil berbalik. Ia bergegas menggendong Bellina dan membawanya ke kamar mandi agar Bellina memuntahkan isi perutnya di dalam kamar mandi.

 

“Huft, ngurus orang mabuk memang merepotkan!” gerutu Juna sambil membersihkan tangannya dengan handuk hangat setelah menyentuh tubuh Bellina. Ia membiarkan Bellina di dalam kamar mandi seorang diri.

 

Beberapa menit kemudian, Juna menoleh ke arah kamar mandi yang begitu hening. Bellina juga tak kunjung keluar dari ruangan kecil dan dingin itu. Ia kembali melangkah memeriksa kamar mandi. Ia menemukan Bellina yang tertidur di lantai dalam keadaan duduk.

 

Juna tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. Pakaian seksi yang digunakan Bellina membuatnya bisa melihat dengan jelas dada Bellina yang terbuka dengan sendirinya. Ia menghampiri Bellina, menggendongnya kembali ke atas tempat tidurnya.

 

Juna tersenyum sinis. Ia melepas semua pakaian Bellina dengan hati-hati dan menutupnya begitu saja dengan selimut.

 

“Hmm ... aku rasa, ini sudah cukup,” tuturnya lirih sambil melangkah pergi. Ia melemparkan pakaian Bellina begitu saja ke lantai. Ia sengaja meninggalkan kemeja dan celananya bersama dengan pakaian Bellina. Ia mengganti pakaiannya dan bergegas keluar dari kamar tersebut.

 

((Bersambung ...))

Thanks udah baca sampai sini...

Dukung terus supaya aku bisa bikin ceritanya lebih seru lagi. Aku update 3 bab lagi setiap hari untuk kalian... doain sehat terus ya!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas