“Hai,
cantik ...!” sapa salah seorang pria sambil menghampiri Bellina.
Bellina
langsung menoleh ke arah pria bertubuh jangkung yang ada di hadapannya itu.
Melihat wajahnya selama beberapa detik, tidak menarik sedikit pun.
“Mau
aku temenin?” tanya Pria itu sambil tersenyum manis.
Bellina
menggelengkan kepala. “Pergi jauh-jauh dari sini!” perintahnya.
Salah
seorang pria menghampiri pria jangkung tersebut, ia ikut menggoda Bellina.
Diikuti dengan pria lain yang berdatangan mengerubungi tubuh Bellina.
“Kalian
mau apa?” tanya Bellina.
“Kamu
kelihatan jago minum. Gimana kalau kita semua temani kamu minum?”
Bellina
menggelengkan kepala. “Kalian semua jauh-jauh dari aku! Kalo berani
macam-macam, aku bakal laporin kalian semua ke polisi!” serunya kesal.
Pria-pria
itu langsung menjauhi Bellina satu per satu. Mereka terlihat saling berbisik
satu sama lain sambil melirik tubuh Bellina yang putih dan seksi.
“Ganggu
ketenangan orang aja!” umpat Bellina lirih.
Bellina
sangat kesal dengan pria-pria yang mencoba mendekatinya. Ia ingin menghabiskan
waktunya seorang diri. Ia masih tidak mengerti, mengapa semua orang yang
bersikap baik terhadap Yuna.
“Yuna
sialan! Kenapa semua orang selalu baik sama Yuna? Suamiku, Andre, bahkan
tunangan Andre yang bego itu pun suka sama dia,” ucap Bellina sambil menikmati
bir yang ada di tangannya.
“Sudah
lama banget, nggak ngerasain sebahagia ini,” tutur Bellina sambil menatap air
yang ada di dalam gelasnya. “Sudah lama nggak pernah mabuk. Malam ini, aku akan
minum sepuasnya sampai mabuk.”
Bellina
mulai menangis. Meratapi hidupnya yang kacau beberapa belakangan ini. Ia
benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya lagi karena sudah berada di bawah
pengaruh alkohol.
“Kenapa
nasibku kayak gini?” seru Bellina sambil terisak. “Kenapa aku selalu kalah sama
dia? Kenapa ...? Bahkan suamiku sendiri, lebih peduli sama dia daripada sama
aku.”
Bellina
menjatuhkan wajahnya ke atas meja. Air matanya terus mengalir sambil menatap
sloki yang ada di tangan kanannya.
Seorang
pria bertubuh tinggi tiba-tiba menghampiri Bellina sambil mengusap air mata
Bellina yang membasahi pipi. Ia tersenyum sambil menatap Bellina tanpa mengucap
sepatah kata.
Bellina
menatap pria muda yang ada di depannya. Samar-samar, ia melihat pria itu mirip
dengan Wilian beberapa tahun lalu. Alisnya yang tebal dengan mata yang begitu
hangat. Wajah asia yang khas, berkulit putih, hidung yang tinggi. Rambutnya
yang berwarna cokelat, senada dengan warna bola matanya. Bibir bawahnya yang
terbelah begitu menggoda. Setiap wanita yang melihatnya, tak ingin
menyia-nyiakan pemandangan ini begitu saja. Saat tersenyum, pria itu terlihat
sangat manis dengan gingsul di kanan dan kirinya.
“Kamu
siapa?” tanya Bellina sambil memicingkan mata menatap pria itu.
“Kamu
lupa? Aku yang menyelamatkan kamu.”
“Menyelamatkan?”
Bellina mengernyitkan dahi sambil memicingkan mata. Ia berusaha membuka semua
ingatan masa lalunya. Namun, ia tidak menemukan apa pun tentang pria yang ada
di hadapannya itu.
Pria
itu mengangguk sambil tersenyum. “Namaku Arjuna Pranapati. Panggil aja Juna!”
Bellina
mengernyitkan dahinya. “Arjuna Pranapati? Namamu kayak tokoh wayang,” celetuk
Bellina. “Zaman sekarang, masih ada orang yang pakai nama begitu?”
Juna
tersenyum sambil menatap Bellina. “Identitas negara kita memang terkenal dengan
wayangnya. Aku lahir di Indonesia. Wajar kalau namaku Indonesia banget. Walau
ibuku berasal dari Tiongkok, ayahku asli orang Jawa dan memberikan nama sesuai
dengan adat dan budaya nenek moyang. Ada yang salah?”
Bellina
menggelengkan kepala. “Aneh aja. Zaman udah modern, masih ada aja yang pakai
nama kuno,” celetuknya.
Arjuna
hanya tersenyum menanggapi ucapan Bellina.
Bellina
mengangkat wajah sambil memerhatikan wajah Arjuna. “Tapi ... kamu ganteng
juga.”
Juna
tertawa kecil menanggapi ucapan Bellina. “Kamu sudah mabuk kayak gini, masih
bisa lihat cowok ganteng dengan baik?”
Bellina
mengernyitkan dahinya. “Siapa yang bilang aku mabuk, hah!?” tanyanya sambil
mendekatkan wajahnya ke wajah Juna.
Juna
mengangkat kedua alisnya. Ia bisa mencium aroma alkohol yang kuat dari tubuh
Bellina.
Bellina
terus menatap wajah Juna selama beberapa detik. Ia mengerjapkan mata beberapa
kali. “Jangan bergerak!” pintanya.
Juna
menggelengkan kepala. “Aku nggak bergerak sama sekali.”
“Kamu
jangan gerak-gerak kayak gitu! Aku pusing!” seru Bellina.
Juna
tertawa kecil melihat Bellina yang sudah berada di bawah pengaruh alkohol. “Ini
cewek lucu juga,” batinnya sambil menatap pipi Bellina yang memerah.
Bellina
menggoyang-goyangkan kepala sambil memejamkan mata. Saat ia membuka mata, semua
lantai dan atap ruangan terus berputar. Ia berusaha meraih dada pria yang ada
di sampingnya itu. Saat tangannya baru akan mencapai tubuh pria itu, bayangan
pria di hadapannya semakin samar, kemudian menghilang dalam kegelapan.
“Bang
Jun ...!” seru seorang bartender begitu melihat tubuh Bellina tersungkur ke
dalam pelukkan Juna dan tidak sadarkan diri. Ia langsung memanggil seorang
pelayan agar menyingkirkan Bellina dari tubuh Bosnya.
“Nggak
papa. Biar aku tangani sendiri. Dia temenku,” tutur Juna sambil memeluk tubuh
Bellina.
Pelayan
dan bartender yang ada di sana saling pandang. Biasanya, bos mereka tidak
pernah mau mengurus pelanggan yang sedang mabuk. Kali ini, bosnya sungguh
mengurus wanita mabuk itu seorang diri.
Juna
tersenyum kecil. Ia mengangkat tubuh Bellina perlahan. “Siapkan mobil saya!”
perintahnya pada pelayan yang ada di klub tersebut.
“Oke,
Bang!” Pelayan yang disuruh menganggukkan kepala dan bergegas pergi menyiapkan
mobil bosnya.
Juna
langsung menggendong Bellina keluar dari klub miliknya. Ia melangkah perlahan,
masuk ke mobil yang sudah disediakan oleh anak buahnya.
“Perlu
kuantar, Bang?”
Juna
menggelengkan kepala. “Aku nggak mabuk. Kamu lanjutin kerjaan kamu. Thanks ya!”
Pelayan
tersebut mengangguk dan membantu Juna menutup pintu.
Juna
memasangkan safety belt ke pinggang Bellina.
Bellina
membuka mata dan langsung menangkup wajah Juna yang ada di hadapannya. “Aku
sayang sama kamu,” ucapnya sambil tersenyum. Kemudian mengecup pipi pria itu.
Juna
terdiam sejenak. Ia terus menatap wajah Bellina.
“Li,
kenapa malah diam?” tanya Bellina.
“Oh.
Nggak papa,” jawab Juna. Ia baru menyadari kalau Bellina menganggapnya sebagai
orang lain. Ia memakai safety belt ke pinggangnya sendiri. Menyalakan mesin
mobil dan melaju membelah jalanan malam yang sudah lengang.
Tepat
jam dua belas malam, Juna membawa Bellina masuk ke apartemen miliknya. Ia
langsung meletakkan tubuh Bellina yang sudah tak sadarkan diri.
Baru
beberapa detik ia berbalik. Tiba-tiba saja Bellina bangun dan terdengar ingin
muntah.
Juna
membelalakkan matanya. “Jangan muntah di kasurku!” pintanya sambil berbalik. Ia
bergegas menggendong Bellina dan membawanya ke kamar mandi agar Bellina
memuntahkan isi perutnya di dalam kamar mandi.
“Huft,
ngurus orang mabuk memang merepotkan!” gerutu Juna sambil membersihkan tangannya dengan handuk hangat setelah
menyentuh tubuh Bellina. Ia membiarkan Bellina di dalam kamar mandi seorang
diri.
Beberapa
menit kemudian, Juna menoleh ke arah kamar mandi
yang begitu hening. Bellina juga tak kunjung keluar dari ruangan kecil dan
dingin itu. Ia kembali melangkah memeriksa kamar mandi. Ia menemukan Bellina
yang tertidur di lantai dalam keadaan duduk.
Juna tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. Pakaian
seksi yang digunakan Bellina membuatnya bisa melihat dengan jelas dada Bellina
yang terbuka dengan sendirinya. Ia menghampiri Bellina, menggendongnya kembali
ke atas tempat tidurnya.
Juna tersenyum sinis. Ia melepas semua pakaian Bellina dengan
hati-hati dan menutupnya begitu saja dengan selimut.
“Hmm
... aku rasa, ini sudah cukup,” tuturnya lirih sambil melangkah pergi. Ia
melemparkan pakaian Bellina begitu saja ke lantai. Ia sengaja meninggalkan
kemeja dan celananya bersama dengan pakaian Bellina. Ia mengganti pakaiannya
dan bergegas keluar dari kamar tersebut.
((Bersambung ...))
Thanks udah baca sampai sini...
Dukung terus supaya aku bisa bikin ceritanya lebih seru lagi. Aku update 3
bab lagi setiap hari untuk kalian... doain sehat terus ya!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment