Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 412 : Penolakan dari Nirma

 


Bellina tersenyum saat ia dan Nirma sudah duduk berhadapan di meja makan.

 

“Mau pesen apa?” tanya Bellina.

 

“Aku ditraktir atau nggak?” tanya Nirma balik sambil membuka buku menu yang ada di tangannya.

 

Bellina mengangguk sambil tersenyum. “Boleh pesan apa aja yang kamu mau.”

 

“Oke.” Nirma celingukan mencari pelayan di kafe tersebut. “Pelayan ...!” panggilnya.

 

Salah seorang pelayan yang dipanggil langsung menghampiri Nirma.

 

“Mbak, saya pesan semua yang ada di buku menu ini,” tutur Nirma.

 

Pelayan itu terdiam, ia menatap Bellina dan Nirma bergantian.

 

“Mbak, masih ngapain? Ntar pesanan saya lama. Kamu jangan lihat kami kayak orang susah. Kafe ini juga bisa aku beli,” tutur Nirma.

 

Pelayan tersebut mengangguk dan bergegas pergi untuk memproses semua pesanan.

 

Bellina menatap sengit ke arah Nirma. “Kamu mau nguras dompetku?”

 

Nirma tersenyum menanggapi pertanyaan Bellina. “Aku terbiasa kayak gini. Kalau kamu nggak mampu bayar. Biar aku yang traktir kamu. Menu makanan di sini, nggak bakal bikin dompetku terkuras.”

 

“Menu di kafe ini cuma kopi sama dessert. Kamu mau mabok kopi!?”

 

Nirma mengedikkan bahu. “Aku ini penggemar kopi, Tante. Kalo nggak habis, bisa dibungkus. Biasa aku kasih Pak Polisi yang lagi jaga di pos.”

 

“Pos mana? Sekarang lampu merah udah dijaga sama CCTV.”

 

“Biasanya, tetep ada pak polisinya. Kalo nggak ada, bisa aku kasih ke pak satpam.”

 

Bellina tersenyum sinis. “Kamu dermawan banget?”

 

“Punya duit banyak buat apa? Udah aku kasih-kasih ke orang, duitku juga nggak habis-habis,” sahut Nirma santai.

 

“Sombong banget ini bocah,” batin Bellina. “Sangit banget aku ngelihatnya,” lanjutnya dalam hati.

 

“Katanya, mau ceritain soal Kak Yuna. Kenapa malah diam aja?” tanya Nirma.

 

Bellina mengerutkan dahi menatap Nirma. “Kamu manggil Yuna kakak, Kenapa manggil aku tante?"

 

“Emangnya kenapa? Ada yang salah?”

 

 

 

“Asal kamu tahu, umurku lebih muda daripada umur Yuna.”

 

 

 

Nirma tergelak mendengar ucapan Bellina.

 

“Aku udah bersikap baik sama kamu. Kenapa kamu masih nggak mau menghargai niat baikku?” tanya Bellina.

 

“Nggak usah kebanyakan basa-basi, aku mau dengar apa yang kamu bicarakan soal Kak Yuna. Aku nggak punya banyak waktu,” tutur Nirma sambil menoleh ke arah pelayan yang sedang menyuguhkan makanan di atas meja.

 

“Mbak, aku makan yang ini sama ini aja. Yang lain dibungkus ya!” perintah Nirma.

 

Pelayan tersebut menganggukkan kepala.

 

“Thank you ...!” Nirma tersenyum ke arah pelayan tersebut.

 

Bellina ikut tersenyum. “Oke. Aku bakal kasih tahu kamu soal hubungan Yuna dan Andre.”

 

Nirma manggut-manggut. “Aku udah tahu soal Kak Andre dan Kak Yuna. Dari dulu, Kak Andre emang suka sama Kak Yuna karena dia wanita yang cantik dan baik.”

 

Bellina menatap kesal ke arah Nirma. “Bisa-bisanya kamu memuji saingan kamu sendiri.”

 

Nirma hanya tersenyum menanggapi ucapan Bellina. “Aku cuma tahu soal Kak Yuna dari Kak Andre. Yang aku lihat juga seperti itu. Aku nggak tahu apa keburukan yang sudah dibuat sama Kak Yuna. Dia kelihatan sangat manis dan baik.”

 

“Kamu belum bener-bener kenal sama dia. Dia bukan cuma bikin tunangan kamu itu tergila-gila sama dia, tapi juga suamiku. Kamu bayangin aja. Gimana pria lain bisa tergila-gila sama perempuan yang sudah bersuami kalau bukan karena perempuan itu yang kegatelan duluan.”

 

Nirma menimbang-nimbang perkataan yang keluar dari mulut Bellina.

 

“Sebenarnya, aku dan Yuna masih saudara sepupu. Tapi hubungan kami nggak baik. Terlebih setelah Yuna berusaha mengambil kembali hati Lian dan membuat aku keguguran.”

 

Nirma mengaduk teh hangat yang ada di depannya sambil mendengarkan cerita Bellina yang terasa membosankan di telinganya.

 

“Kamu kelihatan tenang banget? Nggak khawatir kalau tunangan kamu itu diambil sama Yuna?”

 

Nirma menggelengkan kepala. “Kak Yuna udah punya suami. Buat apa aku takut?”

 

“Kamu nggak merasa kalau Yuna itu berbahaya buat hubungan kamu dan Andre?”

 

Nirma menggelengkan kepala.

 

“Kamu belum ngerasain gimana hidup dengan pria yang justru memikirkan wanita lain daripada kamu.”

 

“Maksudnya?”

 

“Huft, hubungan rumah tanggaku nggak pernah harmonis. Suamiku, selalu memperlakukan aku seperti orang lain. Di hati dia, cuma ada Yuna ... Yuna dan Yuna!” tutur Bellina kesal. “Aku udah berusaha menyingkirkan  Yuna dari kehidupan suamiku. Tapi, suamiku tetep aja care sama perempuan sialan itu!”

 

“Hmm ... Kak Andre juga selalu care sama Kak Yuna,” tutur Nirma sambil mengetuk-ngetuk dagunya.

 

“Bener kan? Kamu mau suami kamu selalu mikirin Yuna terus saat kalian sudah menikah?”

 

Nirma menggelengkan kepala.

 

“Gimana, kalau kita bekerjasama buat menyingkirkan Yuna dari kehidupan pria-pria kita?”

 

Nirma menggelengkan kepala.

 

Bellina menautkan kedua alisnya. “Kenapa ini bocah sulit banget ditebak? Bukannya ...?” batin Bellina penuh tanya sambil menatap wajah Nirma.

 

Nirma hanya tersenyum sambil menatap Bellina. “Kalian itu sepupu kan?”

 

Bellina menganggukkan kepala.

 

Nirma tertawa kecil. “Aku paling suka lihat drama pertengkaran saudara dan keluarga. Aku nggak perlu bekerjasama sama kamu buat nyingkirin Kak Yuna. Cukup melihat kalian berdua berseteru, udah bikin aku bahagia.”

 

“Kamu ...!?” Bellina menatap kesal ke arah Nirma.

 

Nirma terkekeh melihat wajah Bellina. “Tante, aku nggak sekhawatir itu. Lagian, nggak ada gunanya menyingkirkan Kak Yuna. Lebih baik, aku fokus menjadi wanita terbaik buat Kak Andre daripada sibuk memikirkan gimana caranya menyerang Kak Yuna. Buang-buang waktu!”

 

Bellina membelalakkan matanya. “Kamu belum ngerasain apa yang saat ini aku rasain. Suatu saat, kamu bakal nyesal karena nggak mau dengerin ucapanku!”

 

Nirma tersenyum kecil. “Aku baru akan menyesal kalau aku gagal membuat Kak Andre jatuh cinta sama aku.”

 

“Andre nggak akan jatuh cinta sama kamu selama masih ada Yuna.”

 

Nirma terdiam. Ia mengingat kejadian semalam, saat Andre memperlakukan dirinya sebagai wanita lain. Di telinganya juga terngiang perkataan Andre kepada dirinya. Ia ingin menjadi wanita baik, wanita yang bisa membuat Andre memberikan seluruh hatinya dengan ketulusan. Ia tidak ingin melakukan hal bodoh yang hanya akan membuat Andre semakin membencinya.

 

Bellina tersenyum ke arah Nirma. “Gimana? Kamu nggak mau menyingkirkan si Yuna dulu?”

 

Nirma tak menyahut. Ia hanya menatap wajah Bellina dengan tatapan yang sulit untuk ditebak. “Kalau aku menyingkirkan Kak Yuna, apa Tante bisa menjamin kalau Kak Andre bakal cinta sama aku?”

 

“Maksud kamu?”

 

“Kak Andre suka sama Kak Yuna karena dia wanita yang baik. Dia baru bisa jatuh cinta ke aku kalau aku bisa jadi wanita yang lebih baik dari Kak Yuna. Bukannya melakukan hal yang dibenci sama Kak Andre dan bakal bikin aku kehilangan dia selamanya. Aku lebih percaya sama Kak Andre daripada perempuan gila kayak kamu,” tutur Nirma.

 

“Kamu ...!? Berani-beraninya ngatain aku gila setelah banyak hal yang udah aku kasih tahu ke kamu. Suatu saat, kamu bakal ngerti kalau kehadiran Yuna akan terus meracuni hubungan kalian dan ...”

 

“Kamu nggak punya hak buat ngatur hidupku!” sergah Nirma. Ia jelas tak suka berada di bawah perintah dan kendali orang lain.

 

Bellina mengernyitkan dahi menatap Nirma.

 

“Aku Cuma ingin tahu bagaimana hubungan Kak Yuna dengan Kak Andre. Supaya aku bisa menjadi wanita seperti Kak Yuna. Wanita yang nggak pernah terlupakan di hati pria. Bukan untuk menyingkirkan Kak Yuna,” tutur Nirma sambil bangkit dari tempat duduk.

 

“Kalau udah nggak ada yang mau dibicarain lagi, aku pergi. Masih ada banyak hal yang harus aku lakuin. Aku bukan wanita yang kurang kerjaan kayak kamu.” Nirma membawa semua barang-barangnya dan bergegas meninggalkan Bellina.

 

Nirma terus melangkah sambil menahan kekesalan. “Dia pikir dia siapa? Mau jadiin aku bonekanya? Aku bukan cewek bego!” celetuknya.

 

((Bersambung ...))

Thanks udah baca sampai sini...

Ini baru konflik pembukaan untuk menuju konflik yang lebih besar lagi.

Dukung terus supaya aku bisa bikin ceritanya lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 


Perfect Hero Bab 411 : Nirma vs Bellina

 


“Nyonya, saya dengar kalau di acara ulang tahun Mas Andre semalam terjadi kegaduhan.” Asisten Bellina menghampiri sambil membawakan makanan dan minuman.

 

Bellina manggut-manggut . “Aku sudah tahu,” sahut Bellina sambil memainkan ponselnya. Ia tersenyum mendengar kabar kekacauan yang terjadi di acara ulang tahun Andre. Ia merasa menyesal tidak hadir di pesta ulang tahun tersebut karena ada Yuna yang menjadi tokoh utama dalam kekacauan itu.

 

“Setengah jam lagi, temani saya belanja!” perintah Bellina.

 

“Baik, Nyonya.”

 

Bellina tersenyum. Ia segera bersiap-siap untuk pergi berbelanja ditemani oleh asisten pribadinya.

 

Beberapa menit kemudian, Bellina tiba di salah satu pusat perbelanjaab yang ada di pusat kota. Matanya langsung tertuju pada salah satu toko pakaian dari brand ternama di dunia. Ia langsung melangkah masuk ke dalam toko tersebut.

 

Mata Bellina langsung tertuju pada salah satu kemeja warna mocca seharga dua jutaan. Ia berusaha meraih kemeja tersebut.

 

“Maaf, Mbak ... kemeja yang ini sudah dipesan oleh pelanggan VIP kami,” tutur salah seorang pekerja sambil menahan tangan Bellina agar tidak mencapai kemeja yang masih menempel pada patung manekin.

 

“Kalau udah dipesan orang, kenapa masih dipajang?” tanya Bellina.

 

“Pelanggan kami baru memesan lima menit yang lalu.”

 

“Lima menit?” Bellina mengernyitkan dahinya sambil mengedarkan pandangan. “Berarti dia belum masuk ke sini?”

 

Pekerja toko tersebut menganggukkan kepala. “Barang ini sudah di DP.”

 

“Baru di DP? Saya bayar langsung lunas. Baju ini buat saya!” pinta Bellina.

 

“Nggak bisa, Mbak. Barang yang sudah di DP tidak bisa kami alihkan ke pelanggan lain tanpa izin dari pelanggan kami sebelumnya.”

 

“Kenapa? Toh belum dilunasi juga kan? Saya ganti DP-nya kalau begitu.”

 

Pelayan toko menggelengkan kepala. “Kami tetap tidak bisa melakukan itu kepada pelanggan kami.”

 

“Heh, kalian tahu nggak aku ini siapa? Aku ini istri dari Wilian Wijaya. Pemilik Wijaya Group. Kalian mau cari gara-gara sama aku!?”

 

“Maaf, Mbak. Jangan menyulitkan kami! Karena, yang memesan baju ini juga pelanggan VIP kami.”

 

Bellina mendelik kesal ke arah pelayan toko tersebut.

 

“Mbak, baju yang udah saya pesan itu ini ya?” tanya Nirma sambil menunjuk kemeja warna mocca yang masih terpajang di manekin.

 

“Benar, Mbak. Baru mau saya bungkuskan,” jawab pelayan toko tersebut.

 

“Oke. Bungkus ya!” perintah Nirma.

 

Pelayan toko tersebut menganggukkan kepala, ia bergegas melepas kancing kemeja tersebut satu persatu.

 

“Tunggu ...!” Bellina menahan tangan pelayan toko tersebut. Ia kemudian menatap Nirma yang berdiri tak jauh darinya.

 

“Kamu yang pesan baju ini?” tanya Bellina.

 

Nirma menganggukkan kepala.

 

“Aku yang duluan sampai ke toko ini. Harusnya, baju ini punyaku!” tegas Bellina.

 

Nirma menatap wajah Bellina dengan santai. “Sorry ...! Aku udah booking baju ini lebih dulu.”

 

“Baju ini belum kamu lunasin. Artinya, masih bisa dimiliki orang lain lagi,” tutur Bellina.

 

“Oh ya?” Nirma mengangkat kedua alisnya. Ia menoleh ke arah pelayan dan memberikan kartu. “Aku lunasin sekarang juga.”

 

Pelayan itu mengangguk sopan sambil meraih kartu dari tangan Nirma.

 

“Kamu ...!?” Bellina menatap geram ke arah Nirma. “Kamu nggak tahu aku ini siapa?”

 

Nirma menggelengkan kepala. “Nggak penting kamu itu siapa.”

 

“Aku ini istrinya Wilian Wijaya. Pemilik Wijaya Group. Perusahaan besar di negara ini.”

 

Nirma menahan tawa mendengar ucapan Bellina. “Kalau kamu memang istri pengusaha yang disegani. Nggak perlu mendeklarasikan diri seperti ini. Semua orang akan mengenal kamu dengan sendirinya. Kalo nggak percaya, tanya sama Mbak ini. Aku siapa?” Nirma menoleh ke arah pelayan yang ada di sampingnya.

 

Bellina menatap pelayan toko tersebut.

 

“Mbak Nirmala Bowie ini ... anak pengusaha kaya raya di Jakarta. Pemilik AL Corporation dan juga tunangan Pak Andre, pemilik perusahaan Amora Internasional,” jawab pelayan toko tersebut.

 

Nirma langsung tersenyum ke arah Bellina. “Nggak usah sombong ya! Masih ada orang lain yang bisa lebih sombong lagi!”

 

“Oh, jadi kamu tunangannya Andre? Hahaha.” Bellina tergelak sambil menatap wajah Nirma.

 

Nirma menatap wajah Bellina sambil menahan amarah.

 

“Katanya semalam bikin kekacauan di acara ulang tahun tunangannya sendiri?” tanya Bellina sambil tertawa.

 

Nirma mengerut bibir sambil menautkan kedua alisnya.

 

“Aku tahu banget dari dulu si Andre sukanya sama siapa. Kamu cuma jadi pemanis hidup dia aja kan? Palingan, hubungan kalian cuma karena bisnis perusahaan doang. Bukan karena saling mencintai. Apalagi, kamu masih bau kencur gini. Andre nggak mungkin suka sama anak-anak.”

 

Nirma tersenyum sinis.  Ia melihat wajah Bellina yang terlihat tua dan sangat menjijikkan. “Maaf, Tante ... Tante ngaca deh! Laki-laki itu lebih suka sama wanita yang lebih muda, lebih cantik, lebih seksi dan menggairahkan. Kalo Kak Andre nggak mungkin suka sama anak-anak yang imut kayak aku ...” tuturnya lembut sambil tersenyum manis. “Lebih nggak mungkin lagi kalo dia suka sama cewek tua kayak kamu!” seru Nirma menaikkan nada suaranya.

 

“Kamu ngatain aku apa!?” sentak Bellina.

 

“Tante-Tante Aneh!” sahut Nirma.

 

“Anak kemarin sore, berani-beraninya ngatain aku. Kamu pikir kamu cantik!” seru Bellina.

 

“Yee ... kalo dibanding sama muka Tante ini, lebih cantik aku ke mana-mana,” tutur Nirma sambil mengibaskan rambutnya penuh percaya diri.

 

“Ngaca dulu!”

 

“Tante yang ngaca!”

 

“Kamu masih berani manggil aku Tante!?”

 

“Kenapa? Emang kenyataan kan?” sahut Nirma sambil menjulurkan lidahnya.

 

“Anak-anak zaman sekarang, nggak ngerti sopan santun sama orang tua!”

 

Nirma tersenyum ke arah Bellina. “Akhirnya, ngaku sendiri kalau kamu sudah tua.”

 

Bellina gelagapan menatap Nirma. “Heh, aku jelas lebih tua dari kamu!”

 

“Aku lebih muda dan lebih menggoda,” sahut Nirma dengan wajah mengejek.

 

Bellina mendelik menatap gadis yang ada di hadapannya. Ia tak menyangka kalau gadis kecil ini sulit untuk dihadapi.

 

“Udah ya, aku ini wanita muda yang super sibuk. Nggak ada waktu buat ngeladeni tante-tante gila kayak kamu. Bye!” Nirma melambaikan tangan dan berbalik meninggalkan Bellina.

 

Bellina mendengus kesal ke arah  gadis kecil tersebut. Ia merasa gadis kecil itu memiliki kekuatan untuk bisa ia manfaatkan.

 

 

 

Tanpa berpikir panjang, Bellina langsung mengejar gadis kecil itu.

 

 

 

Nirmala terus melangkahkan kakinya keluar dari toko tersebut setelah menerima paper bag berisi pakaian yang sudah ia bayar.

 

 

 

“Tunggu ...!” Bellina berusaha mengejar langkah Nirma. “Aku tahu, kamu pasti sangat membenci Yuna.”

 

Nirma langsung berbalik menghadap ke arah Bellina. “Kamu kenal sama Yuna?”

 

“Sangat mengenal dia. Karena dia adalah wanita yang juga menggoda suamiku.”

 

Nirma berusaha mencerna kata-kata yang keluar dari mulut Bellina. Yang ia tahu, Yuna telah memiliki seorang suami dan tidak seharusnya menggoda pria lain. Ia merasa kalau kehadiran Yuna menjadi sebuah ancaman untuk hubungannya dengan Andre. Tapi Ia tidak percaya sepenuhnya sebab status Yuna yang telah menjadi istri dari seorang pengusaha tampan dan kaya raya. Ia juga melihat Yuna sebagai wanita yang berkelas dan bermartabat.

 

Bellina tersenyum puas melihat raut wajah Nirma yang diselimuti keraguan. Dia sengaja ingin memanfaatkan keadaan ini untuk mengambil keuntungan. Dia akan terus berusaha membalas semua yang telah dilakukan oleh Yeriko terhadap dirinya.

 

“Gimana kalau aku traktir kamu minum teh sambil membicarakan soal kehidupan Yuna dan tunangan kamu yang masih terus mengejar-ngejar Yuna itu?”

 

Nirma berpikir sejenak, kemudian ia menganggukkan kepala dan memenuhi keinginan Bellina untuk menikmati teh hangat di salah satu kafe yang tak jauh dari tempat tersebut.

 

 

 

Bellina tersenyum penuh kemenangan. Ia merasa kalau gadis kecil ini lumayan mudah untuk dikendalikan. Ia berharap kalau Nirma mau mau bekerjasama dengan dirinya untuk menyerang Yuna.

 

 ((Bersambung ...))

Thanks udah baca sampai di sini, dukung terus ceritanya biar aku makin semangat bikin cerita yang bikin baper dan makin seru setiap harinya.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 410 : Because I Love Him

 


“Nir, kenapa kamu kayak gini sih?” tanya Andre sambil memijat keningnya yang masih berdenyut.

 

“Karena aku cinta sama Kak Andre.”

 

Andre menggeleng-gelengkan kepalanya. “Nggak seharusnya kayak gini, Nir. Aku nggak cinta sama kamu,” tuturnya sambil memejamkan matanya.

 

“Tapi aku cinta banget sama Kak Andre,” tutur Nirma. Ia baru menyadari kalau Andre memperlakukan dirinya sebagai orang lain.

 

Andre menggelengkan kepalanya. “Nggak seharusnya caramu kayak gini. Aku nggak cinta sama kamu. Aku nggak layak buat dapetin ini semua.”

 

“Kak, aku melakukan ini dengan suka rela. Bukan karena paksaan dari Kakak,” tutur Nirma sambil melempar gaun yang ada di tangannya dan mendekati Andre.

 

Andre langsung bangkit dan berusaha menjauhi Nirma. “Nir, kamu sadar nggak sama apa yang kamu lakuin ini?” seru Andre. Ia menarik selimut dan langsung membungkus tubuh Nirma.

 

“Kak, aku nggak menyesal ngelakuin ini semua karena aku sayang sama Kakak,” tutur Nirma. Ia berusaha melepaskan selimut dari tubuhnya.

 

“Jangan dibuka!” sentak Andre sambil menunjuk tubuh Nirma.

 

“Tapi ...”

 

“Nir, kamu itu perempuan. Bisa nggak bersikap lebih bermartabat? Nggak kayak perempuan murahan kayak gini,” tutur Andre.

 

“Aku bukan perempuan murahan. Kak Andre yang cium aku duluan sampai kita bisa kayak gini.”

 

Andre memijat kepalanya yang terasa melayang-layang. “Kamu manfaatin aku saat aku lagi mabuk.”

 

“Aku nggak tahu kalau Kak Andre menganggap aku sebagai orang lain. Aku pikir, semua ini Kakak lakuin karena memang menginginkan aku.”

 

“Aku udah sering bilang ke kamu kalo aku udah sayang sama cewek lain. Kamu bisa ngerti nggak posisi aku?”

 

“Cewek itu Kak Yuna ‘kan?” tanya Nirma sambil menatap Andre dengan mata berkaca-kaca.

 

“Baguslah kalau kamu sudah tahu.”

 

“Tapi, Kak Yuna sudah menikah. Kak Andre nggak gila kan?  Suka sama istri orang?” tanya Nirma.

 

“Dia istri orang atau bukan, bukan urusan kamu!”

 

“Sekarang udah jadi urusan aku. Karena aku sayang sama Kak Andre. Kakak jangan gila, deh. Kak Yuna kelihatan bahagia sama suaminya. Kenapa Kak Andre masih aja tergila-gila sama perempuan yang sudah menikah sama orang lain?”

 

“Aku mencintai dia ... jauh sebelum dia menikah. Sampai kapan pun, perasaanku nggak akan berubah.”

 

“Aku nggak akan nyerah untuk ngerubah perasaan Kakak itu!” sahut Nirma.

 

Andre terdiam. “Coba aja kalau bisa!” tantangnya sambil melangkah pergi.

 

“Kak Andre, mau ke mana?” seru Nirma sambil menggulung selimut ke tubuhnya, ia berusaha mengejar Andre.

 

“Aku nggak mau ada di sini. Kamu introspeksi diri kamu dulu! Harusnya, kamu mengerti apa bedanya Yuna dan kamu. Aku suka sama dia karena dia wanita yang berprinsip dan selalu menjaga harga dirinya. Nggak kayak gini!”

 

“Kak, aku ngasih harga diriku cuma buat Kak Andre. Kak Andre masih nggak ngerti juga? Nggak usah naif jadi cowok!”

 

“Seharusnya, kamu memberikannya pada laki-laki yang mencintai kamu, Nir. Laki-laki itu bukan aku.”

 

“Aku nggak peduli. Sekarang, Kak Andre emang belum cinta sama aku. Suatu saat, aku bakal bikin Kak Andre jatuh cinta sama aku,” tutur Nirma sambil memeluk tubuh Andre dari belakang.

 

Andre memejamkan mata saat tubuh Nirma menempel di punggungnya. “Pakai baju kamu!” perintahnya.

 

Nirma tak menyahut. Ia malah mengeratkan pelukannya.

 

“Nirma ... kamu dengerin aku!” pinta Andre. “Mungkin, aku bisa jatuh cinta sama kamu kalau kamu nggak melakukan hal yang menjijikkan seperti ini.” Ia melepas tangan Nirma perlahan dan meraih gagang pintu yang sudah ada di hadapannya.

 

“Kak Andre ...!” panggil Nirma lirih sambil meneteskan air mata.

 

BRAAK ...!

 

Nirma semakin terkejut saat Andre menutup pintu kamar sangat keras. Ia terduduk lemas melihat sikap Andre terhadapnya. Ia merasa sangat malu dengan apa yang ia lakukan sendiri. Mungkin benar kata Andre, seorang wanita harusnya bisa menjaga harga dirinya. Tidak menggunakan cara licik untuk mengikat pria yang ia inginkan. Ia harap, Andre masih memberikan kesempatan kepadanya untuk memperbaiki semuanya.

 

Andre bergegas meninggalkan Nirma penuh kekesalan. Ia langsung masuk ke kamarnya sambil membanting pintu sekuat tenaga.

 

“Nirma ...!” seru Andre sambil menjambak kepalanya sendiri. “Aargh ...!” teriaknya sambil memukul-mukul dinding. Ia sangat menyesali kebodohannya. Begitu mudahnya ia terjebak oleh Nirma. Pengaruh alkohol, membuatnya terus mengira kalau Nirma adalah Yuna. Yang lebih mengesalkan lagi, aroma ruangan dan tubuh Nirma, sama persis dengan aroma parfum yang selalu dipakai Yuna.

 

Walau tak pernah berhubungan secara intim dengan Yuna, namun ia bisa menikmati tubuh Yuna yang memunculkan aroma bunga mawar, melati, bergamot dan tonka bean. Aroma sensual yang khas dari Guerlain Shalimar yang harganya mencapai dua juta rupiah.

 

“Kenapa Nirma pakai parfum yang sama dengan parfum Yuna?” tanya Andre pada dinding yang bisu.

 

Kali ini, Andre benar-benar merasa bersalah pada Nirma. Tak seharusnya ia membiarkan dirinya tenggelam dalam bayang-bayang Yuna hingga membuat Nirma menjadi korban dari pelampiasan hatinya.

 

“Kenapa aku harus memikirkan Yuna seliar ini? Dia sudah jadi istri orang lain. Semakin ingin melupakan, bayangan Yuna semakin tidak bisa lepas dari pikiranku,” tutur Andre lirih. Ia terduduk lemas di atas tempat tidur.

 

Hari ulang tahun, seharusnya menjadi hari yang membahagiakan untuk dirinya. Tapi malah menjadi malapetaka karena sikap Nirma yang begitu berlebihan untuk mendapatkan cinta darinya.

 

“Nirma ... kenapa kamu juga bodoh!?” seru Andre. Ia langsung menghambur semua kado yang masih ada di tempat tidur ke lantai kamar. “Aku udah ngasih kamu kesempatan buat ngerubah hatiku. Tapi malah kayak gini. Aku justru kecewa karena kamu nggak beda sama perempuan lain di luar sana.”

 

Andre terus menyalahkan dirinya sendiri yang begitu mudahnya terjebak dalam pelukan Nirma. Ia juga menyalahkan Nirma yang sudah bersikap bodoh, mengorbankan harga diri untuk mendapatkan cinta darinya. Yuna juga menjadi korban kekesalannya karena menjadi wanita satu-satunya yang begitu sulit untuk ia lupakan.

 

 

 

 

 

Di tempat lain ...

 

Nirma mondar-mandir di dalam kamar sambil menggenggam ponselnya. Ia ingin menelepon Andre, kemudian mengurungkan niatnya.

 

“Kak Andre beneran marah sama aku ya?” batinnya sambil menatap layar ponsel.

 

Nirma berusaha mengetik pesan singkat untuk Andre sebagai permintaan maaf. Namun, ia hanya mengetik dan menghapusnya beberapa kali. Tidak memiliki keberanian untuk menyentuh ikon send yang ada di layar ponselnya.

 

“Oh ... God! Help me!” seru Nirma sambil menjatuhkan tubuhnya ke sofa.

 

“Kak Andre pasti udah mikir macam-macam soal aku. Tapi, ini semua bukan salahku juga. Dia duluan yang nyium aku, meluk aku dan melucuti semua pakaianku. Harusnya, aku yang marah sama dia karena aku yang dirugikan. Kenapa aku yang kelihatannya bersalah banget sama kejadian ini?” tutur Nirma.

 

Nirma bangkit dari sofa, kemudian duduk kembali. “Kenapa Kak Andre yang marah? Harusnya, aku yang marah. Kenapa tadi aku payah banget? Harusnya ... harusnya ... aargh! Sudah terlanjur. Aku harus gimana?”

 

Nirma sibuk memikirkan cara untuk memperbaiki hubungannya dengan Andre. Ia tidak ingin kalau Andre terus menganggap dirinya sebagai wanita yang murahan. Ia tidak tahu bagaimana mempertahankan harga dirinya. Harusnya, ia yang meminta pertanggung jawaban pada Andre. Tapi kali ini, Andre justru marah kepada dirinya.

 

“Emang sih dia nggak sayang sama aku. Walau dia menganggap aku ini sebagai Kak Yuna. Tapi, dia sudah melucuti aku kayak gini. Walau yang dia lakukan belum terlalu jauh. Tetap aja dia yang harus bertanggung jawab ke aku. Bukan aku yang bertanggung jawab ke dia.”

 

Nirma menarik napas dalam-dalam. Di kepalanya, sudah ada gambar yang melintas tentang apa yang harus ia lakukan untuk mendapatkan maaf dari Andre dan memperbaiki hubungan mereka.

 

((Bersambung ...))

Thanks udah baca sampai di sini, dukung terus ceritanya biar aku makin semangat bikin cerita yang bikin baper dan makin seru setiap harinya. Jangan skip-skip iklan, ya!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas