“Nyonya,
saya dengar kalau di acara ulang tahun Mas Andre semalam terjadi kegaduhan.”
Asisten Bellina menghampiri sambil membawakan makanan dan minuman.
Bellina
manggut-manggut . “Aku sudah tahu,” sahut Bellina sambil memainkan ponselnya.
Ia tersenyum mendengar kabar kekacauan yang terjadi di acara ulang tahun Andre.
Ia merasa menyesal tidak hadir di pesta ulang tahun tersebut karena ada Yuna
yang menjadi tokoh utama dalam kekacauan itu.
“Setengah
jam lagi, temani saya belanja!” perintah Bellina.
“Baik,
Nyonya.”
Bellina
tersenyum. Ia segera bersiap-siap untuk pergi berbelanja ditemani oleh asisten
pribadinya.
Beberapa
menit kemudian, Bellina tiba di salah satu pusat perbelanjaab yang ada di pusat
kota. Matanya langsung tertuju pada salah satu toko pakaian dari brand ternama
di dunia. Ia langsung melangkah masuk ke dalam toko tersebut.
Mata
Bellina langsung tertuju pada salah satu kemeja warna mocca seharga dua jutaan.
Ia berusaha meraih kemeja tersebut.
“Maaf,
Mbak ... kemeja yang ini sudah dipesan oleh pelanggan VIP kami,” tutur salah
seorang pekerja sambil menahan tangan Bellina agar tidak mencapai kemeja yang
masih menempel pada patung manekin.
“Kalau
udah dipesan orang, kenapa masih dipajang?” tanya Bellina.
“Pelanggan
kami baru memesan lima menit yang lalu.”
“Lima
menit?” Bellina mengernyitkan dahinya sambil mengedarkan pandangan. “Berarti
dia belum masuk ke sini?”
Pekerja
toko tersebut menganggukkan kepala. “Barang ini sudah di DP.”
“Baru
di DP? Saya bayar langsung lunas. Baju ini buat saya!” pinta Bellina.
“Nggak
bisa, Mbak. Barang yang sudah di DP tidak bisa kami alihkan ke pelanggan lain
tanpa izin dari pelanggan kami sebelumnya.”
“Kenapa?
Toh belum dilunasi juga kan? Saya ganti DP-nya kalau begitu.”
Pelayan
toko menggelengkan kepala. “Kami tetap tidak bisa melakukan itu kepada
pelanggan kami.”
“Heh,
kalian tahu nggak aku ini siapa? Aku ini istri dari Wilian Wijaya. Pemilik
Wijaya Group. Kalian mau cari gara-gara sama aku!?”
“Maaf,
Mbak. Jangan menyulitkan kami! Karena, yang memesan baju ini juga pelanggan VIP
kami.”
Bellina
mendelik kesal ke arah pelayan toko tersebut.
“Mbak,
baju yang udah saya pesan itu ini ya?” tanya Nirma sambil menunjuk kemeja warna
mocca yang masih terpajang di manekin.
“Benar,
Mbak. Baru mau saya bungkuskan,” jawab pelayan toko tersebut.
“Oke.
Bungkus ya!” perintah Nirma.
Pelayan
toko tersebut menganggukkan kepala, ia bergegas melepas kancing kemeja tersebut
satu persatu.
“Tunggu
...!” Bellina menahan tangan pelayan toko tersebut. Ia kemudian menatap Nirma
yang berdiri tak jauh darinya.
“Kamu
yang pesan baju ini?” tanya Bellina.
Nirma
menganggukkan kepala.
“Aku
yang duluan sampai ke toko ini. Harusnya, baju ini punyaku!” tegas Bellina.
Nirma
menatap wajah Bellina dengan santai. “Sorry ...! Aku udah booking baju ini
lebih dulu.”
“Baju
ini belum kamu lunasin. Artinya, masih bisa dimiliki orang lain lagi,” tutur
Bellina.
“Oh
ya?” Nirma mengangkat kedua alisnya. Ia menoleh ke arah pelayan dan memberikan
kartu. “Aku lunasin sekarang juga.”
Pelayan
itu mengangguk sopan sambil meraih kartu dari tangan Nirma.
“Kamu
...!?” Bellina menatap geram ke arah Nirma. “Kamu nggak tahu aku ini siapa?”
Nirma
menggelengkan kepala. “Nggak penting kamu itu siapa.”
“Aku
ini istrinya Wilian Wijaya. Pemilik Wijaya Group. Perusahaan besar di negara
ini.”
Nirma
menahan tawa mendengar ucapan Bellina. “Kalau kamu memang istri pengusaha yang
disegani. Nggak perlu mendeklarasikan diri seperti ini. Semua orang akan
mengenal kamu dengan sendirinya. Kalo nggak percaya, tanya sama Mbak ini. Aku
siapa?” Nirma menoleh ke arah pelayan yang ada di sampingnya.
Bellina
menatap pelayan toko tersebut.
“Mbak
Nirmala Bowie ini ... anak pengusaha kaya raya di Jakarta. Pemilik AL
Corporation dan juga tunangan Pak Andre, pemilik perusahaan Amora
Internasional,” jawab pelayan toko tersebut.
Nirma
langsung tersenyum ke arah Bellina. “Nggak usah sombong ya! Masih ada orang
lain yang bisa lebih sombong lagi!”
“Oh,
jadi kamu tunangannya Andre? Hahaha.” Bellina tergelak sambil menatap wajah
Nirma.
Nirma
menatap wajah Bellina sambil menahan amarah.
“Katanya
semalam bikin kekacauan di acara ulang tahun tunangannya sendiri?” tanya
Bellina sambil tertawa.
Nirma
mengerut bibir sambil menautkan kedua alisnya.
“Aku
tahu banget dari dulu si Andre sukanya sama siapa. Kamu cuma jadi pemanis hidup
dia aja kan? Palingan, hubungan kalian cuma karena bisnis perusahaan doang.
Bukan karena saling mencintai. Apalagi, kamu masih bau kencur gini. Andre nggak
mungkin suka sama anak-anak.”
Nirma
tersenyum sinis. Ia melihat wajah Bellina yang terlihat tua dan sangat
menjijikkan. “Maaf, Tante ... Tante ngaca deh! Laki-laki itu lebih suka sama
wanita yang lebih muda, lebih cantik, lebih seksi dan menggairahkan. Kalo Kak
Andre nggak mungkin suka sama anak-anak yang imut kayak aku ...” tuturnya
lembut sambil tersenyum manis. “Lebih nggak mungkin lagi kalo dia suka sama
cewek tua kayak kamu!” seru Nirma menaikkan nada suaranya.
“Kamu
ngatain aku apa!?” sentak Bellina.
“Tante-Tante
Aneh!” sahut Nirma.
“Anak
kemarin sore, berani-beraninya ngatain aku. Kamu pikir kamu cantik!” seru
Bellina.
“Yee
... kalo dibanding sama muka Tante ini, lebih cantik aku ke mana-mana,” tutur
Nirma sambil mengibaskan rambutnya penuh percaya diri.
“Ngaca
dulu!”
“Tante
yang ngaca!”
“Kamu
masih berani manggil aku Tante!?”
“Kenapa?
Emang kenyataan kan?” sahut Nirma sambil menjulurkan lidahnya.
“Anak-anak
zaman sekarang, nggak ngerti sopan santun sama orang tua!”
Nirma
tersenyum ke arah Bellina. “Akhirnya, ngaku sendiri kalau kamu sudah tua.”
Bellina
gelagapan menatap Nirma. “Heh, aku jelas lebih tua dari kamu!”
“Aku
lebih muda dan lebih menggoda,” sahut Nirma dengan wajah mengejek.
Bellina
mendelik menatap gadis yang ada di hadapannya. Ia tak menyangka kalau gadis
kecil ini sulit untuk dihadapi.
“Udah
ya, aku ini wanita muda yang super sibuk. Nggak ada waktu buat ngeladeni
tante-tante gila kayak kamu. Bye!” Nirma melambaikan tangan dan berbalik
meninggalkan Bellina.
Bellina
mendengus kesal ke arah gadis kecil tersebut. Ia merasa gadis kecil itu
memiliki kekuatan untuk bisa ia manfaatkan.
Tanpa
berpikir panjang, Bellina langsung mengejar gadis kecil itu.
Nirmala
terus melangkahkan kakinya keluar dari toko tersebut setelah menerima paper bag
berisi pakaian yang sudah ia bayar.
“Tunggu
...!” Bellina berusaha mengejar langkah Nirma. “Aku tahu, kamu pasti sangat
membenci Yuna.”
Nirma
langsung berbalik menghadap ke arah Bellina. “Kamu kenal sama Yuna?”
“Sangat
mengenal dia. Karena dia adalah wanita yang juga menggoda suamiku.”
Nirma
berusaha mencerna kata-kata yang keluar dari mulut Bellina. Yang ia tahu, Yuna
telah memiliki seorang suami dan tidak seharusnya menggoda pria lain. Ia merasa
kalau kehadiran Yuna menjadi sebuah ancaman untuk hubungannya dengan Andre.
Tapi Ia tidak percaya sepenuhnya sebab status Yuna yang telah menjadi istri
dari seorang pengusaha tampan dan kaya raya. Ia juga melihat Yuna sebagai
wanita yang berkelas dan bermartabat.
Bellina
tersenyum puas melihat raut wajah Nirma yang diselimuti keraguan. Dia sengaja
ingin memanfaatkan keadaan ini untuk mengambil keuntungan. Dia akan terus
berusaha membalas semua yang telah dilakukan oleh Yeriko terhadap dirinya.
“Gimana
kalau aku traktir kamu minum teh sambil membicarakan soal kehidupan Yuna dan
tunangan kamu yang masih terus mengejar-ngejar Yuna itu?”
Nirma
berpikir sejenak, kemudian ia menganggukkan kepala dan memenuhi keinginan
Bellina untuk menikmati teh hangat di salah satu kafe yang tak jauh dari tempat
tersebut.
Bellina
tersenyum penuh kemenangan. Ia merasa kalau gadis kecil ini lumayan mudah untuk
dikendalikan. Ia berharap kalau Nirma mau mau bekerjasama dengan dirinya untuk
menyerang Yuna.
((Bersambung ...))
Thanks udah baca sampai di sini, dukung terus
ceritanya biar aku makin semangat bikin cerita yang bikin baper dan makin seru
setiap harinya.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment