Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 411 : Nirma vs Bellina

 


“Nyonya, saya dengar kalau di acara ulang tahun Mas Andre semalam terjadi kegaduhan.” Asisten Bellina menghampiri sambil membawakan makanan dan minuman.

 

Bellina manggut-manggut . “Aku sudah tahu,” sahut Bellina sambil memainkan ponselnya. Ia tersenyum mendengar kabar kekacauan yang terjadi di acara ulang tahun Andre. Ia merasa menyesal tidak hadir di pesta ulang tahun tersebut karena ada Yuna yang menjadi tokoh utama dalam kekacauan itu.

 

“Setengah jam lagi, temani saya belanja!” perintah Bellina.

 

“Baik, Nyonya.”

 

Bellina tersenyum. Ia segera bersiap-siap untuk pergi berbelanja ditemani oleh asisten pribadinya.

 

Beberapa menit kemudian, Bellina tiba di salah satu pusat perbelanjaab yang ada di pusat kota. Matanya langsung tertuju pada salah satu toko pakaian dari brand ternama di dunia. Ia langsung melangkah masuk ke dalam toko tersebut.

 

Mata Bellina langsung tertuju pada salah satu kemeja warna mocca seharga dua jutaan. Ia berusaha meraih kemeja tersebut.

 

“Maaf, Mbak ... kemeja yang ini sudah dipesan oleh pelanggan VIP kami,” tutur salah seorang pekerja sambil menahan tangan Bellina agar tidak mencapai kemeja yang masih menempel pada patung manekin.

 

“Kalau udah dipesan orang, kenapa masih dipajang?” tanya Bellina.

 

“Pelanggan kami baru memesan lima menit yang lalu.”

 

“Lima menit?” Bellina mengernyitkan dahinya sambil mengedarkan pandangan. “Berarti dia belum masuk ke sini?”

 

Pekerja toko tersebut menganggukkan kepala. “Barang ini sudah di DP.”

 

“Baru di DP? Saya bayar langsung lunas. Baju ini buat saya!” pinta Bellina.

 

“Nggak bisa, Mbak. Barang yang sudah di DP tidak bisa kami alihkan ke pelanggan lain tanpa izin dari pelanggan kami sebelumnya.”

 

“Kenapa? Toh belum dilunasi juga kan? Saya ganti DP-nya kalau begitu.”

 

Pelayan toko menggelengkan kepala. “Kami tetap tidak bisa melakukan itu kepada pelanggan kami.”

 

“Heh, kalian tahu nggak aku ini siapa? Aku ini istri dari Wilian Wijaya. Pemilik Wijaya Group. Kalian mau cari gara-gara sama aku!?”

 

“Maaf, Mbak. Jangan menyulitkan kami! Karena, yang memesan baju ini juga pelanggan VIP kami.”

 

Bellina mendelik kesal ke arah pelayan toko tersebut.

 

“Mbak, baju yang udah saya pesan itu ini ya?” tanya Nirma sambil menunjuk kemeja warna mocca yang masih terpajang di manekin.

 

“Benar, Mbak. Baru mau saya bungkuskan,” jawab pelayan toko tersebut.

 

“Oke. Bungkus ya!” perintah Nirma.

 

Pelayan toko tersebut menganggukkan kepala, ia bergegas melepas kancing kemeja tersebut satu persatu.

 

“Tunggu ...!” Bellina menahan tangan pelayan toko tersebut. Ia kemudian menatap Nirma yang berdiri tak jauh darinya.

 

“Kamu yang pesan baju ini?” tanya Bellina.

 

Nirma menganggukkan kepala.

 

“Aku yang duluan sampai ke toko ini. Harusnya, baju ini punyaku!” tegas Bellina.

 

Nirma menatap wajah Bellina dengan santai. “Sorry ...! Aku udah booking baju ini lebih dulu.”

 

“Baju ini belum kamu lunasin. Artinya, masih bisa dimiliki orang lain lagi,” tutur Bellina.

 

“Oh ya?” Nirma mengangkat kedua alisnya. Ia menoleh ke arah pelayan dan memberikan kartu. “Aku lunasin sekarang juga.”

 

Pelayan itu mengangguk sopan sambil meraih kartu dari tangan Nirma.

 

“Kamu ...!?” Bellina menatap geram ke arah Nirma. “Kamu nggak tahu aku ini siapa?”

 

Nirma menggelengkan kepala. “Nggak penting kamu itu siapa.”

 

“Aku ini istrinya Wilian Wijaya. Pemilik Wijaya Group. Perusahaan besar di negara ini.”

 

Nirma menahan tawa mendengar ucapan Bellina. “Kalau kamu memang istri pengusaha yang disegani. Nggak perlu mendeklarasikan diri seperti ini. Semua orang akan mengenal kamu dengan sendirinya. Kalo nggak percaya, tanya sama Mbak ini. Aku siapa?” Nirma menoleh ke arah pelayan yang ada di sampingnya.

 

Bellina menatap pelayan toko tersebut.

 

“Mbak Nirmala Bowie ini ... anak pengusaha kaya raya di Jakarta. Pemilik AL Corporation dan juga tunangan Pak Andre, pemilik perusahaan Amora Internasional,” jawab pelayan toko tersebut.

 

Nirma langsung tersenyum ke arah Bellina. “Nggak usah sombong ya! Masih ada orang lain yang bisa lebih sombong lagi!”

 

“Oh, jadi kamu tunangannya Andre? Hahaha.” Bellina tergelak sambil menatap wajah Nirma.

 

Nirma menatap wajah Bellina sambil menahan amarah.

 

“Katanya semalam bikin kekacauan di acara ulang tahun tunangannya sendiri?” tanya Bellina sambil tertawa.

 

Nirma mengerut bibir sambil menautkan kedua alisnya.

 

“Aku tahu banget dari dulu si Andre sukanya sama siapa. Kamu cuma jadi pemanis hidup dia aja kan? Palingan, hubungan kalian cuma karena bisnis perusahaan doang. Bukan karena saling mencintai. Apalagi, kamu masih bau kencur gini. Andre nggak mungkin suka sama anak-anak.”

 

Nirma tersenyum sinis.  Ia melihat wajah Bellina yang terlihat tua dan sangat menjijikkan. “Maaf, Tante ... Tante ngaca deh! Laki-laki itu lebih suka sama wanita yang lebih muda, lebih cantik, lebih seksi dan menggairahkan. Kalo Kak Andre nggak mungkin suka sama anak-anak yang imut kayak aku ...” tuturnya lembut sambil tersenyum manis. “Lebih nggak mungkin lagi kalo dia suka sama cewek tua kayak kamu!” seru Nirma menaikkan nada suaranya.

 

“Kamu ngatain aku apa!?” sentak Bellina.

 

“Tante-Tante Aneh!” sahut Nirma.

 

“Anak kemarin sore, berani-beraninya ngatain aku. Kamu pikir kamu cantik!” seru Bellina.

 

“Yee ... kalo dibanding sama muka Tante ini, lebih cantik aku ke mana-mana,” tutur Nirma sambil mengibaskan rambutnya penuh percaya diri.

 

“Ngaca dulu!”

 

“Tante yang ngaca!”

 

“Kamu masih berani manggil aku Tante!?”

 

“Kenapa? Emang kenyataan kan?” sahut Nirma sambil menjulurkan lidahnya.

 

“Anak-anak zaman sekarang, nggak ngerti sopan santun sama orang tua!”

 

Nirma tersenyum ke arah Bellina. “Akhirnya, ngaku sendiri kalau kamu sudah tua.”

 

Bellina gelagapan menatap Nirma. “Heh, aku jelas lebih tua dari kamu!”

 

“Aku lebih muda dan lebih menggoda,” sahut Nirma dengan wajah mengejek.

 

Bellina mendelik menatap gadis yang ada di hadapannya. Ia tak menyangka kalau gadis kecil ini sulit untuk dihadapi.

 

“Udah ya, aku ini wanita muda yang super sibuk. Nggak ada waktu buat ngeladeni tante-tante gila kayak kamu. Bye!” Nirma melambaikan tangan dan berbalik meninggalkan Bellina.

 

Bellina mendengus kesal ke arah  gadis kecil tersebut. Ia merasa gadis kecil itu memiliki kekuatan untuk bisa ia manfaatkan.

 

 

 

Tanpa berpikir panjang, Bellina langsung mengejar gadis kecil itu.

 

 

 

Nirmala terus melangkahkan kakinya keluar dari toko tersebut setelah menerima paper bag berisi pakaian yang sudah ia bayar.

 

 

 

“Tunggu ...!” Bellina berusaha mengejar langkah Nirma. “Aku tahu, kamu pasti sangat membenci Yuna.”

 

Nirma langsung berbalik menghadap ke arah Bellina. “Kamu kenal sama Yuna?”

 

“Sangat mengenal dia. Karena dia adalah wanita yang juga menggoda suamiku.”

 

Nirma berusaha mencerna kata-kata yang keluar dari mulut Bellina. Yang ia tahu, Yuna telah memiliki seorang suami dan tidak seharusnya menggoda pria lain. Ia merasa kalau kehadiran Yuna menjadi sebuah ancaman untuk hubungannya dengan Andre. Tapi Ia tidak percaya sepenuhnya sebab status Yuna yang telah menjadi istri dari seorang pengusaha tampan dan kaya raya. Ia juga melihat Yuna sebagai wanita yang berkelas dan bermartabat.

 

Bellina tersenyum puas melihat raut wajah Nirma yang diselimuti keraguan. Dia sengaja ingin memanfaatkan keadaan ini untuk mengambil keuntungan. Dia akan terus berusaha membalas semua yang telah dilakukan oleh Yeriko terhadap dirinya.

 

“Gimana kalau aku traktir kamu minum teh sambil membicarakan soal kehidupan Yuna dan tunangan kamu yang masih terus mengejar-ngejar Yuna itu?”

 

Nirma berpikir sejenak, kemudian ia menganggukkan kepala dan memenuhi keinginan Bellina untuk menikmati teh hangat di salah satu kafe yang tak jauh dari tempat tersebut.

 

 

 

Bellina tersenyum penuh kemenangan. Ia merasa kalau gadis kecil ini lumayan mudah untuk dikendalikan. Ia berharap kalau Nirma mau mau bekerjasama dengan dirinya untuk menyerang Yuna.

 

 ((Bersambung ...))

Thanks udah baca sampai di sini, dukung terus ceritanya biar aku makin semangat bikin cerita yang bikin baper dan makin seru setiap harinya.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas