Bellina
tersenyum saat ia dan Nirma sudah duduk berhadapan di meja makan.
“Mau
pesen apa?” tanya Bellina.
“Aku
ditraktir atau nggak?” tanya Nirma balik sambil membuka buku menu yang ada di
tangannya.
Bellina
mengangguk sambil tersenyum. “Boleh pesan apa aja yang kamu mau.”
“Oke.”
Nirma celingukan mencari pelayan di kafe tersebut. “Pelayan ...!” panggilnya.
Salah
seorang pelayan yang dipanggil langsung menghampiri Nirma.
“Mbak,
saya pesan semua yang ada di buku menu ini,” tutur Nirma.
Pelayan
itu terdiam, ia menatap Bellina dan Nirma bergantian.
“Mbak,
masih ngapain? Ntar pesanan saya lama. Kamu jangan lihat kami kayak orang
susah. Kafe ini juga bisa aku beli,” tutur Nirma.
Pelayan
tersebut mengangguk dan bergegas pergi untuk memproses semua pesanan.
Bellina
menatap sengit ke arah Nirma. “Kamu mau nguras dompetku?”
Nirma
tersenyum menanggapi pertanyaan Bellina. “Aku terbiasa kayak gini. Kalau kamu
nggak mampu bayar. Biar aku yang traktir kamu. Menu makanan di sini, nggak
bakal bikin dompetku terkuras.”
“Menu
di kafe ini cuma kopi sama dessert. Kamu mau mabok kopi!?”
Nirma
mengedikkan bahu. “Aku ini penggemar kopi, Tante. Kalo nggak habis, bisa
dibungkus. Biasa aku kasih Pak Polisi yang lagi jaga di pos.”
“Pos
mana? Sekarang lampu merah udah dijaga sama CCTV.”
“Biasanya,
tetep ada pak polisinya. Kalo nggak ada, bisa aku kasih ke pak satpam.”
Bellina
tersenyum sinis. “Kamu dermawan banget?”
“Punya
duit banyak buat apa? Udah aku kasih-kasih ke orang, duitku juga nggak
habis-habis,” sahut Nirma santai.
“Sombong
banget ini bocah,” batin Bellina. “Sangit banget aku ngelihatnya,” lanjutnya
dalam hati.
“Katanya,
mau ceritain soal Kak Yuna. Kenapa malah diam aja?” tanya Nirma.
Bellina
mengerutkan dahi menatap Nirma. “Kamu manggil Yuna kakak, Kenapa manggil aku
tante?"
“Emangnya
kenapa? Ada yang salah?”
“Asal
kamu tahu, umurku lebih muda daripada umur Yuna.”
Nirma
tergelak mendengar ucapan Bellina.
“Aku
udah bersikap baik sama kamu. Kenapa kamu masih nggak mau menghargai niat
baikku?” tanya Bellina.
“Nggak
usah kebanyakan basa-basi, aku mau dengar apa yang kamu bicarakan soal Kak
Yuna. Aku nggak punya banyak waktu,” tutur Nirma sambil menoleh ke arah pelayan
yang sedang menyuguhkan makanan di atas meja.
“Mbak,
aku makan yang ini sama ini aja. Yang lain dibungkus ya!” perintah Nirma.
Pelayan
tersebut menganggukkan kepala.
“Thank
you ...!” Nirma tersenyum ke arah pelayan tersebut.
Bellina
ikut tersenyum. “Oke. Aku bakal kasih tahu kamu soal hubungan Yuna dan Andre.”
Nirma
manggut-manggut. “Aku udah tahu soal Kak Andre dan Kak Yuna. Dari dulu, Kak
Andre emang suka sama Kak Yuna karena dia wanita yang cantik dan baik.”
Bellina
menatap kesal ke arah Nirma. “Bisa-bisanya kamu memuji saingan kamu sendiri.”
Nirma
hanya tersenyum menanggapi ucapan Bellina. “Aku cuma tahu soal Kak Yuna dari
Kak Andre. Yang aku lihat juga seperti itu. Aku nggak tahu apa keburukan yang
sudah dibuat sama Kak Yuna. Dia kelihatan sangat manis dan baik.”
“Kamu
belum bener-bener kenal sama dia. Dia bukan cuma bikin tunangan kamu itu
tergila-gila sama dia, tapi juga suamiku. Kamu bayangin aja. Gimana pria lain
bisa tergila-gila sama perempuan yang sudah bersuami kalau bukan karena
perempuan itu yang kegatelan duluan.”
Nirma
menimbang-nimbang perkataan yang keluar dari mulut Bellina.
“Sebenarnya,
aku dan Yuna masih saudara sepupu. Tapi hubungan kami nggak baik. Terlebih
setelah Yuna berusaha mengambil kembali hati Lian dan membuat aku keguguran.”
Nirma
mengaduk teh hangat yang ada di depannya sambil mendengarkan cerita Bellina
yang terasa membosankan di telinganya.
“Kamu
kelihatan tenang banget? Nggak khawatir kalau tunangan kamu itu diambil sama
Yuna?”
Nirma
menggelengkan kepala. “Kak Yuna udah punya suami. Buat apa aku takut?”
“Kamu
nggak merasa kalau Yuna itu berbahaya buat hubungan kamu dan Andre?”
Nirma
menggelengkan kepala.
“Kamu
belum ngerasain gimana hidup dengan pria yang justru memikirkan wanita lain
daripada kamu.”
“Maksudnya?”
“Huft,
hubungan rumah tanggaku nggak pernah harmonis. Suamiku, selalu memperlakukan
aku seperti orang lain. Di hati dia, cuma ada Yuna ... Yuna dan Yuna!” tutur
Bellina kesal. “Aku udah berusaha menyingkirkan Yuna dari kehidupan
suamiku. Tapi, suamiku tetep aja care sama perempuan sialan itu!”
“Hmm
... Kak Andre juga selalu care sama Kak Yuna,” tutur Nirma sambil
mengetuk-ngetuk dagunya.
“Bener
kan? Kamu mau suami kamu selalu mikirin Yuna terus saat kalian sudah menikah?”
Nirma
menggelengkan kepala.
“Gimana,
kalau kita bekerjasama buat menyingkirkan Yuna dari kehidupan pria-pria kita?”
Nirma
menggelengkan kepala.
Bellina
menautkan kedua alisnya. “Kenapa ini bocah sulit banget ditebak? Bukannya ...?”
batin Bellina penuh tanya sambil menatap wajah Nirma.
Nirma
hanya tersenyum sambil menatap Bellina. “Kalian itu sepupu kan?”
Bellina
menganggukkan kepala.
Nirma
tertawa kecil. “Aku paling suka lihat drama pertengkaran saudara dan keluarga.
Aku nggak perlu bekerjasama sama kamu buat nyingkirin Kak Yuna. Cukup melihat
kalian berdua berseteru, udah bikin aku bahagia.”
“Kamu
...!?” Bellina menatap kesal ke arah Nirma.
Nirma
terkekeh melihat wajah Bellina. “Tante, aku nggak sekhawatir itu. Lagian, nggak
ada gunanya menyingkirkan Kak Yuna. Lebih baik, aku fokus menjadi wanita
terbaik buat Kak Andre daripada sibuk memikirkan gimana caranya menyerang Kak
Yuna. Buang-buang waktu!”
Bellina
membelalakkan matanya. “Kamu belum ngerasain apa yang saat ini aku rasain.
Suatu saat, kamu bakal nyesal karena nggak mau dengerin ucapanku!”
Nirma
tersenyum kecil. “Aku baru akan menyesal kalau aku gagal membuat Kak Andre
jatuh cinta sama aku.”
“Andre
nggak akan jatuh cinta sama kamu selama masih ada Yuna.”
Nirma
terdiam. Ia mengingat kejadian semalam, saat Andre memperlakukan dirinya
sebagai wanita lain. Di telinganya juga terngiang perkataan Andre kepada
dirinya. Ia ingin menjadi wanita baik, wanita yang bisa membuat Andre
memberikan seluruh hatinya dengan ketulusan. Ia tidak ingin melakukan hal bodoh
yang hanya akan membuat Andre semakin membencinya.
Bellina
tersenyum ke arah Nirma. “Gimana? Kamu nggak mau menyingkirkan si Yuna dulu?”
Nirma
tak menyahut. Ia hanya menatap wajah Bellina dengan tatapan yang sulit untuk
ditebak. “Kalau aku menyingkirkan Kak Yuna, apa Tante bisa menjamin kalau Kak
Andre bakal cinta sama aku?”
“Maksud
kamu?”
“Kak
Andre suka sama Kak Yuna karena dia wanita yang baik. Dia baru bisa jatuh cinta
ke aku kalau aku bisa jadi wanita yang lebih baik dari Kak Yuna. Bukannya
melakukan hal yang dibenci sama Kak Andre dan bakal bikin aku kehilangan dia
selamanya. Aku lebih percaya sama Kak Andre daripada perempuan gila kayak
kamu,” tutur Nirma.
“Kamu
...!? Berani-beraninya ngatain aku gila setelah banyak hal yang udah aku kasih
tahu ke kamu. Suatu saat, kamu bakal ngerti kalau kehadiran Yuna akan terus
meracuni hubungan kalian dan ...”
“Kamu
nggak punya hak buat ngatur hidupku!” sergah Nirma. Ia jelas tak suka berada di
bawah perintah dan kendali orang lain.
Bellina
mengernyitkan dahi menatap Nirma.
“Aku
Cuma ingin tahu bagaimana hubungan Kak Yuna dengan Kak Andre. Supaya aku bisa
menjadi wanita seperti Kak Yuna. Wanita yang nggak pernah terlupakan di hati
pria. Bukan untuk menyingkirkan Kak Yuna,” tutur Nirma sambil bangkit dari
tempat duduk.
“Kalau
udah nggak ada yang mau dibicarain lagi, aku pergi. Masih ada banyak hal yang
harus aku lakuin. Aku bukan wanita yang kurang kerjaan kayak kamu.” Nirma
membawa semua barang-barangnya dan bergegas meninggalkan Bellina.
Nirma
terus melangkah sambil menahan kekesalan. “Dia pikir dia siapa? Mau jadiin aku
bonekanya? Aku bukan cewek bego!” celetuknya.
((Bersambung ...))
Thanks udah baca sampai sini...
Ini baru konflik pembukaan untuk menuju konflik yang lebih besar lagi.
Dukung terus supaya aku bisa bikin ceritanya lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment