Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 412 : Penolakan dari Nirma

 


Bellina tersenyum saat ia dan Nirma sudah duduk berhadapan di meja makan.

 

“Mau pesen apa?” tanya Bellina.

 

“Aku ditraktir atau nggak?” tanya Nirma balik sambil membuka buku menu yang ada di tangannya.

 

Bellina mengangguk sambil tersenyum. “Boleh pesan apa aja yang kamu mau.”

 

“Oke.” Nirma celingukan mencari pelayan di kafe tersebut. “Pelayan ...!” panggilnya.

 

Salah seorang pelayan yang dipanggil langsung menghampiri Nirma.

 

“Mbak, saya pesan semua yang ada di buku menu ini,” tutur Nirma.

 

Pelayan itu terdiam, ia menatap Bellina dan Nirma bergantian.

 

“Mbak, masih ngapain? Ntar pesanan saya lama. Kamu jangan lihat kami kayak orang susah. Kafe ini juga bisa aku beli,” tutur Nirma.

 

Pelayan tersebut mengangguk dan bergegas pergi untuk memproses semua pesanan.

 

Bellina menatap sengit ke arah Nirma. “Kamu mau nguras dompetku?”

 

Nirma tersenyum menanggapi pertanyaan Bellina. “Aku terbiasa kayak gini. Kalau kamu nggak mampu bayar. Biar aku yang traktir kamu. Menu makanan di sini, nggak bakal bikin dompetku terkuras.”

 

“Menu di kafe ini cuma kopi sama dessert. Kamu mau mabok kopi!?”

 

Nirma mengedikkan bahu. “Aku ini penggemar kopi, Tante. Kalo nggak habis, bisa dibungkus. Biasa aku kasih Pak Polisi yang lagi jaga di pos.”

 

“Pos mana? Sekarang lampu merah udah dijaga sama CCTV.”

 

“Biasanya, tetep ada pak polisinya. Kalo nggak ada, bisa aku kasih ke pak satpam.”

 

Bellina tersenyum sinis. “Kamu dermawan banget?”

 

“Punya duit banyak buat apa? Udah aku kasih-kasih ke orang, duitku juga nggak habis-habis,” sahut Nirma santai.

 

“Sombong banget ini bocah,” batin Bellina. “Sangit banget aku ngelihatnya,” lanjutnya dalam hati.

 

“Katanya, mau ceritain soal Kak Yuna. Kenapa malah diam aja?” tanya Nirma.

 

Bellina mengerutkan dahi menatap Nirma. “Kamu manggil Yuna kakak, Kenapa manggil aku tante?"

 

“Emangnya kenapa? Ada yang salah?”

 

 

 

“Asal kamu tahu, umurku lebih muda daripada umur Yuna.”

 

 

 

Nirma tergelak mendengar ucapan Bellina.

 

“Aku udah bersikap baik sama kamu. Kenapa kamu masih nggak mau menghargai niat baikku?” tanya Bellina.

 

“Nggak usah kebanyakan basa-basi, aku mau dengar apa yang kamu bicarakan soal Kak Yuna. Aku nggak punya banyak waktu,” tutur Nirma sambil menoleh ke arah pelayan yang sedang menyuguhkan makanan di atas meja.

 

“Mbak, aku makan yang ini sama ini aja. Yang lain dibungkus ya!” perintah Nirma.

 

Pelayan tersebut menganggukkan kepala.

 

“Thank you ...!” Nirma tersenyum ke arah pelayan tersebut.

 

Bellina ikut tersenyum. “Oke. Aku bakal kasih tahu kamu soal hubungan Yuna dan Andre.”

 

Nirma manggut-manggut. “Aku udah tahu soal Kak Andre dan Kak Yuna. Dari dulu, Kak Andre emang suka sama Kak Yuna karena dia wanita yang cantik dan baik.”

 

Bellina menatap kesal ke arah Nirma. “Bisa-bisanya kamu memuji saingan kamu sendiri.”

 

Nirma hanya tersenyum menanggapi ucapan Bellina. “Aku cuma tahu soal Kak Yuna dari Kak Andre. Yang aku lihat juga seperti itu. Aku nggak tahu apa keburukan yang sudah dibuat sama Kak Yuna. Dia kelihatan sangat manis dan baik.”

 

“Kamu belum bener-bener kenal sama dia. Dia bukan cuma bikin tunangan kamu itu tergila-gila sama dia, tapi juga suamiku. Kamu bayangin aja. Gimana pria lain bisa tergila-gila sama perempuan yang sudah bersuami kalau bukan karena perempuan itu yang kegatelan duluan.”

 

Nirma menimbang-nimbang perkataan yang keluar dari mulut Bellina.

 

“Sebenarnya, aku dan Yuna masih saudara sepupu. Tapi hubungan kami nggak baik. Terlebih setelah Yuna berusaha mengambil kembali hati Lian dan membuat aku keguguran.”

 

Nirma mengaduk teh hangat yang ada di depannya sambil mendengarkan cerita Bellina yang terasa membosankan di telinganya.

 

“Kamu kelihatan tenang banget? Nggak khawatir kalau tunangan kamu itu diambil sama Yuna?”

 

Nirma menggelengkan kepala. “Kak Yuna udah punya suami. Buat apa aku takut?”

 

“Kamu nggak merasa kalau Yuna itu berbahaya buat hubungan kamu dan Andre?”

 

Nirma menggelengkan kepala.

 

“Kamu belum ngerasain gimana hidup dengan pria yang justru memikirkan wanita lain daripada kamu.”

 

“Maksudnya?”

 

“Huft, hubungan rumah tanggaku nggak pernah harmonis. Suamiku, selalu memperlakukan aku seperti orang lain. Di hati dia, cuma ada Yuna ... Yuna dan Yuna!” tutur Bellina kesal. “Aku udah berusaha menyingkirkan  Yuna dari kehidupan suamiku. Tapi, suamiku tetep aja care sama perempuan sialan itu!”

 

“Hmm ... Kak Andre juga selalu care sama Kak Yuna,” tutur Nirma sambil mengetuk-ngetuk dagunya.

 

“Bener kan? Kamu mau suami kamu selalu mikirin Yuna terus saat kalian sudah menikah?”

 

Nirma menggelengkan kepala.

 

“Gimana, kalau kita bekerjasama buat menyingkirkan Yuna dari kehidupan pria-pria kita?”

 

Nirma menggelengkan kepala.

 

Bellina menautkan kedua alisnya. “Kenapa ini bocah sulit banget ditebak? Bukannya ...?” batin Bellina penuh tanya sambil menatap wajah Nirma.

 

Nirma hanya tersenyum sambil menatap Bellina. “Kalian itu sepupu kan?”

 

Bellina menganggukkan kepala.

 

Nirma tertawa kecil. “Aku paling suka lihat drama pertengkaran saudara dan keluarga. Aku nggak perlu bekerjasama sama kamu buat nyingkirin Kak Yuna. Cukup melihat kalian berdua berseteru, udah bikin aku bahagia.”

 

“Kamu ...!?” Bellina menatap kesal ke arah Nirma.

 

Nirma terkekeh melihat wajah Bellina. “Tante, aku nggak sekhawatir itu. Lagian, nggak ada gunanya menyingkirkan Kak Yuna. Lebih baik, aku fokus menjadi wanita terbaik buat Kak Andre daripada sibuk memikirkan gimana caranya menyerang Kak Yuna. Buang-buang waktu!”

 

Bellina membelalakkan matanya. “Kamu belum ngerasain apa yang saat ini aku rasain. Suatu saat, kamu bakal nyesal karena nggak mau dengerin ucapanku!”

 

Nirma tersenyum kecil. “Aku baru akan menyesal kalau aku gagal membuat Kak Andre jatuh cinta sama aku.”

 

“Andre nggak akan jatuh cinta sama kamu selama masih ada Yuna.”

 

Nirma terdiam. Ia mengingat kejadian semalam, saat Andre memperlakukan dirinya sebagai wanita lain. Di telinganya juga terngiang perkataan Andre kepada dirinya. Ia ingin menjadi wanita baik, wanita yang bisa membuat Andre memberikan seluruh hatinya dengan ketulusan. Ia tidak ingin melakukan hal bodoh yang hanya akan membuat Andre semakin membencinya.

 

Bellina tersenyum ke arah Nirma. “Gimana? Kamu nggak mau menyingkirkan si Yuna dulu?”

 

Nirma tak menyahut. Ia hanya menatap wajah Bellina dengan tatapan yang sulit untuk ditebak. “Kalau aku menyingkirkan Kak Yuna, apa Tante bisa menjamin kalau Kak Andre bakal cinta sama aku?”

 

“Maksud kamu?”

 

“Kak Andre suka sama Kak Yuna karena dia wanita yang baik. Dia baru bisa jatuh cinta ke aku kalau aku bisa jadi wanita yang lebih baik dari Kak Yuna. Bukannya melakukan hal yang dibenci sama Kak Andre dan bakal bikin aku kehilangan dia selamanya. Aku lebih percaya sama Kak Andre daripada perempuan gila kayak kamu,” tutur Nirma.

 

“Kamu ...!? Berani-beraninya ngatain aku gila setelah banyak hal yang udah aku kasih tahu ke kamu. Suatu saat, kamu bakal ngerti kalau kehadiran Yuna akan terus meracuni hubungan kalian dan ...”

 

“Kamu nggak punya hak buat ngatur hidupku!” sergah Nirma. Ia jelas tak suka berada di bawah perintah dan kendali orang lain.

 

Bellina mengernyitkan dahi menatap Nirma.

 

“Aku Cuma ingin tahu bagaimana hubungan Kak Yuna dengan Kak Andre. Supaya aku bisa menjadi wanita seperti Kak Yuna. Wanita yang nggak pernah terlupakan di hati pria. Bukan untuk menyingkirkan Kak Yuna,” tutur Nirma sambil bangkit dari tempat duduk.

 

“Kalau udah nggak ada yang mau dibicarain lagi, aku pergi. Masih ada banyak hal yang harus aku lakuin. Aku bukan wanita yang kurang kerjaan kayak kamu.” Nirma membawa semua barang-barangnya dan bergegas meninggalkan Bellina.

 

Nirma terus melangkah sambil menahan kekesalan. “Dia pikir dia siapa? Mau jadiin aku bonekanya? Aku bukan cewek bego!” celetuknya.

 

((Bersambung ...))

Thanks udah baca sampai sini...

Ini baru konflik pembukaan untuk menuju konflik yang lebih besar lagi.

Dukung terus supaya aku bisa bikin ceritanya lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 


0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas