“Nir,
kenapa kamu kayak gini sih?” tanya Andre sambil memijat keningnya yang masih
berdenyut.
“Karena
aku cinta sama Kak Andre.”
Andre
menggeleng-gelengkan kepalanya. “Nggak seharusnya kayak gini, Nir. Aku nggak
cinta sama kamu,” tuturnya sambil memejamkan matanya.
“Tapi
aku cinta banget sama Kak Andre,” tutur Nirma. Ia baru menyadari kalau Andre
memperlakukan dirinya sebagai orang lain.
Andre
menggelengkan kepalanya. “Nggak seharusnya caramu kayak gini. Aku nggak cinta
sama kamu. Aku nggak layak buat dapetin ini semua.”
“Kak,
aku melakukan ini dengan suka rela. Bukan karena paksaan dari Kakak,” tutur
Nirma sambil melempar gaun yang ada di tangannya dan mendekati Andre.
Andre
langsung bangkit dan berusaha menjauhi Nirma. “Nir, kamu sadar nggak sama apa
yang kamu lakuin ini?” seru Andre. Ia menarik selimut dan langsung membungkus
tubuh Nirma.
“Kak,
aku nggak menyesal ngelakuin ini semua karena aku sayang sama Kakak,” tutur
Nirma. Ia berusaha melepaskan selimut dari tubuhnya.
“Jangan
dibuka!” sentak Andre sambil menunjuk tubuh Nirma.
“Tapi
...”
“Nir,
kamu itu perempuan. Bisa nggak bersikap lebih bermartabat? Nggak kayak
perempuan murahan kayak gini,” tutur Andre.
“Aku
bukan perempuan murahan. Kak Andre yang cium aku duluan sampai kita bisa kayak
gini.”
Andre
memijat kepalanya yang terasa melayang-layang. “Kamu manfaatin aku saat aku
lagi mabuk.”
“Aku
nggak tahu kalau Kak Andre menganggap aku sebagai orang lain. Aku pikir, semua
ini Kakak lakuin karena memang menginginkan aku.”
“Aku
udah sering bilang ke kamu kalo aku udah sayang sama cewek lain. Kamu bisa
ngerti nggak posisi aku?”
“Cewek
itu Kak Yuna ‘kan?” tanya Nirma sambil menatap Andre dengan mata berkaca-kaca.
“Baguslah
kalau kamu sudah tahu.”
“Tapi,
Kak Yuna sudah menikah. Kak Andre nggak gila kan? Suka sama istri orang?”
tanya Nirma.
“Dia
istri orang atau bukan, bukan urusan kamu!”
“Sekarang
udah jadi urusan aku. Karena aku sayang sama Kak Andre. Kakak jangan gila, deh.
Kak Yuna kelihatan bahagia sama suaminya. Kenapa Kak Andre masih aja
tergila-gila sama perempuan yang sudah menikah sama orang lain?”
“Aku
mencintai dia ... jauh sebelum dia menikah. Sampai kapan pun, perasaanku nggak
akan berubah.”
“Aku
nggak akan nyerah untuk ngerubah perasaan Kakak itu!” sahut Nirma.
Andre
terdiam. “Coba aja kalau bisa!” tantangnya sambil melangkah pergi.
“Kak
Andre, mau ke mana?” seru Nirma sambil menggulung selimut ke tubuhnya, ia
berusaha mengejar Andre.
“Aku
nggak mau ada di sini. Kamu introspeksi diri kamu dulu! Harusnya, kamu mengerti
apa bedanya Yuna dan kamu. Aku suka sama dia karena dia wanita yang berprinsip
dan selalu menjaga harga dirinya. Nggak kayak gini!”
“Kak,
aku ngasih harga diriku cuma buat Kak Andre. Kak Andre masih nggak ngerti juga?
Nggak usah naif jadi cowok!”
“Seharusnya,
kamu memberikannya pada laki-laki yang mencintai kamu, Nir. Laki-laki itu bukan
aku.”
“Aku
nggak peduli. Sekarang, Kak Andre emang belum cinta sama aku. Suatu saat, aku
bakal bikin Kak Andre jatuh cinta sama aku,” tutur Nirma sambil memeluk tubuh
Andre dari belakang.
Andre
memejamkan mata saat tubuh Nirma menempel di punggungnya. “Pakai baju kamu!”
perintahnya.
Nirma
tak menyahut. Ia malah mengeratkan pelukannya.
“Nirma
... kamu dengerin aku!” pinta Andre. “Mungkin, aku bisa jatuh cinta sama kamu
kalau kamu nggak melakukan hal yang menjijikkan seperti ini.” Ia melepas tangan
Nirma perlahan dan meraih gagang pintu yang sudah ada di hadapannya.
“Kak
Andre ...!” panggil Nirma lirih sambil meneteskan air mata.
BRAAK
...!
Nirma
semakin terkejut saat Andre menutup pintu kamar sangat keras. Ia terduduk lemas
melihat sikap Andre terhadapnya. Ia merasa sangat malu dengan apa yang ia
lakukan sendiri. Mungkin benar kata Andre, seorang wanita harusnya bisa menjaga
harga dirinya. Tidak menggunakan cara licik untuk mengikat pria yang ia
inginkan. Ia harap, Andre masih memberikan kesempatan kepadanya untuk
memperbaiki semuanya.
Andre
bergegas meninggalkan Nirma penuh kekesalan. Ia langsung masuk ke kamarnya
sambil membanting pintu sekuat tenaga.
“Nirma
...!” seru Andre sambil menjambak kepalanya sendiri. “Aargh ...!” teriaknya
sambil memukul-mukul dinding. Ia sangat menyesali kebodohannya. Begitu mudahnya
ia terjebak oleh Nirma. Pengaruh alkohol, membuatnya terus mengira kalau Nirma
adalah Yuna. Yang lebih mengesalkan lagi, aroma ruangan dan tubuh Nirma, sama
persis dengan aroma parfum yang selalu dipakai Yuna.
Walau
tak pernah berhubungan secara intim dengan Yuna, namun ia bisa menikmati tubuh
Yuna yang memunculkan aroma bunga mawar, melati, bergamot dan tonka bean. Aroma
sensual yang khas dari Guerlain Shalimar yang harganya mencapai dua juta
rupiah.
“Kenapa
Nirma pakai parfum yang sama dengan parfum Yuna?” tanya Andre pada dinding yang
bisu.
Kali
ini, Andre benar-benar merasa bersalah pada Nirma. Tak seharusnya ia membiarkan
dirinya tenggelam dalam bayang-bayang Yuna hingga membuat Nirma menjadi korban
dari pelampiasan hatinya.
“Kenapa
aku harus memikirkan Yuna seliar ini? Dia sudah jadi istri orang lain. Semakin
ingin melupakan, bayangan Yuna semakin tidak bisa lepas dari pikiranku,” tutur
Andre lirih. Ia terduduk lemas di atas tempat tidur.
Hari
ulang tahun, seharusnya menjadi hari yang membahagiakan untuk dirinya. Tapi
malah menjadi malapetaka karena sikap Nirma yang begitu berlebihan untuk
mendapatkan cinta darinya.
“Nirma
... kenapa kamu juga bodoh!?” seru Andre. Ia langsung menghambur semua kado
yang masih ada di tempat tidur ke lantai kamar. “Aku udah ngasih kamu
kesempatan buat ngerubah hatiku. Tapi malah kayak gini. Aku justru kecewa
karena kamu nggak beda sama perempuan lain di luar sana.”
Andre
terus menyalahkan dirinya sendiri yang begitu mudahnya terjebak dalam pelukan
Nirma. Ia juga menyalahkan Nirma yang sudah bersikap bodoh, mengorbankan harga
diri untuk mendapatkan cinta darinya. Yuna juga menjadi korban kekesalannya
karena menjadi wanita satu-satunya yang begitu sulit untuk ia lupakan.
Di
tempat lain ...
Nirma
mondar-mandir di dalam kamar sambil menggenggam ponselnya. Ia ingin menelepon
Andre, kemudian mengurungkan niatnya.
“Kak
Andre beneran marah sama aku ya?” batinnya sambil menatap layar ponsel.
Nirma
berusaha mengetik pesan singkat untuk Andre sebagai permintaan maaf. Namun, ia
hanya mengetik dan menghapusnya beberapa kali. Tidak memiliki keberanian untuk
menyentuh ikon send yang ada di layar ponselnya.
“Oh
... God! Help me!” seru Nirma sambil menjatuhkan tubuhnya ke sofa.
“Kak
Andre pasti udah mikir macam-macam soal aku. Tapi, ini semua bukan salahku
juga. Dia duluan yang nyium aku, meluk aku dan melucuti semua pakaianku.
Harusnya, aku yang marah sama dia karena aku yang dirugikan. Kenapa aku yang
kelihatannya bersalah banget sama kejadian ini?” tutur Nirma.
Nirma
bangkit dari sofa, kemudian duduk kembali. “Kenapa Kak Andre yang marah?
Harusnya, aku yang marah. Kenapa tadi aku payah banget? Harusnya ... harusnya
... aargh! Sudah terlanjur. Aku harus gimana?”
Nirma
sibuk memikirkan cara untuk memperbaiki hubungannya dengan Andre. Ia tidak
ingin kalau Andre terus menganggap dirinya sebagai wanita yang murahan. Ia
tidak tahu bagaimana mempertahankan harga dirinya. Harusnya, ia yang meminta
pertanggung jawaban pada Andre. Tapi kali ini, Andre justru marah kepada
dirinya.
“Emang
sih dia nggak sayang sama aku. Walau dia menganggap aku ini sebagai Kak Yuna.
Tapi, dia sudah melucuti aku kayak gini. Walau yang dia lakukan belum terlalu
jauh. Tetap aja dia yang harus bertanggung jawab ke aku. Bukan aku yang
bertanggung jawab ke dia.”
Nirma
menarik napas dalam-dalam. Di kepalanya, sudah ada gambar yang melintas tentang
apa yang harus ia lakukan untuk mendapatkan maaf dari Andre dan memperbaiki
hubungan mereka.
((Bersambung ...))
Thanks udah baca sampai di sini, dukung terus
ceritanya biar aku makin semangat bikin cerita yang bikin baper dan makin seru
setiap harinya. Jangan skip-skip iklan, ya!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment