Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 410 : Because I Love Him

 


“Nir, kenapa kamu kayak gini sih?” tanya Andre sambil memijat keningnya yang masih berdenyut.

 

“Karena aku cinta sama Kak Andre.”

 

Andre menggeleng-gelengkan kepalanya. “Nggak seharusnya kayak gini, Nir. Aku nggak cinta sama kamu,” tuturnya sambil memejamkan matanya.

 

“Tapi aku cinta banget sama Kak Andre,” tutur Nirma. Ia baru menyadari kalau Andre memperlakukan dirinya sebagai orang lain.

 

Andre menggelengkan kepalanya. “Nggak seharusnya caramu kayak gini. Aku nggak cinta sama kamu. Aku nggak layak buat dapetin ini semua.”

 

“Kak, aku melakukan ini dengan suka rela. Bukan karena paksaan dari Kakak,” tutur Nirma sambil melempar gaun yang ada di tangannya dan mendekati Andre.

 

Andre langsung bangkit dan berusaha menjauhi Nirma. “Nir, kamu sadar nggak sama apa yang kamu lakuin ini?” seru Andre. Ia menarik selimut dan langsung membungkus tubuh Nirma.

 

“Kak, aku nggak menyesal ngelakuin ini semua karena aku sayang sama Kakak,” tutur Nirma. Ia berusaha melepaskan selimut dari tubuhnya.

 

“Jangan dibuka!” sentak Andre sambil menunjuk tubuh Nirma.

 

“Tapi ...”

 

“Nir, kamu itu perempuan. Bisa nggak bersikap lebih bermartabat? Nggak kayak perempuan murahan kayak gini,” tutur Andre.

 

“Aku bukan perempuan murahan. Kak Andre yang cium aku duluan sampai kita bisa kayak gini.”

 

Andre memijat kepalanya yang terasa melayang-layang. “Kamu manfaatin aku saat aku lagi mabuk.”

 

“Aku nggak tahu kalau Kak Andre menganggap aku sebagai orang lain. Aku pikir, semua ini Kakak lakuin karena memang menginginkan aku.”

 

“Aku udah sering bilang ke kamu kalo aku udah sayang sama cewek lain. Kamu bisa ngerti nggak posisi aku?”

 

“Cewek itu Kak Yuna ‘kan?” tanya Nirma sambil menatap Andre dengan mata berkaca-kaca.

 

“Baguslah kalau kamu sudah tahu.”

 

“Tapi, Kak Yuna sudah menikah. Kak Andre nggak gila kan?  Suka sama istri orang?” tanya Nirma.

 

“Dia istri orang atau bukan, bukan urusan kamu!”

 

“Sekarang udah jadi urusan aku. Karena aku sayang sama Kak Andre. Kakak jangan gila, deh. Kak Yuna kelihatan bahagia sama suaminya. Kenapa Kak Andre masih aja tergila-gila sama perempuan yang sudah menikah sama orang lain?”

 

“Aku mencintai dia ... jauh sebelum dia menikah. Sampai kapan pun, perasaanku nggak akan berubah.”

 

“Aku nggak akan nyerah untuk ngerubah perasaan Kakak itu!” sahut Nirma.

 

Andre terdiam. “Coba aja kalau bisa!” tantangnya sambil melangkah pergi.

 

“Kak Andre, mau ke mana?” seru Nirma sambil menggulung selimut ke tubuhnya, ia berusaha mengejar Andre.

 

“Aku nggak mau ada di sini. Kamu introspeksi diri kamu dulu! Harusnya, kamu mengerti apa bedanya Yuna dan kamu. Aku suka sama dia karena dia wanita yang berprinsip dan selalu menjaga harga dirinya. Nggak kayak gini!”

 

“Kak, aku ngasih harga diriku cuma buat Kak Andre. Kak Andre masih nggak ngerti juga? Nggak usah naif jadi cowok!”

 

“Seharusnya, kamu memberikannya pada laki-laki yang mencintai kamu, Nir. Laki-laki itu bukan aku.”

 

“Aku nggak peduli. Sekarang, Kak Andre emang belum cinta sama aku. Suatu saat, aku bakal bikin Kak Andre jatuh cinta sama aku,” tutur Nirma sambil memeluk tubuh Andre dari belakang.

 

Andre memejamkan mata saat tubuh Nirma menempel di punggungnya. “Pakai baju kamu!” perintahnya.

 

Nirma tak menyahut. Ia malah mengeratkan pelukannya.

 

“Nirma ... kamu dengerin aku!” pinta Andre. “Mungkin, aku bisa jatuh cinta sama kamu kalau kamu nggak melakukan hal yang menjijikkan seperti ini.” Ia melepas tangan Nirma perlahan dan meraih gagang pintu yang sudah ada di hadapannya.

 

“Kak Andre ...!” panggil Nirma lirih sambil meneteskan air mata.

 

BRAAK ...!

 

Nirma semakin terkejut saat Andre menutup pintu kamar sangat keras. Ia terduduk lemas melihat sikap Andre terhadapnya. Ia merasa sangat malu dengan apa yang ia lakukan sendiri. Mungkin benar kata Andre, seorang wanita harusnya bisa menjaga harga dirinya. Tidak menggunakan cara licik untuk mengikat pria yang ia inginkan. Ia harap, Andre masih memberikan kesempatan kepadanya untuk memperbaiki semuanya.

 

Andre bergegas meninggalkan Nirma penuh kekesalan. Ia langsung masuk ke kamarnya sambil membanting pintu sekuat tenaga.

 

“Nirma ...!” seru Andre sambil menjambak kepalanya sendiri. “Aargh ...!” teriaknya sambil memukul-mukul dinding. Ia sangat menyesali kebodohannya. Begitu mudahnya ia terjebak oleh Nirma. Pengaruh alkohol, membuatnya terus mengira kalau Nirma adalah Yuna. Yang lebih mengesalkan lagi, aroma ruangan dan tubuh Nirma, sama persis dengan aroma parfum yang selalu dipakai Yuna.

 

Walau tak pernah berhubungan secara intim dengan Yuna, namun ia bisa menikmati tubuh Yuna yang memunculkan aroma bunga mawar, melati, bergamot dan tonka bean. Aroma sensual yang khas dari Guerlain Shalimar yang harganya mencapai dua juta rupiah.

 

“Kenapa Nirma pakai parfum yang sama dengan parfum Yuna?” tanya Andre pada dinding yang bisu.

 

Kali ini, Andre benar-benar merasa bersalah pada Nirma. Tak seharusnya ia membiarkan dirinya tenggelam dalam bayang-bayang Yuna hingga membuat Nirma menjadi korban dari pelampiasan hatinya.

 

“Kenapa aku harus memikirkan Yuna seliar ini? Dia sudah jadi istri orang lain. Semakin ingin melupakan, bayangan Yuna semakin tidak bisa lepas dari pikiranku,” tutur Andre lirih. Ia terduduk lemas di atas tempat tidur.

 

Hari ulang tahun, seharusnya menjadi hari yang membahagiakan untuk dirinya. Tapi malah menjadi malapetaka karena sikap Nirma yang begitu berlebihan untuk mendapatkan cinta darinya.

 

“Nirma ... kenapa kamu juga bodoh!?” seru Andre. Ia langsung menghambur semua kado yang masih ada di tempat tidur ke lantai kamar. “Aku udah ngasih kamu kesempatan buat ngerubah hatiku. Tapi malah kayak gini. Aku justru kecewa karena kamu nggak beda sama perempuan lain di luar sana.”

 

Andre terus menyalahkan dirinya sendiri yang begitu mudahnya terjebak dalam pelukan Nirma. Ia juga menyalahkan Nirma yang sudah bersikap bodoh, mengorbankan harga diri untuk mendapatkan cinta darinya. Yuna juga menjadi korban kekesalannya karena menjadi wanita satu-satunya yang begitu sulit untuk ia lupakan.

 

 

 

 

 

Di tempat lain ...

 

Nirma mondar-mandir di dalam kamar sambil menggenggam ponselnya. Ia ingin menelepon Andre, kemudian mengurungkan niatnya.

 

“Kak Andre beneran marah sama aku ya?” batinnya sambil menatap layar ponsel.

 

Nirma berusaha mengetik pesan singkat untuk Andre sebagai permintaan maaf. Namun, ia hanya mengetik dan menghapusnya beberapa kali. Tidak memiliki keberanian untuk menyentuh ikon send yang ada di layar ponselnya.

 

“Oh ... God! Help me!” seru Nirma sambil menjatuhkan tubuhnya ke sofa.

 

“Kak Andre pasti udah mikir macam-macam soal aku. Tapi, ini semua bukan salahku juga. Dia duluan yang nyium aku, meluk aku dan melucuti semua pakaianku. Harusnya, aku yang marah sama dia karena aku yang dirugikan. Kenapa aku yang kelihatannya bersalah banget sama kejadian ini?” tutur Nirma.

 

Nirma bangkit dari sofa, kemudian duduk kembali. “Kenapa Kak Andre yang marah? Harusnya, aku yang marah. Kenapa tadi aku payah banget? Harusnya ... harusnya ... aargh! Sudah terlanjur. Aku harus gimana?”

 

Nirma sibuk memikirkan cara untuk memperbaiki hubungannya dengan Andre. Ia tidak ingin kalau Andre terus menganggap dirinya sebagai wanita yang murahan. Ia tidak tahu bagaimana mempertahankan harga dirinya. Harusnya, ia yang meminta pertanggung jawaban pada Andre. Tapi kali ini, Andre justru marah kepada dirinya.

 

“Emang sih dia nggak sayang sama aku. Walau dia menganggap aku ini sebagai Kak Yuna. Tapi, dia sudah melucuti aku kayak gini. Walau yang dia lakukan belum terlalu jauh. Tetap aja dia yang harus bertanggung jawab ke aku. Bukan aku yang bertanggung jawab ke dia.”

 

Nirma menarik napas dalam-dalam. Di kepalanya, sudah ada gambar yang melintas tentang apa yang harus ia lakukan untuk mendapatkan maaf dari Andre dan memperbaiki hubungan mereka.

 

((Bersambung ...))

Thanks udah baca sampai di sini, dukung terus ceritanya biar aku makin semangat bikin cerita yang bikin baper dan makin seru setiap harinya. Jangan skip-skip iklan, ya!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas