Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 409 : Bercinta dalam Bayangmu

 


“Kak Andre, aku beneran nggak sengaja nabrak Kak Jheni dan Kak Yuna. Kak Andre percaya sama aku ‘kan?” Di tempat lain, Nirma dan Andre duduk bersama di dalam kamar hotel.

 

Andre tak menyahut. Ia serius membersihkan luka yang ada di tangan dan kaki Nirma.

 

Nirma terus tersenyum sambil menatap wajah Andre yang ada di hadapannya. Ia sangat bahagia mendapatkan perhatian dari Andre. Ia rela merasakan sakit seperti ini setiap hari asalkan bisa mendapat perhatian dari pria itu.

 

“Aku pasti bisa bikin Kak Andre jatuh cinta sama aku dalam waktu tiga bulan. Dia udah mulai perhatian sama aku. Yes! Aku bisa secepatnya menikah sama Kak Andre,” batin Nirma. Ia terus tersenyum sambil menatap dirinya sendiri mengenakan gaun pernikahan dan bersanding dengan Andre.

 

Andre membalut luka yang ada di tangan dan kaki Nirma menggunakan plaster karena luka yang diderita Nirma tak terlalu parah. Hanya tergores oleh pecahan gelas yang berserakan di lantai. Begitu selesai, ia langsung bangkit dari hadapan gadis itu. “Lain kali, kamu hati-hati!”

 

Nirma menganggukkan kepala sambil tersenyum. Pandangannya tak beralih dari wajah Andre sedikit pun.

 

“Maaf, Kak. Aku sudah mengacaukan pesta ulang tahun Kak Andre,” tutur Nirma.

 

“Nggak masalah. Pestanya juga udah selesai.” Andre langsung keluar untuk memanggil pelayan.

 

“Mbak, tolong bantu Nirma untuk mandi!” perintah Andre sambil melangkah keluar dari kamar tersebut dan masuk ke kamar yang ada di seberangnya.

 

Andre menatap tumpukan hadiah yang sudah ada di atas tempat tidur dan di lantai kamarnya. Matanya langsung tertuju pada hadiah yang diberikan dari Yuna dan Yeriko. Ia tersenyum sambil menyambar paper bag dari Yuna dan langsung membukanya.

 

“Yuna ... Yuna ...” ucapnya sambil memegang My Montblanc Nightflight Wallet 9cc yang ada di tangannya.

 

“Seleranya memang berkelas,” ucap Andre sambil tersenyum. Ia membaca kartu ucapan ulang tahun yang ada di sana dan menyelipkan kartu ucapan tersebut ke dalam dompet pemberian Yuna.

 

Andre merogoh dompet di saku jasnya. Ia terus tersenyum bahagia sambil memindahkan semua kartu yang ada di dompet lamanya ke dompet baru pemberian Yuna.

 

“Muuach ...!” Andre langsung mencium dompet tersebut dan menyimpan ke dalam sakunya. Di tangannya, masih ada Leather Bifold Zip Wallet miliknya. “Diapain ini dompet lama?” batin Andre.

 

Andre tersenyum kecil sambil melirik tempat sampah yang ada di kamarnya. Ia langsung melemparkan dompet seharga satu jutaan itu ke dalam tempat sampah tersebut. “Sorry ...! Dompet pemberian Yuna, jauh lebih berharga buat aku,” ucapnya pada dompet yang sudah ada di dalam tempat sampah.

 

Tangan Andre kembali meraih kotak kecil pemberian Yeriko. “Penasaran sama hadiah yang dikasih Yeriko,” ucapnya sambil membuka kotak tersebut.

 

Andre langsung mengerutkan dahi saat melihat kunci mobil Porsche yang sudah tak asing lagi di matanya. “Gila! Dia balikin mobilku!” seru Andre. “Aku pikir, dia udah jual mobil ini. Yes!” ucapnya sambil menggenggam kunci mobil tersebut.

 

“Eh, aku baru aja pesen Ferrari. Terus, Porsche aku balik ke tanganku lagi. Punya dua mobil buat apa? Aargh ...!” serunya kesal.

 

Andre langsung merogoh ponsel dan menelepon asistennya.

 

“Halo ... Pak! Ada yang bisa saya bantu?” tanya asisten Andre begitu panggilan telepon dari Andre tersambung.

 

“Ferrari yang aku pesan, udah dibayar atau belum?” tanya Andre.

 

“Belum, Pak. Mungkin, dua hari lagi baru saya bayarkan. Masih nunggu ...”

 

“Bisa dibatalkan?” sela Andre.

 

“Mau dibatalkan pembeliannya?”

 

“Kalo bisa.”

 

“DP sudah dibayar, Pak. Kalau mau dibatalkan sepihak, uang DP nggak kembali.”

 

“Kamu DP berapa?” tanya Andre.

 

“Dua ratus juta, Pak.”

 

Andre menghela napas lega. “Untung aja cuma di DP dua ratus juta.”

 

“Gimana, Pak? Mau dibatalin atau dilanjut?”

 

“Batalin aja!” perintah Andre.

 

“Siap, Pak!”

 

Andre langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia merebahkan dirinya ke atas kasur. “Yuna ... pasti kamu yang nyuruh suami kamu buat balikin mobil aku ya? Hmm ... kamu memang perempuan yang berperasaan. Nggak kayak suami kamu yang kejam itu,” tuturnya sambil tersenyum menatap bayangan wajah Yuna yang tergambar di langit-langit kamarnya.

 

Andre kembali menatap beberapa kado yang masih ada di atas kasurnya. Ia tak punya keinginan untuk membuka kado yang lainnya lagi.

 

Tok ... Tok ... Tok ...!

 

Andre menoleh ke arah pintu, ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu.

 

“Ada apa?” tanya Andre sambil menatap pelayan yang sudah berdiri di depan pintu saat ia membuka pintu tersebut.

 

“Nyonya Andre yang di kamar depan, minta Pak Andre ke kamarnya.”

 

“Nyonya?” Andre mengerutkan dahinya.

 

“Iya, Pak.”

 

Andre memutar bola matanya. “Sejak kapan dia berikrar jadi Nyonya Andre?” celetuknya sambil keluar dari kamar.

 

Pelayan tersebut hanya tersenyum dan berlalu pergi meninggalkan Andre.

 

Andre melangkah masuk menuju kamar Nirma. Ia celingukan karena ia tidak menemukan Nirma ada di dalam sana.

 

Lampu kamar tiba-tiba meredup, hanya menyisakan sedikit cahaya dan layar televisi LED 55 Inch yang mengeluarkan visual gambar dan suara ucapan ulang tahun yang begitu hangat dan romantis.

 

“Selamat ulang tahun ...!” seru Nirma yang tiba-tiba muncul di belakang Andre. “Ini hadiah yang aku buat khusus buat Kak Andre.”

 

Andre tersenyum kecil. Ia mengikuti Nirma untuk duduk di sofa dan menonton film yang sengaja disiapkan oleh Nirma.

 

Nirma tersenyum sambil menuangkan wine ke dalam gelas dan memberikannya pada Andre.

 

Andre terus menatap gambar animasi yang berputar di layar televisi sambil menenggak wine yang ada di tangannya.  Ia tersenyum bahagia saat layar televisi yang ada di depannya mengeluarkan gambar-gambar Yuna yang sedang tertawa bahagia.

 

“Selamat ulang tahun  ...!” seru Yuna sambil mengeluarkan gelembung-gelembung cinta dari dadanya.

 

“Yuna ...?” batin Andre sambil mengerjapkan matanya. Ia memijat keningnya yang berdenyut. Semakin memejamkan mata, bayangan Yuna terus berputar memenuhi kepalanya.

 

Nirma tersenyum sambil menatap Andre yang sudah berada di bawah pengaruh alkohol. Ia langsung menyentuh bahu Andre. “Selamat ulang tahun ...! Aku sengaja bikin ini semua sebagai hadiah ulang tahun. Malam ini, aku milikmu ...”

 

Andre menoleh ke arah Nirma sambil tersenyum. Ia mengerjapkan mata beberapa kali karena wanita seksi yang ada di depannya sangat mirip dengan Yuna. “Kamu di sini?” tanya Andre sambil menyentuh kedua pundak Nirma.

 

Nirma menganggukkan kepala.

 

Andre langsung memeluk erat tubuh Nirma. “Aku nggak nyangka kalau kamu ke sini buat aku. Aku sayang sama kamu. Jangan pergi!” pinta Andre berbisik.

 

“Aku nggak akan pergi,” jawab Nirma lirih.

 

Andre melepas pelukannya. Ia menangkup wajah Nirma dan menghisap kuat bibir gadis itu tanpa permisi.

 

Nirma tak bisa menolak semua yang dilakukan Andre dengan tiba-tiba. Ia terus menikmati ritme gerakan bibir Andre yang bermain di bibirnya. Tubuhnya langsung menegang saat bibir Andre beralih mengendus telinga dan lehernya.

 

Kedua tangan Andre, terus bergerak masuk ke dalam baju Nirma, seirama dengan gerakan mulutnya yang tak henti mengendus tubuh wangi gadis yang ada di hadapannya. Pengaruh alkohol dan aroma therapy dalam ruangan tersebut membuatnya sangat bergairah. Terlebih, saat bibir mungil Nirma mengeluarkan desahan setiap kali Andre menghisap dadanya.

 

 “Aku akan kasih semuanya ...” bisik Nirma di telinga Andre.

 

Andre tersenyum. Gerakannya semakin liar menguasai tubuh gadis itu. Ia sangat bahagia karena bisa menikmati waktu penuh gairah bersama wanita yang sangat ia cintai. Ia benar-benar tak percaya kalau Yuna memberikan hadiah ulang tahun yang begitu nikmat dan tak akan terlupakan.

 

“Kak Andre ...!” panggil Nirma lirih di antara suara desahannya.

 

Andre langsung menghentikan gerakannya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali sambil menatap Nirma yang ada di bawah tubuhnya. “Nirma!?” Ia langsung bangkit dari tubuh Nirma.

 

“Kenapa, Kak?” tanya Nirma sambil menatap tubuh Andre yang sudah tak mengenakan sehelai kain di tubuhnya, sama seperti dirinya.

 

Andre buru-buru mengenakan pakaiannya. “Kenapa bisa kamu?” tanyanya kesal.

 

Nirma mengerucutkan bibirnya. “Kenapa, Kak? Apa permainanku nggak bagus?” tanyanya sambil menatap Andre yang sedang mengenakan celananya kembali.

 

“Aargh ...! Diam kamu!” sentak Andre. “Kenapa kamu bisa di sini?”

 

“Ini memang kamar aku, Kak.”

 

Andre menatap tubuh Nirma yang masih berbaring di sampingnya. Ia meraih lingerie milik gadis itu dan melemparkan ke dada Nirma. “Pakai lagi baju kamu!” perintahnya.

 

“Kakak kenapa? Kenapa tiba-tiba ...” Ucapan Nirma terhenti saat Andre menatap tajam ke arahnya.

 

“Sorry ...! Aku nggak seharusnya kayak gini. Aku sudah salah mengenali kamu. Aku pikir, kamu itu si Yu—” Andre tak melanjutkan ucapannya karena takut menyakiti Nirma.

 

Nirma menatap pilu sambil meremas pakaian yang ada di tangannya. Ia sangat kesal dengan sikap Andre yang masih saja memikirkan wanita lain. Padahal, ia rela melakukan apa pun untuk pria yang ia cintai. Termasuk memberikan seluruh tubuhnya yang paling berharga baginya.

 

((Bersambung ...))

Thanks udah baca sampai di sini, dukung terus ceritanya biar aku makin semangat bikin cerita yang bikin baper dan makin seru setiap harinya.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 


Perfect Hero Bab 408 : Direktur Muda yang Masih Single

 


“Jhen, kita pulang sekarang!” ajak Chandra.

 

Jheni menganggukkan kepala.

 

Chandra merangkul pundak Jheni dan memapahnya sampai ke mobil.

 

“Ceweknya Andre ngeselin banget!” gerutu Jheni sambil melepas jas Chandra yang menyelimuti tubuhnya.

 

“Kenapa sama dia?” tanya Chandra. Ia meraih jas yang ada di tangan Jheni dan meletakkan di kursi belakang mobilnya.

 

“Nggak tahu tuh cewek gila! Ngeselin banget. Dari awal, aku udah curiga sama dia. Anaknya sih kelihatan lucu dan gemesin gitu. Sekalinya, bikin geregetan juga. Kenapa coba dia mau nyelakain Yuna? Kalo karena cemburu, nggak masuk akal banget. Secara, Yuna udah nikah sama Yeriko. Nggak mungkin ngelirik si Andre. Andre juga nih aneh banget. Dapet tunangan di mana sih? Nggak Yulia, nggak Nirma, dua-duanya ngeselin!” cerocos Jheni.

 

Chandra hanya tersenyum kecil sambil menyalakan mesin mobilnya. “Masih anak-anak.”

 

“Masih anak-anak gimana? Kelakuannya aja yang sok anak-anak. Dia bisa membahayakan orang lain juga. Kalo sampe si Yuna kenapa-kenapa gimana? Kamu kan tahu kalo Yuna lagi hamil. Kenapa sih semua orang nargetkan Yuna? Orang baik malah banyak musuhnya. Padahal, Yuna nggak pernah jahat sama orang. Susah memang jadi orang cantik, banyak yang ngiri,” ucap Jheni kesal.

 

Chandra tersenyum menatap Jheni. “Udah selesai ngomelnya?”

 

Jheni langsung menatap tajam ke arah Chandra. “Kamu ... kalo bukan pacarku, udah aku jadiin ayam geprek!” serunya dalam hati.

 

Chandra meringis sambil menatap Jheni. “Pakai safety belt!” perintahnya sambil menjalankan mobilnya perlahan, kemudian melaju membelah jalanan kota.

 

Jheni menahan kesal sepanjang perjalanan. “Punya pacar cool, keren, ganteng, banyak duit ... impian semua wanita di dunia. Tapi nggak gini juga. Kenapa pacarku cuek banget kayak gini?” batin Jheni sambil menatap Chandra yang sedang menyetir. “Walau cuek banget. Tetep aja ganteng dan aku sayang,” batinnya.

 

“Kenapa ngelihatin aku kayak gitu?” tanya Chandra.

 

“Eh!? Nggak papa,” jawab Jheni salah tingkah.

 

“Ceritanya di rumah aja ya!” pinta Chandra.

 

Jheni menganggukkan kepala.

 

“Malam ini masih mau ngerjain gambar-gambar kamu?” tanya Chandra.

 

Jheni menganggukkan kepala.

 

“Aku temenin.”

 

“Hah!?”

 

“Aku juga mau lembur. Sekalian aja, aku temenin kamu begadang.”

 

“Kamu sering banget lembur. Kalo Yeriko, apa dia juga sering lembur?”

 

Chandra mengedikkan bahu. “Kadang-kadang dia masih online sampai tengah malam untuk verifikasi data. Semua proyek yang nilainya di atas lima ratus juta, harus lewat verifikasi dia dulu. Lagi banyak proyek baru yang nilainya besar. Kemungkinan, dia sering lembur juga.”

 

“Kalo project yang nilainya kecil, dia nggak tangani?” tanya Jheni.

 

“Ditangani semua. Tapi, mana ada sih direktur utama ngurusin kopinya karyawan? Buat apa dia bayar pegawai sebanyak itu?”

 

“Maksudnya?”

 

“Maksudnya ... semua pekerjaan yang di bawah lima ratus juta. Si Chandra yang nanganin. Bukan Yeriko.”

 

“Oh ya? Chandra itu siapa?” goda Jheni.

 

“Nggak tahu siapa. Kayaknya, salah satu direktur di Galaxy Group yang paling muda, paling ganteng dan masih single.”

 

“Masih single ...?” tanya Jheni sambil mendelik ke arah Chandra.

 

“Iya. Belum nikah.”

 

“Oh.”

 

Chandra menahan tawa mendengar reaksi Jheni.

 

Jheni memilih untuk berdiam diri sepanjang perjalanan. Ia baru melanjutkan omelannya setelah sampai di rumah. Ia sangat mengetahui kalau Chandra tidak suka mendengarkan omelan kosongnya di dalam mobil karena mengganggu konsentrasi saat menyetir.

 

 

 

 

 

...

 

 

 

Di saat yang sama ...

 

Perjamuan acara ulang tahun Andre kacau karena pemilik acara meninggalkan tempat terlebih dahulu. Mengabaikan tamu undangan yang datang ke tempat itu. Satu per satu, mereka keluar dari venue dan bergegas pulang ke rumah masing-masing. Tak terkecuali Yuna dan Yeriko.

 

“Yun ...!” panggil Yeriko sambil menatap wajah Yuna yang hanya melamun sepanjang perjalanan.

 

“Hmm.”

 

“Kenapa?” tanya Yeriko.

 

“Nggak papa. Lagi bingung aja.”

 

“Bingung kenapa?”

 

“Soal tunangan Andre tadi. Waktu pertama kali ketemu, dia kelihatan baik dan ceria banget. Tadi aku ngerasa ada yang aneh.”

 

“Aneh gimana?” tanya Yeriko.

 

“Cara dia lihat aku dan Jheni, kayak ngelihat musuh aja. Jutek banget,” jawab Yuna. “Aku sama Jheni salah apa ke dia?”

 

“Kamu nggak salah apa-apa. Mungkin, semuanya cuma kebetulan. Nggak usah berpikir terlalu jauh!” pinta Yeriko sambil menggenggam tangan Yuna.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Cuma ... masih penasaran aja sih. Aku jadi nggak enak sama Andre. Acara ulang tahun dia jadi kacau kayak gini.”

 

“Hmm ... sebenarnya ada apa?”

 

Yuna mengedikkan bahunya. “Aku tahunya dia udah jatuh ke lantai dan Jheni ngelindungi aku. Aku kasihan lihat tunangannya Andre. Bisa jadi, dia emang nggak sengaja jatuh.”

 

“Soal itu, pasti udah diurus sama Andre. Kamu lihat sendiri, Andre langsung bawa dia pergi.”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

 

“Disengaja atau nggak, aku akan berusaha melindungi kamu. Maaf kalau aku terlalu lama ninggalin kamu sendirian di tengah keramaian!” tutur Yeriko.

 

Yuna tersenyum. “Nggak papa, kok. Untung ada Jheni. Kalau nggak ada dia, aku pasti udah jatuh juga. Aku nggak mau dia terluka,” tutur Yuna sambil mengelus perutnya sendiri.

 

Yeriko tersenyum kecil sambil melirik perut Yuna. “Sekarang, kamu jarang ngajak aku cerita, karena udah punya teman cerita baru?” tanya Yeriko.

 

“Maksudnya?”

 

“Kamu lebih banyak ngobrol sama dia daripada sama aku,” jawab Yeriko.

 

“Kamu cemburu sama anak kamu sendiri? Lagian, kamu juga tiap malam sibuk kerja. Siang sibuk kerja, malam juga masih kerja. Nggak ada banyak waktu buat diajak cerita.”

 

“Aku nggak terlalu sibuk. Jam sepuluh udah temanin kamu tidur. Kamu aja yang nggak mau cerita banyak. Malah tidur cepet.”

 

“Bukannya kamu yang nyuruh aku tidur cepet?” tanya Yuna.

 

“Iya juga, sih. Ibu hamil kan nggak boleh begadang.”

 

Yuna tertawa kecil menatap Yeriko.

 

“Kenapa malah ketawa?”

 

“Nggak papa. Lucu aja.”

 

“Lucunya di mana?”

 

“Yah ... cemburu boleh. Tapi, nggak harus cemburu sama anak sendiri juga.”

 

“Gimana aku nggak cemburu kalau dua puluh empat jam, kamu sama dia terus.”

 

“Hahaha. Emangnya, ini bayi bisa ditaruh dulu? Kalo bisa, aku pindahin aja ke perut kamu, biar ngerasain kalo hamil gimana.”

 

“Kalo aku yang hamil, aku nggak bisa cari uang buat kamu. Katanya, mau ngemil berlian?” tanya Yeriko sambil menahan tawa.

 

“Idih, aku nggak pernah bilang begitu.”

 

Yeriko tersenyum kecil. Sepertinya, memang sudah lama ia tak memberikan hadiah kecil untuk istrinya.  Ia terpikir untuk memberikan hadiah saat Yuna ulang tahun. “Yun, kita mampir ke pondok Yeyui sebentar. Mau?”

 

“Mau banget!” seru Yuna.

 

Yeriko tersenyum kecil. Ia segera melajukan mobilnya ke taman kota, tempat Yeriko bekerja sama dengan pemerintah kota untuk mengabadikan kisah cintanya bersama Yuna, wanita yang paling ia sayang seumur hidupnya.

 

Sesampainya di sana, Yuna tersenyum bahagia melihat pemandangan taman yang indah. Ia dan Yeriko masuk ke dalam pondok Yeyui dan berbincang banyak hal. Yuna tak ingin menyia-nyiakan waktu saat ini untuk bercengkerama dengan suaminya sendiri sebelum mereka kembali ke rumah.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat nulisnya ya...

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 407 : Diam-Diam Benci

 


Andre terus menatap Yuna yang duduk di sebelah Jheni. Mata dan bibirnya ikut tersenyum setiap kali melihat tawa ceria yang tergambar dari wajah Yuna.

 

Sementara, Nirma semakin menatap Jheni penuh kebencian. Ia mengira kalau semua perhatian Andre tertuju pada Jheni seorang. “Kak Andre ...!” panggil Nirma sambil menyenggol lengan Andre.

 

“Eh!? Kenapa?” Pertanyaan Nirma, membuyarkan lamunan Andre.

 

“Nggak denger kalau MC nyuruh Kak Andre naik ke panggung untuk potong kue?” tanya Nirma sambil menatap Andre.

 

“Oh, sorry! Denger, kok.” Andre langsung melangkahkan kakinya perlahan menuju panggung.

 

Nirma mengikuti langkah Andre dari belakang. Matanya terus tertuju pada Jheni yang duduk di sebelah Yuna. Ia mendampingi Andre untuk melakukan pemotongan kue ulang tahun.

 

“Biasanya, potongan kue yang pertama diberikan untuk someone special. Kira-kira, siapa orang yang beruntung malam ini ya?” Suara MC mulai memandu acara ulang tahun Andre.

 

Andre tersenyum kecil. Matanya, masih fokus pada Yuna yang duduk tepat berseberangan dengannya. Ia ingin memberikan potongan kue pertamanya untuk Yuna. Hanya saja, pria yang selalu menggandeng tangan Yuna, membuatnya menyerah untuk melakukannya.

 

Nirma membantu Andre untuk melakukan pemotongan kue dan Andre memberikan potongan kue pertamanya pada Nirma begitu saja.

 

Tepuk tangan meriah, terdengar dari semua tamu undangan.

 

“Ndre, kenalin dong sama cewek yang ada di sebelah kamu. Dia siapa?” seru salah seorang teman Andre.

 

Andre tersenyum kecil. “Perkenalkan, ini Nirmala Bowie. Mmh, dia adalah ... tunangan saya,” tuturnya sambil terus menatap Yuna. Ia tersenyum kecut karena Yuna tidak begitu merespon apa yang telah terjadi dengannya. Raut wajahnya tetap tak berubah sejak Yuna masuk ke dalam acara ulang tahun Andre.

 

“Selamat, Ndre ...! Kami tunggu undangan pesta pernikahannya!” seru tamu yang lain.

 

Andre hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Nirma. “Ini udah kelar atau belum?” bisiknya.

 

“Tunggu aba-aba dari MC ya!” jawab Nirma sambil tersenyum manis.

 

Andre menarik napas dalam-dalam. Ia menunggu panduan dari MC dengan sabar dan mengikutinya begitu saja.

 

Begitu selesai, Andre langsung mengajak Nirma untuk menghampiri Jheni dan Yuna yang sedang berduaan.

 

“Hei, pria-pria kalian ke mana?” sapa Andre.

 

“Lagi ke toilet,” jawab Jheni.

 

“Oh.” Andre mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia langsung menoleh ke arah Yuna yang sedang menikmati makanan yang ada di atas meja. “Gimana, Yun? Makanannya enak?”

 

Yuna langsung menatap Andre. Ia hanya bisa menganggukkan kepala karena mulutnya penuh dengan makanan.

 

Andre tertawa kecil. Setiap kali melihat Yuna makan, ia selalu merasa bahagia. Sejak kecil, Yuna memang senang dengan makanan enak. “Semua makanan yang ada di sini, aku pesan sesuai dengan selera kamu.”

 

“Hah!? Serius? Kamu baik banget!” puji Yuna.

 

Andre terus tersenyum sambil menatap Yuna.

 

“Jadi, cewek  yang disukai sama Kak Andre itu Kak Yuna? Bukannya Kak Jheni?” batin Nirma yang duduk di sebelah Andre.

 

“Ndre, kamu emang paling tahu selera Yuna,” tutur Jheni sambil tersenyum. Matanya terus melirik ke arah Nirma yang menatap Yuna penuh kebencian.

 

“Iya, dong. Udah dari kecil kita sama-sama. Aku udah hafal banget makanan kesukaan dia. Dari dulu, nggak pernah berubah,” sahut Andre.

 

Jheni tersenyum sambil menatap Andre. “Kamu pria yang pengertian banget. Wanita yang jadi pasangan kamu, pasti bahagia banget,” tuturnya sambil menatap Nirma.

 

Nirma memaksa bibirnya untuk tersenyum ke arah Jheni dan Yuna. “Kak Andre, kita samperin yang lain dulu yuk!” bisik Nirma.

 

Andre mengangguk. “Yun, aku samperin yang lain dulu ya!” pamit Andre.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Yun, kenapa si Nirma ngelihat kita kayak aneh gitu ya?”

 

“Aneh gimana?”

 

“Kayak cemburu gitu.”

 

“Cemburu kan hal wajar. Bukan aneh.”

 

“Hmm, iya juga sih. Dia cocok juga sama Andre. Perbedaan usia mereka berapa ya? Kelihatannya beda jauh.”

 

“Beda jauh gimana? Aku sama Yeriko juga selisih lima tahun.”

 

“Mmh, kayaknya si Nirma sama Andre, selisih umurnya lebih dari delapan tahun. Sepuluh tahun, mungkin.”

 

“Emang kenapa ngomongin umur mereka?”

 

“Aku punya ide buat komik aku selanjutnya. Lucu kali ya kalau direktur tampan dan kaya raya yang usianya menginjak kepala tiga, terus jatuh cinta sama anak remaja ala-ala SMA itu. Kebayang serunya kalau cewek manja dan suka membangkang, ketemu sama cowok tua ganteng yang pendiam dan dewasa seperti Andre ...” Jheni terus bercerita sambil menopang dagu dengan kedua telapak tangannya.

 

“Woi ...! Sadar, Jhen! Nge-halu terus!” seru Yuna sambil menoyor kening Jheni menggunakan ujung sendok yang ada di tangannya.

 

“Idih, kotor, Yun!” sahut Jheni sambil mengusap dahinya yang terkena sendok Yuna. “Biar aja aku nge-halu. Emang kerjaanku begitu.”

 

“Hahaha. Kenapa nggak cari pasangan yang nulis buku juga? Biar seru tuh, kalian begadang nulis komik bareng-bareng.”

 

“Ogah! Nggak seru,” sahut Jheni.

 

Yuna terkekeh. “Jhen, ini kuenya enak banget. Ambil lagi, yuk!” ajak Yuna sambil bangkit dari kursi.

 

Jheni langsung mengikuti langkah kaki Yuna menuju meja prasmanan yang sudah disediakan.

 

Yuna melihat-lihat beberapa kue yang ada di sana. Tak ada satu pun kue yang tidak ia sukai. Semuanya, kue yang sangat ia suka.

 

“Yun, nggak usah makan banyak-banyak! Tambah kayak gentong tuh badan,” tutur Jheni.

 

“Biar aja. Mumpung gratis!”

 

“Astaga ...! Duitmu udah banyak, masih aja demen gratisan!” dengus Jheni.

 

Yuna tertawa kecil menanggapi ucapan Jheni.

 

Dari kejauhan, mata Nirma terus mengawasi gerak-gerik Yuna dan Jheni. Ia langsung melangkahkan kakinya begitu melihat Yuna sedang memilih-milih makanan yang ada di atas meja.

 

Ia mengambil beberapa kue dan meletakkannya di atas piring. Kemudian, ia melangkah mendekati Yuna. Ia sengaja menautkan ujung kakinya ke bawah hak sepatu dan membuat tubuhnya sempoyongan di hadapan Yuna.

 

“Yuna ... awas!” seru Jheni sambil membelalakkan matanya dan langsung memeluk tubuh Yuna. Menarik Yuna agar tidak tertabrak oleh Nirma dan terjatuh. Ia bisa merasakan tubuhnya tersiram wine yang dipegang dipegang Nirma.

 

BUG!

 

PRANG ...!

 

Nirma tersungkur ke lantai. Piring dan gelas yang ada di tangannya pecah ke lantai, melukai tangan dan kakinya. “Sialan! Kenapa malah aku yang luka?” batin Nirma.

 

Yuna membuka mulutnya lebar-lebar melihat Nirma yang sudah tersungkur ke lantai dan terkena pecahan piring.

 

“Heh, kamu sengaja mau nabrak Yuna ya!?” sentak Jheni.

 

Nirma mengerutkan hidungnya. “Jelas-jelas aku yang jatuh dan luka, kenapa aku yang disalahin?” sahut Nirma.

 

“Kamu kira, aku nggak lihat!” seru Jheni. “Kalau sampai nyentuh Yuna, aku nggak akan maafin kamu!” ancam Jheni.

 

Semua orang langsung mendekat, memerhatikan pertengkaran Jheni dan Nirma.

 

“Ada apa ini?” tanya Yeriko. Ia langsung menghampiri Yuna yang berdiri di belakang Jheni. “Kamu nggak papa ‘kan?” tanyanya sambil memeriksa tubuh Yuna.

 

“Aku nggak papa,” jawab Yuna sambil menatap punggung Jheni yang basah.

 

Chandra langsung melepas jasnya dan menutup punggung Jheni. “Kamu nggak papa?” tanyanya.

 

“Nggak papa,” jawab Jheni sambil menatap sengit ke arah Nirma.

 

“Ini ada apa?” tanya Chandra sambil menatap Nirma yang tersungkur di lantai.

 

Nirma langsung terisak saat semua mata memandang ke arahnya. Ia merasa kesakitan dan malu karena semua orang menatap ke arahnya.

 

“Kamu kenapa?” Andre langsung menerobos kerumunan orang dan menghampiri Nirma yang terisak.

 

“Cewek kamu ini, sengaja mau nyelakain Yuna!” sahut Jheni kesal.

 

Nirma menggelengkan kepala sambil terisak. “Aku nggak sengaja jatuh, Kak,” ucapnya sambil menatap pilu ke arah Andre.

 

Andre memeriksa tangan dan kaki Nirma yang terluka. “Pelayan! Tolong beresin ini!” teriak Andre. Ia kesal karena tak ada satu pun pelayan yang membersihkan pecahan piring dan gelas yang berserakan di lantai.

 

Andre menoleh ke arah Yuna sejenak. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Ia juga tidak ingin ada orang lain yang melukai Yuna. Hanya saja, ia juga tak bisa menyalahkan Nirma begitu saja tanpa bukti yang jelas.

 

“Kak Andre, aku beneran nggak sengaja,” tutur Nirma lirih.

 

“Nggak papa. Bukan sepenuhnya salah kamu, kok.” Andre langsung mengangkat tubuh Nirma, menggendongnya pergi menuju kamar yang sudah ia sewa di hotel tersebut. Meski ia tidak mencintai Nirma, ia juga tak memiliki alasan untuk membenci gadis itu. Selama di kota ini, Nirma menjadi tanggung jawabnya. Ia tidak ingin bertengkar lagi dengan orang tuanya hanya karena tidak bisa menjaga Nirma dengan baik.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat nulisnya ya...

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas