“Jhen,
kita pulang sekarang!” ajak Chandra.
Jheni
menganggukkan kepala.
Chandra
merangkul pundak Jheni dan memapahnya sampai ke mobil.
“Ceweknya
Andre ngeselin banget!” gerutu Jheni sambil melepas jas Chandra yang
menyelimuti tubuhnya.
“Kenapa
sama dia?” tanya Chandra. Ia meraih jas yang ada di tangan Jheni dan meletakkan
di kursi belakang mobilnya.
“Nggak
tahu tuh cewek gila! Ngeselin banget. Dari awal, aku udah curiga sama dia.
Anaknya sih kelihatan lucu dan gemesin gitu. Sekalinya, bikin geregetan juga.
Kenapa coba dia mau nyelakain Yuna? Kalo karena cemburu, nggak masuk akal
banget. Secara, Yuna udah nikah sama Yeriko. Nggak mungkin ngelirik si Andre.
Andre juga nih aneh banget. Dapet tunangan di mana sih? Nggak Yulia, nggak
Nirma, dua-duanya ngeselin!” cerocos Jheni.
Chandra
hanya tersenyum kecil sambil menyalakan mesin mobilnya. “Masih anak-anak.”
“Masih
anak-anak gimana? Kelakuannya aja yang sok anak-anak. Dia bisa membahayakan
orang lain juga. Kalo sampe si Yuna kenapa-kenapa gimana? Kamu kan tahu kalo
Yuna lagi hamil. Kenapa sih semua orang nargetkan Yuna? Orang baik malah banyak
musuhnya. Padahal, Yuna nggak pernah jahat sama orang. Susah memang jadi orang
cantik, banyak yang ngiri,” ucap Jheni kesal.
Chandra
tersenyum menatap Jheni. “Udah selesai ngomelnya?”
Jheni
langsung menatap tajam ke arah Chandra. “Kamu ... kalo bukan pacarku, udah aku
jadiin ayam geprek!” serunya dalam hati.
Chandra
meringis sambil menatap Jheni. “Pakai safety belt!” perintahnya sambil
menjalankan mobilnya perlahan, kemudian melaju membelah jalanan kota.
Jheni
menahan kesal sepanjang perjalanan. “Punya pacar cool, keren, ganteng, banyak
duit ... impian semua wanita di dunia. Tapi nggak gini juga. Kenapa pacarku
cuek banget kayak gini?” batin Jheni sambil menatap Chandra yang sedang
menyetir. “Walau cuek banget. Tetep aja ganteng dan aku sayang,” batinnya.
“Kenapa
ngelihatin aku kayak gitu?” tanya Chandra.
“Eh!?
Nggak papa,” jawab Jheni salah tingkah.
“Ceritanya
di rumah aja ya!” pinta Chandra.
Jheni
menganggukkan kepala.
“Malam
ini masih mau ngerjain gambar-gambar kamu?” tanya Chandra.
Jheni
menganggukkan kepala.
“Aku
temenin.”
“Hah!?”
“Aku
juga mau lembur. Sekalian aja, aku temenin kamu begadang.”
“Kamu
sering banget lembur. Kalo Yeriko, apa dia juga sering lembur?”
Chandra
mengedikkan bahu. “Kadang-kadang dia masih online sampai tengah malam untuk
verifikasi data. Semua proyek yang nilainya di atas lima ratus juta, harus
lewat verifikasi dia dulu. Lagi banyak proyek baru yang nilainya besar.
Kemungkinan, dia sering lembur juga.”
“Kalo
project yang nilainya kecil, dia nggak tangani?” tanya Jheni.
“Ditangani
semua. Tapi, mana ada sih direktur utama ngurusin kopinya karyawan? Buat apa
dia bayar pegawai sebanyak itu?”
“Maksudnya?”
“Maksudnya
... semua pekerjaan yang di bawah lima ratus juta. Si Chandra yang nanganin.
Bukan Yeriko.”
“Oh
ya? Chandra itu siapa?” goda Jheni.
“Nggak
tahu siapa. Kayaknya, salah satu direktur di Galaxy Group yang paling muda,
paling ganteng dan masih single.”
“Masih
single ...?” tanya Jheni sambil mendelik ke arah Chandra.
“Iya.
Belum nikah.”
“Oh.”
Chandra
menahan tawa mendengar reaksi Jheni.
Jheni
memilih untuk berdiam diri sepanjang perjalanan. Ia baru melanjutkan omelannya
setelah sampai di rumah. Ia sangat mengetahui kalau Chandra tidak suka
mendengarkan omelan kosongnya di dalam mobil karena mengganggu konsentrasi saat
menyetir.
...
Di
saat yang sama ...
Perjamuan
acara ulang tahun Andre kacau karena pemilik acara meninggalkan tempat terlebih
dahulu. Mengabaikan tamu undangan yang datang ke tempat itu. Satu per satu,
mereka keluar dari venue dan bergegas pulang ke rumah masing-masing. Tak
terkecuali Yuna dan Yeriko.
“Yun
...!” panggil Yeriko sambil menatap wajah Yuna yang hanya melamun sepanjang
perjalanan.
“Hmm.”
“Kenapa?”
tanya Yeriko.
“Nggak
papa. Lagi bingung aja.”
“Bingung
kenapa?”
“Soal
tunangan Andre tadi. Waktu pertama kali ketemu, dia kelihatan baik dan ceria
banget. Tadi aku ngerasa ada yang aneh.”
“Aneh
gimana?” tanya Yeriko.
“Cara
dia lihat aku dan Jheni, kayak ngelihat musuh aja. Jutek banget,” jawab Yuna.
“Aku sama Jheni salah apa ke dia?”
“Kamu
nggak salah apa-apa. Mungkin, semuanya cuma kebetulan. Nggak usah berpikir
terlalu jauh!” pinta Yeriko sambil menggenggam tangan Yuna.
Yuna
menganggukkan kepala. “Cuma ... masih penasaran aja sih. Aku jadi nggak enak
sama Andre. Acara ulang tahun dia jadi kacau kayak gini.”
“Hmm
... sebenarnya ada apa?”
Yuna
mengedikkan bahunya. “Aku tahunya dia udah jatuh ke lantai dan Jheni
ngelindungi aku. Aku kasihan lihat tunangannya Andre. Bisa jadi, dia emang
nggak sengaja jatuh.”
“Soal
itu, pasti udah diurus sama Andre. Kamu lihat sendiri, Andre langsung bawa dia
pergi.”
Yuna
mengangguk sambil tersenyum.
“Disengaja
atau nggak, aku akan berusaha melindungi kamu. Maaf kalau aku terlalu lama
ninggalin kamu sendirian di tengah keramaian!” tutur Yeriko.
Yuna
tersenyum. “Nggak papa, kok. Untung ada Jheni. Kalau nggak ada dia, aku pasti
udah jatuh juga. Aku nggak mau dia terluka,” tutur Yuna sambil mengelus
perutnya sendiri.
Yeriko
tersenyum kecil sambil melirik perut Yuna. “Sekarang, kamu jarang ngajak aku
cerita, karena udah punya teman cerita baru?” tanya Yeriko.
“Maksudnya?”
“Kamu
lebih banyak ngobrol sama dia daripada sama aku,” jawab Yeriko.
“Kamu
cemburu sama anak kamu sendiri? Lagian, kamu juga tiap malam sibuk kerja. Siang
sibuk kerja, malam juga masih kerja. Nggak ada banyak waktu buat diajak
cerita.”
“Aku
nggak terlalu sibuk. Jam sepuluh udah temanin kamu tidur. Kamu aja yang nggak
mau cerita banyak. Malah tidur cepet.”
“Bukannya
kamu yang nyuruh aku tidur cepet?” tanya Yuna.
“Iya
juga, sih. Ibu hamil kan nggak boleh begadang.”
Yuna
tertawa kecil menatap Yeriko.
“Kenapa
malah ketawa?”
“Nggak
papa. Lucu aja.”
“Lucunya
di mana?”
“Yah
... cemburu boleh. Tapi, nggak harus cemburu sama anak sendiri juga.”
“Gimana
aku nggak cemburu kalau dua puluh empat jam, kamu sama dia terus.”
“Hahaha.
Emangnya, ini bayi bisa ditaruh dulu? Kalo bisa, aku pindahin aja ke perut
kamu, biar ngerasain kalo hamil gimana.”
“Kalo
aku yang hamil, aku nggak bisa cari uang buat kamu. Katanya, mau ngemil
berlian?” tanya Yeriko sambil menahan tawa.
“Idih,
aku nggak pernah bilang begitu.”
Yeriko
tersenyum kecil. Sepertinya, memang sudah lama ia tak memberikan hadiah kecil
untuk istrinya. Ia terpikir untuk memberikan hadiah saat Yuna ulang
tahun. “Yun, kita mampir ke pondok Yeyui sebentar. Mau?”
“Mau
banget!” seru Yuna.
Yeriko
tersenyum kecil. Ia segera melajukan mobilnya ke taman kota, tempat Yeriko
bekerja sama dengan pemerintah kota untuk mengabadikan kisah cintanya bersama
Yuna, wanita yang paling ia sayang seumur hidupnya.
Sesampainya
di sana, Yuna tersenyum bahagia melihat pemandangan taman yang indah. Ia dan
Yeriko masuk ke dalam pondok Yeyui dan berbincang banyak hal. Yuna tak ingin
menyia-nyiakan waktu saat ini untuk bercengkerama dengan suaminya sendiri
sebelum mereka kembali ke rumah.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini biar aku makin
semangat nulisnya ya...
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment