Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 408 : Direktur Muda yang Masih Single

 


“Jhen, kita pulang sekarang!” ajak Chandra.

 

Jheni menganggukkan kepala.

 

Chandra merangkul pundak Jheni dan memapahnya sampai ke mobil.

 

“Ceweknya Andre ngeselin banget!” gerutu Jheni sambil melepas jas Chandra yang menyelimuti tubuhnya.

 

“Kenapa sama dia?” tanya Chandra. Ia meraih jas yang ada di tangan Jheni dan meletakkan di kursi belakang mobilnya.

 

“Nggak tahu tuh cewek gila! Ngeselin banget. Dari awal, aku udah curiga sama dia. Anaknya sih kelihatan lucu dan gemesin gitu. Sekalinya, bikin geregetan juga. Kenapa coba dia mau nyelakain Yuna? Kalo karena cemburu, nggak masuk akal banget. Secara, Yuna udah nikah sama Yeriko. Nggak mungkin ngelirik si Andre. Andre juga nih aneh banget. Dapet tunangan di mana sih? Nggak Yulia, nggak Nirma, dua-duanya ngeselin!” cerocos Jheni.

 

Chandra hanya tersenyum kecil sambil menyalakan mesin mobilnya. “Masih anak-anak.”

 

“Masih anak-anak gimana? Kelakuannya aja yang sok anak-anak. Dia bisa membahayakan orang lain juga. Kalo sampe si Yuna kenapa-kenapa gimana? Kamu kan tahu kalo Yuna lagi hamil. Kenapa sih semua orang nargetkan Yuna? Orang baik malah banyak musuhnya. Padahal, Yuna nggak pernah jahat sama orang. Susah memang jadi orang cantik, banyak yang ngiri,” ucap Jheni kesal.

 

Chandra tersenyum menatap Jheni. “Udah selesai ngomelnya?”

 

Jheni langsung menatap tajam ke arah Chandra. “Kamu ... kalo bukan pacarku, udah aku jadiin ayam geprek!” serunya dalam hati.

 

Chandra meringis sambil menatap Jheni. “Pakai safety belt!” perintahnya sambil menjalankan mobilnya perlahan, kemudian melaju membelah jalanan kota.

 

Jheni menahan kesal sepanjang perjalanan. “Punya pacar cool, keren, ganteng, banyak duit ... impian semua wanita di dunia. Tapi nggak gini juga. Kenapa pacarku cuek banget kayak gini?” batin Jheni sambil menatap Chandra yang sedang menyetir. “Walau cuek banget. Tetep aja ganteng dan aku sayang,” batinnya.

 

“Kenapa ngelihatin aku kayak gitu?” tanya Chandra.

 

“Eh!? Nggak papa,” jawab Jheni salah tingkah.

 

“Ceritanya di rumah aja ya!” pinta Chandra.

 

Jheni menganggukkan kepala.

 

“Malam ini masih mau ngerjain gambar-gambar kamu?” tanya Chandra.

 

Jheni menganggukkan kepala.

 

“Aku temenin.”

 

“Hah!?”

 

“Aku juga mau lembur. Sekalian aja, aku temenin kamu begadang.”

 

“Kamu sering banget lembur. Kalo Yeriko, apa dia juga sering lembur?”

 

Chandra mengedikkan bahu. “Kadang-kadang dia masih online sampai tengah malam untuk verifikasi data. Semua proyek yang nilainya di atas lima ratus juta, harus lewat verifikasi dia dulu. Lagi banyak proyek baru yang nilainya besar. Kemungkinan, dia sering lembur juga.”

 

“Kalo project yang nilainya kecil, dia nggak tangani?” tanya Jheni.

 

“Ditangani semua. Tapi, mana ada sih direktur utama ngurusin kopinya karyawan? Buat apa dia bayar pegawai sebanyak itu?”

 

“Maksudnya?”

 

“Maksudnya ... semua pekerjaan yang di bawah lima ratus juta. Si Chandra yang nanganin. Bukan Yeriko.”

 

“Oh ya? Chandra itu siapa?” goda Jheni.

 

“Nggak tahu siapa. Kayaknya, salah satu direktur di Galaxy Group yang paling muda, paling ganteng dan masih single.”

 

“Masih single ...?” tanya Jheni sambil mendelik ke arah Chandra.

 

“Iya. Belum nikah.”

 

“Oh.”

 

Chandra menahan tawa mendengar reaksi Jheni.

 

Jheni memilih untuk berdiam diri sepanjang perjalanan. Ia baru melanjutkan omelannya setelah sampai di rumah. Ia sangat mengetahui kalau Chandra tidak suka mendengarkan omelan kosongnya di dalam mobil karena mengganggu konsentrasi saat menyetir.

 

 

 

 

 

...

 

 

 

Di saat yang sama ...

 

Perjamuan acara ulang tahun Andre kacau karena pemilik acara meninggalkan tempat terlebih dahulu. Mengabaikan tamu undangan yang datang ke tempat itu. Satu per satu, mereka keluar dari venue dan bergegas pulang ke rumah masing-masing. Tak terkecuali Yuna dan Yeriko.

 

“Yun ...!” panggil Yeriko sambil menatap wajah Yuna yang hanya melamun sepanjang perjalanan.

 

“Hmm.”

 

“Kenapa?” tanya Yeriko.

 

“Nggak papa. Lagi bingung aja.”

 

“Bingung kenapa?”

 

“Soal tunangan Andre tadi. Waktu pertama kali ketemu, dia kelihatan baik dan ceria banget. Tadi aku ngerasa ada yang aneh.”

 

“Aneh gimana?” tanya Yeriko.

 

“Cara dia lihat aku dan Jheni, kayak ngelihat musuh aja. Jutek banget,” jawab Yuna. “Aku sama Jheni salah apa ke dia?”

 

“Kamu nggak salah apa-apa. Mungkin, semuanya cuma kebetulan. Nggak usah berpikir terlalu jauh!” pinta Yeriko sambil menggenggam tangan Yuna.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Cuma ... masih penasaran aja sih. Aku jadi nggak enak sama Andre. Acara ulang tahun dia jadi kacau kayak gini.”

 

“Hmm ... sebenarnya ada apa?”

 

Yuna mengedikkan bahunya. “Aku tahunya dia udah jatuh ke lantai dan Jheni ngelindungi aku. Aku kasihan lihat tunangannya Andre. Bisa jadi, dia emang nggak sengaja jatuh.”

 

“Soal itu, pasti udah diurus sama Andre. Kamu lihat sendiri, Andre langsung bawa dia pergi.”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

 

“Disengaja atau nggak, aku akan berusaha melindungi kamu. Maaf kalau aku terlalu lama ninggalin kamu sendirian di tengah keramaian!” tutur Yeriko.

 

Yuna tersenyum. “Nggak papa, kok. Untung ada Jheni. Kalau nggak ada dia, aku pasti udah jatuh juga. Aku nggak mau dia terluka,” tutur Yuna sambil mengelus perutnya sendiri.

 

Yeriko tersenyum kecil sambil melirik perut Yuna. “Sekarang, kamu jarang ngajak aku cerita, karena udah punya teman cerita baru?” tanya Yeriko.

 

“Maksudnya?”

 

“Kamu lebih banyak ngobrol sama dia daripada sama aku,” jawab Yeriko.

 

“Kamu cemburu sama anak kamu sendiri? Lagian, kamu juga tiap malam sibuk kerja. Siang sibuk kerja, malam juga masih kerja. Nggak ada banyak waktu buat diajak cerita.”

 

“Aku nggak terlalu sibuk. Jam sepuluh udah temanin kamu tidur. Kamu aja yang nggak mau cerita banyak. Malah tidur cepet.”

 

“Bukannya kamu yang nyuruh aku tidur cepet?” tanya Yuna.

 

“Iya juga, sih. Ibu hamil kan nggak boleh begadang.”

 

Yuna tertawa kecil menatap Yeriko.

 

“Kenapa malah ketawa?”

 

“Nggak papa. Lucu aja.”

 

“Lucunya di mana?”

 

“Yah ... cemburu boleh. Tapi, nggak harus cemburu sama anak sendiri juga.”

 

“Gimana aku nggak cemburu kalau dua puluh empat jam, kamu sama dia terus.”

 

“Hahaha. Emangnya, ini bayi bisa ditaruh dulu? Kalo bisa, aku pindahin aja ke perut kamu, biar ngerasain kalo hamil gimana.”

 

“Kalo aku yang hamil, aku nggak bisa cari uang buat kamu. Katanya, mau ngemil berlian?” tanya Yeriko sambil menahan tawa.

 

“Idih, aku nggak pernah bilang begitu.”

 

Yeriko tersenyum kecil. Sepertinya, memang sudah lama ia tak memberikan hadiah kecil untuk istrinya.  Ia terpikir untuk memberikan hadiah saat Yuna ulang tahun. “Yun, kita mampir ke pondok Yeyui sebentar. Mau?”

 

“Mau banget!” seru Yuna.

 

Yeriko tersenyum kecil. Ia segera melajukan mobilnya ke taman kota, tempat Yeriko bekerja sama dengan pemerintah kota untuk mengabadikan kisah cintanya bersama Yuna, wanita yang paling ia sayang seumur hidupnya.

 

Sesampainya di sana, Yuna tersenyum bahagia melihat pemandangan taman yang indah. Ia dan Yeriko masuk ke dalam pondok Yeyui dan berbincang banyak hal. Yuna tak ingin menyia-nyiakan waktu saat ini untuk bercengkerama dengan suaminya sendiri sebelum mereka kembali ke rumah.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat nulisnya ya...

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas