Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 409 : Bercinta dalam Bayangmu

 


“Kak Andre, aku beneran nggak sengaja nabrak Kak Jheni dan Kak Yuna. Kak Andre percaya sama aku ‘kan?” Di tempat lain, Nirma dan Andre duduk bersama di dalam kamar hotel.

 

Andre tak menyahut. Ia serius membersihkan luka yang ada di tangan dan kaki Nirma.

 

Nirma terus tersenyum sambil menatap wajah Andre yang ada di hadapannya. Ia sangat bahagia mendapatkan perhatian dari Andre. Ia rela merasakan sakit seperti ini setiap hari asalkan bisa mendapat perhatian dari pria itu.

 

“Aku pasti bisa bikin Kak Andre jatuh cinta sama aku dalam waktu tiga bulan. Dia udah mulai perhatian sama aku. Yes! Aku bisa secepatnya menikah sama Kak Andre,” batin Nirma. Ia terus tersenyum sambil menatap dirinya sendiri mengenakan gaun pernikahan dan bersanding dengan Andre.

 

Andre membalut luka yang ada di tangan dan kaki Nirma menggunakan plaster karena luka yang diderita Nirma tak terlalu parah. Hanya tergores oleh pecahan gelas yang berserakan di lantai. Begitu selesai, ia langsung bangkit dari hadapan gadis itu. “Lain kali, kamu hati-hati!”

 

Nirma menganggukkan kepala sambil tersenyum. Pandangannya tak beralih dari wajah Andre sedikit pun.

 

“Maaf, Kak. Aku sudah mengacaukan pesta ulang tahun Kak Andre,” tutur Nirma.

 

“Nggak masalah. Pestanya juga udah selesai.” Andre langsung keluar untuk memanggil pelayan.

 

“Mbak, tolong bantu Nirma untuk mandi!” perintah Andre sambil melangkah keluar dari kamar tersebut dan masuk ke kamar yang ada di seberangnya.

 

Andre menatap tumpukan hadiah yang sudah ada di atas tempat tidur dan di lantai kamarnya. Matanya langsung tertuju pada hadiah yang diberikan dari Yuna dan Yeriko. Ia tersenyum sambil menyambar paper bag dari Yuna dan langsung membukanya.

 

“Yuna ... Yuna ...” ucapnya sambil memegang My Montblanc Nightflight Wallet 9cc yang ada di tangannya.

 

“Seleranya memang berkelas,” ucap Andre sambil tersenyum. Ia membaca kartu ucapan ulang tahun yang ada di sana dan menyelipkan kartu ucapan tersebut ke dalam dompet pemberian Yuna.

 

Andre merogoh dompet di saku jasnya. Ia terus tersenyum bahagia sambil memindahkan semua kartu yang ada di dompet lamanya ke dompet baru pemberian Yuna.

 

“Muuach ...!” Andre langsung mencium dompet tersebut dan menyimpan ke dalam sakunya. Di tangannya, masih ada Leather Bifold Zip Wallet miliknya. “Diapain ini dompet lama?” batin Andre.

 

Andre tersenyum kecil sambil melirik tempat sampah yang ada di kamarnya. Ia langsung melemparkan dompet seharga satu jutaan itu ke dalam tempat sampah tersebut. “Sorry ...! Dompet pemberian Yuna, jauh lebih berharga buat aku,” ucapnya pada dompet yang sudah ada di dalam tempat sampah.

 

Tangan Andre kembali meraih kotak kecil pemberian Yeriko. “Penasaran sama hadiah yang dikasih Yeriko,” ucapnya sambil membuka kotak tersebut.

 

Andre langsung mengerutkan dahi saat melihat kunci mobil Porsche yang sudah tak asing lagi di matanya. “Gila! Dia balikin mobilku!” seru Andre. “Aku pikir, dia udah jual mobil ini. Yes!” ucapnya sambil menggenggam kunci mobil tersebut.

 

“Eh, aku baru aja pesen Ferrari. Terus, Porsche aku balik ke tanganku lagi. Punya dua mobil buat apa? Aargh ...!” serunya kesal.

 

Andre langsung merogoh ponsel dan menelepon asistennya.

 

“Halo ... Pak! Ada yang bisa saya bantu?” tanya asisten Andre begitu panggilan telepon dari Andre tersambung.

 

“Ferrari yang aku pesan, udah dibayar atau belum?” tanya Andre.

 

“Belum, Pak. Mungkin, dua hari lagi baru saya bayarkan. Masih nunggu ...”

 

“Bisa dibatalkan?” sela Andre.

 

“Mau dibatalkan pembeliannya?”

 

“Kalo bisa.”

 

“DP sudah dibayar, Pak. Kalau mau dibatalkan sepihak, uang DP nggak kembali.”

 

“Kamu DP berapa?” tanya Andre.

 

“Dua ratus juta, Pak.”

 

Andre menghela napas lega. “Untung aja cuma di DP dua ratus juta.”

 

“Gimana, Pak? Mau dibatalin atau dilanjut?”

 

“Batalin aja!” perintah Andre.

 

“Siap, Pak!”

 

Andre langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia merebahkan dirinya ke atas kasur. “Yuna ... pasti kamu yang nyuruh suami kamu buat balikin mobil aku ya? Hmm ... kamu memang perempuan yang berperasaan. Nggak kayak suami kamu yang kejam itu,” tuturnya sambil tersenyum menatap bayangan wajah Yuna yang tergambar di langit-langit kamarnya.

 

Andre kembali menatap beberapa kado yang masih ada di atas kasurnya. Ia tak punya keinginan untuk membuka kado yang lainnya lagi.

 

Tok ... Tok ... Tok ...!

 

Andre menoleh ke arah pintu, ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu.

 

“Ada apa?” tanya Andre sambil menatap pelayan yang sudah berdiri di depan pintu saat ia membuka pintu tersebut.

 

“Nyonya Andre yang di kamar depan, minta Pak Andre ke kamarnya.”

 

“Nyonya?” Andre mengerutkan dahinya.

 

“Iya, Pak.”

 

Andre memutar bola matanya. “Sejak kapan dia berikrar jadi Nyonya Andre?” celetuknya sambil keluar dari kamar.

 

Pelayan tersebut hanya tersenyum dan berlalu pergi meninggalkan Andre.

 

Andre melangkah masuk menuju kamar Nirma. Ia celingukan karena ia tidak menemukan Nirma ada di dalam sana.

 

Lampu kamar tiba-tiba meredup, hanya menyisakan sedikit cahaya dan layar televisi LED 55 Inch yang mengeluarkan visual gambar dan suara ucapan ulang tahun yang begitu hangat dan romantis.

 

“Selamat ulang tahun ...!” seru Nirma yang tiba-tiba muncul di belakang Andre. “Ini hadiah yang aku buat khusus buat Kak Andre.”

 

Andre tersenyum kecil. Ia mengikuti Nirma untuk duduk di sofa dan menonton film yang sengaja disiapkan oleh Nirma.

 

Nirma tersenyum sambil menuangkan wine ke dalam gelas dan memberikannya pada Andre.

 

Andre terus menatap gambar animasi yang berputar di layar televisi sambil menenggak wine yang ada di tangannya.  Ia tersenyum bahagia saat layar televisi yang ada di depannya mengeluarkan gambar-gambar Yuna yang sedang tertawa bahagia.

 

“Selamat ulang tahun  ...!” seru Yuna sambil mengeluarkan gelembung-gelembung cinta dari dadanya.

 

“Yuna ...?” batin Andre sambil mengerjapkan matanya. Ia memijat keningnya yang berdenyut. Semakin memejamkan mata, bayangan Yuna terus berputar memenuhi kepalanya.

 

Nirma tersenyum sambil menatap Andre yang sudah berada di bawah pengaruh alkohol. Ia langsung menyentuh bahu Andre. “Selamat ulang tahun ...! Aku sengaja bikin ini semua sebagai hadiah ulang tahun. Malam ini, aku milikmu ...”

 

Andre menoleh ke arah Nirma sambil tersenyum. Ia mengerjapkan mata beberapa kali karena wanita seksi yang ada di depannya sangat mirip dengan Yuna. “Kamu di sini?” tanya Andre sambil menyentuh kedua pundak Nirma.

 

Nirma menganggukkan kepala.

 

Andre langsung memeluk erat tubuh Nirma. “Aku nggak nyangka kalau kamu ke sini buat aku. Aku sayang sama kamu. Jangan pergi!” pinta Andre berbisik.

 

“Aku nggak akan pergi,” jawab Nirma lirih.

 

Andre melepas pelukannya. Ia menangkup wajah Nirma dan menghisap kuat bibir gadis itu tanpa permisi.

 

Nirma tak bisa menolak semua yang dilakukan Andre dengan tiba-tiba. Ia terus menikmati ritme gerakan bibir Andre yang bermain di bibirnya. Tubuhnya langsung menegang saat bibir Andre beralih mengendus telinga dan lehernya.

 

Kedua tangan Andre, terus bergerak masuk ke dalam baju Nirma, seirama dengan gerakan mulutnya yang tak henti mengendus tubuh wangi gadis yang ada di hadapannya. Pengaruh alkohol dan aroma therapy dalam ruangan tersebut membuatnya sangat bergairah. Terlebih, saat bibir mungil Nirma mengeluarkan desahan setiap kali Andre menghisap dadanya.

 

 “Aku akan kasih semuanya ...” bisik Nirma di telinga Andre.

 

Andre tersenyum. Gerakannya semakin liar menguasai tubuh gadis itu. Ia sangat bahagia karena bisa menikmati waktu penuh gairah bersama wanita yang sangat ia cintai. Ia benar-benar tak percaya kalau Yuna memberikan hadiah ulang tahun yang begitu nikmat dan tak akan terlupakan.

 

“Kak Andre ...!” panggil Nirma lirih di antara suara desahannya.

 

Andre langsung menghentikan gerakannya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali sambil menatap Nirma yang ada di bawah tubuhnya. “Nirma!?” Ia langsung bangkit dari tubuh Nirma.

 

“Kenapa, Kak?” tanya Nirma sambil menatap tubuh Andre yang sudah tak mengenakan sehelai kain di tubuhnya, sama seperti dirinya.

 

Andre buru-buru mengenakan pakaiannya. “Kenapa bisa kamu?” tanyanya kesal.

 

Nirma mengerucutkan bibirnya. “Kenapa, Kak? Apa permainanku nggak bagus?” tanyanya sambil menatap Andre yang sedang mengenakan celananya kembali.

 

“Aargh ...! Diam kamu!” sentak Andre. “Kenapa kamu bisa di sini?”

 

“Ini memang kamar aku, Kak.”

 

Andre menatap tubuh Nirma yang masih berbaring di sampingnya. Ia meraih lingerie milik gadis itu dan melemparkan ke dada Nirma. “Pakai lagi baju kamu!” perintahnya.

 

“Kakak kenapa? Kenapa tiba-tiba ...” Ucapan Nirma terhenti saat Andre menatap tajam ke arahnya.

 

“Sorry ...! Aku nggak seharusnya kayak gini. Aku sudah salah mengenali kamu. Aku pikir, kamu itu si Yu—” Andre tak melanjutkan ucapannya karena takut menyakiti Nirma.

 

Nirma menatap pilu sambil meremas pakaian yang ada di tangannya. Ia sangat kesal dengan sikap Andre yang masih saja memikirkan wanita lain. Padahal, ia rela melakukan apa pun untuk pria yang ia cintai. Termasuk memberikan seluruh tubuhnya yang paling berharga baginya.

 

((Bersambung ...))

Thanks udah baca sampai di sini, dukung terus ceritanya biar aku makin semangat bikin cerita yang bikin baper dan makin seru setiap harinya.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 


0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas