“Kak
Andre, aku beneran nggak sengaja nabrak Kak Jheni dan Kak Yuna. Kak Andre
percaya sama aku ‘kan?” Di tempat lain, Nirma dan Andre duduk bersama di dalam
kamar hotel.
Andre
tak menyahut. Ia serius membersihkan luka yang ada di tangan dan kaki Nirma.
Nirma
terus tersenyum sambil menatap wajah Andre yang ada di hadapannya. Ia sangat
bahagia mendapatkan perhatian dari Andre. Ia rela merasakan sakit seperti ini
setiap hari asalkan bisa mendapat perhatian dari pria itu.
“Aku
pasti bisa bikin Kak Andre jatuh cinta sama aku dalam waktu tiga bulan. Dia
udah mulai perhatian sama aku. Yes! Aku bisa secepatnya menikah sama Kak
Andre,” batin Nirma. Ia terus tersenyum sambil menatap dirinya sendiri
mengenakan gaun pernikahan dan bersanding dengan Andre.
Andre
membalut luka yang ada di tangan dan kaki Nirma menggunakan plaster karena luka
yang diderita Nirma tak terlalu parah. Hanya tergores oleh pecahan gelas yang
berserakan di lantai. Begitu selesai, ia langsung bangkit dari hadapan gadis
itu. “Lain kali, kamu hati-hati!”
Nirma
menganggukkan kepala sambil tersenyum. Pandangannya tak beralih dari wajah
Andre sedikit pun.
“Maaf,
Kak. Aku sudah mengacaukan pesta ulang tahun Kak Andre,” tutur Nirma.
“Nggak
masalah. Pestanya juga udah selesai.” Andre langsung keluar untuk memanggil
pelayan.
“Mbak,
tolong bantu Nirma untuk mandi!” perintah Andre sambil melangkah keluar dari
kamar tersebut dan masuk ke kamar yang ada di seberangnya.
Andre
menatap tumpukan hadiah yang sudah ada di atas tempat tidur dan di lantai
kamarnya. Matanya langsung tertuju pada hadiah yang diberikan dari Yuna dan
Yeriko. Ia tersenyum sambil menyambar paper bag dari Yuna dan langsung
membukanya.
“Yuna
... Yuna ...” ucapnya sambil memegang My Montblanc Nightflight Wallet 9cc yang
ada di tangannya.
“Seleranya
memang berkelas,” ucap Andre sambil tersenyum. Ia membaca kartu ucapan ulang
tahun yang ada di sana dan menyelipkan kartu ucapan tersebut ke dalam dompet
pemberian Yuna.
Andre
merogoh dompet di saku jasnya. Ia terus tersenyum bahagia sambil memindahkan
semua kartu yang ada di dompet lamanya ke dompet baru pemberian Yuna.
“Muuach
...!” Andre langsung mencium dompet tersebut dan menyimpan ke dalam sakunya. Di
tangannya, masih ada Leather Bifold Zip Wallet miliknya. “Diapain ini
dompet lama?” batin Andre.
Andre
tersenyum kecil sambil melirik tempat sampah yang ada di kamarnya. Ia langsung
melemparkan dompet seharga satu jutaan itu ke dalam tempat sampah tersebut.
“Sorry ...! Dompet pemberian Yuna, jauh lebih berharga buat aku,” ucapnya pada
dompet yang sudah ada di dalam tempat sampah.
Tangan
Andre kembali meraih kotak kecil pemberian Yeriko. “Penasaran sama hadiah yang
dikasih Yeriko,” ucapnya sambil membuka kotak tersebut.
Andre
langsung mengerutkan dahi saat melihat kunci mobil Porsche yang sudah tak asing
lagi di matanya. “Gila! Dia balikin mobilku!” seru Andre. “Aku pikir, dia udah
jual mobil ini. Yes!” ucapnya sambil menggenggam kunci mobil tersebut.
“Eh,
aku baru aja pesen Ferrari. Terus, Porsche aku balik ke tanganku lagi. Punya
dua mobil buat apa? Aargh ...!” serunya kesal.
Andre
langsung merogoh ponsel dan menelepon asistennya.
“Halo
... Pak! Ada yang bisa saya bantu?” tanya asisten Andre begitu panggilan
telepon dari Andre tersambung.
“Ferrari
yang aku pesan, udah dibayar atau belum?” tanya Andre.
“Belum,
Pak. Mungkin, dua hari lagi baru saya bayarkan. Masih nunggu ...”
“Bisa
dibatalkan?” sela Andre.
“Mau
dibatalkan pembeliannya?”
“Kalo
bisa.”
“DP
sudah dibayar, Pak. Kalau mau dibatalkan sepihak, uang DP nggak kembali.”
“Kamu
DP berapa?” tanya Andre.
“Dua
ratus juta, Pak.”
Andre
menghela napas lega. “Untung aja cuma di DP dua ratus juta.”
“Gimana,
Pak? Mau dibatalin atau dilanjut?”
“Batalin
aja!” perintah Andre.
“Siap,
Pak!”
Andre
langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia merebahkan dirinya ke atas kasur.
“Yuna ... pasti kamu yang nyuruh suami kamu buat balikin mobil aku ya? Hmm ...
kamu memang perempuan yang berperasaan. Nggak kayak suami kamu yang kejam itu,”
tuturnya sambil tersenyum menatap bayangan wajah Yuna yang tergambar di
langit-langit kamarnya.
Andre
kembali menatap beberapa kado yang masih ada di atas kasurnya. Ia tak punya
keinginan untuk membuka kado yang lainnya lagi.
Tok
... Tok ... Tok ...!
Andre
menoleh ke arah pintu, ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu.
“Ada
apa?” tanya Andre sambil menatap pelayan yang sudah berdiri di depan pintu saat
ia membuka pintu tersebut.
“Nyonya
Andre yang di kamar depan, minta Pak Andre ke kamarnya.”
“Nyonya?”
Andre mengerutkan dahinya.
“Iya,
Pak.”
Andre
memutar bola matanya. “Sejak kapan dia berikrar jadi Nyonya Andre?” celetuknya
sambil keluar dari kamar.
Pelayan
tersebut hanya tersenyum dan berlalu pergi meninggalkan Andre.
Andre
melangkah masuk menuju kamar Nirma. Ia celingukan karena ia tidak menemukan
Nirma ada di dalam sana.
Lampu
kamar tiba-tiba meredup, hanya menyisakan sedikit cahaya dan layar televisi LED
55 Inch yang mengeluarkan visual gambar dan suara ucapan ulang tahun yang
begitu hangat dan romantis.
“Selamat
ulang tahun ...!” seru Nirma yang tiba-tiba muncul di belakang Andre. “Ini
hadiah yang aku buat khusus buat Kak Andre.”
Andre
tersenyum kecil. Ia mengikuti Nirma untuk duduk di sofa dan menonton film yang
sengaja disiapkan oleh Nirma.
Nirma
tersenyum sambil menuangkan wine ke dalam gelas dan memberikannya pada Andre.
Andre
terus menatap gambar animasi yang berputar di layar televisi sambil menenggak
wine yang ada di tangannya. Ia tersenyum bahagia saat layar televisi yang
ada di depannya mengeluarkan gambar-gambar Yuna yang sedang tertawa bahagia.
“Selamat
ulang tahun ...!” seru Yuna sambil mengeluarkan gelembung-gelembung cinta
dari dadanya.
“Yuna
...?” batin Andre sambil mengerjapkan matanya. Ia memijat keningnya yang
berdenyut. Semakin memejamkan mata, bayangan Yuna terus berputar memenuhi
kepalanya.
Nirma
tersenyum sambil menatap Andre yang sudah berada di bawah pengaruh alkohol. Ia
langsung menyentuh bahu Andre. “Selamat ulang tahun ...! Aku sengaja bikin ini
semua sebagai hadiah ulang tahun. Malam ini, aku milikmu ...”
Andre
menoleh ke arah Nirma sambil tersenyum. Ia mengerjapkan mata beberapa kali
karena wanita seksi yang ada di depannya sangat mirip dengan Yuna. “Kamu di
sini?” tanya Andre sambil menyentuh kedua pundak Nirma.
Nirma
menganggukkan kepala.
Andre
langsung memeluk erat tubuh Nirma. “Aku nggak nyangka kalau kamu ke sini buat
aku. Aku sayang sama kamu. Jangan pergi!” pinta Andre berbisik.
“Aku
nggak akan pergi,” jawab Nirma lirih.
Andre
melepas pelukannya. Ia menangkup wajah Nirma dan menghisap kuat bibir gadis itu
tanpa permisi.
Nirma
tak bisa menolak semua yang dilakukan Andre dengan tiba-tiba. Ia terus
menikmati ritme gerakan bibir Andre yang bermain di bibirnya. Tubuhnya langsung
menegang saat bibir Andre beralih mengendus telinga dan lehernya.
Kedua
tangan Andre, terus bergerak masuk ke dalam baju Nirma, seirama dengan gerakan
mulutnya yang tak henti mengendus tubuh wangi gadis yang ada di hadapannya.
Pengaruh alkohol dan aroma therapy dalam ruangan tersebut membuatnya sangat
bergairah. Terlebih, saat bibir mungil Nirma mengeluarkan desahan setiap kali
Andre menghisap dadanya.
“Aku
akan kasih semuanya ...” bisik Nirma di telinga Andre.
Andre
tersenyum. Gerakannya semakin liar menguasai tubuh gadis itu. Ia sangat bahagia
karena bisa menikmati waktu penuh gairah bersama wanita yang sangat ia cintai.
Ia benar-benar tak percaya kalau Yuna memberikan hadiah ulang tahun yang begitu
nikmat dan tak akan terlupakan.
“Kak
Andre ...!” panggil Nirma lirih di antara suara desahannya.
Andre
langsung menghentikan gerakannya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali sambil
menatap Nirma yang ada di bawah tubuhnya. “Nirma!?” Ia langsung bangkit dari
tubuh Nirma.
“Kenapa,
Kak?” tanya Nirma sambil menatap tubuh Andre yang sudah tak mengenakan sehelai
kain di tubuhnya, sama seperti dirinya.
Andre
buru-buru mengenakan pakaiannya. “Kenapa bisa kamu?” tanyanya kesal.
Nirma
mengerucutkan bibirnya. “Kenapa, Kak? Apa permainanku nggak bagus?” tanyanya
sambil menatap Andre yang sedang mengenakan celananya kembali.
“Aargh
...! Diam kamu!” sentak Andre. “Kenapa kamu bisa di sini?”
“Ini
memang kamar aku, Kak.”
Andre
menatap tubuh Nirma yang masih berbaring di sampingnya. Ia meraih lingerie
milik gadis itu dan melemparkan ke dada Nirma. “Pakai lagi baju kamu!”
perintahnya.
“Kakak
kenapa? Kenapa tiba-tiba ...” Ucapan Nirma terhenti saat Andre menatap tajam ke
arahnya.
“Sorry
...! Aku nggak seharusnya kayak gini. Aku sudah salah mengenali kamu. Aku
pikir, kamu itu si Yu—” Andre tak melanjutkan ucapannya karena takut menyakiti
Nirma.
Nirma
menatap pilu sambil meremas pakaian yang ada di tangannya. Ia sangat kesal
dengan sikap Andre yang masih saja memikirkan wanita lain. Padahal, ia rela
melakukan apa pun untuk pria yang ia cintai. Termasuk memberikan seluruh
tubuhnya yang paling berharga baginya.
((Bersambung ...))
Thanks udah baca sampai di sini, dukung terus
ceritanya biar aku makin semangat bikin cerita yang bikin baper dan makin seru
setiap harinya.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment