Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 407 : Diam-Diam Benci

 


Andre terus menatap Yuna yang duduk di sebelah Jheni. Mata dan bibirnya ikut tersenyum setiap kali melihat tawa ceria yang tergambar dari wajah Yuna.

 

Sementara, Nirma semakin menatap Jheni penuh kebencian. Ia mengira kalau semua perhatian Andre tertuju pada Jheni seorang. “Kak Andre ...!” panggil Nirma sambil menyenggol lengan Andre.

 

“Eh!? Kenapa?” Pertanyaan Nirma, membuyarkan lamunan Andre.

 

“Nggak denger kalau MC nyuruh Kak Andre naik ke panggung untuk potong kue?” tanya Nirma sambil menatap Andre.

 

“Oh, sorry! Denger, kok.” Andre langsung melangkahkan kakinya perlahan menuju panggung.

 

Nirma mengikuti langkah Andre dari belakang. Matanya terus tertuju pada Jheni yang duduk di sebelah Yuna. Ia mendampingi Andre untuk melakukan pemotongan kue ulang tahun.

 

“Biasanya, potongan kue yang pertama diberikan untuk someone special. Kira-kira, siapa orang yang beruntung malam ini ya?” Suara MC mulai memandu acara ulang tahun Andre.

 

Andre tersenyum kecil. Matanya, masih fokus pada Yuna yang duduk tepat berseberangan dengannya. Ia ingin memberikan potongan kue pertamanya untuk Yuna. Hanya saja, pria yang selalu menggandeng tangan Yuna, membuatnya menyerah untuk melakukannya.

 

Nirma membantu Andre untuk melakukan pemotongan kue dan Andre memberikan potongan kue pertamanya pada Nirma begitu saja.

 

Tepuk tangan meriah, terdengar dari semua tamu undangan.

 

“Ndre, kenalin dong sama cewek yang ada di sebelah kamu. Dia siapa?” seru salah seorang teman Andre.

 

Andre tersenyum kecil. “Perkenalkan, ini Nirmala Bowie. Mmh, dia adalah ... tunangan saya,” tuturnya sambil terus menatap Yuna. Ia tersenyum kecut karena Yuna tidak begitu merespon apa yang telah terjadi dengannya. Raut wajahnya tetap tak berubah sejak Yuna masuk ke dalam acara ulang tahun Andre.

 

“Selamat, Ndre ...! Kami tunggu undangan pesta pernikahannya!” seru tamu yang lain.

 

Andre hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Nirma. “Ini udah kelar atau belum?” bisiknya.

 

“Tunggu aba-aba dari MC ya!” jawab Nirma sambil tersenyum manis.

 

Andre menarik napas dalam-dalam. Ia menunggu panduan dari MC dengan sabar dan mengikutinya begitu saja.

 

Begitu selesai, Andre langsung mengajak Nirma untuk menghampiri Jheni dan Yuna yang sedang berduaan.

 

“Hei, pria-pria kalian ke mana?” sapa Andre.

 

“Lagi ke toilet,” jawab Jheni.

 

“Oh.” Andre mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia langsung menoleh ke arah Yuna yang sedang menikmati makanan yang ada di atas meja. “Gimana, Yun? Makanannya enak?”

 

Yuna langsung menatap Andre. Ia hanya bisa menganggukkan kepala karena mulutnya penuh dengan makanan.

 

Andre tertawa kecil. Setiap kali melihat Yuna makan, ia selalu merasa bahagia. Sejak kecil, Yuna memang senang dengan makanan enak. “Semua makanan yang ada di sini, aku pesan sesuai dengan selera kamu.”

 

“Hah!? Serius? Kamu baik banget!” puji Yuna.

 

Andre terus tersenyum sambil menatap Yuna.

 

“Jadi, cewek  yang disukai sama Kak Andre itu Kak Yuna? Bukannya Kak Jheni?” batin Nirma yang duduk di sebelah Andre.

 

“Ndre, kamu emang paling tahu selera Yuna,” tutur Jheni sambil tersenyum. Matanya terus melirik ke arah Nirma yang menatap Yuna penuh kebencian.

 

“Iya, dong. Udah dari kecil kita sama-sama. Aku udah hafal banget makanan kesukaan dia. Dari dulu, nggak pernah berubah,” sahut Andre.

 

Jheni tersenyum sambil menatap Andre. “Kamu pria yang pengertian banget. Wanita yang jadi pasangan kamu, pasti bahagia banget,” tuturnya sambil menatap Nirma.

 

Nirma memaksa bibirnya untuk tersenyum ke arah Jheni dan Yuna. “Kak Andre, kita samperin yang lain dulu yuk!” bisik Nirma.

 

Andre mengangguk. “Yun, aku samperin yang lain dulu ya!” pamit Andre.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Yun, kenapa si Nirma ngelihat kita kayak aneh gitu ya?”

 

“Aneh gimana?”

 

“Kayak cemburu gitu.”

 

“Cemburu kan hal wajar. Bukan aneh.”

 

“Hmm, iya juga sih. Dia cocok juga sama Andre. Perbedaan usia mereka berapa ya? Kelihatannya beda jauh.”

 

“Beda jauh gimana? Aku sama Yeriko juga selisih lima tahun.”

 

“Mmh, kayaknya si Nirma sama Andre, selisih umurnya lebih dari delapan tahun. Sepuluh tahun, mungkin.”

 

“Emang kenapa ngomongin umur mereka?”

 

“Aku punya ide buat komik aku selanjutnya. Lucu kali ya kalau direktur tampan dan kaya raya yang usianya menginjak kepala tiga, terus jatuh cinta sama anak remaja ala-ala SMA itu. Kebayang serunya kalau cewek manja dan suka membangkang, ketemu sama cowok tua ganteng yang pendiam dan dewasa seperti Andre ...” Jheni terus bercerita sambil menopang dagu dengan kedua telapak tangannya.

 

“Woi ...! Sadar, Jhen! Nge-halu terus!” seru Yuna sambil menoyor kening Jheni menggunakan ujung sendok yang ada di tangannya.

 

“Idih, kotor, Yun!” sahut Jheni sambil mengusap dahinya yang terkena sendok Yuna. “Biar aja aku nge-halu. Emang kerjaanku begitu.”

 

“Hahaha. Kenapa nggak cari pasangan yang nulis buku juga? Biar seru tuh, kalian begadang nulis komik bareng-bareng.”

 

“Ogah! Nggak seru,” sahut Jheni.

 

Yuna terkekeh. “Jhen, ini kuenya enak banget. Ambil lagi, yuk!” ajak Yuna sambil bangkit dari kursi.

 

Jheni langsung mengikuti langkah kaki Yuna menuju meja prasmanan yang sudah disediakan.

 

Yuna melihat-lihat beberapa kue yang ada di sana. Tak ada satu pun kue yang tidak ia sukai. Semuanya, kue yang sangat ia suka.

 

“Yun, nggak usah makan banyak-banyak! Tambah kayak gentong tuh badan,” tutur Jheni.

 

“Biar aja. Mumpung gratis!”

 

“Astaga ...! Duitmu udah banyak, masih aja demen gratisan!” dengus Jheni.

 

Yuna tertawa kecil menanggapi ucapan Jheni.

 

Dari kejauhan, mata Nirma terus mengawasi gerak-gerik Yuna dan Jheni. Ia langsung melangkahkan kakinya begitu melihat Yuna sedang memilih-milih makanan yang ada di atas meja.

 

Ia mengambil beberapa kue dan meletakkannya di atas piring. Kemudian, ia melangkah mendekati Yuna. Ia sengaja menautkan ujung kakinya ke bawah hak sepatu dan membuat tubuhnya sempoyongan di hadapan Yuna.

 

“Yuna ... awas!” seru Jheni sambil membelalakkan matanya dan langsung memeluk tubuh Yuna. Menarik Yuna agar tidak tertabrak oleh Nirma dan terjatuh. Ia bisa merasakan tubuhnya tersiram wine yang dipegang dipegang Nirma.

 

BUG!

 

PRANG ...!

 

Nirma tersungkur ke lantai. Piring dan gelas yang ada di tangannya pecah ke lantai, melukai tangan dan kakinya. “Sialan! Kenapa malah aku yang luka?” batin Nirma.

 

Yuna membuka mulutnya lebar-lebar melihat Nirma yang sudah tersungkur ke lantai dan terkena pecahan piring.

 

“Heh, kamu sengaja mau nabrak Yuna ya!?” sentak Jheni.

 

Nirma mengerutkan hidungnya. “Jelas-jelas aku yang jatuh dan luka, kenapa aku yang disalahin?” sahut Nirma.

 

“Kamu kira, aku nggak lihat!” seru Jheni. “Kalau sampai nyentuh Yuna, aku nggak akan maafin kamu!” ancam Jheni.

 

Semua orang langsung mendekat, memerhatikan pertengkaran Jheni dan Nirma.

 

“Ada apa ini?” tanya Yeriko. Ia langsung menghampiri Yuna yang berdiri di belakang Jheni. “Kamu nggak papa ‘kan?” tanyanya sambil memeriksa tubuh Yuna.

 

“Aku nggak papa,” jawab Yuna sambil menatap punggung Jheni yang basah.

 

Chandra langsung melepas jasnya dan menutup punggung Jheni. “Kamu nggak papa?” tanyanya.

 

“Nggak papa,” jawab Jheni sambil menatap sengit ke arah Nirma.

 

“Ini ada apa?” tanya Chandra sambil menatap Nirma yang tersungkur di lantai.

 

Nirma langsung terisak saat semua mata memandang ke arahnya. Ia merasa kesakitan dan malu karena semua orang menatap ke arahnya.

 

“Kamu kenapa?” Andre langsung menerobos kerumunan orang dan menghampiri Nirma yang terisak.

 

“Cewek kamu ini, sengaja mau nyelakain Yuna!” sahut Jheni kesal.

 

Nirma menggelengkan kepala sambil terisak. “Aku nggak sengaja jatuh, Kak,” ucapnya sambil menatap pilu ke arah Andre.

 

Andre memeriksa tangan dan kaki Nirma yang terluka. “Pelayan! Tolong beresin ini!” teriak Andre. Ia kesal karena tak ada satu pun pelayan yang membersihkan pecahan piring dan gelas yang berserakan di lantai.

 

Andre menoleh ke arah Yuna sejenak. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Ia juga tidak ingin ada orang lain yang melukai Yuna. Hanya saja, ia juga tak bisa menyalahkan Nirma begitu saja tanpa bukti yang jelas.

 

“Kak Andre, aku beneran nggak sengaja,” tutur Nirma lirih.

 

“Nggak papa. Bukan sepenuhnya salah kamu, kok.” Andre langsung mengangkat tubuh Nirma, menggendongnya pergi menuju kamar yang sudah ia sewa di hotel tersebut. Meski ia tidak mencintai Nirma, ia juga tak memiliki alasan untuk membenci gadis itu. Selama di kota ini, Nirma menjadi tanggung jawabnya. Ia tidak ingin bertengkar lagi dengan orang tuanya hanya karena tidak bisa menjaga Nirma dengan baik.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat nulisnya ya...

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas