Andre
terus menatap Yuna yang duduk di sebelah Jheni. Mata dan bibirnya ikut
tersenyum setiap kali melihat tawa ceria yang tergambar dari wajah Yuna.
Sementara,
Nirma semakin menatap Jheni penuh kebencian. Ia mengira kalau semua perhatian
Andre tertuju pada Jheni seorang. “Kak Andre ...!” panggil Nirma sambil
menyenggol lengan Andre.
“Eh!?
Kenapa?” Pertanyaan Nirma, membuyarkan lamunan Andre.
“Nggak
denger kalau MC nyuruh Kak Andre naik ke panggung untuk potong kue?” tanya
Nirma sambil menatap Andre.
“Oh,
sorry! Denger, kok.” Andre langsung melangkahkan kakinya perlahan menuju
panggung.
Nirma
mengikuti langkah Andre dari belakang. Matanya terus tertuju pada Jheni yang
duduk di sebelah Yuna. Ia mendampingi Andre untuk melakukan pemotongan kue
ulang tahun.
“Biasanya,
potongan kue yang pertama diberikan untuk someone special. Kira-kira, siapa
orang yang beruntung malam ini ya?” Suara MC mulai memandu acara ulang tahun
Andre.
Andre
tersenyum kecil. Matanya, masih fokus pada Yuna yang duduk tepat berseberangan
dengannya. Ia ingin memberikan potongan kue pertamanya untuk Yuna. Hanya saja,
pria yang selalu menggandeng tangan Yuna, membuatnya menyerah untuk
melakukannya.
Nirma
membantu Andre untuk melakukan pemotongan kue dan Andre memberikan potongan kue
pertamanya pada Nirma begitu saja.
Tepuk
tangan meriah, terdengar dari semua tamu undangan.
“Ndre,
kenalin dong sama cewek yang ada di sebelah kamu. Dia siapa?” seru salah
seorang teman Andre.
Andre
tersenyum kecil. “Perkenalkan, ini Nirmala Bowie. Mmh, dia adalah ... tunangan
saya,” tuturnya sambil terus menatap Yuna. Ia tersenyum kecut karena Yuna tidak
begitu merespon apa yang telah terjadi dengannya. Raut wajahnya tetap tak
berubah sejak Yuna masuk ke dalam acara ulang tahun Andre.
“Selamat,
Ndre ...! Kami tunggu undangan pesta pernikahannya!” seru tamu yang lain.
Andre
hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga
Nirma. “Ini udah kelar atau belum?” bisiknya.
“Tunggu
aba-aba dari MC ya!” jawab Nirma sambil tersenyum manis.
Andre
menarik napas dalam-dalam. Ia menunggu panduan dari MC dengan sabar dan
mengikutinya begitu saja.
Begitu
selesai, Andre langsung mengajak Nirma untuk menghampiri Jheni dan Yuna yang
sedang berduaan.
“Hei,
pria-pria kalian ke mana?” sapa Andre.
“Lagi
ke toilet,” jawab Jheni.
“Oh.”
Andre mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia langsung menoleh ke arah Yuna yang
sedang menikmati makanan yang ada di atas meja. “Gimana, Yun? Makanannya enak?”
Yuna
langsung menatap Andre. Ia hanya bisa menganggukkan kepala karena mulutnya
penuh dengan makanan.
Andre
tertawa kecil. Setiap kali melihat Yuna makan, ia selalu merasa bahagia. Sejak
kecil, Yuna memang senang dengan makanan enak. “Semua makanan yang ada di sini,
aku pesan sesuai dengan selera kamu.”
“Hah!?
Serius? Kamu baik banget!” puji Yuna.
Andre
terus tersenyum sambil menatap Yuna.
“Jadi,
cewek yang disukai sama Kak Andre itu Kak Yuna? Bukannya Kak Jheni?”
batin Nirma yang duduk di sebelah Andre.
“Ndre,
kamu emang paling tahu selera Yuna,” tutur Jheni sambil tersenyum. Matanya
terus melirik ke arah Nirma yang menatap Yuna penuh kebencian.
“Iya,
dong. Udah dari kecil kita sama-sama. Aku udah hafal banget makanan kesukaan
dia. Dari dulu, nggak pernah berubah,” sahut Andre.
Jheni
tersenyum sambil menatap Andre. “Kamu pria yang pengertian banget. Wanita yang
jadi pasangan kamu, pasti bahagia banget,” tuturnya sambil menatap Nirma.
Nirma
memaksa bibirnya untuk tersenyum ke arah Jheni dan Yuna. “Kak Andre, kita
samperin yang lain dulu yuk!” bisik Nirma.
Andre
mengangguk. “Yun, aku samperin yang lain dulu ya!” pamit Andre.
Yuna
menganggukkan kepala.
“Yun,
kenapa si Nirma ngelihat kita kayak aneh gitu ya?”
“Aneh
gimana?”
“Kayak
cemburu gitu.”
“Cemburu
kan hal wajar. Bukan aneh.”
“Hmm,
iya juga sih. Dia cocok juga sama Andre. Perbedaan usia mereka berapa ya?
Kelihatannya beda jauh.”
“Beda
jauh gimana? Aku sama Yeriko juga selisih lima tahun.”
“Mmh,
kayaknya si Nirma sama Andre, selisih umurnya lebih dari delapan tahun. Sepuluh
tahun, mungkin.”
“Emang
kenapa ngomongin umur mereka?”
“Aku
punya ide buat komik aku selanjutnya. Lucu kali ya kalau direktur tampan dan
kaya raya yang usianya menginjak kepala tiga, terus jatuh cinta sama anak
remaja ala-ala SMA itu. Kebayang serunya kalau cewek manja dan suka
membangkang, ketemu sama cowok tua ganteng yang pendiam dan dewasa seperti
Andre ...” Jheni terus bercerita sambil menopang dagu dengan kedua telapak
tangannya.
“Woi
...! Sadar, Jhen! Nge-halu terus!” seru Yuna sambil menoyor kening Jheni
menggunakan ujung sendok yang ada di tangannya.
“Idih,
kotor, Yun!” sahut Jheni sambil mengusap dahinya yang terkena sendok Yuna.
“Biar aja aku nge-halu. Emang kerjaanku begitu.”
“Hahaha.
Kenapa nggak cari pasangan yang nulis buku juga? Biar seru tuh, kalian begadang
nulis komik bareng-bareng.”
“Ogah!
Nggak seru,” sahut Jheni.
Yuna
terkekeh. “Jhen, ini kuenya enak banget. Ambil lagi, yuk!” ajak Yuna sambil
bangkit dari kursi.
Jheni
langsung mengikuti langkah kaki Yuna menuju meja prasmanan yang sudah
disediakan.
Yuna
melihat-lihat beberapa kue yang ada di sana. Tak ada satu pun kue yang tidak ia
sukai. Semuanya, kue yang sangat ia suka.
“Yun,
nggak usah makan banyak-banyak! Tambah kayak gentong tuh badan,” tutur Jheni.
“Biar
aja. Mumpung gratis!”
“Astaga
...! Duitmu udah banyak, masih aja demen gratisan!” dengus Jheni.
Yuna
tertawa kecil menanggapi ucapan Jheni.
Dari
kejauhan, mata Nirma terus mengawasi gerak-gerik Yuna dan Jheni. Ia langsung
melangkahkan kakinya begitu melihat Yuna sedang memilih-milih makanan yang ada
di atas meja.
Ia
mengambil beberapa kue dan meletakkannya di atas piring. Kemudian, ia melangkah
mendekati Yuna. Ia sengaja menautkan ujung kakinya ke bawah hak sepatu dan
membuat tubuhnya sempoyongan di hadapan Yuna.
“Yuna
... awas!” seru Jheni sambil membelalakkan matanya dan langsung memeluk tubuh
Yuna. Menarik Yuna agar tidak tertabrak oleh Nirma dan terjatuh. Ia bisa
merasakan tubuhnya tersiram wine yang dipegang dipegang Nirma.
BUG!
PRANG
...!
Nirma
tersungkur ke lantai. Piring dan gelas yang ada di tangannya pecah ke lantai,
melukai tangan dan kakinya. “Sialan! Kenapa malah aku yang luka?” batin Nirma.
Yuna
membuka mulutnya lebar-lebar melihat Nirma yang sudah tersungkur ke lantai dan
terkena pecahan piring.
“Heh,
kamu sengaja mau nabrak Yuna ya!?” sentak Jheni.
Nirma
mengerutkan hidungnya. “Jelas-jelas aku yang jatuh dan luka, kenapa aku yang
disalahin?” sahut Nirma.
“Kamu
kira, aku nggak lihat!” seru Jheni. “Kalau sampai nyentuh Yuna, aku nggak akan
maafin kamu!” ancam Jheni.
Semua
orang langsung mendekat, memerhatikan pertengkaran Jheni dan Nirma.
“Ada
apa ini?” tanya Yeriko. Ia langsung menghampiri Yuna yang berdiri di belakang
Jheni. “Kamu nggak papa ‘kan?” tanyanya sambil memeriksa tubuh Yuna.
“Aku
nggak papa,” jawab Yuna sambil menatap punggung Jheni yang basah.
Chandra
langsung melepas jasnya dan menutup punggung Jheni. “Kamu nggak papa?”
tanyanya.
“Nggak
papa,” jawab Jheni sambil menatap sengit ke arah Nirma.
“Ini
ada apa?” tanya Chandra sambil menatap Nirma yang tersungkur di lantai.
Nirma
langsung terisak saat semua mata memandang ke arahnya. Ia merasa kesakitan dan
malu karena semua orang menatap ke arahnya.
“Kamu
kenapa?” Andre langsung menerobos kerumunan orang dan menghampiri Nirma yang
terisak.
“Cewek
kamu ini, sengaja mau nyelakain Yuna!” sahut Jheni kesal.
Nirma
menggelengkan kepala sambil terisak. “Aku nggak sengaja jatuh, Kak,” ucapnya
sambil menatap pilu ke arah Andre.
Andre
memeriksa tangan dan kaki Nirma yang terluka. “Pelayan! Tolong beresin ini!”
teriak Andre. Ia kesal karena tak ada satu pun pelayan yang membersihkan
pecahan piring dan gelas yang berserakan di lantai.
Andre
menoleh ke arah Yuna sejenak. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Ia juga tidak
ingin ada orang lain yang melukai Yuna. Hanya saja, ia juga tak bisa
menyalahkan Nirma begitu saja tanpa bukti yang jelas.
“Kak
Andre, aku beneran nggak sengaja,” tutur Nirma lirih.
“Nggak
papa. Bukan sepenuhnya salah kamu, kok.” Andre langsung mengangkat tubuh Nirma,
menggendongnya pergi menuju kamar yang sudah ia sewa di hotel tersebut. Meski
ia tidak mencintai Nirma, ia juga tak memiliki alasan untuk membenci gadis itu.
Selama di kota ini, Nirma menjadi tanggung jawabnya. Ia tidak ingin bertengkar
lagi dengan orang tuanya hanya karena tidak bisa menjaga Nirma dengan baik.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini biar aku makin
semangat nulisnya ya...
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment