Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 393 : Salah Mengartikan

 


“Sudah berapa hari kamu sakit?” tanya Nenek Lutfi.

 

“Satu Minggu,” jawab Lutfi lirih.

 

“Sakit apa?” tanya Nenek Lutfi.

 

Semua orang terdiam. Tak ada satu pun yang berani mengatakan penyebab Lutfi masuk rumah sakit.

 

“Nenek, ini semua salahku ...” Ucapan Icha terhenti saat Lutfi tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya.

 

“Nek, aku nggak papa. Cuma luka sedikit, abis berantem sama anak geng yang ada di pinggiran kota,” jawab Lutfi berbohong.

 

“Berantem? Penyakit berantem kamu ini belum sembuh juga? Kalo sudah tahu akhirnya bakal masuk rumah sakit, nggak usah sok jagoan!” seru Nenek Lutfi.

 

Lutfi meringis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

 

Nenek Lutfi mengedarkan pandangannya. Ia menatap Jheni dan Yuna yang masih asing di matanya.

 

“Nenek, apa kabar?” sapa Yeriko yang menyadari tatapan Nenek Lutfi.

 

“Baik,” jawab Nenek Lutfi sambil menatap tangan Yuna yang melingkar di lengan Yeriko. “Dia siapa? Pacar kamu?”

 

“Oh, kenalin ... ini istri aku, Nek.”

 

Yuna langsung tersenyum. Ia mengulurkan tangannya ke arah Nenek Lutfi. “Salam kenal, Nek. Namaku Yuna.”

 

Nenek Lutfi tersenyum sambil menyambut uluran tangan Lutfi. “Cantik banget! Kamu pintar cari istri,” pujinya sambil menatap Yeriko.

 

Yeriko hanya tersenyum menanggapi pujian dari Nenek Lutfi.

 

“Panggil saja Nenek Lutfi!” pinta Nenek Lutfi tanpa memberitahukan nama aslinya.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Kamu nikah, nggak undang Nenek, hah!?” tanya Nenek Lutfi sambil menatap Yeriko.

 

“Maaf, Nek! Jakarta jauh, kami nggak mau bikin Nenek kecapekan.”

 

“Kenapa nggak bikin pesta pernikahan di Jakarta aja?” tanya Nenek Lutfi lagi.

 

“Ada banyak hal yang kami pertimbangkan.”

 

“Oh, oke-oke. Yang ini ... siapa?” tanya Nenek Lutfi sambil menatap Jheni.

 

“Saya Jheni, Nek. Sahabatnya Yuna,” jawab Jheni sambil mengulurkan tangan, memperkenalkan dirinya di hadapan Nenek Lutfi.

 

“Cantik juga. Jadi cucu saya aja!” pinta Nenek Lutfi.

 

Lutfi dan Chandra saling pandang, kemudian menoleh ke arah Nenek Lutfi bersamaan. “Nggak bisa!” sahut mereka bersamaan.

 

“Kenapa nggak bisa? Yeriko sudah nikah. Nenek mau, kamu juga menikah secepatnya!” pinta Nenek Lutfi. “Kamu nggak bisa menikahi adik kamu sendiri. Sama dia juga boleh.”

 

“Nek, Jheni ini pacarnya Chandra,” sahut Lutfi.

 

“Oh ya? Pacar kamu?” tanya Nenek Lutfi sambil menatap Chandra.

 

Chandra menganggukkan kepala sambil tersenyum.

 

“Oh ... maaf, Nenek nggak tahu kalau dia pacar kamu. Dulu ... tunangan kamu bukan ini.”

 

Chandra tersenyum kecut. “Aku sudah putus sama Amara. Dia sudah menikah sama pria lain.”

 

“Nggak papa. Nggak usah sedih! Malah dapet yang lebih cantik lagi,” tutur Nenek Lutfi.

 

Chandra tertawa kecil sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

 

Jheni ikut tersenyum. Hatinya berbunga-bunga mendapat pujian dari Nenek Lutfi. “Aku beneran cantik?” tanyanya sambil mengerdip-ngerdipkan mata.

 

Chandra menahan tawa sambil menutup wajah Jheni dengan telapak tangannya.

 

“Iih ... susah banget sih cuma ngomong cantik doang?” dengus Jheni sambil melepaskan tangan Chandra dari wajahnya.

 

“Iya, cantik.” Chandra tersenyum sambil meletakkan lengannya ke pundak Jheni. Ia berdiri di belakang sofa sambil menyandarkan dadanya.

 

Lutfi mengambil dokumen dari laci nakas dan memberikannya pada neneknya. “Nek, ini hasil tes DNA aku dan Icha. Kami nggak ada hubungan darah sama sekali. Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu. Kenapa harus mempengaruhi hubungan kami?” tanya Lutfi.

 

 “Nek, hari ini mama dirawat di rumah sakit karena percobaan bunuh diri. Aku nggak bisa menolong dia karena golongan darah kami berbeda. Aku bukan anak kandung Pak Surya, bukan juga anak kandung Ibu Ratna. Aku nggak tahu ... siapa keluargaku sekarang,” tutur Icha.

 

Nenek Lutfi menghela napas sejenak. Ia menoleh ke arah Icha yang duduk di hadapannya.

 

“Oke. Nenek akan menceritakan semuanya ...”

 

 

 

Dua puluh delapan tahun yang lalu ...

 

 

 

“Surya, di rumah kamu ada berapa pelayan?” tanya Nada saat Surya menjemputnya dari lokasi syuting.

 

“Banyak, kenapa?” tanya Surya balik.

 

“Aku mau beliin hadiah buat pelayan-pelayan di rumahku. Sekalian aja, sama buat pelayan di rumah kamu.”

 

“Hadiah!?” Surya mengernyitkan dahinya. “Dalam rangka apa?”

 

“Dalam rangka kebaikan hatiku, hehehe. Ini udah dekat hari raya, aku mau belikan beberapa pakaian untuk mereka.”

 

“Oh ya?” Surya mengangguk-anggukkan kepala. “Ide bagus.”

 

Nada tersenyum sambil menatap Surya. “Kalau gitu, sekarang antar aku belanja!”

 

“Sekarang?”

 

Nada menganggukkan kepala.

 

Surya tersenyum. Ia bergegas mengantarkan kekasihnya pergi berbelanja. Mereka sengaja membelikan hadiah untuk pelayan-pelayan di rumah mereka.

 

“Kamu tahu ukuran mereka semua?” tanya Surya.

 

Nada menganggukkan kepala. “Aku udah sering belanja. Lihat badan mereka aja, aku udah bisa perkirakan ukurannya.

 

Surya mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelah berbelanja, Surya langsung mengantar Nada pulang ke rumahnya.

 

“Sur, yang ini khusus buat Ratna ya!”

 

“Kenapa dikhususkan?”

 

“Karena si Ratna pelayan paling muda di rumah kamu. Seleranya pasti berbeda dengan yang lain.”

 

“Oh gitu? Kamu sampai perhatikan sedetail ini.”

 

Nada mengangguk sambil tersenyum. “Aku pulang dulu!” pamitnya sambil mengecup pipi Surya dan bergegas keluar dari mobil.

 

Surya tersenyum sambil menatap Nada yang mulai melangkah masuk ke rumahnya. Ia bergegas kembali ke rumahnya sendiri.

 

“Bibi ...!” seru Surya sambil menenteng beberapa paper bag di tangannya.

 

“Biar saya bantu, Mas!” Salah seorang pria yang juga supir keluarga langsung menghampiri Surya.

 

“Mana Bibi?” tanya Surya sambil duduk di sofa.

 

Orang yang dipanggil Surya langsung muncul. “Ada apa, Mas?” tanya pembantu tersebut.

 

“Panggil semua pekerja yang ada di rumah ini. Aku punya hadiah buat kalian!”

 

Wanita setengah baya itu mengangguk dan mengumpulkan para pelayan yang bekerja di rumah tersebut.

 

Surya tersenyum sambil menatap tiga wanita dan dua pria yang bekerja di rumahnya.

 

“Ini buat kalian.” Surya memeriksa paper bag tersebut satu per satu dan memberikannya pada pekerja di rumahnya.

 

“Terima kasih banyak, Mas!” Mereka mengucapkan terima kasih bergantian.

 

“Ini khusus buat kamu,” tutur Surya sambil menyodorkan paper bag ke arah Ratna.

 

“Terima kasih, Mas ...!” ucap Ratna sambil tersenyum. Ia terus menatap wajah Surya. Ia sangat bahagia karena Surya selalu memperlakukan dirinya dengan baik. Membuatnya semakin merasa kalau Surya menyayangi dirinya lebih dari seorang pelayan di rumah itu.

 

“Oke. Aku ke kamar dulu!” tutur Surya. “Buatkan jus, antar ke kamar ya!” perintahnya sambil melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya.

 

Surya merogoh ponsel sambil menaiki anak tangga. Ia menekan nomor telepon Nada dan meletakkan ponsel di telinganya.

 

“Halo ...! Sayang, aku udah sampe rumah. Hadiah dari kamu, udah aku kasih semua ke mereka,” tutur Surya sambil tersenyum.

 

“Gimana? Mereka suka sama hadiahnya?”

 

“Kelihatannya suka banget,” jawab Surya.

 

“Bagus, deh.”

 

Surya tersenyum sambil membuka pintu kamarnya. “Mereka pasti senang kalau punya Nyonya baik hati seperti kamu.”

 

“Aku harus belajar menyesuaikan diri dengan mereka. Hari pernikahan kita nggak lama lagi. Aku akan jadi bagian dari rumah itu. Kalau mereka nggak suka sama aku, bisa-bisa aku diusir dari sana,” tutur Nada sambil tertawa kecil.

 

“Nggak ada yang bisa usir kamu dari rumahku. Aku yang akan usir mereka kalau berani macam-macam sama kamu,” jawab Surya.

 

“Mereka sudah lama kerja di keluarga kamu. Kamu nggak sayang sama mereka?” tanya Nada.

 

“Sayang, tapi lebih sayang sama kamu,” jawab Surya sambil merebahkan tubuhnya ke kasur.

 

“Capek ya! Istirahat, gih! Aku juga mau mandi.”

 

“Oke. Bye ...” Surya langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia terus tersenyum sambil menatap langit-langit kamarnya. Sejak Nada masuk ke dalam kehidupannya, ia merasa sangat bahagia. Terlebih, Nada sangat baik terhadap orang-orang di sekelilingnya. Membuat Surya semakin nyaman berada di samping wanita itu.

 

Surya adalah pemilik SD Entertainment. Sementara Nada, salah satu penyanyi yang berada di bawah naungan perusahaannya. Mereka saling mengenal karena pekerjaan. Surya jatuh cinta pada Nada sejak pandangan pertama dan hubungan mereka terus berlanjut.  

 

((Bersambung ...))

Thanks udah baca sampai sini ... Kita flashback ke masa muda ortu Lutfi ya ... Hmm, apa yang terjadi sebenarnya sama keluarga Icha dan Lutfi di masa lalu? Simak terus ya...

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 392 : Masa Lalu Penuh Tanya

 


“Dokter, gimana keadaan mama saya?” tanya Icha saat dokter yang merawat mamanya keluar dari ruang IGD.

“Pasien sudah melewati masa kritisnya. Akan kami pindahkan ke ruang perawatan. Semoga pasien bisa sadar secepatnya.”

“Terima kasih, Dokter!” ucap Icha.

Dokter tersebut mengangguk dan bergegas pergi.

“Lutfi ...!?” Jheni terkejut saat melihat Lutfi melangkah ke arahnya.

Icha langsung menoleh ke arah Lutfi. “Kenapa ikut ke sini? Kamu masih sakit,” tuturnya sambil menghampiri Lutfi.

“Aku khawatir sama kamu,” ucap Lutfi sambil tersenyum.

“Duduk ...!” pinta Icha sambil membantu Lutfi untuk duduk di kursi tunggu.

Lutfi langsung duduk sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding. Ia memegangi perutnya yang masih terasa nyeri.

“Gimana keadaan Ibu Ratna?” tanya Lutfi lirih.

“Baik-baik aja. Sudah ditangani,” jawab Yeriko.

“Chandra ...!?” Jheni menoleh ke arah Chandra yang berjalan menghampiri mereka.

Chandra tersenyum, ia langsung duduk di samping Lutfi.

“Kamu kenapa?” tanya Lutfi sambil menoleh ke arah Chandra. Ia melihat lengan Chandra yang mengenakan perban.

“Abis donor darah buat Ibu Ratna,” jawab Chandra. Ia menatap Jheni yang masih berdiri di hadapannya. “Ini, buat kamu.” Ia menyodorkan sekotak susu dan beberapa snack yang ia bawa.

“Kamu yang donor, kenapa dikasih ke aku? Ntar lemes,” sahut Jheni.

Chandra menatap Jheni sambil tersenyum. “Aku masih kenyang banget.”

Jheni tersenyum, ia berjongkok di depan Chandra sambil memegang kedua pinggang pria itu.

“Jangan jongkok di lantai!” pinta Chandra.

“Nggak papa. Dari tadi udah duduk di kursi ini.” Jheni meletakkan satu pipinya ke paha Chandra.

Chandra tersenyum kecil sambil mengusap pipi Jheni. Gadis yang selalu meluapkan perasaan cintanya dengan kemarahan. Tapi selalu menemani dan memberikannya banyak kehangatan.

“Duduk sini, Jhen!” pinta Yeriko sambil bangkit dari kursi.

Jheni langsung mengangkat kepalanya, menoleh ke arah Yeriko.

“Sini, Jhen ...! Kamu pakai high heels gitu. Ntar kaki kamu lecet,” pinta Yuna sambil menepuk-nepuk kursi yang ada di sisinya.

Jheni tersenyum, ia bangkit dan duduk di sebelah Yuna.

Lutfi masih berusaha mencerna pembicaraan teman-temannya, hingga beberapa menit, ia masih saja tidak mengerti. “Chan, kenapa kamu yang donor darah buat Icha?”

“Darahnya Icha nggak cocok sama mamanya,” jawab Chandra santai.

“Chan, darah kamu AB. Darahku O. Kemarin, Icha bisa donorin darahnya ke aku. Kenapa dia nggak bisa donor darah ke mamanya?”

“Karena golongan darah mereka beda, Lut,” jawab Chandra.

“Bukan gitu ... aih, maksudku, kenapa darahnya Icha nggak cocok sama mamanya?”

Chandra mengedikkan bahunya.

Lutfi mengedarkan pandangannya. Menatap wajah semua orang satu per satu. “Aku tahu, orang yang memiliki golongan darah AB, nggak mungkin melahirkan seorang anak bergolongan darah O,” gumam Lutfi.

Icha langsung menoleh ke arah Lutfi. “Maksud kamu? Aku bukan anaknya mama!?” seru Icha.

Lutfi menatap wajah Icha penuh kepedihan. Ia manggut-manggut kecil. “Bisa jadi ... dia bukan mama kamu.”

“Nggak mungkin, Lut. Semua orang bilang kalau aku ini anak kandungnya mama. Apa keluargaku memang menyembunyikan ini semua dari aku? Aku harus minta penjelasan dari abahku!”

Lutfi mengangguk sambil merengkuh kepala Icha ke pelukannya. “Cha, cuma mama kamu yang bisa menjelaskan ini semua. Kita tunggu dia bangun, baru tanyain apa yang sebenarnya terjadi,” tutur Lutfi lembut.

“Cha, jangan-jangan mama kamu itu emang sengaja membohongi kamu selama ini?” tanya Jheni.

“Aku nggak tahu, Jhen,” jawab Icha  sambil meneteskan air mata. “Kalau aku bukan anak mama, aku ini siapa?”

Lutfi mengelus-elus pundak Icha. “Aku nggak peduli siapa kamu sebenarnya. Aku akan tetap ada di samping kamu,” tuturnya sambil mengecup ujung kepala Icha.

“Cha, kamu bawa Lutfi ke ruangannya!” perintah Yeriko.

“Tapi ...”

“Mama kamu udah mau dipindahkan ke ruang rawat. Lagi diurus sama Riyan supaya bisa dekat sama ruangan Lutfi. Kasihan Lutfi, dia masih butuh banyak istirahat.”

Icha menganggukkan kepala. Ia bangkit dari tempat duduk dan membawa Lutfi kembali ke ruang rawatnya.

Jheni dan yang lainnya saling pandang.

“Kenapa masalah Icha malah makin rumit kayak gini?” tanya Jheni.

Yuna menghela napas. “Aku juga nggak ngerti, Jhen. Masalah dia sama keluarganya Lutfi aja belum beres. Sekarang, dia harus berhadapan sama masalah internal keluarganya. Aku nggak tega lihat dia kayak gini,” jawab Yuna sambil memijat pergelangan kakinya yang tiba-tiba terasa keram.

“Kaki kamu kenapa?” tanya Yeriko.

Yuna menggelengkan kepala. “Kesemutan.”

Yeriko langsung berjongkok di depan Yuna dan menarik kaki istrinya itu perlahan.

“Nggak usah! Nggak enak dilihatin banyak orang,” tutur Yuna sambil menarik kakinya. “Nggak papa, kok. Cuma kesemutan.”

Yeriko tak memperdulikan ucapan Yuna. Ia tetap meraih kaki Yuna. Melepas sepatu Yuna dan memijatnya perlahan.

Yuna memerhatikan wajah suaminya dengan perasaan berbunga-bunga.

“Udah enakan?” tanya Yeriko.

Yuna menganggukkan kepala sambil tersenyum.

Yeriko kembali memakaikan sepatu Yuna dan bangkit dari lantai. “Kita ke ruangan Lutfi aja!” ajaknya.

“Ayo, Jhen ...!” ajak Yuna.

Jheni mengangguk. Mereka bergegas menuju ke ruang rawat Lutfi.

“Kalian ngapain pada ikut ke sini?” tanya Lutfi begitu Yeriko dan yang lainnya masuk ke dalam ruang rawatnya.

“Mau gangguin kamu!” dengus Jheni sambil merebahkan tubuhnya ke sofa.

“Astaga ...! Kalian ini tega banget. Nggak tahu apa kalo aku lagi mau berduaan sama Icha,” tutur Lutfi sambil menahan tawa.

“Apaan sih!?” dengus Icha sambil mencubit pinggang Lutfi.

“Aw ...! Sakit, Cha.” Lutfi memegang pinggang yang dicubit Icha.

“Ini rumah sakit, bukan tempat pacaran!” seru Yuna sambil menatap Lutfi.

“Paling enak pacaran di rumah sakit. Mandi aja dimandiin,” sahut Lutfi sambil menahan tawa.

“Aku nggak pernah mandiin kamu,” sahut Icha.

“Aku nggak bilang kalau kamu mandiin aku,” tutur Lutfi sambil menatap wajah Icha.

“Tapi, kamu ngomong kayak gitu ... mereka bisa mikir kalau selama ini aku mandiin kamu.”

“Masa, sih? Iya, Jhen?” tanya Lutfi sambil menatap Jheni.

Jheni menganggukkan kepala.

Lutfi tersenyum. Ia menoleh ke arah Icha sambil mendekatkan wajahnya. “Gimana kalau pemikiran mereka itu ... kita buat jadi kenyataan?” bisiknya.

“Piktor banget!” sahut Icha sambil beranjak pergi dan menghampiri Yuna yang duduk di sofa bersama yang lainnya.

“Tega bener ngatain pacar sendiri piktor?” celetuk Lutfi. “Harusnya, kamu yang mandiin aku biar bersih sampe ke pikiranku juga. Jadi, pikiranku nggak kotor lagi,” lanjutnya.

“Kita denger loh,” sahut Jheni tanpa menoleh ke arah Lutfi.

“Biar aja. Pacar nggak punya perasaan,” tutur Lutfi sambil membaringkan tubuhnya ke tempat tidur.

Icha menghela napas. “Kumat manjanya,” celetuknya kesal.

“Lut, kamu itu udah bisa bikin anak. Jangan bertingkah kayak anak-anak!” seru Yeriko.

“Kamu yang udah berhasil bikin anak, juga masih bertingkah kayak anak-anak,” sahut Lutfi tak mau kalah.

Yeriko langsung menoleh ke arah Lutfi. “Kapan aku bertingkah kayak anak-anak?”

“Tunggu aku ciumin Kakak Ipar ya!?” ancam Lutfi sambil bangkit dari tempat tidur.

“Coba kalo berani!”

“Siapa yang takut?” Lutfi langsung turun dari tempat tidur. Ia melangkah mendekati Yeriko dan lainnya yang sedang duduk santai di sofa. Namun, langkahnya terhenti saat pintu ruangan tiba-tiba terbuka.

Lutfi terpaku menatap sosok yang datang dari balik pintu tersebut.

“Kenapa nggak kasih kabar kalau kamu sakit? Kamu udah nggak anggap saya?”

Lutfi meringis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku nggak papa. Udah sehat. Sebentar lagi bisa keluar dari rumah sakit ini.”

“Kalau asisten kamu nggak bilang ke saya. Sampai kapan kamu mau menyembunyikan ini dari saya?”

“Aiih ... Nenek, jangan marah-marah dulu!” pinta Lutfi sambil menghampiri neneknya. “Aku nggak papa, Nek. Nenek duduk dulu!” pinta Lutfi dengan ramah.

“Awas, Chan!” Lutfi menendang kaki Chandra agar memberikan tempat duduk untuk neneknya.

Chandra mengangguk sopan ke arah nenek Lutfi dan bangkit dari duduknya. “Silakan duduk, Nek!”

Nenek Lutfi tersenyum, ia langsung duduk di sofa tersebut.

“Nenek ke sini sama siapa?” tanya Lutfi.

“Kamu lihat sama siapa?” tanya Nenek Lutfi balik.

Lutfi langsung melirik asistennya yang berdiri di dekat pintu. “Heh, aku udah bilang, jangan kasih tahu nenek. Kamu tahu nenek sudah tua, kamu kira Jakarta-Surabaya dekat?” seru Lutfi.

“Deket, Mas. Cuma satu jam setengah,” sahut asisten tersebut.

“Kamu ...!? Udah berani jawab, hah!?” sentak Lutfi.

Asisten tersebut menundukkan kepala. “Kan Mas Lutfi yang ajarin,” celetuknya.

“Kamu ...!?” Lutfi mendelik ke arah asistennya tersebut dan bersiap melemparkan gelas yang ada di atas meja.

“Lut, jangan emosi gini!” pinta Icha sambil menahan tubuh Lutfi.

“Awas kamu ya! Kalo bukan gajimu yang aku sunat, kamu yang kusunat lagi!” seru Lutfi.

“Ehem ...! Kamu nggak menghargai keberadaan saya? Asisten kamu ini, masih ada di bawah perintah Nenek. Kalau sampai kamu potong gaji dia, burungmu yang Nenek potong!”

Lutfi langsung memegangi alat vitalnya. “Astaga! Nenek tega banget sama cucu sendiri. Ngerasain kawin aja belum pernah, main potong aja.”

“Hahaha.” Chandra tergelak. Diiringi dengan tawa yang lainnya.

“Kalian semua senang lihat aku tertindas kayak gini?” seru Lutfi.

“Pemandangan langka, Lut,” sahut Yuna sambil menahan tawa.

“KAKAK IPAR ...!?”

Semua orang justru tertawa melihat tingkah Lutfi. Walau Lutfi berpura-pura menderita, tapi wajah cerianya sudah mulai kembali. Tidak murung seperti beberapa hari belakangan karena harus menghadapi kenyataan kalau wanita yang ia cintai adalah adiknya sendiri. Kini, ia bisa tersenyum lega karena Icha bukanlah adiknya. Hanya saja, banyak pertanyaan yang harus ia utarakan di hadapan neneknya. 

 

((Bersambung ...))

Thanks udah baca sampai di sini. Dukung terus ya biar tetep bertahan di Rank dan aku makin semangat nulis ceritanya.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

Perfect Hero Bab 391 : Icha Anak Siapa?

 


“Cepetan pake bajunya!” perintah Yeriko sambil memakai kaosnya usai mandi.

 

“Bantuin ...!” pinta Yuna sambil menyodorkan punggungnya ke arah Yeriko.

 

“Sempit lagi?” tanya Yeriko.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Katanya suruh cepet? Bantuin kancingin!” pinta Yuna.

 

Yeriko langsung menarik ujung bra dan menautkan kancing bra yang ada di belakang punggung Yuna. “Udah.”

 

“Thank you!” ucap Yuna sambil tersenyum. Ia menatap deretan pakaian yang tergantung di dalam lemarinya. Ia mengetuk-ngetuk dagu sambil memerhatikan pakaiannya satu per satu.

 

“Cepetan, Yun!” perintah Yeriko. “Riyan barusan telepon ...”

 

“Sebentar, sabar!” pinta Yuna santai.

 

Yeriko langsung menarik satu dress dan meletakkannya di dada Yuna. “Pake ini aja!” pintanya.

 

“Eh!? Tapi ...”

 

“Bu Ratna coba buat bunuh diri. Kita harus ke rumah sakit sekarang. Riyan bilang, keadaannya cukup kritis.”

 

“Hah!?”

 

“Cepetan pakai bajunya!” perintah Yeriko.

 

Yuna bergegas memakai bajunya secepat kilat. Yeriko membantunya mengambil sepasang flat shoes warna mocca dan tas tangan yang senada dengan warna sepatu Yuna.

 

Icha udah dikasih tahu?” tanya Yuna sambil menyisir rambutnya asal-asalan. Ia bergegas memasukkan dompet dan ponselnya ke dalam tas dan melangkah keluar kamar bersama Yeriko.

 

 

 

...

 

 

 

Sesampainya di rumah sakit, Yuna langsung menghampiri Riyan yang sedang menunggu di depan ruang IGD.

 

“Gimana keadaan Ibu Ratna?” tanya Yuna.

 

“Kritis,” jawab Riyan lirih.

 

Yuna langsung menoleh ke arah Yeriko yang berdiri di sampingnya.

 

“Kenapa dia sampai mencoba bunuh diri?” tanya Yeriko sambil menatap Riyan.

 

Riyan menggelengkan kepala. “Kondisi mental beliau memang tidak stabil. Sulit mendapatkan informasi karena ucapannya selalu berubah-ubah.”

 

Yeriko menghela napas. Apa pun yang terjadi, ia tidak akan melepaskan Ibu Ratna dengan mudah.

 

“Yan, gimana keadaan mamaku!?” seru Icha. Ia langsung menghampiri Riyan sambil terisak.

 

“Masih di dalam ruang IGD,” jawab Riyan.

 

Di saat yang bersamaan, dokter dan dua orang perawat keluar dari pintu IGD.

 

“Gimana keadaan mama saya, Dok?” tanya Icha, ia langsung menghampiri dokter tersebut.

 

“Beliau, ibu kamu?”

 

Icha menganggukkan kepala, diiringi dengan anggukkan kepala Yuna dan yang lainnya.

 

“Ibu Ratna kehilangan banyak darah. Beliau butuh transfusi darah secepatnya. Tapi, stok darah kami masih kosong.”

 

“Ambil darah saya aja, Dok!” pinta Icha. “Saya anaknya.”

 

Dokter tersebut mengangguk. Ia menoleh ke arah perawat yang ada di sampingnya. “Cepat kerjakan! Kita butuh darah ini secepatnya!”

 

Perawat tersebut menganggukkan kepala dan mengajak Icha pergi ke Unit Transfusi Darah.

 

“Mbaknya tahu golongan darahnya apa?” tanya perawat tersebut.

 

Icha menggelengkan kepala. “Saya belum pernah periksa darah. Tapi, saya anaknya Ibu Ratna. Golongan darah kami pasti sama.”

 

Perawat itu tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Kami tetap lakukan pengecekan terlebih dahulu ya, Mbak.”

 

Icha menganggukkan kepala.

 

“Silakan duduk!” pinta salah seorang petugas di ruangan tersebut.

 

“Suster, pasien yang akan menerima donor darah, golongan AB,” tutur perawat tersebut.

 

Petugas yang diajak bicara menganggukkan kepala. Ia mengambil sampel darah Icha dan memeriksanya.

 

“Suster, kita nggak bisa melakukan transfusi darah,” tutur petugas yang sudah selesai memeriksa darah Icha.

 

Icha yang mendengar suara petugas tersebut langsung menoleh. “Kenapa, Suster?” tanyanya panik. “Saya nggak punya penyakit apa-apa. Kenapa nggak bisa donorin darah buat mama saya?”

 

Petugas di dalam ruangan tersebut saling pandang. “Golongan darah Mbak, berbeda dengan golongan darah mamanya.”

 

“Hah!?”

 

“Dari hasil tes, golongan darah Mbak Icha adalah O. Sedangkan Bu Ratna memiliki golongan darah AB.”

 

“Nggak mungkin, Suster!” sahut Icha. “Saya ini anaknya. Nggak mungkin golongan darah kami beda. Ini pasti ada kesalahan!” serunya.

 

“Maaf, Mbak. Kami sudah melakukan tiga kali pengecekkan dan hasilnya tetap sama.”

 

“Nggak mungkin, Sus.” Pikiran Icha tiba-tiba melayang-layang entah ke mana. Kakinya lemah, ia memaksa kakinya tetap berdiri dan melangkah keluar dari ruangan tersebut sambil menangis.

 

“Cha, gimana?” tanya Yuna begitu melihat tubuh Icha berjalan perlahan menghampirinya.

 

Icha langsung menjatuhkan tubuhnya ke pelukkan Yuna. Ia terisak dalam pelukan Yuna.

 

“Ke ... kenapa, Cha?” tanya Yuna bingung.

 

“Aku nggak bisa nolongin mamaku, Yun!” tutur Icha histeris. “Darahku nggak cocok sama mama.”

 

“Hah!? Kok, bisa?”

 

Icha menggelengkan kepala. Ia terus menangis di pelukkan Yuna. “Aku nggak tahu, Yun. Aku nggak tahu, hiks ... hiks.”

 

“Cha, kamu tenang dulu!” pinta Yuna sambil mengelus lembut pundak Icha. “Pasti ada jalan keluar buat nolong mama kamu.”

 

“Permisi ...! Keluarga pasien Ibu Ratna yang mana?” tanya seorang perawat yang tiba-tiba menghampiri mereka.

 

Icha langsung melepas pelukannya dan menoleh ke arah perawat tersebut.

 

“Saya yang bertanggung jawab atas Ibu Ratna.” Yeriko langsung mengambil alih keadaan.

 

“Ibu Ratna membutuhkan darah AB secepatnya. Sementara, stok di tempat kami sedang kosong. Kami sudah menghubungi pihak PMI pusat, mereka juga kehabisan stok darah AB.”

 

“Yan, carikan darah AB. Kalau perlu, hubungi HRD perusahaan untuk mencari karyawan yang punya golongan darah AB.”

 

Riyan menganggukkan kepala. “Siap, Pak Bos!” Ia bergegas pergi meninggalkan rumah sakit untuk mencari orang lain yang bisa mentransfusi darah untuk Ibu Ratna.

 

“Cha, Sorry ...! Kami telat,” sapa Jheni dengan napas tersengal. Ia dan Chandra datang bersamaan.

 

Icha masih saja terisak. Ia bukan hanya mengkhawatirkan mamanya yang sedang kritis. Tapi ia juga sedih karena mengetahui kalau ia tidak bisa menolong nyawa mamanya sendiri.

 

“Kenapa darahku nggak cocok sama Mama?” Icha terus terisak.

 

“Hah!?” Jheni melongo mendengar ucapan Icha.

 

“Jhen, Bu Ratna butuh transfusi darah. Darahnya Icha nggak cocok.”

 

“Kok, bisa?”

 

Icha menggelengkan kepala, air matanya terus keluar membanjiri pipinya.

 

“Golongan darah Mama kamu apa?” tanya Jheni.

 

“AB,” jawab Yuna.

 

“Icha?”

 

“Golongan darahku O, Jhen,” jawab Icha sambil menangis.

 

“Mbak Icha, saya yang menjaga Ibu Ratna di Menur. Saya juga seorang perawat. Setahu saya, golongan darah AB bisa menerima transfusi darah dari semua golongan darah yang lain,” sela perawat yang juga masih menunggu keadaan Ibu Ratna.

 

Semua orang langsung menoleh ke arah perawat tersebut.

 

Icha menghapus air matanya. “Jadi, sebenarnya aku tetap bisa donorin darahku ke mama?”

 

Perawat itu menganggukkan kepala. “Tapi, dokter juga punya kebijakan kenapa lebih memilih golongan darah yang sama untuk Recipient.”

 

Icha yang baru saja memiliki sedikit harapan, tiba-tiba kembali tak bersemangat.

 

“Kalian nggak usah khawatir, golongan darahku AB,” tutur Chandra.

 

“Kenapa nggak bilang dari tadi!?” dengus Yeriko. Ia langsung menarik lengan Chandra.

 

“Masa kamu lupa sama golongan darahku? Aku aja ingat sama golongan darahmu, Yer.”

 

“Aih, nggak usah ngajak berdebat!” pinta Yeriko. Ia menoleh ke arah perawat yang menangani Ibu Ratna. “Suster, golongan darah dia AB. Ambil aja darahnya sebanyak-banyaknya!” pinta Yeriko. “Ngeselin ...!”

 

Perawat yang bertugas mengangguk. Ia segera membawa Chanda ke Unit Transfusi Darah untuk melakukan pengecekkan terlebih dahulu sebelum mengambil darah Chandra untuk didonorkan.

 

Jheni menghela napas lega.

 

“Untungnya kalian cepet datang ke sini,” tutur Icha sambil menatap Jheni.

 

Jheni menganggukkan kepala. “Sabar ya!” ucapnya sambil memeluk tubuh Icha. Di kepalanya masih ada pertanyaan besar soal golongan darah Icha yang berbeda dengan ibunya sendiri. Ia baru saja menerima kabar kalau Icha dan Lutfi bukanlah kakak-beradik. Kini, ia juga harus melihat kenyataan kalau Icha memiliki golongan darah yang berbeda dengan mamanya sendiri.

 

Yuna ikut menenangkan Icha. Walau dalam hatinya ada banyak pertanyaan. Ia lebih memilih memendamnya terlebih dahulu agar tidak membuat Icha semakin sedih.

 

Jheni berusaha untuk tersenyum, menyalurkan kekuatan untuk sahabatnya itu. “Cha, siapa kamu sebenarnya?” batin Jheni sambil menatap Icha penuh kepedihan.

 

Jheni mengingat dengan jelas apa yang tak sengaja ia baca di internet beberapa hari lalu. Suami atau istri yang memiliki golongan darah AB, tidak mungkin memiliki keturunan dengan golongan darah O. Ternyata, ini semua terjadi pada sahabatnya sendiri dan membuat dirinya terus bertanya-tanya. Hanya saja, Jheni belum bisa membuka mulut untuk bertanya banyak hal karena Icha terlihat sangat menderita.

 

 ((Bersambung ...))

Thanks udah baca sampai di sini ... Makin penasaran? Ikuti terus kisah serunya ya!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas