“Sudah
berapa hari kamu sakit?” tanya Nenek Lutfi.
“Satu
Minggu,” jawab Lutfi lirih.
“Sakit
apa?” tanya Nenek Lutfi.
Semua
orang terdiam. Tak ada satu pun yang berani mengatakan penyebab Lutfi masuk
rumah sakit.
“Nenek,
ini semua salahku ...” Ucapan Icha terhenti saat Lutfi tiba-tiba mencengkeram
pergelangan tangannya.
“Nek,
aku nggak papa. Cuma luka sedikit, abis berantem sama anak geng yang ada di
pinggiran kota,” jawab Lutfi berbohong.
“Berantem?
Penyakit berantem kamu ini belum sembuh juga? Kalo sudah tahu akhirnya bakal
masuk rumah sakit, nggak usah sok jagoan!” seru Nenek Lutfi.
Lutfi
meringis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Nenek
Lutfi mengedarkan pandangannya. Ia menatap Jheni dan Yuna yang masih asing di
matanya.
“Nenek,
apa kabar?” sapa Yeriko yang menyadari tatapan Nenek Lutfi.
“Baik,”
jawab Nenek Lutfi sambil menatap tangan Yuna yang melingkar di lengan Yeriko.
“Dia siapa? Pacar kamu?”
“Oh,
kenalin ... ini istri aku, Nek.”
Yuna
langsung tersenyum. Ia mengulurkan tangannya ke arah Nenek Lutfi. “Salam kenal,
Nek. Namaku Yuna.”
Nenek
Lutfi tersenyum sambil menyambut uluran tangan Lutfi. “Cantik banget! Kamu
pintar cari istri,” pujinya sambil menatap Yeriko.
Yeriko
hanya tersenyum menanggapi pujian dari Nenek Lutfi.
“Panggil
saja Nenek Lutfi!” pinta Nenek Lutfi tanpa memberitahukan nama aslinya.
Yuna
menganggukkan kepala.
“Kamu
nikah, nggak undang Nenek, hah!?” tanya Nenek Lutfi sambil menatap Yeriko.
“Maaf,
Nek! Jakarta jauh, kami nggak mau bikin Nenek kecapekan.”
“Kenapa
nggak bikin pesta pernikahan di Jakarta aja?” tanya Nenek Lutfi lagi.
“Ada
banyak hal yang kami pertimbangkan.”
“Oh,
oke-oke. Yang ini ... siapa?” tanya Nenek Lutfi sambil menatap Jheni.
“Saya
Jheni, Nek. Sahabatnya Yuna,” jawab Jheni sambil mengulurkan tangan,
memperkenalkan dirinya di hadapan Nenek Lutfi.
“Cantik
juga. Jadi cucu saya aja!” pinta Nenek Lutfi.
Lutfi
dan Chandra saling pandang, kemudian menoleh ke arah Nenek Lutfi bersamaan.
“Nggak bisa!” sahut mereka bersamaan.
“Kenapa
nggak bisa? Yeriko sudah nikah. Nenek mau, kamu juga menikah secepatnya!” pinta
Nenek Lutfi. “Kamu nggak bisa menikahi adik kamu sendiri. Sama dia juga boleh.”
“Nek,
Jheni ini pacarnya Chandra,” sahut Lutfi.
“Oh
ya? Pacar kamu?” tanya Nenek Lutfi sambil menatap Chandra.
Chandra
menganggukkan kepala sambil tersenyum.
“Oh
... maaf, Nenek nggak tahu kalau dia pacar kamu. Dulu ... tunangan kamu bukan
ini.”
Chandra
tersenyum kecut. “Aku sudah putus sama Amara. Dia sudah menikah sama pria
lain.”
“Nggak
papa. Nggak usah sedih! Malah dapet yang lebih cantik lagi,” tutur Nenek Lutfi.
Chandra
tertawa kecil sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Jheni
ikut tersenyum. Hatinya berbunga-bunga mendapat pujian dari Nenek Lutfi. “Aku
beneran cantik?” tanyanya sambil mengerdip-ngerdipkan mata.
Chandra
menahan tawa sambil menutup wajah Jheni dengan telapak tangannya.
“Iih
... susah banget sih cuma ngomong cantik doang?” dengus Jheni sambil melepaskan
tangan Chandra dari wajahnya.
“Iya,
cantik.” Chandra tersenyum sambil meletakkan lengannya ke pundak Jheni. Ia
berdiri di belakang sofa sambil menyandarkan dadanya.
Lutfi
mengambil dokumen dari laci nakas dan memberikannya pada neneknya. “Nek, ini
hasil tes DNA aku dan Icha. Kami nggak ada hubungan darah sama sekali. Apa yang
sebenarnya terjadi di masa lalu. Kenapa harus mempengaruhi hubungan kami?”
tanya Lutfi.
“Nek,
hari ini mama dirawat di rumah sakit karena percobaan bunuh diri. Aku nggak
bisa menolong dia karena golongan darah kami berbeda. Aku bukan anak kandung
Pak Surya, bukan juga anak kandung Ibu Ratna. Aku nggak tahu ... siapa
keluargaku sekarang,” tutur Icha.
Nenek
Lutfi menghela napas sejenak. Ia menoleh ke arah Icha yang duduk di hadapannya.
“Oke.
Nenek akan menceritakan semuanya ...”
Dua
puluh delapan tahun yang lalu ...
“Surya,
di rumah kamu ada berapa pelayan?” tanya Nada saat Surya menjemputnya dari
lokasi syuting.
“Banyak,
kenapa?” tanya Surya balik.
“Aku
mau beliin hadiah buat pelayan-pelayan di rumahku. Sekalian aja, sama buat
pelayan di rumah kamu.”
“Hadiah!?”
Surya mengernyitkan dahinya. “Dalam rangka apa?”
“Dalam
rangka kebaikan hatiku, hehehe. Ini udah dekat hari raya, aku mau belikan
beberapa pakaian untuk mereka.”
“Oh
ya?” Surya mengangguk-anggukkan kepala. “Ide bagus.”
Nada
tersenyum sambil menatap Surya. “Kalau gitu, sekarang antar aku belanja!”
“Sekarang?”
Nada
menganggukkan kepala.
Surya
tersenyum. Ia bergegas mengantarkan kekasihnya pergi berbelanja. Mereka sengaja
membelikan hadiah untuk pelayan-pelayan di rumah mereka.
“Kamu
tahu ukuran mereka semua?” tanya Surya.
Nada
menganggukkan kepala. “Aku udah sering belanja. Lihat badan mereka aja, aku
udah bisa perkirakan ukurannya.
Surya
mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelah berbelanja, Surya langsung mengantar
Nada pulang ke rumahnya.
“Sur,
yang ini khusus buat Ratna ya!”
“Kenapa
dikhususkan?”
“Karena
si Ratna pelayan paling muda di rumah kamu. Seleranya pasti berbeda dengan yang
lain.”
“Oh
gitu? Kamu sampai perhatikan sedetail ini.”
Nada
mengangguk sambil tersenyum. “Aku pulang dulu!” pamitnya sambil mengecup pipi
Surya dan bergegas keluar dari mobil.
Surya
tersenyum sambil menatap Nada yang mulai melangkah masuk ke rumahnya. Ia
bergegas kembali ke rumahnya sendiri.
“Bibi
...!” seru Surya sambil menenteng beberapa paper bag di tangannya.
“Biar
saya bantu, Mas!” Salah seorang pria yang juga supir keluarga langsung
menghampiri Surya.
“Mana
Bibi?” tanya Surya sambil duduk di sofa.
Orang
yang dipanggil Surya langsung muncul. “Ada apa, Mas?” tanya pembantu tersebut.
“Panggil
semua pekerja yang ada di rumah ini. Aku punya hadiah buat kalian!”
Wanita
setengah baya itu mengangguk dan mengumpulkan para pelayan yang bekerja di
rumah tersebut.
Surya
tersenyum sambil menatap tiga wanita dan dua pria yang bekerja di rumahnya.
“Ini
buat kalian.” Surya memeriksa paper bag tersebut satu per satu dan
memberikannya pada pekerja di rumahnya.
“Terima
kasih banyak, Mas!” Mereka mengucapkan terima kasih bergantian.
“Ini
khusus buat kamu,” tutur Surya sambil menyodorkan paper bag ke arah Ratna.
“Terima
kasih, Mas ...!” ucap Ratna sambil tersenyum. Ia terus menatap wajah Surya. Ia
sangat bahagia karena Surya selalu memperlakukan dirinya dengan baik.
Membuatnya semakin merasa kalau Surya menyayangi dirinya lebih dari seorang
pelayan di rumah itu.
“Oke.
Aku ke kamar dulu!” tutur Surya. “Buatkan jus, antar ke kamar ya!” perintahnya
sambil melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya.
Surya
merogoh ponsel sambil menaiki anak tangga. Ia menekan nomor telepon Nada dan
meletakkan ponsel di telinganya.
“Halo
...! Sayang, aku udah sampe rumah. Hadiah dari kamu, udah aku kasih semua ke
mereka,” tutur Surya sambil tersenyum.
“Gimana?
Mereka suka sama hadiahnya?”
“Kelihatannya
suka banget,” jawab Surya.
“Bagus,
deh.”
Surya
tersenyum sambil membuka pintu kamarnya. “Mereka pasti senang kalau punya
Nyonya baik hati seperti kamu.”
“Aku
harus belajar menyesuaikan diri dengan mereka. Hari pernikahan kita nggak lama
lagi. Aku akan jadi bagian dari rumah itu. Kalau mereka nggak suka sama aku,
bisa-bisa aku diusir dari sana,” tutur Nada sambil tertawa kecil.
“Nggak
ada yang bisa usir kamu dari rumahku. Aku yang akan usir mereka kalau berani
macam-macam sama kamu,” jawab Surya.
“Mereka
sudah lama kerja di keluarga kamu. Kamu nggak sayang sama mereka?” tanya Nada.
“Sayang,
tapi lebih sayang sama kamu,” jawab Surya sambil merebahkan tubuhnya ke kasur.
“Capek
ya! Istirahat, gih! Aku juga mau mandi.”
“Oke.
Bye ...” Surya langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia terus tersenyum
sambil menatap langit-langit kamarnya. Sejak Nada masuk ke dalam kehidupannya,
ia merasa sangat bahagia. Terlebih, Nada sangat baik terhadap orang-orang di
sekelilingnya. Membuat Surya semakin nyaman berada di samping wanita itu.
Surya
adalah pemilik SD Entertainment. Sementara Nada, salah satu penyanyi yang
berada di bawah naungan perusahaannya. Mereka saling mengenal karena pekerjaan.
Surya jatuh cinta pada Nada sejak pandangan pertama dan hubungan mereka terus
berlanjut.
((Bersambung ...))
Thanks udah baca sampai sini ... Kita flashback ke masa muda ortu Lutfi ya
... Hmm, apa yang terjadi sebenarnya sama keluarga Icha dan Lutfi di masa lalu?
Simak terus ya...

0 komentar:
Post a Comment