Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 393 : Salah Mengartikan

 


“Sudah berapa hari kamu sakit?” tanya Nenek Lutfi.

 

“Satu Minggu,” jawab Lutfi lirih.

 

“Sakit apa?” tanya Nenek Lutfi.

 

Semua orang terdiam. Tak ada satu pun yang berani mengatakan penyebab Lutfi masuk rumah sakit.

 

“Nenek, ini semua salahku ...” Ucapan Icha terhenti saat Lutfi tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya.

 

“Nek, aku nggak papa. Cuma luka sedikit, abis berantem sama anak geng yang ada di pinggiran kota,” jawab Lutfi berbohong.

 

“Berantem? Penyakit berantem kamu ini belum sembuh juga? Kalo sudah tahu akhirnya bakal masuk rumah sakit, nggak usah sok jagoan!” seru Nenek Lutfi.

 

Lutfi meringis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

 

Nenek Lutfi mengedarkan pandangannya. Ia menatap Jheni dan Yuna yang masih asing di matanya.

 

“Nenek, apa kabar?” sapa Yeriko yang menyadari tatapan Nenek Lutfi.

 

“Baik,” jawab Nenek Lutfi sambil menatap tangan Yuna yang melingkar di lengan Yeriko. “Dia siapa? Pacar kamu?”

 

“Oh, kenalin ... ini istri aku, Nek.”

 

Yuna langsung tersenyum. Ia mengulurkan tangannya ke arah Nenek Lutfi. “Salam kenal, Nek. Namaku Yuna.”

 

Nenek Lutfi tersenyum sambil menyambut uluran tangan Lutfi. “Cantik banget! Kamu pintar cari istri,” pujinya sambil menatap Yeriko.

 

Yeriko hanya tersenyum menanggapi pujian dari Nenek Lutfi.

 

“Panggil saja Nenek Lutfi!” pinta Nenek Lutfi tanpa memberitahukan nama aslinya.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Kamu nikah, nggak undang Nenek, hah!?” tanya Nenek Lutfi sambil menatap Yeriko.

 

“Maaf, Nek! Jakarta jauh, kami nggak mau bikin Nenek kecapekan.”

 

“Kenapa nggak bikin pesta pernikahan di Jakarta aja?” tanya Nenek Lutfi lagi.

 

“Ada banyak hal yang kami pertimbangkan.”

 

“Oh, oke-oke. Yang ini ... siapa?” tanya Nenek Lutfi sambil menatap Jheni.

 

“Saya Jheni, Nek. Sahabatnya Yuna,” jawab Jheni sambil mengulurkan tangan, memperkenalkan dirinya di hadapan Nenek Lutfi.

 

“Cantik juga. Jadi cucu saya aja!” pinta Nenek Lutfi.

 

Lutfi dan Chandra saling pandang, kemudian menoleh ke arah Nenek Lutfi bersamaan. “Nggak bisa!” sahut mereka bersamaan.

 

“Kenapa nggak bisa? Yeriko sudah nikah. Nenek mau, kamu juga menikah secepatnya!” pinta Nenek Lutfi. “Kamu nggak bisa menikahi adik kamu sendiri. Sama dia juga boleh.”

 

“Nek, Jheni ini pacarnya Chandra,” sahut Lutfi.

 

“Oh ya? Pacar kamu?” tanya Nenek Lutfi sambil menatap Chandra.

 

Chandra menganggukkan kepala sambil tersenyum.

 

“Oh ... maaf, Nenek nggak tahu kalau dia pacar kamu. Dulu ... tunangan kamu bukan ini.”

 

Chandra tersenyum kecut. “Aku sudah putus sama Amara. Dia sudah menikah sama pria lain.”

 

“Nggak papa. Nggak usah sedih! Malah dapet yang lebih cantik lagi,” tutur Nenek Lutfi.

 

Chandra tertawa kecil sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

 

Jheni ikut tersenyum. Hatinya berbunga-bunga mendapat pujian dari Nenek Lutfi. “Aku beneran cantik?” tanyanya sambil mengerdip-ngerdipkan mata.

 

Chandra menahan tawa sambil menutup wajah Jheni dengan telapak tangannya.

 

“Iih ... susah banget sih cuma ngomong cantik doang?” dengus Jheni sambil melepaskan tangan Chandra dari wajahnya.

 

“Iya, cantik.” Chandra tersenyum sambil meletakkan lengannya ke pundak Jheni. Ia berdiri di belakang sofa sambil menyandarkan dadanya.

 

Lutfi mengambil dokumen dari laci nakas dan memberikannya pada neneknya. “Nek, ini hasil tes DNA aku dan Icha. Kami nggak ada hubungan darah sama sekali. Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu. Kenapa harus mempengaruhi hubungan kami?” tanya Lutfi.

 

 “Nek, hari ini mama dirawat di rumah sakit karena percobaan bunuh diri. Aku nggak bisa menolong dia karena golongan darah kami berbeda. Aku bukan anak kandung Pak Surya, bukan juga anak kandung Ibu Ratna. Aku nggak tahu ... siapa keluargaku sekarang,” tutur Icha.

 

Nenek Lutfi menghela napas sejenak. Ia menoleh ke arah Icha yang duduk di hadapannya.

 

“Oke. Nenek akan menceritakan semuanya ...”

 

 

 

Dua puluh delapan tahun yang lalu ...

 

 

 

“Surya, di rumah kamu ada berapa pelayan?” tanya Nada saat Surya menjemputnya dari lokasi syuting.

 

“Banyak, kenapa?” tanya Surya balik.

 

“Aku mau beliin hadiah buat pelayan-pelayan di rumahku. Sekalian aja, sama buat pelayan di rumah kamu.”

 

“Hadiah!?” Surya mengernyitkan dahinya. “Dalam rangka apa?”

 

“Dalam rangka kebaikan hatiku, hehehe. Ini udah dekat hari raya, aku mau belikan beberapa pakaian untuk mereka.”

 

“Oh ya?” Surya mengangguk-anggukkan kepala. “Ide bagus.”

 

Nada tersenyum sambil menatap Surya. “Kalau gitu, sekarang antar aku belanja!”

 

“Sekarang?”

 

Nada menganggukkan kepala.

 

Surya tersenyum. Ia bergegas mengantarkan kekasihnya pergi berbelanja. Mereka sengaja membelikan hadiah untuk pelayan-pelayan di rumah mereka.

 

“Kamu tahu ukuran mereka semua?” tanya Surya.

 

Nada menganggukkan kepala. “Aku udah sering belanja. Lihat badan mereka aja, aku udah bisa perkirakan ukurannya.

 

Surya mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelah berbelanja, Surya langsung mengantar Nada pulang ke rumahnya.

 

“Sur, yang ini khusus buat Ratna ya!”

 

“Kenapa dikhususkan?”

 

“Karena si Ratna pelayan paling muda di rumah kamu. Seleranya pasti berbeda dengan yang lain.”

 

“Oh gitu? Kamu sampai perhatikan sedetail ini.”

 

Nada mengangguk sambil tersenyum. “Aku pulang dulu!” pamitnya sambil mengecup pipi Surya dan bergegas keluar dari mobil.

 

Surya tersenyum sambil menatap Nada yang mulai melangkah masuk ke rumahnya. Ia bergegas kembali ke rumahnya sendiri.

 

“Bibi ...!” seru Surya sambil menenteng beberapa paper bag di tangannya.

 

“Biar saya bantu, Mas!” Salah seorang pria yang juga supir keluarga langsung menghampiri Surya.

 

“Mana Bibi?” tanya Surya sambil duduk di sofa.

 

Orang yang dipanggil Surya langsung muncul. “Ada apa, Mas?” tanya pembantu tersebut.

 

“Panggil semua pekerja yang ada di rumah ini. Aku punya hadiah buat kalian!”

 

Wanita setengah baya itu mengangguk dan mengumpulkan para pelayan yang bekerja di rumah tersebut.

 

Surya tersenyum sambil menatap tiga wanita dan dua pria yang bekerja di rumahnya.

 

“Ini buat kalian.” Surya memeriksa paper bag tersebut satu per satu dan memberikannya pada pekerja di rumahnya.

 

“Terima kasih banyak, Mas!” Mereka mengucapkan terima kasih bergantian.

 

“Ini khusus buat kamu,” tutur Surya sambil menyodorkan paper bag ke arah Ratna.

 

“Terima kasih, Mas ...!” ucap Ratna sambil tersenyum. Ia terus menatap wajah Surya. Ia sangat bahagia karena Surya selalu memperlakukan dirinya dengan baik. Membuatnya semakin merasa kalau Surya menyayangi dirinya lebih dari seorang pelayan di rumah itu.

 

“Oke. Aku ke kamar dulu!” tutur Surya. “Buatkan jus, antar ke kamar ya!” perintahnya sambil melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya.

 

Surya merogoh ponsel sambil menaiki anak tangga. Ia menekan nomor telepon Nada dan meletakkan ponsel di telinganya.

 

“Halo ...! Sayang, aku udah sampe rumah. Hadiah dari kamu, udah aku kasih semua ke mereka,” tutur Surya sambil tersenyum.

 

“Gimana? Mereka suka sama hadiahnya?”

 

“Kelihatannya suka banget,” jawab Surya.

 

“Bagus, deh.”

 

Surya tersenyum sambil membuka pintu kamarnya. “Mereka pasti senang kalau punya Nyonya baik hati seperti kamu.”

 

“Aku harus belajar menyesuaikan diri dengan mereka. Hari pernikahan kita nggak lama lagi. Aku akan jadi bagian dari rumah itu. Kalau mereka nggak suka sama aku, bisa-bisa aku diusir dari sana,” tutur Nada sambil tertawa kecil.

 

“Nggak ada yang bisa usir kamu dari rumahku. Aku yang akan usir mereka kalau berani macam-macam sama kamu,” jawab Surya.

 

“Mereka sudah lama kerja di keluarga kamu. Kamu nggak sayang sama mereka?” tanya Nada.

 

“Sayang, tapi lebih sayang sama kamu,” jawab Surya sambil merebahkan tubuhnya ke kasur.

 

“Capek ya! Istirahat, gih! Aku juga mau mandi.”

 

“Oke. Bye ...” Surya langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia terus tersenyum sambil menatap langit-langit kamarnya. Sejak Nada masuk ke dalam kehidupannya, ia merasa sangat bahagia. Terlebih, Nada sangat baik terhadap orang-orang di sekelilingnya. Membuat Surya semakin nyaman berada di samping wanita itu.

 

Surya adalah pemilik SD Entertainment. Sementara Nada, salah satu penyanyi yang berada di bawah naungan perusahaannya. Mereka saling mengenal karena pekerjaan. Surya jatuh cinta pada Nada sejak pandangan pertama dan hubungan mereka terus berlanjut.  

 

((Bersambung ...))

Thanks udah baca sampai sini ... Kita flashback ke masa muda ortu Lutfi ya ... Hmm, apa yang terjadi sebenarnya sama keluarga Icha dan Lutfi di masa lalu? Simak terus ya...

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas