“Dokter,
gimana keadaan mama saya?” tanya Icha saat dokter yang merawat mamanya keluar
dari ruang IGD.
“Pasien
sudah melewati masa kritisnya. Akan kami pindahkan ke ruang perawatan. Semoga
pasien bisa sadar secepatnya.”
“Terima
kasih, Dokter!” ucap Icha.
Dokter
tersebut mengangguk dan bergegas pergi.
“Lutfi
...!?” Jheni terkejut saat melihat Lutfi melangkah ke arahnya.
Icha
langsung menoleh ke arah Lutfi. “Kenapa ikut ke sini? Kamu masih sakit,”
tuturnya sambil menghampiri Lutfi.
“Aku
khawatir sama kamu,” ucap Lutfi sambil tersenyum.
“Duduk
...!” pinta Icha sambil membantu Lutfi untuk duduk di kursi tunggu.
Lutfi
langsung duduk sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding. Ia memegangi perutnya
yang masih terasa nyeri.
“Gimana
keadaan Ibu Ratna?” tanya Lutfi lirih.
“Baik-baik
aja. Sudah ditangani,” jawab Yeriko.
“Chandra
...!?” Jheni menoleh ke arah Chandra yang berjalan menghampiri mereka.
Chandra
tersenyum, ia langsung duduk di samping Lutfi.
“Kamu
kenapa?” tanya Lutfi sambil menoleh ke arah Chandra. Ia melihat lengan Chandra
yang mengenakan perban.
“Abis
donor darah buat Ibu Ratna,” jawab Chandra. Ia menatap Jheni yang masih berdiri
di hadapannya. “Ini, buat kamu.” Ia menyodorkan sekotak susu dan beberapa snack
yang ia bawa.
“Kamu
yang donor, kenapa dikasih ke aku? Ntar lemes,” sahut Jheni.
Chandra
menatap Jheni sambil tersenyum. “Aku masih kenyang banget.”
Jheni
tersenyum, ia berjongkok di depan Chandra sambil memegang kedua pinggang pria
itu.
“Jangan
jongkok di lantai!” pinta Chandra.
“Nggak
papa. Dari tadi udah duduk di kursi ini.” Jheni meletakkan satu pipinya ke paha
Chandra.
Chandra
tersenyum kecil sambil mengusap pipi Jheni. Gadis yang selalu meluapkan
perasaan cintanya dengan kemarahan. Tapi selalu menemani dan memberikannya
banyak kehangatan.
“Duduk
sini, Jhen!” pinta Yeriko sambil bangkit dari kursi.
Jheni
langsung mengangkat kepalanya, menoleh ke arah Yeriko.
“Sini,
Jhen ...! Kamu pakai high heels gitu. Ntar kaki kamu lecet,” pinta Yuna sambil
menepuk-nepuk kursi yang ada di sisinya.
Jheni
tersenyum, ia bangkit dan duduk di sebelah Yuna.
Lutfi
masih berusaha mencerna pembicaraan teman-temannya, hingga beberapa menit, ia
masih saja tidak mengerti. “Chan, kenapa kamu yang donor darah buat Icha?”
“Darahnya
Icha nggak cocok sama mamanya,” jawab Chandra santai.
“Chan,
darah kamu AB. Darahku O. Kemarin, Icha bisa donorin darahnya ke aku. Kenapa
dia nggak bisa donor darah ke mamanya?”
“Karena
golongan darah mereka beda, Lut,” jawab Chandra.
“Bukan
gitu ... aih, maksudku, kenapa darahnya Icha nggak cocok sama mamanya?”
Chandra
mengedikkan bahunya.
Lutfi
mengedarkan pandangannya. Menatap wajah semua orang satu per satu. “Aku tahu,
orang yang memiliki golongan darah AB, nggak mungkin
melahirkan seorang anak bergolongan darah O,” gumam Lutfi.
Icha
langsung menoleh ke arah Lutfi. “Maksud kamu? Aku bukan anaknya mama!?” seru
Icha.
Lutfi
menatap wajah Icha penuh kepedihan. Ia manggut-manggut kecil. “Bisa jadi ...
dia bukan mama kamu.”
“Nggak
mungkin, Lut. Semua orang bilang kalau aku ini anak kandungnya mama. Apa
keluargaku memang menyembunyikan ini semua dari aku? Aku harus minta penjelasan
dari abahku!”
Lutfi
mengangguk sambil merengkuh kepala Icha ke pelukannya. “Cha, cuma mama kamu
yang bisa menjelaskan ini semua. Kita tunggu dia bangun, baru tanyain apa yang
sebenarnya terjadi,” tutur Lutfi lembut.
“Cha,
jangan-jangan mama kamu itu emang sengaja membohongi kamu selama ini?” tanya
Jheni.
“Aku
nggak tahu, Jhen,” jawab Icha sambil meneteskan air mata. “Kalau aku
bukan anak mama, aku ini siapa?”
Lutfi
mengelus-elus pundak Icha. “Aku nggak peduli siapa kamu sebenarnya. Aku akan
tetap ada di samping kamu,” tuturnya sambil mengecup ujung kepala Icha.
“Cha,
kamu bawa Lutfi ke ruangannya!” perintah Yeriko.
“Tapi
...”
“Mama
kamu udah mau dipindahkan ke ruang rawat. Lagi diurus sama Riyan supaya bisa
dekat sama ruangan Lutfi. Kasihan Lutfi, dia masih butuh banyak istirahat.”
Icha
menganggukkan kepala. Ia bangkit dari tempat duduk dan membawa Lutfi kembali ke
ruang rawatnya.
Jheni
dan yang lainnya saling pandang.
“Kenapa
masalah Icha malah makin rumit kayak gini?” tanya Jheni.
Yuna
menghela napas. “Aku juga nggak ngerti, Jhen. Masalah dia sama keluarganya
Lutfi aja belum beres. Sekarang, dia harus berhadapan sama masalah internal
keluarganya. Aku nggak tega lihat dia kayak gini,” jawab Yuna sambil memijat
pergelangan kakinya yang tiba-tiba terasa keram.
“Kaki
kamu kenapa?” tanya Yeriko.
Yuna
menggelengkan kepala. “Kesemutan.”
Yeriko
langsung berjongkok di depan Yuna dan menarik kaki istrinya itu perlahan.
“Nggak
usah! Nggak enak dilihatin banyak orang,” tutur Yuna sambil menarik kakinya.
“Nggak papa, kok. Cuma kesemutan.”
Yeriko
tak memperdulikan ucapan Yuna. Ia tetap meraih kaki Yuna. Melepas sepatu Yuna
dan memijatnya perlahan.
Yuna
memerhatikan wajah suaminya dengan perasaan berbunga-bunga.
“Udah
enakan?” tanya Yeriko.
Yuna
menganggukkan kepala sambil tersenyum.
Yeriko
kembali memakaikan sepatu Yuna dan bangkit dari lantai. “Kita ke ruangan Lutfi
aja!” ajaknya.
“Ayo,
Jhen ...!” ajak Yuna.
Jheni
mengangguk. Mereka bergegas menuju ke ruang rawat Lutfi.
“Kalian
ngapain pada ikut ke sini?” tanya Lutfi begitu Yeriko dan yang lainnya masuk ke
dalam ruang rawatnya.
“Mau
gangguin kamu!” dengus Jheni sambil merebahkan tubuhnya ke sofa.
“Astaga
...! Kalian ini tega banget. Nggak tahu apa kalo aku lagi mau berduaan sama
Icha,” tutur Lutfi sambil menahan tawa.
“Apaan
sih!?” dengus Icha sambil mencubit pinggang Lutfi.
“Aw
...! Sakit, Cha.” Lutfi memegang pinggang yang dicubit Icha.
“Ini
rumah sakit, bukan tempat pacaran!” seru Yuna sambil menatap Lutfi.
“Paling
enak pacaran di rumah sakit. Mandi aja dimandiin,” sahut Lutfi sambil menahan
tawa.
“Aku
nggak pernah mandiin kamu,” sahut Icha.
“Aku
nggak bilang kalau kamu mandiin aku,” tutur Lutfi sambil menatap wajah Icha.
“Tapi,
kamu ngomong kayak gitu ... mereka bisa mikir kalau selama ini aku mandiin
kamu.”
“Masa,
sih? Iya, Jhen?” tanya Lutfi sambil menatap Jheni.
Jheni
menganggukkan kepala.
Lutfi
tersenyum. Ia menoleh ke arah Icha sambil mendekatkan wajahnya. “Gimana kalau
pemikiran mereka itu ... kita buat jadi kenyataan?” bisiknya.
“Piktor
banget!” sahut Icha sambil beranjak pergi dan menghampiri Yuna yang duduk di
sofa bersama yang lainnya.
“Tega
bener ngatain pacar sendiri piktor?” celetuk Lutfi. “Harusnya, kamu yang
mandiin aku biar bersih sampe ke pikiranku juga. Jadi, pikiranku nggak kotor
lagi,” lanjutnya.
“Kita
denger loh,” sahut Jheni tanpa menoleh ke arah Lutfi.
“Biar
aja. Pacar nggak punya perasaan,” tutur Lutfi sambil membaringkan tubuhnya ke
tempat tidur.
Icha
menghela napas. “Kumat manjanya,” celetuknya kesal.
“Lut,
kamu itu udah bisa bikin anak. Jangan bertingkah kayak anak-anak!” seru Yeriko.
“Kamu
yang udah berhasil bikin anak, juga masih bertingkah kayak anak-anak,” sahut
Lutfi tak mau kalah.
Yeriko
langsung menoleh ke arah Lutfi. “Kapan aku bertingkah kayak anak-anak?”
“Tunggu
aku ciumin Kakak Ipar ya!?” ancam Lutfi sambil bangkit dari tempat tidur.
“Coba
kalo berani!”
“Siapa
yang takut?” Lutfi langsung turun dari tempat tidur. Ia melangkah mendekati
Yeriko dan lainnya yang sedang duduk santai di sofa. Namun, langkahnya terhenti
saat pintu ruangan tiba-tiba terbuka.
Lutfi
terpaku menatap sosok yang datang dari balik pintu tersebut.
“Kenapa
nggak kasih kabar kalau kamu sakit? Kamu udah nggak anggap saya?”
Lutfi
meringis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku nggak papa. Udah
sehat. Sebentar lagi bisa keluar dari rumah sakit ini.”
“Kalau
asisten kamu nggak bilang ke saya. Sampai kapan kamu mau menyembunyikan ini
dari saya?”
“Aiih
... Nenek, jangan marah-marah dulu!” pinta Lutfi sambil menghampiri neneknya.
“Aku nggak papa, Nek. Nenek duduk dulu!” pinta Lutfi dengan ramah.
“Awas,
Chan!” Lutfi menendang kaki Chandra agar memberikan tempat duduk untuk
neneknya.
Chandra
mengangguk sopan ke arah nenek Lutfi dan bangkit dari duduknya. “Silakan duduk,
Nek!”
Nenek
Lutfi tersenyum, ia langsung duduk di sofa tersebut.
“Nenek
ke sini sama siapa?” tanya Lutfi.
“Kamu
lihat sama siapa?” tanya Nenek Lutfi balik.
Lutfi
langsung melirik asistennya yang berdiri di dekat pintu. “Heh, aku udah bilang,
jangan kasih tahu nenek. Kamu tahu nenek sudah tua, kamu kira Jakarta-Surabaya
dekat?” seru Lutfi.
“Deket,
Mas. Cuma satu jam setengah,” sahut asisten tersebut.
“Kamu
...!? Udah berani jawab, hah!?” sentak Lutfi.
Asisten
tersebut menundukkan kepala. “Kan Mas Lutfi yang ajarin,” celetuknya.
“Kamu
...!?” Lutfi mendelik ke arah asistennya tersebut dan bersiap melemparkan gelas
yang ada di atas meja.
“Lut,
jangan emosi gini!” pinta Icha sambil menahan tubuh Lutfi.
“Awas
kamu ya! Kalo bukan gajimu yang aku sunat, kamu yang kusunat lagi!” seru Lutfi.
“Ehem
...! Kamu nggak menghargai keberadaan saya? Asisten kamu ini, masih ada di
bawah perintah Nenek. Kalau sampai kamu potong gaji dia, burungmu yang Nenek
potong!”
Lutfi
langsung memegangi alat vitalnya. “Astaga! Nenek tega banget sama cucu sendiri.
Ngerasain kawin aja belum pernah, main potong aja.”
“Hahaha.”
Chandra tergelak. Diiringi dengan tawa yang lainnya.
“Kalian
semua senang lihat aku tertindas kayak gini?” seru Lutfi.
“Pemandangan
langka, Lut,” sahut Yuna sambil menahan tawa.
“KAKAK
IPAR ...!?”
Semua
orang justru tertawa melihat tingkah Lutfi. Walau Lutfi berpura-pura menderita,
tapi wajah cerianya sudah mulai kembali. Tidak murung seperti beberapa hari
belakangan karena harus menghadapi kenyataan kalau wanita yang ia cintai adalah
adiknya sendiri. Kini, ia bisa tersenyum lega karena Icha bukanlah adiknya.
Hanya saja, banyak pertanyaan yang harus ia utarakan di hadapan neneknya.
((Bersambung ...))
Thanks udah baca sampai di sini. Dukung terus
ya biar tetep bertahan di Rank dan aku makin semangat nulis ceritanya.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment