Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 392 : Masa Lalu Penuh Tanya

 


“Dokter, gimana keadaan mama saya?” tanya Icha saat dokter yang merawat mamanya keluar dari ruang IGD.

“Pasien sudah melewati masa kritisnya. Akan kami pindahkan ke ruang perawatan. Semoga pasien bisa sadar secepatnya.”

“Terima kasih, Dokter!” ucap Icha.

Dokter tersebut mengangguk dan bergegas pergi.

“Lutfi ...!?” Jheni terkejut saat melihat Lutfi melangkah ke arahnya.

Icha langsung menoleh ke arah Lutfi. “Kenapa ikut ke sini? Kamu masih sakit,” tuturnya sambil menghampiri Lutfi.

“Aku khawatir sama kamu,” ucap Lutfi sambil tersenyum.

“Duduk ...!” pinta Icha sambil membantu Lutfi untuk duduk di kursi tunggu.

Lutfi langsung duduk sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding. Ia memegangi perutnya yang masih terasa nyeri.

“Gimana keadaan Ibu Ratna?” tanya Lutfi lirih.

“Baik-baik aja. Sudah ditangani,” jawab Yeriko.

“Chandra ...!?” Jheni menoleh ke arah Chandra yang berjalan menghampiri mereka.

Chandra tersenyum, ia langsung duduk di samping Lutfi.

“Kamu kenapa?” tanya Lutfi sambil menoleh ke arah Chandra. Ia melihat lengan Chandra yang mengenakan perban.

“Abis donor darah buat Ibu Ratna,” jawab Chandra. Ia menatap Jheni yang masih berdiri di hadapannya. “Ini, buat kamu.” Ia menyodorkan sekotak susu dan beberapa snack yang ia bawa.

“Kamu yang donor, kenapa dikasih ke aku? Ntar lemes,” sahut Jheni.

Chandra menatap Jheni sambil tersenyum. “Aku masih kenyang banget.”

Jheni tersenyum, ia berjongkok di depan Chandra sambil memegang kedua pinggang pria itu.

“Jangan jongkok di lantai!” pinta Chandra.

“Nggak papa. Dari tadi udah duduk di kursi ini.” Jheni meletakkan satu pipinya ke paha Chandra.

Chandra tersenyum kecil sambil mengusap pipi Jheni. Gadis yang selalu meluapkan perasaan cintanya dengan kemarahan. Tapi selalu menemani dan memberikannya banyak kehangatan.

“Duduk sini, Jhen!” pinta Yeriko sambil bangkit dari kursi.

Jheni langsung mengangkat kepalanya, menoleh ke arah Yeriko.

“Sini, Jhen ...! Kamu pakai high heels gitu. Ntar kaki kamu lecet,” pinta Yuna sambil menepuk-nepuk kursi yang ada di sisinya.

Jheni tersenyum, ia bangkit dan duduk di sebelah Yuna.

Lutfi masih berusaha mencerna pembicaraan teman-temannya, hingga beberapa menit, ia masih saja tidak mengerti. “Chan, kenapa kamu yang donor darah buat Icha?”

“Darahnya Icha nggak cocok sama mamanya,” jawab Chandra santai.

“Chan, darah kamu AB. Darahku O. Kemarin, Icha bisa donorin darahnya ke aku. Kenapa dia nggak bisa donor darah ke mamanya?”

“Karena golongan darah mereka beda, Lut,” jawab Chandra.

“Bukan gitu ... aih, maksudku, kenapa darahnya Icha nggak cocok sama mamanya?”

Chandra mengedikkan bahunya.

Lutfi mengedarkan pandangannya. Menatap wajah semua orang satu per satu. “Aku tahu, orang yang memiliki golongan darah AB, nggak mungkin melahirkan seorang anak bergolongan darah O,” gumam Lutfi.

Icha langsung menoleh ke arah Lutfi. “Maksud kamu? Aku bukan anaknya mama!?” seru Icha.

Lutfi menatap wajah Icha penuh kepedihan. Ia manggut-manggut kecil. “Bisa jadi ... dia bukan mama kamu.”

“Nggak mungkin, Lut. Semua orang bilang kalau aku ini anak kandungnya mama. Apa keluargaku memang menyembunyikan ini semua dari aku? Aku harus minta penjelasan dari abahku!”

Lutfi mengangguk sambil merengkuh kepala Icha ke pelukannya. “Cha, cuma mama kamu yang bisa menjelaskan ini semua. Kita tunggu dia bangun, baru tanyain apa yang sebenarnya terjadi,” tutur Lutfi lembut.

“Cha, jangan-jangan mama kamu itu emang sengaja membohongi kamu selama ini?” tanya Jheni.

“Aku nggak tahu, Jhen,” jawab Icha  sambil meneteskan air mata. “Kalau aku bukan anak mama, aku ini siapa?”

Lutfi mengelus-elus pundak Icha. “Aku nggak peduli siapa kamu sebenarnya. Aku akan tetap ada di samping kamu,” tuturnya sambil mengecup ujung kepala Icha.

“Cha, kamu bawa Lutfi ke ruangannya!” perintah Yeriko.

“Tapi ...”

“Mama kamu udah mau dipindahkan ke ruang rawat. Lagi diurus sama Riyan supaya bisa dekat sama ruangan Lutfi. Kasihan Lutfi, dia masih butuh banyak istirahat.”

Icha menganggukkan kepala. Ia bangkit dari tempat duduk dan membawa Lutfi kembali ke ruang rawatnya.

Jheni dan yang lainnya saling pandang.

“Kenapa masalah Icha malah makin rumit kayak gini?” tanya Jheni.

Yuna menghela napas. “Aku juga nggak ngerti, Jhen. Masalah dia sama keluarganya Lutfi aja belum beres. Sekarang, dia harus berhadapan sama masalah internal keluarganya. Aku nggak tega lihat dia kayak gini,” jawab Yuna sambil memijat pergelangan kakinya yang tiba-tiba terasa keram.

“Kaki kamu kenapa?” tanya Yeriko.

Yuna menggelengkan kepala. “Kesemutan.”

Yeriko langsung berjongkok di depan Yuna dan menarik kaki istrinya itu perlahan.

“Nggak usah! Nggak enak dilihatin banyak orang,” tutur Yuna sambil menarik kakinya. “Nggak papa, kok. Cuma kesemutan.”

Yeriko tak memperdulikan ucapan Yuna. Ia tetap meraih kaki Yuna. Melepas sepatu Yuna dan memijatnya perlahan.

Yuna memerhatikan wajah suaminya dengan perasaan berbunga-bunga.

“Udah enakan?” tanya Yeriko.

Yuna menganggukkan kepala sambil tersenyum.

Yeriko kembali memakaikan sepatu Yuna dan bangkit dari lantai. “Kita ke ruangan Lutfi aja!” ajaknya.

“Ayo, Jhen ...!” ajak Yuna.

Jheni mengangguk. Mereka bergegas menuju ke ruang rawat Lutfi.

“Kalian ngapain pada ikut ke sini?” tanya Lutfi begitu Yeriko dan yang lainnya masuk ke dalam ruang rawatnya.

“Mau gangguin kamu!” dengus Jheni sambil merebahkan tubuhnya ke sofa.

“Astaga ...! Kalian ini tega banget. Nggak tahu apa kalo aku lagi mau berduaan sama Icha,” tutur Lutfi sambil menahan tawa.

“Apaan sih!?” dengus Icha sambil mencubit pinggang Lutfi.

“Aw ...! Sakit, Cha.” Lutfi memegang pinggang yang dicubit Icha.

“Ini rumah sakit, bukan tempat pacaran!” seru Yuna sambil menatap Lutfi.

“Paling enak pacaran di rumah sakit. Mandi aja dimandiin,” sahut Lutfi sambil menahan tawa.

“Aku nggak pernah mandiin kamu,” sahut Icha.

“Aku nggak bilang kalau kamu mandiin aku,” tutur Lutfi sambil menatap wajah Icha.

“Tapi, kamu ngomong kayak gitu ... mereka bisa mikir kalau selama ini aku mandiin kamu.”

“Masa, sih? Iya, Jhen?” tanya Lutfi sambil menatap Jheni.

Jheni menganggukkan kepala.

Lutfi tersenyum. Ia menoleh ke arah Icha sambil mendekatkan wajahnya. “Gimana kalau pemikiran mereka itu ... kita buat jadi kenyataan?” bisiknya.

“Piktor banget!” sahut Icha sambil beranjak pergi dan menghampiri Yuna yang duduk di sofa bersama yang lainnya.

“Tega bener ngatain pacar sendiri piktor?” celetuk Lutfi. “Harusnya, kamu yang mandiin aku biar bersih sampe ke pikiranku juga. Jadi, pikiranku nggak kotor lagi,” lanjutnya.

“Kita denger loh,” sahut Jheni tanpa menoleh ke arah Lutfi.

“Biar aja. Pacar nggak punya perasaan,” tutur Lutfi sambil membaringkan tubuhnya ke tempat tidur.

Icha menghela napas. “Kumat manjanya,” celetuknya kesal.

“Lut, kamu itu udah bisa bikin anak. Jangan bertingkah kayak anak-anak!” seru Yeriko.

“Kamu yang udah berhasil bikin anak, juga masih bertingkah kayak anak-anak,” sahut Lutfi tak mau kalah.

Yeriko langsung menoleh ke arah Lutfi. “Kapan aku bertingkah kayak anak-anak?”

“Tunggu aku ciumin Kakak Ipar ya!?” ancam Lutfi sambil bangkit dari tempat tidur.

“Coba kalo berani!”

“Siapa yang takut?” Lutfi langsung turun dari tempat tidur. Ia melangkah mendekati Yeriko dan lainnya yang sedang duduk santai di sofa. Namun, langkahnya terhenti saat pintu ruangan tiba-tiba terbuka.

Lutfi terpaku menatap sosok yang datang dari balik pintu tersebut.

“Kenapa nggak kasih kabar kalau kamu sakit? Kamu udah nggak anggap saya?”

Lutfi meringis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku nggak papa. Udah sehat. Sebentar lagi bisa keluar dari rumah sakit ini.”

“Kalau asisten kamu nggak bilang ke saya. Sampai kapan kamu mau menyembunyikan ini dari saya?”

“Aiih ... Nenek, jangan marah-marah dulu!” pinta Lutfi sambil menghampiri neneknya. “Aku nggak papa, Nek. Nenek duduk dulu!” pinta Lutfi dengan ramah.

“Awas, Chan!” Lutfi menendang kaki Chandra agar memberikan tempat duduk untuk neneknya.

Chandra mengangguk sopan ke arah nenek Lutfi dan bangkit dari duduknya. “Silakan duduk, Nek!”

Nenek Lutfi tersenyum, ia langsung duduk di sofa tersebut.

“Nenek ke sini sama siapa?” tanya Lutfi.

“Kamu lihat sama siapa?” tanya Nenek Lutfi balik.

Lutfi langsung melirik asistennya yang berdiri di dekat pintu. “Heh, aku udah bilang, jangan kasih tahu nenek. Kamu tahu nenek sudah tua, kamu kira Jakarta-Surabaya dekat?” seru Lutfi.

“Deket, Mas. Cuma satu jam setengah,” sahut asisten tersebut.

“Kamu ...!? Udah berani jawab, hah!?” sentak Lutfi.

Asisten tersebut menundukkan kepala. “Kan Mas Lutfi yang ajarin,” celetuknya.

“Kamu ...!?” Lutfi mendelik ke arah asistennya tersebut dan bersiap melemparkan gelas yang ada di atas meja.

“Lut, jangan emosi gini!” pinta Icha sambil menahan tubuh Lutfi.

“Awas kamu ya! Kalo bukan gajimu yang aku sunat, kamu yang kusunat lagi!” seru Lutfi.

“Ehem ...! Kamu nggak menghargai keberadaan saya? Asisten kamu ini, masih ada di bawah perintah Nenek. Kalau sampai kamu potong gaji dia, burungmu yang Nenek potong!”

Lutfi langsung memegangi alat vitalnya. “Astaga! Nenek tega banget sama cucu sendiri. Ngerasain kawin aja belum pernah, main potong aja.”

“Hahaha.” Chandra tergelak. Diiringi dengan tawa yang lainnya.

“Kalian semua senang lihat aku tertindas kayak gini?” seru Lutfi.

“Pemandangan langka, Lut,” sahut Yuna sambil menahan tawa.

“KAKAK IPAR ...!?”

Semua orang justru tertawa melihat tingkah Lutfi. Walau Lutfi berpura-pura menderita, tapi wajah cerianya sudah mulai kembali. Tidak murung seperti beberapa hari belakangan karena harus menghadapi kenyataan kalau wanita yang ia cintai adalah adiknya sendiri. Kini, ia bisa tersenyum lega karena Icha bukanlah adiknya. Hanya saja, banyak pertanyaan yang harus ia utarakan di hadapan neneknya. 

 

((Bersambung ...))

Thanks udah baca sampai di sini. Dukung terus ya biar tetep bertahan di Rank dan aku makin semangat nulis ceritanya.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas