Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 391 : Icha Anak Siapa?

 


“Cepetan pake bajunya!” perintah Yeriko sambil memakai kaosnya usai mandi.

 

“Bantuin ...!” pinta Yuna sambil menyodorkan punggungnya ke arah Yeriko.

 

“Sempit lagi?” tanya Yeriko.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Katanya suruh cepet? Bantuin kancingin!” pinta Yuna.

 

Yeriko langsung menarik ujung bra dan menautkan kancing bra yang ada di belakang punggung Yuna. “Udah.”

 

“Thank you!” ucap Yuna sambil tersenyum. Ia menatap deretan pakaian yang tergantung di dalam lemarinya. Ia mengetuk-ngetuk dagu sambil memerhatikan pakaiannya satu per satu.

 

“Cepetan, Yun!” perintah Yeriko. “Riyan barusan telepon ...”

 

“Sebentar, sabar!” pinta Yuna santai.

 

Yeriko langsung menarik satu dress dan meletakkannya di dada Yuna. “Pake ini aja!” pintanya.

 

“Eh!? Tapi ...”

 

“Bu Ratna coba buat bunuh diri. Kita harus ke rumah sakit sekarang. Riyan bilang, keadaannya cukup kritis.”

 

“Hah!?”

 

“Cepetan pakai bajunya!” perintah Yeriko.

 

Yuna bergegas memakai bajunya secepat kilat. Yeriko membantunya mengambil sepasang flat shoes warna mocca dan tas tangan yang senada dengan warna sepatu Yuna.

 

Icha udah dikasih tahu?” tanya Yuna sambil menyisir rambutnya asal-asalan. Ia bergegas memasukkan dompet dan ponselnya ke dalam tas dan melangkah keluar kamar bersama Yeriko.

 

 

 

...

 

 

 

Sesampainya di rumah sakit, Yuna langsung menghampiri Riyan yang sedang menunggu di depan ruang IGD.

 

“Gimana keadaan Ibu Ratna?” tanya Yuna.

 

“Kritis,” jawab Riyan lirih.

 

Yuna langsung menoleh ke arah Yeriko yang berdiri di sampingnya.

 

“Kenapa dia sampai mencoba bunuh diri?” tanya Yeriko sambil menatap Riyan.

 

Riyan menggelengkan kepala. “Kondisi mental beliau memang tidak stabil. Sulit mendapatkan informasi karena ucapannya selalu berubah-ubah.”

 

Yeriko menghela napas. Apa pun yang terjadi, ia tidak akan melepaskan Ibu Ratna dengan mudah.

 

“Yan, gimana keadaan mamaku!?” seru Icha. Ia langsung menghampiri Riyan sambil terisak.

 

“Masih di dalam ruang IGD,” jawab Riyan.

 

Di saat yang bersamaan, dokter dan dua orang perawat keluar dari pintu IGD.

 

“Gimana keadaan mama saya, Dok?” tanya Icha, ia langsung menghampiri dokter tersebut.

 

“Beliau, ibu kamu?”

 

Icha menganggukkan kepala, diiringi dengan anggukkan kepala Yuna dan yang lainnya.

 

“Ibu Ratna kehilangan banyak darah. Beliau butuh transfusi darah secepatnya. Tapi, stok darah kami masih kosong.”

 

“Ambil darah saya aja, Dok!” pinta Icha. “Saya anaknya.”

 

Dokter tersebut mengangguk. Ia menoleh ke arah perawat yang ada di sampingnya. “Cepat kerjakan! Kita butuh darah ini secepatnya!”

 

Perawat tersebut menganggukkan kepala dan mengajak Icha pergi ke Unit Transfusi Darah.

 

“Mbaknya tahu golongan darahnya apa?” tanya perawat tersebut.

 

Icha menggelengkan kepala. “Saya belum pernah periksa darah. Tapi, saya anaknya Ibu Ratna. Golongan darah kami pasti sama.”

 

Perawat itu tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Kami tetap lakukan pengecekan terlebih dahulu ya, Mbak.”

 

Icha menganggukkan kepala.

 

“Silakan duduk!” pinta salah seorang petugas di ruangan tersebut.

 

“Suster, pasien yang akan menerima donor darah, golongan AB,” tutur perawat tersebut.

 

Petugas yang diajak bicara menganggukkan kepala. Ia mengambil sampel darah Icha dan memeriksanya.

 

“Suster, kita nggak bisa melakukan transfusi darah,” tutur petugas yang sudah selesai memeriksa darah Icha.

 

Icha yang mendengar suara petugas tersebut langsung menoleh. “Kenapa, Suster?” tanyanya panik. “Saya nggak punya penyakit apa-apa. Kenapa nggak bisa donorin darah buat mama saya?”

 

Petugas di dalam ruangan tersebut saling pandang. “Golongan darah Mbak, berbeda dengan golongan darah mamanya.”

 

“Hah!?”

 

“Dari hasil tes, golongan darah Mbak Icha adalah O. Sedangkan Bu Ratna memiliki golongan darah AB.”

 

“Nggak mungkin, Suster!” sahut Icha. “Saya ini anaknya. Nggak mungkin golongan darah kami beda. Ini pasti ada kesalahan!” serunya.

 

“Maaf, Mbak. Kami sudah melakukan tiga kali pengecekkan dan hasilnya tetap sama.”

 

“Nggak mungkin, Sus.” Pikiran Icha tiba-tiba melayang-layang entah ke mana. Kakinya lemah, ia memaksa kakinya tetap berdiri dan melangkah keluar dari ruangan tersebut sambil menangis.

 

“Cha, gimana?” tanya Yuna begitu melihat tubuh Icha berjalan perlahan menghampirinya.

 

Icha langsung menjatuhkan tubuhnya ke pelukkan Yuna. Ia terisak dalam pelukan Yuna.

 

“Ke ... kenapa, Cha?” tanya Yuna bingung.

 

“Aku nggak bisa nolongin mamaku, Yun!” tutur Icha histeris. “Darahku nggak cocok sama mama.”

 

“Hah!? Kok, bisa?”

 

Icha menggelengkan kepala. Ia terus menangis di pelukkan Yuna. “Aku nggak tahu, Yun. Aku nggak tahu, hiks ... hiks.”

 

“Cha, kamu tenang dulu!” pinta Yuna sambil mengelus lembut pundak Icha. “Pasti ada jalan keluar buat nolong mama kamu.”

 

“Permisi ...! Keluarga pasien Ibu Ratna yang mana?” tanya seorang perawat yang tiba-tiba menghampiri mereka.

 

Icha langsung melepas pelukannya dan menoleh ke arah perawat tersebut.

 

“Saya yang bertanggung jawab atas Ibu Ratna.” Yeriko langsung mengambil alih keadaan.

 

“Ibu Ratna membutuhkan darah AB secepatnya. Sementara, stok di tempat kami sedang kosong. Kami sudah menghubungi pihak PMI pusat, mereka juga kehabisan stok darah AB.”

 

“Yan, carikan darah AB. Kalau perlu, hubungi HRD perusahaan untuk mencari karyawan yang punya golongan darah AB.”

 

Riyan menganggukkan kepala. “Siap, Pak Bos!” Ia bergegas pergi meninggalkan rumah sakit untuk mencari orang lain yang bisa mentransfusi darah untuk Ibu Ratna.

 

“Cha, Sorry ...! Kami telat,” sapa Jheni dengan napas tersengal. Ia dan Chandra datang bersamaan.

 

Icha masih saja terisak. Ia bukan hanya mengkhawatirkan mamanya yang sedang kritis. Tapi ia juga sedih karena mengetahui kalau ia tidak bisa menolong nyawa mamanya sendiri.

 

“Kenapa darahku nggak cocok sama Mama?” Icha terus terisak.

 

“Hah!?” Jheni melongo mendengar ucapan Icha.

 

“Jhen, Bu Ratna butuh transfusi darah. Darahnya Icha nggak cocok.”

 

“Kok, bisa?”

 

Icha menggelengkan kepala, air matanya terus keluar membanjiri pipinya.

 

“Golongan darah Mama kamu apa?” tanya Jheni.

 

“AB,” jawab Yuna.

 

“Icha?”

 

“Golongan darahku O, Jhen,” jawab Icha sambil menangis.

 

“Mbak Icha, saya yang menjaga Ibu Ratna di Menur. Saya juga seorang perawat. Setahu saya, golongan darah AB bisa menerima transfusi darah dari semua golongan darah yang lain,” sela perawat yang juga masih menunggu keadaan Ibu Ratna.

 

Semua orang langsung menoleh ke arah perawat tersebut.

 

Icha menghapus air matanya. “Jadi, sebenarnya aku tetap bisa donorin darahku ke mama?”

 

Perawat itu menganggukkan kepala. “Tapi, dokter juga punya kebijakan kenapa lebih memilih golongan darah yang sama untuk Recipient.”

 

Icha yang baru saja memiliki sedikit harapan, tiba-tiba kembali tak bersemangat.

 

“Kalian nggak usah khawatir, golongan darahku AB,” tutur Chandra.

 

“Kenapa nggak bilang dari tadi!?” dengus Yeriko. Ia langsung menarik lengan Chandra.

 

“Masa kamu lupa sama golongan darahku? Aku aja ingat sama golongan darahmu, Yer.”

 

“Aih, nggak usah ngajak berdebat!” pinta Yeriko. Ia menoleh ke arah perawat yang menangani Ibu Ratna. “Suster, golongan darah dia AB. Ambil aja darahnya sebanyak-banyaknya!” pinta Yeriko. “Ngeselin ...!”

 

Perawat yang bertugas mengangguk. Ia segera membawa Chanda ke Unit Transfusi Darah untuk melakukan pengecekkan terlebih dahulu sebelum mengambil darah Chandra untuk didonorkan.

 

Jheni menghela napas lega.

 

“Untungnya kalian cepet datang ke sini,” tutur Icha sambil menatap Jheni.

 

Jheni menganggukkan kepala. “Sabar ya!” ucapnya sambil memeluk tubuh Icha. Di kepalanya masih ada pertanyaan besar soal golongan darah Icha yang berbeda dengan ibunya sendiri. Ia baru saja menerima kabar kalau Icha dan Lutfi bukanlah kakak-beradik. Kini, ia juga harus melihat kenyataan kalau Icha memiliki golongan darah yang berbeda dengan mamanya sendiri.

 

Yuna ikut menenangkan Icha. Walau dalam hatinya ada banyak pertanyaan. Ia lebih memilih memendamnya terlebih dahulu agar tidak membuat Icha semakin sedih.

 

Jheni berusaha untuk tersenyum, menyalurkan kekuatan untuk sahabatnya itu. “Cha, siapa kamu sebenarnya?” batin Jheni sambil menatap Icha penuh kepedihan.

 

Jheni mengingat dengan jelas apa yang tak sengaja ia baca di internet beberapa hari lalu. Suami atau istri yang memiliki golongan darah AB, tidak mungkin memiliki keturunan dengan golongan darah O. Ternyata, ini semua terjadi pada sahabatnya sendiri dan membuat dirinya terus bertanya-tanya. Hanya saja, Jheni belum bisa membuka mulut untuk bertanya banyak hal karena Icha terlihat sangat menderita.

 

 ((Bersambung ...))

Thanks udah baca sampai di sini ... Makin penasaran? Ikuti terus kisah serunya ya!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas