“Cepetan
pake bajunya!” perintah Yeriko sambil memakai kaosnya usai mandi.
“Bantuin
...!” pinta Yuna sambil menyodorkan punggungnya ke arah Yeriko.
“Sempit
lagi?” tanya Yeriko.
Yuna
menggelengkan kepala. “Katanya suruh cepet? Bantuin kancingin!” pinta Yuna.
Yeriko
langsung menarik ujung bra dan menautkan kancing bra yang ada di belakang
punggung Yuna. “Udah.”
“Thank
you!” ucap Yuna sambil tersenyum. Ia menatap deretan pakaian yang tergantung di
dalam lemarinya. Ia mengetuk-ngetuk dagu sambil memerhatikan pakaiannya satu
per satu.
“Cepetan,
Yun!” perintah Yeriko. “Riyan barusan telepon ...”
“Sebentar,
sabar!” pinta Yuna santai.
Yeriko
langsung menarik satu dress dan meletakkannya di dada Yuna. “Pake ini aja!”
pintanya.
“Eh!?
Tapi ...”
“Bu
Ratna coba buat bunuh diri. Kita harus ke rumah sakit sekarang. Riyan bilang,
keadaannya cukup kritis.”
“Hah!?”
“Cepetan
pakai bajunya!” perintah Yeriko.
Yuna
bergegas memakai bajunya secepat kilat. Yeriko membantunya mengambil sepasang
flat shoes warna mocca dan tas tangan yang senada dengan warna sepatu Yuna.
“Icha udah
dikasih tahu?” tanya Yuna sambil menyisir rambutnya asal-asalan. Ia bergegas
memasukkan dompet dan ponselnya ke dalam tas dan melangkah keluar kamar bersama
Yeriko.
...
Sesampainya
di rumah sakit, Yuna langsung menghampiri Riyan yang sedang menunggu di depan
ruang IGD.
“Gimana
keadaan Ibu Ratna?” tanya Yuna.
“Kritis,”
jawab Riyan lirih.
Yuna
langsung menoleh ke arah Yeriko yang berdiri di sampingnya.
“Kenapa
dia sampai mencoba bunuh diri?” tanya Yeriko sambil menatap Riyan.
Riyan
menggelengkan kepala. “Kondisi mental beliau memang tidak stabil. Sulit
mendapatkan informasi karena ucapannya selalu berubah-ubah.”
Yeriko
menghela napas. Apa pun yang terjadi, ia tidak akan melepaskan Ibu Ratna dengan
mudah.
“Yan,
gimana keadaan mamaku!?” seru Icha. Ia langsung menghampiri Riyan sambil
terisak.
“Masih
di dalam ruang IGD,” jawab Riyan.
Di
saat yang bersamaan, dokter dan dua orang perawat keluar dari pintu IGD.
“Gimana
keadaan mama saya, Dok?” tanya Icha, ia langsung menghampiri dokter tersebut.
“Beliau,
ibu kamu?”
Icha
menganggukkan kepala, diiringi dengan anggukkan kepala Yuna dan yang lainnya.
“Ibu
Ratna kehilangan banyak darah. Beliau butuh transfusi darah secepatnya. Tapi,
stok darah kami masih kosong.”
“Ambil
darah saya aja, Dok!” pinta Icha. “Saya anaknya.”
Dokter
tersebut mengangguk. Ia menoleh ke arah perawat yang ada di sampingnya. “Cepat
kerjakan! Kita butuh darah ini secepatnya!”
Perawat
tersebut menganggukkan kepala dan mengajak Icha pergi ke Unit Transfusi Darah.
“Mbaknya
tahu golongan darahnya apa?” tanya perawat tersebut.
Icha
menggelengkan kepala. “Saya belum pernah periksa darah. Tapi, saya anaknya Ibu
Ratna. Golongan darah kami pasti sama.”
Perawat
itu tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Kami tetap lakukan pengecekan
terlebih dahulu ya, Mbak.”
Icha
menganggukkan kepala.
“Silakan
duduk!” pinta salah seorang petugas di ruangan tersebut.
“Suster,
pasien yang akan menerima donor darah, golongan AB,” tutur perawat tersebut.
Petugas
yang diajak bicara menganggukkan kepala. Ia mengambil sampel darah Icha dan
memeriksanya.
“Suster,
kita nggak bisa melakukan transfusi darah,” tutur petugas yang sudah selesai
memeriksa darah Icha.
Icha
yang mendengar suara petugas tersebut langsung menoleh. “Kenapa, Suster?”
tanyanya panik. “Saya nggak punya penyakit apa-apa. Kenapa nggak bisa donorin
darah buat mama saya?”
Petugas
di dalam ruangan tersebut saling pandang. “Golongan darah Mbak, berbeda dengan
golongan darah mamanya.”
“Hah!?”
“Dari
hasil tes, golongan darah Mbak Icha adalah O. Sedangkan Bu Ratna memiliki
golongan darah AB.”
“Nggak
mungkin, Suster!” sahut Icha. “Saya ini anaknya. Nggak mungkin golongan darah
kami beda. Ini pasti ada kesalahan!” serunya.
“Maaf,
Mbak. Kami sudah melakukan tiga kali pengecekkan dan hasilnya tetap sama.”
“Nggak
mungkin, Sus.” Pikiran Icha tiba-tiba melayang-layang entah ke mana. Kakinya
lemah, ia memaksa kakinya tetap berdiri dan melangkah keluar dari ruangan
tersebut sambil menangis.
“Cha,
gimana?” tanya Yuna begitu melihat tubuh Icha berjalan perlahan menghampirinya.
Icha
langsung menjatuhkan tubuhnya ke pelukkan Yuna. Ia terisak dalam pelukan Yuna.
“Ke
... kenapa, Cha?” tanya Yuna bingung.
“Aku
nggak bisa nolongin mamaku, Yun!” tutur Icha histeris. “Darahku nggak cocok
sama mama.”
“Hah!?
Kok, bisa?”
Icha
menggelengkan kepala. Ia terus menangis di pelukkan Yuna. “Aku nggak tahu, Yun.
Aku nggak tahu, hiks ... hiks.”
“Cha,
kamu tenang dulu!” pinta Yuna sambil mengelus lembut pundak Icha. “Pasti ada
jalan keluar buat nolong mama kamu.”
“Permisi
...! Keluarga pasien Ibu Ratna yang mana?” tanya seorang perawat yang tiba-tiba
menghampiri mereka.
Icha
langsung melepas pelukannya dan menoleh ke arah perawat tersebut.
“Saya
yang bertanggung jawab atas Ibu Ratna.” Yeriko langsung mengambil alih keadaan.
“Ibu
Ratna membutuhkan darah AB secepatnya. Sementara, stok di tempat kami sedang
kosong. Kami sudah menghubungi pihak PMI pusat, mereka juga kehabisan stok
darah AB.”
“Yan,
carikan darah AB. Kalau perlu, hubungi HRD perusahaan untuk mencari karyawan
yang punya golongan darah AB.”
Riyan
menganggukkan kepala. “Siap, Pak Bos!” Ia bergegas pergi meninggalkan rumah
sakit untuk mencari orang lain yang bisa mentransfusi darah untuk Ibu Ratna.
“Cha,
Sorry ...! Kami telat,” sapa Jheni dengan napas tersengal. Ia dan Chandra
datang bersamaan.
Icha
masih saja terisak. Ia bukan hanya mengkhawatirkan mamanya yang sedang kritis.
Tapi ia juga sedih karena mengetahui kalau ia tidak bisa menolong nyawa mamanya
sendiri.
“Kenapa
darahku nggak cocok sama Mama?” Icha terus terisak.
“Hah!?”
Jheni melongo mendengar ucapan Icha.
“Jhen,
Bu Ratna butuh transfusi darah. Darahnya Icha nggak cocok.”
“Kok,
bisa?”
Icha
menggelengkan kepala, air matanya terus keluar membanjiri pipinya.
“Golongan
darah Mama kamu apa?” tanya Jheni.
“AB,”
jawab Yuna.
“Icha?”
“Golongan
darahku O, Jhen,” jawab Icha sambil menangis.
“Mbak
Icha, saya yang menjaga Ibu Ratna di Menur. Saya juga seorang perawat. Setahu
saya, golongan darah AB bisa menerima transfusi darah dari semua golongan darah
yang lain,” sela perawat yang juga masih menunggu keadaan Ibu Ratna.
Semua
orang langsung menoleh ke arah perawat tersebut.
Icha
menghapus air matanya. “Jadi, sebenarnya aku tetap bisa donorin darahku ke
mama?”
Perawat
itu menganggukkan kepala. “Tapi, dokter juga punya kebijakan kenapa lebih
memilih golongan darah yang sama untuk Recipient.”
Icha
yang baru saja memiliki sedikit harapan, tiba-tiba kembali tak bersemangat.
“Kalian
nggak usah khawatir, golongan darahku AB,” tutur Chandra.
“Kenapa
nggak bilang dari tadi!?” dengus Yeriko. Ia langsung menarik lengan Chandra.
“Masa
kamu lupa sama golongan darahku? Aku aja ingat sama golongan darahmu, Yer.”
“Aih,
nggak usah ngajak berdebat!” pinta Yeriko. Ia menoleh ke arah perawat yang
menangani Ibu Ratna. “Suster, golongan darah dia AB. Ambil aja darahnya sebanyak-banyaknya!” pinta Yeriko. “Ngeselin ...!”
Perawat
yang bertugas mengangguk. Ia segera membawa Chanda ke Unit Transfusi Darah
untuk melakukan pengecekkan terlebih dahulu sebelum mengambil darah Chandra
untuk didonorkan.
Jheni
menghela napas lega.
“Untungnya
kalian cepet datang ke sini,” tutur Icha sambil menatap Jheni.
Jheni
menganggukkan kepala. “Sabar ya!” ucapnya sambil memeluk tubuh Icha. Di
kepalanya masih ada pertanyaan besar soal golongan darah Icha yang berbeda
dengan ibunya sendiri. Ia baru saja menerima kabar kalau Icha dan Lutfi
bukanlah kakak-beradik. Kini, ia juga harus melihat kenyataan kalau Icha
memiliki golongan darah yang berbeda dengan mamanya sendiri.
Yuna
ikut menenangkan Icha. Walau dalam hatinya ada banyak pertanyaan. Ia lebih
memilih memendamnya terlebih dahulu agar tidak membuat Icha semakin sedih.
Jheni
berusaha untuk tersenyum, menyalurkan kekuatan untuk sahabatnya itu. “Cha,
siapa kamu sebenarnya?” batin Jheni sambil menatap Icha penuh kepedihan.
Jheni
mengingat dengan jelas apa yang tak sengaja ia baca di internet beberapa hari
lalu. Suami atau istri yang memiliki golongan darah AB, tidak mungkin memiliki
keturunan dengan golongan darah O. Ternyata, ini semua terjadi pada sahabatnya
sendiri dan membuat dirinya terus bertanya-tanya. Hanya saja, Jheni belum bisa
membuka mulut untuk bertanya banyak hal karena Icha terlihat sangat menderita.
((Bersambung ...))
Thanks udah baca sampai di sini ... Makin penasaran? Ikuti terus kisah
serunya ya!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment