Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 406 : Andre's Party

 


“Yun, kamu beneran nggak datang?” batin Andre sambil melirik arloji di tangannya. Semua tamu undangan sudah datang sejak tadi. Orang yang ia harapkan hadir, tak kunjung muncul walau ia menunggunya di pintu masuk.

 

Andre menghela napas. “Yun, sekarang susah banget buat ketemu sama kamu. Apa kamu nggak bisa menyempatkan diri datang ke acara ulang tahunku yang cum setahun sekali?” gumam Andre sambil mondar-mandir.

 

“Kak Andre ...!”

 

Andre langsung berbalik. Ia menatap Nirma yang sudah berdiri di belakangnya. “Ada apa?”

 

“Acara sudah mau dimulai. Kak Andre masih nunggu siapa?” tanya Nirma.

 

“Eh, oh ... eh, nggak nunggu siapa-siapa. Cuma nervous aja karena belum pernah ngerayain ulang tahun kayak gini,” jawab Andre sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

 

“Ah, bohong! Kak Andre kan kuliah di luar negeri. Pasti sering bikin pesta ulang tahun,” sahut Nirma.

 

“Cuma bikin pesta kecil bareng temen-temen deket doang. Nggak pernah bikin pesta seperti ini.”

 

“Tenang aja. Ada aku, Kak. Masuk yuk!” ajak Nirma sambil merangkul lengan Andre.

 

Andre mengangguk kecil. Kakinya masih berat untuk melangkah pergi. Ia melangkah perlahan menuju masuk perlahan. Di saat seperti itu, mobil Lamborghini biru muncul di belakangnya. Ia langsung memutar kepalanya sambil tersenyum.

 

“Dia siapa?” tanya Nirma, ia ikut menoleh menatap mobil yang baru saja parkir.

 

“Yeriko dan istrinya,” jawab Andre.

 

“Oh.”

 

Andre tersenyum sambil menatap Yeriko yang keluar seorang diri dari mobil tersebut. Harapannya tiba-tiba patah, ia tahu kalau Yuna tidak akan datang memenuhi undangannya. “Kamu sudah lupain semuanya?” batinnya.

 

Yeriko melangkah mengitari mobilnya dan membukakan pintu untuk Yuna.

 

Mata Andre langsung berbinar begitu melihat Yuna keluar dari mobil tersebut. Ia sangat bahagia melihat wajah Yuna yang terlihat sangat cantik dengan gaun mini yang membuat wanita itu terlihat seperti gadis belia yang masih berusia enam belas tahun.

 

Yeriko tersenyum, tangannya melingkar di pinggang Yuna. Ia melemparkan kunci mobilnya begitu saja pada penjaga pintu yang bertugas memarkirkan mobil dan melangkah perlahan memasuki halaman tempat acara pesta berlangsung.

 

“Malam, Ndre ...!” sapa Yuna.

 

“Malam ...” balas Andre sambil menatap wajah Yuna yang berseri. “Udah lama nggak lihat, kenapa kamu tambah cantik dan tambah ...” batin Andre sambil menatap mata Yuna yang berseri.

 

Yeriko langsung mengulurkan tangannya ke arah Andre. “Selamat, Ndre ...!” ucapnya singkat.

 

Andre gelagapan sambil berusaha mengalihkan pandangannya dari wajah Yuna. Ia menyambut uluran tangan Yeriko. “Thanks, Yer.”

 

Yeriko tersenyum. Ia menatap tajam ke arah Andre sambil mengeratkan genggaman tangannya. Ia tak bisa menyembunyikan perasaan kesalnya karena Andre terus memerhatikan Yuna.

 

“Oh ya, kenalin ... ini Nirma.” Andre melepas tangannya dari genggaman Yeriko dan memperkenalkan Nirma pada Yuna dan Yeriko.

 

“Hai ... salam kenal, Kak!” sapa Nirma dengan ceria.

 

“Salam kenal juga,” balas Yuna sambil tersenyum ramah. Ia melirik suaminya yang tak bereaksi sedikit pun.

 

Yeriko hanya tersenyum kecil menatap Nirma. Ia tak punya keinginan untuk menyapa gadis kecil itu apalagi bersalaman dengannya.

 

“Angkuhnya suamiku masih nggak hilang juga”, batin Yuna. Ia sangat mengerti kalau suaminya tidak begitu ramah dengan orang asing.

 

Yuna tersenyum sambil mengulurkan hadiah yang ia bawa. “Selamat ulang tahun ya, Ndre. Semoga panjang umur dan bahagia selalu.”

 

Andre mengangguk sambil tersenyum. “Thanks, Yun. Kamu udah mau dateng ke pesta ini. Aku pikir, kamu nggak akan datang,” tuturnya sambil menerima hadiah dari Yuna dan memberikan pada pelayan yang membantunya.

 

“Ini hadiah dari aku,” tutur Yeriko sambil memberikan kotak kecil ke arah Andre.

 

“Wah ... thanks, Yer!” ucap Andre dengan mata berbinar. “Masuk yuk!” ajaknya kemudian.

 

Yuna dan Yeriko mengangguk. Mereka bergegas masuk ke venue dan menyapa beberapa orang yang ada di sana. Hampir semua orang mengenal Yeriko. Hanya saja, Yeriko mengenal sebagian dari mereka. Sebagian lagi, ia tidak perlu mengingatnya.

 

Di dalam venue, Jheni dan Chandra terlihat sangat serasi. Chandra menyapa beberapa rekan bisnis yang ia kenal.

 

“Kak Jheni Kham ya?” sapa seseorang sambil menghampiri Jheni.

 

Jheni mengernyitkan dahi. “Kok, tahu?”

 

“Aku penggemar komik Kak Jheni. Boleh minta tanda tangan?”

 

Jheni mengangguk sambil tersenyum.

 

“Duh, aku nggak bawa buku dan pulpen. Gimana ya? Mmh ... foto bareng aja gimana?” tanya gadis tersebut.

 

“Boleh,” sahut Jheni sambil tersenyum.

 

Gadis kecil itu langsung mengeluarkan ponsel. Ia celingukan karena ingin meminta tolong seseorang memotret dirinya dengan Jheni.

 

“Mau foto bareng?” tanya Chandra.

 

Gadis kecil itu menganggukkan kepala.

 

“Sini, aku bantu!” pinta Chandra.

 

“Makasih banyak, Kak!” tutur gadis kecil itu sambil menyodorkan ponselnya.

 

CEKREK!

 

CEKREK!

 

“Udah,” tutur Chandra sambil mengembalikan ponsel milik gadis tersebut.

 

“Kak Jhen, makasih banyak ya udah mau foto sama aku,” tutur gadis tersebut. “Aku penggemar semua komik kakak. Kak, komik yang judulnya Thousand Island part ke tiga puluh lima kapan rilisnya?”

 

“Ditunggu aja ya!” jawab Jheni sambil tersenyum.

 

“Kasih bocoran dong, Kak! Aku penasaran banget sama cerita selanjutnya!”

 

Jheni hanya tertawa kecil menanggapi pertanyaan gadis kecil itu. “Ditunggu saja ya!” pintanya sambil menarik lengan Chandra, ia berusaha menghindari pertanyaan penggemar bukunya.

 

Yuna yang melihat Jheni dari kejauhan, langsung menghampiri sahabatnya yang berada di tengah-tengah kerumunan orang. “Hai, Jhen ...!”

 

“Hei, baru datang?” tanya Jheni.

 

Yuna menganggukkan kepala. Mereka saling sapa penuh kehangatan.

 

“Yun, kamu makin cantik aja. Makin ... ehem,” tutur Jheni sambil menahan tawa.

 

Yuna memonyongkan bibirnya. “Kamu mau ngolok? Bilang aja kalo aku makin gemuk!” dengusnya.

 

“Nggak, Yun. Kamu nggak gemuk. Bagus kayak gini, kok. Nggak kerempeng banget. Makin montok aja kayak menthok.”

 

“Mentok? Itu artinya buntu ya?”

 

“Bukan. Bukan mentok itu. Bebek mentok, Yun. Yang ada lagunya dolanan Jawa itu.”

 

“Yang mana?” tanya Yuna.

 

“Iih ... kamu kok nggak tahu, sih. Aku nggak bisa, Chandra yang sering nyanyi itu.”

 

“Hah!?” Yuna langsung tersenyum menatap Chandra. “Serius? Kamu bisa lagu-lagu dolanan Jawa? Aku mau denger, dong!”

 

Chandra tak menyahut. Sikapnya tetap saja tenang, seolah tak mendengar pembicaraan Jheni dan Yuna.

 

“Sok cool!” dengus Yuna sambil menatap Chandra.

 

“Yeriko gin bisa. Suruh dia aja!”

 

“Hah!? Sembarangan! Aku nggak ngerti lagu-lagu daerah.”

 

“Nggak cinta sama seni budaya negara sendiri,” sahut Chandra tanpa ekspresi.

 

Yeriko langsung menendang kaki Chandra. “CSR perusahaan banyak yang mendukung seni budaya daerah. Museum Surabaya itu siapa yang bikin?”

 

“Siapa?”

 

“Nggak tahu. Yang jelas bukan aku,” sahut Yeriko.

 

Jheni dan yang lainnya tertawa mendengar ucapan Yeriko.

 

“Eh, aku masih penasaran sama lagunya. Kamu kok bisa sih lagu-lagu daerah gitu?” tanya Yuna.

 

“Program pengembangan desa budaya dari perusahaan. Jadi, aku belajar beberapa lagunya dan asyik aja, syarat makna,” jawab Chandra.

 

 “Coba nyanyiin!” pinta Yuna.

 

Chandra menggelengkan kepala.

 

“Iih ... kenapa sih? Ayolah ...! Aku mau dengar.” Yuna menarik-narik jas Chandra.

 

Chandra menggelengkan kepala. “Cuma Jheni yang boleh denger aku nyanyi.”

 

“Iih ... kenapa begitu? Waktu kamu nembak Jheni, kita semua denger kalo suara kamu bagus,” tanya Yuna.

 

“Aku kan nyanyi buat Jheni,” sahut Chandra.

 

“Halah, gaya banget!” goda Yuna.

 

Pandangan mereka semua langsung beralih pada MC yang mengambil alih perhatian semua orang.

 

“Yun, Icha beneran nggak datang?” bisik Jheni.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Dia masih jagain mamanya di rumah sakit. Nggak mau ke sini.”

 

“Huft, apa dia nggak tambah sedih kalau ketemu terus sama mama palsunya itu? Mending ikut kita, bisa ngilangin stres. Ada banyak bir di sini,” tutur Jheni.

 

Yuna tertawa kecil menanggapi ucapan Jheni. Ia tiba-tiba terpikirkan oleh Icha yang lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Lutfi. Ia percaya, Lutfi pasti bisa membuat Icha selalu bahagia di sisinya.

 

 

 

 ((Bersambung ...))

 

 

Perfect Hero Bab 405 : Gaun untuk Bumil

 


“Mbak, ada paketan.” Bibi War langsung menyodorkan sebuah paket begitu Yuna turun dari kamarnya.

 

“Dari siapa, Bi?” tanya Yuna sambil mengecek nama pengirim paketan tersebut. “Oh. Irvan.” Ia meletakkan paketan tersebut ke atas meja makan dan duduk santai.

 

“Mbak Yuna mau dibikinin jus?” tanya Bibi War.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Susu aja, Bi.”

 

“Susu terus. Udah punya susu, kok masih minta susu lagi?” celetuk Bibi War.

 

“Iih ... Bibi!” seru Yuna. “Buat cadangan kalo nanti aku ASI, Bi. Hahaha.”

 

Bibi War tertawa kecil. Ia bergegas melangkah ke pantry dan membuatkan susu untuk Yuna.

 

TING!

 

Yuna langsung membuka pesan yang dikirim ke Yeriko melalui ponsel yang ada di tangannya.

 

“Paketan dari Irvan sudah sampai?” tanya Yeriko lewat pesan singkat.

 

Yuna langsung menoleh ke arah paketan yang ada di atas meja.

 

“Sudah,” balas Yuna.

 

“Gimana? Suka?” tanya Yeriko lagi.

 

“Hah!?” Yuna kembali menatap paketan tersebut. “Astaga ...!” Ia menepuk dahinya sendiri. “Ini paket gaun sama make-up yang dipesan sama Yeriko?” serunya. Ia baru menyadari kalau paketan dari Irvan ditujukan untuk dirinya, bukan untuk suaminya.

 

Yuna bergegas bangkit dari tempat duduk sambil membawa paketan tersebut menuju ke kamarnya. Ia sangat bersemangat membuka paketan tersebut.

 

“Wah ...! Bagus banget gaunnya!” seru Yuna. Ia langsung mencoba gaun tersebut.

 

“Suamiku emang paling the best!” puji Yuna sambil menatap tubuhnya di depan cermin.

 

Yuna langsung meraih ponsel dan menelepon Yeriko.

 

-Panggilan ditolak –

 

“Kok, ditolak?” dengus Yuna.

 

TING!

 

“Chat aja! Aku lagi meeting sama klien,” tutur Yeriko lewat pesan singkat.

 

Yuna tersenyum kecil. “Masih sempat-sempatnya main handphone saat lagi meeting. Kalo aku yang jadi bosnya, udah aku potong gaji! Eh, kan dia bosnya. Hihihi.” Ia langsung memotret tubuhnya sendiri dan mengirimkan hasilnya kepada Yeriko.

 

“Gimana?” tanya Yuna.

 

“Cantik.”

 

“Thanks ya!”

 

“Tunggu aku pulang, ya! Aku lanjut meeting lagi,” pamit Yeriko sambil mengirim kiss emoticon kepada Yuna.

 

Yuna tersenyum dan membalas pesan Yeriko dengan emoticon yang sama. Ia memeluk ponsel sambil menari-nari bahagia di dalam kamarnya. Ia sangat tidak sabar menunggu suaminya pulang bekerja.

 

 

 

...

 

 

 

Setelah Yeriko pulang bekerja, ia dan Yuna langsung bersiap untuk pergi ke acara ulang tahun Andre.

 

“Ay, bagus nggak?” tanya Yuna sambil menunjukkan make-up di wajahnya.

 

“Bagus,” jawab Yeriko sambil mengancingkan kemejanya.

 

Yuna tersenyum sambil menatap wajahnya di cermin. “Nggak menor banget, kan?” tanyanya lagi untuk memastikan dandanan yang ia pakai masih terlihat girly.

 

“Nggak, kok.”

 

Yuna bangkit dari tempat duduk, ia membantu Yeriko memasangkan dasi dan jasnya. Mereka terlihat sangat serasi dengan setelan jas dan gaun warna biru malam.

 

“Udah ganteng,” puji Yuna sambil menepuk dada Yeriko.

 

Yeriko tersenyum sambil menatap kaki Yuna yang sudah mengenakan flat shoes warna putih dengan pita biru di atasnya. Senada dengan gaun selutut yang berwarna biru malam bertabur buah cherry. Di tangannya sudah ada handbag Chanel warna putih.

 

“Udah siap?” tanya Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Aku udah cantik ‘kan?” tanyanya sambil memainkan mata.

 

Yeriko tertawa kecil. “Iya, sudah cantik. Cantik banget,” jawab Yeriko sambil merangkul pinggang Yuna dan melangkah perlahan keluar dari kamarnya.

 

“Kenapa semalam kamu ngatain aku jelek?” tanya Yuna.

 

“Ck, aku bercanda.”

 

“Tapi aku serius nerimanya. Soalnya aku kan nggak bisa pake make up setiap hari. Nggak pakai skincare, mukaku kusem banget.”

 

“Muka kusem bukan karena pengaruh skincare atau bukan.”

 

“Terus?”

 

“Pengaruh hormon kehamilan,” jawab Yeriko santai.

 

“Kamu tahu dari mana?” tanya Yuna.

 

Yeriko menghela napas sambil membuka pintu mobilnya. “Kamu beli buku tentang ibu dan anak, nggak dibaca?”

 

“Baca.”

 

“Kenapa nggak tahu?”

 

“Aku nggak baca semua. Cuma baca yang ada gambar-gambarnya aja.”

 

“Makanya, jangan malas baca!” dengus Yeriko. “Masuk!” perintahnya sambil menunjuk kursi mobil dengan dagunya.

 

Yuna langsung masuk ke mobil. Begitu juga dengan Yeriko. Mereka bergegas menuju hotel tempat ulang tahun Andre.

 

 

 

...

 

 

 

-          Outdoor Venue at Hotel Majapahit -

 

Nirmala melangkahkan kakinya penuh percaya diri. Gaun merah yang ia kenakan membuat aura dirinya terpancar. Tangannya terus memeluk lengan Andre sambil menyambut tamu undangan yang datang ke acara tersebut.

 

“Selamat ulang tahun, Ndre! Semoga cepet dapet jodoh,” tutur salah satu rekan kerjanya.

 

Andre mengangguk. Ia melepas tangan Nirma dari lengannya dan memilih bergabung dengan teman-teman prianya untuk bersulang.

 

Andre terus mengedarkan pandangannya. Banyak tamu yang sudah berdatangan, tapi ia belum melihat sosok Yuna ada di sana. “Ayuna ... kamu beneran nggak datang?” batin Andre.

 

Andre langsung tersenyum begitu melihat Jheni dan Chandra muncul di pintu masuk. Ia sangat berharap kalau di belakangnya ada Yuna. Namun, sampai Jheni dan Chandra menghampirinya. Yuna tak kunjung terlihat.

 

“Hai, Ndre ...! Selamat ulang tahun ya!” tutur Jheni sambil menghampiri Andre.

 

“Makasih, Jhen! Berdua aja?” tanya Andre.

 

Jheni mengangguk sambil tersenyum manis.

 

Nirma langsung menghampiri Jheni dan Andre yang sedang saling sapa dan terlihat sangat hangat.

 

Jheni langsung menatap Nirma yang tiba-tiba merangkul lengan Andre.

 

“Jhen, kenalin ... ini Nirma,” tutur Andre sambil memperkenalkan Nirma. Hanya saja, ia tak menyebutkan kalau Nirma adalah tunangannya. “Nir, ini Jheni. Pacarnya Chandra.”

 

Nirma mengangguk sambil tersenyum. Ia segera mengulurkan tangannya dan berkenalan dengan Jheni dan Chandra.

 

“Selamat ya, Ndre! Mudahan, cepet dapet istri,” tutur Chandra.

 

Andre tertawa kecil. “Kamu duluan. Kalo kamu udah nikah, aku nyusul.”

 

“Kalo aku nggak nikah-nikah, kamu nggak nikah juga sampe tua?” tanya Chandra. Ia menoleh ke arah pelayan yang menyuguhkan beberapa gelas wine kepada mereka. Ia segera mengambil gelas wine untuk dirinya dan Jheni.

 

“Nggak mungkin kamu nggak nikah. Udah punya pacar secantik ini,” tutur Andre.

 

Jheni tertawa kecil menanggapi ucapan Andre. “Emangnya aku beneran cantik?”

 

Andre menganggukkan kepala. “Kalo kamu nggak cantik, nggak mungkin si Chandra suka sama kamu.”

 

“Dia terpaksa nerima aku,” sahut Jheni sambil tertawa.

 

“Hahaha.”

 

“Karena kamu udah muji aku cantik, aku punya hadiah buat kamu,” tutur Jheni sambil menyodorkan paper bag berisi kotak kado ke hadapan Andre.

 

“Repot-repot banget, Jhen. Sering-sering ya!” Andre tertawa kecil sambil meraih hadiah dari Jheni.

 

“Sebenarnya, itu hadiah dari Chandra. Aku nggak bisa kasih kamu hadiah khusus. Soalnya, pacarku yang satu ini ... diam-diam suka cemburu,” tutur Jheni.

 

“Hahaha. Wajar kalo cemburu sama pacar. Daripada nggak punya rasa cemburu sama sekali,” sahut Andre.

 

Chandra hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Andre. Mereka bertiga asyik bercanda ria hingga mengabaikan Nirma yang masih berdiri di sebelah Andre.

 

Nirma hanya menanggapi semuanya dengan senyuman. Di balik bibir merahnya, ada kebencian yang tersirat saat ia menatap wajah Jheni. Ia berpikir kalau Jheni adalah gadis yang disukai Andre. Sebab, pembicaraan mereka sangat akrab dan berhasil membuat Nirma kesal. Terlebih, Andre tidak memperkenalkan Nirma sebagai tunangannya.

 

Andre masih saja celingukan. Beberapa kali ia menoleh ke arah pintu. Namun, sosok Yuna masih belum terlihat di sana. Perasaannya semakin tak karuan. Ia berpikir kalau Yeriko sudah melarang Yuna untuk datang ke acara ulang tahunnya. Ia berusaha menyapa semua orang yang ada di pesta itu hingga ia berdiri di depan pintu masuk untuk menunggu Yuna datang memenuhi undangannya.

 

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini supaya author makin semangat menulis setiap hari.

Jangan lupa sapa author di kolom komentar ya!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 404 : Bulu dalam Selimut

 


“Kenapa di luar malam-malam gini?” tanya Yeriko sambil menyampirkan selimut ke bahu Yuna.

 

Yuna melebarkan matanya sambil menoleh ke arah Yeriko yang sudah duduk di sebelahnya. “Kamu udah lama di sini?” tanya Yuna sambil menengok ke belakang.

 

“Baru aja.”

 

“Kamu kalo jalan hening banget, kayak kucing,” celetuk Yuna.

 

Yeriko hanya tersenyum kecil menanggapi celetukan Yuna.

 

Yuna merapatkan selimut ke tubuhnya. Ia melirik Yeriko yang terlihat sangat tenang. “Semoga, dia nggak denger apa yang aku omongin tadi,” batin Yuna.

 

 

 

Hening.

 

 

 

Yuna menoleh ke arah Yeriko, tapi suaminya itu tidak merespon sama sekali. Jangankan mengajak bicara, menoleh ke arahnya pun tidak. Ia semakin kesal dan menutup semua wajahnya dengan selimut yang diberikan Yeriko.

 

“Kenapa sih dia masih diam aja? Nggak nanyain aku sama sekali?” batin Yuna sambil memejamkan mata.

 

Yeriko beringsut dari tempat duduknya. Ia membaringkan tubuhnya sambil meletakkan kepalanya di paha Yuna.

 

“Eh!?” Yuna langsung membuka selimut yang menutupi wajahnya.

 

Yeriko tersenyum kecil sambil menatap langit yang ada di atasnya.

 

“Kerjaan kantor udah selesai?” tanya Yuna tak bersemangat.

 

“Kerjaan nggak ada selesainya. Hari ini kelar, besok ada lagi,” jawab Yeriko sambil memejamkan matanya perlahan.

 

Yuna memerhatikan wajah Yeriko yang ada di pangkuannya. Wajah lelahnya tergambar jelas. Membuat Yuna sangat iba. Yeriko melakukan banyak hal untuk membahagiakan dirinya. Betapa egoisnya ia yang hanya memikirkan dirinya sendiri.

 

Yuna mengelus lembut pipi Yeriko yang dingin. “Kamu nggak capek? Kerja siang dan malam?”

 

Yeriko membuka mata dan tersenyum ke arah Yuna. “Capek banget. Tapi, capeknya langsung hilang setiap kali lihat kalian,” jawab Yeriko sambil mengecup perut Yuna.

 

Yuna tersenyum bahagia, ia langsung mengecup kening Yeriko.

 

Yeriko tersenyum sambil menatap wajah Yuna. “Mau ke ulang tahun Andre?”

 

“Eh!?” Yuna membelalakkan matanya. “Kamu denger aku ngomong dari tadi?”

 

Yeriko menggelengkan kepala sambil tersenyum. “Andre undang aku. Kamu mau pergi atau nggak?”

 

Yuna langsung tersenyum bahagia. “Mau,” jawabnya tanpa pikir panjang.

 

Yeriko langsung menatap serius wajah Yuna. “Seneng banget mau ke ulang tahun dia? Udah kangen banget nggak ketemu dia?”

 

“Kamu masih cemburu sama dia? Ya udah, aku nggak usah datang. Biar kamu senang!” sahut Yuna kesal.

 

Yeriko tertawa kecil. “Kamu yang nggak senang. Kayak anak kecil aja,” tutur Yeriko sambil mencubit pipi Yuna.

 

Yuna menggigit bibirnya. “Tapi ...”

 

“Kenapa lagi?” tanya Yeriko.

 

“Aku nggak pede ke acara pesta dengan perut buncit kayak gini. Pasti, nggak ada gaun yang cocok buat aku,” tutur Yuna lirih.

 

Yeriko tertawa kecil. “Kamu harus percaya diri!” pinta Yeriko. “Perempuan hamil itu jauh lebih seksi.”

 

“Kamu cuma mau nyenengin aku aja kan?” dengus Yuna.

 

“Tugasnya suami emang menyenangkan istri kan?”

 

Yuna tertawa kecil. “Kamu bisa aja.”

 

“Asal kamu bahagia, aku akan ngelakuin apa pun,” tutur Yeriko sambil menatap mata Yuna.

 

“Aku sudah bahagia ada di sisi kamu saat ini,” tutur Yuna sambil tersenyum.

 

Yeriko tersenyum bahagia. “Baguslah kalau begitu. Aku udah pesen gaun dan make-up khusus untuk ibu hamil sama Irvan. Besok, dia akan kirim barangnya.”

 

“Hah!? Serius!?” seru Yuna. Ia tak menyangka kalau suaminya justru sudah mempersiapkan hal itu agar ia bisa pergi ke pesta ulang tahun sahabatnya.

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Eh, bukannya Irvan di Jakarta ya? Emangnya bisa sampai dalam sehari?”

 

“Bisa. Pakai paket kilat,” jawab Yeriko santai. Ia melipat kedua tangan di dada sambil memejamkan mata.

 

Yuna tersenyum sambil mengelus lembut kepala suaminya. Alangkah baiknya jika bisa menikmati banyak hari seperti ini. Sejak ia bertemu dengan Yeriko, pria itu tak berhenti memberikannya kebahagiaan.

 

“Ay ...!” panggil Yuna lirih.

 

“Umh.”

 

“Mamanya Icha gimana?”

 

“Gimana apanya?”

 

“Tadi, waktu jalan sama Icha dan Jheni ... aku nggak berani ngungkit soal mamanya. Takut bikin dia sedih lagi.”

 

Yeriko manggut-manggut tanpa membuka matanya.

 

“Kok, malah manggut-manggut gitu? Maksudnya apa?”

 

“Biar diurus Satria sama Riyan sesuai peraturan,” jawab Yeriko.

 

“Kalian beneran mau masukin Bu Ratna ke penjara?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Tapi terkendala sama pemeriksaan medisnya. Sementara, dia masih harus dirawat di Menur.”

 

“Oh.”

 

“Rasa penasaran kamu cuma sampai di situ?” tanya Yeriko.

 

“Hah!? Emangnya ada hal yang lebih seru lagi?” tanya Yuna.

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Apa itu?”

 

“Ada, deh.”

 

“Iih ... kasih tahu dong!”

 

“Kasih jatah dulu!” pinta Yeriko.

 

“Jatah apaan?”

 

“Pura-pura nggak tau?” tanya Yeriko sambil memicingkan mata menatap wajah Yuna.

 

Yuna terkekeh. “Beneran nggak tahu. Aku masih polos.”

 

“Apanya yang polos?” tanya Yeriko.

 

“Mmh ...” Yuna menahan senyum sambil menggigit jemari tangannya.

 

“Ke kamar yuk! Kalau di sini, ntar dilihat sama Bibi,” ajak Yeriko sambil bangkit dari paha Yuna.

 

“Emang mau ngapain?” tanya Yuna yang masih tak beranjak dari tempatnya.

 

“Kamu maunya ngapain?” tanya Yeriko sambil menempelkan dahinya ke dahi Yuna.

 

“Mmh ... mmh ...”

 

“Aargh ...! Kamu kebanyakan mikir. Hasilnya tetap sama. Harus nurut sama aku!” pinta Yeriko sambil mengangkat tubuh Yuna dan menggendongnya masuk ke kamar.

 

“Ay ...!” bisik Yuna saat Yeriko menurunkan tubuh Yuna ke atas kasur.

 

“Umh.”

 

“Irvan punya rekomendasi skincare yang cocok buat ibu hamil atau nggak?” tanya Yuna.

 

“Dokter udah bilang kalau kamu nggak boleh pake skincare apa pun.”

 

“Tapi, Irvan punya make-up yang bisa dipakai ibu hamil. Masa skincare nggak ada sih?” tanya Yuna.

 

Yeriko mengerutkan dahi menatap Yuna.

 

“Kenapa? Jangan sering ngerut dahi kayak gini. Bikin kamu cepet tua,” tutur Yuna sambil tertawa kecil.

 

“Kamu ini kenapa? Mulai nggak percaya diri sama perubahan fisik kamu? Aku tetep sayang sama kamu. Kamu nggak sayang sama diri kamu sendiri? Apa sebenarnya, kamu nggak mau nerima anak aku di rahim kamu?”

 

Yuna melongo. “Nggak, nggak gitu. Aku cuma takut kalau ... kamu nggak sayang sama aku lagi karena aku jelek.”

 

“Kamu udah jelek dari dulu, aku tetap sayang,” sahut Yeriko. “Mulai kayak gini lagi!” dengusnya kesal. Ia turun dari tempat tidur dan bergegas keluar kamar.

 

“Ay, mau ke mana?” seru Yuna.

 

“Mau kerja lagi,” jawab Yeriko ketus.

 

“Lah? Kok, marah?” tanya Yuna sambil mengerutkan wajahnya. “Harusnya, aku yang marah karena kamu ngatain aku jelek. Kenapa malah kamu yang marah!?”

 

“Huuaaa ...!” Yuna sengaja mengeraskan suaranya, berteriak histeris tanpa air mata. “Aku sudah jelek, nggak disayang lagi sama suami ...!”

 

“Huuaa ... huuaa ... malam ini aku ditinggal tidur sendiri ...!” Yuna berpura-pura menangis sambil menatap pintu kamarnya. Ia memonyongkan bibirnya karena Yeriko tak kembali ke kamar untuk merayunya.

 

“Huh, dasar beruang kutub!” serunya kesal sambil memasukkan seluruh tubuhnya ke dalam selimut.

 

 

 

Hening.

 

 

 

“Aargh ...!” teriak Yuna saat ia merasakan bulu lembut menjalar di kakinya. Ia langsung keluar dari dalam selimut dan melompat dari atas tempat tidur. “TIKUS ...!” teriaknya sambil berlari ke atas sofa.

 

“Mana tikusnya?” tanya Yeriko sambil menahan senyum. Ia menyembunyikan boneka kucing berbulu lebat ke belakang punggungnya.

 

“Kamu!? Ngapain di sini? Udah nggak marah?” tanya Yuna.

 

Yeriko menggelengkan kepala.

 

“Baguslah. Ada tikus di dalam selimut! Cepat ambil!” perintah Yuna.

 

“Tikus apa yang nakal banget sampai masuk ke dalam selimut?” tanya Yeriko sambil melangkah menghampiri Yuna.

 

“Nggak tahu!” sahut Yuna. “Buruan ambil tikusnya!”

 

“Ini tikusnya?” tanya Yeriko sambil menunjukkan boneka yang ada di tangannya.

 

“Kamu ngerjain aku?”

 

Yeriko tergelak sambil menghampiri Yuna.

 

Yuna menghela napas lega dan duduk di sofa. “Kamu sekarang mulai jahil ya!?” dengus Yuna.

 

Yeriko terkekeh. Ia terlihat sangat bahagia setelah berhasil menjahili istrinya sendiri.

 

Yuna mengerutkan hidung, bersiap menyerang suaminya sendiri.

 

Yeriko dengan senang hati menerima pukulan dari Yuna. Ia langsung membalasnya dengan menekan tubuh Yuna di atas sofa. Menikmati sisa malam mereka penuh peluh dan bergairah. Ia sangat menyukai cara istrinya bermain-main dengannya.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini supaya author makin semangat menulis setiap hari.

Jangan lupa sapa author di kolom komentar ya!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas