“Kenapa di luar
malam-malam gini?” tanya Yeriko sambil menyampirkan selimut ke bahu Yuna.
Yuna melebarkan
matanya sambil menoleh ke arah Yeriko yang sudah duduk di sebelahnya. “Kamu
udah lama di sini?” tanya Yuna sambil menengok ke belakang.
“Baru aja.”
“Kamu kalo jalan
hening banget, kayak kucing,” celetuk Yuna.
Yeriko hanya
tersenyum kecil menanggapi celetukan Yuna.
Yuna merapatkan
selimut ke tubuhnya. Ia melirik Yeriko yang terlihat sangat tenang. “Semoga,
dia nggak denger apa yang aku omongin tadi,” batin Yuna.
Hening.
Yuna menoleh ke
arah Yeriko, tapi suaminya itu tidak merespon sama sekali. Jangankan mengajak
bicara, menoleh ke arahnya pun tidak. Ia semakin kesal dan menutup semua
wajahnya dengan selimut yang diberikan Yeriko.
“Kenapa sih dia
masih diam aja? Nggak nanyain aku sama sekali?” batin Yuna sambil memejamkan
mata.
Yeriko beringsut
dari tempat duduknya. Ia membaringkan tubuhnya sambil meletakkan kepalanya di
paha Yuna.
“Eh!?” Yuna
langsung membuka selimut yang menutupi wajahnya.
Yeriko tersenyum
kecil sambil menatap langit yang ada di atasnya.
“Kerjaan kantor
udah selesai?” tanya Yuna tak bersemangat.
“Kerjaan nggak ada
selesainya. Hari ini kelar, besok ada lagi,” jawab Yeriko sambil memejamkan
matanya perlahan.
Yuna memerhatikan
wajah Yeriko yang ada di pangkuannya. Wajah lelahnya tergambar jelas. Membuat
Yuna sangat iba. Yeriko melakukan banyak hal untuk membahagiakan dirinya.
Betapa egoisnya ia yang hanya memikirkan dirinya sendiri.
Yuna mengelus
lembut pipi Yeriko yang dingin. “Kamu nggak capek? Kerja siang dan malam?”
Yeriko membuka
mata dan tersenyum ke arah Yuna. “Capek banget. Tapi, capeknya langsung hilang
setiap kali lihat kalian,” jawab Yeriko sambil mengecup perut Yuna.
Yuna tersenyum
bahagia, ia langsung mengecup kening Yeriko.
Yeriko tersenyum
sambil menatap wajah Yuna. “Mau ke ulang tahun Andre?”
“Eh!?” Yuna
membelalakkan matanya. “Kamu denger aku ngomong dari tadi?”
Yeriko
menggelengkan kepala sambil tersenyum. “Andre undang aku. Kamu mau pergi atau
nggak?”
Yuna langsung
tersenyum bahagia. “Mau,” jawabnya tanpa pikir panjang.
Yeriko langsung
menatap serius wajah Yuna. “Seneng banget mau ke ulang tahun dia? Udah kangen
banget nggak ketemu dia?”
“Kamu masih
cemburu sama dia? Ya udah, aku nggak usah datang. Biar kamu senang!” sahut Yuna
kesal.
Yeriko tertawa
kecil. “Kamu yang nggak senang. Kayak anak kecil aja,” tutur Yeriko sambil
mencubit pipi Yuna.
Yuna menggigit
bibirnya. “Tapi ...”
“Kenapa lagi?”
tanya Yeriko.
“Aku nggak pede ke
acara pesta dengan perut buncit kayak gini. Pasti, nggak ada gaun yang cocok
buat aku,” tutur Yuna lirih.
Yeriko tertawa
kecil. “Kamu harus percaya diri!” pinta Yeriko. “Perempuan hamil itu jauh lebih
seksi.”
“Kamu cuma mau
nyenengin aku aja kan?” dengus Yuna.
“Tugasnya suami
emang menyenangkan istri kan?”
Yuna tertawa
kecil. “Kamu bisa aja.”
“Asal kamu
bahagia, aku akan ngelakuin apa pun,” tutur Yeriko sambil menatap mata Yuna.
“Aku sudah bahagia
ada di sisi kamu saat ini,” tutur Yuna sambil tersenyum.
Yeriko tersenyum
bahagia. “Baguslah kalau begitu. Aku udah pesen gaun dan make-up khusus untuk
ibu hamil sama Irvan. Besok, dia akan kirim barangnya.”
“Hah!? Serius!?”
seru Yuna. Ia tak menyangka kalau suaminya justru sudah mempersiapkan hal itu
agar ia bisa pergi ke pesta ulang tahun sahabatnya.
Yeriko
menganggukkan kepala.
“Eh, bukannya
Irvan di Jakarta ya? Emangnya bisa sampai dalam sehari?”
“Bisa. Pakai paket
kilat,” jawab Yeriko santai. Ia melipat kedua tangan di dada sambil memejamkan
mata.
Yuna tersenyum
sambil mengelus lembut kepala suaminya. Alangkah baiknya jika bisa menikmati
banyak hari seperti ini. Sejak ia bertemu dengan Yeriko, pria itu tak berhenti
memberikannya kebahagiaan.
“Ay ...!” panggil
Yuna lirih.
“Umh.”
“Mamanya Icha
gimana?”
“Gimana apanya?”
“Tadi, waktu jalan
sama Icha dan Jheni ... aku nggak berani ngungkit soal mamanya. Takut bikin dia
sedih lagi.”
Yeriko
manggut-manggut tanpa membuka matanya.
“Kok, malah
manggut-manggut gitu? Maksudnya apa?”
“Biar diurus
Satria sama Riyan sesuai peraturan,” jawab Yeriko.
“Kalian beneran
mau masukin Bu Ratna ke penjara?”
Yeriko
menganggukkan kepala. “Tapi terkendala sama pemeriksaan medisnya. Sementara,
dia masih harus dirawat di Menur.”
“Oh.”
“Rasa penasaran
kamu cuma sampai di situ?” tanya Yeriko.
“Hah!? Emangnya
ada hal yang lebih seru lagi?” tanya Yuna.
Yeriko
mengangguk-anggukkan kepala.
“Apa itu?”
“Ada, deh.”
“Iih ... kasih
tahu dong!”
“Kasih jatah
dulu!” pinta Yeriko.
“Jatah apaan?”
“Pura-pura nggak
tau?” tanya Yeriko sambil memicingkan mata menatap wajah Yuna.
Yuna terkekeh.
“Beneran nggak tahu. Aku masih polos.”
“Apanya yang
polos?” tanya Yeriko.
“Mmh ...” Yuna
menahan senyum sambil menggigit jemari tangannya.
“Ke kamar yuk!
Kalau di sini, ntar dilihat sama Bibi,” ajak Yeriko sambil bangkit dari paha
Yuna.
“Emang mau
ngapain?” tanya Yuna yang masih tak beranjak dari tempatnya.
“Kamu maunya
ngapain?” tanya Yeriko sambil menempelkan dahinya ke dahi Yuna.
“Mmh ... mmh ...”
“Aargh ...! Kamu
kebanyakan mikir. Hasilnya tetap sama. Harus nurut sama aku!” pinta Yeriko
sambil mengangkat tubuh Yuna dan menggendongnya masuk ke kamar.
“Ay ...!” bisik
Yuna saat Yeriko menurunkan tubuh Yuna ke atas kasur.
“Umh.”
“Irvan punya
rekomendasi skincare yang cocok buat ibu hamil atau nggak?” tanya Yuna.
“Dokter udah
bilang kalau kamu nggak boleh pake skincare apa pun.”
“Tapi, Irvan punya
make-up yang bisa dipakai ibu hamil. Masa skincare nggak ada sih?” tanya Yuna.
Yeriko mengerutkan
dahi menatap Yuna.
“Kenapa? Jangan
sering ngerut dahi kayak gini. Bikin kamu cepet tua,” tutur Yuna sambil tertawa
kecil.
“Kamu ini kenapa?
Mulai nggak percaya diri sama perubahan fisik kamu? Aku tetep sayang sama kamu.
Kamu nggak sayang sama diri kamu sendiri? Apa sebenarnya, kamu nggak mau nerima
anak aku di rahim kamu?”
Yuna melongo.
“Nggak, nggak gitu. Aku cuma takut kalau ... kamu nggak sayang sama aku lagi
karena aku jelek.”
“Kamu udah jelek
dari dulu, aku tetap sayang,” sahut Yeriko. “Mulai kayak gini lagi!” dengusnya
kesal. Ia turun dari tempat tidur dan bergegas keluar kamar.
“Ay, mau ke mana?”
seru Yuna.
“Mau kerja lagi,”
jawab Yeriko ketus.
“Lah? Kok, marah?”
tanya Yuna sambil mengerutkan wajahnya. “Harusnya, aku yang marah karena kamu
ngatain aku jelek. Kenapa malah kamu yang marah!?”
“Huuaaa ...!” Yuna
sengaja mengeraskan suaranya, berteriak histeris tanpa air mata. “Aku sudah
jelek, nggak disayang lagi sama suami ...!”
“Huuaa ... huuaa
... malam ini aku ditinggal tidur sendiri ...!” Yuna berpura-pura menangis
sambil menatap pintu kamarnya. Ia memonyongkan bibirnya karena Yeriko tak
kembali ke kamar untuk merayunya.
“Huh, dasar
beruang kutub!” serunya kesal sambil memasukkan seluruh tubuhnya ke dalam
selimut.
Hening.
“Aargh ...!”
teriak Yuna saat ia merasakan bulu lembut menjalar di kakinya. Ia langsung
keluar dari dalam selimut dan melompat dari atas tempat tidur. “TIKUS ...!”
teriaknya sambil berlari ke atas sofa.
“Mana tikusnya?”
tanya Yeriko sambil menahan senyum. Ia menyembunyikan boneka kucing berbulu
lebat ke belakang punggungnya.
“Kamu!? Ngapain di
sini? Udah nggak marah?” tanya Yuna.
Yeriko
menggelengkan kepala.
“Baguslah. Ada
tikus di dalam selimut! Cepat ambil!” perintah Yuna.
“Tikus apa yang
nakal banget sampai masuk ke dalam selimut?” tanya Yeriko sambil melangkah
menghampiri Yuna.
“Nggak tahu!”
sahut Yuna. “Buruan ambil tikusnya!”
“Ini tikusnya?”
tanya Yeriko sambil menunjukkan boneka yang ada di tangannya.
“Kamu ngerjain
aku?”
Yeriko tergelak
sambil menghampiri Yuna.
Yuna menghela
napas lega dan duduk di sofa. “Kamu sekarang mulai jahil ya!?” dengus Yuna.
Yeriko terkekeh.
Ia terlihat sangat bahagia setelah berhasil menjahili istrinya sendiri.
Yuna mengerutkan
hidung, bersiap menyerang suaminya sendiri.
Yeriko dengan
senang hati menerima pukulan dari Yuna. Ia langsung membalasnya dengan menekan
tubuh Yuna di atas sofa. Menikmati sisa malam mereka penuh peluh dan bergairah.
Ia sangat menyukai cara istrinya bermain-main dengannya.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini supaya author makin semangat menulis setiap hari.
Jangan lupa sapa author di kolom komentar ya!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment