Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 404 : Bulu dalam Selimut

 


“Kenapa di luar malam-malam gini?” tanya Yeriko sambil menyampirkan selimut ke bahu Yuna.

 

Yuna melebarkan matanya sambil menoleh ke arah Yeriko yang sudah duduk di sebelahnya. “Kamu udah lama di sini?” tanya Yuna sambil menengok ke belakang.

 

“Baru aja.”

 

“Kamu kalo jalan hening banget, kayak kucing,” celetuk Yuna.

 

Yeriko hanya tersenyum kecil menanggapi celetukan Yuna.

 

Yuna merapatkan selimut ke tubuhnya. Ia melirik Yeriko yang terlihat sangat tenang. “Semoga, dia nggak denger apa yang aku omongin tadi,” batin Yuna.

 

 

 

Hening.

 

 

 

Yuna menoleh ke arah Yeriko, tapi suaminya itu tidak merespon sama sekali. Jangankan mengajak bicara, menoleh ke arahnya pun tidak. Ia semakin kesal dan menutup semua wajahnya dengan selimut yang diberikan Yeriko.

 

“Kenapa sih dia masih diam aja? Nggak nanyain aku sama sekali?” batin Yuna sambil memejamkan mata.

 

Yeriko beringsut dari tempat duduknya. Ia membaringkan tubuhnya sambil meletakkan kepalanya di paha Yuna.

 

“Eh!?” Yuna langsung membuka selimut yang menutupi wajahnya.

 

Yeriko tersenyum kecil sambil menatap langit yang ada di atasnya.

 

“Kerjaan kantor udah selesai?” tanya Yuna tak bersemangat.

 

“Kerjaan nggak ada selesainya. Hari ini kelar, besok ada lagi,” jawab Yeriko sambil memejamkan matanya perlahan.

 

Yuna memerhatikan wajah Yeriko yang ada di pangkuannya. Wajah lelahnya tergambar jelas. Membuat Yuna sangat iba. Yeriko melakukan banyak hal untuk membahagiakan dirinya. Betapa egoisnya ia yang hanya memikirkan dirinya sendiri.

 

Yuna mengelus lembut pipi Yeriko yang dingin. “Kamu nggak capek? Kerja siang dan malam?”

 

Yeriko membuka mata dan tersenyum ke arah Yuna. “Capek banget. Tapi, capeknya langsung hilang setiap kali lihat kalian,” jawab Yeriko sambil mengecup perut Yuna.

 

Yuna tersenyum bahagia, ia langsung mengecup kening Yeriko.

 

Yeriko tersenyum sambil menatap wajah Yuna. “Mau ke ulang tahun Andre?”

 

“Eh!?” Yuna membelalakkan matanya. “Kamu denger aku ngomong dari tadi?”

 

Yeriko menggelengkan kepala sambil tersenyum. “Andre undang aku. Kamu mau pergi atau nggak?”

 

Yuna langsung tersenyum bahagia. “Mau,” jawabnya tanpa pikir panjang.

 

Yeriko langsung menatap serius wajah Yuna. “Seneng banget mau ke ulang tahun dia? Udah kangen banget nggak ketemu dia?”

 

“Kamu masih cemburu sama dia? Ya udah, aku nggak usah datang. Biar kamu senang!” sahut Yuna kesal.

 

Yeriko tertawa kecil. “Kamu yang nggak senang. Kayak anak kecil aja,” tutur Yeriko sambil mencubit pipi Yuna.

 

Yuna menggigit bibirnya. “Tapi ...”

 

“Kenapa lagi?” tanya Yeriko.

 

“Aku nggak pede ke acara pesta dengan perut buncit kayak gini. Pasti, nggak ada gaun yang cocok buat aku,” tutur Yuna lirih.

 

Yeriko tertawa kecil. “Kamu harus percaya diri!” pinta Yeriko. “Perempuan hamil itu jauh lebih seksi.”

 

“Kamu cuma mau nyenengin aku aja kan?” dengus Yuna.

 

“Tugasnya suami emang menyenangkan istri kan?”

 

Yuna tertawa kecil. “Kamu bisa aja.”

 

“Asal kamu bahagia, aku akan ngelakuin apa pun,” tutur Yeriko sambil menatap mata Yuna.

 

“Aku sudah bahagia ada di sisi kamu saat ini,” tutur Yuna sambil tersenyum.

 

Yeriko tersenyum bahagia. “Baguslah kalau begitu. Aku udah pesen gaun dan make-up khusus untuk ibu hamil sama Irvan. Besok, dia akan kirim barangnya.”

 

“Hah!? Serius!?” seru Yuna. Ia tak menyangka kalau suaminya justru sudah mempersiapkan hal itu agar ia bisa pergi ke pesta ulang tahun sahabatnya.

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Eh, bukannya Irvan di Jakarta ya? Emangnya bisa sampai dalam sehari?”

 

“Bisa. Pakai paket kilat,” jawab Yeriko santai. Ia melipat kedua tangan di dada sambil memejamkan mata.

 

Yuna tersenyum sambil mengelus lembut kepala suaminya. Alangkah baiknya jika bisa menikmati banyak hari seperti ini. Sejak ia bertemu dengan Yeriko, pria itu tak berhenti memberikannya kebahagiaan.

 

“Ay ...!” panggil Yuna lirih.

 

“Umh.”

 

“Mamanya Icha gimana?”

 

“Gimana apanya?”

 

“Tadi, waktu jalan sama Icha dan Jheni ... aku nggak berani ngungkit soal mamanya. Takut bikin dia sedih lagi.”

 

Yeriko manggut-manggut tanpa membuka matanya.

 

“Kok, malah manggut-manggut gitu? Maksudnya apa?”

 

“Biar diurus Satria sama Riyan sesuai peraturan,” jawab Yeriko.

 

“Kalian beneran mau masukin Bu Ratna ke penjara?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Tapi terkendala sama pemeriksaan medisnya. Sementara, dia masih harus dirawat di Menur.”

 

“Oh.”

 

“Rasa penasaran kamu cuma sampai di situ?” tanya Yeriko.

 

“Hah!? Emangnya ada hal yang lebih seru lagi?” tanya Yuna.

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Apa itu?”

 

“Ada, deh.”

 

“Iih ... kasih tahu dong!”

 

“Kasih jatah dulu!” pinta Yeriko.

 

“Jatah apaan?”

 

“Pura-pura nggak tau?” tanya Yeriko sambil memicingkan mata menatap wajah Yuna.

 

Yuna terkekeh. “Beneran nggak tahu. Aku masih polos.”

 

“Apanya yang polos?” tanya Yeriko.

 

“Mmh ...” Yuna menahan senyum sambil menggigit jemari tangannya.

 

“Ke kamar yuk! Kalau di sini, ntar dilihat sama Bibi,” ajak Yeriko sambil bangkit dari paha Yuna.

 

“Emang mau ngapain?” tanya Yuna yang masih tak beranjak dari tempatnya.

 

“Kamu maunya ngapain?” tanya Yeriko sambil menempelkan dahinya ke dahi Yuna.

 

“Mmh ... mmh ...”

 

“Aargh ...! Kamu kebanyakan mikir. Hasilnya tetap sama. Harus nurut sama aku!” pinta Yeriko sambil mengangkat tubuh Yuna dan menggendongnya masuk ke kamar.

 

“Ay ...!” bisik Yuna saat Yeriko menurunkan tubuh Yuna ke atas kasur.

 

“Umh.”

 

“Irvan punya rekomendasi skincare yang cocok buat ibu hamil atau nggak?” tanya Yuna.

 

“Dokter udah bilang kalau kamu nggak boleh pake skincare apa pun.”

 

“Tapi, Irvan punya make-up yang bisa dipakai ibu hamil. Masa skincare nggak ada sih?” tanya Yuna.

 

Yeriko mengerutkan dahi menatap Yuna.

 

“Kenapa? Jangan sering ngerut dahi kayak gini. Bikin kamu cepet tua,” tutur Yuna sambil tertawa kecil.

 

“Kamu ini kenapa? Mulai nggak percaya diri sama perubahan fisik kamu? Aku tetep sayang sama kamu. Kamu nggak sayang sama diri kamu sendiri? Apa sebenarnya, kamu nggak mau nerima anak aku di rahim kamu?”

 

Yuna melongo. “Nggak, nggak gitu. Aku cuma takut kalau ... kamu nggak sayang sama aku lagi karena aku jelek.”

 

“Kamu udah jelek dari dulu, aku tetap sayang,” sahut Yeriko. “Mulai kayak gini lagi!” dengusnya kesal. Ia turun dari tempat tidur dan bergegas keluar kamar.

 

“Ay, mau ke mana?” seru Yuna.

 

“Mau kerja lagi,” jawab Yeriko ketus.

 

“Lah? Kok, marah?” tanya Yuna sambil mengerutkan wajahnya. “Harusnya, aku yang marah karena kamu ngatain aku jelek. Kenapa malah kamu yang marah!?”

 

“Huuaaa ...!” Yuna sengaja mengeraskan suaranya, berteriak histeris tanpa air mata. “Aku sudah jelek, nggak disayang lagi sama suami ...!”

 

“Huuaa ... huuaa ... malam ini aku ditinggal tidur sendiri ...!” Yuna berpura-pura menangis sambil menatap pintu kamarnya. Ia memonyongkan bibirnya karena Yeriko tak kembali ke kamar untuk merayunya.

 

“Huh, dasar beruang kutub!” serunya kesal sambil memasukkan seluruh tubuhnya ke dalam selimut.

 

 

 

Hening.

 

 

 

“Aargh ...!” teriak Yuna saat ia merasakan bulu lembut menjalar di kakinya. Ia langsung keluar dari dalam selimut dan melompat dari atas tempat tidur. “TIKUS ...!” teriaknya sambil berlari ke atas sofa.

 

“Mana tikusnya?” tanya Yeriko sambil menahan senyum. Ia menyembunyikan boneka kucing berbulu lebat ke belakang punggungnya.

 

“Kamu!? Ngapain di sini? Udah nggak marah?” tanya Yuna.

 

Yeriko menggelengkan kepala.

 

“Baguslah. Ada tikus di dalam selimut! Cepat ambil!” perintah Yuna.

 

“Tikus apa yang nakal banget sampai masuk ke dalam selimut?” tanya Yeriko sambil melangkah menghampiri Yuna.

 

“Nggak tahu!” sahut Yuna. “Buruan ambil tikusnya!”

 

“Ini tikusnya?” tanya Yeriko sambil menunjukkan boneka yang ada di tangannya.

 

“Kamu ngerjain aku?”

 

Yeriko tergelak sambil menghampiri Yuna.

 

Yuna menghela napas lega dan duduk di sofa. “Kamu sekarang mulai jahil ya!?” dengus Yuna.

 

Yeriko terkekeh. Ia terlihat sangat bahagia setelah berhasil menjahili istrinya sendiri.

 

Yuna mengerutkan hidung, bersiap menyerang suaminya sendiri.

 

Yeriko dengan senang hati menerima pukulan dari Yuna. Ia langsung membalasnya dengan menekan tubuh Yuna di atas sofa. Menikmati sisa malam mereka penuh peluh dan bergairah. Ia sangat menyukai cara istrinya bermain-main dengannya.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini supaya author makin semangat menulis setiap hari.

Jangan lupa sapa author di kolom komentar ya!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas