“Yun,
kamu beneran nggak datang?” batin Andre sambil melirik arloji di tangannya.
Semua tamu undangan sudah datang sejak tadi. Orang yang ia harapkan hadir, tak
kunjung muncul walau ia menunggunya di pintu masuk.
Andre
menghela napas. “Yun, sekarang susah banget buat ketemu sama kamu. Apa kamu
nggak bisa menyempatkan diri datang ke acara ulang tahunku yang cum setahun
sekali?” gumam Andre sambil mondar-mandir.
“Kak
Andre ...!”
Andre
langsung berbalik. Ia menatap Nirma yang sudah berdiri di belakangnya. “Ada
apa?”
“Acara
sudah mau dimulai. Kak Andre masih nunggu siapa?” tanya Nirma.
“Eh,
oh ... eh, nggak nunggu siapa-siapa. Cuma nervous aja karena belum pernah
ngerayain ulang tahun kayak gini,” jawab Andre sambil menggaruk kepalanya yang
tidak gatal.
“Ah,
bohong! Kak Andre kan kuliah di luar negeri. Pasti sering bikin pesta ulang
tahun,” sahut Nirma.
“Cuma
bikin pesta kecil bareng temen-temen deket doang. Nggak pernah bikin pesta
seperti ini.”
“Tenang
aja. Ada aku, Kak. Masuk yuk!” ajak Nirma sambil merangkul lengan Andre.
Andre
mengangguk kecil. Kakinya masih berat untuk melangkah pergi. Ia melangkah
perlahan menuju masuk perlahan. Di saat seperti itu, mobil Lamborghini biru
muncul di belakangnya. Ia langsung memutar kepalanya sambil tersenyum.
“Dia
siapa?” tanya Nirma, ia ikut menoleh menatap mobil yang baru saja parkir.
“Yeriko
dan istrinya,” jawab Andre.
“Oh.”
Andre
tersenyum sambil menatap Yeriko yang keluar seorang diri dari mobil tersebut.
Harapannya tiba-tiba patah, ia tahu kalau Yuna tidak akan datang memenuhi
undangannya. “Kamu sudah lupain semuanya?” batinnya.
Yeriko
melangkah mengitari mobilnya dan membukakan pintu untuk Yuna.
Mata
Andre langsung berbinar begitu melihat Yuna keluar dari mobil tersebut. Ia
sangat bahagia melihat wajah Yuna yang terlihat sangat cantik dengan gaun mini
yang membuat wanita itu terlihat seperti gadis belia yang masih berusia enam
belas tahun.
Yeriko
tersenyum, tangannya melingkar di pinggang Yuna. Ia melemparkan kunci mobilnya
begitu saja pada penjaga pintu yang bertugas memarkirkan mobil dan melangkah
perlahan memasuki halaman tempat acara pesta berlangsung.
“Malam,
Ndre ...!” sapa Yuna.
“Malam
...” balas Andre sambil menatap wajah Yuna yang berseri. “Udah lama nggak
lihat, kenapa kamu tambah cantik dan tambah ...” batin Andre sambil menatap
mata Yuna yang berseri.
Yeriko
langsung mengulurkan tangannya ke arah Andre. “Selamat, Ndre ...!” ucapnya
singkat.
Andre
gelagapan sambil berusaha mengalihkan pandangannya dari wajah Yuna. Ia
menyambut uluran tangan Yeriko. “Thanks, Yer.”
Yeriko
tersenyum. Ia menatap tajam ke arah Andre sambil mengeratkan genggaman
tangannya. Ia tak bisa menyembunyikan perasaan kesalnya karena Andre terus
memerhatikan Yuna.
“Oh
ya, kenalin ... ini Nirma.” Andre melepas tangannya dari genggaman Yeriko dan
memperkenalkan Nirma pada Yuna dan Yeriko.
“Hai
... salam kenal, Kak!” sapa Nirma dengan ceria.
“Salam
kenal juga,” balas Yuna sambil tersenyum ramah. Ia melirik suaminya yang tak
bereaksi sedikit pun.
Yeriko
hanya tersenyum kecil menatap Nirma. Ia tak punya keinginan untuk menyapa gadis
kecil itu apalagi bersalaman dengannya.
“Angkuhnya
suamiku masih nggak hilang juga”, batin Yuna. Ia sangat mengerti kalau suaminya
tidak begitu ramah dengan orang asing.
Yuna
tersenyum sambil mengulurkan hadiah yang ia bawa. “Selamat ulang tahun ya,
Ndre. Semoga panjang umur dan bahagia selalu.”
Andre
mengangguk sambil tersenyum. “Thanks, Yun. Kamu udah mau dateng ke pesta ini.
Aku pikir, kamu nggak akan datang,” tuturnya sambil menerima hadiah dari Yuna
dan memberikan pada pelayan yang membantunya.
“Ini
hadiah dari aku,” tutur Yeriko sambil memberikan kotak kecil ke arah Andre.
“Wah
... thanks, Yer!” ucap Andre dengan mata berbinar. “Masuk yuk!” ajaknya
kemudian.
Yuna
dan Yeriko mengangguk. Mereka bergegas masuk ke venue dan menyapa beberapa
orang yang ada di sana. Hampir semua orang mengenal Yeriko. Hanya saja, Yeriko
mengenal sebagian dari mereka. Sebagian lagi, ia tidak perlu mengingatnya.
Di
dalam venue, Jheni dan Chandra terlihat sangat serasi. Chandra menyapa beberapa
rekan bisnis yang ia kenal.
“Kak
Jheni Kham ya?” sapa seseorang sambil menghampiri Jheni.
Jheni
mengernyitkan dahi. “Kok, tahu?”
“Aku
penggemar komik Kak Jheni. Boleh minta tanda tangan?”
Jheni
mengangguk sambil tersenyum.
“Duh,
aku nggak bawa buku dan pulpen. Gimana ya? Mmh ... foto bareng aja gimana?”
tanya gadis tersebut.
“Boleh,”
sahut Jheni sambil tersenyum.
Gadis
kecil itu langsung mengeluarkan ponsel. Ia celingukan karena ingin meminta
tolong seseorang memotret dirinya dengan Jheni.
“Mau
foto bareng?” tanya Chandra.
Gadis
kecil itu menganggukkan kepala.
“Sini,
aku bantu!” pinta Chandra.
“Makasih
banyak, Kak!” tutur gadis kecil itu sambil menyodorkan ponselnya.
CEKREK!
CEKREK!
“Udah,”
tutur Chandra sambil mengembalikan ponsel milik gadis tersebut.
“Kak
Jhen, makasih banyak ya udah mau foto sama aku,” tutur gadis tersebut. “Aku
penggemar semua komik kakak. Kak, komik yang judulnya Thousand Island part ke
tiga puluh lima kapan rilisnya?”
“Ditunggu
aja ya!” jawab Jheni sambil tersenyum.
“Kasih
bocoran dong, Kak! Aku penasaran banget sama cerita selanjutnya!”
Jheni
hanya tertawa kecil menanggapi pertanyaan gadis kecil itu. “Ditunggu saja ya!”
pintanya sambil menarik lengan Chandra, ia berusaha menghindari pertanyaan
penggemar bukunya.
Yuna
yang melihat Jheni dari kejauhan, langsung menghampiri sahabatnya yang berada
di tengah-tengah kerumunan orang. “Hai, Jhen ...!”
“Hei,
baru datang?” tanya Jheni.
Yuna
menganggukkan kepala. Mereka saling sapa penuh kehangatan.
“Yun,
kamu makin cantik aja. Makin ... ehem,” tutur Jheni sambil menahan tawa.
Yuna
memonyongkan bibirnya. “Kamu mau ngolok? Bilang aja kalo aku makin gemuk!”
dengusnya.
“Nggak,
Yun. Kamu nggak gemuk. Bagus kayak gini, kok. Nggak kerempeng banget. Makin
montok aja kayak menthok.”
“Mentok?
Itu artinya buntu ya?”
“Bukan.
Bukan mentok itu. Bebek mentok, Yun. Yang ada lagunya dolanan Jawa itu.”
“Yang
mana?” tanya Yuna.
“Iih
... kamu kok nggak tahu, sih. Aku nggak bisa, Chandra yang sering nyanyi itu.”
“Hah!?”
Yuna langsung tersenyum menatap Chandra. “Serius? Kamu bisa lagu-lagu dolanan
Jawa? Aku mau denger, dong!”
Chandra
tak menyahut. Sikapnya tetap saja tenang, seolah tak mendengar pembicaraan
Jheni dan Yuna.
“Sok
cool!” dengus Yuna sambil menatap Chandra.
“Yeriko
gin bisa. Suruh dia aja!”
“Hah!?
Sembarangan! Aku nggak ngerti lagu-lagu daerah.”
“Nggak
cinta sama seni budaya negara sendiri,” sahut Chandra tanpa ekspresi.
Yeriko
langsung menendang kaki Chandra. “CSR perusahaan banyak yang mendukung seni
budaya daerah. Museum Surabaya itu siapa yang bikin?”
“Siapa?”
“Nggak
tahu. Yang jelas bukan aku,” sahut Yeriko.
Jheni
dan yang lainnya tertawa mendengar ucapan Yeriko.
“Eh,
aku masih penasaran sama lagunya. Kamu kok bisa sih lagu-lagu daerah gitu?”
tanya Yuna.
“Program
pengembangan desa budaya dari perusahaan. Jadi, aku belajar beberapa lagunya
dan asyik aja, syarat makna,” jawab Chandra.
“Coba
nyanyiin!” pinta Yuna.
Chandra
menggelengkan kepala.
“Iih
... kenapa sih? Ayolah ...! Aku mau dengar.” Yuna menarik-narik jas Chandra.
Chandra
menggelengkan kepala. “Cuma Jheni yang boleh denger aku nyanyi.”
“Iih
... kenapa begitu? Waktu kamu nembak Jheni, kita semua denger kalo suara kamu
bagus,” tanya Yuna.
“Aku
kan nyanyi buat Jheni,” sahut Chandra.
“Halah,
gaya banget!” goda Yuna.
Pandangan
mereka semua langsung beralih pada MC yang mengambil alih perhatian semua
orang.
“Yun,
Icha beneran nggak datang?” bisik Jheni.
Yuna
menggelengkan kepala. “Dia masih jagain mamanya di rumah sakit. Nggak mau ke
sini.”
“Huft,
apa dia nggak tambah sedih kalau ketemu terus sama mama palsunya itu? Mending
ikut kita, bisa ngilangin stres. Ada banyak bir di sini,” tutur Jheni.
Yuna
tertawa kecil menanggapi ucapan Jheni. Ia tiba-tiba terpikirkan oleh Icha yang
lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Lutfi. Ia percaya, Lutfi pasti bisa
membuat Icha selalu bahagia di sisinya.

0 komentar:
Post a Comment