Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 406 : Andre's Party

 


“Yun, kamu beneran nggak datang?” batin Andre sambil melirik arloji di tangannya. Semua tamu undangan sudah datang sejak tadi. Orang yang ia harapkan hadir, tak kunjung muncul walau ia menunggunya di pintu masuk.

 

Andre menghela napas. “Yun, sekarang susah banget buat ketemu sama kamu. Apa kamu nggak bisa menyempatkan diri datang ke acara ulang tahunku yang cum setahun sekali?” gumam Andre sambil mondar-mandir.

 

“Kak Andre ...!”

 

Andre langsung berbalik. Ia menatap Nirma yang sudah berdiri di belakangnya. “Ada apa?”

 

“Acara sudah mau dimulai. Kak Andre masih nunggu siapa?” tanya Nirma.

 

“Eh, oh ... eh, nggak nunggu siapa-siapa. Cuma nervous aja karena belum pernah ngerayain ulang tahun kayak gini,” jawab Andre sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

 

“Ah, bohong! Kak Andre kan kuliah di luar negeri. Pasti sering bikin pesta ulang tahun,” sahut Nirma.

 

“Cuma bikin pesta kecil bareng temen-temen deket doang. Nggak pernah bikin pesta seperti ini.”

 

“Tenang aja. Ada aku, Kak. Masuk yuk!” ajak Nirma sambil merangkul lengan Andre.

 

Andre mengangguk kecil. Kakinya masih berat untuk melangkah pergi. Ia melangkah perlahan menuju masuk perlahan. Di saat seperti itu, mobil Lamborghini biru muncul di belakangnya. Ia langsung memutar kepalanya sambil tersenyum.

 

“Dia siapa?” tanya Nirma, ia ikut menoleh menatap mobil yang baru saja parkir.

 

“Yeriko dan istrinya,” jawab Andre.

 

“Oh.”

 

Andre tersenyum sambil menatap Yeriko yang keluar seorang diri dari mobil tersebut. Harapannya tiba-tiba patah, ia tahu kalau Yuna tidak akan datang memenuhi undangannya. “Kamu sudah lupain semuanya?” batinnya.

 

Yeriko melangkah mengitari mobilnya dan membukakan pintu untuk Yuna.

 

Mata Andre langsung berbinar begitu melihat Yuna keluar dari mobil tersebut. Ia sangat bahagia melihat wajah Yuna yang terlihat sangat cantik dengan gaun mini yang membuat wanita itu terlihat seperti gadis belia yang masih berusia enam belas tahun.

 

Yeriko tersenyum, tangannya melingkar di pinggang Yuna. Ia melemparkan kunci mobilnya begitu saja pada penjaga pintu yang bertugas memarkirkan mobil dan melangkah perlahan memasuki halaman tempat acara pesta berlangsung.

 

“Malam, Ndre ...!” sapa Yuna.

 

“Malam ...” balas Andre sambil menatap wajah Yuna yang berseri. “Udah lama nggak lihat, kenapa kamu tambah cantik dan tambah ...” batin Andre sambil menatap mata Yuna yang berseri.

 

Yeriko langsung mengulurkan tangannya ke arah Andre. “Selamat, Ndre ...!” ucapnya singkat.

 

Andre gelagapan sambil berusaha mengalihkan pandangannya dari wajah Yuna. Ia menyambut uluran tangan Yeriko. “Thanks, Yer.”

 

Yeriko tersenyum. Ia menatap tajam ke arah Andre sambil mengeratkan genggaman tangannya. Ia tak bisa menyembunyikan perasaan kesalnya karena Andre terus memerhatikan Yuna.

 

“Oh ya, kenalin ... ini Nirma.” Andre melepas tangannya dari genggaman Yeriko dan memperkenalkan Nirma pada Yuna dan Yeriko.

 

“Hai ... salam kenal, Kak!” sapa Nirma dengan ceria.

 

“Salam kenal juga,” balas Yuna sambil tersenyum ramah. Ia melirik suaminya yang tak bereaksi sedikit pun.

 

Yeriko hanya tersenyum kecil menatap Nirma. Ia tak punya keinginan untuk menyapa gadis kecil itu apalagi bersalaman dengannya.

 

“Angkuhnya suamiku masih nggak hilang juga”, batin Yuna. Ia sangat mengerti kalau suaminya tidak begitu ramah dengan orang asing.

 

Yuna tersenyum sambil mengulurkan hadiah yang ia bawa. “Selamat ulang tahun ya, Ndre. Semoga panjang umur dan bahagia selalu.”

 

Andre mengangguk sambil tersenyum. “Thanks, Yun. Kamu udah mau dateng ke pesta ini. Aku pikir, kamu nggak akan datang,” tuturnya sambil menerima hadiah dari Yuna dan memberikan pada pelayan yang membantunya.

 

“Ini hadiah dari aku,” tutur Yeriko sambil memberikan kotak kecil ke arah Andre.

 

“Wah ... thanks, Yer!” ucap Andre dengan mata berbinar. “Masuk yuk!” ajaknya kemudian.

 

Yuna dan Yeriko mengangguk. Mereka bergegas masuk ke venue dan menyapa beberapa orang yang ada di sana. Hampir semua orang mengenal Yeriko. Hanya saja, Yeriko mengenal sebagian dari mereka. Sebagian lagi, ia tidak perlu mengingatnya.

 

Di dalam venue, Jheni dan Chandra terlihat sangat serasi. Chandra menyapa beberapa rekan bisnis yang ia kenal.

 

“Kak Jheni Kham ya?” sapa seseorang sambil menghampiri Jheni.

 

Jheni mengernyitkan dahi. “Kok, tahu?”

 

“Aku penggemar komik Kak Jheni. Boleh minta tanda tangan?”

 

Jheni mengangguk sambil tersenyum.

 

“Duh, aku nggak bawa buku dan pulpen. Gimana ya? Mmh ... foto bareng aja gimana?” tanya gadis tersebut.

 

“Boleh,” sahut Jheni sambil tersenyum.

 

Gadis kecil itu langsung mengeluarkan ponsel. Ia celingukan karena ingin meminta tolong seseorang memotret dirinya dengan Jheni.

 

“Mau foto bareng?” tanya Chandra.

 

Gadis kecil itu menganggukkan kepala.

 

“Sini, aku bantu!” pinta Chandra.

 

“Makasih banyak, Kak!” tutur gadis kecil itu sambil menyodorkan ponselnya.

 

CEKREK!

 

CEKREK!

 

“Udah,” tutur Chandra sambil mengembalikan ponsel milik gadis tersebut.

 

“Kak Jhen, makasih banyak ya udah mau foto sama aku,” tutur gadis tersebut. “Aku penggemar semua komik kakak. Kak, komik yang judulnya Thousand Island part ke tiga puluh lima kapan rilisnya?”

 

“Ditunggu aja ya!” jawab Jheni sambil tersenyum.

 

“Kasih bocoran dong, Kak! Aku penasaran banget sama cerita selanjutnya!”

 

Jheni hanya tertawa kecil menanggapi pertanyaan gadis kecil itu. “Ditunggu saja ya!” pintanya sambil menarik lengan Chandra, ia berusaha menghindari pertanyaan penggemar bukunya.

 

Yuna yang melihat Jheni dari kejauhan, langsung menghampiri sahabatnya yang berada di tengah-tengah kerumunan orang. “Hai, Jhen ...!”

 

“Hei, baru datang?” tanya Jheni.

 

Yuna menganggukkan kepala. Mereka saling sapa penuh kehangatan.

 

“Yun, kamu makin cantik aja. Makin ... ehem,” tutur Jheni sambil menahan tawa.

 

Yuna memonyongkan bibirnya. “Kamu mau ngolok? Bilang aja kalo aku makin gemuk!” dengusnya.

 

“Nggak, Yun. Kamu nggak gemuk. Bagus kayak gini, kok. Nggak kerempeng banget. Makin montok aja kayak menthok.”

 

“Mentok? Itu artinya buntu ya?”

 

“Bukan. Bukan mentok itu. Bebek mentok, Yun. Yang ada lagunya dolanan Jawa itu.”

 

“Yang mana?” tanya Yuna.

 

“Iih ... kamu kok nggak tahu, sih. Aku nggak bisa, Chandra yang sering nyanyi itu.”

 

“Hah!?” Yuna langsung tersenyum menatap Chandra. “Serius? Kamu bisa lagu-lagu dolanan Jawa? Aku mau denger, dong!”

 

Chandra tak menyahut. Sikapnya tetap saja tenang, seolah tak mendengar pembicaraan Jheni dan Yuna.

 

“Sok cool!” dengus Yuna sambil menatap Chandra.

 

“Yeriko gin bisa. Suruh dia aja!”

 

“Hah!? Sembarangan! Aku nggak ngerti lagu-lagu daerah.”

 

“Nggak cinta sama seni budaya negara sendiri,” sahut Chandra tanpa ekspresi.

 

Yeriko langsung menendang kaki Chandra. “CSR perusahaan banyak yang mendukung seni budaya daerah. Museum Surabaya itu siapa yang bikin?”

 

“Siapa?”

 

“Nggak tahu. Yang jelas bukan aku,” sahut Yeriko.

 

Jheni dan yang lainnya tertawa mendengar ucapan Yeriko.

 

“Eh, aku masih penasaran sama lagunya. Kamu kok bisa sih lagu-lagu daerah gitu?” tanya Yuna.

 

“Program pengembangan desa budaya dari perusahaan. Jadi, aku belajar beberapa lagunya dan asyik aja, syarat makna,” jawab Chandra.

 

 “Coba nyanyiin!” pinta Yuna.

 

Chandra menggelengkan kepala.

 

“Iih ... kenapa sih? Ayolah ...! Aku mau dengar.” Yuna menarik-narik jas Chandra.

 

Chandra menggelengkan kepala. “Cuma Jheni yang boleh denger aku nyanyi.”

 

“Iih ... kenapa begitu? Waktu kamu nembak Jheni, kita semua denger kalo suara kamu bagus,” tanya Yuna.

 

“Aku kan nyanyi buat Jheni,” sahut Chandra.

 

“Halah, gaya banget!” goda Yuna.

 

Pandangan mereka semua langsung beralih pada MC yang mengambil alih perhatian semua orang.

 

“Yun, Icha beneran nggak datang?” bisik Jheni.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Dia masih jagain mamanya di rumah sakit. Nggak mau ke sini.”

 

“Huft, apa dia nggak tambah sedih kalau ketemu terus sama mama palsunya itu? Mending ikut kita, bisa ngilangin stres. Ada banyak bir di sini,” tutur Jheni.

 

Yuna tertawa kecil menanggapi ucapan Jheni. Ia tiba-tiba terpikirkan oleh Icha yang lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Lutfi. Ia percaya, Lutfi pasti bisa membuat Icha selalu bahagia di sisinya.

 

 

 

 ((Bersambung ...))

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas