Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 405 : Gaun untuk Bumil

 


“Mbak, ada paketan.” Bibi War langsung menyodorkan sebuah paket begitu Yuna turun dari kamarnya.

 

“Dari siapa, Bi?” tanya Yuna sambil mengecek nama pengirim paketan tersebut. “Oh. Irvan.” Ia meletakkan paketan tersebut ke atas meja makan dan duduk santai.

 

“Mbak Yuna mau dibikinin jus?” tanya Bibi War.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Susu aja, Bi.”

 

“Susu terus. Udah punya susu, kok masih minta susu lagi?” celetuk Bibi War.

 

“Iih ... Bibi!” seru Yuna. “Buat cadangan kalo nanti aku ASI, Bi. Hahaha.”

 

Bibi War tertawa kecil. Ia bergegas melangkah ke pantry dan membuatkan susu untuk Yuna.

 

TING!

 

Yuna langsung membuka pesan yang dikirim ke Yeriko melalui ponsel yang ada di tangannya.

 

“Paketan dari Irvan sudah sampai?” tanya Yeriko lewat pesan singkat.

 

Yuna langsung menoleh ke arah paketan yang ada di atas meja.

 

“Sudah,” balas Yuna.

 

“Gimana? Suka?” tanya Yeriko lagi.

 

“Hah!?” Yuna kembali menatap paketan tersebut. “Astaga ...!” Ia menepuk dahinya sendiri. “Ini paket gaun sama make-up yang dipesan sama Yeriko?” serunya. Ia baru menyadari kalau paketan dari Irvan ditujukan untuk dirinya, bukan untuk suaminya.

 

Yuna bergegas bangkit dari tempat duduk sambil membawa paketan tersebut menuju ke kamarnya. Ia sangat bersemangat membuka paketan tersebut.

 

“Wah ...! Bagus banget gaunnya!” seru Yuna. Ia langsung mencoba gaun tersebut.

 

“Suamiku emang paling the best!” puji Yuna sambil menatap tubuhnya di depan cermin.

 

Yuna langsung meraih ponsel dan menelepon Yeriko.

 

-Panggilan ditolak –

 

“Kok, ditolak?” dengus Yuna.

 

TING!

 

“Chat aja! Aku lagi meeting sama klien,” tutur Yeriko lewat pesan singkat.

 

Yuna tersenyum kecil. “Masih sempat-sempatnya main handphone saat lagi meeting. Kalo aku yang jadi bosnya, udah aku potong gaji! Eh, kan dia bosnya. Hihihi.” Ia langsung memotret tubuhnya sendiri dan mengirimkan hasilnya kepada Yeriko.

 

“Gimana?” tanya Yuna.

 

“Cantik.”

 

“Thanks ya!”

 

“Tunggu aku pulang, ya! Aku lanjut meeting lagi,” pamit Yeriko sambil mengirim kiss emoticon kepada Yuna.

 

Yuna tersenyum dan membalas pesan Yeriko dengan emoticon yang sama. Ia memeluk ponsel sambil menari-nari bahagia di dalam kamarnya. Ia sangat tidak sabar menunggu suaminya pulang bekerja.

 

 

 

...

 

 

 

Setelah Yeriko pulang bekerja, ia dan Yuna langsung bersiap untuk pergi ke acara ulang tahun Andre.

 

“Ay, bagus nggak?” tanya Yuna sambil menunjukkan make-up di wajahnya.

 

“Bagus,” jawab Yeriko sambil mengancingkan kemejanya.

 

Yuna tersenyum sambil menatap wajahnya di cermin. “Nggak menor banget, kan?” tanyanya lagi untuk memastikan dandanan yang ia pakai masih terlihat girly.

 

“Nggak, kok.”

 

Yuna bangkit dari tempat duduk, ia membantu Yeriko memasangkan dasi dan jasnya. Mereka terlihat sangat serasi dengan setelan jas dan gaun warna biru malam.

 

“Udah ganteng,” puji Yuna sambil menepuk dada Yeriko.

 

Yeriko tersenyum sambil menatap kaki Yuna yang sudah mengenakan flat shoes warna putih dengan pita biru di atasnya. Senada dengan gaun selutut yang berwarna biru malam bertabur buah cherry. Di tangannya sudah ada handbag Chanel warna putih.

 

“Udah siap?” tanya Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Aku udah cantik ‘kan?” tanyanya sambil memainkan mata.

 

Yeriko tertawa kecil. “Iya, sudah cantik. Cantik banget,” jawab Yeriko sambil merangkul pinggang Yuna dan melangkah perlahan keluar dari kamarnya.

 

“Kenapa semalam kamu ngatain aku jelek?” tanya Yuna.

 

“Ck, aku bercanda.”

 

“Tapi aku serius nerimanya. Soalnya aku kan nggak bisa pake make up setiap hari. Nggak pakai skincare, mukaku kusem banget.”

 

“Muka kusem bukan karena pengaruh skincare atau bukan.”

 

“Terus?”

 

“Pengaruh hormon kehamilan,” jawab Yeriko santai.

 

“Kamu tahu dari mana?” tanya Yuna.

 

Yeriko menghela napas sambil membuka pintu mobilnya. “Kamu beli buku tentang ibu dan anak, nggak dibaca?”

 

“Baca.”

 

“Kenapa nggak tahu?”

 

“Aku nggak baca semua. Cuma baca yang ada gambar-gambarnya aja.”

 

“Makanya, jangan malas baca!” dengus Yeriko. “Masuk!” perintahnya sambil menunjuk kursi mobil dengan dagunya.

 

Yuna langsung masuk ke mobil. Begitu juga dengan Yeriko. Mereka bergegas menuju hotel tempat ulang tahun Andre.

 

 

 

...

 

 

 

-          Outdoor Venue at Hotel Majapahit -

 

Nirmala melangkahkan kakinya penuh percaya diri. Gaun merah yang ia kenakan membuat aura dirinya terpancar. Tangannya terus memeluk lengan Andre sambil menyambut tamu undangan yang datang ke acara tersebut.

 

“Selamat ulang tahun, Ndre! Semoga cepet dapet jodoh,” tutur salah satu rekan kerjanya.

 

Andre mengangguk. Ia melepas tangan Nirma dari lengannya dan memilih bergabung dengan teman-teman prianya untuk bersulang.

 

Andre terus mengedarkan pandangannya. Banyak tamu yang sudah berdatangan, tapi ia belum melihat sosok Yuna ada di sana. “Ayuna ... kamu beneran nggak datang?” batin Andre.

 

Andre langsung tersenyum begitu melihat Jheni dan Chandra muncul di pintu masuk. Ia sangat berharap kalau di belakangnya ada Yuna. Namun, sampai Jheni dan Chandra menghampirinya. Yuna tak kunjung terlihat.

 

“Hai, Ndre ...! Selamat ulang tahun ya!” tutur Jheni sambil menghampiri Andre.

 

“Makasih, Jhen! Berdua aja?” tanya Andre.

 

Jheni mengangguk sambil tersenyum manis.

 

Nirma langsung menghampiri Jheni dan Andre yang sedang saling sapa dan terlihat sangat hangat.

 

Jheni langsung menatap Nirma yang tiba-tiba merangkul lengan Andre.

 

“Jhen, kenalin ... ini Nirma,” tutur Andre sambil memperkenalkan Nirma. Hanya saja, ia tak menyebutkan kalau Nirma adalah tunangannya. “Nir, ini Jheni. Pacarnya Chandra.”

 

Nirma mengangguk sambil tersenyum. Ia segera mengulurkan tangannya dan berkenalan dengan Jheni dan Chandra.

 

“Selamat ya, Ndre! Mudahan, cepet dapet istri,” tutur Chandra.

 

Andre tertawa kecil. “Kamu duluan. Kalo kamu udah nikah, aku nyusul.”

 

“Kalo aku nggak nikah-nikah, kamu nggak nikah juga sampe tua?” tanya Chandra. Ia menoleh ke arah pelayan yang menyuguhkan beberapa gelas wine kepada mereka. Ia segera mengambil gelas wine untuk dirinya dan Jheni.

 

“Nggak mungkin kamu nggak nikah. Udah punya pacar secantik ini,” tutur Andre.

 

Jheni tertawa kecil menanggapi ucapan Andre. “Emangnya aku beneran cantik?”

 

Andre menganggukkan kepala. “Kalo kamu nggak cantik, nggak mungkin si Chandra suka sama kamu.”

 

“Dia terpaksa nerima aku,” sahut Jheni sambil tertawa.

 

“Hahaha.”

 

“Karena kamu udah muji aku cantik, aku punya hadiah buat kamu,” tutur Jheni sambil menyodorkan paper bag berisi kotak kado ke hadapan Andre.

 

“Repot-repot banget, Jhen. Sering-sering ya!” Andre tertawa kecil sambil meraih hadiah dari Jheni.

 

“Sebenarnya, itu hadiah dari Chandra. Aku nggak bisa kasih kamu hadiah khusus. Soalnya, pacarku yang satu ini ... diam-diam suka cemburu,” tutur Jheni.

 

“Hahaha. Wajar kalo cemburu sama pacar. Daripada nggak punya rasa cemburu sama sekali,” sahut Andre.

 

Chandra hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Andre. Mereka bertiga asyik bercanda ria hingga mengabaikan Nirma yang masih berdiri di sebelah Andre.

 

Nirma hanya menanggapi semuanya dengan senyuman. Di balik bibir merahnya, ada kebencian yang tersirat saat ia menatap wajah Jheni. Ia berpikir kalau Jheni adalah gadis yang disukai Andre. Sebab, pembicaraan mereka sangat akrab dan berhasil membuat Nirma kesal. Terlebih, Andre tidak memperkenalkan Nirma sebagai tunangannya.

 

Andre masih saja celingukan. Beberapa kali ia menoleh ke arah pintu. Namun, sosok Yuna masih belum terlihat di sana. Perasaannya semakin tak karuan. Ia berpikir kalau Yeriko sudah melarang Yuna untuk datang ke acara ulang tahunnya. Ia berusaha menyapa semua orang yang ada di pesta itu hingga ia berdiri di depan pintu masuk untuk menunggu Yuna datang memenuhi undangannya.

 

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini supaya author makin semangat menulis setiap hari.

Jangan lupa sapa author di kolom komentar ya!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas