Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 401 : Tak Sanggup Jujur

 


“Nenek, masih di sini?” tanya Lutfi saat ia masuk ke dalam ruang rawatnya.

 

Nenek Lutfi menganggukkan kepala. “Kalian terlalu lama pergi keluar. Nenek nunggu kalian di sini.”

 

“Maaf, Nek. Sudah bikin Nenek menunggu lama,” tutur Icha.

 

“Nggak papa. Tadi, dokter bilang kalau Lutfi sudah boleh pulang.”

 

“Oh ya? Yes!” seru Lutfi. “Aku udah kangen sama kasur di rumah.”

 

Nenek Lutfi tersenyum. “Kalian berkemas! Nenek akan pulang duluan.”

 

“Ke Jakarta?” tanya Lutfi.

 

“Nenek sudah tua. Kamu lebih senang kalau Nenek pergi-pulang? Nenek ke rumah kamu yang di sini. Nenek tunggu kalian di rumah.”

 

“Siap, Nek!” sahut Lutfi.

 

Nenek Lutfi tersenyum. Ia menoleh ke arah Icha. “Bantu Lutfi berkemas!” pintanya. “Nenek tunggu kalian di rumah.”

 

Icha mengangguk sambil tersenyum. “Iya, Nek.”

 

Nenek Lutfi tersenyum sambil menyentuh pundak Icha dan berlalu pergi.

 

Icha menghela napas sambil menatap kepergian Nenek Lutfi. Ia tak menyangka kalau akan diperlakukan dengan sangat baik oleh wanita tua itu.

 

“Cha, hari ini aku udah boleh keluar dari rumah sakit. Gimana kalau minggu ini, kita liburan? Aku udah suntuk banget,” tutur Lutfi sambil mengganti bajunya.

 

“Kenapa ganti baju di sini, sih? Ada kamar mandi,” tanya Icha tanpa menoleh ke arah Lutfi. Jantungnya berdebar sangat kencang setiap kali melihat lekukan tubuh Lutfi yang begitu menggoda.

 

Lutfi tersenyum sambil menatap Icha. Ia meraih pakaian bersih yang ada di sampingnya dan bangkit dari tempat tidur. Ia melangkah mendekati Icha sambil bertelanjang dada. “Kenapa pipimu merah gitu? Pake lipstik di pipi?” bisiknya. Kemudian berlari ke kamar mandi sebelum wajah Icha menyeringai ke arahnya.

 

Icha langsung menutup wajahnya sambil menarik napas dalam-dalam. Lutfi memang kerap kali menggodanya, tapi tetap saja masih membuat Icha salah tingkah. Ia bergegas membereskan barang-barang Lutfi untuk mereka bawa kembali ke rumah.

 

Drrt ... Drrt ... Drrt ...

 

Icha langsung meraih ponselnya yang bergetar. Ia menatap nama yang tertera di layar ponsel tersebut dan langsung menjawab panggilan telepon. “Halo ...!” sapa Icha lirih.

 

“Halo ...! Gimana kabar kamu, Nak?” tanya seseorang di ujung sana.

 

“Baik, Bah. Abah gimana kabarnya?”

 

“Baik juga. Mama kamu ke mana ya? Beberapa hari ini, nggak ngabarin Abah.”

 

Icha menarik napas dalam-dalam. “Mama baik-baik aja, kok. Kaki Abah gimana?”

 

“Masih sama seperti kemarin. Maklum, sudah makin tua.”

 

Icha tersenyum kecut. Ia tak sanggup mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada mamanya. Meski ia bukan anak kandung keduanya, tapi ayah angkatnya benar-benar memperlakukan dia dengan sangat baik. Tak pernah memarahi dirinya walau ia kerap membuat kesalahan. Ayahnya selalu bekerja keras siang dan malam demi membahagiakan Icha. Hal ini, membuat Icha tak mampu melukai perasaan ayahnya.

 

“Cha, kok diam? Abah bisa bicara sama mama kamu?”

 

“Eh!? Belum bisa, Bah. Icha masih kerja. Mama lagi pergi keliling ke tempat-tempat wisata. Dia sangat bahagia.”

 

“Syukurlah kalau begitu. Semoga dia bisa menikmati liburannya. Abah bisa merasa tenang. Tapi kenapa mama kamu nggak bisa Abah hubungi?”

 

“Oh ... itu Bah.” Icha berusaha mencari alasan yang tepat secepat kilat. “Waktu itu mama pergi ke pantai. Terus handphone dia nyemplung di air laut. Masih diperbaiki. Abah hubungi Icha aja.”

 

“Oh gitu?”

 

“He-em.” Icha menganggukkan kepala sambil menitikan air mata.

 

“Ya sudah, kamu jaga diri baik-baik di sana. Kerja yang rajin dan jaga mama kamu, ya!”

 

Icha menganggukkan kepala sambil mengusap air matanya. “Icha lanjutin kesibukan Icha dulu ya, Bah. Assalamualaikum ...!”

 

“Wa’alaikumussalam ...”

 

Icha langsung mematikan panggilan telepon. Ia terduduk lemas sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. “Kenapa aku harus terus berbohong? Aku nggak mau melihat Abah bersedih dan tambah sakit. Aku harus gimana?” batin Icha. Ia terus bergumul dengan pikirannya sendiri.

 

“Cha ...!” panggil Lutfi yang sudah berdiri di hadapan Icha.

 

Icha langsung menengadahkan kepalanya menatap Lutfi.

 

“Kamu kenapa?” tanya Lutfi sambil mengusap air mata Icha.

 

“Abah telepon, nanyain Mama Ratna. Aku harus gimana?”

 

“Kamu udah ceritain kenyataannya?”

 

Icha menggelengkan kepala. “Aku nggak sanggup buat jujur ke Abah. Aku takut, dia tambah sakit kalau tahu mama selama ini bermasalah di kota ini.”

 

Lutfi menghela napas sambil menatap Icha. “Setelah semuanya selesai, aku antar kamu ketemu sama ayah kamu. Kita jelasin semuanya. Dia pasti mengerti.”

 

Icha menatap Lutfi dengan mata berkaca-kaca. “Lut, apa Mama Ratna tetap akan diproses secara hukum?”

 

Lutfi menganggukkan kepala. “Kamu nggak perlu khawatir!” pintanya. “Aku akan tetap siapin pengacara untuk mama kamu.”

 

“Aku nggak tega lihat dia seperti ini ...”

 

“Cha, kalau kita lepasin. Justru akan lebih berbahaya. Kondisi mental dia juga nggak stabil. Nantinya, dokter dan polisi yang akan menentukan ... dia akan berakhir di bui atau di rumah sakit jiwa.”

 

“Lut, apa kamu menyimpan dendam di hati kamu? Kenapa nggak lepasin dia aja? Biar bagaimanapun, dia udah ngerawat aku dari kecil.”

 

“Nggak bisa, Cha. Ini hukuman yang harus dia terima atas apa yang sudah dia perbuat selama ini.”

 

Icha menganggukkan kepala. Ia mengerti, sulit baginya untuk menerima kenyataan. Di satu sisi, ia tak ingin melihat mamanya terluka. Di sisi lain, ia merasa sangat tersakiti karena sengaja dipisahkan dengan keluarga aslinya. Sekarang, ia bahkan tidak tahu harus pergi ke mana.

 

“Udah, jangan sedih!” pinta Lutfi. “Kita pulang sekarang!” ajaknya kemudian.

 

Icha mengangguk. Ia mengikuti langkah Lutfi keluar dari rumah sakit. Di luar gedung, asisten Lutfi sudah menunggu mereka dan membawa mereka kembali ke rumah milik Lutfi.

 

Begitu sampai di rumah, Lutfi dan Icha mendapatkan sambutan hangat dari Nenek Lutfi. Nenek Lutfi juga sudah menyiapkan banyak makanan lezat untuk mereka nikmati bersama.

 

“Cha, apa rencana kamu selanjutnya?” tanya Nenek Lutfi sambil menikmati makan malam bersama.

 

Icha melirik ke arah Lutfi yang duduk di sampingnya. “Belum tahu, Nek.”

 

“Nenek dengar, kamu ngekos di luar?”

 

Icha menganggukkan kepala.

 

Nenek Lutfi menghela napas. “Rumah ini terlalu besar kalau hanya ditinggali Lutfi seorang diri. Gimana, kalau kamu juga tinggal di sini?”

 

“Eh!?” Icha langsung menggelengkan kepala. “Nggak usah, Nek. Aku biasa tinggal sendiri, kok. Lagian, aku baru bayar kosan aku. Sayang uangnya kalau langsung ditinggal gitu aja. Sampai sekarang, aku masih belum punya kerjaan.”

 

Nenek Lutfi tertawa kecil. “Kamu itu pacarnya cucu saya. Kenapa bingung soal tempat tinggal dan pekerjaan. Apa Lutfi selalu menindas kamu?”

 

Icha menggelengkan kepala.

 

“Kalau gitu, kamu tinggallah bersama di sini. Setidaknya, ada seseorang yang menjaga cucu Nenek yang nakal ini.”

 

Icha berpikir sejenak. Hubungan ia dengan Lutfi memang sudah membaik. Tapi, haruskah ia tinggal satu atap dengan pacarnya sendiri?

 

“Daripada kamu bayar sewa di luar sana. Lebih baik tinggal di sini!” pinta Nenek Lutfi. “Jangan merendahkan harga diri keluarga kami!”

 

DEG!

 

Jantung Icha serasa berhenti saat Nenek Lutfi menyebutkan soal harga diri. Lalu, di mana harga dirinya saat ini? Ia hanya bisa menuruti semua yang diinginkan keluarga Lutfi atau berusaha hidup dengan mengandalkan kemampuan diri sendiri.

 

“Nek, jangan paksa Icha untuk tinggal di rumah ini. Dia lebih bahagia ada di luar sana. Dia pasti tertekan kalau tinggal di rumah pacarnya sendiri,” sahut Lutfi kesal.

 

Icha langsung menoleh ke arah Lutfi. Kalimat yang keluar dari mulut Lutfi membuatnya semakin serba salah. “Aku nggak bilang begitu,” sergah Icha sambil menatap wajah Lutfi.

 

“Terus? Kamu juga nggak mau tinggal di sini kan?”

 

“Lut, aku nggak enak sama keluarga, sama tetangga ... kalau aku tinggal satu rumah sama kamu. Nanti, mereka akan berpikir kalau aku ...”

 

“Kita nikah aja! Gimana?” sahut Lutfi.

 

Icha langsung terdiam. Sementara, Nenek Lutfi tersenyum menatap dua orang yang ada di hadapannya.

 

Lutfi memainkan alisnya sambil menatap Icha.

 

Icha tak menyahut. Ia hanya menelan ludah sambil melanjutkan makannya.

 

“Kamu nggak mau nikah sama aku, Cha?” tanya Lutfi.

 

Icha menggelengkan kepala.

 

Lutfi gelagapan menatap wajah Icha. “Kenapa? Kamu tega banget nolak aku!”

 

Icha tersenyum sambil menatap Lutfi. “Lut, waktu ngajak pacaran, kamu ngomongnya lembut dan romantis banget. Kenapa ngajak nikah kayak ngajak berantem?”

 

“Hahaha.” Lutfi tergelak. “Oke. Oke. I see.”

 

Nenek Lutfi tertawa kecil. “Nenek akan siapin pesta pertunangan kalian. Tapi, di Jakarta. Gimana?”

 

Icha langsung membelalakkan matanya. Semua sahabat terdekatnya ada di Surabaya. Bagaimana ia bisa melangsungkan acara pertunangan di Jakarta. Sementara Yuna sedang hamil dan belum tentu bisa bepergian jauh.

 

“Kenapa? Kamu nggak suka menikah sama cucu saya?” tanya Nenek Lutfi.

 

“Eh!? Bukan gitu maksudnya, Nek. Aku cuma ... nggak bisa kalau harus bertunangan di sana. Gimana sama Yuna dan yang lainnya?”

 

Nenek Lutfi tersenyum menatap Icha. “Kasih pengertian ke mereka. Kalau perlu, mereka datang ke Jakarta juga. Nanti, waktu pesta pernikahan kalian ... kalian boleh adain di kota ini.”

 

“Di sini aja, Nek!” pinta Lutfi. “Aku males bikin pesta di sana. Aku mau acaranya tertutup buat temen-temen deket aja.”

 

Nenek Lutfi menghela napas sambil menatap cucunya. “Lut, pesta pertunangan ini bisa kita gunakan untuk meningkatkan popularitas perusahaan kamu.”

 

“Nek, jangan buat hubunganku sama Icha jadi hubungan bisnis seperti yang lain!” pinta Lutfi. “Dia calon istri aku, bukan alat untuk menaikkan popularitas perusahaan.”

 

“Oke.” Nenek Lutfi mengangguk-anggukkan kepala. “Nenek nggak akan ikut campur sama hubungan kalian. Asalkan, Icha mau tinggal di rumah ini. Gimana kalau sampai media tahu ... pacar pewaris SD Entertainment tinggalnya di kos-kosan? Kamu kayak laki-laki yang nggak sanggup hidupin istri kamu sendiri.”

 

“Nenek ...!?” Lutfi menatap geram ke arah neneknya sendiri. Ia memaksa bibirnya tersenyum sambil menoleh ke arah Icha. “Cha, kamu nggak mau menjatuhkan harga diriku sebagai lelaki kan? Please, tinggal di sini!” pinta Lutfi sambil menggenggam kedua tangan Icha.

 

Icha berpikir selama beberapa saat.

 

“Please ...!” pinta Lutfi lagi.

 

Icha akhirnya menganggukkan kepala. “Tapi, aku punya syarat.”

 

“Apa itu? Apa aja aku penuhi.”

 

“Aku mau cari pekerjaan dengan kemampuanku sendiri. Aku juga nggak mau harga diriku hilang di hadapan kamu dan semua orang.”

 

Lutfi tersenyum sambil menatap Icha. “Baiklah. Asal kamu mau tinggal di sini. Soal pekerjaan kamu, aku nggak akan ikut campur.”

 

Icha mengangguk sambil tersenyum.

 

“Sebaiknya, kamu nggak usah bekerja setelah kalian menikah. Kayak istrinya Yeriko itu. Dia sangat berbakti sama suaminya. Nenek dengar, dia lulusan luar negeri. Dia merelakan kemampuannya untuk mengurus suami. Nenek harap, kamu juga bisa seperti itu.”

 

Icha mengangguk. Ia tidak ingin terus berdebat di hadapan Lutfi dan Neneknya, menuruti apa yang mereka inginkan, akan membuat suasana menjadi lebih baik. Walau ia masih sangat canggung jika harus tinggal satu rumah dengan pacarnya sendiri.

 

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini supaya author makin semangat menulis setiap hari.

Jangan lupa sapa author di kolom komentar ya!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

Perfect Hero Bab 400 : Bad Mood

 


Yuna dan yang lainnya memutuskan untuk kembali ke rumah. Mereka ingin memberikan banyak waktu pada Icha untuk berpikir tentang kehidupannya. Hatinya sedikit tenang karena ada Lutfi yang selalu berada di samping Icha untuk menenangkan kegelisahan hatinya.

 

“Ay, malam ini kita makan malam di rumah ayah ya!” pinta Yuna.

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Kita masak di sana, gimana?”

 

Yeriko mengangguk lagi.

 

Yuna menghela napas. “Kenapa cuma manggut-manggut aja?” tanya Yuna.

 

“Terus? Maunya aku geleng-geleng?” tanya Yeriko balik.

 

“Jawabin, kek!” celetuk Yuna sambil melipat kedua tangannya. Ia sangat kesal karena Yeriko tidak mengajaknya bicara sepanjang perjalanan.

 

Yeriko tersenyum kecil. “Kamu kenapa, sih? Sensitif banget?” tanyanya.

 

“Nggak tahu!” sahut Yuna ketus tanpa menoleh ke arah Yeriko.

 

Yeriko menahan tawa sambil melirik Yuna. Ia terus melajukan mobilnya ke pusat perbelanjaan.

 

“Kita nggak pulang?” tanya Yuna.

 

“Katanya, mau masak di rumah ayah? Kita belanja dulu,” jawab Yeriko sambil melepas safety belt yang melingkar di pinggangnya.

 

Yuna tersenyum. Ia ikut keluar dari mobil dan melangkahkan kakinya perlahan. Ia memonyongkan bibir dan menghentikan langkahnya saat Yeriko terus melangkah tanpa melihat keberadaannya. “Iih ... kenapa nggak ditungguin? Mentang-mentang punya kaki panjang, main tinggal gitu aja,” gumam Yuna sambil menghentakkan kakinya.

 

Yeriko berhenti melangkah saat ia tak mendengar suara langkah Yuna. Ia langsung berbalik dan melangkah menghampiri Yuna. “Kenapa sih, Sayang?” tanyanya.

 

Yuna melipat wajahnya. Ia merasa kalau perhatian Yeriko untuknya semakin berkurang setiap harinya. “Apa karena aku makin gendut? Makanya Yeriko nggak perhatiin aku lagi?” batinnya dengan mata berkaca-kaca.

 

Yeriko menghela napas sambil menatap Yuna. “Kamu kenapa? Kok mewek?”

 

“Kesel sama kamu!” sahut Yuna.

 

“Kesel kenapa?” tanya Yeriko. Rasanya, saat di rumah sakit tidak ada hal buruk yang terjadi di antara mereka. Entah kenapa Yuna begitu sensitif dan ketus terhadap dirinya.

 

Yuna tak menjawab. Ia menghentakkan satu kaki dan melangkah memasuki pintu mall tanpa menghiraukan Yeriko.

 

Yeriko menggaruk kepala sambil menautkan kedua alisnya. “Dia kenapa sih? Ibu hamil emang mood-nya gampang berubah gitu ya? Aku salah apa?” gumamnya sambil melangkahkan kakinya mengikuti Yuna.

 

Yuna langsung memilih beberapa ikan dan sayuran untuk ia masak di rumah ayahnya.

 

“Mau masak apa?” tanya Yeriko.

 

“Aku mau bikin sup ikan. Kamu mau makan apa?” tanya Yuna balik.

 

“Apa aja yang kamu masak, pasti aku makan.”

 

“Kalo aku nggak masak, kamu nggak makan?” tanya Yuna.

 

“Tetep makan. Banyak restoran yang menanti kedatanganku,” jawab Yeriko sambil meraih buah stroberi dan memasukkannya ke dalam trolly.

 

Yuna memonyongkan bibirnya.

 

“Nggak usah ngambek terus!” pinta Yeriko sambil menjepit kedua pipi Yuna dengan jemari tangannya.

 

“Kamu itu nyebelin ...!” seru Yuna.

 

“Aku nyebelin kenapa? Aku nggak ngapa-ngapain,” sahut Yeriko berbisik.

 

Yuna mengerutkan hidungnya. Hatinya sangat kesal melihat wajah Yeriko. Hanya saja, ia tidak mengerti apa yang membuat dirinya begitu kesal. Apa hanya karena dia menginginkan jawaban manis dari suaminya? Rasanya, dia begitu egois karena menuntut suaminya untuk terus menyenangkan dirinya.

 

“Hei ...!” Yeriko melambaikan tangannya tepat di depan wajah Yuna.

 

Yuna tersenyum. Ia menghela napas dan kembali mendorong trolly yang ada di tangannya tanpa mengucapkan apa pun. Ia menyadari kesalahannya yang tiba-tiba marah tanpa sebab.

 

Yeriko tersenyum kecil. Ia segera mengambil alih trolly yang ada di tangan Yuna. “Jangan ngambek terus!” pinta Yeriko sambil merangkul leher Yuna. “Mau ice cream?”

 

“Emangnya boleh makan ice cream?”

 

“Emang ada larangan makan ice cream?” tanya Yeriko balik.

 

“Tapi waktu terapi ... dokter udah ngelarang aku makan ice cream,” tutur Yuna.

 

“Mmh ... iya juga ya? Itu aja, mau?” tanya Yeriko sambil menunjuk rak dessert yang tak jauh darinya.

 

Yuna langsung menganggukkan kepala. “Boleh ambil sepuasnya?”

 

Yeriko mengangguk. “Mau beli sama tokonya juga boleh.”

 

“Huh, sombong!” dengus Yuna sambil memonyongkan bibirnya ke arah Yeriko.

 

Yeriko tersenyum kecil dan mengecup bibir Yuna.

 

“Iih ... di tempat umum. Banyak anak kecil!” dengus Yuna sambil meninju dada Yeriko.

 

“Emang kenapa? Anak kecil juga diajari kasih sayang ‘kan?”

 

“Tapi bukan diajari berciuman!” sahut Yuna.

 

Yeriko mengernyitkan dahinya. “Kalau aku punya anak, nggak boleh nyium anakku sendiri?”

 

“Iih ... kamu ini!?” seru Yuna kesal.

 

Yeriko tertawa kecil. “Kamu kenapa, sih? Marah-marah terus?”

 

“Aku nggak marah. Cuma kesel aja sama kamu.”

 

“Sama aja. Kamu marah sama kesel, nggak ada bedanya. Sama-sama jelek,” sahut Yeriko.

 

Yuna memonyongkan bibirnya. “Beneran jelek?” Ia tak bisa menyembunyikan kesedihannya.

 

“Nggak, kok. Bercanda. Kamu kenapa jadi sensitif banget?” tanya Yeriko.

 

“Karena aku sekarang udah makin gendut. Aku nggak bisa pakai skincare, kulitku kusam gini. Nggak cantik lagi. Kamu bilang aku jelek, makin hari juga makin cuek sama aku,” tutur Yuna dengan mata berkaca-kaca.

 

“Kenapa kamu ngomong kayak gini? Aku cuma bercanda. Sejak kapan kamu nganggap semua ini serius?” tanya Yeriko.

 

Yuna mengusap pipinya yang sudah terlanjur basah.

 

“Udah, jangan sedih!” pintanya sambil mengelus pipi Yuna. “Aku yang salah. Aku minta maaf! Lain kali, aku nggak akan bercanda kayak gini lagi. Nggak usah sedih ya!”

 

Yuna masih bergeming.

 

“Yun, jangan kayak gini terus!” pinta Yeriko. “Badanmu mau gendut, kulit kamu kusam, badan kamu bau ... aku tetap sayang sama kamu. Apa kamu berpikir kalau cintaku sebatas fisik aja?” lanjutnya sambil mengelus dagu dan bibir Yuna.

 

“Beneran?” tanya Yuna lirih.

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Kalau aku yang tiba-tiba berubah jadi pria yang jelek dan miskin, apa kamu masih mau sayang sama aku?” tanya Yeriko.

 

Yuna tak menjawab, ia langsung memeluk tubuh Yeriko.

 

Yeriko tersenyum kecil. Ia mulai mengerti, perubahan fisik pada masa kehamilan Yuna. Membuat istrinya kehilangan kepercayaan diri. Ia harus lebih berhati-hati dan lebih banyak menyenangkan istrinya. “Ayo, kita pulang sekarang!”

 

Yuna mengangguk dan melepas pelukannya.

 

“Aku yang antri di kasir. Kamu tunggu di sana!” pinta Yeriko sambil menunjuk deretan kursi yang disediakan untuk bersantai.

 

Yuna mengangguk dan bergegas melangkahkan kakinya menuju kursi tersebut.

 

Usai membayar semua belanjaan, mereka bergegas pergi ke apartemen ayah Yuna.

 

Beberapa menit kemudian, Yuna dan Yeriko sampai di depan pintu apartemen ayahnya.

 

“Sore Ayah ...!” sapa Yuna begitu Adjie membukakan pintu apartemen untuknya.

 

“Yuna? Nak Yeri? Kenapa kalian ke sini, nggak kabarin Ayah dulu?” tanya Adjie.

 

“Hah!?” Yuna melongo menatap ayahnya sendiri. “Sejak kapan kalau mau ke rumah Ayah harus laporan dulu? Ada yang disembunyikan di rumah ini?” tanyanya sambil nyelonong masuk.

 

Adjie dan Yeriko saling pandang sambil menaikkan kedua alisnya.

 

Yeriko mengedikkan bahunya sambil menatap Adjie.

 

Adjie menggelengkan kepala sambil mengajak Yeriko masuk ke rumahnya.

 

“Yah, si Yuna sensitif banget,” bisik Yeriko.

 

Adjie tertawa kecil. “Biasa ... perempuan kalo lagi hamil, sensitifnya ngalahin PMS.”

 

“Serius, Yah?”

 

Adjie menganggukkan kepala. “Dulu, waktu si Yuna masih di dalam perut, ibunya sensitif banget. Bahkan, dia nangis kalau sampai Ayah menyuap makanan lebih dulu.”

 

“Hah!? Seserius itu, Yah?”

 

Adjie mengangguk sambil menepuk-nepuk bahu Yeriko. “Kamu harus lebih sabar menghadapi suasana hatinya yang mudah berubah!”

 

Yeriko menganggukkan kepala. Ia segera menghampiri Yuna yang sedang mengeluarkan belanjaannya di dapur. “Kamu kangen sama Ayah kan? Biar aku yang masak!” pintanya mengambil alih.

 

“Eh!?” Yuna melongo menatap Yeriko.

 

“Aku siapin makan malam buat kalian. Kamu temenin Ayah ngobrol!”

 

Yuna tersenyum menatap Yeriko. “Makasiih ...!” ucapnya sambil mengecup pipi Yeriko. Ia segera menghampiri ayahnya yang sedang bersantai di sofa.

 

“Gimana keadaan kamu? Baik-baik aja kan?” tanya Adjie.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Sangat baik. Aku kangen sama Ayah,” jawabnya sambil bergelayut manja di bahu ayahnya.

 

Adjie mengelus kepala Yuna. Ia bercerita banyak hal tentang kesehariannya. Adjie menceritakan banyak hal kepada Yuna sambil memijat kedua kaki anaknya itu.

 

Yuna terlalu menikmati pijatan lembut di kakinya hingga ia terlelap di sofa. Alhasil, waktu makan malam harus tertunda karena menunggu Yuna terbangun dari tidurnya.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini supaya author makin semangat menulis setiap hari.

Jangan lupa sapa author di kolom komentar ya!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 399 : Mencintaimu Tanpa Batas

 


Icha menatap wajah mamanya yang diselimuti kebencian. Ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi kenyataan yang terjadi pada dirinya. Ia selalu merasa kalau Ratna adalah ibu yang baik walau terkadang kasar. Tapi, ia tak pernah terpikir sedikit pun kalau dia bukanlah anak kandung Ratna.

 

“Ma, sekalipun aku bukan anak kandung Mama. Aku akan tetap menganggap Mama sebagai Mamaku. Terima kasih, sudah merawat aku hingga sebesar ini. Aku harap, Mama tidak menyimpan dendam yang berkepanjangan,” tutur Icha sambil menatap Ratna.

 

“Kamu nggak usah ceramahin Mama!” sahut Ratna. “Kamu nggak ngerti apa yang sudah Mama rasain selama ini. Kamu nggak tahu gimana rasanya dicampakkan, diusir begitu saja. Seharusnya, Mama bisa menjalani hidup bahagia. Semuanya hancur karena perempuan ini!” serunya sambil menunjuk wajah Nenek Lutfi.

 

“Hei, jangan macam-macam sama nenekku!” seru Lutfi sambil menurunkan tangan Ratna. Ia menatap tajam ke arah Ratna. “Kali ini, aku nggak akan ngelepasin kamu!”

 

“Dia yang harus bertanggung jawab karena sudah bikin anakku mati!” seru Ratna. Ia bersikeras dengan pemikirannya sendiri.

 

“Aku nggak ngelakuin apa-apa. Bukannya kamu yang mau bunuh cucu saya?” sahut Nenek Lutfi.

 

Ratna semakin geram. Ia kesal karena semua orang menghakimi dirinya. “Aargh ...!” teriaknya histeris sambil menutup kedua telinganya. “Keluar dari sini!”

 

“Bu Ratna harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah Bu Ratna perbuat,” tutur Yeriko.

 

“Kamu siapa? Nggak usah ikut campur urusan aku!”

 

Icha menatap pilu ke arah mamanya. “Ma, aku nggak bisa melindungi Mama lagi ...” tutur Icha lirih. “Terlalu banyak hal yang Mama lakukan. Aku nggak sanggup menerima ini semua.”

 

Lutfi menatap wajah Icha sambil mengelus pundak gadis itu. Ia harap, Icha bisa lebih tenang menerima kenyataan yang terjadi pada dirinya.

 

“Icha ...?” Ratna masih berharap kalau Icha bisa menerima semua hal yang telah ia lakukan. “Mama sayang sama kamu seperti anak sendiri.”

 

Air mata Icha kembali menetes. “Ma, terlalu banyak kejahatan yang mama lakukan. Mama tega ngelakuin ini semua. Tega ingin membunuh Lutfi dan tega memisahkan aku dari keluargaku sendiri. Sekarang, aku nggak tahu siapa orang tuaku sebenarnya.”

 

“Cha ...!” panggil Ratna lirih. “Kamu anaknya Mama. Tetap anak Mama. Mama sayang sama kamu.”

 

“Icha bukan anak kecil lagi, Tante. Tante harus lepasin dia!” pinta Yuna. “Dia nggak layak punya mama yang kejam seperti Tante!”

 

“Kamu ...!? Berani-beraninya ikut campur urusanku!”

 

“Icha teman baikku. Aku sudah menganggap dia seperti saudaraku sendiri. Aku nggak akan ngebiarin siapa pun melukai Icha. Termasuk mama palsunya ini!” tegas Yuna.

 

Ratna menatap Yuna penuh kebencian. “Kamu mau pengaruhi Icha supaya benci saya, hah!?” sentaknya.

 

Yuna balik menatap Ratna penuh keberanian. “Lebih baik. Daripada saya membiarkan Icha dipengaruhi sama perempuan jahat seperti Tante.”

 

Ratna tersenyum sinis. “Kamu pikir, Icha bakal nurut sama kamu, hah?” Ia mengalihkan pandangannya pada Icha. “Cha, kamu percaya sama Mama kan? Mama akan sayang sama kamu seperti anak Mama sendiri. Cuma kamu anak Mama satu-satunya.”

 

Icha menggelengkan kepala. Ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan bangsal tersebut.

 

“Cha ... Icha ...!” panggil Lutfi sambil mengikuti langkah Icha.

 

Icha terus melangkahkan kakinya sambil mengusap air mata yang terus menetes di pipinya. Ia tidak tahu harus pergi ke mana. Lutfi bukanlah kakaknya lagi, ia juga bukan anak kandung mamanya. “Kenapa hidupku jadi serumit ini?” batin Icha.

 

“Icha ...!” Lutfi terus mengejar langkah Icha. Ia menahan lengan Icha dan menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukkannya.

 

Icha terisak di pelukkan Lutfi. “Lut, aku harus gimana?”

 

Lutfi menarik napas sambil tersenyum. “Nggak gimana-gimana. Kamu cukup tersenyum aja! Sayangku ke kamu bisa hilang kalau kamu berubah jadi jelek,” jawabnya sambil menahan tawa.

 

Icha mengerutkan bibir sambil mencubit perut Lutfi. “Masih aja bisa bercanda!”

 

“Aw ...! Sakit banget, Cha!” rintih Lutfi sambil memegangi perutnya. Ia menahan tawa sambil melirik wajah Icha.

 

“Cuma pura-pura ‘kan?”

 

“Aduh ...! Sakit beneran,” jawab Lutfi sambil menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Lutfi terus merintih sambil meringkuk di lantai.

 

“Serius!?” Icha langsung menghampiri Lutfi sambil mengangkat kepalanya. Ia mengedarkan pandangannya, mencari perawat yang bisa membantunya. “Suster ...!” panggilnya.

 

Lutfi menahan lengan Icha agar tak pergi. “Aku nggak butuh suster. Cuma kamu yang bisa ngobatin sakitku.”

 

“Maksud kamu?”

 

“Aku cuma butuh ciuman dari kamu,” jawab Lutfi.

 

“Kamu candain aku!?” seru Icha kesal. Ia menjatuhkan kepala Lutfi dari pangkuannya dan bangkit dari lantai.

 

“Aw...!” seru Lutfi sambil memegang kepalanya yang terbentur lantai. “Tega banget sama pacar sendiri!” serunya kemudian.

 

“Kamu juga tega banget ngerjain pacar sendiri!” seru Icha kesal.

 

Lutfi tertawa kecil sambil bangkit dari lantai. Ia langsung meraih jemari tangan Icha. “Udah, jangan ngambek gitu! Jelek tau!”

 

“Aku lagi kayak gini, kamu sempat-sempatnya masih bercanda sama penyakit kamu. Kamu nggak tahu gimana khawatirnya aku?”

 

“Iya, iya. Aku tahu,” jawab Lutfi yang masih duduk di lantai. “Sini!” pinta Lutfi sambil meminta Icha duduk di sampingnya.

 

Icha terdiam sejenak. Ia perlahan duduk di samping Lutfi. “Cha, di sini tempatnya orang sakit. Tapi, semuanya ingin sembuh. Aku tahu, kamu pasti merasa sakit menerima kenyataan hari ini. Sesakit apa pun itu, kamu harus ingat kalau ada aku yang selalu di samping kamu. Ada Yuna, Jheni dan yang lainnya. Mereka nggak akan meninggalkan kamu gitu aja.”

 

Icha menghela napas. “Aku nggak mau terus menerus menyimpan dendam ke Mama Ratna. Tapi, aku masih nggak bisa menerima semuanya. Aku masih bingung. Aku nggak tahu harus gimana. Setiap ucapan yang keluar dari Mama Ratna, aku nggak sanggup untuk mencerna itu semua.”

 

“Mau aku bantu mencerna?” tanya Lutfi sambil tersenyum menatap Icha.

 

“Emang bisa?” tanya Icha balik.

 

Lutfi menganggukkan kepala. “Kasih ke aku!” pintanya sambil menengadahkan telapak tangannya.

 

Icha tertawa kecil sambil menepuk telapak tangan Lutfi. “Kamu ini, ada-ada aja!” dengusnya.

 

Lutfi tersenyum sambil menggenggam erat telapak tangan Icha. “Cha, aku nggak peduli asal-usul kamu. Aku nggak peduli dari mana kamu berasal. Aku nggak peduli kamu anak siapa. Aku akan tetep sayang dan cinta sama kamu tanpa batas.”

 

Icha menatap mata Lutfi penuh cinta. Kali ini, ia melihat dengan jelas kalau Lutfi mengucapkan kalimat itu dari hati yang paling dalam. Ia tak pernah melihat Lutfi begitu serius menatap dirinya.

 

“Sesulit apa pun masalah yang akan kamu hadapi, jangan lari! Aku percaya, Tuhan menciptakan kedua kakimu untuk berdiri dengan kuat. Aku akan selalu ada di belakangmu. Menjagamu tetap berdiri tegak.”

 

Icha tersenyum. Ia menyandarkan kepalanya ke pundak Lutfi. “Aku juga ingin selalu berada di dekat kamu. Aku nggak akan lemah, asal kamu jangan jauh dari aku.”

 

Lutfi menganggukkan kepala. Ia merangkul pundak Icha dan mengelusnya perlahan. “Asal kita bersama. Semua masalah pasti bisa kita lewati. Kalau kedua kaki kita tak sanggup berdiri lagi. Setidaknya, kita bisa tetap duduk berdampingan seperti ini. Karena dengan melihat senyum kamu ... aku sudah bahagia.”

 

Icha menganggukkan kepala. Ia sangat bahagia memiliki pacar dan sahabat yang begitu peduli dengan kehidupannya. Ia ingin semuanya segera berlalu tanpa ada perasaan dendam dalam hatinya. Ia tidak ingin menjadi pembenci walau apa yang telah dilakukan mamanya membuatnya begitu sakit.

 

  ((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat menulis setiap hari, bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas