Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 401 : Tak Sanggup Jujur

 


“Nenek, masih di sini?” tanya Lutfi saat ia masuk ke dalam ruang rawatnya.

 

Nenek Lutfi menganggukkan kepala. “Kalian terlalu lama pergi keluar. Nenek nunggu kalian di sini.”

 

“Maaf, Nek. Sudah bikin Nenek menunggu lama,” tutur Icha.

 

“Nggak papa. Tadi, dokter bilang kalau Lutfi sudah boleh pulang.”

 

“Oh ya? Yes!” seru Lutfi. “Aku udah kangen sama kasur di rumah.”

 

Nenek Lutfi tersenyum. “Kalian berkemas! Nenek akan pulang duluan.”

 

“Ke Jakarta?” tanya Lutfi.

 

“Nenek sudah tua. Kamu lebih senang kalau Nenek pergi-pulang? Nenek ke rumah kamu yang di sini. Nenek tunggu kalian di rumah.”

 

“Siap, Nek!” sahut Lutfi.

 

Nenek Lutfi tersenyum. Ia menoleh ke arah Icha. “Bantu Lutfi berkemas!” pintanya. “Nenek tunggu kalian di rumah.”

 

Icha mengangguk sambil tersenyum. “Iya, Nek.”

 

Nenek Lutfi tersenyum sambil menyentuh pundak Icha dan berlalu pergi.

 

Icha menghela napas sambil menatap kepergian Nenek Lutfi. Ia tak menyangka kalau akan diperlakukan dengan sangat baik oleh wanita tua itu.

 

“Cha, hari ini aku udah boleh keluar dari rumah sakit. Gimana kalau minggu ini, kita liburan? Aku udah suntuk banget,” tutur Lutfi sambil mengganti bajunya.

 

“Kenapa ganti baju di sini, sih? Ada kamar mandi,” tanya Icha tanpa menoleh ke arah Lutfi. Jantungnya berdebar sangat kencang setiap kali melihat lekukan tubuh Lutfi yang begitu menggoda.

 

Lutfi tersenyum sambil menatap Icha. Ia meraih pakaian bersih yang ada di sampingnya dan bangkit dari tempat tidur. Ia melangkah mendekati Icha sambil bertelanjang dada. “Kenapa pipimu merah gitu? Pake lipstik di pipi?” bisiknya. Kemudian berlari ke kamar mandi sebelum wajah Icha menyeringai ke arahnya.

 

Icha langsung menutup wajahnya sambil menarik napas dalam-dalam. Lutfi memang kerap kali menggodanya, tapi tetap saja masih membuat Icha salah tingkah. Ia bergegas membereskan barang-barang Lutfi untuk mereka bawa kembali ke rumah.

 

Drrt ... Drrt ... Drrt ...

 

Icha langsung meraih ponselnya yang bergetar. Ia menatap nama yang tertera di layar ponsel tersebut dan langsung menjawab panggilan telepon. “Halo ...!” sapa Icha lirih.

 

“Halo ...! Gimana kabar kamu, Nak?” tanya seseorang di ujung sana.

 

“Baik, Bah. Abah gimana kabarnya?”

 

“Baik juga. Mama kamu ke mana ya? Beberapa hari ini, nggak ngabarin Abah.”

 

Icha menarik napas dalam-dalam. “Mama baik-baik aja, kok. Kaki Abah gimana?”

 

“Masih sama seperti kemarin. Maklum, sudah makin tua.”

 

Icha tersenyum kecut. Ia tak sanggup mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada mamanya. Meski ia bukan anak kandung keduanya, tapi ayah angkatnya benar-benar memperlakukan dia dengan sangat baik. Tak pernah memarahi dirinya walau ia kerap membuat kesalahan. Ayahnya selalu bekerja keras siang dan malam demi membahagiakan Icha. Hal ini, membuat Icha tak mampu melukai perasaan ayahnya.

 

“Cha, kok diam? Abah bisa bicara sama mama kamu?”

 

“Eh!? Belum bisa, Bah. Icha masih kerja. Mama lagi pergi keliling ke tempat-tempat wisata. Dia sangat bahagia.”

 

“Syukurlah kalau begitu. Semoga dia bisa menikmati liburannya. Abah bisa merasa tenang. Tapi kenapa mama kamu nggak bisa Abah hubungi?”

 

“Oh ... itu Bah.” Icha berusaha mencari alasan yang tepat secepat kilat. “Waktu itu mama pergi ke pantai. Terus handphone dia nyemplung di air laut. Masih diperbaiki. Abah hubungi Icha aja.”

 

“Oh gitu?”

 

“He-em.” Icha menganggukkan kepala sambil menitikan air mata.

 

“Ya sudah, kamu jaga diri baik-baik di sana. Kerja yang rajin dan jaga mama kamu, ya!”

 

Icha menganggukkan kepala sambil mengusap air matanya. “Icha lanjutin kesibukan Icha dulu ya, Bah. Assalamualaikum ...!”

 

“Wa’alaikumussalam ...”

 

Icha langsung mematikan panggilan telepon. Ia terduduk lemas sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. “Kenapa aku harus terus berbohong? Aku nggak mau melihat Abah bersedih dan tambah sakit. Aku harus gimana?” batin Icha. Ia terus bergumul dengan pikirannya sendiri.

 

“Cha ...!” panggil Lutfi yang sudah berdiri di hadapan Icha.

 

Icha langsung menengadahkan kepalanya menatap Lutfi.

 

“Kamu kenapa?” tanya Lutfi sambil mengusap air mata Icha.

 

“Abah telepon, nanyain Mama Ratna. Aku harus gimana?”

 

“Kamu udah ceritain kenyataannya?”

 

Icha menggelengkan kepala. “Aku nggak sanggup buat jujur ke Abah. Aku takut, dia tambah sakit kalau tahu mama selama ini bermasalah di kota ini.”

 

Lutfi menghela napas sambil menatap Icha. “Setelah semuanya selesai, aku antar kamu ketemu sama ayah kamu. Kita jelasin semuanya. Dia pasti mengerti.”

 

Icha menatap Lutfi dengan mata berkaca-kaca. “Lut, apa Mama Ratna tetap akan diproses secara hukum?”

 

Lutfi menganggukkan kepala. “Kamu nggak perlu khawatir!” pintanya. “Aku akan tetap siapin pengacara untuk mama kamu.”

 

“Aku nggak tega lihat dia seperti ini ...”

 

“Cha, kalau kita lepasin. Justru akan lebih berbahaya. Kondisi mental dia juga nggak stabil. Nantinya, dokter dan polisi yang akan menentukan ... dia akan berakhir di bui atau di rumah sakit jiwa.”

 

“Lut, apa kamu menyimpan dendam di hati kamu? Kenapa nggak lepasin dia aja? Biar bagaimanapun, dia udah ngerawat aku dari kecil.”

 

“Nggak bisa, Cha. Ini hukuman yang harus dia terima atas apa yang sudah dia perbuat selama ini.”

 

Icha menganggukkan kepala. Ia mengerti, sulit baginya untuk menerima kenyataan. Di satu sisi, ia tak ingin melihat mamanya terluka. Di sisi lain, ia merasa sangat tersakiti karena sengaja dipisahkan dengan keluarga aslinya. Sekarang, ia bahkan tidak tahu harus pergi ke mana.

 

“Udah, jangan sedih!” pinta Lutfi. “Kita pulang sekarang!” ajaknya kemudian.

 

Icha mengangguk. Ia mengikuti langkah Lutfi keluar dari rumah sakit. Di luar gedung, asisten Lutfi sudah menunggu mereka dan membawa mereka kembali ke rumah milik Lutfi.

 

Begitu sampai di rumah, Lutfi dan Icha mendapatkan sambutan hangat dari Nenek Lutfi. Nenek Lutfi juga sudah menyiapkan banyak makanan lezat untuk mereka nikmati bersama.

 

“Cha, apa rencana kamu selanjutnya?” tanya Nenek Lutfi sambil menikmati makan malam bersama.

 

Icha melirik ke arah Lutfi yang duduk di sampingnya. “Belum tahu, Nek.”

 

“Nenek dengar, kamu ngekos di luar?”

 

Icha menganggukkan kepala.

 

Nenek Lutfi menghela napas. “Rumah ini terlalu besar kalau hanya ditinggali Lutfi seorang diri. Gimana, kalau kamu juga tinggal di sini?”

 

“Eh!?” Icha langsung menggelengkan kepala. “Nggak usah, Nek. Aku biasa tinggal sendiri, kok. Lagian, aku baru bayar kosan aku. Sayang uangnya kalau langsung ditinggal gitu aja. Sampai sekarang, aku masih belum punya kerjaan.”

 

Nenek Lutfi tertawa kecil. “Kamu itu pacarnya cucu saya. Kenapa bingung soal tempat tinggal dan pekerjaan. Apa Lutfi selalu menindas kamu?”

 

Icha menggelengkan kepala.

 

“Kalau gitu, kamu tinggallah bersama di sini. Setidaknya, ada seseorang yang menjaga cucu Nenek yang nakal ini.”

 

Icha berpikir sejenak. Hubungan ia dengan Lutfi memang sudah membaik. Tapi, haruskah ia tinggal satu atap dengan pacarnya sendiri?

 

“Daripada kamu bayar sewa di luar sana. Lebih baik tinggal di sini!” pinta Nenek Lutfi. “Jangan merendahkan harga diri keluarga kami!”

 

DEG!

 

Jantung Icha serasa berhenti saat Nenek Lutfi menyebutkan soal harga diri. Lalu, di mana harga dirinya saat ini? Ia hanya bisa menuruti semua yang diinginkan keluarga Lutfi atau berusaha hidup dengan mengandalkan kemampuan diri sendiri.

 

“Nek, jangan paksa Icha untuk tinggal di rumah ini. Dia lebih bahagia ada di luar sana. Dia pasti tertekan kalau tinggal di rumah pacarnya sendiri,” sahut Lutfi kesal.

 

Icha langsung menoleh ke arah Lutfi. Kalimat yang keluar dari mulut Lutfi membuatnya semakin serba salah. “Aku nggak bilang begitu,” sergah Icha sambil menatap wajah Lutfi.

 

“Terus? Kamu juga nggak mau tinggal di sini kan?”

 

“Lut, aku nggak enak sama keluarga, sama tetangga ... kalau aku tinggal satu rumah sama kamu. Nanti, mereka akan berpikir kalau aku ...”

 

“Kita nikah aja! Gimana?” sahut Lutfi.

 

Icha langsung terdiam. Sementara, Nenek Lutfi tersenyum menatap dua orang yang ada di hadapannya.

 

Lutfi memainkan alisnya sambil menatap Icha.

 

Icha tak menyahut. Ia hanya menelan ludah sambil melanjutkan makannya.

 

“Kamu nggak mau nikah sama aku, Cha?” tanya Lutfi.

 

Icha menggelengkan kepala.

 

Lutfi gelagapan menatap wajah Icha. “Kenapa? Kamu tega banget nolak aku!”

 

Icha tersenyum sambil menatap Lutfi. “Lut, waktu ngajak pacaran, kamu ngomongnya lembut dan romantis banget. Kenapa ngajak nikah kayak ngajak berantem?”

 

“Hahaha.” Lutfi tergelak. “Oke. Oke. I see.”

 

Nenek Lutfi tertawa kecil. “Nenek akan siapin pesta pertunangan kalian. Tapi, di Jakarta. Gimana?”

 

Icha langsung membelalakkan matanya. Semua sahabat terdekatnya ada di Surabaya. Bagaimana ia bisa melangsungkan acara pertunangan di Jakarta. Sementara Yuna sedang hamil dan belum tentu bisa bepergian jauh.

 

“Kenapa? Kamu nggak suka menikah sama cucu saya?” tanya Nenek Lutfi.

 

“Eh!? Bukan gitu maksudnya, Nek. Aku cuma ... nggak bisa kalau harus bertunangan di sana. Gimana sama Yuna dan yang lainnya?”

 

Nenek Lutfi tersenyum menatap Icha. “Kasih pengertian ke mereka. Kalau perlu, mereka datang ke Jakarta juga. Nanti, waktu pesta pernikahan kalian ... kalian boleh adain di kota ini.”

 

“Di sini aja, Nek!” pinta Lutfi. “Aku males bikin pesta di sana. Aku mau acaranya tertutup buat temen-temen deket aja.”

 

Nenek Lutfi menghela napas sambil menatap cucunya. “Lut, pesta pertunangan ini bisa kita gunakan untuk meningkatkan popularitas perusahaan kamu.”

 

“Nek, jangan buat hubunganku sama Icha jadi hubungan bisnis seperti yang lain!” pinta Lutfi. “Dia calon istri aku, bukan alat untuk menaikkan popularitas perusahaan.”

 

“Oke.” Nenek Lutfi mengangguk-anggukkan kepala. “Nenek nggak akan ikut campur sama hubungan kalian. Asalkan, Icha mau tinggal di rumah ini. Gimana kalau sampai media tahu ... pacar pewaris SD Entertainment tinggalnya di kos-kosan? Kamu kayak laki-laki yang nggak sanggup hidupin istri kamu sendiri.”

 

“Nenek ...!?” Lutfi menatap geram ke arah neneknya sendiri. Ia memaksa bibirnya tersenyum sambil menoleh ke arah Icha. “Cha, kamu nggak mau menjatuhkan harga diriku sebagai lelaki kan? Please, tinggal di sini!” pinta Lutfi sambil menggenggam kedua tangan Icha.

 

Icha berpikir selama beberapa saat.

 

“Please ...!” pinta Lutfi lagi.

 

Icha akhirnya menganggukkan kepala. “Tapi, aku punya syarat.”

 

“Apa itu? Apa aja aku penuhi.”

 

“Aku mau cari pekerjaan dengan kemampuanku sendiri. Aku juga nggak mau harga diriku hilang di hadapan kamu dan semua orang.”

 

Lutfi tersenyum sambil menatap Icha. “Baiklah. Asal kamu mau tinggal di sini. Soal pekerjaan kamu, aku nggak akan ikut campur.”

 

Icha mengangguk sambil tersenyum.

 

“Sebaiknya, kamu nggak usah bekerja setelah kalian menikah. Kayak istrinya Yeriko itu. Dia sangat berbakti sama suaminya. Nenek dengar, dia lulusan luar negeri. Dia merelakan kemampuannya untuk mengurus suami. Nenek harap, kamu juga bisa seperti itu.”

 

Icha mengangguk. Ia tidak ingin terus berdebat di hadapan Lutfi dan Neneknya, menuruti apa yang mereka inginkan, akan membuat suasana menjadi lebih baik. Walau ia masih sangat canggung jika harus tinggal satu rumah dengan pacarnya sendiri.

 

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini supaya author makin semangat menulis setiap hari.

Jangan lupa sapa author di kolom komentar ya!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas