“Nenek,
masih di sini?” tanya Lutfi saat ia masuk ke dalam ruang rawatnya.
Nenek
Lutfi menganggukkan kepala. “Kalian terlalu lama pergi keluar. Nenek nunggu
kalian di sini.”
“Maaf,
Nek. Sudah bikin Nenek menunggu lama,” tutur Icha.
“Nggak
papa. Tadi, dokter bilang kalau Lutfi sudah boleh pulang.”
“Oh
ya? Yes!” seru Lutfi. “Aku udah kangen sama kasur di rumah.”
Nenek
Lutfi tersenyum. “Kalian berkemas! Nenek akan pulang duluan.”
“Ke
Jakarta?” tanya Lutfi.
“Nenek
sudah tua. Kamu lebih senang kalau Nenek pergi-pulang? Nenek ke rumah kamu yang
di sini. Nenek tunggu kalian di rumah.”
“Siap,
Nek!” sahut Lutfi.
Nenek
Lutfi tersenyum. Ia menoleh ke arah Icha. “Bantu Lutfi berkemas!” pintanya.
“Nenek tunggu kalian di rumah.”
Icha
mengangguk sambil tersenyum. “Iya, Nek.”
Nenek
Lutfi tersenyum sambil menyentuh pundak Icha dan berlalu pergi.
Icha
menghela napas sambil menatap kepergian Nenek Lutfi. Ia tak menyangka kalau
akan diperlakukan dengan sangat baik oleh wanita tua itu.
“Cha,
hari ini aku udah boleh keluar dari rumah sakit. Gimana kalau minggu ini, kita
liburan? Aku udah suntuk banget,” tutur Lutfi sambil mengganti bajunya.
“Kenapa
ganti baju di sini, sih? Ada kamar mandi,” tanya Icha tanpa menoleh ke arah
Lutfi. Jantungnya berdebar sangat kencang setiap kali melihat lekukan tubuh
Lutfi yang begitu menggoda.
Lutfi
tersenyum sambil menatap Icha. Ia meraih pakaian bersih yang ada di sampingnya
dan bangkit dari tempat tidur. Ia melangkah mendekati Icha sambil bertelanjang
dada. “Kenapa pipimu merah gitu? Pake lipstik di pipi?” bisiknya. Kemudian
berlari ke kamar mandi sebelum wajah Icha menyeringai ke arahnya.
Icha
langsung menutup wajahnya sambil menarik napas dalam-dalam. Lutfi memang kerap
kali menggodanya, tapi tetap saja masih membuat Icha salah tingkah. Ia bergegas
membereskan barang-barang Lutfi untuk mereka bawa kembali ke rumah.
Drrt
... Drrt ... Drrt ...
Icha
langsung meraih ponselnya yang bergetar. Ia menatap nama yang tertera di layar
ponsel tersebut dan langsung menjawab panggilan telepon. “Halo ...!” sapa Icha
lirih.
“Halo
...! Gimana kabar kamu, Nak?” tanya seseorang di ujung sana.
“Baik,
Bah. Abah gimana kabarnya?”
“Baik
juga. Mama kamu ke mana ya? Beberapa hari ini, nggak ngabarin Abah.”
Icha
menarik napas dalam-dalam. “Mama baik-baik aja, kok. Kaki Abah gimana?”
“Masih
sama seperti kemarin. Maklum, sudah makin tua.”
Icha
tersenyum kecut. Ia tak sanggup mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada
mamanya. Meski ia bukan anak kandung keduanya, tapi ayah angkatnya benar-benar
memperlakukan dia dengan sangat baik. Tak pernah memarahi dirinya walau ia
kerap membuat kesalahan. Ayahnya selalu bekerja keras siang dan malam demi
membahagiakan Icha. Hal ini, membuat Icha tak mampu melukai perasaan ayahnya.
“Cha,
kok diam? Abah bisa bicara sama mama kamu?”
“Eh!?
Belum bisa, Bah. Icha masih kerja. Mama lagi pergi keliling ke tempat-tempat
wisata. Dia sangat bahagia.”
“Syukurlah
kalau begitu. Semoga dia bisa menikmati liburannya. Abah bisa merasa tenang.
Tapi kenapa mama kamu nggak bisa Abah hubungi?”
“Oh
... itu Bah.” Icha berusaha mencari alasan yang tepat secepat kilat. “Waktu itu
mama pergi ke pantai. Terus handphone dia nyemplung di air laut. Masih
diperbaiki. Abah hubungi Icha aja.”
“Oh
gitu?”
“He-em.”
Icha menganggukkan kepala sambil menitikan air mata.
“Ya
sudah, kamu jaga diri baik-baik di sana. Kerja yang rajin dan jaga mama kamu,
ya!”
Icha
menganggukkan kepala sambil mengusap air matanya. “Icha lanjutin kesibukan Icha
dulu ya, Bah. Assalamualaikum ...!”
“Wa’alaikumussalam
...”
Icha
langsung mematikan panggilan telepon. Ia terduduk lemas sambil menutup wajah
dengan kedua telapak tangannya. “Kenapa aku harus terus berbohong? Aku nggak
mau melihat Abah bersedih dan tambah sakit. Aku harus gimana?” batin Icha. Ia
terus bergumul dengan pikirannya sendiri.
“Cha
...!” panggil Lutfi yang sudah berdiri di hadapan Icha.
Icha
langsung menengadahkan kepalanya menatap Lutfi.
“Kamu
kenapa?” tanya Lutfi sambil mengusap air mata Icha.
“Abah
telepon, nanyain Mama Ratna. Aku harus gimana?”
“Kamu
udah ceritain kenyataannya?”
Icha
menggelengkan kepala. “Aku nggak sanggup buat jujur ke Abah. Aku takut, dia
tambah sakit kalau tahu mama selama ini bermasalah di kota ini.”
Lutfi
menghela napas sambil menatap Icha. “Setelah semuanya selesai, aku antar kamu
ketemu sama ayah kamu. Kita jelasin semuanya. Dia pasti mengerti.”
Icha
menatap Lutfi dengan mata berkaca-kaca. “Lut, apa Mama Ratna tetap akan
diproses secara hukum?”
Lutfi
menganggukkan kepala. “Kamu nggak perlu khawatir!” pintanya. “Aku akan tetap
siapin pengacara untuk mama kamu.”
“Aku
nggak tega lihat dia seperti ini ...”
“Cha,
kalau kita lepasin. Justru akan lebih berbahaya. Kondisi mental dia juga nggak
stabil. Nantinya, dokter dan polisi yang akan menentukan ... dia akan berakhir
di bui atau di rumah sakit jiwa.”
“Lut,
apa kamu menyimpan dendam di hati kamu? Kenapa nggak lepasin dia aja? Biar
bagaimanapun, dia udah ngerawat aku dari kecil.”
“Nggak
bisa, Cha. Ini hukuman yang harus dia terima atas apa yang sudah dia perbuat
selama ini.”
Icha
menganggukkan kepala. Ia mengerti, sulit baginya untuk menerima kenyataan. Di
satu sisi, ia tak ingin melihat mamanya terluka. Di sisi lain, ia merasa sangat
tersakiti karena sengaja dipisahkan dengan keluarga aslinya. Sekarang, ia
bahkan tidak tahu harus pergi ke mana.
“Udah,
jangan sedih!” pinta Lutfi. “Kita pulang sekarang!” ajaknya kemudian.
Icha
mengangguk. Ia mengikuti langkah Lutfi keluar dari rumah sakit. Di luar gedung,
asisten Lutfi sudah menunggu mereka dan membawa mereka kembali ke rumah milik
Lutfi.
Begitu
sampai di rumah, Lutfi dan Icha mendapatkan sambutan hangat dari Nenek Lutfi.
Nenek Lutfi juga sudah menyiapkan banyak makanan lezat untuk mereka nikmati
bersama.
“Cha,
apa rencana kamu selanjutnya?” tanya Nenek Lutfi sambil menikmati makan malam
bersama.
Icha
melirik ke arah Lutfi yang duduk di sampingnya. “Belum tahu, Nek.”
“Nenek
dengar, kamu ngekos di luar?”
Icha
menganggukkan kepala.
Nenek
Lutfi menghela napas. “Rumah ini terlalu besar kalau hanya ditinggali Lutfi
seorang diri. Gimana, kalau kamu juga tinggal di sini?”
“Eh!?”
Icha langsung menggelengkan kepala. “Nggak usah, Nek. Aku biasa tinggal
sendiri, kok. Lagian, aku baru bayar kosan aku. Sayang uangnya kalau langsung
ditinggal gitu aja. Sampai sekarang, aku masih belum punya kerjaan.”
Nenek
Lutfi tertawa kecil. “Kamu itu pacarnya cucu saya. Kenapa bingung soal tempat
tinggal dan pekerjaan. Apa Lutfi selalu menindas kamu?”
Icha
menggelengkan kepala.
“Kalau
gitu, kamu tinggallah bersama di sini. Setidaknya, ada seseorang yang menjaga
cucu Nenek yang nakal ini.”
Icha
berpikir sejenak. Hubungan ia dengan Lutfi memang sudah membaik. Tapi, haruskah
ia tinggal satu atap dengan pacarnya sendiri?
“Daripada
kamu bayar sewa di luar sana. Lebih baik tinggal di sini!” pinta Nenek Lutfi.
“Jangan merendahkan harga diri keluarga kami!”
DEG!
Jantung
Icha serasa berhenti saat Nenek Lutfi menyebutkan soal harga diri. Lalu, di
mana harga dirinya saat ini? Ia hanya bisa menuruti semua yang diinginkan
keluarga Lutfi atau berusaha hidup dengan mengandalkan kemampuan diri sendiri.
“Nek,
jangan paksa Icha untuk tinggal di rumah ini. Dia lebih bahagia ada di luar
sana. Dia pasti tertekan kalau tinggal di rumah pacarnya sendiri,” sahut Lutfi
kesal.
Icha
langsung menoleh ke arah Lutfi. Kalimat yang keluar dari mulut Lutfi membuatnya
semakin serba salah. “Aku nggak bilang begitu,” sergah Icha sambil menatap
wajah Lutfi.
“Terus?
Kamu juga nggak mau tinggal di sini kan?”
“Lut,
aku nggak enak sama keluarga, sama tetangga ... kalau aku tinggal satu rumah
sama kamu. Nanti, mereka akan berpikir kalau aku ...”
“Kita
nikah aja! Gimana?” sahut Lutfi.
Icha
langsung terdiam. Sementara, Nenek Lutfi tersenyum menatap dua orang yang ada
di hadapannya.
Lutfi
memainkan alisnya sambil menatap Icha.
Icha
tak menyahut. Ia hanya menelan ludah sambil melanjutkan makannya.
“Kamu
nggak mau nikah sama aku, Cha?” tanya Lutfi.
Icha
menggelengkan kepala.
Lutfi
gelagapan menatap wajah Icha. “Kenapa? Kamu tega banget nolak aku!”
Icha
tersenyum sambil menatap Lutfi. “Lut, waktu ngajak pacaran, kamu ngomongnya
lembut dan romantis banget. Kenapa ngajak nikah kayak ngajak berantem?”
“Hahaha.”
Lutfi tergelak. “Oke. Oke. I see.”
Nenek
Lutfi tertawa kecil. “Nenek akan siapin pesta pertunangan kalian. Tapi, di
Jakarta. Gimana?”
Icha
langsung membelalakkan matanya. Semua sahabat terdekatnya ada di Surabaya.
Bagaimana ia bisa melangsungkan acara pertunangan di Jakarta. Sementara Yuna
sedang hamil dan belum tentu bisa bepergian jauh.
“Kenapa?
Kamu nggak suka menikah sama cucu saya?” tanya Nenek Lutfi.
“Eh!?
Bukan gitu maksudnya, Nek. Aku cuma ... nggak bisa kalau harus bertunangan di
sana. Gimana sama Yuna dan yang lainnya?”
Nenek
Lutfi tersenyum menatap Icha. “Kasih pengertian ke mereka. Kalau perlu, mereka
datang ke Jakarta juga. Nanti, waktu pesta pernikahan kalian ... kalian boleh
adain di kota ini.”
“Di
sini aja, Nek!” pinta Lutfi. “Aku males bikin pesta di sana. Aku mau acaranya
tertutup buat temen-temen deket aja.”
Nenek
Lutfi menghela napas sambil menatap cucunya. “Lut, pesta pertunangan ini bisa
kita gunakan untuk meningkatkan popularitas perusahaan kamu.”
“Nek,
jangan buat hubunganku sama Icha jadi hubungan bisnis seperti yang lain!” pinta
Lutfi. “Dia calon istri aku, bukan alat untuk menaikkan popularitas
perusahaan.”
“Oke.”
Nenek Lutfi mengangguk-anggukkan kepala. “Nenek nggak akan ikut campur sama
hubungan kalian. Asalkan, Icha mau tinggal di rumah ini. Gimana kalau sampai
media tahu ... pacar pewaris SD Entertainment tinggalnya di kos-kosan? Kamu
kayak laki-laki yang nggak sanggup hidupin istri kamu sendiri.”
“Nenek
...!?” Lutfi menatap geram ke arah neneknya sendiri. Ia memaksa bibirnya
tersenyum sambil menoleh ke arah Icha. “Cha, kamu nggak mau menjatuhkan harga
diriku sebagai lelaki kan? Please, tinggal di sini!” pinta Lutfi sambil
menggenggam kedua tangan Icha.
Icha
berpikir selama beberapa saat.
“Please
...!” pinta Lutfi lagi.
Icha
akhirnya menganggukkan kepala. “Tapi, aku punya syarat.”
“Apa
itu? Apa aja aku penuhi.”
“Aku
mau cari pekerjaan dengan kemampuanku sendiri. Aku juga nggak mau harga diriku
hilang di hadapan kamu dan semua orang.”
Lutfi
tersenyum sambil menatap Icha. “Baiklah. Asal kamu mau tinggal di sini. Soal
pekerjaan kamu, aku nggak akan ikut campur.”
Icha
mengangguk sambil tersenyum.
“Sebaiknya,
kamu nggak usah bekerja setelah kalian menikah. Kayak istrinya Yeriko itu. Dia
sangat berbakti sama suaminya. Nenek dengar, dia lulusan luar negeri. Dia
merelakan kemampuannya untuk mengurus suami. Nenek harap, kamu juga bisa
seperti itu.”
Icha
mengangguk. Ia tidak ingin terus berdebat di hadapan Lutfi dan Neneknya,
menuruti apa yang mereka inginkan, akan membuat suasana menjadi lebih baik.
Walau ia masih sangat canggung jika harus tinggal satu rumah dengan pacarnya
sendiri.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini supaya author makin semangat menulis setiap hari.
Jangan lupa sapa author di kolom komentar ya!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment