Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 400 : Bad Mood

 


Yuna dan yang lainnya memutuskan untuk kembali ke rumah. Mereka ingin memberikan banyak waktu pada Icha untuk berpikir tentang kehidupannya. Hatinya sedikit tenang karena ada Lutfi yang selalu berada di samping Icha untuk menenangkan kegelisahan hatinya.

 

“Ay, malam ini kita makan malam di rumah ayah ya!” pinta Yuna.

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Kita masak di sana, gimana?”

 

Yeriko mengangguk lagi.

 

Yuna menghela napas. “Kenapa cuma manggut-manggut aja?” tanya Yuna.

 

“Terus? Maunya aku geleng-geleng?” tanya Yeriko balik.

 

“Jawabin, kek!” celetuk Yuna sambil melipat kedua tangannya. Ia sangat kesal karena Yeriko tidak mengajaknya bicara sepanjang perjalanan.

 

Yeriko tersenyum kecil. “Kamu kenapa, sih? Sensitif banget?” tanyanya.

 

“Nggak tahu!” sahut Yuna ketus tanpa menoleh ke arah Yeriko.

 

Yeriko menahan tawa sambil melirik Yuna. Ia terus melajukan mobilnya ke pusat perbelanjaan.

 

“Kita nggak pulang?” tanya Yuna.

 

“Katanya, mau masak di rumah ayah? Kita belanja dulu,” jawab Yeriko sambil melepas safety belt yang melingkar di pinggangnya.

 

Yuna tersenyum. Ia ikut keluar dari mobil dan melangkahkan kakinya perlahan. Ia memonyongkan bibir dan menghentikan langkahnya saat Yeriko terus melangkah tanpa melihat keberadaannya. “Iih ... kenapa nggak ditungguin? Mentang-mentang punya kaki panjang, main tinggal gitu aja,” gumam Yuna sambil menghentakkan kakinya.

 

Yeriko berhenti melangkah saat ia tak mendengar suara langkah Yuna. Ia langsung berbalik dan melangkah menghampiri Yuna. “Kenapa sih, Sayang?” tanyanya.

 

Yuna melipat wajahnya. Ia merasa kalau perhatian Yeriko untuknya semakin berkurang setiap harinya. “Apa karena aku makin gendut? Makanya Yeriko nggak perhatiin aku lagi?” batinnya dengan mata berkaca-kaca.

 

Yeriko menghela napas sambil menatap Yuna. “Kamu kenapa? Kok mewek?”

 

“Kesel sama kamu!” sahut Yuna.

 

“Kesel kenapa?” tanya Yeriko. Rasanya, saat di rumah sakit tidak ada hal buruk yang terjadi di antara mereka. Entah kenapa Yuna begitu sensitif dan ketus terhadap dirinya.

 

Yuna tak menjawab. Ia menghentakkan satu kaki dan melangkah memasuki pintu mall tanpa menghiraukan Yeriko.

 

Yeriko menggaruk kepala sambil menautkan kedua alisnya. “Dia kenapa sih? Ibu hamil emang mood-nya gampang berubah gitu ya? Aku salah apa?” gumamnya sambil melangkahkan kakinya mengikuti Yuna.

 

Yuna langsung memilih beberapa ikan dan sayuran untuk ia masak di rumah ayahnya.

 

“Mau masak apa?” tanya Yeriko.

 

“Aku mau bikin sup ikan. Kamu mau makan apa?” tanya Yuna balik.

 

“Apa aja yang kamu masak, pasti aku makan.”

 

“Kalo aku nggak masak, kamu nggak makan?” tanya Yuna.

 

“Tetep makan. Banyak restoran yang menanti kedatanganku,” jawab Yeriko sambil meraih buah stroberi dan memasukkannya ke dalam trolly.

 

Yuna memonyongkan bibirnya.

 

“Nggak usah ngambek terus!” pinta Yeriko sambil menjepit kedua pipi Yuna dengan jemari tangannya.

 

“Kamu itu nyebelin ...!” seru Yuna.

 

“Aku nyebelin kenapa? Aku nggak ngapa-ngapain,” sahut Yeriko berbisik.

 

Yuna mengerutkan hidungnya. Hatinya sangat kesal melihat wajah Yeriko. Hanya saja, ia tidak mengerti apa yang membuat dirinya begitu kesal. Apa hanya karena dia menginginkan jawaban manis dari suaminya? Rasanya, dia begitu egois karena menuntut suaminya untuk terus menyenangkan dirinya.

 

“Hei ...!” Yeriko melambaikan tangannya tepat di depan wajah Yuna.

 

Yuna tersenyum. Ia menghela napas dan kembali mendorong trolly yang ada di tangannya tanpa mengucapkan apa pun. Ia menyadari kesalahannya yang tiba-tiba marah tanpa sebab.

 

Yeriko tersenyum kecil. Ia segera mengambil alih trolly yang ada di tangan Yuna. “Jangan ngambek terus!” pinta Yeriko sambil merangkul leher Yuna. “Mau ice cream?”

 

“Emangnya boleh makan ice cream?”

 

“Emang ada larangan makan ice cream?” tanya Yeriko balik.

 

“Tapi waktu terapi ... dokter udah ngelarang aku makan ice cream,” tutur Yuna.

 

“Mmh ... iya juga ya? Itu aja, mau?” tanya Yeriko sambil menunjuk rak dessert yang tak jauh darinya.

 

Yuna langsung menganggukkan kepala. “Boleh ambil sepuasnya?”

 

Yeriko mengangguk. “Mau beli sama tokonya juga boleh.”

 

“Huh, sombong!” dengus Yuna sambil memonyongkan bibirnya ke arah Yeriko.

 

Yeriko tersenyum kecil dan mengecup bibir Yuna.

 

“Iih ... di tempat umum. Banyak anak kecil!” dengus Yuna sambil meninju dada Yeriko.

 

“Emang kenapa? Anak kecil juga diajari kasih sayang ‘kan?”

 

“Tapi bukan diajari berciuman!” sahut Yuna.

 

Yeriko mengernyitkan dahinya. “Kalau aku punya anak, nggak boleh nyium anakku sendiri?”

 

“Iih ... kamu ini!?” seru Yuna kesal.

 

Yeriko tertawa kecil. “Kamu kenapa, sih? Marah-marah terus?”

 

“Aku nggak marah. Cuma kesel aja sama kamu.”

 

“Sama aja. Kamu marah sama kesel, nggak ada bedanya. Sama-sama jelek,” sahut Yeriko.

 

Yuna memonyongkan bibirnya. “Beneran jelek?” Ia tak bisa menyembunyikan kesedihannya.

 

“Nggak, kok. Bercanda. Kamu kenapa jadi sensitif banget?” tanya Yeriko.

 

“Karena aku sekarang udah makin gendut. Aku nggak bisa pakai skincare, kulitku kusam gini. Nggak cantik lagi. Kamu bilang aku jelek, makin hari juga makin cuek sama aku,” tutur Yuna dengan mata berkaca-kaca.

 

“Kenapa kamu ngomong kayak gini? Aku cuma bercanda. Sejak kapan kamu nganggap semua ini serius?” tanya Yeriko.

 

Yuna mengusap pipinya yang sudah terlanjur basah.

 

“Udah, jangan sedih!” pintanya sambil mengelus pipi Yuna. “Aku yang salah. Aku minta maaf! Lain kali, aku nggak akan bercanda kayak gini lagi. Nggak usah sedih ya!”

 

Yuna masih bergeming.

 

“Yun, jangan kayak gini terus!” pinta Yeriko. “Badanmu mau gendut, kulit kamu kusam, badan kamu bau ... aku tetap sayang sama kamu. Apa kamu berpikir kalau cintaku sebatas fisik aja?” lanjutnya sambil mengelus dagu dan bibir Yuna.

 

“Beneran?” tanya Yuna lirih.

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Kalau aku yang tiba-tiba berubah jadi pria yang jelek dan miskin, apa kamu masih mau sayang sama aku?” tanya Yeriko.

 

Yuna tak menjawab, ia langsung memeluk tubuh Yeriko.

 

Yeriko tersenyum kecil. Ia mulai mengerti, perubahan fisik pada masa kehamilan Yuna. Membuat istrinya kehilangan kepercayaan diri. Ia harus lebih berhati-hati dan lebih banyak menyenangkan istrinya. “Ayo, kita pulang sekarang!”

 

Yuna mengangguk dan melepas pelukannya.

 

“Aku yang antri di kasir. Kamu tunggu di sana!” pinta Yeriko sambil menunjuk deretan kursi yang disediakan untuk bersantai.

 

Yuna mengangguk dan bergegas melangkahkan kakinya menuju kursi tersebut.

 

Usai membayar semua belanjaan, mereka bergegas pergi ke apartemen ayah Yuna.

 

Beberapa menit kemudian, Yuna dan Yeriko sampai di depan pintu apartemen ayahnya.

 

“Sore Ayah ...!” sapa Yuna begitu Adjie membukakan pintu apartemen untuknya.

 

“Yuna? Nak Yeri? Kenapa kalian ke sini, nggak kabarin Ayah dulu?” tanya Adjie.

 

“Hah!?” Yuna melongo menatap ayahnya sendiri. “Sejak kapan kalau mau ke rumah Ayah harus laporan dulu? Ada yang disembunyikan di rumah ini?” tanyanya sambil nyelonong masuk.

 

Adjie dan Yeriko saling pandang sambil menaikkan kedua alisnya.

 

Yeriko mengedikkan bahunya sambil menatap Adjie.

 

Adjie menggelengkan kepala sambil mengajak Yeriko masuk ke rumahnya.

 

“Yah, si Yuna sensitif banget,” bisik Yeriko.

 

Adjie tertawa kecil. “Biasa ... perempuan kalo lagi hamil, sensitifnya ngalahin PMS.”

 

“Serius, Yah?”

 

Adjie menganggukkan kepala. “Dulu, waktu si Yuna masih di dalam perut, ibunya sensitif banget. Bahkan, dia nangis kalau sampai Ayah menyuap makanan lebih dulu.”

 

“Hah!? Seserius itu, Yah?”

 

Adjie mengangguk sambil menepuk-nepuk bahu Yeriko. “Kamu harus lebih sabar menghadapi suasana hatinya yang mudah berubah!”

 

Yeriko menganggukkan kepala. Ia segera menghampiri Yuna yang sedang mengeluarkan belanjaannya di dapur. “Kamu kangen sama Ayah kan? Biar aku yang masak!” pintanya mengambil alih.

 

“Eh!?” Yuna melongo menatap Yeriko.

 

“Aku siapin makan malam buat kalian. Kamu temenin Ayah ngobrol!”

 

Yuna tersenyum menatap Yeriko. “Makasiih ...!” ucapnya sambil mengecup pipi Yeriko. Ia segera menghampiri ayahnya yang sedang bersantai di sofa.

 

“Gimana keadaan kamu? Baik-baik aja kan?” tanya Adjie.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Sangat baik. Aku kangen sama Ayah,” jawabnya sambil bergelayut manja di bahu ayahnya.

 

Adjie mengelus kepala Yuna. Ia bercerita banyak hal tentang kesehariannya. Adjie menceritakan banyak hal kepada Yuna sambil memijat kedua kaki anaknya itu.

 

Yuna terlalu menikmati pijatan lembut di kakinya hingga ia terlelap di sofa. Alhasil, waktu makan malam harus tertunda karena menunggu Yuna terbangun dari tidurnya.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini supaya author makin semangat menulis setiap hari.

Jangan lupa sapa author di kolom komentar ya!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas