Yuna
dan yang lainnya memutuskan untuk kembali ke rumah. Mereka ingin memberikan
banyak waktu pada Icha untuk berpikir tentang kehidupannya. Hatinya sedikit
tenang karena ada Lutfi yang selalu berada di samping Icha untuk menenangkan
kegelisahan hatinya.
“Ay,
malam ini kita makan malam di rumah ayah ya!” pinta Yuna.
Yeriko
menganggukkan kepala.
“Kita
masak di sana, gimana?”
Yeriko
mengangguk lagi.
Yuna
menghela napas. “Kenapa cuma manggut-manggut aja?” tanya Yuna.
“Terus?
Maunya aku geleng-geleng?” tanya Yeriko balik.
“Jawabin,
kek!” celetuk Yuna sambil melipat kedua tangannya. Ia sangat kesal karena
Yeriko tidak mengajaknya bicara sepanjang perjalanan.
Yeriko
tersenyum kecil. “Kamu kenapa, sih? Sensitif banget?” tanyanya.
“Nggak
tahu!” sahut Yuna ketus tanpa menoleh ke arah Yeriko.
Yeriko
menahan tawa sambil melirik Yuna. Ia terus melajukan mobilnya ke pusat
perbelanjaan.
“Kita
nggak pulang?” tanya Yuna.
“Katanya,
mau masak di rumah ayah? Kita belanja dulu,” jawab Yeriko sambil melepas safety
belt yang melingkar di pinggangnya.
Yuna
tersenyum. Ia ikut keluar dari mobil dan melangkahkan kakinya perlahan. Ia
memonyongkan bibir dan menghentikan langkahnya saat Yeriko terus melangkah
tanpa melihat keberadaannya. “Iih ... kenapa nggak ditungguin? Mentang-mentang
punya kaki panjang, main tinggal gitu aja,” gumam Yuna sambil menghentakkan
kakinya.
Yeriko
berhenti melangkah saat ia tak mendengar suara langkah Yuna. Ia langsung
berbalik dan melangkah menghampiri Yuna. “Kenapa sih, Sayang?” tanyanya.
Yuna
melipat wajahnya. Ia merasa kalau perhatian Yeriko untuknya semakin berkurang
setiap harinya. “Apa karena aku makin gendut? Makanya Yeriko nggak perhatiin
aku lagi?” batinnya dengan mata berkaca-kaca.
Yeriko
menghela napas sambil menatap Yuna. “Kamu kenapa? Kok mewek?”
“Kesel
sama kamu!” sahut Yuna.
“Kesel
kenapa?” tanya Yeriko. Rasanya, saat di rumah sakit tidak ada hal buruk yang
terjadi di antara mereka. Entah kenapa Yuna begitu sensitif dan ketus terhadap
dirinya.
Yuna
tak menjawab. Ia menghentakkan satu kaki dan melangkah memasuki pintu mall
tanpa menghiraukan Yeriko.
Yeriko
menggaruk kepala sambil menautkan kedua alisnya. “Dia kenapa sih? Ibu hamil
emang mood-nya gampang berubah gitu ya? Aku salah apa?” gumamnya sambil
melangkahkan kakinya mengikuti Yuna.
Yuna
langsung memilih beberapa ikan dan sayuran untuk ia masak di rumah ayahnya.
“Mau
masak apa?” tanya Yeriko.
“Aku
mau bikin sup ikan. Kamu mau makan apa?” tanya Yuna balik.
“Apa
aja yang kamu masak, pasti aku makan.”
“Kalo
aku nggak masak, kamu nggak makan?” tanya Yuna.
“Tetep
makan. Banyak restoran yang menanti kedatanganku,” jawab Yeriko sambil meraih
buah stroberi dan memasukkannya ke dalam trolly.
Yuna
memonyongkan bibirnya.
“Nggak
usah ngambek terus!” pinta Yeriko sambil menjepit kedua pipi Yuna dengan jemari
tangannya.
“Kamu
itu nyebelin ...!” seru Yuna.
“Aku
nyebelin kenapa? Aku nggak ngapa-ngapain,” sahut Yeriko berbisik.
Yuna
mengerutkan hidungnya. Hatinya sangat kesal melihat wajah Yeriko. Hanya saja,
ia tidak mengerti apa yang membuat dirinya begitu kesal. Apa hanya karena dia
menginginkan jawaban manis dari suaminya? Rasanya, dia begitu egois karena
menuntut suaminya untuk terus menyenangkan dirinya.
“Hei
...!” Yeriko melambaikan tangannya tepat di depan wajah Yuna.
Yuna
tersenyum. Ia menghela napas dan kembali mendorong trolly yang ada di tangannya
tanpa mengucapkan apa pun. Ia menyadari kesalahannya yang tiba-tiba marah tanpa
sebab.
Yeriko
tersenyum kecil. Ia segera mengambil alih trolly yang ada di tangan Yuna.
“Jangan ngambek terus!” pinta Yeriko sambil merangkul leher Yuna. “Mau ice
cream?”
“Emangnya
boleh makan ice cream?”
“Emang
ada larangan makan ice cream?” tanya Yeriko balik.
“Tapi
waktu terapi ... dokter udah ngelarang aku makan ice cream,” tutur Yuna.
“Mmh
... iya juga ya? Itu aja, mau?” tanya Yeriko sambil menunjuk rak dessert yang
tak jauh darinya.
Yuna
langsung menganggukkan kepala. “Boleh ambil sepuasnya?”
Yeriko
mengangguk. “Mau beli sama tokonya juga boleh.”
“Huh,
sombong!” dengus Yuna sambil memonyongkan bibirnya ke arah Yeriko.
Yeriko
tersenyum kecil dan mengecup bibir Yuna.
“Iih
... di tempat umum. Banyak anak kecil!” dengus Yuna sambil meninju dada Yeriko.
“Emang
kenapa? Anak kecil juga diajari kasih sayang ‘kan?”
“Tapi
bukan diajari berciuman!” sahut Yuna.
Yeriko
mengernyitkan dahinya. “Kalau aku punya anak, nggak boleh nyium anakku
sendiri?”
“Iih
... kamu ini!?” seru Yuna kesal.
Yeriko
tertawa kecil. “Kamu kenapa, sih? Marah-marah terus?”
“Aku
nggak marah. Cuma kesel aja sama kamu.”
“Sama
aja. Kamu marah sama kesel, nggak ada bedanya. Sama-sama jelek,” sahut Yeriko.
Yuna
memonyongkan bibirnya. “Beneran jelek?” Ia tak bisa menyembunyikan
kesedihannya.
“Nggak,
kok. Bercanda. Kamu kenapa jadi sensitif banget?” tanya Yeriko.
“Karena
aku sekarang udah makin gendut. Aku nggak bisa pakai skincare, kulitku kusam
gini. Nggak cantik lagi. Kamu bilang aku jelek, makin hari juga makin cuek sama aku,” tutur Yuna dengan mata berkaca-kaca.
“Kenapa
kamu ngomong kayak gini? Aku cuma bercanda. Sejak kapan kamu nganggap semua ini
serius?” tanya Yeriko.
Yuna
mengusap pipinya yang sudah terlanjur basah.
“Udah,
jangan sedih!” pintanya sambil mengelus pipi Yuna. “Aku yang salah. Aku minta
maaf! Lain kali, aku nggak akan bercanda kayak gini lagi. Nggak usah sedih ya!”
Yuna
masih bergeming.
“Yun,
jangan kayak gini terus!” pinta Yeriko. “Badanmu mau gendut, kulit kamu kusam,
badan kamu bau ... aku tetap sayang sama kamu. Apa kamu berpikir kalau cintaku
sebatas fisik aja?” lanjutnya sambil mengelus dagu dan bibir Yuna.
“Beneran?”
tanya Yuna lirih.
Yeriko
menganggukkan kepala. “Kalau aku yang tiba-tiba berubah jadi pria yang jelek
dan miskin, apa kamu masih mau sayang sama aku?” tanya Yeriko.
Yuna
tak menjawab, ia langsung memeluk tubuh Yeriko.
Yeriko
tersenyum kecil. Ia mulai mengerti, perubahan fisik pada masa kehamilan Yuna.
Membuat istrinya kehilangan kepercayaan diri. Ia harus lebih berhati-hati dan
lebih banyak menyenangkan istrinya. “Ayo, kita pulang sekarang!”
Yuna
mengangguk dan melepas pelukannya.
“Aku
yang antri di kasir. Kamu tunggu di sana!” pinta Yeriko sambil menunjuk deretan
kursi yang disediakan untuk bersantai.
Yuna
mengangguk dan bergegas melangkahkan kakinya menuju kursi tersebut.
Usai
membayar semua belanjaan, mereka bergegas pergi ke apartemen ayah Yuna.
Beberapa
menit kemudian, Yuna dan Yeriko sampai di depan pintu apartemen ayahnya.
“Sore
Ayah ...!” sapa Yuna begitu Adjie membukakan pintu apartemen untuknya.
“Yuna?
Nak Yeri? Kenapa kalian ke sini, nggak kabarin Ayah dulu?” tanya Adjie.
“Hah!?”
Yuna melongo menatap ayahnya sendiri. “Sejak kapan kalau mau ke rumah Ayah
harus laporan dulu? Ada yang disembunyikan di rumah ini?” tanyanya sambil
nyelonong masuk.
Adjie
dan Yeriko saling pandang sambil menaikkan kedua alisnya.
Yeriko
mengedikkan bahunya sambil menatap Adjie.
Adjie
menggelengkan kepala sambil mengajak Yeriko masuk ke rumahnya.
“Yah,
si Yuna sensitif banget,” bisik Yeriko.
Adjie
tertawa kecil. “Biasa ... perempuan kalo lagi hamil, sensitifnya ngalahin PMS.”
“Serius,
Yah?”
Adjie
menganggukkan kepala. “Dulu, waktu si Yuna masih di dalam perut, ibunya
sensitif banget. Bahkan, dia nangis kalau sampai Ayah menyuap makanan lebih
dulu.”
“Hah!?
Seserius itu, Yah?”
Adjie
mengangguk sambil menepuk-nepuk bahu Yeriko. “Kamu harus lebih sabar menghadapi
suasana hatinya yang mudah berubah!”
Yeriko
menganggukkan kepala. Ia segera menghampiri Yuna yang sedang mengeluarkan
belanjaannya di dapur. “Kamu kangen sama Ayah kan? Biar aku yang masak!”
pintanya mengambil alih.
“Eh!?”
Yuna melongo menatap Yeriko.
“Aku
siapin makan malam buat kalian. Kamu temenin Ayah ngobrol!”
Yuna
tersenyum menatap Yeriko. “Makasiih ...!” ucapnya sambil mengecup pipi Yeriko.
Ia segera menghampiri ayahnya yang sedang bersantai di sofa.
“Gimana
keadaan kamu? Baik-baik aja kan?” tanya Adjie.
Yuna
menganggukkan kepala. “Sangat baik. Aku kangen sama Ayah,” jawabnya sambil
bergelayut manja di bahu ayahnya.
Adjie
mengelus kepala Yuna. Ia bercerita banyak hal tentang kesehariannya. Adjie
menceritakan banyak hal kepada Yuna sambil memijat kedua kaki anaknya itu.
Yuna
terlalu menikmati pijatan lembut di kakinya hingga ia terlelap di sofa.
Alhasil, waktu makan malam harus tertunda karena menunggu Yuna terbangun dari
tidurnya.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini supaya author makin semangat menulis setiap hari.
Jangan lupa sapa author di kolom komentar ya!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment