Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 399 : Mencintaimu Tanpa Batas

 


Icha menatap wajah mamanya yang diselimuti kebencian. Ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi kenyataan yang terjadi pada dirinya. Ia selalu merasa kalau Ratna adalah ibu yang baik walau terkadang kasar. Tapi, ia tak pernah terpikir sedikit pun kalau dia bukanlah anak kandung Ratna.

 

“Ma, sekalipun aku bukan anak kandung Mama. Aku akan tetap menganggap Mama sebagai Mamaku. Terima kasih, sudah merawat aku hingga sebesar ini. Aku harap, Mama tidak menyimpan dendam yang berkepanjangan,” tutur Icha sambil menatap Ratna.

 

“Kamu nggak usah ceramahin Mama!” sahut Ratna. “Kamu nggak ngerti apa yang sudah Mama rasain selama ini. Kamu nggak tahu gimana rasanya dicampakkan, diusir begitu saja. Seharusnya, Mama bisa menjalani hidup bahagia. Semuanya hancur karena perempuan ini!” serunya sambil menunjuk wajah Nenek Lutfi.

 

“Hei, jangan macam-macam sama nenekku!” seru Lutfi sambil menurunkan tangan Ratna. Ia menatap tajam ke arah Ratna. “Kali ini, aku nggak akan ngelepasin kamu!”

 

“Dia yang harus bertanggung jawab karena sudah bikin anakku mati!” seru Ratna. Ia bersikeras dengan pemikirannya sendiri.

 

“Aku nggak ngelakuin apa-apa. Bukannya kamu yang mau bunuh cucu saya?” sahut Nenek Lutfi.

 

Ratna semakin geram. Ia kesal karena semua orang menghakimi dirinya. “Aargh ...!” teriaknya histeris sambil menutup kedua telinganya. “Keluar dari sini!”

 

“Bu Ratna harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah Bu Ratna perbuat,” tutur Yeriko.

 

“Kamu siapa? Nggak usah ikut campur urusan aku!”

 

Icha menatap pilu ke arah mamanya. “Ma, aku nggak bisa melindungi Mama lagi ...” tutur Icha lirih. “Terlalu banyak hal yang Mama lakukan. Aku nggak sanggup menerima ini semua.”

 

Lutfi menatap wajah Icha sambil mengelus pundak gadis itu. Ia harap, Icha bisa lebih tenang menerima kenyataan yang terjadi pada dirinya.

 

“Icha ...?” Ratna masih berharap kalau Icha bisa menerima semua hal yang telah ia lakukan. “Mama sayang sama kamu seperti anak sendiri.”

 

Air mata Icha kembali menetes. “Ma, terlalu banyak kejahatan yang mama lakukan. Mama tega ngelakuin ini semua. Tega ingin membunuh Lutfi dan tega memisahkan aku dari keluargaku sendiri. Sekarang, aku nggak tahu siapa orang tuaku sebenarnya.”

 

“Cha ...!” panggil Ratna lirih. “Kamu anaknya Mama. Tetap anak Mama. Mama sayang sama kamu.”

 

“Icha bukan anak kecil lagi, Tante. Tante harus lepasin dia!” pinta Yuna. “Dia nggak layak punya mama yang kejam seperti Tante!”

 

“Kamu ...!? Berani-beraninya ikut campur urusanku!”

 

“Icha teman baikku. Aku sudah menganggap dia seperti saudaraku sendiri. Aku nggak akan ngebiarin siapa pun melukai Icha. Termasuk mama palsunya ini!” tegas Yuna.

 

Ratna menatap Yuna penuh kebencian. “Kamu mau pengaruhi Icha supaya benci saya, hah!?” sentaknya.

 

Yuna balik menatap Ratna penuh keberanian. “Lebih baik. Daripada saya membiarkan Icha dipengaruhi sama perempuan jahat seperti Tante.”

 

Ratna tersenyum sinis. “Kamu pikir, Icha bakal nurut sama kamu, hah?” Ia mengalihkan pandangannya pada Icha. “Cha, kamu percaya sama Mama kan? Mama akan sayang sama kamu seperti anak Mama sendiri. Cuma kamu anak Mama satu-satunya.”

 

Icha menggelengkan kepala. Ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan bangsal tersebut.

 

“Cha ... Icha ...!” panggil Lutfi sambil mengikuti langkah Icha.

 

Icha terus melangkahkan kakinya sambil mengusap air mata yang terus menetes di pipinya. Ia tidak tahu harus pergi ke mana. Lutfi bukanlah kakaknya lagi, ia juga bukan anak kandung mamanya. “Kenapa hidupku jadi serumit ini?” batin Icha.

 

“Icha ...!” Lutfi terus mengejar langkah Icha. Ia menahan lengan Icha dan menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukkannya.

 

Icha terisak di pelukkan Lutfi. “Lut, aku harus gimana?”

 

Lutfi menarik napas sambil tersenyum. “Nggak gimana-gimana. Kamu cukup tersenyum aja! Sayangku ke kamu bisa hilang kalau kamu berubah jadi jelek,” jawabnya sambil menahan tawa.

 

Icha mengerutkan bibir sambil mencubit perut Lutfi. “Masih aja bisa bercanda!”

 

“Aw ...! Sakit banget, Cha!” rintih Lutfi sambil memegangi perutnya. Ia menahan tawa sambil melirik wajah Icha.

 

“Cuma pura-pura ‘kan?”

 

“Aduh ...! Sakit beneran,” jawab Lutfi sambil menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Lutfi terus merintih sambil meringkuk di lantai.

 

“Serius!?” Icha langsung menghampiri Lutfi sambil mengangkat kepalanya. Ia mengedarkan pandangannya, mencari perawat yang bisa membantunya. “Suster ...!” panggilnya.

 

Lutfi menahan lengan Icha agar tak pergi. “Aku nggak butuh suster. Cuma kamu yang bisa ngobatin sakitku.”

 

“Maksud kamu?”

 

“Aku cuma butuh ciuman dari kamu,” jawab Lutfi.

 

“Kamu candain aku!?” seru Icha kesal. Ia menjatuhkan kepala Lutfi dari pangkuannya dan bangkit dari lantai.

 

“Aw...!” seru Lutfi sambil memegang kepalanya yang terbentur lantai. “Tega banget sama pacar sendiri!” serunya kemudian.

 

“Kamu juga tega banget ngerjain pacar sendiri!” seru Icha kesal.

 

Lutfi tertawa kecil sambil bangkit dari lantai. Ia langsung meraih jemari tangan Icha. “Udah, jangan ngambek gitu! Jelek tau!”

 

“Aku lagi kayak gini, kamu sempat-sempatnya masih bercanda sama penyakit kamu. Kamu nggak tahu gimana khawatirnya aku?”

 

“Iya, iya. Aku tahu,” jawab Lutfi yang masih duduk di lantai. “Sini!” pinta Lutfi sambil meminta Icha duduk di sampingnya.

 

Icha terdiam sejenak. Ia perlahan duduk di samping Lutfi. “Cha, di sini tempatnya orang sakit. Tapi, semuanya ingin sembuh. Aku tahu, kamu pasti merasa sakit menerima kenyataan hari ini. Sesakit apa pun itu, kamu harus ingat kalau ada aku yang selalu di samping kamu. Ada Yuna, Jheni dan yang lainnya. Mereka nggak akan meninggalkan kamu gitu aja.”

 

Icha menghela napas. “Aku nggak mau terus menerus menyimpan dendam ke Mama Ratna. Tapi, aku masih nggak bisa menerima semuanya. Aku masih bingung. Aku nggak tahu harus gimana. Setiap ucapan yang keluar dari Mama Ratna, aku nggak sanggup untuk mencerna itu semua.”

 

“Mau aku bantu mencerna?” tanya Lutfi sambil tersenyum menatap Icha.

 

“Emang bisa?” tanya Icha balik.

 

Lutfi menganggukkan kepala. “Kasih ke aku!” pintanya sambil menengadahkan telapak tangannya.

 

Icha tertawa kecil sambil menepuk telapak tangan Lutfi. “Kamu ini, ada-ada aja!” dengusnya.

 

Lutfi tersenyum sambil menggenggam erat telapak tangan Icha. “Cha, aku nggak peduli asal-usul kamu. Aku nggak peduli dari mana kamu berasal. Aku nggak peduli kamu anak siapa. Aku akan tetep sayang dan cinta sama kamu tanpa batas.”

 

Icha menatap mata Lutfi penuh cinta. Kali ini, ia melihat dengan jelas kalau Lutfi mengucapkan kalimat itu dari hati yang paling dalam. Ia tak pernah melihat Lutfi begitu serius menatap dirinya.

 

“Sesulit apa pun masalah yang akan kamu hadapi, jangan lari! Aku percaya, Tuhan menciptakan kedua kakimu untuk berdiri dengan kuat. Aku akan selalu ada di belakangmu. Menjagamu tetap berdiri tegak.”

 

Icha tersenyum. Ia menyandarkan kepalanya ke pundak Lutfi. “Aku juga ingin selalu berada di dekat kamu. Aku nggak akan lemah, asal kamu jangan jauh dari aku.”

 

Lutfi menganggukkan kepala. Ia merangkul pundak Icha dan mengelusnya perlahan. “Asal kita bersama. Semua masalah pasti bisa kita lewati. Kalau kedua kaki kita tak sanggup berdiri lagi. Setidaknya, kita bisa tetap duduk berdampingan seperti ini. Karena dengan melihat senyum kamu ... aku sudah bahagia.”

 

Icha menganggukkan kepala. Ia sangat bahagia memiliki pacar dan sahabat yang begitu peduli dengan kehidupannya. Ia ingin semuanya segera berlalu tanpa ada perasaan dendam dalam hatinya. Ia tidak ingin menjadi pembenci walau apa yang telah dilakukan mamanya membuatnya begitu sakit.

 

  ((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat menulis setiap hari, bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas