Icha
menatap wajah mamanya yang diselimuti kebencian. Ia tidak tahu harus bagaimana
menghadapi kenyataan yang terjadi pada dirinya. Ia selalu merasa kalau Ratna
adalah ibu yang baik walau terkadang kasar. Tapi, ia tak pernah terpikir
sedikit pun kalau dia bukanlah anak kandung Ratna.
“Ma,
sekalipun aku bukan anak kandung Mama. Aku akan tetap menganggap Mama sebagai
Mamaku. Terima kasih, sudah merawat aku hingga sebesar ini. Aku harap, Mama
tidak menyimpan dendam yang berkepanjangan,” tutur Icha sambil menatap Ratna.
“Kamu
nggak usah ceramahin Mama!” sahut Ratna. “Kamu nggak ngerti apa yang sudah Mama
rasain selama ini. Kamu nggak tahu gimana rasanya dicampakkan, diusir begitu
saja. Seharusnya, Mama bisa menjalani hidup bahagia. Semuanya hancur karena
perempuan ini!” serunya sambil menunjuk wajah Nenek Lutfi.
“Hei,
jangan macam-macam sama nenekku!” seru Lutfi sambil menurunkan tangan Ratna. Ia
menatap tajam ke arah Ratna. “Kali ini, aku nggak akan ngelepasin kamu!”
“Dia
yang harus bertanggung jawab karena sudah bikin anakku mati!” seru Ratna. Ia
bersikeras dengan pemikirannya sendiri.
“Aku
nggak ngelakuin apa-apa. Bukannya kamu yang mau bunuh cucu saya?” sahut Nenek
Lutfi.
Ratna
semakin geram. Ia kesal karena semua orang menghakimi dirinya. “Aargh ...!”
teriaknya histeris sambil menutup kedua telinganya. “Keluar dari sini!”
“Bu
Ratna harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah Bu Ratna perbuat,” tutur
Yeriko.
“Kamu
siapa? Nggak usah ikut campur urusan aku!”
Icha
menatap pilu ke arah mamanya. “Ma, aku nggak bisa melindungi Mama lagi ...”
tutur Icha lirih. “Terlalu banyak hal yang Mama lakukan. Aku nggak sanggup
menerima ini semua.”
Lutfi
menatap wajah Icha sambil mengelus pundak gadis itu. Ia harap, Icha bisa lebih
tenang menerima kenyataan yang terjadi pada dirinya.
“Icha
...?” Ratna masih berharap kalau Icha bisa menerima semua hal yang telah ia
lakukan. “Mama sayang sama kamu seperti anak sendiri.”
Air
mata Icha kembali menetes. “Ma, terlalu banyak kejahatan yang mama lakukan.
Mama tega ngelakuin ini semua. Tega ingin membunuh Lutfi dan tega memisahkan
aku dari keluargaku sendiri. Sekarang, aku nggak tahu siapa orang tuaku
sebenarnya.”
“Cha
...!” panggil Ratna lirih. “Kamu anaknya Mama. Tetap anak Mama. Mama sayang
sama kamu.”
“Icha
bukan anak kecil lagi, Tante. Tante harus lepasin dia!” pinta Yuna. “Dia nggak
layak punya mama yang kejam seperti Tante!”
“Kamu
...!? Berani-beraninya ikut campur urusanku!”
“Icha
teman baikku. Aku sudah menganggap dia seperti saudaraku sendiri. Aku nggak
akan ngebiarin siapa pun melukai Icha. Termasuk mama palsunya ini!” tegas Yuna.
Ratna
menatap Yuna penuh kebencian. “Kamu mau pengaruhi Icha supaya benci saya,
hah!?” sentaknya.
Yuna
balik menatap Ratna penuh keberanian. “Lebih baik. Daripada saya membiarkan
Icha dipengaruhi sama perempuan jahat seperti Tante.”
Ratna
tersenyum sinis. “Kamu pikir, Icha bakal nurut sama kamu, hah?” Ia mengalihkan
pandangannya pada Icha. “Cha, kamu percaya sama Mama kan? Mama akan sayang sama
kamu seperti anak Mama sendiri. Cuma kamu anak Mama satu-satunya.”
Icha
menggelengkan kepala. Ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan bangsal
tersebut.
“Cha
... Icha ...!” panggil Lutfi sambil mengikuti langkah Icha.
Icha
terus melangkahkan kakinya sambil mengusap air mata yang terus menetes di
pipinya. Ia tidak tahu harus pergi ke mana. Lutfi bukanlah kakaknya lagi, ia
juga bukan anak kandung mamanya. “Kenapa hidupku jadi serumit ini?” batin Icha.
“Icha
...!” Lutfi terus mengejar langkah Icha. Ia menahan lengan Icha dan menarik
tubuh gadis itu ke dalam pelukkannya.
Icha
terisak di pelukkan Lutfi. “Lut, aku harus gimana?”
Lutfi
menarik napas sambil tersenyum. “Nggak gimana-gimana. Kamu cukup tersenyum aja!
Sayangku ke kamu bisa hilang kalau kamu berubah jadi jelek,” jawabnya sambil
menahan tawa.
Icha
mengerutkan bibir sambil mencubit perut Lutfi. “Masih aja bisa bercanda!”
“Aw
...! Sakit banget, Cha!” rintih Lutfi sambil memegangi perutnya. Ia menahan
tawa sambil melirik wajah Icha.
“Cuma
pura-pura ‘kan?”
“Aduh
...! Sakit beneran,” jawab Lutfi sambil menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Lutfi
terus merintih sambil meringkuk di lantai.
“Serius!?”
Icha langsung menghampiri Lutfi sambil mengangkat kepalanya. Ia mengedarkan
pandangannya, mencari perawat yang bisa membantunya. “Suster ...!” panggilnya.
Lutfi
menahan lengan Icha agar tak pergi. “Aku nggak butuh suster. Cuma kamu yang
bisa ngobatin sakitku.”
“Maksud
kamu?”
“Aku
cuma butuh ciuman dari kamu,” jawab Lutfi.
“Kamu
candain aku!?” seru Icha kesal. Ia menjatuhkan kepala Lutfi dari pangkuannya
dan bangkit dari lantai.
“Aw...!”
seru Lutfi sambil memegang kepalanya yang terbentur lantai. “Tega banget sama
pacar sendiri!” serunya kemudian.
“Kamu
juga tega banget ngerjain pacar sendiri!” seru Icha kesal.
Lutfi
tertawa kecil sambil bangkit dari lantai. Ia langsung meraih jemari tangan
Icha. “Udah, jangan ngambek gitu! Jelek tau!”
“Aku
lagi kayak gini, kamu sempat-sempatnya masih bercanda sama penyakit kamu. Kamu
nggak tahu gimana khawatirnya aku?”
“Iya,
iya. Aku tahu,” jawab Lutfi yang masih duduk di lantai. “Sini!” pinta Lutfi
sambil meminta Icha duduk di sampingnya.
Icha
terdiam sejenak. Ia perlahan duduk di samping Lutfi. “Cha, di sini tempatnya
orang sakit. Tapi, semuanya ingin sembuh. Aku tahu, kamu pasti merasa sakit
menerima kenyataan hari ini. Sesakit apa pun itu, kamu harus ingat kalau ada
aku yang selalu di samping kamu. Ada Yuna, Jheni dan yang lainnya. Mereka nggak
akan meninggalkan kamu gitu aja.”
Icha
menghela napas. “Aku nggak mau terus menerus menyimpan dendam ke Mama Ratna.
Tapi, aku masih nggak bisa menerima semuanya. Aku masih bingung. Aku nggak tahu
harus gimana. Setiap ucapan yang keluar dari Mama Ratna, aku nggak sanggup
untuk mencerna itu semua.”
“Mau
aku bantu mencerna?” tanya Lutfi sambil tersenyum menatap Icha.
“Emang
bisa?” tanya Icha balik.
Lutfi
menganggukkan kepala. “Kasih ke aku!” pintanya sambil menengadahkan telapak
tangannya.
Icha
tertawa kecil sambil menepuk telapak tangan Lutfi. “Kamu ini, ada-ada aja!”
dengusnya.
Lutfi
tersenyum sambil menggenggam erat telapak tangan Icha. “Cha, aku nggak peduli
asal-usul kamu. Aku nggak peduli dari mana kamu berasal. Aku nggak peduli kamu
anak siapa. Aku akan tetep sayang dan cinta sama kamu tanpa batas.”
Icha
menatap mata Lutfi penuh cinta. Kali ini, ia melihat dengan jelas kalau Lutfi
mengucapkan kalimat itu dari hati yang paling dalam. Ia tak pernah melihat
Lutfi begitu serius menatap dirinya.
“Sesulit
apa pun masalah yang akan kamu hadapi, jangan lari! Aku percaya, Tuhan
menciptakan kedua kakimu untuk berdiri dengan kuat. Aku akan selalu ada di
belakangmu. Menjagamu tetap berdiri tegak.”
Icha
tersenyum. Ia menyandarkan kepalanya ke pundak Lutfi. “Aku juga ingin selalu
berada di dekat kamu. Aku nggak akan lemah, asal kamu jangan jauh dari aku.”
Lutfi
menganggukkan kepala. Ia merangkul pundak Icha dan mengelusnya perlahan. “Asal
kita bersama. Semua masalah pasti bisa kita lewati. Kalau kedua kaki kita tak
sanggup berdiri lagi. Setidaknya, kita bisa tetap duduk berdampingan seperti
ini. Karena dengan melihat senyum kamu ... aku sudah bahagia.”
Icha
menganggukkan kepala. Ia sangat bahagia memiliki pacar dan sahabat yang begitu
peduli dengan kehidupannya. Ia ingin semuanya segera berlalu tanpa ada perasaan
dendam dalam hatinya. Ia tidak ingin menjadi pembenci walau apa yang telah
dilakukan mamanya membuatnya begitu sakit.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat menulis setiap hari, bikin
cerita yang lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment