Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 398 : Kenyataan yang Kejam

 


Icha menundukkan kepala sambil menitikan air mata.

 

Nenek Lutfi menghela napas sambil menatap wajah Icha yang muram.

 

“Apa yang terjadi setelah mereka keluar dari rumah kalian? Kenapa aku bukan anak kandung Mama Ratna?” tanya Icha.

 

Nenek Lutfi langsung menghampiri Icha dan memeluknya. “Kamu jangan sedih!” bisiknya. “Siapa pun kamu, Nenek tetap menerima kamu sebagai cucu Nenek.”

 

Icha semakin tersiksa mendengar ucapan Nenek Lutfi. Ia tak menyangka kalau Nenek begitu baik terhadapnya.

 

“Cha, jangan nangis terus!” pinta Lutfi yang berdiri di belakang Icha. “Jelek banget kalo nangis. Ntar maskaranya luntur,” lanjutnya sambil mengelus kepala Icha.

 

“Aku nggak pake maskara!” dengus Icha sambil menyingkirkan tangan Lutfi dari kepalanya.

 

Nenek Lutfi tersenyum menatap Icha. “Iya, Lutfi benar. Cantiknya hilang kalau nangis terus. Matamu sudah bengkak kayak gini. Kamu nggak perlu sedih, ada Nenek di sini.”

 

“Makasih, Nek ...! Makasih buat kalian semua yang sudah baik sama aku,” tutur Icha.

 

“Cuma makasih doang?” tanya Lutfi sambil menahan tawa.

 

Nenek Lutfi langsung memukul perut cucunya itu. “Kamu ini ...!?”

 

“Aw ...! Sakit, Nek!” serunya.

 

Icha langsung menoleh ke arah Lutfi. “Kamu nggak papa.”

 

“Nenek kejam banget!”

 

“Kenapa perut kamu?” tanya Nenek.

 

“Aku kan udah bilang kalau aku abis berantem. Perutku masih sakit, Nek.”

 

“Huh, sakit dibuat sendiri. Kalau kamu nggak berantem, nggak akan luka kayak gini. Kamu ingat atau nggak, waktu SMA sampai dirawat di ICU karena berantem? Sampai sekarang, masih nggak ada kapoknya!”

 

Lutfi hanya meringis mendengar ucapan neneknya.

 

“Oh ya, kamu bisa antar Nenek ketemu sama mama kamu?” tanya Nenek Lutfi sambil menatap Icha. “Mungkin, dia bisa ngasih jawaban, siapa kamu sebenarnya.”

 

Icha mengangguk sambil tersenyum. “Ayo, Nek! Yuna, Jheni ...!” ajak Icha.

 

Yuna dan Jheni mengangguk. Mereka bergegas beralih ke ruang rawat Ibu Ratna.

 

Icha menatap wajah mamanya yang terbaring tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit. Menurut perkiraan dokter, mamanya akan sadar beberapa menit lagi.

 

Tak sampai lima menit, mata Ibu Ratna mulai bergerak. Kelopak matanya terbuka perlahan.

 

“Icha ...! Icha ...!” Dengan tenaga yang lemah, bibir Ibu Ratna terus memanggil nama Icha.

 

Icha langsung menghampiri mamanya. “Ma, Icha di sini,” tuturnya sambil menggenggam tangan mamanya.

 

Ratna tersenyum saat mendapati anak kesayangannya sudah ada di sisinya. “Mama di mana?”

 

“Mama di rumah sakit,” jawab Icha.

 

“Kok, bisa di sini?” tanya Ratna lagi.

 

Icha langsung menoleh ke arah semua teman-temannya. Sepertinya, mamanya melupakan apa yang terjadi beberapa jam lalu.

 

“Mereka siapa?” tanya Ratna. Ia hanya mengenali Yuna dan Lutfi, sedang yang lain ia tidak mengenalnya.

 

“Mereka semua temen-temen Icha,” jawab Icha sambil tersenyum.

 

Ratna mengerjap, ia menahan nyeri di kepalanya. Pergelangan tangannya yang dibalut perban, membuatnya berusaha mengingat apa yang telah terjadi. “Cha, Mama haus ,” ucapnya lirih.

 

Icha langsung mengambil air mineral dan memberikan pada mamanya.

 

Ratna meminum air mineral tersebut sedikit demi sedikit. Ekor matanya tak lepas dari kerumunan orang yang menatapnya. Di pelupuk matanya, terbayang jelas bagaimana ia menggunakan Icha untuk melukai Lutfi juga pria-pria berseragam militer yang kerap menjaga dirinya beberapa hari belakangan ini. Hal ini membuatnya semakin gila karena tidak mengetahui siapa orang yang menjaga dirinya.

 

“Yan, dia nggak seperti orang gila,” bisik Yeriko di telinga Riyan.

 

Riyan menganggukkan kepala.

 

“Selesaikan sampai tuntas!” perintah Yeriko berbisik.

 

Riyan mengangguk tanda mengerti.

 

“Kenapa mereka semua ada di sini?” tanya Ratna.

 

“Mereka mau jenguk Mama,” jawab Icha sambil tersenyum.

 

Mata Ratna terus tertuju pada Riyan. Pria muda yang terus mengikuti dirinya dan kerap mencecar dengan banyak pertanyaan.

 

Nenek Lutfi melangkah perlahan menghampiri Ratna. “Kamu ingat sama saya?”

 

Ratna menatap wanita tua yang ada di hadapannya selama beberapa detik, kemudian menggelengkan kepalanya.

 

“Saya Lela, neneknya Lutfi. Ingat?” tanya Nenek Lutfi.

 

Ratna membelalakkan mata dan langsung membuang wajahnya. Tubuhnya gemetaran karena ia merasa kalau semua orang yang ada di ruangan itu sedang mengadili dirinya.

 

“Ma ...!” panggil Icha lirih.

 

Ratna bergeming.

 

Lutfi ikut melangkah mendekati Ratna. Ia tidak tega melihat Icha yang begitu sedih dan menderita karena perbuatan mamanya. “Bu Ratna, ada hal yang harus Anda jelaskan ke kami!”

 

Ratna tetap tak ingin menatap Lutfi dan neneknya. Ia terus menatap Icha yang duduk di sampingnya.

 

“Ma, Mama ingat aku kan?” tanya Icha.

 

Ratna menganggukkan kepala. “Mana mungkin Mama lupa sama anak sendiri,” jawab Ratna sambil mengelus pipi Icha.

 

“Apa yang sebenarnya sudah terjadi di masa lalu dan Icha anaknya siapa?” tanya Icha lirih.

 

“Hasil tes DNA sudah keluar dan membuktikan kalau Icha bukan anak Surya,” tutur Lela. “Bukannya waktu itu ... Agus sudah mengakui kalau anak yang kamu kandung adalah anak dia? Kamu masih saja bersikeras kalau itu anak Surya. Hasil tes DNA sudah membuktikan kalau Icha nggak ada hubungan darah dengan anak saya.”

 

Ratna langsung menatap sengit ke arah Lela. “Aku memang sengaja menggunakan Icha untuk membalas dendam. Aku nggak akan membiarkan anak-anak kalian hidup bahagia!”

 

Icha langsung bangkit dari kursi dan melangkah mundur. Ia tak menyangka kalau mamanya selama ini memang memperalat dirinya untuk membalaskan dendam ke keluarga Lutfi.

 

“Icha ...!” panggil Ratna sambil berusaha meraih tangan Icha. “Kamu tetap anak Mama.”

 

Icha menggelengkan kepala sambil menitikan air mata. “Aku bukan anak Mama ...”

 

Ratna menggeleng. “Kamu anak Mama.”

 

“Dia bukan anak kamu. Dia siapa?” tanya Lela.

 

Ratna menatap tajam ke arah Lela. “Nggak usah ikut campur urusanku!” serunya.

 

“Apa pun yang berhubungan dengan Icha, akan menjadi urusan kami!” tegas Lutfi sambil menggenggam tangan Icha.

 

Icha terpaku sambil menatap wajah mamanya penuh kekecewaan.

 

“Icha nggak bisa donorkan darahnya buat kamu karena nggak cocok. Dia bukan anak kandung kamu?” tanya Lutfi.

 

Ratna membelalakkan mata menatap Lutfi yang begitu lancang terhadap dirinya. “Kamu ...!?”

 

“Ratna, apa yang sudah terjadi sebenarnya?” tanya Lela. “Siapa Icha sebenarnya?”

 

Ratna menatap tajam ke arah Lela. “Hahaha.” Ia malah terbahak mendengar pertanyaan Lela.

 

Semua orang saling pandang dengan wajah penuh tanya. Sementara Ratna masih belum menghentikan tawanya.

 

Ratna menatap tajam ke arah Lela. Ia langsung bangkit dan berusaha mencakar wajah wanita tua itu.

 

Yeriko dengan cepat melindungi Nenek Lutfi dari ancaman Ibu Ratna. Ia merasa, Ibu Ratna sangatlah berbahaya.

 

Lutfi terus memeluk tubuh Icha yang gemetaran. “Nggak usah takut! Ada aku,” bisiknya lirih.

 

“Gara-gara kamu, hidupku jadi berantakkan!” teriak Ibu Ratna sambil menunjuk wajah Nenek Lutfi. “Kamu yang udah bunuh anak kandungku!” Ia berusaha menjangkau tubuh Nenek Lutfi.

 

“Chandra ...! Tolongin ...!” teriak Yeriko.

 

Chandra langsung menahan tubuh Ratna agar tidak menyerang Nenek Lutfi terus-menerus.

 

“Kamu yang udah bunuh anak kandungku! Kalian semua kejam!” teriak Ratna sambil terisak. “Kalau bukan karena kamu, anakku nggak akan mati!”

 

 Nenek Lutfi terkejut. Ia tak tahu apa yang telah terjadi pada Ratna dan bayinya semenjak keluar dari rumahnya.

 

“Anak yang aku kandung sudah mati di dalam kandungan. Semua ini karena kalian yang memperlakukan aku dengan kejam!” seru Ratna dengan mata berapi-api.

 

Semua orang terdiam. Tak ada satu pun yang bersuara termasuk Nenek Lutfi.

 

“Icha memang bukan anak kandungku. Aku ambil dia dari rumah sakit. Aku yang membesarkan dia supaya bisa membalaskan dendam ke keluarga kalian. Siapa sangka, ternyata dia malah pacaran sama cucu kamu. Aku bisa membalas dendamku dengan lebih mudah,” tutur Ratna sambil tertawa terbahak-bahak.

 

Icha semakin terisak. Ia tak menyangka kalau Ibu Ratna telah memisahkan dirinya dari keluarganya. Kini, ia melihat mamanya seperti orang gila. Tertawa dan menangis, silih berganti menyelimuti wajahnya.

 

“Ma, Mama sadar, Ma!” pinta Icha.

 

“Icha ...! Walau kamu bukan anak kandung Mama. Mama sayang sama kamu. Mama sayang sama kamu. Kamu percaya sama Mama ‘kan?”

 

“Aku nggak akan izinin kamu menyentuh Icha lagi!” sentak Lutfi. “Aku berbaik hati sama kamu karena menghargai kamu sebagai mamanya Icha. Sekarang, kamu nggak ada hubungan apa pun dengan Icha. Kami nggak akan ngelepasin kamu!” tegas Lutfi.

 

 ((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat menulis setiap hari, bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 397 : Delusi

 


Surya menghampirinya mamanya dan berbisik. Ia mengungkapkan apa yang telah dilakukan Ratna hari ini.

 

“Apa? Dia itu gila ya?” tanya Lela.

 

“Aku nggak tahu, Ma. Tapi, kita nggak punya pilihan lain selain menahan dia di rumah ini. Kalau dia keluar dan mengancam membeberkan ini semua ke media. Aku bisa habis!” tutur Surya.

 

Lela menghela napas. “Kita ikuti saja apa maunya. Mama tunggu di kamar. Bawa dia ke kamar Mama!” pinta Lela. Ia tersenyum pada beberapa tamunya dan terpaksa pergi ke kamarnya.

 

Surya menghela napas. Ia menatap wajah Nada yang berdiri di sampingnya.

 

“Aku percaya sama kamu,” tuturnya seolah mengerti kegelisahan yang tergambar di wajah suaminya itu.

 

Surya tersenyum kecut. Ia mengecup Lutfi kecil dan bergegas pergi untuk menyelesaikan masalahnya dengan Ratna. Ia langsung membawa Ratna untuk bertemu dengan mamanya di dalam kamar. Menjauhi kerumunan tamu yang sedang menikmati suka cita atas kelahiran bayinya.

 

“Ratna, kamu mau bikin ulah apa lagi?” tanya Lela.

 

“Nyonya, apa kabar?” tanya Ratna sambil tersenyum.

 

Lela menghela napas. “Kamu lihat saya baik-baik aja. Kamu jawab pertanyaan saya dengan pertanyaan?”

 

Ratna tersenyum menanggapi ucapan Lela.

 

Lela mengerutkan dahi karena Ratna terus tersenyum ke arahnya. “Kamu ini kenapa?”

 

“Nggak papa, Nyonya. Saya bahagia karena anak di perut ini bisa ketemu sama ayah dan neneknya.”

 

“Hah!? Halusinasi kamu terlalu tinggi,” sahut Surya. “Aku nggak pernah menyentuh kamu sejengkal pun!”

 

Ratna mulai terisak mendengar penolakan dari Surya.

 

“Surya, sebaiknya kamu bertanggung jawab!” pinta Lela.

 

“Tanggung jawab apa?” Surya bersikeras. “Aku nggak ngapa-ngapain dia.”

 

“Hiks ... hiks ... aku emang bukan siapa-siapa. Bukan perempuan dari keluarga kaya seperti Mbak Nada. Makanya, Mas Surya nggak pernah mau mengakui keberadaan saya di depan semua orang. Bahkan, dia juga menutupi hubungan kami.”

 

“Kamu ...!?” Surya makin geram melihat tingkah Ratna.

 

Lela menatap wajah Surya sambil menggeleng perlahan. Ia adalah seorang ibu, bisa mengerti bagaimana perasaan Ratna yang sedang hamil dan tidak mendapatkan perlindungan dari siapa pun.

 

“Ratna, kami pasti akan bertanggung jawab sama anak ini kalau memang terbukti dia adalah anak Surya,” tutur Lela.

 

“Aku jamin, dia bukan anakku!” sahut Surya.

 

“Kenapa Mas Surya tetap nggak mau mengakui anak kita? Mas Surya lupa kalau malam itu ...”

 

“Aargh ...! Kamu cuma manfaatin momen!” sentaknya. “Aku nggak pernah masuk ke kamar kamu sekalipun aku dalam keadaan mabuk.”

 

Ratna hanya menanggapi ucapan Surya dengan air mata.

 

“Sudahlah. Saya izinkan kamu tinggal di rumah ini sampai anak itu lahir. Kalau hasil tes DNA membuktikan dia bukan anak Surya. Kalian harus segera meninggalkan rumah ini!” tutur Lela.

 

Ratna menganggukkan kepala. Ia sangat yakin kalau anak yang ada dalam kandungannya adalah anak kandung Surya.

 

Surya menghela napas. “Oke. Lebih baik begitu.”

 

Ratna tersenyum bahagia. Ia sangat senang bisa masuk kembali ke dalam keluarga itu.

 

Surya dan Nada terpaksa menerima kehadiran Ratna dalam rumah tangga mereka sampai bayi yang ada dalam kandungan Ratna dilahirkan.

 

 

 

...

 

 

 

Tiga bulan kemudian ...

 

“Permisi, Nyonya ...!” Agus menghanpiri Lela yang sedang bersantai bersama keluarga dan Lutfi kecil.

 

Lela langsung menoleh ke arah Agus. “Ada apa, Gus?” tanya Lela.

 

Agus menundukkan kepala sejenak. “Ada hal yang ingin saya sampaikan.”

 

“Kenapa canggung gitu, Gus? Santai aja!” tutur Surya. “Ada apa?”

 

Agus tersenyum kecil. Ia duduk di sofa sambil meremas jemari tangannya. Ia melirik ke arah Ratna yang duduk tak jauh darinya.

 

“Mas Surya, saya tidak tenang jika harus hidup dalam kebohongan seperti ini,” tutur Agus.

 

“Kebohongan apa yang kamu maksud?” tanya Surya.

 

“Mmh ... sebenarnya ... anak yang dikandung Ratna adalah anak saya,” jawab Agus lirih.

 

“Apa!?” Surya membelalakkan matanya. Kemudian bibirnya menyunggingkan senyum lebar. “Alhamdulillah ...!” serunya sambil mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya.

 

“Sayang, sekarang kamu percaya sama aku kan? Aku nggak pernah mengkhianati kamu,” tutur Surya sambil menatap Nada.

 

Nada tersenyum. “Aku selalu percaya sama kamu.”

 

Surya langsung mengecup kening Nada dan menciumi Lutfi, putera kecil kesayangannya.

 

“Ma, Mama sekarang percaya sama aku ‘kan?” Surya beralih menatap mamanya.

 

Lela mengedipkan matanya perlahan. Ia menatap Ratna yang tak merasa bersalah sedikit pun. “Nggak ada yang mau kamu jelaskan?” tanyanya.

 

“Nyonya, anak ini beneran anaknya Mas Surya. Agus bohong!” serunya.

 

“Ratna ...! Sebaiknya kamu hentikan semua ini!” pintanya. “Malam itu bukan Mas Surya, tapi saya.”

 

“Bohong ...!” seru Ratna sambil menunjuk wajah Agus. “Aku nggak mungkin ngelakuin itu sama kamu.”

 

“Kenyataannya memang begitu, anak yang ada di dalam perut kamu itu anakku,” tutur Agus.

 

“Nggak mungkin ...!” seru Ratna sambil menutup kedua telinga. Ia tetap tidak bisa menerima pernyataan Agus dan terus mempercayai kalau Surya adalah ayah dari anak yang dikandungnya.

 

“Ratna ...!” panggil Agus lirih sambil berusaha menyentuh pundak Ratna.

 

Ratna berusaha menjauh dari tangan Agus. “Bukan kamu ...! Malam itu bukan kamu!” serunya histeris.

 

Lela semakin bingung dengan apa yang terjadi. Ia justru menatap iba ke arah Ratna. Ia pikir, Ratna tak sanggup memikul beban kehidupannya sehingga tak bisa menerima kenyataan.

 

“Ratna, sebaiknya kita pergi dari sini. Kita bisa memulai kehidupan baru yang bahagia sebagai keluarga,” pinta Agus.

 

Ratna menggelengkan kepala.

 

Agus menghela napas. Ia menarik lengan Ratna dan berusaha membawanya pergi dari rumah itu.

 

“Aku nggak mau pergi dari sini!” seru Ratna sambil mengeluarkan air mata.

 

“Ratna, tempat kamu bukan di sini,” tutur Agus.

 

Ratna menggelengkan kepala. Ia terus memberontak. Tak ingin keluar dari rumah keluarga itu.

 

“Gus, jangan kasar gitu juga!” pinta Surya. Ia tidak tega melihat Ratna yang sedang hamil dan harus menerima perlakuan kasar dari orang lain.

 

Agus menghela napas. “Mas, sebenarnya ... dia memang mengalami gangguan mental. Dia menderita delusi, hal ini yang membuat dia terus-menerus mempercayai kenyataan yang berlawanan.”

 

Surya mengerutkan dahi. “Delusi?”

 

Agus menganggukkan kepala.

 

“Jadi, selama ini dia memang berkhayal?” tanya Lela sambil menggeleng-gelengkan kepala.

 

“Maaf, Nyonya! Seharusnya, saya mengatakan ini dari awal. Saat itu saya belum yakin dengan hasil pemeriksaan dokter. Saya beberapa kali mengajaknya konsultasi ke beberapa psikiater dan hasilnya sama.”

 

Lela menghela napas. “Apa yang akan kamu lakukan sekarang?”

 

“Saya akan bertanggung jawab!” jawab Agus.

 

“Baguslah.” Lela mengangguk-anggukkan kepalanya. “Gimana cara kamu bertanggung jawab?”

 

“Saya akan membawa dia jauh dari kehidupan kalian. Saya akan berhenti kerja dan membawa dia ke kampung halaman saya,” tutur Agus.

 

Lela menghela napas. Ia sangat menyayangi pelayan-pelayan di rumahnya. Agus juga sangat gigih dalam bekerja. Hanya saja, apa yang terjadi pada Ratna ... membuatnya harus membuat keputusan. Ia harus menjaga nama baik keluarga dan keselamatan rumah tangga anaknya. “Oke. Tunggu sebentar!”

 

Lela melangkah ke kamarnya dan kembali setelah beberapa menit. Ia langsung menghampiri Agus yang masih berdiri di hadapan Nada dan Surya.

 

“Gus, ini ada sedikit uang untuk kalian. Kamu gunakan untuk pulang kampung, biaya persalinan Ratna dan buatlah usaha di sana supaya kalian bisa menjalani kehidupan baru dengan baik!” tutur Ratna sambil menyerahkan amplop cokelat ke arah Agus.

 

Agus menatap amplop tersebut selama beberapa detik.

 

“Ambillah!” pinta Lela.

 

Agus langsung mengambil uang tersebut dan berlutut di hadapan Nyonya. “Terima kasih, Nyonya. Selama ini, kalian sudah sangat baik. Saya tidak akan bisa membalas kebaikan kalian.”

 

“Nggak ada hal yang perlu kamu balas. Kalian hiduplah dengan baik dan bahagia. Kalau ada apa-apa, kabari kami. Kami akan senang membantu kalian,” tutur Lela.

 

Agus meneteskan air mata. “Terima kasih, Nyonya! Saya tidak akan pernah melupakan kebaikan kalian,” tuturnya sambil menunduk ke lantai.

 

“Sudah, sudah! Jangan terus berlutut seperti ini!”

 

Agus bangkit dari lantai. Ia bergegas membawa Ratna yang masih terus memberontak. Ia tidak ingin, kebaikan hati majikannya dimanfaatkan oleh Ratna. Membuat kehidupan keluarga yang baik menjadi berantakan. Jalan satu-satunya adalah membawa Ratna pergi ke tempat yang jauh.

 

Sejak kejadian itu, keluarga besar Lutfi tak pernah mengetahui kabar Ratna dan Agus, hingga Lutfi kecil semakin hari semakin beranjak dewasa.

 

 

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat menulis setiap hari, bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Perfect Hero Bab 396 : Perayaan Kelahiran Lutfi Kecil

 


“RATNA ...!” teriak Surya begitu ia masuk ke dalam rumah.

 

“Ada apa, Mas?” tanya salah seorang pembantu yang ada di rumah tersebut.

 

“Ratna mana?” tanya Surya kesal.

 

“Ada apa, Surya? Kenapa masuk rumah sambil marah-marah?” tanya Lela sambil menghampiri puteranya.

 

“Nada sekarang ada di rumah sakit. Semua ini gara-gara pembantu sialan itu!” sahut Surya kesal.

 

“Hah!? Kenapa Mama nggak tahu kalau Nada masuk rumah sakit?”

 

“Tadi, waktu aku pulang kerja. Nada nunggu di depan rumah. Tiba-tiba dia kesakitan. Aku langsung bawa dia ke rumah sakit,” jelas Surya.

 

“Keadaannya sekarang gimana?” tanya Lela.

 

“Sekarang, dia udah baik-baik aja. Mana si Ratna?” tanya Surya lagi.

 

Seorang pelayan lain datang bersama Ratna dan langsung menghampiri Surya.

 

Surya menatap wajah Ratna penuh kebencian. “Kamu yang bikin jus untuk istri saya?” tanyanya.

 

Ratna menggelengkan kepala. “Mbak Nada selalu minum jus buatan Bibi Naroh,” jawab Ratna sambil meremas jemari tangannya sendiri.

 

Orang yang disebut oleh Ratna langsung menoleh. “Hari ini, Bibi belum buatin jus untuk Mbak Nada!” sergahnya.

 

“Ratna, kamu masih aja jadi pembohong. Nggak ada jera-jeranya bikin masalah di rumah ini. Kamu tahu, Nada bahkan selalu bersikap baik sama kamu. Bisa-bisanya kamu mau bikin istriku keguguran!” tutur Surya dengan mata berapi-api.

 

“Apa!? Kamu mau bunuh cucu saya?” tanya Lela. “Kali ini, kamu bener-bener keterlaluan!”

 

Ratna menggelengkan kepala. “Saya nggak ngapa-ngapain, Nyonya. Saya memang buatkan jus mangga untuk Mbak Nada. Tapi, setiap hari Mbak Nada memang minum jus itu. Kenapa, saya yang disalahkan cuma karena saya yang buatkan jus untuk Mbak Nada. Pasti, Mbak Nada sengaja mau memfitnah saya.”

 

Surya mengeratkan rahangnya. Ia langsung melempar dokumen yang ada di tangannya ke wajah Ratna. “Lihat! Baca!” sentaknya.

 

Ratna mengambil dokumen yang berisi hasil uji laboratorium. Ia sama sekali tidak mengerti arti dari tulisan medis yang ada di kertas tersebut. “Saya nggak ngerti ini apa.”

 

“Itu hasil tes laboratorium. Ada yang sengaja naruh obat di dalam jus itu supaya istri saya keguguran. Dia baru minum sedikit, sudah pendarahan. Kamu pasti tahu apa yang akan terjadi sama istriku kalau dia menghabiskan jus itu!”

 

Ratna menatap dokumen yang ada di tangannya sambil gemetaran. Ia tak menyangka kalau majikannya itu melakukan uji coba terhadap jus yang ia buat.

 

Semua pelayan di rumah itu langsung berlutut di lantai, kecuali Ratna.

 

“Mas, saya tidak membuat jus itu. Kami tidak tahu kalau jus itu dikasih obat,” tutur Bibi Naroh.

 

“Saya juga tidak melakukannya,” tutur pelayan yang lain.

 

“Kalian nggak salah. Karena pelakunya sudah jelas,” tutur Surya.

 

“Kamu masih mau mengelak?” tanya Lela.

 

Ratna menggelengkan kepala. Ia tetap tidak mau mengakui kesalahannya.

 

“Gus! Bawa dia pergi dari rumah ini!” perintah Lela pada Agus, supir di keluarga tersebut.

 

“Nyonya, jangan usir saya dari sini!” pinta Ratna sambil berlutut di hadapan Lela.

 

Lela mengangkat dagunya lebih tinggi. “Kali ini, nggak ada ampun lagi buat kamu!” tegasnya.

 

“Nyonya, jangan usir saya! Saya mau tinggal di mana? Saya nggak punya keluarga.” Ratna terus berlutut sambil memeluk kaki Lela.

 

“Agus ...!” panggil Lela kesal. “Bawa dia pergi dari sini sekarang juga! Jangan pernah bikin dia masuk lagi ke rumah ini!” perintahnya.

 

Agus menganggukkan kepala. Ia segera menarik Ratna perlahan dan membawanya keluar dari rumah tersebut.

 

“Mas Surya ...!” panggil Ratna sambil mengeluarkan air mata. “Jangan usir saya dari sini!” pintanya.

 

Surya menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan matanya. Ia tidak tega memperlakukan wanita yang sudah lemah dan menjadi seorang tunawisma. Hanya saja, perbuatan Ratna tak bisa ia maafkan lagi.

 

“Kalian semua, kembali ke pekerjaan masing-masing!” perintah Lela. “Saya nggak mau kalau ada kejadian seperti ini lagi!”

 

Semua orang menganggukkan kepala dan kembali ke pekerjaannya masing-masing.

 

“Ma, aku harus balik ke rumah sakit. Nemenin Nada.”

 

“Mama ikut!”

 

Surya menganggukkan kepala. Mereka bergegas pergi ke rumah sakit untuk menjaga Nada sampai kondisi kesehatannya stabil.

 

 

 

...

 

 

 

Dua bulan kemudian ...

 

 

 

Surya dan Nada tenggelam dalam kebahagiaan menyambut kehadiran putera kecil dalam kehidupan mereka. Hari ini, semua keluarga besar dan teman-teman dekatnya berkumpul di rumah untuk merayakan hari ke tujuh buah hati mereka.

 

Seorang MC memandu acara syukuran kelahiran Lutfi Ananda Putra, putera pertama dari Surya Aditya Putra dan Nada Qonita. Ucapan selamat juga berdatangan dari kerabat dan teman-teman dekat mereka.

 

Nada tertegun saat melihat Ratna tiba-tiba ada di antara tamu undangan itu. Ia langsung memeluk erat anak kesayangannya dan menyenggol lengan Surya yang berdiri di sampingnya.

 

“Sayang, kamu undang dia ke sini?” tanya Nada berbisik.

 

Surya menggelengkan kepala.

 

“Kenapa dia ada di sini? Dia bukan mau mencelakai anak kita lagi kan?”

 

“Kamu tenang aja. Aku nggak akan membiarkan dia melukai kalian.”

 

“Ratna? Kamu ngapain di sini?” tanya Lela sambil menghampiri Ratna.

 

“Nyonya, selamat malam!” sapa Ratna sambil tersenyum manis. “Saya ke sini mau ngucapin selamat untuk kelahiran bayi Mbak Nada dan mau ngasih hadiah untuk kalian.” Ratna menyodorkan paper bag ke arah Surya.

 

Surya menerima hadiah dari Ratna. “Makasih ...!” ucap Surya sambil tersenyum.

 

“Buka dong hadiahnya!” pinta Ratna.

 

Surya terdiam sejenak sambil melirik ke arah istri dan mamanya.

 

Ratna terus tersenyum sambil menatap Surya.

 

Surya membuka paper bag yang diberikan Ratna. Ia melihat buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) yang ada di dalam paper bag tersebut. Ia mengerutkan dahi saat mengeluarkan buku tersebut. “Apa maksudnya ini?” tanyanya.

 

“Lutfi akan segera punya adik,” jawab Ratna dengan wajah bahagia.

 

Surya membelalakkan matanya. Ia membuka buku tersebut dan melihat namanya tertera sebagai suami dari Ratna. “Ini cewek kumat lagi gilanya?” gumamnya. Ia mengedarkan pandangannya pada semua tamu yang hadir. Buru-buru ia menutup buku tersebut dan menarik Ratna menjauh dari kerumunan banyak orang.

 

“Maksud kamu apa!?” sentak Surya kesal. “Aku nggak pernah menyentuh tubuh kamu sejengkal pun. Gimana bisa kamu tulis namaku di buku ini?”

 

Ratna tersenyum menatap Surya. “Mas Surya lupa? Malam itu ... waktu Mas Surya pulang dalam keadaan mabuk dan masuk ke kamarku?”

 

Surya memijat keningnya. Ia mencoba mengingat semua kejadian beberapa bulan silam. Tapi, ia tetap saja tidak mengingatnya. Ia merasa tidak pernah masuk ke dalam kamar pembantunya sekali pun. Walau pulang dalam keadaan mabuk, ia masih sadar dan bisa mengendalikan dirinya sendiri.

 

Ratna tersenyum sambil berusaha memeluk Surya.

 

“Jangan sentuh saya!” pinta Surya. “Saya nggak pernah menyentuh kamu sedikit pun. Anak itu bukan anak saya!”

 

Ratna mengerutkan bibir sambil menatap Surya dengan mata berkaca-kaca. “Kalau Mas Surya nggak mau mengakui anak ini. Aku bakal kasih tahu semua orang yang ada di sini. Supaya mereka semua tahu bagaimana keluarga kalian memperlakukan aku yang lemah ini.”

 

“Astaga ...!” Surya menepuk dahinya sendiri. “Ratna ...!” ucapnya menahan kekesalan.

 

Surya menarik napas dalam-dalam. “Oke. Oke. Kamu tunggu di sini dulu!” pinta Surya. “Jangan ke mana-mana!” perintahnya sambil berlalu pergi meninggalkan Ratna.

 

Ratna tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya, ia bisa masuk lagi ke dalam kehidupan Surya. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini begitu saja. Ia pasti bisa mendapatkan Surya, pria yang selama ini menjadi pujaan hatinya.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat menulis setiap hari, bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas