Surya
menghampirinya mamanya dan berbisik. Ia mengungkapkan apa yang telah dilakukan
Ratna hari ini.
“Apa?
Dia itu gila ya?” tanya Lela.
“Aku
nggak tahu, Ma. Tapi, kita nggak punya pilihan lain selain menahan dia di rumah
ini. Kalau dia keluar dan mengancam membeberkan ini semua ke media. Aku bisa
habis!” tutur Surya.
Lela
menghela napas. “Kita ikuti saja apa maunya. Mama tunggu di kamar. Bawa dia ke
kamar Mama!” pinta Lela. Ia tersenyum pada beberapa tamunya dan terpaksa pergi
ke kamarnya.
Surya
menghela napas. Ia menatap wajah Nada yang berdiri di sampingnya.
“Aku
percaya sama kamu,” tuturnya seolah mengerti kegelisahan yang tergambar di
wajah suaminya itu.
Surya
tersenyum kecut. Ia mengecup Lutfi kecil dan bergegas pergi untuk menyelesaikan
masalahnya dengan Ratna. Ia langsung membawa Ratna untuk bertemu dengan mamanya
di dalam kamar. Menjauhi kerumunan tamu yang sedang menikmati suka cita atas
kelahiran bayinya.
“Ratna,
kamu mau bikin ulah apa lagi?” tanya Lela.
“Nyonya,
apa kabar?” tanya Ratna sambil tersenyum.
Lela
menghela napas. “Kamu lihat saya baik-baik aja. Kamu jawab pertanyaan saya
dengan pertanyaan?”
Ratna
tersenyum menanggapi ucapan Lela.
Lela
mengerutkan dahi karena Ratna terus tersenyum ke arahnya. “Kamu ini kenapa?”
“Nggak
papa, Nyonya. Saya bahagia karena anak di perut ini bisa ketemu sama ayah dan
neneknya.”
“Hah!?
Halusinasi kamu terlalu tinggi,” sahut Surya. “Aku nggak pernah menyentuh kamu
sejengkal pun!”
Ratna
mulai terisak mendengar penolakan dari Surya.
“Surya,
sebaiknya kamu bertanggung jawab!” pinta Lela.
“Tanggung
jawab apa?” Surya bersikeras. “Aku nggak ngapa-ngapain dia.”
“Hiks
... hiks ... aku emang bukan siapa-siapa. Bukan perempuan dari keluarga kaya
seperti Mbak Nada. Makanya, Mas Surya nggak pernah mau mengakui keberadaan saya
di depan semua orang. Bahkan, dia juga menutupi hubungan kami.”
“Kamu
...!?” Surya makin geram melihat tingkah Ratna.
Lela
menatap wajah Surya sambil menggeleng perlahan. Ia adalah seorang ibu, bisa
mengerti bagaimana perasaan Ratna yang sedang hamil dan tidak mendapatkan
perlindungan dari siapa pun.
“Ratna,
kami pasti akan bertanggung jawab sama anak ini kalau memang terbukti dia
adalah anak Surya,” tutur Lela.
“Aku
jamin, dia bukan anakku!” sahut Surya.
“Kenapa
Mas Surya tetap nggak mau mengakui anak kita? Mas Surya lupa kalau malam itu
...”
“Aargh
...! Kamu cuma manfaatin momen!” sentaknya. “Aku nggak pernah masuk ke kamar
kamu sekalipun aku dalam keadaan mabuk.”
Ratna
hanya menanggapi ucapan Surya dengan air mata.
“Sudahlah.
Saya izinkan kamu tinggal di rumah ini sampai anak itu lahir. Kalau hasil tes
DNA membuktikan dia bukan anak Surya. Kalian harus segera meninggalkan rumah
ini!” tutur Lela.
Ratna
menganggukkan kepala. Ia sangat yakin kalau anak yang ada dalam kandungannya
adalah anak kandung Surya.
Surya
menghela napas. “Oke. Lebih baik begitu.”
Ratna
tersenyum bahagia. Ia sangat senang bisa masuk kembali ke dalam keluarga itu.
Surya
dan Nada terpaksa menerima kehadiran Ratna dalam rumah tangga mereka sampai
bayi yang ada dalam kandungan Ratna dilahirkan.
...
Tiga
bulan kemudian ...
“Permisi,
Nyonya ...!” Agus menghanpiri Lela yang sedang bersantai bersama keluarga dan
Lutfi kecil.
Lela
langsung menoleh ke arah Agus. “Ada apa, Gus?” tanya Lela.
Agus
menundukkan kepala sejenak. “Ada hal yang ingin saya sampaikan.”
“Kenapa
canggung gitu, Gus? Santai aja!” tutur Surya. “Ada apa?”
Agus
tersenyum kecil. Ia duduk di sofa sambil meremas jemari tangannya. Ia melirik
ke arah Ratna yang duduk tak jauh darinya.
“Mas
Surya, saya tidak tenang jika harus hidup dalam kebohongan seperti ini,” tutur
Agus.
“Kebohongan
apa yang kamu maksud?” tanya Surya.
“Mmh
... sebenarnya ... anak yang dikandung Ratna adalah anak saya,” jawab Agus
lirih.
“Apa!?”
Surya membelalakkan matanya. Kemudian bibirnya menyunggingkan senyum lebar.
“Alhamdulillah ...!” serunya sambil mengusap wajah dengan kedua telapak
tangannya.
“Sayang,
sekarang kamu percaya sama aku kan? Aku nggak pernah mengkhianati kamu,” tutur
Surya sambil menatap Nada.
Nada
tersenyum. “Aku selalu percaya sama kamu.”
Surya
langsung mengecup kening Nada dan menciumi Lutfi, putera kecil kesayangannya.
“Ma,
Mama sekarang percaya sama aku ‘kan?” Surya beralih menatap mamanya.
Lela
mengedipkan matanya perlahan. Ia menatap Ratna yang tak merasa bersalah sedikit
pun. “Nggak ada yang mau kamu jelaskan?” tanyanya.
“Nyonya,
anak ini beneran anaknya Mas Surya. Agus bohong!” serunya.
“Ratna
...! Sebaiknya kamu hentikan semua ini!” pintanya. “Malam itu bukan Mas Surya,
tapi saya.”
“Bohong
...!” seru Ratna sambil menunjuk wajah Agus. “Aku nggak mungkin ngelakuin itu
sama kamu.”
“Kenyataannya
memang begitu, anak yang ada di dalam perut kamu itu anakku,” tutur Agus.
“Nggak
mungkin ...!” seru Ratna sambil menutup kedua telinga. Ia tetap tidak bisa
menerima pernyataan Agus dan terus mempercayai kalau Surya adalah ayah dari
anak yang dikandungnya.
“Ratna
...!” panggil Agus lirih sambil berusaha menyentuh pundak Ratna.
Ratna
berusaha menjauh dari tangan Agus. “Bukan kamu ...! Malam itu bukan kamu!”
serunya histeris.
Lela
semakin bingung dengan apa yang terjadi. Ia justru menatap iba ke arah Ratna.
Ia pikir, Ratna tak sanggup memikul beban kehidupannya sehingga tak bisa
menerima kenyataan.
“Ratna,
sebaiknya kita pergi dari sini. Kita bisa memulai kehidupan baru yang bahagia
sebagai keluarga,” pinta Agus.
Ratna
menggelengkan kepala.
Agus
menghela napas. Ia menarik lengan Ratna dan berusaha membawanya pergi dari
rumah itu.
“Aku
nggak mau pergi dari sini!” seru Ratna sambil mengeluarkan air mata.
“Ratna,
tempat kamu bukan di sini,” tutur Agus.
Ratna
menggelengkan kepala. Ia terus memberontak. Tak ingin keluar dari rumah
keluarga itu.
“Gus,
jangan kasar gitu juga!” pinta Surya. Ia tidak tega melihat Ratna yang sedang
hamil dan harus menerima perlakuan kasar dari orang lain.
Agus
menghela napas. “Mas, sebenarnya ... dia memang mengalami gangguan mental. Dia
menderita delusi, hal ini yang membuat dia terus-menerus mempercayai kenyataan
yang berlawanan.”
Surya
mengerutkan dahi. “Delusi?”
Agus
menganggukkan kepala.
“Jadi,
selama ini dia memang berkhayal?” tanya Lela sambil menggeleng-gelengkan
kepala.
“Maaf,
Nyonya! Seharusnya, saya mengatakan ini dari awal. Saat itu saya belum yakin
dengan hasil pemeriksaan dokter. Saya beberapa kali mengajaknya konsultasi ke
beberapa psikiater dan hasilnya sama.”
Lela
menghela napas. “Apa yang akan kamu lakukan sekarang?”
“Saya
akan bertanggung jawab!” jawab Agus.
“Baguslah.”
Lela mengangguk-anggukkan kepalanya. “Gimana cara kamu bertanggung jawab?”
“Saya
akan membawa dia jauh dari kehidupan kalian. Saya akan berhenti kerja dan
membawa dia ke kampung halaman saya,” tutur Agus.
Lela
menghela napas. Ia sangat menyayangi pelayan-pelayan di rumahnya. Agus juga
sangat gigih dalam bekerja. Hanya saja, apa yang terjadi pada Ratna ...
membuatnya harus membuat keputusan. Ia harus menjaga nama baik keluarga dan
keselamatan rumah tangga anaknya. “Oke. Tunggu sebentar!”
Lela
melangkah ke kamarnya dan kembali setelah beberapa menit. Ia langsung
menghampiri Agus yang masih berdiri di hadapan Nada dan Surya.
“Gus,
ini ada sedikit uang untuk kalian. Kamu gunakan untuk pulang kampung, biaya
persalinan Ratna dan buatlah usaha di sana supaya kalian bisa menjalani
kehidupan baru dengan baik!” tutur Ratna sambil menyerahkan amplop cokelat ke
arah Agus.
Agus
menatap amplop tersebut selama beberapa detik.
“Ambillah!”
pinta Lela.
Agus
langsung mengambil uang tersebut dan berlutut di hadapan Nyonya. “Terima kasih,
Nyonya. Selama ini, kalian sudah sangat baik. Saya tidak akan bisa membalas
kebaikan kalian.”
“Nggak
ada hal yang perlu kamu balas. Kalian hiduplah dengan baik dan bahagia. Kalau
ada apa-apa, kabari kami. Kami akan senang membantu kalian,” tutur Lela.
Agus
meneteskan air mata. “Terima kasih, Nyonya! Saya tidak akan pernah melupakan
kebaikan kalian,” tuturnya sambil menunduk ke lantai.
“Sudah,
sudah! Jangan terus berlutut seperti ini!”
Agus
bangkit dari lantai. Ia bergegas membawa Ratna yang masih terus memberontak. Ia
tidak ingin, kebaikan hati majikannya dimanfaatkan oleh Ratna. Membuat
kehidupan keluarga yang baik menjadi berantakan. Jalan satu-satunya adalah
membawa Ratna pergi ke tempat yang jauh.
Sejak
kejadian itu, keluarga besar Lutfi tak pernah mengetahui kabar Ratna dan Agus,
hingga Lutfi kecil semakin hari semakin beranjak dewasa.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat menulis setiap hari, bikin
cerita yang lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment