Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 397 : Delusi

 


Surya menghampirinya mamanya dan berbisik. Ia mengungkapkan apa yang telah dilakukan Ratna hari ini.

 

“Apa? Dia itu gila ya?” tanya Lela.

 

“Aku nggak tahu, Ma. Tapi, kita nggak punya pilihan lain selain menahan dia di rumah ini. Kalau dia keluar dan mengancam membeberkan ini semua ke media. Aku bisa habis!” tutur Surya.

 

Lela menghela napas. “Kita ikuti saja apa maunya. Mama tunggu di kamar. Bawa dia ke kamar Mama!” pinta Lela. Ia tersenyum pada beberapa tamunya dan terpaksa pergi ke kamarnya.

 

Surya menghela napas. Ia menatap wajah Nada yang berdiri di sampingnya.

 

“Aku percaya sama kamu,” tuturnya seolah mengerti kegelisahan yang tergambar di wajah suaminya itu.

 

Surya tersenyum kecut. Ia mengecup Lutfi kecil dan bergegas pergi untuk menyelesaikan masalahnya dengan Ratna. Ia langsung membawa Ratna untuk bertemu dengan mamanya di dalam kamar. Menjauhi kerumunan tamu yang sedang menikmati suka cita atas kelahiran bayinya.

 

“Ratna, kamu mau bikin ulah apa lagi?” tanya Lela.

 

“Nyonya, apa kabar?” tanya Ratna sambil tersenyum.

 

Lela menghela napas. “Kamu lihat saya baik-baik aja. Kamu jawab pertanyaan saya dengan pertanyaan?”

 

Ratna tersenyum menanggapi ucapan Lela.

 

Lela mengerutkan dahi karena Ratna terus tersenyum ke arahnya. “Kamu ini kenapa?”

 

“Nggak papa, Nyonya. Saya bahagia karena anak di perut ini bisa ketemu sama ayah dan neneknya.”

 

“Hah!? Halusinasi kamu terlalu tinggi,” sahut Surya. “Aku nggak pernah menyentuh kamu sejengkal pun!”

 

Ratna mulai terisak mendengar penolakan dari Surya.

 

“Surya, sebaiknya kamu bertanggung jawab!” pinta Lela.

 

“Tanggung jawab apa?” Surya bersikeras. “Aku nggak ngapa-ngapain dia.”

 

“Hiks ... hiks ... aku emang bukan siapa-siapa. Bukan perempuan dari keluarga kaya seperti Mbak Nada. Makanya, Mas Surya nggak pernah mau mengakui keberadaan saya di depan semua orang. Bahkan, dia juga menutupi hubungan kami.”

 

“Kamu ...!?” Surya makin geram melihat tingkah Ratna.

 

Lela menatap wajah Surya sambil menggeleng perlahan. Ia adalah seorang ibu, bisa mengerti bagaimana perasaan Ratna yang sedang hamil dan tidak mendapatkan perlindungan dari siapa pun.

 

“Ratna, kami pasti akan bertanggung jawab sama anak ini kalau memang terbukti dia adalah anak Surya,” tutur Lela.

 

“Aku jamin, dia bukan anakku!” sahut Surya.

 

“Kenapa Mas Surya tetap nggak mau mengakui anak kita? Mas Surya lupa kalau malam itu ...”

 

“Aargh ...! Kamu cuma manfaatin momen!” sentaknya. “Aku nggak pernah masuk ke kamar kamu sekalipun aku dalam keadaan mabuk.”

 

Ratna hanya menanggapi ucapan Surya dengan air mata.

 

“Sudahlah. Saya izinkan kamu tinggal di rumah ini sampai anak itu lahir. Kalau hasil tes DNA membuktikan dia bukan anak Surya. Kalian harus segera meninggalkan rumah ini!” tutur Lela.

 

Ratna menganggukkan kepala. Ia sangat yakin kalau anak yang ada dalam kandungannya adalah anak kandung Surya.

 

Surya menghela napas. “Oke. Lebih baik begitu.”

 

Ratna tersenyum bahagia. Ia sangat senang bisa masuk kembali ke dalam keluarga itu.

 

Surya dan Nada terpaksa menerima kehadiran Ratna dalam rumah tangga mereka sampai bayi yang ada dalam kandungan Ratna dilahirkan.

 

 

 

...

 

 

 

Tiga bulan kemudian ...

 

“Permisi, Nyonya ...!” Agus menghanpiri Lela yang sedang bersantai bersama keluarga dan Lutfi kecil.

 

Lela langsung menoleh ke arah Agus. “Ada apa, Gus?” tanya Lela.

 

Agus menundukkan kepala sejenak. “Ada hal yang ingin saya sampaikan.”

 

“Kenapa canggung gitu, Gus? Santai aja!” tutur Surya. “Ada apa?”

 

Agus tersenyum kecil. Ia duduk di sofa sambil meremas jemari tangannya. Ia melirik ke arah Ratna yang duduk tak jauh darinya.

 

“Mas Surya, saya tidak tenang jika harus hidup dalam kebohongan seperti ini,” tutur Agus.

 

“Kebohongan apa yang kamu maksud?” tanya Surya.

 

“Mmh ... sebenarnya ... anak yang dikandung Ratna adalah anak saya,” jawab Agus lirih.

 

“Apa!?” Surya membelalakkan matanya. Kemudian bibirnya menyunggingkan senyum lebar. “Alhamdulillah ...!” serunya sambil mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya.

 

“Sayang, sekarang kamu percaya sama aku kan? Aku nggak pernah mengkhianati kamu,” tutur Surya sambil menatap Nada.

 

Nada tersenyum. “Aku selalu percaya sama kamu.”

 

Surya langsung mengecup kening Nada dan menciumi Lutfi, putera kecil kesayangannya.

 

“Ma, Mama sekarang percaya sama aku ‘kan?” Surya beralih menatap mamanya.

 

Lela mengedipkan matanya perlahan. Ia menatap Ratna yang tak merasa bersalah sedikit pun. “Nggak ada yang mau kamu jelaskan?” tanyanya.

 

“Nyonya, anak ini beneran anaknya Mas Surya. Agus bohong!” serunya.

 

“Ratna ...! Sebaiknya kamu hentikan semua ini!” pintanya. “Malam itu bukan Mas Surya, tapi saya.”

 

“Bohong ...!” seru Ratna sambil menunjuk wajah Agus. “Aku nggak mungkin ngelakuin itu sama kamu.”

 

“Kenyataannya memang begitu, anak yang ada di dalam perut kamu itu anakku,” tutur Agus.

 

“Nggak mungkin ...!” seru Ratna sambil menutup kedua telinga. Ia tetap tidak bisa menerima pernyataan Agus dan terus mempercayai kalau Surya adalah ayah dari anak yang dikandungnya.

 

“Ratna ...!” panggil Agus lirih sambil berusaha menyentuh pundak Ratna.

 

Ratna berusaha menjauh dari tangan Agus. “Bukan kamu ...! Malam itu bukan kamu!” serunya histeris.

 

Lela semakin bingung dengan apa yang terjadi. Ia justru menatap iba ke arah Ratna. Ia pikir, Ratna tak sanggup memikul beban kehidupannya sehingga tak bisa menerima kenyataan.

 

“Ratna, sebaiknya kita pergi dari sini. Kita bisa memulai kehidupan baru yang bahagia sebagai keluarga,” pinta Agus.

 

Ratna menggelengkan kepala.

 

Agus menghela napas. Ia menarik lengan Ratna dan berusaha membawanya pergi dari rumah itu.

 

“Aku nggak mau pergi dari sini!” seru Ratna sambil mengeluarkan air mata.

 

“Ratna, tempat kamu bukan di sini,” tutur Agus.

 

Ratna menggelengkan kepala. Ia terus memberontak. Tak ingin keluar dari rumah keluarga itu.

 

“Gus, jangan kasar gitu juga!” pinta Surya. Ia tidak tega melihat Ratna yang sedang hamil dan harus menerima perlakuan kasar dari orang lain.

 

Agus menghela napas. “Mas, sebenarnya ... dia memang mengalami gangguan mental. Dia menderita delusi, hal ini yang membuat dia terus-menerus mempercayai kenyataan yang berlawanan.”

 

Surya mengerutkan dahi. “Delusi?”

 

Agus menganggukkan kepala.

 

“Jadi, selama ini dia memang berkhayal?” tanya Lela sambil menggeleng-gelengkan kepala.

 

“Maaf, Nyonya! Seharusnya, saya mengatakan ini dari awal. Saat itu saya belum yakin dengan hasil pemeriksaan dokter. Saya beberapa kali mengajaknya konsultasi ke beberapa psikiater dan hasilnya sama.”

 

Lela menghela napas. “Apa yang akan kamu lakukan sekarang?”

 

“Saya akan bertanggung jawab!” jawab Agus.

 

“Baguslah.” Lela mengangguk-anggukkan kepalanya. “Gimana cara kamu bertanggung jawab?”

 

“Saya akan membawa dia jauh dari kehidupan kalian. Saya akan berhenti kerja dan membawa dia ke kampung halaman saya,” tutur Agus.

 

Lela menghela napas. Ia sangat menyayangi pelayan-pelayan di rumahnya. Agus juga sangat gigih dalam bekerja. Hanya saja, apa yang terjadi pada Ratna ... membuatnya harus membuat keputusan. Ia harus menjaga nama baik keluarga dan keselamatan rumah tangga anaknya. “Oke. Tunggu sebentar!”

 

Lela melangkah ke kamarnya dan kembali setelah beberapa menit. Ia langsung menghampiri Agus yang masih berdiri di hadapan Nada dan Surya.

 

“Gus, ini ada sedikit uang untuk kalian. Kamu gunakan untuk pulang kampung, biaya persalinan Ratna dan buatlah usaha di sana supaya kalian bisa menjalani kehidupan baru dengan baik!” tutur Ratna sambil menyerahkan amplop cokelat ke arah Agus.

 

Agus menatap amplop tersebut selama beberapa detik.

 

“Ambillah!” pinta Lela.

 

Agus langsung mengambil uang tersebut dan berlutut di hadapan Nyonya. “Terima kasih, Nyonya. Selama ini, kalian sudah sangat baik. Saya tidak akan bisa membalas kebaikan kalian.”

 

“Nggak ada hal yang perlu kamu balas. Kalian hiduplah dengan baik dan bahagia. Kalau ada apa-apa, kabari kami. Kami akan senang membantu kalian,” tutur Lela.

 

Agus meneteskan air mata. “Terima kasih, Nyonya! Saya tidak akan pernah melupakan kebaikan kalian,” tuturnya sambil menunduk ke lantai.

 

“Sudah, sudah! Jangan terus berlutut seperti ini!”

 

Agus bangkit dari lantai. Ia bergegas membawa Ratna yang masih terus memberontak. Ia tidak ingin, kebaikan hati majikannya dimanfaatkan oleh Ratna. Membuat kehidupan keluarga yang baik menjadi berantakan. Jalan satu-satunya adalah membawa Ratna pergi ke tempat yang jauh.

 

Sejak kejadian itu, keluarga besar Lutfi tak pernah mengetahui kabar Ratna dan Agus, hingga Lutfi kecil semakin hari semakin beranjak dewasa.

 

 

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat menulis setiap hari, bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas