“RATNA
...!” teriak Surya begitu ia masuk ke dalam rumah.
“Ada
apa, Mas?” tanya salah seorang pembantu yang ada di rumah tersebut.
“Ratna
mana?” tanya Surya kesal.
“Ada
apa, Surya? Kenapa masuk rumah sambil marah-marah?” tanya Lela sambil
menghampiri puteranya.
“Nada
sekarang ada di rumah sakit. Semua ini gara-gara pembantu sialan itu!” sahut
Surya kesal.
“Hah!?
Kenapa Mama nggak tahu kalau Nada masuk rumah sakit?”
“Tadi,
waktu aku pulang kerja. Nada nunggu di depan rumah. Tiba-tiba dia kesakitan.
Aku langsung bawa dia ke rumah sakit,” jelas Surya.
“Keadaannya
sekarang gimana?” tanya Lela.
“Sekarang,
dia udah baik-baik aja. Mana si Ratna?” tanya Surya lagi.
Seorang
pelayan lain datang bersama Ratna dan langsung menghampiri Surya.
Surya
menatap wajah Ratna penuh kebencian. “Kamu yang bikin jus untuk istri saya?”
tanyanya.
Ratna
menggelengkan kepala. “Mbak Nada selalu minum jus buatan Bibi Naroh,” jawab
Ratna sambil meremas jemari tangannya sendiri.
Orang
yang disebut oleh Ratna langsung menoleh. “Hari ini, Bibi belum buatin jus
untuk Mbak Nada!” sergahnya.
“Ratna,
kamu masih aja jadi pembohong. Nggak ada jera-jeranya bikin masalah di rumah
ini. Kamu tahu, Nada bahkan selalu bersikap baik sama kamu. Bisa-bisanya kamu
mau bikin istriku keguguran!” tutur Surya dengan mata berapi-api.
“Apa!?
Kamu mau bunuh cucu saya?” tanya Lela. “Kali ini, kamu bener-bener
keterlaluan!”
Ratna
menggelengkan kepala. “Saya nggak ngapa-ngapain, Nyonya. Saya memang buatkan
jus mangga untuk Mbak Nada. Tapi, setiap hari Mbak Nada memang minum jus itu.
Kenapa, saya yang disalahkan cuma karena saya yang buatkan jus untuk Mbak Nada.
Pasti, Mbak Nada sengaja mau memfitnah saya.”
Surya
mengeratkan rahangnya. Ia langsung melempar dokumen yang ada di tangannya ke
wajah Ratna. “Lihat! Baca!” sentaknya.
Ratna
mengambil dokumen yang berisi hasil uji laboratorium. Ia sama sekali tidak
mengerti arti dari tulisan medis yang ada di kertas tersebut. “Saya nggak
ngerti ini apa.”
“Itu
hasil tes laboratorium. Ada yang sengaja naruh obat di dalam jus itu supaya
istri saya keguguran. Dia baru minum sedikit, sudah pendarahan. Kamu pasti tahu
apa yang akan terjadi sama istriku kalau dia menghabiskan jus itu!”
Ratna
menatap dokumen yang ada di tangannya sambil gemetaran. Ia tak menyangka kalau
majikannya itu melakukan uji coba terhadap jus yang ia buat.
Semua
pelayan di rumah itu langsung berlutut di lantai, kecuali Ratna.
“Mas,
saya tidak membuat jus itu. Kami tidak tahu kalau jus itu dikasih obat,” tutur
Bibi Naroh.
“Saya
juga tidak melakukannya,” tutur pelayan yang lain.
“Kalian
nggak salah. Karena pelakunya sudah jelas,” tutur Surya.
“Kamu
masih mau mengelak?” tanya Lela.
Ratna
menggelengkan kepala. Ia tetap tidak mau mengakui kesalahannya.
“Gus!
Bawa dia pergi dari rumah ini!” perintah Lela pada Agus, supir di keluarga
tersebut.
“Nyonya,
jangan usir saya dari sini!” pinta Ratna sambil berlutut di hadapan Lela.
Lela
mengangkat dagunya lebih tinggi. “Kali ini, nggak ada ampun lagi buat kamu!”
tegasnya.
“Nyonya,
jangan usir saya! Saya mau tinggal di mana? Saya nggak punya keluarga.” Ratna
terus berlutut sambil memeluk kaki Lela.
“Agus
...!” panggil Lela kesal. “Bawa dia pergi dari sini sekarang juga! Jangan
pernah bikin dia masuk lagi ke rumah ini!” perintahnya.
Agus
menganggukkan kepala. Ia segera menarik Ratna perlahan dan membawanya keluar
dari rumah tersebut.
“Mas
Surya ...!” panggil Ratna sambil mengeluarkan air mata. “Jangan usir saya dari
sini!” pintanya.
Surya
menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan matanya. Ia tidak tega
memperlakukan wanita yang sudah lemah dan menjadi seorang tunawisma. Hanya
saja, perbuatan Ratna tak bisa ia maafkan lagi.
“Kalian
semua, kembali ke pekerjaan masing-masing!” perintah Lela. “Saya nggak mau
kalau ada kejadian seperti ini lagi!”
Semua
orang menganggukkan kepala dan kembali ke pekerjaannya masing-masing.
“Ma,
aku harus balik ke rumah sakit. Nemenin Nada.”
“Mama
ikut!”
Surya
menganggukkan kepala. Mereka bergegas pergi ke rumah sakit untuk menjaga Nada
sampai kondisi kesehatannya stabil.
...
Dua
bulan kemudian ...
Surya
dan Nada tenggelam dalam kebahagiaan menyambut kehadiran putera kecil dalam
kehidupan mereka. Hari ini, semua keluarga besar dan teman-teman dekatnya
berkumpul di rumah untuk merayakan hari ke tujuh buah hati mereka.
Seorang
MC memandu acara syukuran kelahiran Lutfi Ananda Putra, putera pertama dari
Surya Aditya Putra dan Nada Qonita. Ucapan selamat juga berdatangan dari
kerabat dan teman-teman dekat mereka.
Nada
tertegun saat melihat Ratna tiba-tiba ada di antara tamu undangan itu. Ia
langsung memeluk erat anak kesayangannya dan menyenggol lengan Surya yang
berdiri di sampingnya.
“Sayang,
kamu undang dia ke sini?” tanya Nada berbisik.
Surya
menggelengkan kepala.
“Kenapa
dia ada di sini? Dia bukan mau mencelakai anak kita lagi kan?”
“Kamu
tenang aja. Aku nggak akan membiarkan dia melukai kalian.”
“Ratna?
Kamu ngapain di sini?” tanya Lela sambil menghampiri Ratna.
“Nyonya,
selamat malam!” sapa Ratna sambil tersenyum manis. “Saya ke sini mau ngucapin
selamat untuk kelahiran bayi Mbak Nada dan mau ngasih hadiah untuk kalian.”
Ratna menyodorkan paper bag ke arah Surya.
Surya
menerima hadiah dari Ratna. “Makasih ...!” ucap Surya sambil tersenyum.
“Buka
dong hadiahnya!” pinta Ratna.
Surya
terdiam sejenak sambil melirik ke arah istri dan mamanya.
Ratna
terus tersenyum sambil menatap Surya.
Surya
membuka paper bag yang diberikan Ratna. Ia melihat buku KIA (Kesehatan Ibu dan
Anak) yang ada di dalam paper bag tersebut. Ia mengerutkan dahi saat
mengeluarkan buku tersebut. “Apa maksudnya ini?” tanyanya.
“Lutfi
akan segera punya adik,” jawab Ratna dengan wajah bahagia.
Surya
membelalakkan matanya. Ia membuka buku tersebut dan melihat namanya tertera
sebagai suami dari Ratna. “Ini cewek kumat lagi gilanya?” gumamnya. Ia
mengedarkan pandangannya pada semua tamu yang hadir. Buru-buru ia menutup buku
tersebut dan menarik Ratna menjauh dari kerumunan banyak orang.
“Maksud
kamu apa!?” sentak Surya kesal. “Aku nggak pernah menyentuh tubuh kamu
sejengkal pun. Gimana bisa kamu tulis namaku di buku ini?”
Ratna
tersenyum menatap Surya. “Mas Surya lupa? Malam itu ... waktu Mas Surya pulang
dalam keadaan mabuk dan masuk ke kamarku?”
Surya
memijat keningnya. Ia mencoba mengingat semua kejadian beberapa bulan silam.
Tapi, ia tetap saja tidak mengingatnya. Ia merasa tidak pernah masuk ke dalam
kamar pembantunya sekali pun. Walau pulang dalam keadaan mabuk, ia masih sadar
dan bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Ratna
tersenyum sambil berusaha memeluk Surya.
“Jangan
sentuh saya!” pinta Surya. “Saya nggak pernah menyentuh kamu sedikit pun. Anak
itu bukan anak saya!”
Ratna
mengerutkan bibir sambil menatap Surya dengan mata berkaca-kaca. “Kalau Mas
Surya nggak mau mengakui anak ini. Aku bakal kasih tahu semua orang yang ada di
sini. Supaya mereka semua tahu bagaimana keluarga kalian memperlakukan aku yang
lemah ini.”
“Astaga
...!” Surya menepuk dahinya sendiri. “Ratna ...!” ucapnya menahan kekesalan.
Surya
menarik napas dalam-dalam. “Oke. Oke. Kamu tunggu di sini dulu!” pinta Surya.
“Jangan ke mana-mana!” perintahnya sambil berlalu pergi meninggalkan Ratna.
Ratna
tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya, ia bisa masuk lagi ke dalam kehidupan
Surya. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini begitu saja. Ia pasti bisa
mendapatkan Surya, pria yang selama ini menjadi pujaan hatinya.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat menulis setiap hari, bikin
cerita yang lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment