Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 396 : Perayaan Kelahiran Lutfi Kecil

 


“RATNA ...!” teriak Surya begitu ia masuk ke dalam rumah.

 

“Ada apa, Mas?” tanya salah seorang pembantu yang ada di rumah tersebut.

 

“Ratna mana?” tanya Surya kesal.

 

“Ada apa, Surya? Kenapa masuk rumah sambil marah-marah?” tanya Lela sambil menghampiri puteranya.

 

“Nada sekarang ada di rumah sakit. Semua ini gara-gara pembantu sialan itu!” sahut Surya kesal.

 

“Hah!? Kenapa Mama nggak tahu kalau Nada masuk rumah sakit?”

 

“Tadi, waktu aku pulang kerja. Nada nunggu di depan rumah. Tiba-tiba dia kesakitan. Aku langsung bawa dia ke rumah sakit,” jelas Surya.

 

“Keadaannya sekarang gimana?” tanya Lela.

 

“Sekarang, dia udah baik-baik aja. Mana si Ratna?” tanya Surya lagi.

 

Seorang pelayan lain datang bersama Ratna dan langsung menghampiri Surya.

 

Surya menatap wajah Ratna penuh kebencian. “Kamu yang bikin jus untuk istri saya?” tanyanya.

 

Ratna menggelengkan kepala. “Mbak Nada selalu minum jus buatan Bibi Naroh,” jawab Ratna sambil meremas jemari tangannya sendiri.

 

Orang yang disebut oleh Ratna langsung menoleh. “Hari ini, Bibi belum buatin jus untuk Mbak Nada!” sergahnya.

 

“Ratna, kamu masih aja jadi pembohong. Nggak ada jera-jeranya bikin masalah di rumah ini. Kamu tahu, Nada bahkan selalu bersikap baik sama kamu. Bisa-bisanya kamu mau bikin istriku keguguran!” tutur Surya dengan mata berapi-api.

 

“Apa!? Kamu mau bunuh cucu saya?” tanya Lela. “Kali ini, kamu bener-bener keterlaluan!”

 

Ratna menggelengkan kepala. “Saya nggak ngapa-ngapain, Nyonya. Saya memang buatkan jus mangga untuk Mbak Nada. Tapi, setiap hari Mbak Nada memang minum jus itu. Kenapa, saya yang disalahkan cuma karena saya yang buatkan jus untuk Mbak Nada. Pasti, Mbak Nada sengaja mau memfitnah saya.”

 

Surya mengeratkan rahangnya. Ia langsung melempar dokumen yang ada di tangannya ke wajah Ratna. “Lihat! Baca!” sentaknya.

 

Ratna mengambil dokumen yang berisi hasil uji laboratorium. Ia sama sekali tidak mengerti arti dari tulisan medis yang ada di kertas tersebut. “Saya nggak ngerti ini apa.”

 

“Itu hasil tes laboratorium. Ada yang sengaja naruh obat di dalam jus itu supaya istri saya keguguran. Dia baru minum sedikit, sudah pendarahan. Kamu pasti tahu apa yang akan terjadi sama istriku kalau dia menghabiskan jus itu!”

 

Ratna menatap dokumen yang ada di tangannya sambil gemetaran. Ia tak menyangka kalau majikannya itu melakukan uji coba terhadap jus yang ia buat.

 

Semua pelayan di rumah itu langsung berlutut di lantai, kecuali Ratna.

 

“Mas, saya tidak membuat jus itu. Kami tidak tahu kalau jus itu dikasih obat,” tutur Bibi Naroh.

 

“Saya juga tidak melakukannya,” tutur pelayan yang lain.

 

“Kalian nggak salah. Karena pelakunya sudah jelas,” tutur Surya.

 

“Kamu masih mau mengelak?” tanya Lela.

 

Ratna menggelengkan kepala. Ia tetap tidak mau mengakui kesalahannya.

 

“Gus! Bawa dia pergi dari rumah ini!” perintah Lela pada Agus, supir di keluarga tersebut.

 

“Nyonya, jangan usir saya dari sini!” pinta Ratna sambil berlutut di hadapan Lela.

 

Lela mengangkat dagunya lebih tinggi. “Kali ini, nggak ada ampun lagi buat kamu!” tegasnya.

 

“Nyonya, jangan usir saya! Saya mau tinggal di mana? Saya nggak punya keluarga.” Ratna terus berlutut sambil memeluk kaki Lela.

 

“Agus ...!” panggil Lela kesal. “Bawa dia pergi dari sini sekarang juga! Jangan pernah bikin dia masuk lagi ke rumah ini!” perintahnya.

 

Agus menganggukkan kepala. Ia segera menarik Ratna perlahan dan membawanya keluar dari rumah tersebut.

 

“Mas Surya ...!” panggil Ratna sambil mengeluarkan air mata. “Jangan usir saya dari sini!” pintanya.

 

Surya menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan matanya. Ia tidak tega memperlakukan wanita yang sudah lemah dan menjadi seorang tunawisma. Hanya saja, perbuatan Ratna tak bisa ia maafkan lagi.

 

“Kalian semua, kembali ke pekerjaan masing-masing!” perintah Lela. “Saya nggak mau kalau ada kejadian seperti ini lagi!”

 

Semua orang menganggukkan kepala dan kembali ke pekerjaannya masing-masing.

 

“Ma, aku harus balik ke rumah sakit. Nemenin Nada.”

 

“Mama ikut!”

 

Surya menganggukkan kepala. Mereka bergegas pergi ke rumah sakit untuk menjaga Nada sampai kondisi kesehatannya stabil.

 

 

 

...

 

 

 

Dua bulan kemudian ...

 

 

 

Surya dan Nada tenggelam dalam kebahagiaan menyambut kehadiran putera kecil dalam kehidupan mereka. Hari ini, semua keluarga besar dan teman-teman dekatnya berkumpul di rumah untuk merayakan hari ke tujuh buah hati mereka.

 

Seorang MC memandu acara syukuran kelahiran Lutfi Ananda Putra, putera pertama dari Surya Aditya Putra dan Nada Qonita. Ucapan selamat juga berdatangan dari kerabat dan teman-teman dekat mereka.

 

Nada tertegun saat melihat Ratna tiba-tiba ada di antara tamu undangan itu. Ia langsung memeluk erat anak kesayangannya dan menyenggol lengan Surya yang berdiri di sampingnya.

 

“Sayang, kamu undang dia ke sini?” tanya Nada berbisik.

 

Surya menggelengkan kepala.

 

“Kenapa dia ada di sini? Dia bukan mau mencelakai anak kita lagi kan?”

 

“Kamu tenang aja. Aku nggak akan membiarkan dia melukai kalian.”

 

“Ratna? Kamu ngapain di sini?” tanya Lela sambil menghampiri Ratna.

 

“Nyonya, selamat malam!” sapa Ratna sambil tersenyum manis. “Saya ke sini mau ngucapin selamat untuk kelahiran bayi Mbak Nada dan mau ngasih hadiah untuk kalian.” Ratna menyodorkan paper bag ke arah Surya.

 

Surya menerima hadiah dari Ratna. “Makasih ...!” ucap Surya sambil tersenyum.

 

“Buka dong hadiahnya!” pinta Ratna.

 

Surya terdiam sejenak sambil melirik ke arah istri dan mamanya.

 

Ratna terus tersenyum sambil menatap Surya.

 

Surya membuka paper bag yang diberikan Ratna. Ia melihat buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) yang ada di dalam paper bag tersebut. Ia mengerutkan dahi saat mengeluarkan buku tersebut. “Apa maksudnya ini?” tanyanya.

 

“Lutfi akan segera punya adik,” jawab Ratna dengan wajah bahagia.

 

Surya membelalakkan matanya. Ia membuka buku tersebut dan melihat namanya tertera sebagai suami dari Ratna. “Ini cewek kumat lagi gilanya?” gumamnya. Ia mengedarkan pandangannya pada semua tamu yang hadir. Buru-buru ia menutup buku tersebut dan menarik Ratna menjauh dari kerumunan banyak orang.

 

“Maksud kamu apa!?” sentak Surya kesal. “Aku nggak pernah menyentuh tubuh kamu sejengkal pun. Gimana bisa kamu tulis namaku di buku ini?”

 

Ratna tersenyum menatap Surya. “Mas Surya lupa? Malam itu ... waktu Mas Surya pulang dalam keadaan mabuk dan masuk ke kamarku?”

 

Surya memijat keningnya. Ia mencoba mengingat semua kejadian beberapa bulan silam. Tapi, ia tetap saja tidak mengingatnya. Ia merasa tidak pernah masuk ke dalam kamar pembantunya sekali pun. Walau pulang dalam keadaan mabuk, ia masih sadar dan bisa mengendalikan dirinya sendiri.

 

Ratna tersenyum sambil berusaha memeluk Surya.

 

“Jangan sentuh saya!” pinta Surya. “Saya nggak pernah menyentuh kamu sedikit pun. Anak itu bukan anak saya!”

 

Ratna mengerutkan bibir sambil menatap Surya dengan mata berkaca-kaca. “Kalau Mas Surya nggak mau mengakui anak ini. Aku bakal kasih tahu semua orang yang ada di sini. Supaya mereka semua tahu bagaimana keluarga kalian memperlakukan aku yang lemah ini.”

 

“Astaga ...!” Surya menepuk dahinya sendiri. “Ratna ...!” ucapnya menahan kekesalan.

 

Surya menarik napas dalam-dalam. “Oke. Oke. Kamu tunggu di sini dulu!” pinta Surya. “Jangan ke mana-mana!” perintahnya sambil berlalu pergi meninggalkan Ratna.

 

Ratna tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya, ia bisa masuk lagi ke dalam kehidupan Surya. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini begitu saja. Ia pasti bisa mendapatkan Surya, pria yang selama ini menjadi pujaan hatinya.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat menulis setiap hari, bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas