Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 398 : Kenyataan yang Kejam

 


Icha menundukkan kepala sambil menitikan air mata.

 

Nenek Lutfi menghela napas sambil menatap wajah Icha yang muram.

 

“Apa yang terjadi setelah mereka keluar dari rumah kalian? Kenapa aku bukan anak kandung Mama Ratna?” tanya Icha.

 

Nenek Lutfi langsung menghampiri Icha dan memeluknya. “Kamu jangan sedih!” bisiknya. “Siapa pun kamu, Nenek tetap menerima kamu sebagai cucu Nenek.”

 

Icha semakin tersiksa mendengar ucapan Nenek Lutfi. Ia tak menyangka kalau Nenek begitu baik terhadapnya.

 

“Cha, jangan nangis terus!” pinta Lutfi yang berdiri di belakang Icha. “Jelek banget kalo nangis. Ntar maskaranya luntur,” lanjutnya sambil mengelus kepala Icha.

 

“Aku nggak pake maskara!” dengus Icha sambil menyingkirkan tangan Lutfi dari kepalanya.

 

Nenek Lutfi tersenyum menatap Icha. “Iya, Lutfi benar. Cantiknya hilang kalau nangis terus. Matamu sudah bengkak kayak gini. Kamu nggak perlu sedih, ada Nenek di sini.”

 

“Makasih, Nek ...! Makasih buat kalian semua yang sudah baik sama aku,” tutur Icha.

 

“Cuma makasih doang?” tanya Lutfi sambil menahan tawa.

 

Nenek Lutfi langsung memukul perut cucunya itu. “Kamu ini ...!?”

 

“Aw ...! Sakit, Nek!” serunya.

 

Icha langsung menoleh ke arah Lutfi. “Kamu nggak papa.”

 

“Nenek kejam banget!”

 

“Kenapa perut kamu?” tanya Nenek.

 

“Aku kan udah bilang kalau aku abis berantem. Perutku masih sakit, Nek.”

 

“Huh, sakit dibuat sendiri. Kalau kamu nggak berantem, nggak akan luka kayak gini. Kamu ingat atau nggak, waktu SMA sampai dirawat di ICU karena berantem? Sampai sekarang, masih nggak ada kapoknya!”

 

Lutfi hanya meringis mendengar ucapan neneknya.

 

“Oh ya, kamu bisa antar Nenek ketemu sama mama kamu?” tanya Nenek Lutfi sambil menatap Icha. “Mungkin, dia bisa ngasih jawaban, siapa kamu sebenarnya.”

 

Icha mengangguk sambil tersenyum. “Ayo, Nek! Yuna, Jheni ...!” ajak Icha.

 

Yuna dan Jheni mengangguk. Mereka bergegas beralih ke ruang rawat Ibu Ratna.

 

Icha menatap wajah mamanya yang terbaring tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit. Menurut perkiraan dokter, mamanya akan sadar beberapa menit lagi.

 

Tak sampai lima menit, mata Ibu Ratna mulai bergerak. Kelopak matanya terbuka perlahan.

 

“Icha ...! Icha ...!” Dengan tenaga yang lemah, bibir Ibu Ratna terus memanggil nama Icha.

 

Icha langsung menghampiri mamanya. “Ma, Icha di sini,” tuturnya sambil menggenggam tangan mamanya.

 

Ratna tersenyum saat mendapati anak kesayangannya sudah ada di sisinya. “Mama di mana?”

 

“Mama di rumah sakit,” jawab Icha.

 

“Kok, bisa di sini?” tanya Ratna lagi.

 

Icha langsung menoleh ke arah semua teman-temannya. Sepertinya, mamanya melupakan apa yang terjadi beberapa jam lalu.

 

“Mereka siapa?” tanya Ratna. Ia hanya mengenali Yuna dan Lutfi, sedang yang lain ia tidak mengenalnya.

 

“Mereka semua temen-temen Icha,” jawab Icha sambil tersenyum.

 

Ratna mengerjap, ia menahan nyeri di kepalanya. Pergelangan tangannya yang dibalut perban, membuatnya berusaha mengingat apa yang telah terjadi. “Cha, Mama haus ,” ucapnya lirih.

 

Icha langsung mengambil air mineral dan memberikan pada mamanya.

 

Ratna meminum air mineral tersebut sedikit demi sedikit. Ekor matanya tak lepas dari kerumunan orang yang menatapnya. Di pelupuk matanya, terbayang jelas bagaimana ia menggunakan Icha untuk melukai Lutfi juga pria-pria berseragam militer yang kerap menjaga dirinya beberapa hari belakangan ini. Hal ini membuatnya semakin gila karena tidak mengetahui siapa orang yang menjaga dirinya.

 

“Yan, dia nggak seperti orang gila,” bisik Yeriko di telinga Riyan.

 

Riyan menganggukkan kepala.

 

“Selesaikan sampai tuntas!” perintah Yeriko berbisik.

 

Riyan mengangguk tanda mengerti.

 

“Kenapa mereka semua ada di sini?” tanya Ratna.

 

“Mereka mau jenguk Mama,” jawab Icha sambil tersenyum.

 

Mata Ratna terus tertuju pada Riyan. Pria muda yang terus mengikuti dirinya dan kerap mencecar dengan banyak pertanyaan.

 

Nenek Lutfi melangkah perlahan menghampiri Ratna. “Kamu ingat sama saya?”

 

Ratna menatap wanita tua yang ada di hadapannya selama beberapa detik, kemudian menggelengkan kepalanya.

 

“Saya Lela, neneknya Lutfi. Ingat?” tanya Nenek Lutfi.

 

Ratna membelalakkan mata dan langsung membuang wajahnya. Tubuhnya gemetaran karena ia merasa kalau semua orang yang ada di ruangan itu sedang mengadili dirinya.

 

“Ma ...!” panggil Icha lirih.

 

Ratna bergeming.

 

Lutfi ikut melangkah mendekati Ratna. Ia tidak tega melihat Icha yang begitu sedih dan menderita karena perbuatan mamanya. “Bu Ratna, ada hal yang harus Anda jelaskan ke kami!”

 

Ratna tetap tak ingin menatap Lutfi dan neneknya. Ia terus menatap Icha yang duduk di sampingnya.

 

“Ma, Mama ingat aku kan?” tanya Icha.

 

Ratna menganggukkan kepala. “Mana mungkin Mama lupa sama anak sendiri,” jawab Ratna sambil mengelus pipi Icha.

 

“Apa yang sebenarnya sudah terjadi di masa lalu dan Icha anaknya siapa?” tanya Icha lirih.

 

“Hasil tes DNA sudah keluar dan membuktikan kalau Icha bukan anak Surya,” tutur Lela. “Bukannya waktu itu ... Agus sudah mengakui kalau anak yang kamu kandung adalah anak dia? Kamu masih saja bersikeras kalau itu anak Surya. Hasil tes DNA sudah membuktikan kalau Icha nggak ada hubungan darah dengan anak saya.”

 

Ratna langsung menatap sengit ke arah Lela. “Aku memang sengaja menggunakan Icha untuk membalas dendam. Aku nggak akan membiarkan anak-anak kalian hidup bahagia!”

 

Icha langsung bangkit dari kursi dan melangkah mundur. Ia tak menyangka kalau mamanya selama ini memang memperalat dirinya untuk membalaskan dendam ke keluarga Lutfi.

 

“Icha ...!” panggil Ratna sambil berusaha meraih tangan Icha. “Kamu tetap anak Mama.”

 

Icha menggelengkan kepala sambil menitikan air mata. “Aku bukan anak Mama ...”

 

Ratna menggeleng. “Kamu anak Mama.”

 

“Dia bukan anak kamu. Dia siapa?” tanya Lela.

 

Ratna menatap tajam ke arah Lela. “Nggak usah ikut campur urusanku!” serunya.

 

“Apa pun yang berhubungan dengan Icha, akan menjadi urusan kami!” tegas Lutfi sambil menggenggam tangan Icha.

 

Icha terpaku sambil menatap wajah mamanya penuh kekecewaan.

 

“Icha nggak bisa donorkan darahnya buat kamu karena nggak cocok. Dia bukan anak kandung kamu?” tanya Lutfi.

 

Ratna membelalakkan mata menatap Lutfi yang begitu lancang terhadap dirinya. “Kamu ...!?”

 

“Ratna, apa yang sudah terjadi sebenarnya?” tanya Lela. “Siapa Icha sebenarnya?”

 

Ratna menatap tajam ke arah Lela. “Hahaha.” Ia malah terbahak mendengar pertanyaan Lela.

 

Semua orang saling pandang dengan wajah penuh tanya. Sementara Ratna masih belum menghentikan tawanya.

 

Ratna menatap tajam ke arah Lela. Ia langsung bangkit dan berusaha mencakar wajah wanita tua itu.

 

Yeriko dengan cepat melindungi Nenek Lutfi dari ancaman Ibu Ratna. Ia merasa, Ibu Ratna sangatlah berbahaya.

 

Lutfi terus memeluk tubuh Icha yang gemetaran. “Nggak usah takut! Ada aku,” bisiknya lirih.

 

“Gara-gara kamu, hidupku jadi berantakkan!” teriak Ibu Ratna sambil menunjuk wajah Nenek Lutfi. “Kamu yang udah bunuh anak kandungku!” Ia berusaha menjangkau tubuh Nenek Lutfi.

 

“Chandra ...! Tolongin ...!” teriak Yeriko.

 

Chandra langsung menahan tubuh Ratna agar tidak menyerang Nenek Lutfi terus-menerus.

 

“Kamu yang udah bunuh anak kandungku! Kalian semua kejam!” teriak Ratna sambil terisak. “Kalau bukan karena kamu, anakku nggak akan mati!”

 

 Nenek Lutfi terkejut. Ia tak tahu apa yang telah terjadi pada Ratna dan bayinya semenjak keluar dari rumahnya.

 

“Anak yang aku kandung sudah mati di dalam kandungan. Semua ini karena kalian yang memperlakukan aku dengan kejam!” seru Ratna dengan mata berapi-api.

 

Semua orang terdiam. Tak ada satu pun yang bersuara termasuk Nenek Lutfi.

 

“Icha memang bukan anak kandungku. Aku ambil dia dari rumah sakit. Aku yang membesarkan dia supaya bisa membalaskan dendam ke keluarga kalian. Siapa sangka, ternyata dia malah pacaran sama cucu kamu. Aku bisa membalas dendamku dengan lebih mudah,” tutur Ratna sambil tertawa terbahak-bahak.

 

Icha semakin terisak. Ia tak menyangka kalau Ibu Ratna telah memisahkan dirinya dari keluarganya. Kini, ia melihat mamanya seperti orang gila. Tertawa dan menangis, silih berganti menyelimuti wajahnya.

 

“Ma, Mama sadar, Ma!” pinta Icha.

 

“Icha ...! Walau kamu bukan anak kandung Mama. Mama sayang sama kamu. Mama sayang sama kamu. Kamu percaya sama Mama ‘kan?”

 

“Aku nggak akan izinin kamu menyentuh Icha lagi!” sentak Lutfi. “Aku berbaik hati sama kamu karena menghargai kamu sebagai mamanya Icha. Sekarang, kamu nggak ada hubungan apa pun dengan Icha. Kami nggak akan ngelepasin kamu!” tegas Lutfi.

 

 ((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat menulis setiap hari, bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas