Icha
menundukkan kepala sambil menitikan air mata.
Nenek
Lutfi menghela napas sambil menatap wajah Icha yang muram.
“Apa
yang terjadi setelah mereka keluar dari rumah kalian? Kenapa aku bukan anak
kandung Mama Ratna?” tanya Icha.
Nenek
Lutfi langsung menghampiri Icha dan memeluknya. “Kamu jangan sedih!” bisiknya.
“Siapa pun kamu, Nenek tetap menerima kamu sebagai cucu Nenek.”
Icha
semakin tersiksa mendengar ucapan Nenek Lutfi. Ia tak menyangka kalau Nenek
begitu baik terhadapnya.
“Cha,
jangan nangis terus!” pinta Lutfi yang berdiri di belakang Icha. “Jelek banget
kalo nangis. Ntar maskaranya luntur,” lanjutnya sambil mengelus kepala Icha.
“Aku
nggak pake maskara!” dengus Icha sambil menyingkirkan tangan Lutfi dari
kepalanya.
Nenek
Lutfi tersenyum menatap Icha. “Iya, Lutfi benar. Cantiknya hilang kalau nangis
terus. Matamu sudah bengkak kayak gini. Kamu nggak perlu sedih, ada Nenek di
sini.”
“Makasih,
Nek ...! Makasih buat kalian semua yang sudah baik sama aku,” tutur Icha.
“Cuma
makasih doang?” tanya Lutfi sambil menahan tawa.
Nenek
Lutfi langsung memukul perut cucunya itu. “Kamu ini ...!?”
“Aw
...! Sakit, Nek!” serunya.
Icha
langsung menoleh ke arah Lutfi. “Kamu nggak papa.”
“Nenek
kejam banget!”
“Kenapa
perut kamu?” tanya Nenek.
“Aku
kan udah bilang kalau aku abis berantem. Perutku masih sakit, Nek.”
“Huh,
sakit dibuat sendiri. Kalau kamu nggak berantem, nggak akan luka kayak gini.
Kamu ingat atau nggak, waktu SMA sampai dirawat di ICU karena berantem? Sampai
sekarang, masih nggak ada kapoknya!”
Lutfi
hanya meringis mendengar ucapan neneknya.
“Oh
ya, kamu bisa antar Nenek ketemu sama mama kamu?” tanya Nenek Lutfi sambil
menatap Icha. “Mungkin, dia bisa ngasih jawaban, siapa kamu sebenarnya.”
Icha
mengangguk sambil tersenyum. “Ayo, Nek! Yuna, Jheni ...!” ajak Icha.
Yuna
dan Jheni mengangguk. Mereka bergegas beralih ke ruang rawat Ibu Ratna.
Icha
menatap wajah mamanya yang terbaring tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit.
Menurut perkiraan dokter, mamanya akan sadar beberapa menit lagi.
Tak
sampai lima menit, mata Ibu Ratna mulai bergerak. Kelopak matanya terbuka
perlahan.
“Icha
...! Icha ...!” Dengan tenaga yang lemah, bibir Ibu Ratna terus memanggil nama
Icha.
Icha
langsung menghampiri mamanya. “Ma, Icha di sini,” tuturnya sambil menggenggam
tangan mamanya.
Ratna
tersenyum saat mendapati anak kesayangannya sudah ada di sisinya. “Mama di
mana?”
“Mama
di rumah sakit,” jawab Icha.
“Kok,
bisa di sini?” tanya Ratna lagi.
Icha
langsung menoleh ke arah semua teman-temannya. Sepertinya, mamanya melupakan
apa yang terjadi beberapa jam lalu.
“Mereka
siapa?” tanya Ratna. Ia hanya mengenali Yuna dan Lutfi, sedang yang lain ia
tidak mengenalnya.
“Mereka
semua temen-temen Icha,” jawab Icha sambil tersenyum.
Ratna
mengerjap, ia menahan nyeri di kepalanya. Pergelangan tangannya yang dibalut
perban, membuatnya berusaha mengingat apa yang telah terjadi. “Cha, Mama haus
,” ucapnya lirih.
Icha
langsung mengambil air mineral dan memberikan pada mamanya.
Ratna
meminum air mineral tersebut sedikit demi sedikit. Ekor matanya tak lepas dari
kerumunan orang yang menatapnya. Di pelupuk matanya, terbayang jelas bagaimana
ia menggunakan Icha untuk melukai Lutfi juga pria-pria berseragam militer yang
kerap menjaga dirinya beberapa hari belakangan ini. Hal ini membuatnya semakin
gila karena tidak mengetahui siapa orang yang menjaga dirinya.
“Yan,
dia nggak seperti orang gila,” bisik Yeriko di telinga Riyan.
Riyan
menganggukkan kepala.
“Selesaikan
sampai tuntas!” perintah Yeriko berbisik.
Riyan
mengangguk tanda mengerti.
“Kenapa
mereka semua ada di sini?” tanya Ratna.
“Mereka
mau jenguk Mama,” jawab Icha sambil tersenyum.
Mata
Ratna terus tertuju pada Riyan. Pria muda yang terus mengikuti dirinya dan
kerap mencecar dengan banyak pertanyaan.
Nenek
Lutfi melangkah perlahan menghampiri Ratna. “Kamu ingat sama saya?”
Ratna
menatap wanita tua yang ada di hadapannya selama beberapa detik, kemudian
menggelengkan kepalanya.
“Saya
Lela, neneknya Lutfi. Ingat?” tanya Nenek Lutfi.
Ratna
membelalakkan mata dan langsung membuang wajahnya. Tubuhnya gemetaran karena ia
merasa kalau semua orang yang ada di ruangan itu sedang mengadili dirinya.
“Ma
...!” panggil Icha lirih.
Ratna
bergeming.
Lutfi
ikut melangkah mendekati Ratna. Ia tidak tega melihat Icha yang begitu sedih
dan menderita karena perbuatan mamanya. “Bu Ratna, ada hal yang harus Anda
jelaskan ke kami!”
Ratna
tetap tak ingin menatap Lutfi dan neneknya. Ia terus menatap Icha yang duduk di
sampingnya.
“Ma,
Mama ingat aku kan?” tanya Icha.
Ratna
menganggukkan kepala. “Mana mungkin Mama lupa sama anak sendiri,” jawab Ratna
sambil mengelus pipi Icha.
“Apa
yang sebenarnya sudah terjadi di masa lalu dan Icha anaknya siapa?” tanya Icha
lirih.
“Hasil
tes DNA sudah keluar dan membuktikan kalau Icha bukan anak Surya,” tutur Lela.
“Bukannya waktu itu ... Agus sudah mengakui kalau anak yang kamu kandung adalah
anak dia? Kamu masih saja bersikeras kalau itu anak Surya. Hasil tes DNA sudah
membuktikan kalau Icha nggak ada hubungan darah dengan anak saya.”
Ratna
langsung menatap sengit ke arah Lela. “Aku memang sengaja menggunakan Icha
untuk membalas dendam. Aku nggak akan membiarkan anak-anak kalian hidup
bahagia!”
Icha
langsung bangkit dari kursi dan melangkah mundur. Ia tak menyangka kalau
mamanya selama ini memang memperalat dirinya untuk membalaskan dendam ke
keluarga Lutfi.
“Icha
...!” panggil Ratna sambil berusaha meraih tangan Icha. “Kamu tetap anak Mama.”
Icha
menggelengkan kepala sambil menitikan air mata. “Aku bukan anak Mama ...”
Ratna
menggeleng. “Kamu anak Mama.”
“Dia
bukan anak kamu. Dia siapa?” tanya Lela.
Ratna
menatap tajam ke arah Lela. “Nggak usah ikut campur urusanku!” serunya.
“Apa
pun yang berhubungan dengan Icha, akan menjadi urusan kami!” tegas Lutfi sambil
menggenggam tangan Icha.
Icha
terpaku sambil menatap wajah mamanya penuh kekecewaan.
“Icha
nggak bisa donorkan darahnya buat kamu karena nggak cocok. Dia bukan anak
kandung kamu?” tanya Lutfi.
Ratna
membelalakkan mata menatap Lutfi yang begitu lancang terhadap dirinya. “Kamu
...!?”
“Ratna,
apa yang sudah terjadi sebenarnya?” tanya Lela. “Siapa Icha sebenarnya?”
Ratna
menatap tajam ke arah Lela. “Hahaha.” Ia malah terbahak mendengar pertanyaan
Lela.
Semua
orang saling pandang dengan wajah penuh tanya. Sementara Ratna masih belum
menghentikan tawanya.
Ratna
menatap tajam ke arah Lela. Ia langsung bangkit dan berusaha mencakar wajah
wanita tua itu.
Yeriko
dengan cepat melindungi Nenek Lutfi dari ancaman Ibu Ratna. Ia merasa, Ibu
Ratna sangatlah berbahaya.
Lutfi
terus memeluk tubuh Icha yang gemetaran. “Nggak usah takut! Ada aku,” bisiknya
lirih.
“Gara-gara
kamu, hidupku jadi berantakkan!” teriak Ibu Ratna sambil menunjuk wajah Nenek
Lutfi. “Kamu yang udah bunuh anak kandungku!” Ia berusaha menjangkau tubuh
Nenek Lutfi.
“Chandra
...! Tolongin ...!” teriak Yeriko.
Chandra
langsung menahan tubuh Ratna agar tidak menyerang Nenek Lutfi terus-menerus.
“Kamu
yang udah bunuh anak kandungku! Kalian semua kejam!” teriak Ratna sambil
terisak. “Kalau bukan karena kamu, anakku nggak akan mati!”
Nenek
Lutfi terkejut. Ia tak tahu apa yang telah terjadi pada Ratna dan bayinya
semenjak keluar dari rumahnya.
“Anak
yang aku kandung sudah mati di dalam kandungan. Semua ini karena kalian yang
memperlakukan aku dengan kejam!” seru Ratna dengan mata berapi-api.
Semua
orang terdiam. Tak ada satu pun yang bersuara termasuk Nenek Lutfi.
“Icha
memang bukan anak kandungku. Aku ambil dia dari rumah sakit. Aku yang
membesarkan dia supaya bisa membalaskan dendam ke keluarga kalian. Siapa
sangka, ternyata dia malah pacaran sama cucu kamu. Aku bisa membalas dendamku
dengan lebih mudah,” tutur Ratna sambil tertawa terbahak-bahak.
Icha
semakin terisak. Ia tak menyangka kalau Ibu Ratna telah memisahkan dirinya dari
keluarganya. Kini, ia melihat mamanya seperti orang gila. Tertawa dan menangis,
silih berganti menyelimuti wajahnya.
“Ma,
Mama sadar, Ma!” pinta Icha.
“Icha
...! Walau kamu bukan anak kandung Mama. Mama sayang sama kamu. Mama sayang
sama kamu. Kamu percaya sama Mama ‘kan?”
“Aku
nggak akan izinin kamu menyentuh Icha lagi!” sentak Lutfi. “Aku berbaik hati
sama kamu karena menghargai kamu sebagai mamanya Icha. Sekarang, kamu nggak ada
hubungan apa pun dengan Icha. Kami nggak akan ngelepasin kamu!” tegas Lutfi.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat menulis setiap hari, bikin
cerita yang lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment