Saturday, October 18, 2025

THEN LOVE BAB 45 : TAS MAHAL UNTUK RATU

 


“Del, mau ke mana?” tanya Belvina melihat Delana yang sudah bangkit lebih dulu saat jam istirahat.

“Mmh ...” Delana memutar bola matanya. “Ke toilet. Mau ikut?”

“Ogah! Kirain mau ke kantin.”

Delana meringis. Ia langsung bergegas keluar sambil melambaikan tangan ke arah Belvina.

Delana melenggang dengan ceria menyusuri koridor. Hari ini, ia merasa lebih baik. Mungkin, dengan menerima kenyataan kalau Chilton selamanya akan menjadi teman baik bisa membuat hatinya lebih tenang dan bahagia.

Delana menaiki anak tangga menuju ke kelas Chilton. Tapi, kelas itu sudah kosong dan tak ada siapa pun di sana. Chilton jarang sekali keluar kelas. Kalau ia sudah datang ke kelasnya terlebih dahulu, seharusnya masih ada dia di dalam kelas.

Delana menghela napas kecewa karena tak bisa menemukan Chilton. Mungkin saja cowok itu sedang berjalan-jalan bersama pacarnya yang cantik. Ia kemudian keluar dari kelas. Matanya tertuju pada sudut bangunan, di sana ada balkon yang menghadap ke taman kampus. Ia tersenyum dan melangkahkan kaki perlahan-lahan menuju balkon.

Delana tersenyum sambil menyandarkan tubuhnya di pagar balkon. Ia menopang dagunya sambil menatap taman yang ada di depannya. Baru kali ini ia berdiri di sini. Ia bisa melihat semua orang yang beraktivitas di taman. Bunga-bunga yang bermekaran dengan indah dan penuh warna. Di sana, Delana biasa duduk di kursi taman menunggu Chilton untuk sarapan pagi.

Delana merentangkan tangan sambil memejamkan mata. Ia mengingat masa-masa indah saat menghabiskan waktunya bersama Chilton.

“Aku rindu waktu itu. Andai aja kamu nggak nolak aku, pasti sampai sekarang kita masih duduk di sana. Sarapan bareng, bercanda bareng. Setiap hari aku selalu semangat bangun pagi cuma pengen bisa nyiapin sarapan buat kamu setiap hari. Tapi ... sekarang aku udah nggak bisa kayak dulu lagi. Kamu udah jadi pacarnya Ratu. Pasti selalu disiapin sarapan spesial setiap pagi. Beruntung banget jadi Ratu. Udah cantik, populer dan punya pacar ganteng, ” tutur Delana sambil tersenyum.

Delana mengedarkan pandangannya. Matanya melotot saat menangkap sosok bertubuh tinggi yang berdiri di ujung balkon sambil menatapnya.

“Udah di sini dari tadi?” tanya Delana.

Chilton tersenyum. “Menurutmu?”

“Hmm ...” Delana menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Ngapain ke sini? Bukannya kelas kamu di bawah?” tanya Chilton.

“Eh ... oh ... eh, aku ke sini nyari kamu.”

Chilton menaikkan alisnya. “Oh, ya?” Ia melangkah mendekati Delana.

“Stop!” seru Delana sambil mengangkat telapak tangannya ke depan dada. Ia mundur dua langkah dan berkata, “jangan dekat-dekat!”

Chilton menahan melihat sikap Delana. “Apa kamu sudah pacar? Jadi, jaga jarak sama aku?”

“Eh!? Yang bener, kamu yang sudah punya pacar,” sahut Delana sambil tersenyum.

Chilton tersenyum kecil. “Ada apa cari aku?”

“Aku mau kasih sedikit saran buat hubunganmu,” jawab Delana.

“Saran?”

“Kemarin, terjadi kegaduhan di asrama karena Ratu ketahuan beli tas palsu.”

“Palsu?” Chilton mengernyitkan dahinya.

“Dia bilang tas itu hadiah dari kamu.”

“Hah!?”

Delana tersenyum. “Emang bener itu tas dari kamu?”

“Aku baru berencana ngasih.”

Delana menahan tawa.

“Kenapa ketawa?”

“Eh!? Aku nggak ketawa,” sahut Delana.

Chilton menggigit bibir bawahnya. “Saranmu?”

“Kamu bisa ngasih dia hadiah tas bermerk di hari jadian kalian yang ke seratus,” jawab Delana sambil tersenyum. Ia merogoh ponsel di sakunya. “Aku udah kirim website toko online untuk tas-tas bermerk. Kamu bisa pilih sendiri buat kasih hadiah ke Ratu,” tutur Ratu sambil tersenyum. Ia kembali meletakkan ponsel di sakunya.

Chilton menyalakan ponsel dan membuka pesan dari Delana. “Makasih!”

Delana tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

Mereka terdiam beberapa saat.

“Kamu apa kabar?” tanya Chilton.

“Baik.”

Delana merasa kalau pertemuannya dengan Chilton kali ini masih terasa canggung. Ia tidak tahu harus membicarakan apa lagi.

“Mmh ... aku balik ke kelas dulu, ya!” pamit Delana.

Chilton menganggukkan kepala.

Delana tersenyum dan bergegas melangkahkan kaki meninggalkan Chilton.

“Del ...!” panggil Chilton.

Delana membalikkan tubuhnya menatap Chilton. “Ya.”

“Makasih, ya!”

Delana tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya. Ia membalikkan tubuhnya dan bergegas meninggalkan Chilton.

 

***

“Kamu dari mana?” tanya Belvina.

“Eh!?” Delana menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Dari ruang dosen.”

“Ngapain? Ada masalah sama mata kuliah kamu?” tanya Belvina.

“Eh!? Nggak ada.”

“Terus? Ngapain ke sana?” tanya Belvina.

“Kepo!” dengus Delana.

“Oh, jadi sekarang mulai main rahasia-rahasiaan ya?” tanya Belvina.

“Apa kamu pikir ada rahasia antara pertemuan dosen dan murid?” tanya Delana balik.

“Yah, karena aku tahu kalau ruangan dosen bukan di lantai dua,” jawab Belvina sambil tersenyum.

Delana membelalakkan matanya. “Kamu tahu darimana aku di lantai dua?” tanya Delana berbisik.

Belvina tersenyum sambil memainkan jemari tangannya di pipi.

Delana menghela napas. “Aku ketemu sama Chilton,” tuturnya perlahan sambil melihat keadaan sekitar untuk memastikan tidak ada murid lain yang akan mendengar pertanyaan mereka.

“Nah, kan?”

“Aku cuma mau ngasih tahu dia supaya beliin tas mahal buat pacarnya itu. Dia itu kan payah banget!” tutur Delana.

Belvina tertawa kecil. “Terus? Dia terima saran dari kamu?”

Delana menganggukkan kepalanya.

“Mmh ... aku rasa dia masih mau dengerin kata-katamu,” tutur Belvina.

Delana menggangguk. “Aku ngerasa berteman lebih baik. Aku senang bisa lihat dia bahagia.”

“Bagus, deh. Berarti udah nggak ada nangis-nangis lagi ya!”

Delana tersenyum. “Tenang aja! Masih ada banyak cowok ganteng di dunia ini.”

Belvina tertawa lebar. “Awas ya kalo masih jomblo aja!”

“Apa bedanya sama kamu?” dengus Delana.

“Aku jomblo karena pengen dapetin cowok yang tepat. Cowok yang bener-bener sayang sama aku,” sahut Belvina.

Delana tersenyum. “Eh, si Ivo masuk kuliah atau nggak hari ini?”

“Masuk. Tadi di kantin bareng aku,” jawab Belvina.

Delana langsung bangkit dari tempat duduknya.

“Mau ke mana?” tanya Belvina.

“Ada perlu sama dia sebentar.”

“Aku ikut!”

Delana menghentikan langkahnya. “Mmh ... nggak jadi.”

“Kenapa?”

“Lima menit lagi dosen masuk.”

Belvina melihat jam yang ada di ponselnya. “Iya ya?”

“Nanti aja kalo udah pulang kuliah!”

Belvina tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

 

***

 

Chilton mondar mandir di dalam kamar asramanya. Ia masih tidak mengerti bagaimana caranya belanja online terlebih situs yang diberikan Delana adalah situs internasional. Ia juga tidak mengerti cara memilih tas yang baik.

Chilton menyalakan layar ponselnya dan langsung menelepon Zoya.

“Zoy, kamu di mana?” tanya Chilton.

“Aku lagi di Jakarta. Kenapa, Chil?” tanya Zoya.

“Oh. Nggak papa. Aku kira kamu di sini.”

“Ada apa? Cerita aja?”

“Nggak ada apa-apa. Cuma mau main ke rumahmu aja.”

“Oh. Dua minggu lagi aku baru balik ke Balikpapan,” tutur Zoya.

“Iya. Good luck!” ucap Chilton dan langsung mematikan sambungan teleponnya.

Chilton mengetuk-ngetuk dahinya. “Siapa yang bisa bantu aku ya?” gumamnya.

“Attala nggak mungkin. Seleranya dia nggak terlalu tinggi.” Chilton mulai berbicara sendiri di dalam kamarnya.

Chilton terus berpikir. Ia tidak punya banyak teman dekat. Ia memeriksa kontak yang ada di ponselnya. Matanya kemudian tertuju pada nama “Hesa Inc” yang ia simpan di kontaknya. Ia langsung menekan nama kontak tersebut dan meneleponnya.

Beberapa kali menelepon, tak juga diangkat oleh Hesa. Chilton akhirnya menyerah dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.

Beberapa menit kemudian, ponselnya berdering. Chilton langsung menjawab panggilan begitu tahu kalau yang menelepon adalah Hesa.

“Halo ...!” sapa Chilton.

“Sorry, masih makan sama cewekku! Ada apa?” tanya Hesa.

“Aku butuh bantuanmu,” jawab Chilton.

“Apa itu?”

“Kamu di mana sekarang?”

“Masih di jalan.”

“Berapa menit lagi sampe rumah?” tanya Chilton.

“Tiga puluh menit.”

“Oke. Tiga puluh menit lagi aku sudah ada di depan rumahmu.”

“Oke.”

Chilton langsung mematikan sambungan teleponnya.

Beberapa menit kemudian, ia bergegas keluar dari kamar dan melajukan sepeda motornya menuju rumah Hesa.

Chilton menghentikan sepeda motornya tepat di depan rumah Hesa saat mobil Hesa memasuki halaman rumahnya.

Chilton turun dari motor dan langsung masuk ke pintu gerbang rumah Hesa.

“Hei, gimana kabarnya?” sapa Chilton saat Hesa turun dari mobil.

“Baik. Kamu gimana?” tanya Hesa sambil merangkul pundak Chilton.

“Baik juga. Gimana Auckland?” tanya Chilton balik.

“Menyenangkan!”

“Banyak cewek-cewek cantik?”

“Cantik dan seksi,” sahut Hesa sambil tersenyum bahagia.

Chilton balas tersenyum.

“Ayo masuk!” ajak Hesa sambil merangkul Chilton.

“Perlu bantuan apa?” tanya Hesa saat mereka sudah ada di dalam rumah.

“Aku mau tanya, hadiah yang cocok buat cewek kayak gimana, ya?”

Hesa mengernyitkan dahinya. “Udah punya pacar?”

Chilton hanya tersenyum mendengar pertanyaan Hesa.

“Kamu mau ngasih hadiah apa?”

“Aku udah nanya sama temen cewek, dia nyaranin kasih tas yang bermerek. Aku udah dikasih webnya sama dia. Tapi, aku nggak paham gimana cara belanjanya,” jelas Chilton.

“Klik aja link yang dia kirim!” perintah Hesa.

“Udah, Hes. Tapi aku masih nggak paham.”

“Nggak paham di bagian mananya?” tanya Hesa.

“Nggak paham milih sama bayarnya,” jawab Chilton sambil meringis.

“Aha, kalo soal milih barang buat cewek, serahin ke aku!” pinta Hesa. “Cewekmu orangnya kayak gimana?”

“Bentar!” pinta Chilton sambil menyalakan ponselnya. Ia mencari nama Ratu di media sosial dan menunjukkan fotonya pada Hesa.

“Cantik,” puji Hesa sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Gimana cara pesannya?” tanya Chilton.

“Sini!” Hesa menyambar ponsel Chilton dan langsung membuka situs web online untuk melihat koleksi-koleksi tas yang ada. “Pilih dulu tas mana yang kamu mau?” tanya Hesa sambil menyodorkan kembali ponsel Chilton.

“Aargh ...! Nggak paham aku mana yang disukai cewek atau enggak,” sahut Chilton.

Hesa tertawa kecil.

“Kenapa ketawa?”

“Itu tas bermerek. Tas yang paling murah sekalipun harganya tiga jutaan.”

“Astaga! Mahal banget!?”

“Itu yang paling murah. Kalo mereka jual tas harganya segitu, langsung habis dalam hitungan jam.”

“Serius?”

Hesa menganggukkan kepala.

Chilton menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Yang harga segitu pasti udah nggak ada. Yang paling mahal berapa?” tanya Chilton.

“Ratusan juta.”

“Serius?”

“Iya.”

“Kenapa cewek suka banget barang-barang mahal?” gumam Chilton.

“Cewekmu lumayan berkelas. Lagipula, ngasih satu tas nggak bakal ngabisin duit tabunganmu, Chil.”

“Ck, emang nggak bakal ngabisin duitku. Tapi kalo ratusan juta juga mikir,” sahut Chilton sambil menggosok-gosok dahinya.

“Hei ...! Kamu udah punya pacar. Kenapa pelit banget sama pacar sendiri?” tanya Hesa sambil menepuk-nepuk bahu Chilton.

Chilton mendesah kesal. “Ternyata pacaran ribet banget!” gumamnya.

Hesa tertawa lebar. “Kamu nggak beneran cinta sama pacar sendiri?”

“Eh!? Cintalah.”

“Kenapa masih mikir?”

“Ah!?”

“Cewek itu suka dimanja. Suka dikasih hadiah barang-barang mewah. Kalo kamu kasih barang mewah, dia bakal nempel terus sama kamu kayak besi sama magnet.”

Chilton terdiam. Ia masih memerhatikan foto-foto tas yang terpajang di website online. Baginya, semua tas yang ada di sana bagus dan dia tidak bisa memilihkan satu pun untuk kekasihnya.

Hesa tertawa kecil. Ia bangkit dan mengambil air minum di dapur untuk Chilton.

“Belum dapet?” tanya Hesa begitu kembali duduk di samping Chilton.

Chilton menggelengkan kepalanya. Ia menyodorkan ponselnya ke arah Hesa. “Carikan! Yang harganya standar aja.”

Hesa tersenyum dan meraih ponsel Chilton. Ia kemudian mencarikan model tas yang cocok untuk pacar Chilton yang cantik.

Chilton menyandarkan kepalanya di punggung sofa. Ia menatap langit-langit rumah yang tinggi dan memikirkan banyak hal yang harus ia lakukan ketika ia berpacaran dengan Ratu.

“Yang ini gimana?” tanya Hesa sambil menunjukkan layar ponsel Chilton.

Chilton menatap tas tersebut dan teringat kalau Delana pernah memakai tas dengan bentuk dan motif yang sama.

“Yang lain. Aku pernah lihat temenku pake tas model kayak gini,” tutur Chilton.

Hesa tertawa kecil. “Temen cewek?”

Chilton menganggukkan kepalaanya.

“Berkelas juga tuh temen cewekmu. Lain kali, kenalin sama aku ya!” pinta Hesa sambil memainkan alisnya.

“Eh!?”

“Tas ini, harganya sembilan puluh juta. Kalo kamu punya temen pake tas yang kayak gini. Berarti dia anak orang kaya.”

“Hah!? Sembilan puluh juta?” tanya Chilton sambil membelalakkan matanya. “Tapi, bisa aja dia pake tas yang kw. Tas model kayak gitu juga di pasar banyak. Harganya enam puluh ribuan,” celetuk Chilton.

Hesa menahan tawa mendengar ucapan Chilton.

“Kenapa ketawa?” dengus Chilton.

“Kamu punya pacar berkelas tapi seleramu payah!”

Chilton menahan kekesalan mendengar ucapan Hesa. “Nggak usah ngolok aku! Cepet carikan tasnya!”

“Mau yang harga berapa?”

“Kalo ada yang gratis.”

“Di mana ada tas bermerk gratis? Sinting!”

“Ada.” Chilton menatap Hesa. Ia tersenyum genit sambil menggoyang-goyangkan alisnya.

Hesa menatap curiga ke arah Chilton. “Ah, pasti ada maunya kalo kayak gini.”

“Nanti aku kenalin sama banyak cewek cantik. Gimana?” tawar Chilton.

“Hah, nggak! Kalo soal cewek cantik, aku lebih jago dari kamu,” tutur Hesa penuh percaya diri.

Chilton menghela napasnya. “Ya udah, carikan yang nggak lebih dari tiga puluh.”

Hesa kembali mencari di website online. “Siapa yang rekomendasiin website ini, Chil?” tanya Hesa.

“Temen.”

“Temen cewek?”

“Iya.”

“Kamu punya pacar tapi deket sama cewek lain? Parah!” tutur Hesa sambil geleng-geleng kepala.

“Nggak usah sok suci! Pacarmu aja banyak. Sok-sokan nasehatin aku.”

Hesa tergelak mendengar ucapan Chilton.

“Kenalin sama temen cewekmu yang tajir ini, ya!” pinta Hesa.

“Nggak!”

“Hah!? Kenapa?”

“Orangnya jelek.”

“Serius?”

“Iya. Kalo dia cantik, pasti udah kujadiin pacar. Dia itu jelek, hitam, gendut dan mukanya banyak jerawatnya,” tutur Chilton berbohong.

Wajah Hesa menegang begitu mendengar ucapan Chilton. Ia kemudian tersadar kalau cewek yang menyukai tas bermerek pasti punya penampilan yang sangat sempurna dan pandai merawat dirinya dengan perawatan mahal.

Hesa menatap tajam ke arah Chilton.

“Kenapa lihatin aku kayak gitu?”

Hesa mendengus tubuh Chilton dengan hidungnya. “Aku mencium aroma kebohongan.”

Chilton mengangkat kedua alisnya. “Kamu nggak percaya sama aku?”

Hesa tertawa lebar. “Chilton ... Chilton ...! Kamu kira aku bego? Kalo soal cewek mah aku sudah wisuda berkali-kali.”

“Iya. Gelarnya M.Pd,” sahut Chilton.

“Apa itu?”

“Master Playboy dunia.”

“Pinter juga kamu, ya?” tutur Hesa.

“Eh!?”

Hesa tersenyum kecil. “Kenapa nggak mau kenalin temenmu itu ke aku? Kamu naksir sama dia juga?”

“Nggak.”

“Bohong!”

“Nggak.”

“Kenapa nggak mau dikenalin ke aku?”

“Dia nggak terlalu ramah sama cowok.”

“Tapi, sama kamu deket?”

“Iya.”

“Berarti bisa juga deket sama aku. Aku pasti bisa bikin dia klepek-klepek.”

“Nggak usah!” 

“Kenapa?”

“Dia nggak cocok sama kamu.”

“Karena dia gendut?” tanya Hesa sambil tertawa kecil.

Chilton menganggukkan kepalanya.

Hesa menahan tawa. “Chil ...!” Ia menatap Chilton. “Kamu tahu, cewek yang suka barang-barang mewah kayak gini. Fisiknya nggak akan seperti yang kamu deskripsikan ke aku. Dia pasti punya uang banyak buat perawatan. Kalau pun aku mengenalnya sebagai cewek yang hitam dan gendut, aku pasti bisa mengubahnya jadi bidadari.”

Chilton menelan ludahnya. Ia mengambil gelas di atas meja dan meminumnya perlahan.

Hesa tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Yang ini gimana?” tanya Hesa sambil menyodorkan ponsel Chilton.

“Berapa harganya?”

“Dua puluh satu.”

“Bungkus!”

“Punya akun Paypal?”

“Eh!? Apa itu?”

“Hadeh ...” Hesa menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kirim linknya ke aku!” pinta Hesa.

Chilton meringis dan langsung mengirimkan link pada Hesa.

“Kamu transfer uangnya ke rekeningku!” pinta Hesa.

“Iya. Berapa hari datangnya?” tanya Chilton.

“Mau yang cepet atau lama?”

“Cepet.”

“Seminggu.”

Chilton melihat kalender yang ada di ponselnya. “Pas!”

“Apanya?”

“Seminggu kan?”

“Iya.”

“Jangan sampe lebih dari seminggu, ya!” pinta Chilton.

“Pas hari ulang tahun cewekmu kah?”

Chilton tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Lebih tepatnya hari ke seratus kita jadian.”

“Oh. Selamat, ya!” tutur Hesa.

Chilton tersenyum.

“Eh, sudah lama kita nggak ketemu. Gimana kalau malam ini kita ke bar?” ajak Hesa.

“Boleh.” Chilton menganggukkan kepalanya.

“Kamu bawa motor, kah?” tanya Hesa.

“Iya.”

“Masukin motormu! Pake mobilku aja.”

“Sekarang?”

“Tahun depan!”

Chilton tertawa kecil. Ia bangkit dan langsung mengikuti perintah Hesa. Ia memasukkan sepeda motornya dan bergegas menuju bar bersama Hesa.

 

***

Seminggu kemudian, tas yang dipesankan oleh Mahesa akhrinya sampai di rumah Chilton.

Chilton tersenyum menerima paketan tersebut dan langsung mengajak Ratu untuk bertemu Kaizeki Japanese Restaurant.

“Tumben banget kamu ngajak aku makan malam di tempat kayak gini,” tutur Ratu ketika ia dan Chilton sudah duduk di dalam kursi restoran.

Chilton tersenyum. “Sesekali nggak papa kan?”

Ratu tersenyum. Ia merasa sangat bahagia karena kekasihnya itu seringkali memperlakukannya begitu istimewa dan romantis walau sikapnya sedingin salju.

“Mau makan apa?” tanya Chilton.

Ratu melihat daftar menu yang ada. “Salmon soup aja.”

“Minumnya?”

“Chocolate Rush.”

Chilton tersenyum dan langsung memesan makanan untuknya dan Ratu. Ia mengambil paper bag yang ia sembunyikan di bawah meja dan memberikannya pada Ratu.

Mata Ratu berbinar menatap paper bag yang ada di atas meja. “Ini buat aku?” tanyanya.

Chilton menganggukkan kepala.

“Mmh ... aku nggak ulang tahun. Kenapa ngasih hadiah?”

“Dela nyuruh aku buat ngasih hadiah ini ke kamu di hari jadian kita yang ke seratus.”

“Hah!? Serius? Dia baik banget!” seru Ratu.

Chilton mengernyitkan dahi mendengar ucapan Ratu.

“Hehehe.” Ratu meringis menatap Chilton. “Kamu ingat sama hari jadian kita?”

Chilton menganggukkan kepalanya.

Ratu bangkit dari tempat duduknya dan langsung memeluk Chilton dari belakang.

“Udah, jangan berlebihan kayak gini!” pinta Chilton sambil mengelus lengan Ratu.

“Makasih!” ucap Ratu sambil mengecup pipi Chilton. Ia langsung kembali ke tempat duduk dan membuka paper bag dengan merk ternama itu.

“Wow ...! Ini tas asli. Harganya 'kan mahal banget!” tutur Ratu sambil menatap Chilton.

Chilton hanya tersenyum menanggapi ucapan Ratu.

“Kamu nggak sayang habisin uangmu buat kasih aku hadiah mahal kayak gini?” tanya Ratu.

Chilton menggelengkan kepala.

Ratu tersenyum sambil menatap Chilton. Ia beruntung karena akhirnya menemukan pria seperti Chilton yang bisa memanjakan dan memuaskannya dengan barang-barang mewah.

Beberapa menit kemudian, makanan yang mereka pesan sudah terhidang di atas meja makan. Mereka menikmati makan malam dengan penuh bahagia.

“Kamu ke sini naik taksi?” tanya Chilton saat mereka sudah selesai makan malam.

Ratu menganggukkan kepala.

“Aku pesenin taksi kalo gitu.” Chilton merogoh ponselnya dan langsung memesan taksi untuk Ratu.

“Kamu nggak mau balik ke asrama?” tanya Ratu.

“Aku masih ada urusan lain.”

“Oh. Oke.” Ratu menganggukkan kepala. Mereka segera keluar dari restoran.

Chilton menemani Ratu sampai taksi yang ia pesan datang.

“Udah dateng,” tutur Chilton sambil menunjuk taksi yang muncul di depan mereka.

Ratu tersenyum. “Makasih banyak ya!”

Chilton menganggukkan kepalanya.

Ratu mengecup pipi Chilton dan langsung masuk ke dalam taksi. Ia tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah kekasihnya.

“Aargh ...! Nggak nyangka kalo aku bakal dibeliin tas mahal!” seru Ratu saat ia masih berada di dalam taksi.

“Mmh ... kayaknya dia lumayan berduit,” tuturnya sambil memeluk tas pemberian Chilton.

“Aku bakal tunjukin ke kalian kalo aku bisa beli tas mahal dan kalian nggak akan berani ngehina aku lagi!” bisik Ratu dengan wajah sengit mengingat teman-teman asrama yang meledeknya beberapa waktu lalu karena ia membeli tas palsu.

Sesampainya di asrama, Ratu langsung memamerkan tas pemberian dari Chilton dan membuat seisi asrama merasa iri.

“Ini beneran hadiah dari Chilton?” tanya salah satu teman asrama Ratu.

“Iya, dong!”

“Ini asli?”

“Asli. Dia pesen langsung dari luar negeri.”

“Wah ... so sweet banget sih punya pacar kayak Chilton!”

Ratu tersenyum bangga. Ia merasa jadi perempuan paling beruntung di dunia karena bisa mendapatkan banyak kesenangan saat berpacaran dengan Chilton. Cowok itu terbiasa memberikan semua yang ia inginkan.

Belvina menyambar tas yang ada di tangan Ratu.

“Eh, hati-hati! Itu tas mahal!” seru Ratu.

Belvina tersenyum kecil. “Aku rasa ini satu-satunya tas mahal yang kamu punya. Dan kamu bisa dapetin ini karena morotin Chilton.”

“Sembarangan kalo ngomong!” teriak Ratu, ia menatap kesal ke arah Belvina.

Belvina tertawa kecil. “Kamu pikir aku nggak tahu isi otakmu?” Belvina melempar tas pemberian Chilton ke dada Ratu.

“Astaga! Kamu nggak hati-hati banget sih!” seru Ratu. Ia mengelus-ngelus tas pemberian Chilton.

“Asal kamu tahu. Delana punya ratusan tas kayak gini dan dia nggak pernah pamer sama sekali. Sombong!” dengus Belvina ke arah Ratu dan langsung meninggalkannya.

Ratu menatap kesal ke arah Belvina. Ia menghentakkan kaki dan bergegas masuk kamar.

 

 ((Bersambung...))



 

 

 

THEN LOVE BAB 44 : GADIS BAIK YANG SELALU DICINTAI

 


“Nggak mungkin tas ini palsu. Chilton beliin tas ini buat aku,” tutur Ratu.

“Kamu beli sendiri atau dibelikan dia?” tanya Belvina.

“Bareng-bareng. Aku yang pilih, dia yang bayarin.”

“Kayaknya kamu bukan cewek yang pandai dalam memilih tas bermerek,” ucap Belvina sambil mengamati tas milik Ratu.

Ratu melotot ke arah Belvina. Ia sangat kesal mendengar kalimat yang keluar dari mulut Belvina.

Melihat pertengkaran dua temannya semakin sengit, Delana langsung menarik Ratu menjauh dari kerumunan teman-temannya.

“Apaan sih, Del?” Ratu menepiskan tangan Delana begitu mereka menjauh dari kerumunan teman-temannya.

“Aku tahu, tas itu bukan pemberian Chilton, kan?” tanya Delana berbisik.

Ratu gelagapan mendengar pertanyaan Delana.

“Chilton nggak mungkin ngasih barang murahan kayak gitu,” lanjut Delana.

“Mmh ...” Ratu terlihat berpikir mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan Delana.

“Gini aja. Biar aku yang pake tas ini. Bilang ke semua orang kalo sebenarnya ini tas yang aku pesen lewat kamu. Gimana?” tanya Delana.

Ratu menimbang-nimbang usulan dari Delana.

“Jangan lama-lama mikirnya!” seru Delana setengah berbisik sembari menatap ke kerumunan siswi yang sedang memadang mereka berdua.

“Tapi, Del ...”

“Kenapa?” tanya Delana sambil menatap serius ke arah Ratu.

Ratu menghela napas dan tersenyum ke arah Delana. “Oke. Aku terima saran dari kamu.”

“Oke. Kita ngomong ke mereka!” pinta Delana. Ia meraih pergelangan tangan Ratu dan mengajaknya menghampiri teman-teman asramanya.

“Ehem ...!” Delana berdehem ketika sudah sampai di hadapan teman-temannya.

Semua teman-teman asramanya langsung menatap Delana dan Ratu yang ada di depan mereka.

“Sebenarnya tas yang kalian ributin itu bukan punya Ratu. Tas itu punyaku, aku yang pesen lewat dia,” jelas Delana sambil tersenyum menatap teman-temannya.

“Del ...!?” Belvina mendelik ke arah Delana. Ia sama sekali tidak percaya kalau Delana yang membeli tas itu. Ia tahu selera Delana tak mungkin serendah itu.

Delana tersenyum ke arah Belvina. “Tas ini emang murah dan bukan barang asli. Tapi, aku suka modelnya tetap cantik. Lagipula, untuk beberapa orang masih menganggap kalau tas ini harganya mahal.”

“Oh, jadi itu tasnya Dela?” tanya salah satu teman asramanya.

Delana dan Ratu menganggukkan kepala bersamaan.

“Bukan dikasih sama Chilton, dong?” tanya yang lainnya.

“Iya. Katanya, dikasih sama pacarnya. Ternyata bohong juga!” celetuk lainnya.

“Katanya pacarnya itu cowok tajir alias kaya raya. Kenapa beliinnya barang murahan?” tanya siswi lain sambil tertawa lebar. “Jangan-jangan, kayanya cuma dikhayalan aja.”

“Hmm ... nggak kayak gitu. Tas ini punyaku, bukan dikasih sama Chilton. Chilton emang pernah bilang kalo dia bakal kasih hadiah tas buat Ratu. Aku rasa dia nggak akan belikan tas murahan buat pacar yang cantik banget kayak gini,” tutur Delana sambil menoleh ke arah Ratu. “Iya, kan, Ratu?” tanyanya pada Ratu sambil mengerdipkan mata.

Ratu menganggukkan kepala.

“Mau itu tas dikasih Chilton atau punya Dela, kamu tetep aja udah jadi pembohong dari awal,” celetuk teman lainnya.

“Iya, bener!” sahut yang lainnya.

Delana menghela napas sambil mengerjapkan matanya. Ia tak menyangka kalau teman-teman asramanya masih saja mencari-cari kesalahan Ratu. Yah, harus diakui kalau Ratu memang sudah berbohong sejak awal dan dia harus membangun kebohongan-kebohongan lain setelahnya.

“Udah, nggak usah ribut cuma karena masalah sepele kayak gini!” seru Delana. “Mendingan kalian bubar dan tidur!”

“Huu ...!” Teman-teman Delana meneriaki Ratu dan mulai pergi satu persatu ke dalam kamar mereka masing-masing.

Delana menghela napas lega. Ia akhirnya bisa melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar asrama dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.

“Tumben banget malam-malam ke sini?” tanya Belvina. “Mau tidur sini?”

Delana menganggukkan kepala. Ia meliukkan tubuhnya dan langsung memeluk guling yang sudah ada di tempat tidur.

Ratu terduduk lemas di atas ranjangnya. Ia masih shock karena dipermalukan di depan orang banyak.

Delana menggulingkan tubuhnya mendatap Ratu. “Chilton payah banget!” celetuknya. “Dia beliin kamu tas kayak gini?” tanyanya sambil mengangkat tas yang sejak tadi diributkan.

Ratu menghela napas. Ia ingin sekali marah melihat sikap Delana. Tapi, ia memilih diam karena bagaimanapun Delana sudah membantunya keluar dari masalah tadi.

“Besok, kalo aku ketemu dia. Bakal aku kasih tahu supaya dia bisa kasih tas yang mahal. Nggak kayak begini,” tutur Delana.

Mata Ratu berbinar mendengar ucapan Delana. “Serius?” tanyanya.

Delana tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Aku dan dia berteman baik. Aku yakin kalo dia bakal dengerin saran dari aku.”

“Aargh ... thank you, Del! Kamu baik banget,” seru Ratu sambil memeluk Delana.

Delana tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu Ratu. Selama ini ia berteman baik dengan Chilton dan tak ada salahnya kalau ia juga bersikap baik dengan pacarnya.

***

“Del, kenapa sih kamu masih baik aja sama Ratu? Bukannya dia udah ngerebut Chilton dari kamu?” tanya Belvina.

“Ratu nggak ngerebut Chilton sama sekali. Mereka dekat setelah hubunganku dan dia memburuk,” jawab Delana sambil tersenyum.

“Kamu yakin sudah baik-baik aja?” tanya Ivona.

Delana mengangguk pasti. Ia sudah sepenuhnya merelakan Chilton untuk Ratu. Baginya, cewek pilihan Chilton adalah yang terbaik dan sudah seharusnya ia ikut senang melihat teman baiknya punya pacar yang cantik.

Belvina berdiri di depan lemari kaca yang ada di kamar Delana. Semua sepatu dan tas koleksi Delana berjajar rapi.

“Del, yang ini kamu beli di mana?” tanya Belvina sambil menunjuk tas Delana yang berwarna biru indigo.

“Cek aja di marketplace. Itu Louis Vuitton yang Cluny MM. Aku pesen dari situs resminya langsung,” jawab Delana sambil tersenyum menatap tasnya yang terpajang di lemari kaca.

“Dua puluh empat jeti,” bisik Ivona pada Belvina.

“Hah!?” Belvina terlonjak mendengar harga yang disebutkan oleh Ivona.

Ivona menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

“Semahal itu?” tanya Belvina sambil menatap beberapa tas yang lainnya. Ia sepertinya tidak bisa menghitung berapa jumlah tas-tas mahal yang ada di kamar Delana. Koleksinya tidak terlalu banyak, tapi harganya cukup untuk membeli satu buah sepeda motor.

“Kamu nggak mau ngitung koleksiku?” tanya Ivona sambil tersenyum penuh arti.

Belvina menghela napas dan menjatuhkan tubuhnya ke ranjang Delana. “Kayaknya, cuma aku aja yang nggak punya koleksi tas mahal yang aku beli pake uangku sendiri. Kalo bukan dapet hadiah dari kalian, kayaknya aku nggak bisa punya tas mahal,” tuturnya lemas.

Delana tertawa kecil melihat wajah Belvina yang berpura-pura murung. “Kamu mau?” tanya Delana.

“Mau ngasih?” tanya Belvina dengan mata berbinar.

“Beli sendiri!” seru Delana sambil menjulurkan lidahnya.

Belvina mengerutkan keningnya. Ia meraih guling dan memukulkannya di tubuh Delana. “Awas aja! Ntar aku colongin tasmu!” ancamnya.

“Kalo sampe tas aku ada yang hilang, berarti kamu pelakunya,” dengus Delana.

“Hahaha.” Ivona tertawa melihat dua sahabatnya itu.

“Eh, kamu ada simpanan bir?” tanya Belvina pada Delana.

“Mau minum bir?” tanya Delana balik.

“Iya. Rasanya kita udah lama nggak bersenang-senang sambil menikmati bir,” jawab Ivona.

“Aku ke bawah ambil bir dan kamu pesan makan, ya!” pinta Delana.

“Ah!? Makanan apa?” tanya Ivona.

“Mmh ... terserah kalian!” seru Delana, ia bangkit dari tempat tidur dan bergegas turun ke dapur.

“Dela nggak masak?” tanya Ivona pada Belvina.

Belvina mengedikkan bahunya. “Ini sudah malam. Kemungkinan masakannya udah habis atau cuma cukup untuk Bryan.”

Ivona mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia langsung menyalakan ponsel dan membuka aplikasi untuk memesan makanan.

“Bel, gimana kalo kita masak mie instan aja?” tanya Ivona.

Belvina tertawa. “Sejak kapan Ivo makan mie instan?”

“Sesekali nggak papa, kan?” Ivona mencebikkan bibirnya. “Aku udah lama nggak makan mie instan. Kayaknya enak deh malam-malam makan mie instan berkuah gitu.”

“Apalagi pedes banget!” sahut Belvina.

Ivona mengerucutkan bibirnya. “Aku nggak suka pedas!”

“Hahaha.”

Sementara itu, Delana mengambil beberapa botol bir dari rak dapurnya.

“Mau minum lagi?” tanya Bryan yang berdiri di pintu dapur.

“Eh!?” Delana langsung menoleh ke arah Bryan. “Kamu sudah makan?” tanya Delana.

“Sudah.”

“Baguslah,” tutur Delana sambil bergegas kembali ke kamarnya.

“Kak ...!” panggil Bryan saat Delana baru saja menaiki tangga.

“Apa?” tanya Delana sambil menoleh ke arah Bryan.

“Akhir-akhir ini Kakak sering minum bir. Jaga kesehatan!” seru Bryan.

Delana tersenyum menatap Bryan. “Makasih.”

Bryan tersenyum dan kembali ke dapur untuk mengambil air minum dan langsung kembali ke kamarnya.

“Del, kamu nggak masak?” tanya Belvina.

“Udah habis. Kalian udah pesen makanan?” tanya Delana.

“Belum.”

“Kenapa belum, sih!?” Delana langsung meletakkan botol bir di atas meja dan mencari ponselnya. “Biar aku aja yang pesan kalo gitu.”

“Nggak usah! Kita masak mie instan aja gimana?” tutur Ivona.

Delana mengangkat kedua alisnya sambil menatap Ivona. Ia tahu Ivona paling berhati-hati soal nutrisi di tubuhnya dan tidak mau makan mie instan karena menurutnya tidak baik untuk kesehatan.

“Yakin?” tanya Delana menatap Ivona.

Ivona menganggukkan sambil tersenyum.

Delana menghela napasnya. “Ayo, Bel!” Ia menarik tangan Belvina untuk menemaninya ke dapur.

“Aku tunggu sini ya!” seru Ivona.

“Iya,” jawab Delana dan Belvina bersamaan.

“Huft ... rumahku ini nggak terlalu besar kan, Bel? Rasanya aku pengen pindahin dapurku ke kamar,” celetuk Delana.

Belvina tertawa kecil. “Aku rasa kamarmu masih cukup luas buat naruh satu meja kompor.”

“Iih ..!” Delana menyikut lengan Belvina. “Kamar aku jadi jorok, dong!”

Belvina tertawa kecil. “Kan kamu juga yang bilang kalo mau pindahin dapur ke kamar.”

“Aku nggak serius!”

“Serius juga nggak papa.”

“Huh, dasar!”

Delana dan Belvina langsung bergegas memasak mie instan untuk mereka sendiri.

“Ingat! Punya Ivona jangan pakai bumbu instan dan air rebusan pertama harus dibuang dulu.”

“Buat begitu aja semuanya. Punya kita dikasih cabai, punya dia enggak.”

“Kasih cabai aja sekalian punya dia,” celetuk Belvina.

“Janganlah, kasihan!” sahut Delana.

“Aku bercanda, Dela sayang!” tutur Belvina sambil menyubit kedua pipi Delana.

“Sakit, Bel. Kalau pipi aku hilang, ntar nggak imut lagi,” tutur Delana sambil mengusap kedua pipinya.

“Sejak kapan kamu imut?” sahut Belvina.

Delana menarik napas dan mengerutkan hidungnya. “Apa aku emang nggak cantik makanya si Aravin dan Chilton nolak aku?” tanyanya dengan suara bergetar.

  Belvina menghela napasnya. Ia mengusap pundak Delana. “Tadi aku cuma bercanda. Kamu cantik, kok. Mereka pasti bakal nyesel karena udah nyia-nyiain kamu.”

“Aku harap begitu,” sahut Delana.

“Udah, jangan diambil hati gitu. Kamu lama-lama jadi nggak asyik karena nggak bisa diajak bercanda. Kayaknya, semenjak Chilton nolak kamu. Kamunya jadi sering nganggep candaan kita itu hal yang serius.”

Delana menatap tajam ke arah Belvina. “Kamu juga sama!” dengusnya.

Belvina tertawa kecil. “Kayaknya kamu deh yang gampang tersinggung. Udah kayak nenek-nenek aja!”

Delana menghela napas. Ia menghentikan tangannya yang sedang mengiris cabai. “Bel, kamu tahu nggak kalo pisau ini tajam?”

Belvina tertawa menanggapi pertanyaan Delana. “Sekarang doyan makan orang?”

Delana mengerucutkan bibirnya dan bergegas menyelesaikan masakannya.

“Buruan, ntar si Ivo mengomel kalo kelamaan!” seru Belvina.

“Sabar, Bel. Kusiram air panas kalo masih cerewet!”

“Aargh ... takut!” seru Belvina sambil berlari keluar dari dapur.

“Belvi ...!” teriak Delana. “Bercandanya nggak lucu!”

Belvina tergelak dari balik pintu.

“Bantuin bawa!” pinta Delana setelah selesai menuangkan mie yang telah masak ke dalam mangkuk.

“Nggak ah, takut disiram air panas,” sahut Belvina sambil terkekeh.

Delana menarik napas dalam-dalam. Ia melipat kedua tangannya di dada dan menatap tajam ke arah Belvina.

“Iya, iya.” Belvina langsung berjalan perlahan menghampiri Delana dan membantunya membawa mangkuk mie instan ke dalam kamar.

“Lama banget!” keluh Ivona saat Delana masuk ke dalam kamar.

“Dikira kita pesulap, tinggal bilang ‘cling’ langsung jadi,” sahut Belvina.

Ivona tertawa kecil.

“Del, aku lihat ada tas baru. Limited edition! Katanya, cuma tinggal lima produk di dunia. Kita pesen yuk!” ajak Ivona.

“Berapa harganya?” tanya Delana

“Nggak mahal, Del. Cuma tiga puluh aja, kok.”

“Tiga puluh apa?” tanya Belvina.

“Tiga puluh ribu, Bel,” jawab Delana.

Belvina menatap curiga pada dua sahabatnya itu.

Ivona dan Delana tersenyum dan saling pandang.

“Kalian mencurigakan!” degus Belvina.

Delana tersenyum. “Mari makan!”

Belvina dan Ivona tersenyum dan langsung melahap mie instan buatan Delana.

Mereka bertiga menikmati malam bersama bir dan canda tawa. Diam-diam, Ivona dan Delana berencana membelikan tas yang sama.

***

“Bel ...!” panggil Delana berbisik saat mereka menikmati makan siang di kantin sekolah.

“Kenapa?” Belvina menatap wajah Delana.

I have something for you!” Delana menunjukkan paper bag yang ia sembunyikan di belakang kursinya.

Belvina mengernyitkan dahinya. “Aku nggak ulang tahun,” tuturnya.

“Nggak harus nunggu ulang tahun buat kasih hadiah, kan?” tanya Belvina sambil menyodorkan paper bag ke hadapan Belvina.

Belvina tersenyum dan menerima paper bag tersebut. “Hadiah apaan sih? Tumben banget kamu ngasih aku hadiah.”

“Buka, dong!”

Belvina tersenyum sambil membuka paper bag dan mengeluarkan isinya.

“Del. Ini beneran buat aku?” tanya Belvina.

Delana tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

“Ini kan mahal, Del.” Belvina membuka kotak dan menyentuh dompet bermerek pemberian Delana.

“Nggak semahal persahabatan kita,” sahut Delana.

Mata Belvina berbinar mendengar ucapan Delana.

“Makasih, ya, selama ini kamu selalu ada buat aku. Barang-barang mahalku nggak akan pernah bisa gantiin waktu yang udah kamu kasih ke aku,” tutur Delana.

Belvina mengernyitkan dahinya. “Cara bicaramu kayak sama pacar?”

“Eh!?”

“Kamu masih suka laki-laki 'kan?” tanya Belvina.

“Hah!? Kamu pikir aku sekarang suka sama perempuan?” dengus Delana sambil memukul pundak Belvina.

Belvina tertawa kecil. “Ya kali. Karena ditolak sama cowok terus jadi sukanya sama cewek. Banyak loh yang kayak gitu.”

Delana mengerutkan hidungnya dan bersiap menelan Belvina hidup-hidup.

Belvina terdiam, pelan-pelan ia memasukkan dompet ke dalam paper bag kembali. Ia mendorong kursinya ke belakang perlahan sambil menatap ke arah Delana yang sedang menahan amarah. Ia langsung bangkit dan berlari keluar dari kantin.

“Belvi ...!” teriak Delana. Ia langsung mengejar Belvina. Rasanya belum puas kalau dia belum mendapatkan kepala Belvina untuk ia ketuk pakai sepatunya.

“Vo ... tolong aku!” seru Belvina dan langsung menghampiri Ivona yang sedang berdiri di depan kelasnya.

“Kalian kenapa?” tanya Ivona begitu melihat Belvina bersembunyi di belakang punggungnya.

Delana mengerutkan hidungnya. “Aku laper!”

Ivona tergelak melihat wajah Delana. “Oh ... Ayo, ke kantin!”

“Kita udah makan,” bisik Belvina di telinga Ivona.

“Aku cuma pengen makan dia!” teriak Delana sambil menyerbu tubuh Ivona. Belvina terus-menerus memegang pinggang Ivona sambil berlari menghindari serangan dari Delana.

Ivona kebingungan melihat tingkah kedua sahabatnya itu. Ia masih tak mengerti apa yang membuat mereka bertengkar seperti ini. Ivona tahu, Delana hanya bercanda ingin memakan Belvina. Pasti Belvina telah melakukan sesuatu yang membuat Delana geram.

“Stop!” teriak Ivona.

Belvina dan Delana terdiam mendengar teriakan Ivona.

“Kalian ini kenapa sih?” tanya Ivona lagi.

Delana tersenyum. Ia melepas satu sepatunya dan langsung mengetuk kepala Belvina yang sedang melongo di samping Ivona.

“Aduh! Sakit, Del,” tutur Belvina sambil mengusap kepalanya.

“Biar aja! Biar kamu tahu kalo aku juga bisa marah,” ucap Delana sambil mendelik ke arah Belvina.

“Udah, deh. Nggak usah berantem kayak anak kecil kayak gini!” seru Ivona menengahi.

“Dia yang mulai!” ucap Delana sambil menunjuk Belvina menggunakan sepatunya.

“Belvi!?” seru Ivona.

“Hehehe.” Belvina meringis menatap kedua sahabatnya itu.

Delana melempar sepatunya ke lantai dan memakainya kembali.

“Bel, kamu tahu kan kalo orang yang habis patah hati itu sensitif? Kamu jangan cari gara-gara sama dia!” tutur Ivona.

Belvina menatap Ivona sambil menahan tawa.

“Ivo ...!” teriak Delana. “Kalian sekongkol ngeledekin aku!?”

Ivona dan Belvina tertawa bersamaan.

“Del, kamu cantik banget kalo lagi marah,” tutur Ivona sambil tertawa kecil.

“Vo, kayaknya dia udah mau jadi nenek lebih cepat. Sekarang mudah tersinggung,” ucap Belvina sambil memandang Delana yang ada di sampingnya.

Delana merapatkan bibirnya menahan kesal. Kemudian tersenyum lebar dengan terpaksa. “Kalian benar-benar sahabat yang manis,” ucapnya sambil memaksa bibirnya tersenyum.

Belvina dan Ivona tersenyum. Mereka tidak akan pernah lupa pada banyak hari yang mereka lalui bersama. Seorang teman baik sudah seharusnya seperti itu. Bukan tentang bagaimana menyayangi teman dan membahagiakannya setiap hari. Tapi, tentang bagaimana mereka berdebat dan berkelahi tapi tetap saling peduli dan menyayangi.

***

Delana melangkahkan kakinya menyusuri gang rumahnya. Malam ini sangat dingin karena sore tadi gerimis. Ia juga tidak ada jadwal mengajar malam sehingga bisa berjalan-jalan sebentar.

Setiap ada kesempatan, ia akan berjalan ke taman kota yang ada di dekat kampusnya. Ia senang mendengarkan live music dari pengamen jalanan di sana. Ia tahu kalau di sana banyak kenangannya bersama Chilton. Tapi, ia tak ingin berlarut-larut menyimpan kesedihannya. Ia harus merelakan semuanya agar tetap bisa tersenyum setiap hari.

Delana langsung duduk di lantai tepat di depan pengamen yang sedang menyanyikan sebuah lagu. Karena sering di sini, pengamen tersebut sudah tak asing lagi dengan wajah Delana. Ia pernah diajak bernyanyi satu kali dan musisi jalanan itu seringkali menyebutkan namanya untuk menemaninya bernyanyi.

Kali ini, Delana tak tertarik untuk bernyanyi. Ia hanya ingin mendengarkan lagu sehingga musisi itu tak bisa memaksanya untuk bernyanyi.

Setelah selesai menyanyikan satu buah lagu. Musisi itu mengakhiri pertunjukannya kali ini. Delana menatap penonton yang mulai pergi satu persatu. Ia melirik jam di ponselnya. “Masih jam sembilan, seharusnya masih satu jam lagi,” batin Delana. Ia tak beranjak dari tempat duduknya, malah menopang wajah dengan tangannya sambil menatap lantai yang kosong.

“Mau kopi?” Seseorang menyodorkan kopi di depan wajahnya. Ia teringat pada beberapa bulan lalu saat pertama kali mengenal Chilton dan cowok itu memberikannya segelas kopi hangat.

Delana mendongakkan kepala dan menatap cowok yang tersenyum kepadanya. Delana membalas senyum cowok itu dan langsung meraih kopi pemberiannya.

“Kenapa nggak mau nyanyi lagi?”

“Aku ke sini mau dengerin kamu nyanyi, bukan mau nyanyi. Lagipula, aku nggak dapet bayaran dari kamu,” jawab Delana.

Cowok itu tertawa kecil. “Kalo kamu mau nemenin aku nyanyi, aku kasih separuh uang hasil ngamen buat kamu. Gimana?”

Delana tertawa kecil menatap cowok itu. Ia menggelengkan kepala sambil tersenyum.

“Kamu manis banget kalo lagi senyum kayak gini.”

“Aku nggak akan terpengaruh sama rayuan musisi kayak kamu,” sahut Delana.

Cowok itu tertawa kecil. “Namaku Doni. Setiap malam di sini. Kamu boleh panggil aku kalo kamu berubah pikiran.”

Delana menganggukkan kepala. “Aku pulang dulu!” pamitnya.

Doni menganggukkan kepalanya.

Delana langsung bangkit dari duduknya. Ia melangkahkan kaki perlahan sambil menikmati suasana riuhnya malam hari.

Mata Delana terpaku saat melihat dua sosok yang ada di seberangnya. Chilton terlihat sangat bahagia bersama kekasihnya.

Bibir Delana tersenyum menatap pasangan kekasih yang terlihat sangat sempurna. Dulu, ia menginginkan dirinya yang ada di samping cowok itu selamanya. Tapi kini ia sadar kalau cowok itu juga lebih bahagia tanpa dirinya.

“Hai, Del ..! Kamu di sini juga?” sapa Ratu.

Delana mengerjapkan matanya. Ia terkejut karena tiba-tiba Ratu sudah ada di depannya. Rasanya, jarak mereka cukup jauh dan ia tidak memikirkan Chilton dalam waktu lama. Kenapa mereka menghampiri Delana secepat kilat?

“Eh!? Aku emang biasa di sini.”

“Sendirian?” tanya Ratu.

Delana tersenyum sambil menganggukkan kepala.

“Cepet cari pacar! Supaya kamu nggak jalan sendirian malam-malam begini,” tutur Ratu.

Delana tersenyum. “Aku udah terbiasa sendiri.” Kalimat yang singkat untuk menunjukkan pada orang lain bahwa dia baik-baik saja, padahal hatinya sedang hancur lebur dan ingin ada seseorang yang menemaninya melakukan apa pun.

Ratu mengangkat kedua alisnya. Tangannya masih terus menggenggam lengan Chilton yang berdiri di sampingnya. “Bukannya kamu deket sama banyak cowok ganteng? Kenapa masih sendirian?” tanya Ratu.

Delana mengangkat satu alisnya. Ia tidak mengerti maksud pertanyaan Ratu kali ini.

Ratu tersenyum sambil menatap Delana. “Kamu beneran polos atau pura-pura polos?” tanya Ratu.

Delana menghela napas. Ia masih tidak mengerti maksud pertanyaan Ratu. Ia hanya bisa tersenyum kecut menanggapinya.

“Ayo pulang!” Chilton langsung menarik lengan Ratu dan mengajaknya pergi menjauhi Delana.

Delana mengedikkan bahunya dan bergegas pulang ke rumah.


((Bersambung...))

THEN LOVE BAB 43 : DELANA VS RATU

 


Keesokan harinya, Chilton terbangun dan ia sadar kalau ia masih tidur di kamar Zoya.

“Zoy, aku pengen ngasih hadiah buat Ratu. Bagusnya apa ya?” tanya Chilton.

“Hmm ... kasih aja yang dia suka.”

Chilton berpikir sejenak, ia berusaha mengingat apa yang disukai oleh Ratu. Selama ini, Ratu terlihat menyukai semua yang ia berikan.

“Tas misalnya,” tutur Zoya membantu mengingatkan Chilton tentang barang-barang yang disukai perempuan.

“Aha ... bener banget! Dia suka tas deh kayaknya.”

“Ya udah, kasih itu aja!”

“Aku nggak ngerti pilih tas yang bagus buat cewek kayak gimana,” tutur Chilton.

“Bawa aja dia ke toko tas. Suruh pilih sendiri. Semua cewek suka-suka aja kalo dibayarin.”

“Iya, juga ya? Ngapain aku mikir ribet, ya?” tanya Chilton pada dirinya sendiri.

Zoya tertawa kecil. “Aneh!”

Chilton menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku mandi dulu. Ada bajumu bisa kupake?” tanya Chilton.

“Cari aja di lemari!”

Chilton langsung bangkit dari tempat tidur. “Kamu nggak ada kerjaan? Tumben jam segini masih di rumah?” tanya Chilton sambil melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi dan terlihat masih santai di atas ranjangnya.

“Nanti jam sepuluh baru ada jadwal syuting.”

“Oh. Sampe sore?” tanya Chilton.

“Iya kayaknya, kenapa?”

“Sore ini aku mau jalan ke Kemala Beach sama Ratu. Kali aja mau ikut.”

“Ogah! Emangnya aku mau jadi obat nyamuk!?”

“Nyamuknya siapa?” tanya Chilton sambil tertawa kecil.

“Kamu lah. Suka ngisepin ...”

Chilton tergelak. “Udah, ah. Aku mandi dulu!” seru Chilton sambil melompat masuk ke kamar mandi.

Zoya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya itu.

Beberapa menit kemudian, Chilton sudah keluar dari kamar mandi dan mencari pakaian di lemari Zoya.

“Chil, kamu beneran udah nggak suka sama Dela, kan?” tanya Zoya tanpa mengalihkan pandangannya dari smartphone miliknya.

“Iya. Kenapa?” tanya Chilton balik.

“Kayaknya ntar malam aku nggak ada kegiatan. Kalo aku ngajak Dela jalan, nggak ada masalah kan?” tanya Zoya sambil menatap layar ponselnya.

Chilton langsung menatap tajam ke arah Zoya yang tersenyum kecil sambil memainkan ponselnya.

“Kenapa? Ada masalah?” Zoya mendongakkan kepalanya.

“Eh!” Enggak,” jawab Chilton sambil menyembunyikan wajahnya.

Zoya tersenyum melihat sahabatnya itu. Ia tahu, Chilton masih punya perasaan spesial untuk Delana.

Chilton menggigit bibir bawahnya. Ia sudah sering melihat Delana bersama cowok lain. Hal ini benar-benar mengganggu pikirannya.

Zoya bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar dari kamarnya. “Aku mau lihat, sampe mana kamu bertahan ngebohongin dirimu sendiri,” gumamnya saat melintas di Belakang Chilton.

Chilton mengepal tangannya, ia merapatkan bibirnya menahan emosi untuk membalas ucapan Zoya. Sampai saat ini, ia memang belum bisa mengatur hatinya. Tapi, ia yakin lama-lama akan terbiasa.

***

“Hai, Del! Tumben sore-sore gini ke sini?” sapa Ratu yang baru saja keluar dari kamar mandi.

Delana hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Ratu.

“Mau ke mana?” tanya Belvina saat melihat Ratu mulai memakai make up di wajahnya.

“Nge-date lah sama pacar baru aku,” jawab Ratu dengan sikap angkuhnya.

Belvina mencebik ke arah Ratu. “Pacar yang lama masih ada?” tanyanya sambil tertawa kecil.

“Yee ... nggak lah. Pacarku cuma satu. Aku mah setia orangnya,” sahut Ratu.

“Yah, kali aja ada cadangan lain,” celetuk Belvina.

Ratu hanya tersenyum sambil menatap riasannya di cermin. Ia sama sekali tak memperdulikan candaan Belvina.

“Bel, cari makan di luar yuk!” ajak Delana.

“Mau makan di mana? Kamu nggak masak?” tanya Belvina.

“Masak. Tapi si Alan ke rumah. Dilahap abis semua makanan di dapurku,” tutur Delana.

“Trus, kamu tinggal dia?” tanya Belvina.

“Biar aja. Dia asyik main game online sama Bryan. Sampe besok pagi juga betah dia main.”

“Ckckck. Gamer juga dia?” tanya Belvina.

Delana hanya tersenyum kecil. “Biar aja dia nge-game daripada gangguin aku.”

Tiba-tiba ponsel Ratu berdering sangat nyaring. Pandangan Belvina dan Delana langsung tertuju padanya.

“Halo, sayang!” sapa Ratu begitu ia menjawab panggilan teleponnya.

“...”

“Oke. Ke Kemala Beach, kan?” tanya Ratu dengan gaya manja.

“...”

“Dua puluh menit lagi ya! Aku masih siap-siap nih.”

Ratu langsung mematikan sambungan teleponnya.

Belvina dan Delana berpura-pura tak mendengarkan pembicaraan Ratu dan Chilton.

“Kita ke Ocean’s yuk!” ajak Delana. “Aku laper, Bel.”

“Iya, bos. Aku siap-siap dulu.”

Delana dan Belvina langsung bersiap dan berangkat menuju Ocean’s Resto, salah satu tempat favorite Delana.

“Del, mau makan apa?” tanya Belvina saat mereka sudah duduk di meja makan.

“Minum aja,” jawab Delana.

“Hah!? Katanya lapar?”

“Aku nggak nafsu makan,” tutur Delana sambil menopang wajahnya tak bersemangat.

Belvina menghela napas. Ia merasa bersedih setiap kali melihat Delana murung.

“Del, kamu pernah lihat monyet lagi patah hati?” tanya Belvina.

“Eh!?” Delana menoleh ke arah Belvina.

Belvina menyodorkan cermin ke hadapan wajah Delana. “Look at this!”

Delana mencebik ke arah Belvina. “Maksudnya? Aku monyetnya?” dengus Delana. Ia langsung merebut cermin dari tangan Belvina.

Belvina tergelak. “Makanya, jangan sedih terus! Nggak asyik banget!”

“Aku nggak sedih, kok.”

“Kenapa nggak mau makan? Katanya lapar? Ntar kamu sakit, aku juga yang repot.”

“Oke. Aku makan. Tapi, abis ini temenin aku ke Kemala ya!” pinta Delana.

“Ngapain? Di sini juga ada pantai,” sahut Belvina.

“Pengen suasana baru aja.”

“Oke. Tapi, kamu makan dulu. Aku pesenin kayak biasa ya!” pinta Belvina.

Delana tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Ia sadar, sudah seharusnya ia tak membawa orang lain dalam masalah hatinya. Belvina tidak bersalah dan seharusnya ia bisa lebih pandai mengatur hatinya.

Setelah selesai makan, Belvina memenuhi janjinya untuk menemani Delana ke Pantai Kemala yang tak jauh dari resto tempat mereka makan.

Delana memilih untuk duduk di tepi pantai sambil menikmati semilir angin sore. Di seberang sana, ada Chilton dan Ratu yang sedang bergandengan tangan dan tertawa bahagia.

Delana teringat saat-saat ia bersama Chilton dan itu membuatnya sakit hati.

Belvina menghela napas panjang saat melihat bulir-bulir air mata jatuh di pipi Delana. “Del, kamu tahu mereka mau ke sini. Kenapa kamu malah mau ke sini juga, sih? Aku bener-bener nggak ingat kalo ada mereka di sini. Kalo aku ingat, aku nggak bakalan mau diajak ke sini.”

“Aku cuma mau ngucapin selamat tinggal sama Chilton. Aku juga belum sempat ngucapin selamat ke dia atas hubungannya dengan Ratu.”

“Apa ini saat yang tepat?” tanya Belvina.

Delana menghela napas. “Aku rasa, Ratu bakal ngijinin aku buat ngomong sama Chilton sebentar aja.” Delana bangkit dari tempat duduknya.

“Del ...!” Belvina menahan lengan Delana. Ia sangat khawatir kalau Delana menghampiri Chilton dan Ratu.

Delana tersenyum menatap Belvina. “Aku baik-baik aja.”

Belvina membalas senyum Delana. Perlahan ia melepaskan lengan Delana dan membiarkan sahabatnya itu pergi.

“Dela?” Chilton terkejut saat melihat Delana sudah ada di hadapannya.

“Hai, Del!” sapa Ratu sambil tersenyum manja. Ia terus menggandeng lengan Chilton dan bergelayut di pundaknya. “Kamu di sini juga?”

“Eh!? Kebetulan lewat sini, jadi selajur mampir nikmati suasana pantai,” jawab Delana berbohong. Jelas-jelas, ia tidak mungkin melintas ke tempat ini kalau pulang ke rumahnya.

“Oh. Emang dari mana?” tanya Ratu.

“Dari ...” Delana berpikir sejenak mencari tempat yang tepat. “Rumah temen,” lanjut Delana. “Iya. Abis dari rumah temen beli udang,” jawabnya ngasal.

“Udang? Sore-sore gini?” tanya Ratu.

Chilton juga menaikkan alisnya karena heran dengan pernyataan Delana.

“Hehehe. Iya. Udah pesen dari kemarin, tapi baru sempat ambil sore ini,” jelas Delana sambil tersenyum.

“Oh ... gitu? Kita nggak diundang makan malam? Kata Chilton, masakan kamu enak banget,” tanya Ratu.

Chilton langsung menoleh ke arah Ratu. Ia tak menyangka kalau Ratu akan memuji wanita yang ada di masa lalunya.

Delana tersenyum. “Aku udah ada janji makan malam sama orang lain.”

“Oh, iya. I see ... sama cowok baru kamu, ya?” tanya Ratu.

Delana tersenyum kecut. 

“Balik yuk!” ajak Chilton sambil menarik lengan Ratu agar secepatnya menjauh dari Delana.

“Tunggu!” pinta Delana.

Chilton menghentikan langkahnya. “Ada apa lagi?”

Delana tersenyum menatap Ratu dan Chilton. “Mmh ... aku cuma mau bilang selamat karena kalian udah resmi jadi pasangan kekasih. Semoga langgeng!”

Ratu menatap Delana dengan mata berbinar. “Makasih, Dela sayang!” tuturnya dengan gaya semanis mungkin.

“Aku pergi dulu, ya!” pamit Delana sambil tersenyum. “Selamat tinggal!” ucap Delana sambil menatap mata Chilton.

“Mau ke mana?” tanya Ratu.

“Pulang. Aku ada jadwal ngajar malam ini,” jawab Delana sambil tersenyum.

“Oh. Hati-hati ya, Del!” seru Ratu.

Delana menganggukkan kepala. Ia membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauhi Ratu dan Chilton. Ia langsung menghampiri Belvina dan mengajaknya pergi dari tempat itu.

“Del, kamu baik-baik aja?” tanya Belvina saat mereka berada di perjalanan pulang.

Delana menganggukkan kepala. “Aku baik-baik aja dan ngerasa lebih baik,” ucapnya sambil tersenyum.

“Syukur, deh!” Belvina langsung melajukan sepeda motornya kembali ke asrama.

Delana langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur begitu sampai di rumah. Hari ini ia merasa lebih lega karena akhirnya bisa mengucapkan selamat tinggal pada Chilton.

Delana melirik jam yang ada di dindingnya. Sebentar lagi jadwal ia mengajar les dan ia harus bersiap-siap.

Tiba-tiba, suara ribut dari kamar Bryan membuyarkan lamunan Delana. Ia bisa mendengar kalau Bryan dan Alan sedang bermain game online. Ia sama sekali tak bersemangat untuk menyapa mereka. Ia lebih memilih untuk segera bersiap dan pergi ke tempat kursus.

“Mau ke mana?” tanya Alan saat melihat Delana sudah rapi dan bersiap keluar dari rumahnya.

“Ke tempat kursus.”

“Jam segini? Pulangnya jam berapa?”

“Iya, ada kelas malam. Jam sembilan baru pulang.”

“Mau aku antar?” tanya Alan.

Delana tersenyum menatap Alan. “Nggak usah. Kalo kamu lapar, pesan makanan online aja ya! Aku nggak sempat masak.”

“Nggak usah! Aku antar kamu sekalian cari makan di luar.”

“Hmm ... ya udah kalo kamu maksa,” sahut Delana.

“Aku nggak bawa mobil. Bisa pake mobil Oom Harun?” tanya Alan.

“Pake motor aja, gimana?” tanya Delana.

“Malam, Del. Dingin!”

“Pake jaket, pake helm! Nggak usah manja, deh!”

“Aku nggak bawa jaket.”

“Pinjam punya Bryan!” perintah Delana.

Alan memutar bola matanya. Ia masuk ke kamar Bryan dan meminjam jaket miliknya.

Dengan cepat Alan menyambar kunci motor dari tangan Delana. Mereka sama-sama menuruni anak tangga.

“Lan, apa kamu pernah jatuh cinta?” tanya Delana sambil menuruni anak tangga.

“Cinta?” Alan menaikkan kedua alisnya. “Aku rasa semua orang pernah mengalaminya.”

“Apa kamu pernah jatuh cinta, kemudian benci?” tanya Delana lagi.

“Cinta dan benci itu perasaan emosi yang sama. Keduanya sulit untuk dibedakan. Hari ini kamu bisa cinta sama seseorang, tapi dalam hitungan detik kamu bisa tiba-tiba membencinya. Begitu juga sebaliknya.” Alan menaiki sepeda motor Delana. Memakai helm dan menyalakan mesin motor Delana.

Delana menghela napas. Ia juga ikut mengenakan helm dan langsung duduk di belakang punggung Alan.

Alan mengendarai sepeda motor perlahan-lahan. “Kalo menurut kamu, cinta sejati itu ada atau nggak sih?” tanya Delana lagi.

“Ada. Tapi, nggak semua orang mampu menemukan cinta sejatinya.”

“Kenapa?” tanya Delana.

“Cinta sejati selalu diuji dengan rasa sakit. Supaya tahu bagaimana kuatnya cinta yang kamu miliki. Terkadang, kita nggak sadar kalo cinta sejati itu sudah ada di sekitar kita. Hanya saja, sulit untuk melihatnya karena tak semua orang bisa mengikuti kata hatinya.”

Delana mengeratkan pelukannya pada pinggang Alan. “Tapi, kenapa semua orang menikah? Bukankah pada akhirnya mereka menemukan cinta sejatinya?” tanya Delana.

“Tidak semua orang menikah karena cinta.”

“Oh, ya?”

“Ada yang menikah karena kepentingan lain.”

Delana melirik ke atas. Ia berpikir tentang bagaimana seseorang memilih menikah karena materi, karena pilihan keluarga atau hal lainnya. Ada juga yang pada akhirnya harus memilih berpisah karena menikah bukan karena benar-benar cinta.

“Kamu lagi jatuh cinta sama seseorang?” tanya Alan sambil tersenyum menatap Delana lewat kaca spion.

“Aku rasa begitu.”

“Kenapa nggak yakin gitu?” tanya Alan sambil mengernyitkan dahinya.

Delana menghela napasnya. “Karena dia lebih memilih cewek lain,” tutur Delana lirih. “Dia pergi di saat aku merasa jadi orang yang paling dicintainya.” Delana menyandarkan kepalanya ke punggung Alan.

Alan menggoyang-goyangkan bahunya. “Jangan nangis! Jelek tahu!”

Delana mengangkat kepalanya. “Aku nggak nangis.”

“Bibir memang diciptakan untuk berbohong,” ucap Alan sambil tersenyum pada bayangan Delana yang ada di kaca spion.

Delana tersenyum. Ia dan Alan sudah saling mengenal sejak mereka masih bayi. Ia tak mungkin bisa berbohong pada saudaranya itu.

“Tempat kursusmu di mana?” tanya Alan.

“Media Belajar.”

“Oh.” Alan langsung membelokkan sepeda motornya menuju tempat kursus Delana yang sudah dekat.

“Kamu tahu tempatnya?” tanya Delana.

“Kalo masih di kota ini aja, nggak ada tempat yang aku nggak tahu,” jawab Alan sambil tersenyum.

“Lan, abis ngajar. Kita ke Gunung Dubs sebentar, yuk!” ajak Delana.

“Mau ngapain?” tanya Alan.

“Mau lihat bintang.”

Alan tersenyum. “Oke.”

Sesampainya di tempat kursus. Delana langsung masuk ke dalam gedung. Sementara Alan menunggunya di parkiran karena jadwal Delana mengajar hanya satu jam saja.

Satu jam kemudian ...

Alan memenuhi janjinya untuk menemani Delana melihat bintang dari ketinggian Gunung Dubs.

Alan dan Delana duduk di atas rumput yang terbentang luas dan rapi. Di atasnya, bertaburan bintang-bintang. Tepat di hadapan mereka, kerlip lampu kota terlihat begitu indah dihiasi dengan  cahaya lautan yang berkilau tertimpa cahaya rembulan.

Delana teringat beberapa waktu lalu saat ia memandang bintang-bintang bersama Chilton. Cowok iru mewujudkan keinginannya untuk bisa melihat bintang dari tempat ini.

“Kamu punya kenangan sama seseorang di sini?” tanya Alan ketika melihat Delana tersenyum sambil menatap bintang-bintang. Ia tahu kalau Delana sedang memikirkan hal bahagia, entah bersama siapa ...

“Kenang dengan tenang ...” ucap Delana sambil memejamkan tangan dan merentangkan kedua tangannya. Ia menghirup napas dalam-dalam dan merasakan dingin malam menusuk tulangnya. Ia merasa, isi kepalanya lebih dingin dari biasanya.

***

Chilton merebahkan tubuhnya di atas kasur setelah ia sampai di rumah mamanya. Ia masih tak bisa mengerti dirinya sendiri, ia kini sudah memiliki seorang pacar yang cantik, baik dan perhatian. Lalu, kenapa Delana masih terus ada dalam pikirannya?

Chilton bangkit dari tempat tidurnya dan melangkahkan kaki menuju balkon di belakang rumahnya. Ia berdiri sembari menatap bintang-bintang dan lampu kota yang berkilauan.

Delana sangat suka dengan suasana malam di tempat ini. Ia bisa mengingat bagaimana wajah Delana tesenyum ceria di sana.

Chilton memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam. Ia bisa melihat wajah Delana sedang tersenyum di antara bintang-bintang. “Del, kenapa kamu begitu sulit dilupakan?” bisiknya dalam hati.

“Belum tidur?”

Chilton langsung membalikkan tubuhnya ke arah sumber suara. “Mama? Belum tidur?” tanya Chilton.

Astria tersenyum ke arah Chilton. “Gimana bisa tidur kalau Mama tahu anak Mama pulang tanpa menyapa Mama sekali?”

Chilton tertawa kecil. “Sorry ...!”

Astria tersenyum. Beberapa waktu lalu, ia merasakan anaknya begitu hangat. Tapi, kini pria yang selama ini menemaninya kembali dingin.

“Udah lama nggak pulang?” tanya Astria.

“Banyak tugas.”

“Oh. Udah makan?” tanya Astria.

“Udah.”

Astria menghela napas. Ia tak tahu lagi apa yang harus ditanyakan pada anaknya jika Chilton bersikap dingin.

“Kemarin Mama ketemu Mahesa dan dia nanyain kamu,” tutur Astria.

Chilton menaikkan kedua alisnya. “Mahesa? Di udah di sini?”

Astria menganggukkan kepala sambil tersenyum. “Hubungi dia kalo kamu sudah ada waktu!” pinta Asrria.

Chilton menganggukkan kepala. Ia membalikkan tubuhnya menatap bintang-bintang. Mereka terdiam selama beberapa menit.

“Gimana kabar Dela?” tanya Astria.

“Eh!?” Chilton langsung menatap mamanya. Ia tak tahu apa yang harus ia bicarakan tentang Delana. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan tersenyum kecil. “Aku ngantuk. Selamat malam, Ma!” ucap Chilton sambil mengecup pipi mamanya. Ia langsung bergegas pergi meninggalkan Astria agar tak semakin banyak mendapatkan pertanyaan.

 Chilton meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja dan langsung menelepon kekasihnya.

“Udah tidur?” tanya Chilton begitu panggilannya tersambung.

“Baru mau tidur,” jawab Ratu ujung telepon.

“Baguslah. Jangan tidur malam-malam!”

“Iya, Sayangku ...”

Chilton tersenyum. “Good night!”

“Night too ...”

Chilton langsung mematikan sambungan teleponnya. Ia merebahkan tubuhnya sembari menatap langit-langit kamar. Ia sudah berusaha melakukan banyak hal untuk menyenangkan kekasihnya. Tapi, status yang ia miliki tak membuat hari-harinya menjadi lebih baik. Sebab, masih ada bayangan lain yang menghantui setiap malamnya.

***

Ratu menari-nari bahagia sambil memasuki kamarnya. Ia menatap Belvina yang sedang duduk santai sambil bermain game online di atas tempat tidurnya.

“Hai, Bel!” sapa Ratu dengan ceria.

“Hai ...!” balas Belvina tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.

“Nggak jalan, Bel?” tanya Ratu.

“Udah pulang.”

Ratu manggut-manggut tanda mengerti. “Temen kamu yang artis itu jarang banget kelihatan.”

“Ivo?” tanya Belvina.

“Iya.”

“Sibuk dia.”

“Oh.”

“Abis jalan sama Chilton?” tanya Belvina.

“Ya iya, dong. Namanya juga punya pacar,” tutur Ratu sambil tersenyum.

Belvina tersenyum sinis. Entah kenapa ia sama sekali tidak merasa senang melihat Ratu bersama Chilton. Ia lebih senang kalau sahabatnya yang menjadi pacar cowok tampan di kampusnya itu.

Ratu membuka kotak berisi barang belanjaan yang baru ia beli. Ratu adalah salah satu mahasiswi yang suka memamerkan barang-barang bermerek miliknya. Ia baru saja membeli sebuah tas bermerek dan langsung memamerkan ke teman-teman di asramanya.

“Lihat, tas aku bagus kan?” tanya Ratu sambil memutar tubuhnya.

“Wah, keren banget! Ini asli ya?”

“Iya, dong.”

“Berapa harganya, Rat?” tanya salah satu teman asramanya.

“Ah, nggak enak mau nyebutin harga. Ntar dikira sombong pula.”

“Aku tahu harga tas aslinya seberapa. Sekitar dua ratus dolar,” sahut penghuni asrama yang lain.

“Wah, ini import ya? Lihat, dong!” Salah satu siswi langsung menyambar tas milik Ratu. Ia memerhatikan tas tersebut dengan seksama.

Ratu tersenyum bangga melihat teman-temannya menyukai tas baru yang dibelinya.

“Ini kw ya?” tanya salah satu teman asrama yang sedang memegang tasnya.

“Kok, kw sih?” dengus Ratu sambil menyambar tas miliknya.

“Hah!? Seriusan ini barang palsu?”

“Iya. Yang asli nggak kayak gitu.”

“Sok, tahu! Kamu nggak pernah pake barang mahal, makanya nggak bisa bedain mana barang asli dan palsu,” tutur Ratu kesal.

“Dilihat dari jauh aja kelihatan kalo ini barang palsu!”

“Curiga, beli tasnya sambil merem. Makanya nggak bisa bedain barang asli sama palsu.”

Teman-teman yang lain tertawa.

Teman asramanya tersenyum sinis. “Apa kamu pikir, kamu adalah orang paling kaya di kampus ini?”

“Huu ... tas kw ngaku-ngaku asli!” seru mahasiswi lainnya dan langsung disambut oleh teriakan teman-teman lainnya.

Ratu menahan kesal karena ada teman yang membocorkan kalau tas yang dibelinya adalah barang palsu.

“Ada apa ini?” tanya Delana yang tiba-tiba muncul di asrama.

“Ini, Del. Ada cewek yang ngaku-ngaku beli tas mahal. Ternyata tas kw!” seru teman asramanya sambil tertawa.

“Enak aja! Aku nggak suka beli barang kw. Ini mahal tau!” sahut Ratu.

“Halah ... paling harga dua ratus ribu doang,” sahut Belvina.

“Dua ratus ribu mah mahal buat kita. Biasanya beli tas di pasar yang harga dua puluh ribuan,” sahut lainnya.

“Lihat tuh tasnya Dela!” Belvina  menunjuk tas Delana dengan dagunya. Membuat suasana semakin memanas.

Delana langsung menyembunyikan tas miliknya ke belakang punggung.

“Tasnya Dela tuh asli. Dia nggak pernah sepamer kamu,” dengus salah satu teman asramanya.

“Ah, kalian bisa aja. Ini bukan tas asli, kok. Aku mana mampu beli tas mahal,” sahut Delana.

“Del, kita tuh nggak buta. Semua tahu siapa kamu,” sahut teman asrama lain.

“Eh!? Stop!” Delana mencegah teman asrama lainnya berbicara macam-macam.

“Udah, Del. Biar orang sombong kayak dia tuh sadar kalo yang apa yang dia punya itu nggak ada apa-apanya dibanding sama apa yang kamu punya.”

Ratu mendengus kesal. Ia tak menyangka kalau akan dipermalukan seperti ini.

“Dasar pembualan!”

Suasana semakin ribut, Delana terdiam sambil memikirkan cara untuk membuat suasana kembali kondusif.


((Bersambung...)) 



Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas