“Nggak mungkin tas ini palsu. Chilton beliin tas ini buat aku,” tutur Ratu.
“Kamu beli sendiri atau dibelikan dia?” tanya Belvina.
“Bareng-bareng. Aku yang pilih, dia yang bayarin.”
“Kayaknya kamu bukan cewek yang pandai dalam memilih tas bermerek,” ucap Belvina sambil mengamati tas milik Ratu.
Ratu melotot ke arah Belvina. Ia sangat kesal mendengar kalimat yang keluar dari mulut Belvina.
Melihat pertengkaran dua temannya semakin sengit, Delana langsung menarik Ratu menjauh dari kerumunan teman-temannya.
“Apaan sih, Del?” Ratu menepiskan tangan Delana begitu mereka menjauh dari kerumunan teman-temannya.
“Aku tahu, tas itu bukan pemberian Chilton, kan?” tanya Delana berbisik.
Ratu gelagapan mendengar pertanyaan Delana.
“Chilton nggak mungkin ngasih barang murahan kayak gitu,” lanjut Delana.
“Mmh ...” Ratu terlihat berpikir mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan Delana.
“Gini aja. Biar aku yang pake tas ini. Bilang ke semua orang kalo sebenarnya ini tas yang aku pesen lewat kamu. Gimana?” tanya Delana.
Ratu menimbang-nimbang usulan dari Delana.
“Jangan lama-lama mikirnya!” seru Delana setengah berbisik sembari menatap ke kerumunan siswi yang sedang memadang mereka berdua.
“Tapi, Del ...”
“Kenapa?” tanya Delana sambil menatap serius ke arah Ratu.
Ratu menghela napas dan tersenyum ke arah Delana. “Oke. Aku terima saran dari kamu.”
“Oke. Kita ngomong ke mereka!” pinta Delana. Ia meraih pergelangan tangan Ratu dan mengajaknya menghampiri teman-teman asramanya.
“Ehem ...!” Delana berdehem ketika sudah sampai di hadapan teman-temannya.
Semua teman-teman asramanya langsung menatap Delana dan Ratu yang ada di depan mereka.
“Sebenarnya tas yang kalian ributin itu bukan punya Ratu. Tas itu punyaku, aku yang pesen lewat dia,” jelas Delana sambil tersenyum menatap teman-temannya.
“Del ...!?” Belvina mendelik ke arah Delana. Ia sama sekali tidak percaya kalau Delana yang membeli tas itu. Ia tahu selera Delana tak mungkin serendah itu.
Delana tersenyum ke arah Belvina. “Tas ini emang murah dan bukan barang asli. Tapi, aku suka modelnya tetap cantik. Lagipula, untuk beberapa orang masih menganggap kalau tas ini harganya mahal.”
“Oh, jadi itu tasnya Dela?” tanya salah satu teman asramanya.
Delana dan Ratu menganggukkan kepala bersamaan.
“Bukan dikasih sama Chilton, dong?” tanya yang lainnya.
“Iya. Katanya, dikasih sama pacarnya. Ternyata bohong juga!” celetuk lainnya.
“Katanya pacarnya itu cowok tajir alias kaya raya. Kenapa beliinnya barang murahan?” tanya siswi lain sambil tertawa lebar. “Jangan-jangan, kayanya cuma dikhayalan aja.”
“Hmm ... nggak kayak gitu. Tas ini punyaku, bukan dikasih sama Chilton. Chilton emang pernah bilang kalo dia bakal kasih hadiah tas buat Ratu. Aku rasa dia nggak akan belikan tas murahan buat pacar yang cantik banget kayak gini,” tutur Delana sambil menoleh ke arah Ratu. “Iya, kan, Ratu?” tanyanya pada Ratu sambil mengerdipkan mata.
Ratu menganggukkan kepala.
“Mau itu tas dikasih Chilton atau punya Dela, kamu tetep aja udah jadi pembohong dari awal,” celetuk teman lainnya.
“Iya, bener!” sahut yang lainnya.
Delana menghela napas sambil mengerjapkan matanya. Ia tak menyangka kalau teman-teman asramanya masih saja mencari-cari kesalahan Ratu. Yah, harus diakui kalau Ratu memang sudah berbohong sejak awal dan dia harus membangun kebohongan-kebohongan lain setelahnya.
“Udah, nggak usah ribut cuma karena masalah sepele kayak gini!” seru Delana. “Mendingan kalian bubar dan tidur!”
“Huu ...!” Teman-teman Delana meneriaki Ratu dan mulai pergi satu persatu ke dalam kamar mereka masing-masing.
Delana menghela napas lega. Ia akhirnya bisa melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar asrama dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.
“Tumben banget malam-malam ke sini?” tanya Belvina. “Mau tidur sini?”
Delana menganggukkan kepala. Ia meliukkan tubuhnya dan langsung memeluk guling yang sudah ada di tempat tidur.
Ratu terduduk lemas di atas ranjangnya. Ia masih shock karena dipermalukan di depan orang banyak.
Delana menggulingkan tubuhnya mendatap Ratu. “Chilton payah banget!” celetuknya. “Dia beliin kamu tas kayak gini?” tanyanya sambil mengangkat tas yang sejak tadi diributkan.
Ratu menghela napas. Ia ingin sekali marah melihat sikap Delana. Tapi, ia memilih diam karena bagaimanapun Delana sudah membantunya keluar dari masalah tadi.
“Besok, kalo aku ketemu dia. Bakal aku kasih tahu supaya dia bisa kasih tas yang mahal. Nggak kayak begini,” tutur Delana.
Mata Ratu berbinar mendengar ucapan Delana. “Serius?” tanyanya.
Delana tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Aku dan dia berteman baik. Aku yakin kalo dia bakal dengerin saran dari aku.”
“Aargh ... thank you, Del! Kamu baik banget,” seru Ratu sambil memeluk Delana.
Delana tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu Ratu. Selama ini ia berteman baik dengan Chilton dan tak ada salahnya kalau ia juga bersikap baik dengan pacarnya.
***
“Del, kenapa sih kamu masih baik aja sama Ratu? Bukannya dia udah ngerebut Chilton dari kamu?” tanya Belvina.
“Ratu nggak ngerebut Chilton sama sekali. Mereka dekat setelah hubunganku dan dia memburuk,” jawab Delana sambil tersenyum.
“Kamu yakin sudah baik-baik aja?” tanya Ivona.
Delana mengangguk pasti. Ia sudah sepenuhnya merelakan Chilton untuk Ratu. Baginya, cewek pilihan Chilton adalah yang terbaik dan sudah seharusnya ia ikut senang melihat teman baiknya punya pacar yang cantik.
Belvina berdiri di depan lemari kaca yang ada di kamar Delana. Semua sepatu dan tas koleksi Delana berjajar rapi.
“Del, yang ini kamu beli di mana?” tanya Belvina sambil menunjuk tas Delana yang berwarna biru indigo.
“Cek aja di marketplace. Itu Louis Vuitton yang Cluny MM. Aku pesen dari situs resminya langsung,” jawab Delana sambil tersenyum menatap tasnya yang terpajang di lemari kaca.
“Dua puluh empat jeti,” bisik Ivona pada Belvina.
“Hah!?” Belvina terlonjak mendengar harga yang disebutkan oleh Ivona.
Ivona menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
“Semahal itu?” tanya Belvina sambil menatap beberapa tas yang lainnya. Ia sepertinya tidak bisa menghitung berapa jumlah tas-tas mahal yang ada di kamar Delana. Koleksinya tidak terlalu banyak, tapi harganya cukup untuk membeli satu buah sepeda motor.
“Kamu nggak mau ngitung koleksiku?” tanya Ivona sambil tersenyum penuh arti.
Belvina menghela napas dan menjatuhkan tubuhnya ke ranjang Delana. “Kayaknya, cuma aku aja yang nggak punya koleksi tas mahal yang aku beli pake uangku sendiri. Kalo bukan dapet hadiah dari kalian, kayaknya aku nggak bisa punya tas mahal,” tuturnya lemas.
Delana tertawa kecil melihat wajah Belvina yang berpura-pura murung. “Kamu mau?” tanya Delana.
“Mau ngasih?” tanya Belvina dengan mata berbinar.
“Beli sendiri!” seru Delana sambil menjulurkan lidahnya.
Belvina mengerutkan keningnya. Ia meraih guling dan memukulkannya di tubuh Delana. “Awas aja! Ntar aku colongin tasmu!” ancamnya.
“Kalo sampe tas aku ada yang hilang, berarti kamu pelakunya,” dengus Delana.
“Hahaha.” Ivona tertawa melihat dua sahabatnya itu.
“Eh, kamu ada simpanan bir?” tanya Belvina pada Delana.
“Mau minum bir?” tanya Delana balik.
“Iya. Rasanya kita udah lama nggak bersenang-senang sambil menikmati bir,” jawab Ivona.
“Aku ke bawah ambil bir dan kamu pesan makan, ya!” pinta Delana.
“Ah!? Makanan apa?” tanya Ivona.
“Mmh ... terserah kalian!” seru Delana, ia bangkit dari tempat tidur dan bergegas turun ke dapur.
“Dela nggak masak?” tanya Ivona pada Belvina.
Belvina mengedikkan bahunya. “Ini sudah malam. Kemungkinan masakannya udah habis atau cuma cukup untuk Bryan.”
Ivona mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia langsung menyalakan ponsel dan membuka aplikasi untuk memesan makanan.
“Bel, gimana kalo kita masak mie instan aja?” tanya Ivona.
Belvina tertawa. “Sejak kapan Ivo makan mie instan?”
“Sesekali nggak papa, kan?” Ivona mencebikkan bibirnya. “Aku udah lama nggak makan mie instan. Kayaknya enak deh malam-malam makan mie instan berkuah gitu.”
“Apalagi pedes banget!” sahut Belvina.
Ivona mengerucutkan bibirnya. “Aku nggak suka pedas!”
“Hahaha.”
Sementara itu, Delana mengambil beberapa botol bir dari rak dapurnya.
“Mau minum lagi?” tanya Bryan yang berdiri di pintu dapur.
“Eh!?” Delana langsung menoleh ke arah Bryan. “Kamu sudah makan?” tanya Delana.
“Sudah.”
“Baguslah,” tutur Delana sambil bergegas kembali ke kamarnya.
“Kak ...!” panggil Bryan saat Delana baru saja menaiki tangga.
“Apa?” tanya Delana sambil menoleh ke arah Bryan.
“Akhir-akhir ini Kakak sering minum bir. Jaga kesehatan!” seru Bryan.
Delana tersenyum menatap Bryan. “Makasih.”
Bryan tersenyum dan kembali ke dapur untuk mengambil air minum dan langsung kembali ke kamarnya.
“Del, kamu nggak masak?” tanya Belvina.
“Udah habis. Kalian udah pesen makanan?” tanya Delana.
“Belum.”
“Kenapa belum, sih!?” Delana langsung meletakkan botol bir di atas meja dan mencari ponselnya. “Biar aku aja yang pesan kalo gitu.”
“Nggak usah! Kita masak mie instan aja gimana?” tutur Ivona.
Delana mengangkat kedua alisnya sambil menatap Ivona. Ia tahu Ivona paling berhati-hati soal nutrisi di tubuhnya dan tidak mau makan mie instan karena menurutnya tidak baik untuk kesehatan.
“Yakin?” tanya Delana menatap Ivona.
Ivona menganggukkan sambil tersenyum.
Delana menghela napasnya. “Ayo, Bel!” Ia menarik tangan Belvina untuk menemaninya ke dapur.
“Aku tunggu sini ya!” seru Ivona.
“Iya,” jawab Delana dan Belvina bersamaan.
“Huft ... rumahku ini nggak terlalu besar kan, Bel? Rasanya aku pengen pindahin dapurku ke kamar,” celetuk Delana.
Belvina tertawa kecil. “Aku rasa kamarmu masih cukup luas buat naruh satu meja kompor.”
“Iih ..!” Delana menyikut lengan Belvina. “Kamar aku jadi jorok, dong!”
Belvina tertawa kecil. “Kan kamu juga yang bilang kalo mau pindahin dapur ke kamar.”
“Aku nggak serius!”
“Serius juga nggak papa.”
“Huh, dasar!”
Delana dan Belvina langsung bergegas memasak mie instan untuk mereka sendiri.
“Ingat! Punya Ivona jangan pakai bumbu instan dan air rebusan pertama harus dibuang dulu.”
“Buat begitu aja semuanya. Punya kita dikasih cabai, punya dia enggak.”
“Kasih cabai aja sekalian punya dia,” celetuk Belvina.
“Janganlah, kasihan!” sahut Delana.
“Aku bercanda, Dela sayang!” tutur Belvina sambil menyubit kedua pipi Delana.
“Sakit, Bel. Kalau pipi aku hilang, ntar nggak imut lagi,” tutur Delana sambil mengusap kedua pipinya.
“Sejak kapan kamu imut?” sahut Belvina.
Delana menarik napas dan mengerutkan hidungnya. “Apa aku emang nggak cantik makanya si Aravin dan Chilton nolak aku?” tanyanya dengan suara bergetar.
Belvina menghela napasnya. Ia mengusap pundak Delana. “Tadi aku cuma bercanda. Kamu cantik, kok. Mereka pasti bakal nyesel karena udah nyia-nyiain kamu.”
“Aku harap begitu,” sahut Delana.
“Udah, jangan diambil hati gitu. Kamu lama-lama jadi nggak asyik karena nggak bisa diajak bercanda. Kayaknya, semenjak Chilton nolak kamu. Kamunya jadi sering nganggep candaan kita itu hal yang serius.”
Delana menatap tajam ke arah Belvina. “Kamu juga sama!” dengusnya.
Belvina tertawa kecil. “Kayaknya kamu deh yang gampang tersinggung. Udah kayak nenek-nenek aja!”
Delana menghela napas. Ia menghentikan tangannya yang sedang mengiris cabai. “Bel, kamu tahu nggak kalo pisau ini tajam?”
Belvina tertawa menanggapi pertanyaan Delana. “Sekarang doyan makan orang?”
Delana mengerucutkan bibirnya dan bergegas menyelesaikan masakannya.
“Buruan, ntar si Ivo mengomel kalo kelamaan!” seru Belvina.
“Sabar, Bel. Kusiram air panas kalo masih cerewet!”
“Aargh ... takut!” seru Belvina sambil berlari keluar dari dapur.
“Belvi ...!” teriak Delana. “Bercandanya nggak lucu!”
Belvina tergelak dari balik pintu.
“Bantuin bawa!” pinta Delana setelah selesai menuangkan mie yang telah masak ke dalam mangkuk.
“Nggak ah, takut disiram air panas,” sahut Belvina sambil terkekeh.
Delana menarik napas dalam-dalam. Ia melipat kedua tangannya di dada dan menatap tajam ke arah Belvina.
“Iya, iya.” Belvina langsung berjalan perlahan menghampiri Delana dan membantunya membawa mangkuk mie instan ke dalam kamar.
“Lama banget!” keluh Ivona saat Delana masuk ke dalam kamar.
“Dikira kita pesulap, tinggal bilang ‘cling’ langsung jadi,” sahut Belvina.
Ivona tertawa kecil.
“Del, aku lihat ada tas baru. Limited edition! Katanya, cuma tinggal lima produk di dunia. Kita pesen yuk!” ajak Ivona.
“Berapa harganya?” tanya Delana
“Nggak mahal, Del. Cuma tiga puluh aja, kok.”
“Tiga puluh apa?” tanya Belvina.
“Tiga puluh ribu, Bel,” jawab Delana.
Belvina menatap curiga pada dua sahabatnya itu.
Ivona dan Delana tersenyum dan saling pandang.
“Kalian mencurigakan!” degus Belvina.
Delana tersenyum. “Mari makan!”
Belvina dan Ivona tersenyum dan langsung melahap mie instan buatan Delana.
Mereka bertiga menikmati malam bersama bir dan canda tawa. Diam-diam, Ivona dan Delana berencana membelikan tas yang sama.
***
“Bel ...!” panggil Delana berbisik saat mereka menikmati makan siang di kantin sekolah.
“Kenapa?” Belvina menatap wajah Delana.
“I have something for you!” Delana menunjukkan paper bag yang ia sembunyikan di belakang kursinya.
Belvina mengernyitkan dahinya. “Aku nggak ulang tahun,” tuturnya.
“Nggak harus nunggu ulang tahun buat kasih hadiah, kan?” tanya Belvina sambil menyodorkan paper bag ke hadapan Belvina.
Belvina tersenyum dan menerima paper bag tersebut. “Hadiah apaan sih? Tumben banget kamu ngasih aku hadiah.”
“Buka, dong!”
Belvina tersenyum sambil membuka paper bag dan mengeluarkan isinya.
“Del. Ini beneran buat aku?” tanya Belvina.
Delana tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
“Ini kan mahal, Del.” Belvina membuka kotak dan menyentuh dompet bermerek pemberian Delana.
“Nggak semahal persahabatan kita,” sahut Delana.
Mata Belvina berbinar mendengar ucapan Delana.
“Makasih, ya, selama ini kamu selalu ada buat aku. Barang-barang mahalku nggak akan pernah bisa gantiin waktu yang udah kamu kasih ke aku,” tutur Delana.
Belvina mengernyitkan dahinya. “Cara bicaramu kayak sama pacar?”
“Eh!?”
“Kamu masih suka laki-laki 'kan?” tanya Belvina.
“Hah!? Kamu pikir aku sekarang suka sama perempuan?” dengus Delana sambil memukul pundak Belvina.
Belvina tertawa kecil. “Ya kali. Karena ditolak sama cowok terus jadi sukanya sama cewek. Banyak loh yang kayak gitu.”
Delana mengerutkan hidungnya dan bersiap menelan Belvina hidup-hidup.
Belvina terdiam, pelan-pelan ia memasukkan dompet ke dalam paper bag kembali. Ia mendorong kursinya ke belakang perlahan sambil menatap ke arah Delana yang sedang menahan amarah. Ia langsung bangkit dan berlari keluar dari kantin.
“Belvi ...!” teriak Delana. Ia langsung mengejar Belvina. Rasanya belum puas kalau dia belum mendapatkan kepala Belvina untuk ia ketuk pakai sepatunya.
“Vo ... tolong aku!” seru Belvina dan langsung menghampiri Ivona yang sedang berdiri di depan kelasnya.
“Kalian kenapa?” tanya Ivona begitu melihat Belvina bersembunyi di belakang punggungnya.
Delana mengerutkan hidungnya. “Aku laper!”
Ivona tergelak melihat wajah Delana. “Oh ... Ayo, ke kantin!”
“Kita udah makan,” bisik Belvina di telinga Ivona.
“Aku cuma pengen makan dia!” teriak Delana sambil menyerbu tubuh Ivona. Belvina terus-menerus memegang pinggang Ivona sambil berlari menghindari serangan dari Delana.
Ivona kebingungan melihat tingkah kedua sahabatnya itu. Ia masih tak mengerti apa yang membuat mereka bertengkar seperti ini. Ivona tahu, Delana hanya bercanda ingin memakan Belvina. Pasti Belvina telah melakukan sesuatu yang membuat Delana geram.
“Stop!” teriak Ivona.
Belvina dan Delana terdiam mendengar teriakan Ivona.
“Kalian ini kenapa sih?” tanya Ivona lagi.
Delana tersenyum. Ia melepas satu sepatunya dan langsung mengetuk kepala Belvina yang sedang melongo di samping Ivona.
“Aduh! Sakit, Del,” tutur Belvina sambil mengusap kepalanya.
“Biar aja! Biar kamu tahu kalo aku juga bisa marah,” ucap Delana sambil mendelik ke arah Belvina.
“Udah, deh. Nggak usah berantem kayak anak kecil kayak gini!” seru Ivona menengahi.
“Dia yang mulai!” ucap Delana sambil menunjuk Belvina menggunakan sepatunya.
“Belvi!?” seru Ivona.
“Hehehe.” Belvina meringis menatap kedua sahabatnya itu.
Delana melempar sepatunya ke lantai dan memakainya kembali.
“Bel, kamu tahu kan kalo orang yang habis patah hati itu sensitif? Kamu jangan cari gara-gara sama dia!” tutur Ivona.
Belvina menatap Ivona sambil menahan tawa.
“Ivo ...!” teriak Delana. “Kalian sekongkol ngeledekin aku!?”
Ivona dan Belvina tertawa bersamaan.
“Del, kamu cantik banget kalo lagi marah,” tutur Ivona sambil tertawa kecil.
“Vo, kayaknya dia udah mau jadi nenek lebih cepat. Sekarang mudah tersinggung,” ucap Belvina sambil memandang Delana yang ada di sampingnya.
Delana merapatkan bibirnya menahan kesal. Kemudian tersenyum lebar dengan terpaksa. “Kalian benar-benar sahabat yang manis,” ucapnya sambil memaksa bibirnya tersenyum.
Belvina dan Ivona tersenyum. Mereka tidak akan pernah lupa pada banyak hari yang mereka lalui bersama. Seorang teman baik sudah seharusnya seperti itu. Bukan tentang bagaimana menyayangi teman dan membahagiakannya setiap hari. Tapi, tentang bagaimana mereka berdebat dan berkelahi tapi tetap saling peduli dan menyayangi.
***
Delana melangkahkan kakinya menyusuri gang rumahnya. Malam ini sangat dingin karena sore tadi gerimis. Ia juga tidak ada jadwal mengajar malam sehingga bisa berjalan-jalan sebentar.
Setiap ada kesempatan, ia akan berjalan ke taman kota yang ada di dekat kampusnya. Ia senang mendengarkan live music dari pengamen jalanan di sana. Ia tahu kalau di sana banyak kenangannya bersama Chilton. Tapi, ia tak ingin berlarut-larut menyimpan kesedihannya. Ia harus merelakan semuanya agar tetap bisa tersenyum setiap hari.
Delana langsung duduk di lantai tepat di depan pengamen yang sedang menyanyikan sebuah lagu. Karena sering di sini, pengamen tersebut sudah tak asing lagi dengan wajah Delana. Ia pernah diajak bernyanyi satu kali dan musisi jalanan itu seringkali menyebutkan namanya untuk menemaninya bernyanyi.
Kali ini, Delana tak tertarik untuk bernyanyi. Ia hanya ingin mendengarkan lagu sehingga musisi itu tak bisa memaksanya untuk bernyanyi.
Setelah selesai menyanyikan satu buah lagu. Musisi itu mengakhiri pertunjukannya kali ini. Delana menatap penonton yang mulai pergi satu persatu. Ia melirik jam di ponselnya. “Masih jam sembilan, seharusnya masih satu jam lagi,” batin Delana. Ia tak beranjak dari tempat duduknya, malah menopang wajah dengan tangannya sambil menatap lantai yang kosong.
“Mau kopi?” Seseorang menyodorkan kopi di depan wajahnya. Ia teringat pada beberapa bulan lalu saat pertama kali mengenal Chilton dan cowok itu memberikannya segelas kopi hangat.
Delana mendongakkan kepala dan menatap cowok yang tersenyum kepadanya. Delana membalas senyum cowok itu dan langsung meraih kopi pemberiannya.
“Kenapa nggak mau nyanyi lagi?”
“Aku ke sini mau dengerin kamu nyanyi, bukan mau nyanyi. Lagipula, aku nggak dapet bayaran dari kamu,” jawab Delana.
Cowok itu tertawa kecil. “Kalo kamu mau nemenin aku nyanyi, aku kasih separuh uang hasil ngamen buat kamu. Gimana?”
Delana tertawa kecil menatap cowok itu. Ia menggelengkan kepala sambil tersenyum.
“Kamu manis banget kalo lagi senyum kayak gini.”
“Aku nggak akan terpengaruh sama rayuan musisi kayak kamu,” sahut Delana.
Cowok itu tertawa kecil. “Namaku Doni. Setiap malam di sini. Kamu boleh panggil aku kalo kamu berubah pikiran.”
Delana menganggukkan kepala. “Aku pulang dulu!” pamitnya.
Doni menganggukkan kepalanya.
Delana langsung bangkit dari duduknya. Ia melangkahkan kaki perlahan sambil menikmati suasana riuhnya malam hari.
Mata Delana terpaku saat melihat dua sosok yang ada di seberangnya. Chilton terlihat sangat bahagia bersama kekasihnya.
Bibir Delana tersenyum menatap pasangan kekasih yang terlihat sangat sempurna. Dulu, ia menginginkan dirinya yang ada di samping cowok itu selamanya. Tapi kini ia sadar kalau cowok itu juga lebih bahagia tanpa dirinya.
“Hai, Del ..! Kamu di sini juga?” sapa Ratu.
Delana mengerjapkan matanya. Ia terkejut karena tiba-tiba Ratu sudah ada di depannya. Rasanya, jarak mereka cukup jauh dan ia tidak memikirkan Chilton dalam waktu lama. Kenapa mereka menghampiri Delana secepat kilat?
“Eh!? Aku emang biasa di sini.”
“Sendirian?” tanya Ratu.
Delana tersenyum sambil menganggukkan kepala.
“Cepet cari pacar! Supaya kamu nggak jalan sendirian malam-malam begini,” tutur Ratu.
Delana tersenyum. “Aku udah terbiasa sendiri.” Kalimat yang singkat untuk menunjukkan pada orang lain bahwa dia baik-baik saja, padahal hatinya sedang hancur lebur dan ingin ada seseorang yang menemaninya melakukan apa pun.
Ratu mengangkat kedua alisnya. Tangannya masih terus menggenggam lengan Chilton yang berdiri di sampingnya. “Bukannya kamu deket sama banyak cowok ganteng? Kenapa masih sendirian?” tanya Ratu.
Delana mengangkat satu alisnya. Ia tidak mengerti maksud pertanyaan Ratu kali ini.
Ratu tersenyum sambil menatap Delana. “Kamu beneran polos atau pura-pura polos?” tanya Ratu.
Delana menghela napas. Ia masih tidak mengerti maksud pertanyaan Ratu. Ia hanya bisa tersenyum kecut menanggapinya.
“Ayo pulang!” Chilton langsung menarik lengan Ratu dan mengajaknya pergi menjauhi Delana.
Delana mengedikkan bahunya dan bergegas pulang ke rumah.
((Bersambung...))
.png)
0 komentar:
Post a Comment