Keesokan harinya, Chilton terbangun dan ia sadar kalau ia masih tidur di kamar Zoya.
“Zoy, aku pengen ngasih hadiah buat Ratu. Bagusnya apa ya?” tanya Chilton.
“Hmm ... kasih aja yang dia suka.”
Chilton berpikir sejenak, ia berusaha mengingat apa yang disukai oleh Ratu. Selama ini, Ratu terlihat menyukai semua yang ia berikan.
“Tas misalnya,” tutur Zoya membantu mengingatkan Chilton tentang barang-barang yang disukai perempuan.
“Aha ... bener banget! Dia suka tas deh kayaknya.”
“Ya udah, kasih itu aja!”
“Aku nggak ngerti pilih tas yang bagus buat cewek kayak gimana,” tutur Chilton.
“Bawa aja dia ke toko tas. Suruh pilih sendiri. Semua cewek suka-suka aja kalo dibayarin.”
“Iya, juga ya? Ngapain aku mikir ribet, ya?” tanya Chilton pada dirinya sendiri.
Zoya tertawa kecil. “Aneh!”
Chilton menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku mandi dulu. Ada bajumu bisa kupake?” tanya Chilton.
“Cari aja di lemari!”
Chilton langsung bangkit dari tempat tidur. “Kamu nggak ada kerjaan? Tumben jam segini masih di rumah?” tanya Chilton sambil melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi dan terlihat masih santai di atas ranjangnya.
“Nanti jam sepuluh baru ada jadwal syuting.”
“Oh. Sampe sore?” tanya Chilton.
“Iya kayaknya, kenapa?”
“Sore ini aku mau jalan ke Kemala Beach sama Ratu. Kali aja mau ikut.”
“Ogah! Emangnya aku mau jadi obat nyamuk!?”
“Nyamuknya siapa?” tanya Chilton sambil tertawa kecil.
“Kamu lah. Suka ngisepin ...”
Chilton tergelak. “Udah, ah. Aku mandi dulu!” seru Chilton sambil melompat masuk ke kamar mandi.
Zoya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya itu.
Beberapa menit kemudian, Chilton sudah keluar dari kamar mandi dan mencari pakaian di lemari Zoya.
“Chil, kamu beneran udah nggak suka sama Dela, kan?” tanya Zoya tanpa mengalihkan pandangannya dari smartphone miliknya.
“Iya. Kenapa?” tanya Chilton balik.
“Kayaknya ntar malam aku nggak ada kegiatan. Kalo aku ngajak Dela jalan, nggak ada masalah kan?” tanya Zoya sambil menatap layar ponselnya.
Chilton langsung menatap tajam ke arah Zoya yang tersenyum kecil sambil memainkan ponselnya.
“Kenapa? Ada masalah?” Zoya mendongakkan kepalanya.
“Eh!” Enggak,” jawab Chilton sambil menyembunyikan wajahnya.
Zoya tersenyum melihat sahabatnya itu. Ia tahu, Chilton masih punya perasaan spesial untuk Delana.
Chilton menggigit bibir bawahnya. Ia sudah sering melihat Delana bersama cowok lain. Hal ini benar-benar mengganggu pikirannya.
Zoya bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar dari kamarnya. “Aku mau lihat, sampe mana kamu bertahan ngebohongin dirimu sendiri,” gumamnya saat melintas di Belakang Chilton.
Chilton mengepal tangannya, ia merapatkan bibirnya menahan emosi untuk membalas ucapan Zoya. Sampai saat ini, ia memang belum bisa mengatur hatinya. Tapi, ia yakin lama-lama akan terbiasa.
***
“Hai, Del! Tumben sore-sore gini ke sini?” sapa Ratu yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Delana hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Ratu.
“Mau ke mana?” tanya Belvina saat melihat Ratu mulai memakai make up di wajahnya.
“Nge-date lah sama pacar baru aku,” jawab Ratu dengan sikap angkuhnya.
Belvina mencebik ke arah Ratu. “Pacar yang lama masih ada?” tanyanya sambil tertawa kecil.
“Yee ... nggak lah. Pacarku cuma satu. Aku mah setia orangnya,” sahut Ratu.
“Yah, kali aja ada cadangan lain,” celetuk Belvina.
Ratu hanya tersenyum sambil menatap riasannya di cermin. Ia sama sekali tak memperdulikan candaan Belvina.
“Bel, cari makan di luar yuk!” ajak Delana.
“Mau makan di mana? Kamu nggak masak?” tanya Belvina.
“Masak. Tapi si Alan ke rumah. Dilahap abis semua makanan di dapurku,” tutur Delana.
“Trus, kamu tinggal dia?” tanya Belvina.
“Biar aja. Dia asyik main game online sama Bryan. Sampe besok pagi juga betah dia main.”
“Ckckck. Gamer juga dia?” tanya Belvina.
Delana hanya tersenyum kecil. “Biar aja dia nge-game daripada gangguin aku.”
Tiba-tiba ponsel Ratu berdering sangat nyaring. Pandangan Belvina dan Delana langsung tertuju padanya.
“Halo, sayang!” sapa Ratu begitu ia menjawab panggilan teleponnya.
“...”
“Oke. Ke Kemala Beach, kan?” tanya Ratu dengan gaya manja.
“...”
“Dua puluh menit lagi ya! Aku masih siap-siap nih.”
Ratu langsung mematikan sambungan teleponnya.
Belvina dan Delana berpura-pura tak mendengarkan pembicaraan Ratu dan Chilton.
“Kita ke Ocean’s yuk!” ajak Delana. “Aku laper, Bel.”
“Iya, bos. Aku siap-siap dulu.”
Delana dan Belvina langsung bersiap dan berangkat menuju Ocean’s Resto, salah satu tempat favorite Delana.
“Del, mau makan apa?” tanya Belvina saat mereka sudah duduk di meja makan.
“Minum aja,” jawab Delana.
“Hah!? Katanya lapar?”
“Aku nggak nafsu makan,” tutur Delana sambil menopang wajahnya tak bersemangat.
Belvina menghela napas. Ia merasa bersedih setiap kali melihat Delana murung.
“Del, kamu pernah lihat monyet lagi patah hati?” tanya Belvina.
“Eh!?” Delana menoleh ke arah Belvina.
Belvina menyodorkan cermin ke hadapan wajah Delana. “Look at this!”
Delana mencebik ke arah Belvina. “Maksudnya? Aku monyetnya?” dengus Delana. Ia langsung merebut cermin dari tangan Belvina.
Belvina tergelak. “Makanya, jangan sedih terus! Nggak asyik banget!”
“Aku nggak sedih, kok.”
“Kenapa nggak mau makan? Katanya lapar? Ntar kamu sakit, aku juga yang repot.”
“Oke. Aku makan. Tapi, abis ini temenin aku ke Kemala ya!” pinta Delana.
“Ngapain? Di sini juga ada pantai,” sahut Belvina.
“Pengen suasana baru aja.”
“Oke. Tapi, kamu makan dulu. Aku pesenin kayak biasa ya!” pinta Belvina.
Delana tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Ia sadar, sudah seharusnya ia tak membawa orang lain dalam masalah hatinya. Belvina tidak bersalah dan seharusnya ia bisa lebih pandai mengatur hatinya.
Setelah selesai makan, Belvina memenuhi janjinya untuk menemani Delana ke Pantai Kemala yang tak jauh dari resto tempat mereka makan.
Delana memilih untuk duduk di tepi pantai sambil menikmati semilir angin sore. Di seberang sana, ada Chilton dan Ratu yang sedang bergandengan tangan dan tertawa bahagia.
Delana teringat saat-saat ia bersama Chilton dan itu membuatnya sakit hati.
Belvina menghela napas panjang saat melihat bulir-bulir air mata jatuh di pipi Delana. “Del, kamu tahu mereka mau ke sini. Kenapa kamu malah mau ke sini juga, sih? Aku bener-bener nggak ingat kalo ada mereka di sini. Kalo aku ingat, aku nggak bakalan mau diajak ke sini.”
“Aku cuma mau ngucapin selamat tinggal sama Chilton. Aku juga belum sempat ngucapin selamat ke dia atas hubungannya dengan Ratu.”
“Apa ini saat yang tepat?” tanya Belvina.
Delana menghela napas. “Aku rasa, Ratu bakal ngijinin aku buat ngomong sama Chilton sebentar aja.” Delana bangkit dari tempat duduknya.
“Del ...!” Belvina menahan lengan Delana. Ia sangat khawatir kalau Delana menghampiri Chilton dan Ratu.
Delana tersenyum menatap Belvina. “Aku baik-baik aja.”
Belvina membalas senyum Delana. Perlahan ia melepaskan lengan Delana dan membiarkan sahabatnya itu pergi.
“Dela?” Chilton terkejut saat melihat Delana sudah ada di hadapannya.
“Hai, Del!” sapa Ratu sambil tersenyum manja. Ia terus menggandeng lengan Chilton dan bergelayut di pundaknya. “Kamu di sini juga?”
“Eh!? Kebetulan lewat sini, jadi selajur mampir nikmati suasana pantai,” jawab Delana berbohong. Jelas-jelas, ia tidak mungkin melintas ke tempat ini kalau pulang ke rumahnya.
“Oh. Emang dari mana?” tanya Ratu.
“Dari ...” Delana berpikir sejenak mencari tempat yang tepat. “Rumah temen,” lanjut Delana. “Iya. Abis dari rumah temen beli udang,” jawabnya ngasal.
“Udang? Sore-sore gini?” tanya Ratu.
Chilton juga menaikkan alisnya karena heran dengan pernyataan Delana.
“Hehehe. Iya. Udah pesen dari kemarin, tapi baru sempat ambil sore ini,” jelas Delana sambil tersenyum.
“Oh ... gitu? Kita nggak diundang makan malam? Kata Chilton, masakan kamu enak banget,” tanya Ratu.
Chilton langsung menoleh ke arah Ratu. Ia tak menyangka kalau Ratu akan memuji wanita yang ada di masa lalunya.
Delana tersenyum. “Aku udah ada janji makan malam sama orang lain.”
“Oh, iya. I see ... sama cowok baru kamu, ya?” tanya Ratu.
Delana tersenyum kecut.
“Balik yuk!” ajak Chilton sambil menarik lengan Ratu agar secepatnya menjauh dari Delana.
“Tunggu!” pinta Delana.
Chilton menghentikan langkahnya. “Ada apa lagi?”
Delana tersenyum menatap Ratu dan Chilton. “Mmh ... aku cuma mau bilang selamat karena kalian udah resmi jadi pasangan kekasih. Semoga langgeng!”
Ratu menatap Delana dengan mata berbinar. “Makasih, Dela sayang!” tuturnya dengan gaya semanis mungkin.
“Aku pergi dulu, ya!” pamit Delana sambil tersenyum. “Selamat tinggal!” ucap Delana sambil menatap mata Chilton.
“Mau ke mana?” tanya Ratu.
“Pulang. Aku ada jadwal ngajar malam ini,” jawab Delana sambil tersenyum.
“Oh. Hati-hati ya, Del!” seru Ratu.
Delana menganggukkan kepala. Ia membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauhi Ratu dan Chilton. Ia langsung menghampiri Belvina dan mengajaknya pergi dari tempat itu.
“Del, kamu baik-baik aja?” tanya Belvina saat mereka berada di perjalanan pulang.
Delana menganggukkan kepala. “Aku baik-baik aja dan ngerasa lebih baik,” ucapnya sambil tersenyum.
“Syukur, deh!” Belvina langsung melajukan sepeda motornya kembali ke asrama.
Delana langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur begitu sampai di rumah. Hari ini ia merasa lebih lega karena akhirnya bisa mengucapkan selamat tinggal pada Chilton.
Delana melirik jam yang ada di dindingnya. Sebentar lagi jadwal ia mengajar les dan ia harus bersiap-siap.
Tiba-tiba, suara ribut dari kamar Bryan membuyarkan lamunan Delana. Ia bisa mendengar kalau Bryan dan Alan sedang bermain game online. Ia sama sekali tak bersemangat untuk menyapa mereka. Ia lebih memilih untuk segera bersiap dan pergi ke tempat kursus.
“Mau ke mana?” tanya Alan saat melihat Delana sudah rapi dan bersiap keluar dari rumahnya.
“Ke tempat kursus.”
“Jam segini? Pulangnya jam berapa?”
“Iya, ada kelas malam. Jam sembilan baru pulang.”
“Mau aku antar?” tanya Alan.
Delana tersenyum menatap Alan. “Nggak usah. Kalo kamu lapar, pesan makanan online aja ya! Aku nggak sempat masak.”
“Nggak usah! Aku antar kamu sekalian cari makan di luar.”
“Hmm ... ya udah kalo kamu maksa,” sahut Delana.
“Aku nggak bawa mobil. Bisa pake mobil Oom Harun?” tanya Alan.
“Pake motor aja, gimana?” tanya Delana.
“Malam, Del. Dingin!”
“Pake jaket, pake helm! Nggak usah manja, deh!”
“Aku nggak bawa jaket.”
“Pinjam punya Bryan!” perintah Delana.
Alan memutar bola matanya. Ia masuk ke kamar Bryan dan meminjam jaket miliknya.
Dengan cepat Alan menyambar kunci motor dari tangan Delana. Mereka sama-sama menuruni anak tangga.
“Lan, apa kamu pernah jatuh cinta?” tanya Delana sambil menuruni anak tangga.
“Cinta?” Alan menaikkan kedua alisnya. “Aku rasa semua orang pernah mengalaminya.”
“Apa kamu pernah jatuh cinta, kemudian benci?” tanya Delana lagi.
“Cinta dan benci itu perasaan emosi yang sama. Keduanya sulit untuk dibedakan. Hari ini kamu bisa cinta sama seseorang, tapi dalam hitungan detik kamu bisa tiba-tiba membencinya. Begitu juga sebaliknya.” Alan menaiki sepeda motor Delana. Memakai helm dan menyalakan mesin motor Delana.
Delana menghela napas. Ia juga ikut mengenakan helm dan langsung duduk di belakang punggung Alan.
Alan mengendarai sepeda motor perlahan-lahan. “Kalo menurut kamu, cinta sejati itu ada atau nggak sih?” tanya Delana lagi.
“Ada. Tapi, nggak semua orang mampu menemukan cinta sejatinya.”
“Kenapa?” tanya Delana.
“Cinta sejati selalu diuji dengan rasa sakit. Supaya tahu bagaimana kuatnya cinta yang kamu miliki. Terkadang, kita nggak sadar kalo cinta sejati itu sudah ada di sekitar kita. Hanya saja, sulit untuk melihatnya karena tak semua orang bisa mengikuti kata hatinya.”
Delana mengeratkan pelukannya pada pinggang Alan. “Tapi, kenapa semua orang menikah? Bukankah pada akhirnya mereka menemukan cinta sejatinya?” tanya Delana.
“Tidak semua orang menikah karena cinta.”
“Oh, ya?”
“Ada yang menikah karena kepentingan lain.”
Delana melirik ke atas. Ia berpikir tentang bagaimana seseorang memilih menikah karena materi, karena pilihan keluarga atau hal lainnya. Ada juga yang pada akhirnya harus memilih berpisah karena menikah bukan karena benar-benar cinta.
“Kamu lagi jatuh cinta sama seseorang?” tanya Alan sambil tersenyum menatap Delana lewat kaca spion.
“Aku rasa begitu.”
“Kenapa nggak yakin gitu?” tanya Alan sambil mengernyitkan dahinya.
Delana menghela napasnya. “Karena dia lebih memilih cewek lain,” tutur Delana lirih. “Dia pergi di saat aku merasa jadi orang yang paling dicintainya.” Delana menyandarkan kepalanya ke punggung Alan.
Alan menggoyang-goyangkan bahunya. “Jangan nangis! Jelek tahu!”
Delana mengangkat kepalanya. “Aku nggak nangis.”
“Bibir memang diciptakan untuk berbohong,” ucap Alan sambil tersenyum pada bayangan Delana yang ada di kaca spion.
Delana tersenyum. Ia dan Alan sudah saling mengenal sejak mereka masih bayi. Ia tak mungkin bisa berbohong pada saudaranya itu.
“Tempat kursusmu di mana?” tanya Alan.
“Media Belajar.”
“Oh.” Alan langsung membelokkan sepeda motornya menuju tempat kursus Delana yang sudah dekat.
“Kamu tahu tempatnya?” tanya Delana.
“Kalo masih di kota ini aja, nggak ada tempat yang aku nggak tahu,” jawab Alan sambil tersenyum.
“Lan, abis ngajar. Kita ke Gunung Dubs sebentar, yuk!” ajak Delana.
“Mau ngapain?” tanya Alan.
“Mau lihat bintang.”
Alan tersenyum. “Oke.”
Sesampainya di tempat kursus. Delana langsung masuk ke dalam gedung. Sementara Alan menunggunya di parkiran karena jadwal Delana mengajar hanya satu jam saja.
Satu jam kemudian ...
Alan memenuhi janjinya untuk menemani Delana melihat bintang dari ketinggian Gunung Dubs.
Alan dan Delana duduk di atas rumput yang terbentang luas dan rapi. Di atasnya, bertaburan bintang-bintang. Tepat di hadapan mereka, kerlip lampu kota terlihat begitu indah dihiasi dengan cahaya lautan yang berkilau tertimpa cahaya rembulan.
Delana teringat beberapa waktu lalu saat ia memandang bintang-bintang bersama Chilton. Cowok iru mewujudkan keinginannya untuk bisa melihat bintang dari tempat ini.
“Kamu punya kenangan sama seseorang di sini?” tanya Alan ketika melihat Delana tersenyum sambil menatap bintang-bintang. Ia tahu kalau Delana sedang memikirkan hal bahagia, entah bersama siapa ...
“Kenang dengan tenang ...” ucap Delana sambil memejamkan tangan dan merentangkan kedua tangannya. Ia menghirup napas dalam-dalam dan merasakan dingin malam menusuk tulangnya. Ia merasa, isi kepalanya lebih dingin dari biasanya.
***
Chilton merebahkan tubuhnya di atas kasur setelah ia sampai di rumah mamanya. Ia masih tak bisa mengerti dirinya sendiri, ia kini sudah memiliki seorang pacar yang cantik, baik dan perhatian. Lalu, kenapa Delana masih terus ada dalam pikirannya?
Chilton bangkit dari tempat tidurnya dan melangkahkan kaki menuju balkon di belakang rumahnya. Ia berdiri sembari menatap bintang-bintang dan lampu kota yang berkilauan.
Delana sangat suka dengan suasana malam di tempat ini. Ia bisa mengingat bagaimana wajah Delana tesenyum ceria di sana.
Chilton memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam. Ia bisa melihat wajah Delana sedang tersenyum di antara bintang-bintang. “Del, kenapa kamu begitu sulit dilupakan?” bisiknya dalam hati.
“Belum tidur?”
Chilton langsung membalikkan tubuhnya ke arah sumber suara. “Mama? Belum tidur?” tanya Chilton.
Astria tersenyum ke arah Chilton. “Gimana bisa tidur kalau Mama tahu anak Mama pulang tanpa menyapa Mama sekali?”
Chilton tertawa kecil. “Sorry ...!”
Astria tersenyum. Beberapa waktu lalu, ia merasakan anaknya begitu hangat. Tapi, kini pria yang selama ini menemaninya kembali dingin.
“Udah lama nggak pulang?” tanya Astria.
“Banyak tugas.”
“Oh. Udah makan?” tanya Astria.
“Udah.”
Astria menghela napas. Ia tak tahu lagi apa yang harus ditanyakan pada anaknya jika Chilton bersikap dingin.
“Kemarin Mama ketemu Mahesa dan dia nanyain kamu,” tutur Astria.
Chilton menaikkan kedua alisnya. “Mahesa? Di udah di sini?”
Astria menganggukkan kepala sambil tersenyum. “Hubungi dia kalo kamu sudah ada waktu!” pinta Asrria.
Chilton menganggukkan kepala. Ia membalikkan tubuhnya menatap bintang-bintang. Mereka terdiam selama beberapa menit.
“Gimana kabar Dela?” tanya Astria.
“Eh!?” Chilton langsung menatap mamanya. Ia tak tahu apa yang harus ia bicarakan tentang Delana. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan tersenyum kecil. “Aku ngantuk. Selamat malam, Ma!” ucap Chilton sambil mengecup pipi mamanya. Ia langsung bergegas pergi meninggalkan Astria agar tak semakin banyak mendapatkan pertanyaan.
Chilton meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja dan langsung menelepon kekasihnya.
“Udah tidur?” tanya Chilton begitu panggilannya tersambung.
“Baru mau tidur,” jawab Ratu ujung telepon.
“Baguslah. Jangan tidur malam-malam!”
“Iya, Sayangku ...”
Chilton tersenyum. “Good night!”
“Night too ...”
Chilton langsung mematikan sambungan teleponnya. Ia merebahkan tubuhnya sembari menatap langit-langit kamar. Ia sudah berusaha melakukan banyak hal untuk menyenangkan kekasihnya. Tapi, status yang ia miliki tak membuat hari-harinya menjadi lebih baik. Sebab, masih ada bayangan lain yang menghantui setiap malamnya.
***
Ratu menari-nari bahagia sambil memasuki kamarnya. Ia menatap Belvina yang sedang duduk santai sambil bermain game online di atas tempat tidurnya.
“Hai, Bel!” sapa Ratu dengan ceria.
“Hai ...!” balas Belvina tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.
“Nggak jalan, Bel?” tanya Ratu.
“Udah pulang.”
Ratu manggut-manggut tanda mengerti. “Temen kamu yang artis itu jarang banget kelihatan.”
“Ivo?” tanya Belvina.
“Iya.”
“Sibuk dia.”
“Oh.”
“Abis jalan sama Chilton?” tanya Belvina.
“Ya iya, dong. Namanya juga punya pacar,” tutur Ratu sambil tersenyum.
Belvina tersenyum sinis. Entah kenapa ia sama sekali tidak merasa senang melihat Ratu bersama Chilton. Ia lebih senang kalau sahabatnya yang menjadi pacar cowok tampan di kampusnya itu.
Ratu membuka kotak berisi barang belanjaan yang baru ia beli. Ratu adalah salah satu mahasiswi yang suka memamerkan barang-barang bermerek miliknya. Ia baru saja membeli sebuah tas bermerek dan langsung memamerkan ke teman-teman di asramanya.
“Lihat, tas aku bagus kan?” tanya Ratu sambil memutar tubuhnya.
“Wah, keren banget! Ini asli ya?”
“Iya, dong.”
“Berapa harganya, Rat?” tanya salah satu teman asramanya.
“Ah, nggak enak mau nyebutin harga. Ntar dikira sombong pula.”
“Aku tahu harga tas aslinya seberapa. Sekitar dua ratus dolar,” sahut penghuni asrama yang lain.
“Wah, ini import ya? Lihat, dong!” Salah satu siswi langsung menyambar tas milik Ratu. Ia memerhatikan tas tersebut dengan seksama.
Ratu tersenyum bangga melihat teman-temannya menyukai tas baru yang dibelinya.
“Ini kw ya?” tanya salah satu teman asrama yang sedang memegang tasnya.
“Kok, kw sih?” dengus Ratu sambil menyambar tas miliknya.
“Hah!? Seriusan ini barang palsu?”
“Iya. Yang asli nggak kayak gitu.”
“Sok, tahu! Kamu nggak pernah pake barang mahal, makanya nggak bisa bedain mana barang asli dan palsu,” tutur Ratu kesal.
“Dilihat dari jauh aja kelihatan kalo ini barang palsu!”
“Curiga, beli tasnya sambil merem. Makanya nggak bisa bedain barang asli sama palsu.”
Teman-teman yang lain tertawa.
Teman asramanya tersenyum sinis. “Apa kamu pikir, kamu adalah orang paling kaya di kampus ini?”
“Huu ... tas kw ngaku-ngaku asli!” seru mahasiswi lainnya dan langsung disambut oleh teriakan teman-teman lainnya.
Ratu menahan kesal karena ada teman yang membocorkan kalau tas yang dibelinya adalah barang palsu.
“Ada apa ini?” tanya Delana yang tiba-tiba muncul di asrama.
“Ini, Del. Ada cewek yang ngaku-ngaku beli tas mahal. Ternyata tas kw!” seru teman asramanya sambil tertawa.
“Enak aja! Aku nggak suka beli barang kw. Ini mahal tau!” sahut Ratu.
“Halah ... paling harga dua ratus ribu doang,” sahut Belvina.
“Dua ratus ribu mah mahal buat kita. Biasanya beli tas di pasar yang harga dua puluh ribuan,” sahut lainnya.
“Lihat tuh tasnya Dela!” Belvina menunjuk tas Delana dengan dagunya. Membuat suasana semakin memanas.
Delana langsung menyembunyikan tas miliknya ke belakang punggung.
“Tasnya Dela tuh asli. Dia nggak pernah sepamer kamu,” dengus salah satu teman asramanya.
“Ah, kalian bisa aja. Ini bukan tas asli, kok. Aku mana mampu beli tas mahal,” sahut Delana.
“Del, kita tuh nggak buta. Semua tahu siapa kamu,” sahut teman asrama lain.
“Eh!? Stop!” Delana mencegah teman asrama lainnya berbicara macam-macam.
“Udah, Del. Biar orang sombong kayak dia tuh sadar kalo yang apa yang dia punya itu nggak ada apa-apanya dibanding sama apa yang kamu punya.”
Ratu mendengus kesal. Ia tak menyangka kalau akan dipermalukan seperti ini.
“Dasar pembualan!”
Suasana semakin ribut, Delana terdiam sambil memikirkan cara untuk membuat suasana kembali kondusif.
((Bersambung...))
.png)
0 komentar:
Post a Comment