Tuesday, October 7, 2025

THEN LOVE BAB 29 : SAMA-SAMA PENCEMBURU

 


“Del, saya minta tolong dampingi anak-anak untuk ikut lomba ya! Sekalian untuk penilaian kemampuan mereka,” tutur pemilik tempat kursus begitu Delana masuk ke dalam ruangannya.

“Iya, Bu,” jawab Delana sambil menganggukkan kepala.

“Kamu sama siapa, ya?”

“Sendiri saja bisa, Bu. Cuma dampingi anak-anak saja kan?” tanya Delana balik.

“Iya. Tapi, ada beberapa anak yang belum punya SIM. Jadi, mereka nggak bisa bawa kendaraan sendiri.”

“Jadi?”

“Kamu cari sewaan mobil, ya!” perintah pemilik kursus. “Saya kasih dana operasional,” lanjutnya.

“Cari di mana kalo dadakan kayak gini?” tanya Delana bingung.

“Temen kamu ada yang punya mobil 'kan?”

Chilton maksudnya?” tanya Delana.

“Ah, Ibu mah nggak tahu. Siapa aja, dah!”

“Chilton ada mobilnya, tapi dia jadwalnya ngajar kelas tujuh deh kayaknya bu,” tutur Delana.

“Saya suruh guru lain gantiin dia. Bisa panggil dia ke sini?”

“Bisa, Bu.” Delana bangkit dari tempat duduknya dan bergegas mencari Chilton yang sedang mengajar kursus Bahasa Inggris untuk kelas tujuh.

“Chil ...!” panggil Delana dari pintu kelas.

“Ada apa, Bu Dela?” tanya Chilton formal.

“Dipanggil ke ruangan Bu Bos!” tutur Delana.

“Oke. Sebentar, ya! Saya kasih tugas untuk anak-anak dulu.”

Delana menganggukkan kepala. Ia menunggu Chilton menyelesaikan memberi tugas untuk anak didiknya.

“Ada apa, sih?” tanya Chilton pada Delana begitu ia keluar dari ruang kelasnya.

“Ikut aja!” perintah Delana bergegas melangkahkan kaki ke dalam ruang kerja pemilik tempat kursus tersebut.

“Hei ... silakan duduk!” perintah pemilik kursus begitu melihat Delana dan Chilton masuk.

“Ada apa, Bu?” tanya Chilton tanpa basa-basi.

“Bisa temenin Delana dampingi anak-anak lomba sekarang?”

“Sekarang? Kok, dadakan? Saya masih ada jadwal tiga jam lagi,” jawab Chilton.

“Nanti akan diganti dengan guru lain. Saya butuh kamu untuk mengantar anak-anak. Kamu punya mobil 'kan?”

Chilton menganggukkan kepala. “Punya, Bu. Tapi, saya ke sini bawa motor.”

“Rumah kamu di mana?”

Gunung Dubs.”

“Dekat. Ambil, ya!” perintahnya.

Chilton menganggukkan kepalanya. “Kenapa dadakan sih, Bu?” celetuknya.

“Saya lupa.”

Ah, gila! Lupa!?” batin Chilton dalam hatinya.

“Ya sudah, sekarang kalian bersiap! Sepertinya anak-anak juga sudah bersiap.”

Delana dan Chilton menganggukkan kepala dan bergegas keluar dari ruangan pemilik kursus tersebut.

“Kenapa dadakan banget!” gerutu Chilton.

Delana mengedikkan bahunya.

“Temenin aku, yuk!” ajak Chilton.

“Ngapain?”

“Ambil mobil, lah.”

“Oh. Oke.” Delana mengikuti langkah Chilton menuju parkiran. Di sana, ada motor Chilton yang terparkir rapi bersama dengan kendaraan yang lainnya.

“Kamu ganti motor?” tanya Delana melihat motor yang digunakan Chilton bukan lagi motor Ninja yang biasa ia pakai.

Chilton meringis. “Lagi pengen pake yang ini. Ini motor dari zaman  aku masih SMP. Sampe sekarang tarikannya masih enak banget,” jelas Chilton.

“Oh, Oke.” Delana langsung menaiki motor bebek yang dikendarai Chilton. Mereka bergegas pergi ke rumah Chilton untuk mengambil mobil pribadinya.

“Masuk dulu?” tanya Chilton.

“Ada siapa di dalam?” tanya Delana balik.

“Nggak ada siapa-siapa.”

“Aku tunggu di sini aja!” pinta Delana sambil duduk di kursi teras rumahnya.

“Oke. Tunggu, ya!” Chilton bergegas masuk ke dalam rumah untuk membuka pintu garasi rumah yang terkunci dari dalam.

Beberapa menit kemudian, Chilton sudah mengeluarkan mobilnya dari halaman rumah. Ia segera mengunci kembali garasi dan pintu rumahnya.

“Ayo!” ajak Chilton pada Delana. “Eh, aku tunggu kamu di luar. Minta tolong kunciin pagar rumahku nggak papa 'kan?” tutur Chilton sambil mengulurkan kunci yang ada di tangannya.

Delana tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

Chilton langsung masuk mobil dan mengeluarkan mobilnya dari halaman rumah. Sementara Delana mengikuti di belakangnya. Terlebih dahulu mengunci pintu pagar rumah Chilton dan melangkah mendekati mobil.

Chilton menatap Delana dari kaca spion sambil tersenyum licik. Tiba-tiba di otaknya muncul ide jahil. Ia menginjak pedal gas saat Delana meraih handle pintu mobil.

Delana kesal karena beberapa kali Chilton melakukannya. “Chilton ...!” teriak Delana.

Chilton tertawa terbahak-bahak melihat Delana yang terlihat kesal.

Delana langsung menarik handle pintu dengan cepat dan masuk ke dalam mobil. “Jahil banget, sih!” dengus Delana sambil memukul lengan Chilton.

Chilton masih berusaha menghabiskan sisa tawanya. Ia memegangi perut karena geli. Baru kali ini ia merasakan tertawa lepas karena bisa mengerjai Delana.

“Udah! Jangan ketawa terus! Kasihan anak-anak udah nungguin kita!” pinta Delana.

“Siap, Bu Bos!”

“Bu Bos apaan!?” sahut Delana tersipu malu. Bagi anak muda di daerahnya, panggilan Bu Bos adalah panggilan sayang untuk seorang pasangan. Pipi Delana menghangat ketika Chilton memanggilnya dengan panggilan itu.

Chilton tersenyum kecil menatap Delana, kemudian melajukan mobilnya ke tempat mereka mengajar. Di sana, beberapa murid sudah menunggu kedatangan Chilton dan Delana.

“Kakak lama, ya?” sapa Delana saat turun dari mobil.

“Enggak, kok, Kak,” jawab anak-anak serempak.

“Yang lain udah berangkat?” tanya Delana.

“Sudah, Kak.”

“Ya udah. Ayo cepet masuk!” pinta Delana.

Lima orang muridnya langsung masuk ke dalam mobil satu persatu.

“Udah siap?” tanya Delana pada murid-muridnya.

“Udah, Kak.”

“Berdoa dulu!” pinta Delana. Ia memperbaiki posisi duduknya. Ia menghela napas sambil memejamkan mata, berdoa yang terbaik untuk anak-anak muridnya.

Beberapa menit kemudian, mereka sudah tiba di gedung kesenian. Tempat diadakannya event lomba-lomba untuk murid-murid SMA.

“Kenapa acaranya di Gedung Kesenian, ya? Biasanya di Dome,” tutur Delana saat murid-muridnya mulai turun dari mobil satu persatu.

“Full kali di sana. Banyak juga yang sewa gedung buat acara.”

“Mmh ... iya, juga sih.”

“Fasilitasnya juga bagus ini kali. Ini kan masih terbilang baru gedungnya,” tutur Chilton.

“Bisa jadi.”

“Ada pagelaran seni juga. Mereka ikut lomba apa aja sih?” tanya Chilton begitu semua muridnya sudah ada di luar mobil.

“Ada yang ikut lomba cerdas cermat, ada juga yang ikut kesenian deh kayaknya. Lomba cipta lagu sama lomba ngelukis gitu kayaknya,” jawab Delana. Ia merogoh tasnya untuk melihat catatan yang diberikan oleh pemilik tempat kursus. “Bentar aku cek,” tutur Delana sambil memerhatikan tulisan yang ada di atas kertas.

Chilton tertawa kecil melihat tingkah Delana. “Nggak usah segitunya juga. Tanyain aja mereka satu-satu! Mereka kan udah gede, nggak mungkin harus diatur atau ditemenin masuk,” tutur Chilton.

“Iya, juga sih.”

“Kita lihat dari luar aja. Sambil nikmatin pemandangan.”

“Oke. Turun, yuk!” ajak Delana.

Chilton langsung melepas safety belt dan turun dari mobil.

Delana menghela napas. Ia mengingat beberapa waktu lalu, betapa romantisnya sikap Chilton yang selalu membukakan pintu untuknya. Kali ini, ia memang terlihat ramah tapi tak seromantis beberapa hari yang lalu. Delana rindu saat-saat itu. Saat Chilton memperlakukan dirinya seperti wanita paling spesial dalam hidupnya.

Delana membuka pintu mobil perlahan. Ia menghampiri Chilton yang sudah menunggunya untuk masuk ke dalam gedung.

Delana memerhatikan beberapa orang yang ia lewati. Banyak cowok tampan di acara ini dan dia senang sekali dengan pemandangan seperti ini. Rasanya, matanya bisa lebih jernih ketika melihat banyak cowok tampan di depannya.

“Heh!?” Chilton mengusap wajah Delana yang melongo menatap cowok tampan yang melintas di depan mereka.

Delana gelagapan dan menepis tangan Chilton.

“Kamu suka lihat cowok-cowok ganteng?” dengus Chilton.

“Iya. Aku kan masih normal.”

“Emangnya aku masih kurang ganteng apa?” gumam Chilton lirih.

“Apa?” tanya Delana yang tidak bisa mendengar gumaman Chilton.

“Nggak papa. Kita nunggu anak-anak di mana?” tanya Chilton.

“Di situ aja!” Delana menunjuk salah satu kursi tunggu yang ada di dalam gedung.

“Ayo!” Chilton menarik lengan Delana untuk memasuki gedung.

Delana dan Chilton duduk berdampingan di ruang tunggu. Sementara anak-anak didik mereka mulai sibuk mempersiapkan keperluannya masing-masing.

“Jangan lupa berdoa, semangat!” seru Delana ceria.

Anak-anak menanggapi dengan senang hati. Mereka bersiap memasuki ruangan untuk segera mengikuti perlombaan.

“Kakak nggak ikut masuk?” tanya salah seorang murid.

Delana menggelengkan kepalanya. “Kami tunggu di sini. Kasih kabar baik untuk kami, ya!” pinta Delana.

“Oke, Kak.”

Murid-murid Delana memasuki ruangan satu persatu. Delana mengela napas, ia berdoa dalam hati semoga anak-anak muridnya menjadi juara dalam kompetisi tersebut.

Delana menoleh ke arah cowok tampan yang baru saja keluar dari ruangan. Sepertinya cowok itu bagian dari panitia. Terlihat ia memakai tanda pengenal. Delana terus memerhatikan cowok tampan itu. Rambutnya yang hitam, kulit putih, berbadan tinggi dan bibirnya yang berwarna merah jambu membuat Delana kagum. Ia suka melihat cowok-cowok tampan. Ia tak ingin melewatkan pemandangan menarik di hadapannya itu.

“Del ...!” sentak Chilton.

“Eh ... oh ... eh ... kenapa?” tanya Delana gelagapan.

“Dipanggilin dari tadi malah ngelamun. Kamu suka sama cowok itu?” tanya Chilton.

Delana tersenyum. “Aku sudah bilang, cewek suka sama cowok ganteng itu wajar. Artinya, mataku masih normal.”

“Nggak sampe segitunya juga ngelihatin!” tutur Chilton ketus.

“Kamu kenapa? Sensi amat? Cemburu?” tanya Delana.

Chilton gelagapan dan tidak bisa mengeluarkan suara dari mulutnya. Kalau dia bilang cemburu, Delana pasti akan besar kepala. Ingin bilang tidak cemburu, tapi kenyataannya dia kesal melihat tingkah Delana yang memerhatikan beberapa cowok tampan di sekitarnya. “Apa aku sudah nggak cakep lagi di mata dia?” batin Chilton sambil melirik Delana yang ada di sampingnya.

Chilton berusaha untuk bersikap biasa. “Del, kalau seandainya hari itu yang kamu lihat pertama kali bukan aku, apa kamu bakal sebaik ini juga sama cowok-cowok lain yang ganteng?” tanya Chilton.

Delana bengong mendengar pertanyaan dari Chilton. Ia tidak menyangka kalau Chilton akan bertanya seperti itu.

“Nggak bisa jawab?” tanya Chilton lagi karena Delana masih bergeming.

Delana menatap wajah Chilton serius. “Chil, aku suka kamu bukan cuma karena kamu tampan. Tapi, karena kamu baik dan mau ngasih aku kesempatan buat deket sama kamu. Kamu yang ngasih aku kesempatan buat hadir dalam hari-harimu. Buat ngebuktiin kalo aku serius suka sama kamu.”

“Apa kamu juga bakal lakuin ini ke cowok lain yang lebih tampan? Andai kita tidak pernah mengenal?” tanya Chilton.

Delana bergeming. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Chilton. Ia merasa, pertanyaan Chilton sungguh menyayat hatinya. Bagaimana bisa Chilton berpikir seperti itu setelah sekian lama mereka menghabiskan waktu bersama?

“Nggak usah dijawab! Aku ngerti, kok,” tutur Chilton.

Delana memejamkan mata sambil menghela napas. Ia tidak ingin banyak berdebat dengan Chilton hanya karena masalah kecil seperti ini. Ia lebih memilih untuk diam walau dalam hati ia memaki dirinya sendiri.

“Kamu haus, nggak?” tanya Chilton.

Delana menggelengkan kepala.

“Aku haus. Mau cari minum.” Chilton bangkit dari tempat duduknya.

“Aku bawa minum.” Delana tersenyum sambil menunjukkan botol mineral yang ia ambil dari dalam tasnya.

Chilton duduk kembali dan langsung menyambar botol mineral dari tangan Delana. Ia tersenyum dalam hati. Hal yang paling ia suka dari Delana adalah kemandiriannya. Ia selalu mempersiapkan segala hal sebelum bepergian.

“Mau?” Delana menyodorkan kotak kecil berisi cokelat.

Chilton mengernyitkan dahinya. “Kapan kamu beli cokelat? Bukannya dari tadi kita barengan terus?”

“Aku bawa dari rumah. Ini bikin sendiri,” jawab Delana.

“Bikin sendiri?”

“Iya. Nggak percaya?” tanya Delana balik.

“Percaya,” jawab Chilton sambil menyomot satu cokelat dan memasukkannya ke dalam mulut.

“Katanya, makan cokelat bisa bikin suasana hati jadi lebih baik,” tutur Delana.

“Emangnya suasana hatiku buruk?” tanya Chilton ketus.

“Kelihatannya begitu,” jawab Delana sambil tersenyum.

Chilton tersenyum kecut membalas senyuman Delana.

Mereka tak saling bicara selama beberapa saat. Sibuk dengan ponselnya masing-masing.

Setengah jam kemudian, murid-murid sudah berhamburan keluar ruangan. Mereka langsung menghampiri Delana dan Chilton.

“Hei ... gimana? Dapet juara nggak?” tanya Delana.

“Aku dapet juara tiga!” seru anak yang mengikuti lomba cerdas cermat matematika.

“Aku juara satu, Kak!” seru anak yang mengikuti lomba berpidato Bahasa Inggris.

“Yang lain?” tanya Delana memerhatikan wajah murid-muridnya satu persatu.

Mereka hanya menundukkan kepala. Tak berani menjawab pertanyaan dari Delana.

Delana menghela napas. Ia mengerti perasaan anak-anak muridnya. “Udah, jangan sedih walau belum jadi juara. Jadikan pengalaman aja ya! Semangat!” seru Delana.

“Kalau yang lomba seni belum diumumin, Kak.”

“Oh, ya? Kapan diumuminnya?” tanya Chilton.

“Katanya sih sebentar lagi. Jurinya masih penilaian.”

“Oh, ya udah. Kita tunggu di sini aja.”

“Iya, Kak.” Murid-murid didik Delana dan Chilton langsung duduk di lantai, tepat di bawah mereka.

“Kenapa duduk di situ?” tanya Delana.

“Kursinya kan nggak cukup, Kak. Lagian enak lesehan kayak gini.”

Delana tersenyum menatap murid-muridnya itu.

“Di sini ada kantinnya nggak, ya?” tanya salah seorang murid. “Aku haus banget!”

Delana memeriksa tasnya dan hanya punya satu botol air mineral. “Ada kantin di bawah. Beli minum, gih! Sekalian buat temen-temen kamu!” pinta Delana sambil memberikan uang pada muridnya.

“Beli berapa, Kak?” tanya Randi.

“Kalian berapa?” tanya Delana balik.

“Dua belas, Kak.”

“Beli dua belas kalo gitu. Sama snack, ya!” pinta Delana.

Randi menganggukkan kepala. Ia bergegas pergi ke kantin mengajak beberapa teman untuk menemaninya.

“Gimana tadi perasaannya di dalam?” tanya Delana.

“Tegang banget, Kak!” sahut mereka.

“Sekarang udah lega, kan?” tanya Delana.

Murid-muridnya menganggukkan kepala.

“Kak ... Kak Dela sama Kak Chilton serasi banget. Cantik sama ganteng. Kenapa nggak pacaran aja sih?” tanya Sarah, salah satu murid SMA Delana.

Delana mengangkat kedua alisnya sambil tertawa kecil. Sementara Chilton bergeming, wajahnya dingin. Sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apa pun.

“Iya, Kak. Kalo Kak Dela nggak mau sama Kak Chilton, aku mau, kok,” sahut murid cewek yang lain.

Chilton tertawa kecil mendengar celetukan muridnya. Ia menyondongkan badannya menatap murid-murid yang ada di depannya. “Emangnya kamu belum punya pacar?” tanya Chilton.

“Belum, Kak. Kan aku nunggu Kakak.”

“Nunggu apaan!?” sahut Delana sambil melempar sepotong cokelat ke arah murid yang sedang menggoda Chilton.

“Ciyee ... Kak Dela cemburu!” seru mereka serentak.

Wajah Delana merah padam begitu mendengar seruan murid-murid yang ada di depannya. Ia hanya tertawa kecil. Perasaannya makin tak karuan karena terus digoda oleh murid-murid SMA-nya.

“Udah! Jangan olokin Kak Dela terus! Kasihan tuh pipinya udah merah kayak udang rebus,” tutur Chilton.

“Eh!?” Delana menyentuh pipinya yang menghangat. Ia semakin malu. Ia bangkit dari tempat duduknya.

“Mau ke mana, Kak?” tanya Sarah.

“Ke toilet sebentar,” jawab Delana dan langsung bergegas pergi ke toilet. Ia benar-benar gugup. Murid-muridnya memang kerap kali menggoda dan membuatnya salah tingkah.

Delana menatap dirinya di depan cermin. Ia membasahi wajahnya berkali-kali agar lebih rileks.

Sementara itu murid-muridnya cekikikan di depan Chilton begitu Delana pergi ke toilet.

“Emang bener Kakak sama dia cocok?” tanya Chilton.

“Banget!” seru murid-muridnya.

“Kak Dela di mata kalian seperti apa?”

“Cantik.”

“Baik.”

“Ramah.”

“Perhatian dan sayang sama kita-kita!” seru murid-muridnya sambil tertawa ceria.

Chilton tersenyum. Pribadi Delana memang sangat menyenangkan dan membuatnya merasa bahagia. Tapi, Delana juga mudah menyukai cowok lain apalagi cowok-cowok tampan. Bisa saja Delana meninggalkan dirinya ketika ia bertemu dengan cowok lain yang lebih tampan.

“Eh, Kakak boleh tanya lagi, nggak?” tanya Chilton sambil menatap pintu toilet untuk memastikan Delana belum keluar dari toilet.

“Apa, Kak?” sahut murid-murid serentak.

“Menurut kalian, di tempat les ada nggak cowok-cowok yang ganteng selain Kakak?” tanya Chilton.

“Emangnya Kak Chilton ganteng?” sahut Sarah sambil tertawa.

“Emang nggak ganteng, ya?” tanya Chilton sambil mengernyitkan dahinya.

“Ganteng banget, Kak!” sahut murid-murid serempak sambil tertawa.

Chilton menghela napas. “Ngomong sama kalian emang nggak bisa serius,” celetuknya sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Eh, si Randi datang!” seru Sarah sambil merapikan rambutnya. Beberapa murid juga terlihat memperbaiki posisi duduknya.

Chilton mengernyitkan dahi begitu melihat reaksi cewek-cewek remaja saat Randi menghampiri mereka. Ia baru menyadari kalau salah satu murid lesnya memang sangat tampan. Entah kenapa, cowok-cowok tampan yang ada di sekelilingnya menjadi ancaman bagi Chilton. Ia merasa Delana akan mempermainkan perasaannya.

“Kak Dela mana?” tanya Randi.

“Lagi ke toilet.”

“Oh.” Randi langsung membagi-bagikan minuman yang ia beli.

“Kak, ini untuk Kak Dela.” Randi menyodorkan botol minuman ke arah Chilton.

“Dela udah bawa minum sendiri,” jawab Chilton. Tapi ia tetap menerima pemberian dari Randi.

“Itu minuman kesukaan Kak Dela,” tutur Randi.

Chilton mengernyitkan dahinya. Bagaimana bisa muridnya tahu minuman favorite Delana. Ia yang selama ini dekat dengan Delana, tidak tahu sama sekali kalau Delana suka dengan minuman yang sedang ia pegang.

“Kak Dela sering nyuruh kita beliin itu,” jelas Randi. Ia bisa memahami ekspresi wajah Chilton.

“Oh,” jawab Chilton. Ia memperbaiki posisi duduknya. Ia melirik Delana yang berjalan mendekat ke arah mereka.

Beberapa menit kemudian pengumuman yang mereka tunggu pun tiba. Mereka tegang menanti pengumuman.

Delana terus berdoa, ia berharap murid-muridnya bisa menjadi juara di bidangnya masing-masing. Karena, hasil karya mereka juga akan membawa nama baik untuk tempat kursusnya. Kebanggaan tersendiri untuknya ketika bisa mendampingi murid-murid berprestasi.

Satu muridnya berteriak saat namanya disebut sebagai salah satu juara. Delana ikut bereaksi dan langsung memeluk murid cewek yang menjadi juara cipta lagu.

Semuanya merasa senang karena bisa mendapatkan banyak juara dari perwakilan lembaga kursus tempat mereka belajar.

“Yang belum juara, tetap semangat ya! Kalian masih muda, perjalanan masih panjang!” seru Delana.

“Iya, Kak,” sahut mereka tetap ceria. Delana memang bisa memberikan keceriaan untuk murid-muridnya. Ia tidak ingin murid-muridnya yang tidak mendapat juara bersedih.

“Karena kita banyak dapet juara, semuanya Kakak traktir makan!” seru Delana.

“Hore ...!” seru murid-murid sambil meloncat kegirangan.

“Mau makan apa?” tanya Delana.

“Terserah Kakak. Kita mah ikut yang nraktir aja,” jawab Sarah.

“Mmh ... enaknya di mana, ya?” tanya Delana sambil menatap Chilton.

“Makan mie ayam aja, Kak! Kayaknya enak deh dingin-dingin gini makan yang anget-anget,” tutur salah seorang murid.

Delana menatap langit senja. Hari mulai gelap dan cuaca memang terasa sangat dingin.

“Oke, kita ke warung mie ayam!” ajak Delana.

“Warung mie ayam yang mana, Kak?” tanya murid yang membawa motor sendiri.

“Iya, ya? Enaknya di mana, ya?”

“Yang deket tempat les kita aja.”

“Yang selajur pulang lah,” sahut lainnya.

Mie Ayam Lik Min gimana?” tanya Delana.

“Boleh. Di sana enak, kok.”

“Oke. Kita cus ke sana!” seru Delana.

Mereka langsung bergegas menuju parkiran. Murid Delana masuk ke mobil satu persatu. Sementara murid yang membawa motor sendiri sudah mengenakan helm dan bersiap keluar dari parkiran Gedung Kesenian.

“Hati-Hati ... jangan ugal-ugalan bawa motor!” seru Delana.

Murid-muridnya mengacungkan jempol ke arah Delana dan bergegas pergi lebih dahulu.

Delana membuka pintu mobil, masuk dan duduk di kursi paling depan, tepat di samping pengemudi yang sudah bersiap sejak tadi.

“Perhatian banget sama murid-murid ganteng,” celetuk Chilton.

Delana langsung menoleh ke wajah Chilton yang tetap fokus mengeluarkan mobilnya dari parkiran. Ia merasa tidak nyaman dengan celetukan Chilton. Entah kenapa, Chilton semakin membuatnya merasa bersalah hanya karena dia menyukai cowok-cowok tampan. Bukankah itu hal yang normal untuk seorang wanita? Hanya suka saja melihat pemandangan indah, bukan berarti ingin mendapatkannya.

Murid-murid Delana yang duduk di kursi belakang saling pandang. Mereka bisa merasakan perubahan yang terjadi pada Chilton.

“Kak Chilton kenapa?” bisik Sarah di telinga murid lainnya.

Yang ditanya hanya mengedikkan bahu. “Kayaknya cemburu gara-gara Kak Dela banyak disukai cowok ganteng,” balasnya berbisik sambil cekikikan.

“Salah sendiri nggak mau cepet-cepet nembak. Kalo Kak Dela diambil orang duluan, baru tau rasa dia,” sahut yang lainnya sambil berbisik.

“Kalian kenapa bisik-bisik?” tanya Delana.

“Hehehe ... nggak papa, Kak. Kita seneng aja banyak dapet juara dan ditraktir Kak Dela juga,” tutur Sarah sambil tersenyum senang.

“Iya. Makasih ya, Kak!” seru murid yang lainnya serempak.

Delana tersenyum. “Iya.”

Mereka segera bergegas ke warung mie ayam yang mereka maksud. Beberapa murid yang menggunakan sepeda motor sudah sampai terlebih dahulu. Karena rombongan mereka lumayan banyak, mereka membuat suasana warung menjadi riuh dengan celetukan dan candaan mereka.

Delana tersenyum menatap murid-muridnya. Ia merasa bahagia melihat keceriaan mereka. Ia teringat pada masa-masa remaja, masa yang begitu indah dan sulit untuk dilupakan begitu saja. Ada keceriaan, persahabatan, cinta dan kasih sayang di masa-masa yang tidak akan pernah terulang kembali dalam hidupnya.

 

 ((Bersambung ...))



 

 

 

 

 

 

THEN LOVE BAB 28 : ATMOSFER HATI YANG BERBEDA

 


“Bel, mau berangkat kuliah?” tanya Ratu saat melihat Belvina sedang berdiri di depan meja riasnya.

“Iya,” jawab Belvina singkat sambil menyisir rambutnya.

“Pake baju kayak gitu?” dengus Ratu.

“Emang kenapa? Biasanya juga kayak gini,” jawab Belvina santai.

“Wait!” pinta Ratu sambil membka lemari pakaiannya. Ia memilih beberapa dress yang tergantung di lemarinya.

“Coba pake ini!” Ratu melempatkan satu dress berwarna biru bergambar mawar putih.

Belvina menangkap dress itu dan memerhatikannya. Ia mengernyitkan dahi karena tidak terbiasa memakai mini dress seperti yang diberikan Ratu.

“Ini apaan?” tanya Belvina melihat bagian dada dress yang sedikit terbuka.

“Duh, gaul dikit, Bel! Gimana cowok mau naksir kalo kamu sendiri nggak peduli sama penampilan kamu,” tutur Ratu.

“Mmh ...” Belvina berpikir sejenak, kemudian menatap Ratu yang terlihat sangat anggun dan cantik.

“Sini, deh!” Ratu meminta Belvina untuk duduk di kursi meja riasnya. Ratu mengeluarkan kotak berisi make-up lengkap.

“Eh!? Kamu mau apa?” tanya Belvina.

“Udah, diam aja!” pinta Ratu.

Belvina teringat beberapa waktu lalu saat Ivona mengajarinya berdandan. Ia dan Delana terlihat sangat cantik. Tapi, itu hanya bertahan sebentar saja. Belvina lebih suka tampil santai. Yang terlihat sangat berbeda dari masa SMA hanya Delana. Setelah lulus, Delana yang selalu berambut pendek memilih memanjangkan rambutnya hingga sekarang. Semenjak mengenal Chilton, Delana juga mulai merawat dirinya dan terlihat lebih cantik.

Belvina membayangkan wajah Delana yang semakin hari semakin cantik. Mungkin saja, itu karena perawatan rutin yang ia lakukan untuk menjaga tubuhnya tetap segar dan cantik. Ia juga menginginkan dirinya bisa seperti Delana agar banyak cowok tampan yang mendekatinya.

Belvina menatap bayangannya di depan cermin yang sudah dipoles dengan make-up. Kali ini, Belvina terlihat sangat berbeda. Ia tersenyum bahagia melihat bayangannya sendiri. “Ini aku?”  tanya Belvina masih belum yakin pada dirinya sendiri.

Ratu menganggukkan kepala sambil tersenyum. “Aku tata rambut kamu dulu ya!” Ratu mengambil alat dan bahan yang diperlukan untuk menata rambut. Ia menyemprotkan hair spray dan mulai menata rambut Belvina agar terlihat lebih rapi dan manis.

Belvina tersenyum menatap dirinya sendiri. Kalau ia tampil secantik ini, bukan hanya cowok-cowok yang naksir dirinya tapi ia juga jatuh cinta pada dirinya sendiri.

“Udah selesai!” seru Ratu. “Pake bajunya gih!” perintah Ratu.

“Emangnya aku cocok pake baju ginian? Nggak aneh?” tanya Belvina.

“Nggak, lah.”

Belvina menuruti perintah Ratu. Ia mengganti pakaiannya dengan dress yang diberikan Ratu. Ia masih belum yakin kalau dia akan berpakaian se-feminim ini. Dia yang terbiasa mengenakan jeans dan kaos santai, sekarang harus pergi ke kampus mengenakan dress.

“Ini udah semua kan?” Belvina bertanya sambil melirik jam yang ada di dinding kamarnya. Ia takut terlambat masuk ke kelas karena kelamaan berdandan.

“Udah.” Ratu tersenyum sambil memutar-mutar tubuh Belvina untuk memastikan penampilannya kali ini terlihat sempurna. “Eh!?” Ratu menatap bagian kaki Belvina yang sudah mengenakan sepatu kets.

“Kenapa?” tanya Belvina heran.

“Kamu mau pake sepatu kayak gini?” tanya Ratu.

“Iya.”

“Nggak serasi banget sama kamu yang udah kelihatan cantik dan anggun,” celetuk Ratu.

“Aku nyaman kayak gini.” Belvina masih keukeuh dengan pendiriannya.

“Tapi ...”

“Aku nggak bisa pake sepatu high heels. Kalo jatuh, kamu mau tanggung jawab?” dengus Belvina.

Ratu menghela napasnya. “Oke, deh. Nggak terlalu buruk sih. Sekarang juga lagi ngetrend style kayak gini.”

“Oke. Kalo gitu aku berangkat ke kampus dulu!” pamit Belvina. Ia langsung bergegas keluar dari kamarnya.

“Kamu Belvina?” tanya salah satu teman asrama yang melihat Belvina keluar dari kamar.

Ratu hanya tersenyum sambil berdiri di bibir pintu kamar menatap Belvina yang sudah berubah menjadi gadis yang cantik.

Belvina tersenyum menanggapinya.

“Cantik banget! Siapa yang dandanin?” tanya salah satu temannya.

Belvina menoleh ke arah Ratu. “Dia yang dandanin aku,” jawabnya.

“Aku mau juga dong didandanin!” seru teman-teman asrama Belvina.

“Kalian mau juga?” tanya Ratu. Ia merasa, ini adalah kesempatan paling baik untuk bisa merebut hati teman-teman asramanya.

“Mau!” jawab mereka serempak.

“Yang mau, aku tunggu di kamar aku ya!” Ratu mengedipkan matanya.

Teman-teman Belvina berebut ingin didandani oleh Ratu. Mereka belajar cara berdandan, mengenakan pakaian yang baik dan menata rambut. Teman-teman asrama mulai menerima kehadiran Ratu dan dengan senang hati bercanda ria dengan Ratu.

Sementara di kampus, hampir semua cowok terpesona dengan kehadiran Belvina yang terlihat sangat berbeda dari biasanya. Cowok yang tak pernah melirik apalagi menyapanya kini berebut ingin menyapa Belvina terlebih dahulu.

“Eh, itu siapa?” tanya salah satu cowok di kampus yang sedang berkumpul bersama teman-teman lainnya.

“Kayaknya itu Belvina, deh.”

“Temennya Ivona itu?”

“Iya.”

“Kok, cantik banget sekarang?”

“Iya. Gila! Ternyata dia secantik itu. Rasanya pengen kupacarin!” seru para cowok kampus bersahut-sahutan.

Tak hanya cowok-cowok kampus, cewek-cewek di kampusnya juga dibuat pangling dengan penampilan baru Belvina. Mereka tidak menyangka kalau nama Belvina adalah sosok yang ada di balik cewek cantik itu.

“Hai, Del ...!” sapa Belvina saat ia masuk ke dalam kelas.

Delana mengernyitkan dahinya. “Kamu siapa?” tanya Delana heran.

Belvina menoyor kepala Delana. “Kamu nggak ngenalin aku?”

“Astaga! Belvi!?” seru Delana.

Belvina tersenyum manis ke arah Delana sambil memainkan alisnya, gaya tomboy Belvina tetap tidak hilang walau penampilannya seperti bidadari.

“Kenapa jadi kayak gini?” tanya Delana sambil mengamati wajah Belvina.

“Kenapa? Cantik kan?” tanya Belvina balik.

“Cantik, sih. Tapi ....”

“Tapi apa?”

“Aku nggak ngenalin kamu sama sekali,” jawab Delana.

“Yaelah, masa sahabat sendiri malah nggak ngenalin,” celetuk Belvina.

“Kamu beda banget,” sahut Delana. “Siapa yang make over kamu?”

“Ratu,” jawab Belvina sambil tersenyum.

Ratu Sheeva?” tanya Delana terkejut.

Belvina menganggukkan kepala.

Delana hampir saja tertawa terbahak-bahak. Namun, ia berusaha menahannya.

“Kenapa?” tanya Belvi heran melihat reaksi Delana.

“Nggak papa. Heran aja. Kemarin kamu bilang kesel banget sama Ratu. Sekarang malah dengan senang hati didandanin sama dia. Udah nggak kesel dia lagi?”

“Hmm ... dia ternyata baik, kok. Nggak cuma aku aja yang didandanin. Anak-anak asrama yang lain juga dia dandanin. Diajarin pakai make-up dan pilih pakaian yang bener.”

Delana mengangguk-anggukkan kepala.

“Kamu mau belajar dandan juga sama dia?” tanya Belvina.

Delana menggelengkan kepala. Ia sudah belajar dandan dengan Ivona dan dia merasa puas dengan riasan kesehariannya yang tidak terlalu menor. Ia cukup memulas bibirnya dengan lipstik tipis dan memakaikan sedikit baby powder ke wajahnya agar tidak terlihat berminyak.

Belvina bergumam sambil memerhatikan wajah Delana yang terlihat semakin cantik meski dengan riasan sederhana. “Kamu makin hari makin beda. Aku tahu kamu nggak pake make-up tebel. Tapi ...” Belvina mengetuk-ngetuk dagunya.

“Kenapa?” tanya Delana sambil tersenyum.

“Kamu perawatan di salon ya?” dengus Belvina.

Delana tergelak mendengar pertanyaan dari Belvina. “Emang kenapa?” tanyanya. “Kan si Ivo yang ajarin.”

“Hmm ... iya, sih. Kalian mah duitnya banyak. Mau perawatan di salon sehari tiga kali juga masih mampu,” celetuk Belvina.

Delana hanya tertawa kecil menanggapinya. Sebenarnya ia jarang sekali menginjakkan kakinya ke salon. Ia hanya melakukan perawatan sendiri di rumah dan mengonsumsi makanan sehat. Bagi Delana, kesehatan di dalam tubuhnya juga sangat penting.

“Del, si Chilton gimana perkembangannya? Akhir-akhir ini kamu jarang banget cerita soal dia.”

Delana tersenyum kecut. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Belvina. Ia hanya berusaha tersenyum sampai ia yakin kalau hubungannya dengan Chilton baik-baik saja.

“Kalian masih ...?” Belvina menatap Delana serius.

“Udahlah, nggak usah dibahas! Doain aja semuanya bakal baik-baik aja,” pinta Delana.

Belvina tersenyum menatap Delana. “Apapun yang terjadi, kamu tetep harus cerita sama aku!” ucap Belvina sambil mengelus pundak Delana.

Delana menganggukkan kepala sambil tersenyum. Ia merasa bahagia karena punya sahabat sebaik Belvina.

 

***

Delana berjalan menyusuri koridor. Langkahnya terhenti ketika ia sampai di depan ruang serba guna. Di sana, ada beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang sedang berlatih tari. Delana ingin melihatnya sejenak karena kebetulan ia kini mengenal Ratu, salah satu cewek populer di kampusnya.

“Hai, Del ...!” sapa Ratu yang menyadari kehadiran Delana. Ia langsung menghampiri Delana begitu melihat ada Delana di depan pintu.

Delana hanya tersenyum menatap Ratu.

“Kamu ngapain di sini?” tanya Ratu.

“Eh!? Nggak ngapa-ngapain. Cuma mau lihat-lihat kalian latihan nari,” jawab Delana.

“Ikutan, yuk!”

“Hah!? Ikutan apaan?” tanya Delana.

“Ikutan nari, dong!” sahut Ratu. Ia langsung menarik lengan Delana untuk masuk ke dalam ruang serba guna tempat ia dan teman-temannya latihan menari.

“Duh, aku nggak bisa,” tutur Delana. Dengan berat hati ia mengikuti langkah Ratu.

“Nanti juga bisa kalo udah ikut latihan,” tutur Ratu.

“Hai, temen-temen ...!” seru Ratu pada teman-temannya. “Ini temenku, namanya Delana. Pengen ikut latihan nari bareng kita. Gimana?” tanya Ratu.

Delana disambut dengan senang hati oleh teman-teman yang lain. Tapi, Delana sendiri tidak bermaksud untuk belajar menari. Ia hanya mengikuti beberapa gerakan saja, kemudian pamit keluar dari ruangan itu dengan alasan ada keperluan penting.

Delana tidak membenci Ratu. Dari awal, ia hanya tidak terbiasa dengan kehadiran Ratu yang katanya sangat angkuh. Setelah mengenal, ternyata Ratu tidak seangkuh yang diceritakan oleh teman-temannya. Ia terlihat begitu ramah pada Delana dan tidak ada kesan sombong sama sekali.

 

***

“Del, jalan yuk!” ajak Ratu saat Delana sedang berada di kamar asrama.

“Ke mana?” tanya Delana.

“Cari makan. Kafe atau restoran gitu. Kamu biasanya makan di mana?” tanya Ratu.

“Di Ocean’s, gimana?”

“Hmm ... boleh, deh.”

“Jam berapa?” tanya Delana.

“Jam enaman lah kita berangkat. Sampe sana pas jam tujuhan gitu,” jawab Ratu. “Belvi ke mana, ya?” tanyanya.

Delana mengedikkan bahunya.

“Masa sahabat sendiri nggak tahu perginya ke mana?” tanya Ratu.

“Yah, dia juga pasti punya kepentingan lain. Masa iya aku harus buntutin dia mulu kemanapun dia pergi? Kalah emaknya!” cerocos Delana.

Ratu nyengir menanggapi ucapan Delana.

Beberapa menit kemudian, mereka sudah ada di dalam restoran yang mereka inginkan. Delana memesan makanan seperti biasanya.

Ratu mengamati menu yang sudah ada di meja dan memesannya.

“Kamu suka kepiting, Del?” tanya Ratu.

Delana menganggukkan kepalanya.

“Sering makan di sini?” tanya Ratu.

Delana menganggukkan kepala.

“Di sini suasananya enak juga, ya?” tutur Ratu.

“Kamu belum pernah ke sini?” tanya Delana.

“Eh!?” Ratu menatap Delana dan langsung tersenyum. “Pernah, lah, tapi biasanya aku di dalem aja. Belum pernah di tepi pantai kayak gini.”

“Oh.” Delana mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Eh, by the way ... si Ivo ke mana, ya? Aku belum ada lihat dia,” tanya Ratu.

“Kamu kenal Ivo?” tanya Delana.

“Nggak kenal-kenal banget, sih. Tahu aja. Cewek dan cowok populer di sekolah, pasti aku tahu, lah,” jawab Ratu.

Delana hanya tersenyum menanggapinya. Itu artinya, dia juga tahu siapa Chilton? Cowok yang sedang dekat dengannya, karena Chilton adalah salah satu cowok populer yang ada di kampusnya.

“Dela? Kamu makan di sini?” sapa Chilton yang kebetulan melintas di samping Delana.

Delana melongo menatap Chilton. Ia masih belum yakin apakah itu Chilton sungguhan atau hanya Chilton yang ada dalam pikirannya? Kenapa dia langsung muncul begitu Delana memikirkannya.

Delana mengerjapkan matanya agar ia tersadar dari lamunannya. Masih ada Chilton yang sedang menatapnya. “Chilton?” tanyanya sambil mengamati wajah Chilton karena belum yakin kalau laki-laki yang ada di hadapannya adalah Chilton sungguhan.

“Kamu kenapa?” tanya Chilton tergelak. Ia mengusap ujung kepala Delana.

Delana menyentuh kepalanya dan tersadar kalau yang ada di depannya memang Chilton sungguhan. “Ratu, kamu lihat dia?” tanya Delana pada Ratu yang duduk di depannya.

Ratu menahan tawa melihat tingkah Delana. “Lihat,” jawabnya.

Delana langsung menatap Chilton kembali. “Aku pikir kamu−”

“Apa?” sahut Chilton.

Delana menghela napas. “Nggak papa.”

“Aku boleh gabung di sini?” tanya Chilton.

Delana  menganggukkan kepala. “Boleh,” jawab Delana.

Chilton langsung duduk di samping Delana. Ia tersenyum ke arah Ratu yang terus tersenyum ke arahnya.

“Tumben kamu jalan sama yang lain? Belvi mana?” bisik Chilton di telinga Delana.

“Dia lagi ada urusan. Kebetulan aja si Ratu ajak aku makan di sini.”

“Oh.” Chilton menganggukkan kepala. Ia merentangkan lengannya ke belakang kursi Delana. “Udah pesen makan?” tanya Chilton.

“Udah,” jawab Ratu.

Chilton langsung menatap Ratu sambil menaikkan alisnya. Ia tidak asing dengan wajah cewek yang ada di depannya itu. Tapi, rasanya dia tidak pernah dekat dengan cewek manapun selain Delana.

“Kamu siapa, ya? Kok, wajah kamu familiar?” tanya Chilton pada Ratu.

“Aku Ratu Sheeva,” jawab Ratu.

“Ratu?” tutur Chilton sambil mengangguk-anggukkan kepala. Ia berusaha mengingat nama Ratu dan dia sama sekali tidak punya ingatan dengan pemilik nama itu.

“Kita pernah kenal sebelumnya?” tanya Chilton.

“Belum, sih. Tapi, aku tahu kamu, kok,” jawab Ratu sambil tersipu malu.

Hmm .. sudah aku duga,” batin Delana sambil menatap Ratu penuh curiga. Ia tidak terlalu suka dengan tatapan centil Ratu pada Chilton. Dadanya serasa sesak melihat pemandangan itu.

“Siapa sih?” bisik Chilton di telinga Delana.

“Yang biasa jadi MC kalo ada acara kampus,” jawab Delana.

“Ooo ... Pantes mukamu nggak asing banget,” tutur Chilton.

Ratu tersenyum ke arah Chilton.

“Del, mau minum bir atau anggur?” tanya Chilton.

Delana menggelengkan kepala.

“Tumben,” sahut Chilton. Ia langsung memanggil pelayan dan memesan beberapa makanan kesukaannya. Juga memesan satu botol bir untuk menghangatkan tubuhnya.

“Kamu tahu kalau aku nggak kuat minum anggur. Baru minum sedikit langsung mabuk. Itu bikin si Bryan ngomelin aku mulu,” celetuk Delana.

“Tapi, sedikit bir nggak akan bikin mabuk kan? Aku nggak nyangka kalau adik kamu secerewet itu,” ucap Chilton sambil tertawa kecil.

Delana tersenyum. “Dia khawatir banget sama aku.”

“Ya, kamu beruntung punya adik yang bisa jaga kamu. Aku ingat banget mukanya dia sinis waktu aku ngantar kamu pulang hari itu,” ucap Chilton sambil tertawa kecil. “Dia sudah besar. SMP atau SMA?” tanya Chilton.

“SMA,” jawab Delana sambil menatap Ratu yang ada di depannya. Chilton hanya sibuk membahas keseharian bersama Delana dan tidak mengajak Ratu mengobrol. Tapi, Ratu terus tersenyum ke arah Chilton dan Delana. Tatapan Ratu membuat Delana kurang nyaman.

“Udah SMA? Kayaknya asik kalo diajak minum bir bareng,” celetuk Chilton.

Delana langsung menyikut pinggang Chilton.

“Aw ... Kenapa? Adik kamu sudah besar,” tutur Chilton sambil memegangi pinggangnya yang terasa nyeri.

Delana mencebik ke arah Chilton, membuat Chilton terkekeh.

“Kasihan si Ratu dicuekin,” tutur Delana.

“Nggak papa,” jawab Ratu. “Aku seneng kok, lihat kalian berdua akrab banget,” tuturnya sambil tersenyum.

Chilton tertawa kecil menanggapi tatapan Ratu yang terus tersenyum ke arahnya.

“Del, kapan mulai ngajar?” bisik Chilton.

“Besok lusa.”

“Bagus, deh. Aku udah nggak sabar pengen ketemu mereka,” gumam Chilton.

“Mulai kijil!” dengus Delana sambil menyubit paha Chilton.

“Kijil apaan, sih!” sahut Chilton sambil mengelus-elus pahanya menahan sakit.

“Bilang aja mau tebar pesona sama cewek-cewek SMA kamu itu,” celetuk Delana.

“Tebar pesona apaan? Nggak usah tebar pesona, aku mah udah memesona dari dulu,” ucap Chilton sambil tertawa.

Delana menatap wajah Chilton. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa kecil. “Kamu masih waras?” tanya Delana sambil meletakkan punggung tangannya di dahi Chilton.

Chilton hanya tertawa menanggapinya.

“Jangan heran lihat dia kayak gini! Di depan semua orang aja dia cuek dan cool. Aslinya kayak gini nih,” tutur Delana pada Ratu.

Ratu tersenyum. “Aku pikir dia juga begitu. Cuek dan nggak banyak bicara. Sekalinya demen bercanda juga ya?”

“Dan satu lagi, dia itu manja banget!” tutur Delana sambil tertawa.

“Hah!? Serius?” tanya Ratu.

Delana menganggukkan kepala.

“Manjanya gimana?” tanya Ratu.

“Udah, udah! Jangan ngomongin orang yang ada di depan kalian!” sahut Chilton. “Makanannya udah datang.” Chilton menunjuk dua orang pelayan yang sedang menghampiri meja mereka dengan membawa nampan berisi pesanan makanan mereka.

Delana dan Ratu tertawa bersamaan. Mereka menikmati makan malam bersama.

Tiba-tiba ponsel Delana berdering. Ia mengambil ponsel dari dalam tas dan melihat pemilik nomor yang meneleponnya. Delana menoleh ke arah Chilton yang juga melihat siapa yang menelepon Delana.

“Angkat, lah!” pinta Chilton sambil meneguk bir yang sudah ada di tangannya.

“Ada apa, ya? Telepon jam segini?” tanya Delana pada Chilton.

Chilton mengedikkan bahunya. “Pasti penting banget.”

Delana menghela napas dan menjawab panggilan telepon dari tempat lesnya. “Halo ...!” sapa Delana begitu teleponnya tersambung.

“Halo ... Dela, besok lusa udah mulai ngajar kan?”

“Iya, Bu,” jawab Delana.

“Bisa minta tolong dampingi anak-anak?” tanya si pemilik tempat kursus.

“Dampingi gimana, Bu?” tanya Delana.

“Mereka mau ikut lomba-lomba di gedung kesenian. Tolong kamu dampingi mereka, bisa 'kan?”

“Mmh ... yang ikut lomba anak-anak SD atau SMA, Bu?” tanya Delana.

“SMA.”

“Tapi, saya ada jadwal ngajar anak SD,” jawab Delana.

“Nanti saya aturkan guru lain yang gantikan kamu.”

“Oh, gitu? Oke, bu.”

“Besok kita bicarain lagi di kantor!” pinta pemilik tempat kursus itu.

“Oke, Bu.”

Pemilik tempat kursus itu langsung mematikan sambungan teleponnya.

“Kenapa?” tanya Chilton.

“Suruh dampingi anak-anak lomba,” jawab Delana.

“Di mana?”

“Di gedung kesenian sih katanya,” jawab Delana.

“Aku tahu tuh. Kayaknya kemarin si Zoya ada nge-share ke aku acara itu.”

“Oh, ya? Zoya ada di sana juga?”

“Kurang tahu juga sih. Tapi yang jelas dia emang terlibat juga. Bagian apanya aku masih kurang paham.”

“Iya, sih. Dia kan seniman. Pasti ikut terlibat acara-acara begituan,” sahut Delana.

Chilton tertawa kecil.

Mereka segera menghabiskan hidangan makan malam mereka.

“Enak?” tanya Chilton melihat piring makan Delana yang sudah bersih.

Delana meringis menatap Chilton.

“Jangan keseringan makan kepiting terus, ntar kena kolesterol,” tutur Chilton.

“Idih, nggak sering aku makan beginian. Kalo lagi pengen aja,” sahut Delana.

Ratu tersenyum melihat perdebatan mereka. Ia mengeluarkan dompet dari tas dan mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan. Ia menyerahkan uang itu pada Chilton.

“Uang apa ini?” tanya Chilton menatap Ratu heran.

“Buat bayar makan ini,” jawab Ratu tersenyum.

“Nggak usah. Biar aku aja yang bayar,” sahut Chilton.

“Jangan! Aku yang ngajak Delana makan di sini, jadi aku yang bayar.” Ratu terus mengulurkan uang pada Chilton.

“Nggak. Biar aku yang bayar.” Chilton langsung bangkit dari tempat duduknya menuju meja kasir.

“Kenapa sih nggak mau dikasih duit?” celetuk Ratu terus mengejar Chilton.

Delana masih tetap duduk sambil memerhatikan dua orang yang berebut membayar makanan. Ia menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Ratu.

“Chil, pake uang aku aja!” pinta Ratu sambil meraih lengan Chilton.

“Biar aku yang bayar!” Chilton menepiskan tangan Ratu dari lengannya.

“Ya udah, bayar pake uangku.” Ratu menyodorkan uang sambil tersenyum ke arah Chilton.

“Kalo aku bilang nggak ya nggak!” sentak Chilton. “Kamu nih nggak paham-paham!”

Ratu terdiam saat Chilton membentaknya. Ia tak lagi memaksa Chilton menerima uang darinya dan membiarkan Chilton membayar ke meja kasir. Ratu menoleh ke arah Delana yang masih duduk di kursinya. Ia merasa kesal karena Chilton memperlakukannya berbeda, tidak semanis saat bicara dengan Delana.

Setelah membayar semua makanan yang dipesan. Chilton melangkahkan kaki menghampiri Delana yang masih duduk di kursinya. Ia melewatkan Ratu begitu saja seperti tak mengenal gadis yang mencoba merebut perhatian Chilton itu.

“Ayo pulang!” Chilton mengajak Delana untuk segera pulang.

“Eh!?” Delana menatap Chilton.

Chilton tak banyak bicara lagi. Ia langsung menarik lengan Delana dan membawanya pulang. Meninggalkan Ratu sendirian.

“Chil, aku tadi berangkat sama Ratu,” tutur Delana sambil menoleh ke arah Ratu yang menatap kepergiannya.

“Biar aja!” Chilton tidak peduli. Ia tetap menarik lengan Delana keluar dari restoran.

“Sorry ...!” Delana menoleh ke belakang dan berbicara pada Ratu tanpa suara.

Ratu tersenyum sambil menganggukkan kepala walau dalam hatinya menyimpan kekesalan.

 

                           ((Bersambung...))

Perfect Hero Bab 308 : Pakaian Baru untuk Ayah

 




“Yun, suami kamu itu baik banget.”

Yuna tersenyum menanggapi ucapan ayahnya. “Iya, Yah. Mama mertua aku juga baik banget.”

“Oh ya?”

Yuna mengangguk. Ia menceritakan kehidupannya selama berumah tangga sembari membawa ayahnya ke salah satu toko pakaian langganannya.

Sesampainya di toko pakaian, Yuna membantu ayahnya memilih pakaian yang pas.

“Yah, ini bagus!” tutur Yuna sambil mengambil sebuah kemeja dengan motif batik.

Adjie menganggukkan kepala dan menerima pakaian yang diberikan Yuna.

Yuna terus mengajak ayahnya berkeliling di toko tersebut untuk mendapatkan baju yang pas. Yuna menghentikan langkahnya saat melihat Melan dan Bellina juga berada di toko tersebut.

“Astaga! Kenapa harus ketemu sama mereka di sini?” batin Yuna.

Sementara, Adjie tidak menunjukkan reaksi apa pun. Ia berusaha sebisa mungkin menyembunyikan ingatannya. Ia ingin mengetahui bagaimana reaksi Melan saat bertemu dengannya.

Melan dan Bellina terkejut melihat Adjie yang berdiri di samping Yuna.

“Ma, itu Pak Adjie?” tanya Bellina sambil memegang lengan ibunya.

Melan menggelengkan kepala. “Nggak mungkin. Bukannya dia masih koma dan lumpuh? Nggak mungkin dia bisa sembuh secepat ini!” balas Melan berbisik.

“Gimana kalau itu memang Pak Adjie?” tanya Bellina. Sejak kecil, ia memang sangat takut dengan Adjie.

“Kalau itu Adjie, harusnya dia mengenal kita. Dari gerak-geriknya, dia nggak mengenal kita.” Melan langsung melangkah mendekati Yuna dan ayahnya. “Jangan-jangan, dia bayar orang buat nakut-nakutin kita?” bisiknya.

“Hai, Yuna ...! Apa kabar?” sapa Melan.

Yuna tersenyum manis. Ia tidak ingin bertengkar dengan dua wanita ini di hadapan ayahnya.

“Mereka siapa?” tanya Adjie sambil menatap Yuna.

Melan tertawa saat mendengar pertanyaan Adjie. “Oh, ternyata bener dugaanku. Kamu sengaja bayar orang buat nakut-nakutin kami?”

Yuna mengernyitkan dahinya. “Nakut-nakutin? Oh ... jadi, kalian takut sama orang yang ada di samping aku ini? Takut kenapa? Kalian bikin kesalahan?”

Melan dan Bellina membelalakkan matanya mendengar pertanyaan Yuna.

“Ma, dia mau cari gara-gara sama kita.”

Melan tersenyum sinis. “Mama nggak takut. Dia sekarang bergaya kayak gini karena jadi istri orang kaya.” Ia menatap tajam ke arah Yuna. “Mentang-mentang kamu sudah kaya raya, kamu lupa sama orang yang sudah merawat dan membesarkan kamu selama ini?”

“Nggak usah mengalihkan pembicaraan, Tante!” sahut Yuna kesal.

Melan tersenyum sinis. “Yuna, kamu tahu kalau Bellina dari kecil takut sama ayah kamu. Kamu sengaja bayar orang buat nakut-nakutin dia, hah!?”

Yuna tak menghiraukan ucapan Melan. Ia menarik lengan ayahnya menjauh dari dua wanita tersebut. “Nggak usah hiraukan mereka, Yah!” bisiknya.

“Mereka siapa?” tanya Adjie lagi.

“Bukan siapa-siapa,” jawab Yuna. “Ayah cobain ini!” pinta Yuna sambil memberikan beberapa pakaian kepada Adjie dan memintanya mencoba di kamar ganti.

Adjie mengangguk. Ia bergegas masuk ke kamar ganti untuk mencoba pakaian yang sudah dipilihkan oleh Yuna.

Yuna melirik ke arah Melan dan Bellina. Ia langsung melangkah kembali mendekati mereka. “Tante, kenapa takut ketemu sama ayah? Tante takut kalau ayah tahu semuanya?”

“Tahu apa?” tanya Melan.

“Tante nggak usah pura-pura!” sentak Yuna. “Tante pasti ketakutan kalau ayahku bakal ngambil alih perusahaan lagi kan?”

Melan mengernyitkan dahi. Jantungnya berdebar sangat kencang, namun ia berusaha untuk menutupinya dengan bersikap santai.

“Tante pikir aku nggak tahu kalau selama ini kalian udah menipu ayahku untuk menandatangani surat pemindahan saham?”

Melan membelalakkan matanya. “Kamu tahu dari mana?”

Yuna tersenyum menatap Melan. “Aku udah tahu semuanya. Aku bukan orang bodoh kayak kalian.”

“Apa kamu bilang!?” sentak Bellina.

“Bodoh!” sahut Yuna makin menjadi.

“Kamu ...!?” Bellina berusaha mendorong tubuh Yuna, namun tangan Melan menahannya.

Yuna tersenyum menatap Bellina. “Kenapa marah? Ngerasa kalau kamu bodoh? Kamu bukan cuma bodoh, Bel. Tapi nggak waras juga. Heran deh, kenapa orang kayak kamu masih berkeliaran di tempat kayak gini. Harusnya, kamu itu duduk santai di rumah sakit jiwa!”

“Jangan sembarangan kalo ngomong, Yun!” sahut Bellina kesal.

Yuna tersenyum sinis. “Kamu pikir aku nggak tahu kalo sekarang kamu mulai tertarik sama suamiku? Sayangnya, suamiku itu nggak bego kayak Lian. Jadi, dia nggak akan tergoda sama perempuan murahan kayak kamu.”

“Berani-beraninya kamu ngatain aku murahan!?” sentak Bellina sambil berusaha mendorong tubuh Yuna.

Dengan cepat, Yuna menghindari tangan Bellina dan tersenyum sinis.

“Kamu juga, berani-beraninya mau godain suami orang. Apalagi kalau bukan perempuan murahan? Masih kurang puas ngambil Lian dari aku? Aku udah ikhlasin si Lian buat kamu. So, kamu jangan coba-coba ngerebut Yeriko dari aku. Ngimpi!”

Bellina menatap tajam ke arah Yuna. Ia semakin membenci Yuna karena Yuna selalu saja lebih unggul darinya. Sampai saat ini, Lian masih saja memikirkan Yuna walau merek telah menikah. Hal ini, membuat Bellina semakin tersiksa.

“Kenapa lihatin aku kayak gitu? Suami kamu itu nggak beneran sayang sama kamu? Masih aja godain istri orang lain.”

“Maksud kamu?”

“Kamu pura-pura bego atau bego beneran? Suami istri kelakuannya sama aja. Yang satu, godain istri orang. Satunya lagi godain suami orang. Kamu pikir-pikir lagi kalau mau godain Yeriko. Bisa-bisa, kamu kehilangan Lian dan nggak dapet Yeriko sama sekali!”

Bellina menatap tajam ke arah Yuna. Kali ini, ia ingin sekali mencabik-cabik wajah Yuna.

“Kamu sekarang berani sama kami, hah!?” sahut Melan.

“Kenapa nggak berani? Dulu, aku nurut sama kalian karena ayah. Sekarang, ayahku udah sembuh dan nggak ada di tangan kalian lagi. Kalian nggak punya alat buat nindas aku lagi!” seru Yuna.

Bellina ingin memaki Yuna, namun mulutnya terhenti saat melihat Adjie keluar dari kamar ganti dan menghampiri Yuna.

“Udah, Yah?” tanya Yuna.

Adjie menganggukkan kepala.

Yuna tersenyum, ia melangkahkan kakinya menuju kasir.

“Ayah tunggu di sini, ya!” pinta Yuna sambil memberikan beberapa pakaian untuk ayahnya ke meja kasir. “Aku cari kemeja dulu buat Yeriko.”

Adjie menganggukkan kepala.

“Mbak, tolong bungkus ini semua ya! Saya cari yang lain dulu,” pinta Yuna sambil menyodorkan sebuah kartu ke penjaga kasir.

“Iya, Mbak!” Petugas kasir tersebut tersenyum sambil menganggukkan kepala.

Yuna kembali melangkah. Ia melihat-lihat beberapa kemeja yang cocok untuk Yeriko. Ia mengambil satu kemeja berwarna krem dengan list hitam di bagian kerah dan lengannya. Yuna tersenyum, ia langsung mengambil kemeja tersebut.

Baru saja ingin melangkah, Bellina tiba-tiba merebut kemeja dari tangan Yuna.

Yuna langsung berbalik, ia menatap Bellina yang sudah memegang kemeja yang ingin ia beli.

“Kamu ngapain ngerebut kemejaku!?” sentak Yuna sambil merebut kemeja itu kembali.

“Aku suka,” jawab Bellina santai sambil merebut kemeja itu kembali dari tangan Yuna.

“Kenapa sih kamu selalu aja mau ngerebut apa yang aku punya? Kalian bahkan sudah punya semua yang kalian mau. Masih aja gangguin aku terus,” tutur Yuna kesal.

Bellina tersenyum senang. “Aku nggak akan puas sebelum lihat hidup kamu menderita!” tegas Bellina.

Yuna mendelik ke arah Bellina. Ia berusaha menarik kembali kemeja dari tangan Bellina. Hal ini membuat beberapa orang menatap ke arah mereka. Pegawai toko pun kewalahan  melerai  mereka karena keduanya pelanggan VIP mereka.

 

(( Bersambung ... ))

Thanks for support, you’re my booster.

 

Big Love,


 

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas