Thursday, August 14, 2025

Perfect Hero Bab 300 : Kondisi Ayah Mertua

 


“Prof, apa yang sebenarnya terjadi dengan ingatan ayah mertua saya?” tanya Yeriko sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang kerja profesor tersebut.

“Duduk dulu!” pinta Profesor Santoso sembari menarik kursi untuk Yeriko.

Yeriko langsung duduk di kursi yang sudah diberikan oleh profesor tersebut.

“Kondisi Pak Adjie cukup baik. Dia hanya kehilangan sebagian ingatannya. Semoga bisa pulih dengan cepat. Semua anggota tubuhnya memberikan respon dengan baik. Kami akan pastikan terlebih dahulu kalau beliau bisa berjalan dengan normal dalam dua hari ini. Hanya saja ...” Profesor Santoso menghentikan ucapannya.

“Kenapa, Prof?” tanya Yeriko penasaran.

“Efek dari kecelakaan sebelas tahun lalu, mengakibatkan penggumpalan darah di otak Pak Adjie. Kami tidak bisa melakukan kraniotomi karena letaknya sangat membahayakan dan resikonya terlalu tinggi.”

“Tumor? Apa itu membahayakan nyawa beliau?” tanya Yeriko.

“Tumor ini tidak ganas. Hanya saja, kita memang tidak bisa menganggap remeh keberadaannya. Tentunya, sangat membahayakan hidup beliau jika tumor yang ada di kepalanya terus berkembang. Mengeluarkan tumor itu, juga sangat membahayakan. Kami hanya bisa mengharapkan keajaiban. Semoga, tumor Pak Adjie bisa sembuh.”

Yeriko terdiam. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia sudah mencoba melakukan yang terbaik untuk ayah mertuanya. Tetap saja, nyawa ayah mertuanya berada dalam bahaya.

“Kami akan melakukan terapi intensif minggu ini agar Pak Adjie bisa berjalan normal seperti biasanya.”

Yeriko mengangguk. “Terima kasih untuk kerja keras profesor selama ini.”

“Nggak perlu sungkan, sudah kewajiban kami sebagai dokter seperti ini.”

Yeriko mengangguk lagi. “Oh ya, soal zat berbahaya yang masuk ke dalam tubuh beliau. Apakah ada efek yang bisa membahayakan?”

“Di dalam tubuh beliau, kami temukan Clostridium Botulinum dalam dosis sedang. Kami tidak tahu dari mana zat itu berasal. Botulinum adalah zat yang sangat berbahaya bagi tubuh. Zat inilah yang mengacaukan sel saraf dan sel otot dalam tubuh Pak Adjie. Selama perawatan, Pak Adjie sudah mengalami kesadaran beberapa kali, kemudian lumpuh dan koma kembali. Kemungkinan, ada orang yang sengaja membuatnya terus lumpuh selama sebelas tahun ini.”

“Apa keamanan di rumah sakit ini masih kurang? Bukannya, saya juga sudah siapkan beberapa penjaga untuk menjaga Pak Adjie?”

Profesor Santoso menganggukkan kepala. “Kita memang sudah melakukannya semaksimal mungkin. Tapi, ada beberapa celah yang bisa saja dimasuki. Setiap hal itu terjadi, kondisi CCTV dalam keadaan mati. Artinya, pelaku memang sudah merencanakan ini sebelumnya.”

“Apa yang terjadi di rumah sakit sebelumnya, Pak Adjie juga seperti ini?” tanya Yeriko.

“Kemungkinan besar iya.”

Yeriko menghela napas. Ia mulai berpikir tentang keadaan ayah Yuna. Jika memang kecelakaan sebelas tahun lalu adalah pembunuhan berencana, pastinya pembunuh itu masih berkeliaran dan tidak menginginkan Adjie mengungkap kebenarannya.

“Terima kasih atas informasinya, Dok.”

Profesor Santoso menganggukkan kepala.

Yeriko tersenyum. Ia segera bangkit dari tempat duduknya. “Saya permisi dulu!” pamitnya. Ia bergegas pergi dan kembali ke ruang perawatan ayah Yuna.

“Ayah lagi tidur,” tutur Yuna sambil menghampiri Yeriko yang baru saja masuk.

“Kalo gitu, kita keluar cari makan dulu. Biarkan ayah kamu istirahat. Kasihan anak Ayah belum makan,” tutur Yeriko sambil mengelus perut Yuna.

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala.

Mereka bergegas pergi menuju salah satu restoran yang terdekat dengan rumah sakit.

“Ada sesuatu yang mau aku sampaikan ke kamu,” tutur Yeriko saat mereka sudah duduk bersama di meja makan.

“Oh ya, apa itu?” tanya Yuna sambil membuka menu makanan yang sudah disiapkan di atas meja.

“Kamu pesen makan dulu!” pinta Yeriko.

Yuna mengangguk. Ia memanggil salah seorang pelayan dan memesan beberapa makanan.

“Mau ngomong apa?” tanya Yuna usai memesan makanan untuk mereka.

“Tadi aku ngobrol sama Profesor Santoso soal kondisi kesehatan ayah kamu.”

“Oh ya? Terus? Dokter itu bilang apa?” tanya Yuna antusias.

Yeriko tersenyum. “Kondisi ayah kamu baik-baik aja. Semoga, bisa pulang dalam minggu ini.”

“Serius!?” seru Yuna. Ia langsung mengedarkan pandangannya karena beberapa orang yang ada di restoran itu menoleh ke arahnya. “Serius?” tanya Yuna menurunkan nada suaranya.

Yeriko menganggukkan kepala. “Soal ingatan ayah kamu, masih bisa kembali secara perlahan-lahan. Yang terpenting adalah, ayah kamu bisa berjalan dengan normal dan menjalani kehidupan seperti biasanya.”

Yuna menganggukkan kepala.

“Mmh ... di dalam kepala beliau, ada sel tumor yang bisa membahayakan beliau kapan saja. Jadi, jangan paksa beliau untuk mengembalikan ingatannya!” pinta Yeriko.

Yuna mengangguk lagi. “Asalkan dia masih ingat sama aku, aku akan menjalani kehidupan ke depannya dengan baik. Nggak perlu mengungkit masa lalu kami.”

Yeriko tersenyum. Ia merasa kalau Adjie kehilangan ingatannya karena ia masih belum bisa menerima apa yang terjadi sebelas tahun yang lalu. Sebab, ayahnya masih sangat mengingat Yuna. Namun, tidak bisa mengingat orang lain lagi selain anaknya yang masih dianggapnya berusia tiga belas tahun.

“Makasih ya, kamu udah ngelakuin banyak buat aku dan ayah,” tutur Yuna dengan mata berkaca-kaca.

“Sekarang, aku ini suami kamu. Nggak perlu ngucapin banyak terima kasih.”

“Terus, apa yang harus aku lakuin supaya bisa membalas ini semua?”

“Kamu nggak perlu ngelakuin apa-apa. Cukup jadi kucing kecil yang penurut!” tutur Yeriko sambil mengacak ujung kepala Yuna.

Yuna tertawa kecil. “Cuma itu?”

Yeriko menganggukkan kepala sambil tersenyum.

“Oh ya, soal kelas perawatan bayi. Apa kamu bisa ikut?” tanya Yuna.

Yeriko menganggukkan kepala. “Aku udah suruh Riyan atur ulang jadwalku. Aku temenin kamu ikut kelas setiap hari Sabtu.”

“Serius?” tanya Yuna dengan mata berbinar. “Aku nggak nyangka kalau Yeriko bakal ngeluangin waktu buat aku,” batinnya sambil tersenyum manis.

“Kenapa? Kamu mikir kalau aku nggak bakal temenin kamu ikut kelas itu?”

Yuna tersenyum mendengar pertanyaan Yeriko. “Kamu sibuk ngurus perusahaan. Aku juga nggak boleh egois kan?”

“Kalian sama pentingnya dengan perusahaan. Nggak mungkin aku mengabaikan kalian begitu aja.”

Yuna tersenyum. Ia menatap pelayan yang sedang menghidangkan makanan pesanannya.

Ponsel Yuna berdering. Ia langsung merogoh ponsel yang ada di tasnya.

“Siapa?” tanya Yeriko.

“Mama,” jawab Yuna tanpa suara. Ia langsung menjawab panggilan telepon dari mama mertuanya.

“Halo ...!” sapa Yuna.

“Halo ...! Anak Mama udah lupa sama mamanya gara-gara kelamaan liburan di Italia? Pulang bulan madu, nggak ngabarin Mama sama sekali,” sahut Mama Rullyta.

“Mmh ...” Yuna melirik ke arah Yeriko. “Maaf, Ma. Waktu pulang, kami dapat kabar soal ayah di rumah sakit. Jadi, kami sibuk ngurus ayah. Sampai lupa sama Mama.”

“Hah!? Kalian tega lupain Mama? Mau bikin Mama menyesal sudah ngasih kalian tiket ke Italia?”

“Ma, nggak gitu. Hari ini, kami ke rumah Mama. Kebetulan, Ayah sudah sadar. Kami bisa ke rumah Mama sekarang juga.”

“Apa? Ayah kamu sudah sadar?”

“Iya.”

“Kalo gitu, biar Mama yang ke sana.”

“Nggak usah, Ma. Biar kami yang ke rumah Mama. Lagipula, ayah masih belum bisa diajak banyak bicara.”

“Owh,” sahut Rullyta dengan nada kecewa.

Yuna tersenyum. “Kami ke rumah Mama sekarang. Mama di rumah, kan?”

“Iya, Mama di rumah.”

“Oke. Tunggu kami ya! I love you Mama Cantik. Emmuach!”

Terdengar suara tawa Rullyta dari ujung telepon. “Oke, Mama tunggu.”

“He-em. Aku tutup teleponnya ya. Bye, Mama!” seru Yuna.

“Bye!” Rullyta langsung mematikan panggilan teleponnya.

Yuna tersenyum sambil menatap Yeriko. “Abis makan, kita ke rumah Mama. Kalo nggak, dia bisa ngomel sampai ke Selat Malaka.”

Yeriko terkekeh mendengar ucapan Yuna. “Oke. Habisin dulu makannya!”

Yuna mengangguk. Ia segera melahap makanan yang ada di depannya. Ia tidak ingin membuat mama mertuanya menunggu lama dan mengomelinya panjang lebar.

 

 

 

(( Bersambung ...))

 

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat nulis cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 299 : Terbangun dari Tidur Panjang

 


Yuna tak banyak bicara selama di perjalanan menuju rumah sakit. Ia masih terus berpikir kenapa Yeriko ingin mengalihkan aset pribadi untuknya.

“Kamu kenapa?” tanya Yeriko. Ia tidak terbiasa dengan sikap Yuna yang diam. Biasanya, ia selalu dipenuhi dengan suara Yuna yang bising. Membicarakan banyak hal di rumah atau di perjalanan. Jika tidak, biasanya akan bermanja-manja dengannya.

“Nggak papa,” jawab Yuna. Ia berusaha menenangkan pikirannya.

Yeriko tersenyum kecil. Ia segera menghentikan mobilnya saat mereka sudah sampai di halaman parkir rumah sakit Siloam.

 

Sudah dua hari ini, Yuna dan Yeriko menunggu ayahnya sadar dari koma.

“Ya Tuhan ... semoga kali ini ayah bisa sadar dan kembali seperti semula,” batin Yuna sembari melangkah masuk ke dalam kamar rawat ayahnya.

“Suster, gimana perkembangan ayah saya?” tanya Yuna saat melihat perawat yang baru saja selesai memeriksa kondisi kesehatan ayahnya.

“Kondisi kesehatan Pak Adjie sangat baik. Semuanya stabil. Semoga, beliau sudah bisa sadar hari ini.”

“Makasih, Suster!” ucap Yuna sambil menatap wajah ayahnya yang masih terbaring lemah.

Suster tersebut mengangguk sambil tersenyum. Kemudian, ia bergegas meninggalkan ruangan.

Yeriko tersenyum sambil mengelus pundak Yuna. “Semoga Ayah bisa sadar hari ini.”

Yuna mengangguk. Ia meraih tangan ayahnya dan menggenggamnya sangat erat. Kecupan-kecupan hangat yang ia berikan di punggung tangannya. Masih belum bisa mengobati kerinduannya selama sebelas tahun belakangan ini.

Yeriko memilih duduk di sofa sambil mengecek pekerjaannya lewat email di ponselnya.

Selama beberapa jam mereka menunggu, Adjie belum tersadar juga dari tidur panjangnya.

“Yun, kita pulang dulu!” ajak Yeriko.

Yuna menggelengkan kepala. Ia menguap beberapa kali. Namun enggan beranjak pergi meninggalkan ayahnya. Ia ingin ayahnya langsung melihatnya saat ayahnya bangun dari tidurnya.

Yeriko menyandarkan kepalanya di punggung sofa. “Aku juga berharap, ayah kamu bisa bangun saat ini juga,” batin Yeriko sambil melirik pilu ke arah Yuna yang sudah tertidur di sisi ranjang ayahnya. Ia bangkit, menyelimuti Yuna menggunakan jas miliknya. Kemudian, duduk kembali ke sofa sambil memejamkan matanya.

 

Tiga puluh menit kemudian ...

“Yuna ...!”

“Ayuna ...!”

Yuna mengerjapkan mata saat ia mendengar seseorang memanggilnya begitu lirih. “Yeriko?”

Sentuhan di kepalanya, membuat Yuna membuka mata lebar-lebar sambil memutar kepala ke arah Yeriko yang duduk di sofa di belakangnya. “Dia tidur. Ini tangan ...?” Ia langsung memutar kembali kepalanya dan menatap Adjie yang tersenyum ke arahnya.

“AYAH ...!?”

Adjie tersenyum kecil menatap Yuna.

Yeriko langsung membuka mata begitu mendengar teriakan Yuna.

“Yuna ...!” panggil Adjie lirih.

“Ayah ...!” Yuna langsung memeluk tubuh ayahnya sambil terisak. “Aku kangen Ayah.”

“Kamu Yuna kan? Anak Ayah?”

Yuna melepas pelukannya dan menatap wajah ayahnya. “Iya. Ini Yuna. Anak Ayah.” Yuna mengecup punggung tangan ayahnya. Ia sangat bahagia karena ayahnya telah sadar dari tidur panjangnya.

“Anak Ayah sudah sebesar dan secantik ini? Apa Ayah sudah melewatkan banyak hal?”

Yuna tersenyum sambil mengusap air matanya. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

Adjie menatap pria yang berdiri di belakang Yuna. “Dia siapa?”

Yuna menoleh ke arah Yeriko.

“Saya suaminya Yuna, Oom.”

“Suami?” Adjie memijat kepalanya. “Yuna, kamu baru tiga belas tahun. Gimana bisa bersuami di usia yang semuda ini?”

Yuna menghela napas. Ayahnya sudah terbaring selama sebelas tahun. Ia pernah sadar, kemudian koma lagi. Kondisi kesehatannya yang tidak stabil, tentu memengaruhi ingatan ayahnya tersebut. Padahal, saat hari pernikahan Yuna, ayahnya dalam keadaan sadar namun lumpuh total.

“Ayah ... sekarang, Yuna udah umur dua puluh empat tahun. Yuna sudah menikah dan sebentar lagi akan punya anak.” Yuna kembali terisak karen ingatan ayahnya yang kacau.

“Dua puluh empat? Ayah sudah melewatkan banyak hari ulang tahun kamu? Maafin Ayah. Ayah sudah janji mau ajak kamu berlibur ke luar negeri saat usia kamu tujuh belas tahun. Kenapa Ayah bisa melewatkannya?”

Yuna kembali mengusap air matanya yang terus menetes. Ia tidak sanggup melihat keadaan ayahnya.

“Bunda kamu mana?” tanya Adjie.

Yuna menggelengkan kepala. Air matanya semakin deras dan ia tak sanggup berkata-kata. “Bunda ...”

 

“Oh, pasti bunda kamu lagi ke pasar ya? Masak makanan kesukaan kamu?”

 

Yuna menggelengkan kepala. “Sekarang, Yuna sudah bisa masak sendiri. Yuna sudah nggak ngerepotin bunda lagi.”

 

Adjie tersenyum. “Bunda kamu pasti sudah mengajari kamu dengan baik. Masakan kamu, pasti seenak masakan dia kan?”

 

Yuna mengangguk sambil menahan tangisnya. Ia tidak sanggup memberitahukan ayahnya kalau bundanya sudah meninggal dalam kecelakaan tersebut.

 

“Permisi!” Dokter yang menangani Adjie menghampiri mereka.

 

Yeriko tersenyum menatap dokter tersebut. Perawat yang berjaga sudah melaporkan sebelumnya kalau Pak Adjie sudah dasar dari komanya.

“Kami periksa keadaan pasien dulu. Dia baru sadar. Sebaiknya, jangan terlalu banyak mengajaknya bicara terlebih dahulu sampai kondisinya stabil,” tutur Profesor Santoso, dokter ahli yang terus memantau kondisi kesehatan Adjie.

Yuna dan Yeriko menganggukkan kepala. Mereka menepi dan melangkah keluar dari ruangan tersebut.

“Ayah bakal baik-baik aja kan?” tanya Yuna sambil meremas jemari tangan Yeriko.

Yeriko langsung merengkuh kepala Yuna ke dadanya. “Dia pasti baik-baik aja. Dia sudah terbaring sangat lama. Saat terbangun dan melihat keadaan tiba-tiba berubah, dia pasti syok. Kita jelasin ke Ayah kamu pelan-pelan ya!” tutur Yeriko lirih.

Yuna menganggukkan kepala. “Aku nggak tahu gimana caranya ngasih tahu ayah soal bunda yang udah pergi. Aku nggak sanggup.” Yuna terisak sambil memeluk erat pinggang Yeriko.

“Aku akan jelasin semuanya ke ayah kamu kalau waktunya sudah tepat. Saat kondisi ayah kamu sudah benar-benar sehat.”

Yuna mengangguk kecil. “Makasih karena kamu selalu ada di samping aku. Aku nggak akan sanggup menghadapi semuanya sendirian.”

Yeriko mengelus rambut Yuna sambil mengecup ujung kepalanya.

Beberapa menit kemudian, dokter keluar dari ruangan tersebut.

“Gimana keadaan ayah saya, Dok?” tanya Yuna tak sabar.

“Keadaannya cukup baik. Pak Adjie mengalami koma yang cukup lama. Beliau kehilangan sebagian ingatannya.”

“Apa dia bisa sembuh?” tanya Yuna.

Dokter tersebut menggelengkan kepala. “Semua tergantung dari pasien itu sendiri. Kami tidak bisa memperkirakan kapan ingatan Pak Adjie akan kembali.”

“Apa kami sudah boleh masuk lagi?”

Dokter tersebut mengangguk. “Asalkan jangan memberikan pertanyaan yang bisa membebani pikirannya. Kondisi Pak Adjie belum benar-benar kuat untuk menerima tekanan.”

Yuna mengangguk tanda mengerti. Ia dan Yeriko kembali melangkah masuk ke dalam kamar rawat tersebut.

Yuna menarik napas panjang dan tersenyum. Ia berusaha menguatkan dirinya sendiri untuk bisa menghadapi kenyataan pahit tentang ibunya.

“Aku nggak boleh sedih,” bisik Yuna dalam hati. Ia melangkah perlahan menghampiri ayahnya yang masih terbaring di atas ranjang.

“Yuna ...!” panggil Adjie lirih.

Yuna mengangguk. Ia merasa sangat bahagia karena bisa melihat ayahnya tersadar dari tidur panjangnya. Anggota tubuhnya juga bisa merespon dengan baik. Yeriko benar-benar membuktikan ucapannya untuk memberikan pengobatan terbaik bagi ayahnya.

Sudah sebelas tahun ayahnya terbaring di rumah sakit. Sekarang, ingatannya sangat kacau. Ia hanya mengingat kejadian sebelas tahun lalu sebelum mengalami kecelakaan.

 

 

(( Bersambung ... ))

Akhirnya, ayah Yuna sembuh juga ...

Terima kasih sudah setia baca sampai di sini. Support terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Wednesday, August 13, 2025

Then Love Bab 4 : Mengejar Cinta Bintang Kampus

 


Semenjak Delana jalan keluar bersama Chilton, ia menjadi bahan perbincangan hangat seisi kampus. Dari sekian banyak mahasiswa, ada yang senang melihat Chilton bersama Delana dan banyak juga yang tidak suka.

“Mereka cocok banget! So cute ...,” ucap salah satu mahasiswi yang sedang berkerumun membicarakan kedekatan Delana dan Chilton.

“Iya. Ganteng sama cantik. Delana juga baik hati. Aku rasa bisa membuat Chilton menjadi pria yang lebih baik lagi.”

“Bener. Selama ini si Chilton tuh dingin banget kayak es. Tapi, kalau sama Delana dia kelihatan beda. Bisa jadi, Delana itu ibu peri yang dikirim Tuhan buat ngerubah Chilton jadi cowok yang baik.”

“Hahaha. Emangnya ini negeri dongeng?”

“Anggap aja seperti itu.”

“Yah, bakal jadi hari patah hati se-Indonesia kalau sampe mereka beneran jadian. Aku nggak rela! Kenapa nggak sama aku aja, sih!”

“Udah jelas, kamu bukan tipe cewek yang disukai sama Chilton!”

“Iya. Apa ya yang bikin Chilton bisa tertarik sama dia selain cantik? Karena ada banyak cewek cantik di kampus ini.”

“Eh, Chilton lewat!”

Seketika kerumunan mahasiswi itu diam saat Chilton melintas di depan mereka. Mereka tidak menyangka kalau akan ada Chilton. Sepertinya Chilton mendengar kalau ia sedang dibicarakan karena ia menatap kerumunan mahasiswi itu dengan wajah sinis.

Chilton tidak begitu suka melihat cewek berkerumunan untuk bergosip. Saling membicarakan temannya sendiri. Siapa lagi yang mau mereka bicarakan kalau bukan teman sendiri atau teman dari temannya. Benar-benar kegiatan yang tidak bermutu.

Chilton terus melangkahkan kakinya menyusuri koridor, menaiki anak tangga menuju kelasnya. Ia tak segera masuk kelas. Ia melewati kelasnya begitu saja menuju balkon yang ada di samping kelasnya, sebab kelasnya adalah kelas paling pojok. Ia senang berdiri menyendiri di sana. Tak ada satu pun orang yang akan mengganggunya atau sekedar mendengarkan pembicaraan tak bermutu dari kerumunan mahasiswa penggosip.

Sejak ada mahasiswa baru yang salah masuk kelas, Chilton jadi sering berdiri di balkon ujung gedung yang berada di lantai dua, tepat di samping kelasnya. Balkon itu menghadap ke arah taman. Dulu, tak ada hal yang menarik sama sekali dari taman kampusnya itu selain bunga-bunga yang bermekaran. Tapi, kini ia sering melihat pemandangan berbeda. Ia melihat sosok yang lebih indah dari bunga-bunga yang bermekaran.

Beberapa kali ia melihat sosok gadis yang duduk seorang diri di kursi taman. Sementara yang lain terlihat asyik mengobrol dengan temannya, ia justru asyik menyendiri. Dari sini, ia bisa leluasa melihat Delana tanpa terlihat.

“Hei, kucariin dari tadi sekalinya di sini!” Zoya, teman sekelas Chilton menepuk pundak Chilton.

“Eh!?”

“Akhir-akhir ini kamu sering berdiri di sini. Apa ada sesuatu yang menarik di bawah sana?”

Chilton tertawa kecil. “Ayo, masuk kelas!”

“Aha ... aku tahu. Aku sudah dengar gosip yang beredar di kampus ini.”

Chilton tersenyum kecil sembari melangkahkan kaki meninggalkan temannya itu.

“Apa kamu bakal nerima dia?” seru temannya dari belakang.

Chilton tertawa kecil. “Cuma teman.”

“Kenapa jalan bareng?”

“Aku nggak mau berhutang budi sama siapa pun.” Chilton terus melangkah masuk kelas dan duduk di bagian paling belakang seperti biasanya.

 

***

 

“Del, kamu masih deketin kakak senior kamu itu?” tanya Belvina saat mereka berkumpul di kamar Ivona.

“Iya. Kenapa?” tanya Delana balik.

“Nggak takut?”

“Takut apa?”

“Patah hati lagi.”

“Udah, deh. Nggak usah ngomongin masa lalu.”

“Yah ... aku sebagai teman baikmu, nggak ada salahnya kan aku peduli sebelum semuanya terlanjur.”

“Dia ngasih lampu hijau. Kemarin dia ngajak aku jalan keluar. Makan di restoran Jepang dan pergi ke salah satu sekolah tempat dia sekolah dulu.”

“Hah!? Serius? Kok, baru cerita?” sambar Ivona.

“Kalian sibuk. Lagian, jalannya juga baru kemarin sore. Aku cerita hari ini masih termasuk update, kan?”

“Biasanya kamu selalu telepon kalau ada cerita terbaru. Nggak gatal tuh mulut nahan nggak cerita tentang cowok ganteng?” celetuk Belvi.

“Yee ... kayak kamu enggak aja!”

Belvi cengengesan menanggapi ucapan Delana.

“Del, aku denger-denger udah banyak cewek yang nembak Chilton dan semuanya ditolak. Kamu nggak takut ditolak juga?” tanya Belvi perlahan.

“Nggak, lah. Aku nggak akan nembak dia, jadi nggak akan ada kata takut ditolak.”

Belvi mengernyitkan dahinya. “Terus, gimana mau jadian?”

“Dia dong yang nembak aku. Masa aku yang nembak dia duluan!?”

“Heleh ... nggak mungkin dia nembak kamu duluan!” Belvi menjulurkan lidahnya.

“Iih ... ngoloknya pang!” sahut Delana. “Lihat aja! Aku bakal bikin dia jatuh cinta sama aku!” seru Delana.

“Oh ya? Oke. Aku bakal lihatin terus!” Belvi tak mau kalah.

“Iih ... kamu tuh nyebelin banget!” Delana memukul Belvi dengan bantal. Belvi tidak terima dan membalasnya. Akhirnya mereka bergulat di atas kasur. Membuat Ivona geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua sahabatnya itu.

 

***

Jam enam pagi, Delana dibuat kelabakan karena baru terbangun dari tidurnya. Ia mengerjakan tugas kuliah sampai larut malam, membuatnya jadi bangun kesiangan.

Delana langsung berlari menuju dapur. Langkah kakinya terhenti saat ia baru sampai di pintu dapur. Ia menatap seorang perempuan setengah baya bertubuh gembul sedang berkutat di dapurnya.

“Bude, maaf aku bangun kesiangan.” Delana melangkahkan kaki perlahan mendekati pembantunya itu.

“Nggak papa, Mbak. Ini sudah Bude buatkan sarapan.” Pembantu Delana tersenyum sembari membersihkan peralatan memasaknya. “Mbak Dela langsung mandi saja! Ini sudah siang.”

Delana tersenyum dan bergegas kembali ke kamarnya. Ia sedikit merasa bersalah karena biasanya dialah yang menyiapkan sarapan untuk ayah dan adiknya. Ia menyewa pembantu hanya untuk membantunya membereskan rumah, menyuci dan menyetrika pakaian.

Satu jam kemudian, Delana sudah selesai mandi dan bersiap ke kampus. Delana berangkat ke kampus tanpa sarapan terlebih dahulu.

“Nggak sarapan dulu?” tanya Harun, ayah Delana.

“Nggak, Yah. Delana telat masuk kampus. Nanti Delana sarapan di kantin saja,” jawabnya sambil  mencium punggung tangan ayahnya dan berlari keluar dari rumah.

Delana terus berlari sampai memasuki pekarangan kampus. Ia pergi ke taman seperti biasa untuk menemui Chilton. Tapi, sepertinya ia sudah terlambat karena sudah tidak ada satu pun orang yang jogging di sana.

Delana mengatur napasnya yang tersengal. Ia membungkuk sembari memegangi lututnya karena kelelahan. Ia tahu ia terlambat dan belum tentu bisa bertemu dengan Chilton. Chilton bukan cowok yang mudah untuk ia temui. Dua hari semenjak mereka jalan keluar bersama, Delana belum bertemu dengan cowok itu kembali. Sudah dua hari ia tidak bisa menemukannya di taman. Ia juga sudah pergi ke kelasnya dan Chilton juga tidak ada.

“Kenapa dia tiba-tiba menghilang?” gumam Delana. Ia mengangkat punggungnya, berdiri menatap ujung jalan taman, tempat di mana ia bisa menemukan sosok Chilton muncul untuk pertama kalinya. Tapi, ia tidak muncul di sana ... kosong.

Delana melangkahkan kaki dengan lesu menuju ke kelasnya.

Saat jam mata pelajaran usai, Delana memberanikan diri mencari Chilton ke kelasnya. Beruntungnya, ia bertemu Chilton saat ia sedang menaiki tangga. Tapi, cowok itu tetap bersikap dingin dan tidak melihatnya. Melewati tubuh Delana seperti orang yang tak pernah saling mengenal sama sekali.

Delana merapatkan gigi-giginya karena kesal. Ia menarik napas panjang dan membalikkan tubuhnya mengejar Chilton yang sedang menuruni tangga.

“Chil ...!” Delana menarik lengan Chilton, kemudian menghadang langkahnya dengan cepat.

Chilton mengerutkan dahinya melihat cewek yang ada di depannya seolah tak pernah saling mengenal.

“Kamu kenapa tiba-tiba berubah?” tanya Delana tanpa basa-basi.

“Apa yang berubah?” tanya Chilton tanpa menatap Delana sembari melangkahkan kakinya.

Delana menahan langkah Chilton dan menatap cowok itu tajam.

“Kamu bener-bener nggak punya perasaan ya? Dua hari yang lalu kamu ngajak aku makan, ngajak jalan. Sekarang, kamu lihat aku kayak orang yang nggak kenal sama sekali,” tutur Delana.

Chilton tersenyum sinis. “Aku cuma ngajak makan biasa. Nggak ada yang istimewa. Setidaknya bisa membayar sarapan yang kamu kasih ke aku.”

“Aku nggak minta balasan apa pun.”

“Terus?”

“Aku cuma mau kita bisa berteman.”

“Sudah.” Chilton sama sekali tidak mau menatap Delana.

“Mmh ... aku ingin lebih dari itu.”

Chilton mengernyitkan dahinya. “Kamu terlalu percaya diri. Apa kamu pikir, kamu pantas buat aku?”

Deg!

Pertanyaan Chilton membuat jantung Delana berhenti berdetak. Tapi, ia tidak mau menyerah begitu saja. Ia harus bisa membuktikan kalau perasaannya pada cowok itu sangat tulus. Dengan yakin ia berkata, “Iya.”

“Oke. Show me!” Chilton mendengus ke arah Delana. Menatap wajah gadis itu dan ia sempat terpaku sejenak melihat mata Delana yang memandangnya berbeda. Ia merasa nyaman melihat bayangannya sendiri masuk ke dalam bingkai mata Delana.

Delana tersenyum lebar menatap Chilton. Dengan senang hati ia akan membuktikan pada Chilton kalau ia perempuan yang pantas untuk cowok itu. Delana merasa tertantang dengan kata-kata Chilton. Sembari menatap mata cowok itu, ia berkata dalam hati, “pertunjukkan akan segera dimulai.”

Chilton menarik pandangannya, ia menepuk pundak Delana dan berlalu meninggalkan pergi meninggalkan cewek itu. Membiarkan Delana terpaku seorang diri dengan jantung berdebar.

Delana mengggigit bibir bawahnya sembari menghela napas begitu Chilton pergi dari hadapannya. Ia membalikkan tubuhnya, menatap Chilton yang terus berjalan menjauh. Chilton melambaikan tangan tanpa menoleh ke belakang. Cowok itu menyadari kalau Delana sedang menatap kepergiannya.

 

***

Delana semangat sekali bangun lebih pagi dari biasanya. Ia sibuk menyiapkan sarapan untuk ayah dan adiknya. Ia juga tak lupa menyiapkan sarapan untuk Chilton. Ia tersenyum menatap kotak bekal yang sudah ia isi dengan menu makanan sehat. Ia susun dengan cantik dan penuh cinta.

Delana selalu memperdulikan asupan makanan untuk keluarganya. Ia selalu membuat makanan sehat dari bahan-bahan yang berkualitas. Ayahnya sibuk kerja, adiknya juga sibuk dengan berbagai kegiatan di sekolah. Ia harus memperhatikan asupan makanan keduanya. Sehingga, ia selalu menyiapkan makanan sehat. Hampir setiap pagi ia meneriaki adiknya jika tidak mau menghabiskan porsi makanan yang ia buat.

Mulai hari ini, ada satu lagi laki-laki spesial yang akan menjadi pelanggan tetap masakannya. Ia bahagia bisa membawakan sarapan untuk Chilton.

Delana berangkat ke kampus dengan perasaan berbunga-bunga. Ia duduk di kursi taman seperti biasa. Menunggu Chilton melintas dari lari pagi.

Setengah jam berlalu, Chilton tidak muncul juga. Ia terus menghitung detik yang berjalan. “Apa dia tidak lari pagi hari ini?” gumam Delana sembari menatap jam yang ada di ponselnya.

Delana menghela napas. Ia memutuskan untuk menemui Chilton di asrama. Awalnya, ia takut untuk pergi ke sana. Namun, ia terus melangkahkan kakinya menuju gedung asrama kampus dan tidak lagi malu bertanya di mana kamar Chilton.

Delana menaiki anak tangga satu per satu menuju lantai dua. Ia mempercepat langkahnya sampai akhirnya sampai di depan kamar Chilton.

Belum sempat ia mengetuk pintu, pintu itu sudah terbuka dan Chilton keluar dari dalam kamarnya. Masih dengan pakaian rumah dan rambutnya sedikit berantakan. Sepertinya ia baru bangun dari tidurnya.

“Delana ...!” Chilton terkejut menatap cewek yang tiba-tiba sudah ada di hadapannya itu. “Kamu kok bisa di sini?” tanyanya sambil celingukan ke kanan dan ke kiri.

“Kenapa? Aku nunggu kamu di taman dan kamu nggak muncul-muncul.”

“Kayaknya kita nggak ada janjian buat ketemu di taman pagi ini,” tutur Chilton sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan karena masih menguap.

“Iya, sih. Aku inisiatif sendiri buat nunggu kamu di sana karena setiap pagi kamu selalu lari pagi.”

Chilton mengangguk-anggukkan kepalanya sambil memejamkan mata karena masih mengantuk. Ia menghabiskan waktunya semalaman untuk bermain game online.

“Ini, aku bawa sarapan buat kamu!” Delana menyodorkan kotak nasi bersusun tiga ke hadapan Chilton.

“Sebanyak ini?” tanya Chilton sembari meraih kotak nasi itu dari tangan Delana.

Delana tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. “Habiskan ya! Kamu pasti butuh makan banyak karena begadang semalaman.”

“Eh!? Kamu tahu dari mana aku semalam begadang?” Chilton menatap Delana dengan wajah bingung.

“Dari garis matamu,” jawab Delana dengan senyuman manis.

Chilton mengusap matanya. Ia masih belum yakin kalau garis matanya terlihat, padahal ia baru ini begadang sampai jam tiga pagi. Biasanya, dia selalu tidur lebih awal.

“Aku pamit dulu, ya! Jangan lupa dihabiskan sarapannya! Besok, aku tunggu di taman.” Delana mengerdipkan matanya. Ia tersenyum riang, melambaikan tangan dan berlalu pergi meninggalkan Chilton.

Chilton tertawa kecil menatap kepergian Delana. Ia menggeleng heran melihat tingkah cewek itu. Jelas-jelas ia sudah menolak perasaannya. Tapi, cewek itu tetap percaya diri dan tidak menyerah begitu saja. Ia bisa menolak Delana saat ia mengungkapkan perasaan sukanya, tapi ia tidak bisa menolak sarapan pagi yang dibawakan Delana.

Chilton tersenyum menatap kotak bekal itu. Ia kembali masuk ke dalam kamar dan langsung membuka kotak bekal itu secepatnya. Masakan Delana memang enak dan ia tidak bisa menolak makanan enak.

 

***

Keesokan harinya, Delana menunggu Chilton di taman seperti biasa. Tak perlu menunggu lama, Chilton sudah muncul dan langsung duduk di sampingnya. Sebelumnya, ia sempat menanggapi sapaan dari beberapa cewek yang ikut jogging di taman.

“Sudah lama?” tanya Chilton.

“Belum,” jawab Delana ketus.

Chilton mengerutkan dahinya melihat sikap Delana. Ia menatap kotak bekal yang ada di pangkuan Delana. “Ini buat aku, kan?” Chilton langsung merebut kotak bekal itu tanpa menunggu jawaban dari Delana.

“Masak apa hari ini?” tanya Chilton. Ia menarik sendok yang direkatkan dengan selotip di sisi kotak bekal tersebut, lalu membuka kotak bekal untuk melihat menu sarapan yang dibuat Delana hari ini.

Dari tampilannya, terlihat seperti nasi putih biasa dengan ayam dan beberapa sayuran yang disusun rapi. Chilton menyendok nasi dan mencicipinya. “Hmm ... enak. Ini pas banget nasi gurihnya.”

Delana tersenyum. Ia memang sengaja membuatkan nasi gurih dan ayam kampung untuk Chilton hari ini. Delana bangkit dari duduknya.

“Ke mana?” tanya Chilton dengan mulut penuh makanan.

“Ke kelas.”

Chilton melirik jam tangannya. “Masih lama masuknya. Sini dulu!” Chilton menarik lengan Delana agar kembali duduk.

“Sudah sarapan?” tanya Chilton begitu Delana duduk di sampingnya.

“Sudah.”

“Mau lagi? Ini enak loh!” Chilton menyodorkan kotak bekal ke hadapan Delana.

“Aku sudah makan. Ini kan masakan aku sendiri,” celetuk Delana.

“Oh, iya. Aku lupa kalau kamu pencipta masakan enak ini.” Chilton tertawa kecil.

Delana tersenyum menatap Chilton. Ia bahagia melihat cowok itu bersemangat memakan makanan buatannya. Tapi, di hatinya masih ada rasa kesal saat melihat Chilton mulai ramah dengan cewek lain.

“Minum!” pinta Chilton. Ia kesulitan menelan nasi karena menyuapkan makanan ke mulutnya terlalu banyak.

Delana langsung menyodorkan botol minum pada Chilton. “Kalau makan hati-hati! Makanannya nggak bakal pergi ke mana-mana.”

“Iya, tapi yang ngasih makanan yang bakal pergi ke mana-mana,” sambar Chilton.

“Eh!?” Delana menoleh ke arah Chilton.

“Bercanda ...,” ucap Chilton nyengir.

Usai makan, Chilton kembali ke asrama dan bersiap berangkat ke kelasnya. Sementara Delana langsung masuk ke dalam kelas seperti biasa.

 

***

Delana sibuk berkutat di dapur. Membaca resep masakan Jepang yang ia ambil dari internet. Setelah selesai memasak, ia mencicipi beberapa kali dan merasa masakannya sangat kacau. Entah kenapa tidak bersahabat di lidahnya.

Delana berteriak memanggil pembantunya, pembantunya datang dengan tergopoh-gopoh sembari memegang sapu di tangannya.

“Bude, cobain masakan aku!” pinta Delana menyodorkan hasil makanannya. “Enak nggak?” tanya Delana.

Pembantunya mencoba mencicipi masakan Delana dan terlihat berpikir.

“Kenapa? Nggak enak?” tanya Delana.

“Enak, Mbak.”

“Serius?”

“Iya.”

“Ya sudah. Lanjutin kerjaannya Bude!”

Delana meloncat kegirangan karena akhirnya bisa membuat masakan Jepang yang menjadi salah satu makanan favorite Chilton.

 

***

Setelah berjuang membuat masakan Jepang. Akhirnya Delana percaya diri membawakan bekal sarapan pagi untuk Chilton dengan salah satu menu kesukaannya. Delana berharap, Chilton akan terkesan dengan masakannya kali ini dan meminta Delana memasak untuknya setiap hari.

Delana terkejut ketika mendapati Chilton sudah duduk di kursi taman, menunggunya. Ia merogoh ponsel dan melihat jam. Ia rasa tak salah jam. Kenapa Chilton datang lebih pagi? Apa dia tahu kalau Delana membawakan masakan spesial untuknya?

Ah, Delana tak ingin banyak menduga-duga. Ia langsung tersenyum riang menghampiri Chilton yang sudah menunggunya.

“Sudah lama menunggu?” tanya Delana. Pertanyaan yang biasa diajukan Chilton di tempat ini. Sebab, Delana yang lebih banyak menunggu ketimbang Chilton.

“Hmm ....” Chilton melihat arloji di tangan kirinya. “Sepuluh tahun dua bulan enam belas hari dua jam tiga puluh lima detik,” ucapnya ngasal.

Delana tergelak mendengar ucapan Chilton. Terlebih, ia berusaha untuk melucu dengan ekspresi wajah datar dan serius. Itu menggelikan!

“Aku anggap yang terakhir. Lima detik?” tutur Delana sambil duduk di samping Chilton.

“Hmm ....” Chilton memutar bola matanya. “Kayaknya lebih.”

Delana tertawa kecil. “Karena kamu yang menunggu aku hari ini. Aku punya sarapan spesial buat kamu,” ucap Delana dengan wajah penuh keceriaan.

“Oh ya?” Chilton mengangkat kedua alisnya.

Delana menyodorkan tempat makan ke hadapan Chilton. Chilton menerimanya dengan senang hati.

“Aku membuatnya dengan susah payah. Aku belum terbiasa dengan masakan seperti itu,” tutur Delana sembari mengulurkan sendok kepada Chilton.

Chilton mengerutkan dahinya. Ia segera membuka kotak bekal dan ia benar-benar terkejut karena mendapati makanan Jepang yang ada di dalamnya. “Wow ...! Ini kamu nggak beli kan?” tanya Chilton.

“Beli,” jawab Delana datar. “Bahannya,” lanjutnya sambil tersenyum.

Chilton tersenyum kecil dan langsung mencicipi masakan Delana. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya. “Lumayan enak,” tuturnya.

Delana menaikkan kedua alisnya. Lumayan? Itu artinya masakannya belum sampai ke level enak. Seharusnya ini jadi masakan spesial, tapi Chilton justru kurang suka dengan masakannya.

“Aku lebih suka kamu masak nasi gurih atau nasi goreng,” tutur Chilton.

“Masakanku kali ini nggak enak ya?” tanya Delana tak bersemangat.

“Enak. Siapa bilang nggak enak?”

“Kamu.”

“Aku nggak bilang begitu.”

“Tapi kamu bilang lebih baik masak nasi goreng?”

“Iya. Nasi goreng buatan kamu emang lebih enak ... dan lucu.”

Delana tertawa kecil mengingat nasi goreng berbentuk sepatu yang ia berikan pada Chilton untuk pertama kalinya.

“Apa kamu nggak pernah olahraga?” tanya Chilton.

“Eh!?” Delana menoleh ke arah Chilton. Ia masih tidak mengerti kenapa Chilton berkata seperti itu.

“Aku nggak pernah lihat kamu jogging atau olahraga yang lainnya.”

“Aku? Setiap hari aku sudah jalan kaki berangkat dan pulang dari kampus. Aku rasa sudah cukup.”

Chilton mengernyitkan dahinya. “Kenapa perempuan malas banget olahraga?”

“Bukan malas, tapi sibuk.”

“Sibuk apa?”

“Sibuuuuk ....” Delana memanjangkan nada jawabannya sambil berpikir.

“Sibuk bergosip?” sambar Chilton.

“Idih .. nggak, lah. Aku nggak pernah sibuk bergosip.”

“Oh ya? Kalau gitu besok aku tunggu kamu di Lapmer jam enam pagi. Kita jogging bareng. Gimana?”

“Hah!? Serius kamu ngajak aku jogging?” tanya Delana.

“Apa aku kelihatan bercanda?” tanya Chilton.

“Tapi ...”

“Besok hari minggu. Apa kamu sudah ada janji sama yang lain?”

“Hah!? Nggak ada. Janji sama siapa?” tanya Delana.

Chilton mengedikkan bahunya. Ia melanjutkan menghabiskan sarapan paginya.

“Kenapa kamu tinggal di asrama?” tanya Delana perlahan. “Rumah kamu jauh?” tanya Delana.

“Nggak juga.”

“Terus?”

“Aku sendirian di rumah saat hari biasa. Mama cuma di rumah pas libur aja. Aku pulang ke rumah setiap weekend.”

“Oh.” Delana mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Rumahmu daerah mana?” tanya Delana.

Chilton menatap cewek itu. Apa perlu ia memberitahukan pada Delana di mana ia tinggal? Ia berpikir sejenak dan memutuskan untuk memberitahu Delana. Ia percaya, Delana bukan tipe cewek penggosip. “Gunung Dub.”

“Hah!? Serius?” teriak Delana tak bisa mengendalikan dirinya.

Chilton menganggukkan kepalanya.

“Iiih ... di sana kan pemandangannya indah banget!” tutur Delana sembari menangkup wajahnya sendiri karena gemas.

“Biasa aja.”

“Buat kamu biasa karena udah sering lihat. Buat aku ... itu luar biasa. Aku suka banget suasana di sana asri banget. Udah gitu, bisa lihat laut dari ketinggian. Bisa lihat rumah-rumah dan gedung-gedung yang ada di pesisir pantai. Tapi, aku belum pernah lihat kalau malam hari. Aku ngebayangin lampu-lampu kota itu indah banget.” Delana berbinar membayangkan tempat itu di malam hari.

“Oh. Itu? Pas di belakang rumahku.”

“Hah!? Serius?” teriak Delana lagi.

“Iya. Hotel-hotel dan mall itu bisa kelihatan dari belakang rumah.”

“Duh ... So sweet!” tutur Delana.

“Mau ke sana?” tanya Chilton.

“Mau!”

“Jadi cewek mauan banget!” celetuk Chilton sambil menahan tawa.

Delana mencebik dan langsung memukul pundak Chilton. Mereka kini selalu memulai pagi bersama sambil bercanda. Delana senang karena perlahan-lahan Chilton mau membuka diri dan mengajaknya bergurau.


((Bersambung ...))

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas