Wednesday, August 13, 2025

Then Love Bab 4 : Mengejar Cinta Bintang Kampus

 


Semenjak Delana jalan keluar bersama Chilton, ia menjadi bahan perbincangan hangat seisi kampus. Dari sekian banyak mahasiswa, ada yang senang melihat Chilton bersama Delana dan banyak juga yang tidak suka.

“Mereka cocok banget! So cute ...,” ucap salah satu mahasiswi yang sedang berkerumun membicarakan kedekatan Delana dan Chilton.

“Iya. Ganteng sama cantik. Delana juga baik hati. Aku rasa bisa membuat Chilton menjadi pria yang lebih baik lagi.”

“Bener. Selama ini si Chilton tuh dingin banget kayak es. Tapi, kalau sama Delana dia kelihatan beda. Bisa jadi, Delana itu ibu peri yang dikirim Tuhan buat ngerubah Chilton jadi cowok yang baik.”

“Hahaha. Emangnya ini negeri dongeng?”

“Anggap aja seperti itu.”

“Yah, bakal jadi hari patah hati se-Indonesia kalau sampe mereka beneran jadian. Aku nggak rela! Kenapa nggak sama aku aja, sih!”

“Udah jelas, kamu bukan tipe cewek yang disukai sama Chilton!”

“Iya. Apa ya yang bikin Chilton bisa tertarik sama dia selain cantik? Karena ada banyak cewek cantik di kampus ini.”

“Eh, Chilton lewat!”

Seketika kerumunan mahasiswi itu diam saat Chilton melintas di depan mereka. Mereka tidak menyangka kalau akan ada Chilton. Sepertinya Chilton mendengar kalau ia sedang dibicarakan karena ia menatap kerumunan mahasiswi itu dengan wajah sinis.

Chilton tidak begitu suka melihat cewek berkerumunan untuk bergosip. Saling membicarakan temannya sendiri. Siapa lagi yang mau mereka bicarakan kalau bukan teman sendiri atau teman dari temannya. Benar-benar kegiatan yang tidak bermutu.

Chilton terus melangkahkan kakinya menyusuri koridor, menaiki anak tangga menuju kelasnya. Ia tak segera masuk kelas. Ia melewati kelasnya begitu saja menuju balkon yang ada di samping kelasnya, sebab kelasnya adalah kelas paling pojok. Ia senang berdiri menyendiri di sana. Tak ada satu pun orang yang akan mengganggunya atau sekedar mendengarkan pembicaraan tak bermutu dari kerumunan mahasiswa penggosip.

Sejak ada mahasiswa baru yang salah masuk kelas, Chilton jadi sering berdiri di balkon ujung gedung yang berada di lantai dua, tepat di samping kelasnya. Balkon itu menghadap ke arah taman. Dulu, tak ada hal yang menarik sama sekali dari taman kampusnya itu selain bunga-bunga yang bermekaran. Tapi, kini ia sering melihat pemandangan berbeda. Ia melihat sosok yang lebih indah dari bunga-bunga yang bermekaran.

Beberapa kali ia melihat sosok gadis yang duduk seorang diri di kursi taman. Sementara yang lain terlihat asyik mengobrol dengan temannya, ia justru asyik menyendiri. Dari sini, ia bisa leluasa melihat Delana tanpa terlihat.

“Hei, kucariin dari tadi sekalinya di sini!” Zoya, teman sekelas Chilton menepuk pundak Chilton.

“Eh!?”

“Akhir-akhir ini kamu sering berdiri di sini. Apa ada sesuatu yang menarik di bawah sana?”

Chilton tertawa kecil. “Ayo, masuk kelas!”

“Aha ... aku tahu. Aku sudah dengar gosip yang beredar di kampus ini.”

Chilton tersenyum kecil sembari melangkahkan kaki meninggalkan temannya itu.

“Apa kamu bakal nerima dia?” seru temannya dari belakang.

Chilton tertawa kecil. “Cuma teman.”

“Kenapa jalan bareng?”

“Aku nggak mau berhutang budi sama siapa pun.” Chilton terus melangkah masuk kelas dan duduk di bagian paling belakang seperti biasanya.

 

***

 

“Del, kamu masih deketin kakak senior kamu itu?” tanya Belvina saat mereka berkumpul di kamar Ivona.

“Iya. Kenapa?” tanya Delana balik.

“Nggak takut?”

“Takut apa?”

“Patah hati lagi.”

“Udah, deh. Nggak usah ngomongin masa lalu.”

“Yah ... aku sebagai teman baikmu, nggak ada salahnya kan aku peduli sebelum semuanya terlanjur.”

“Dia ngasih lampu hijau. Kemarin dia ngajak aku jalan keluar. Makan di restoran Jepang dan pergi ke salah satu sekolah tempat dia sekolah dulu.”

“Hah!? Serius? Kok, baru cerita?” sambar Ivona.

“Kalian sibuk. Lagian, jalannya juga baru kemarin sore. Aku cerita hari ini masih termasuk update, kan?”

“Biasanya kamu selalu telepon kalau ada cerita terbaru. Nggak gatal tuh mulut nahan nggak cerita tentang cowok ganteng?” celetuk Belvi.

“Yee ... kayak kamu enggak aja!”

Belvi cengengesan menanggapi ucapan Delana.

“Del, aku denger-denger udah banyak cewek yang nembak Chilton dan semuanya ditolak. Kamu nggak takut ditolak juga?” tanya Belvi perlahan.

“Nggak, lah. Aku nggak akan nembak dia, jadi nggak akan ada kata takut ditolak.”

Belvi mengernyitkan dahinya. “Terus, gimana mau jadian?”

“Dia dong yang nembak aku. Masa aku yang nembak dia duluan!?”

“Heleh ... nggak mungkin dia nembak kamu duluan!” Belvi menjulurkan lidahnya.

“Iih ... ngoloknya pang!” sahut Delana. “Lihat aja! Aku bakal bikin dia jatuh cinta sama aku!” seru Delana.

“Oh ya? Oke. Aku bakal lihatin terus!” Belvi tak mau kalah.

“Iih ... kamu tuh nyebelin banget!” Delana memukul Belvi dengan bantal. Belvi tidak terima dan membalasnya. Akhirnya mereka bergulat di atas kasur. Membuat Ivona geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua sahabatnya itu.

 

***

Jam enam pagi, Delana dibuat kelabakan karena baru terbangun dari tidurnya. Ia mengerjakan tugas kuliah sampai larut malam, membuatnya jadi bangun kesiangan.

Delana langsung berlari menuju dapur. Langkah kakinya terhenti saat ia baru sampai di pintu dapur. Ia menatap seorang perempuan setengah baya bertubuh gembul sedang berkutat di dapurnya.

“Bude, maaf aku bangun kesiangan.” Delana melangkahkan kaki perlahan mendekati pembantunya itu.

“Nggak papa, Mbak. Ini sudah Bude buatkan sarapan.” Pembantu Delana tersenyum sembari membersihkan peralatan memasaknya. “Mbak Dela langsung mandi saja! Ini sudah siang.”

Delana tersenyum dan bergegas kembali ke kamarnya. Ia sedikit merasa bersalah karena biasanya dialah yang menyiapkan sarapan untuk ayah dan adiknya. Ia menyewa pembantu hanya untuk membantunya membereskan rumah, menyuci dan menyetrika pakaian.

Satu jam kemudian, Delana sudah selesai mandi dan bersiap ke kampus. Delana berangkat ke kampus tanpa sarapan terlebih dahulu.

“Nggak sarapan dulu?” tanya Harun, ayah Delana.

“Nggak, Yah. Delana telat masuk kampus. Nanti Delana sarapan di kantin saja,” jawabnya sambil  mencium punggung tangan ayahnya dan berlari keluar dari rumah.

Delana terus berlari sampai memasuki pekarangan kampus. Ia pergi ke taman seperti biasa untuk menemui Chilton. Tapi, sepertinya ia sudah terlambat karena sudah tidak ada satu pun orang yang jogging di sana.

Delana mengatur napasnya yang tersengal. Ia membungkuk sembari memegangi lututnya karena kelelahan. Ia tahu ia terlambat dan belum tentu bisa bertemu dengan Chilton. Chilton bukan cowok yang mudah untuk ia temui. Dua hari semenjak mereka jalan keluar bersama, Delana belum bertemu dengan cowok itu kembali. Sudah dua hari ia tidak bisa menemukannya di taman. Ia juga sudah pergi ke kelasnya dan Chilton juga tidak ada.

“Kenapa dia tiba-tiba menghilang?” gumam Delana. Ia mengangkat punggungnya, berdiri menatap ujung jalan taman, tempat di mana ia bisa menemukan sosok Chilton muncul untuk pertama kalinya. Tapi, ia tidak muncul di sana ... kosong.

Delana melangkahkan kaki dengan lesu menuju ke kelasnya.

Saat jam mata pelajaran usai, Delana memberanikan diri mencari Chilton ke kelasnya. Beruntungnya, ia bertemu Chilton saat ia sedang menaiki tangga. Tapi, cowok itu tetap bersikap dingin dan tidak melihatnya. Melewati tubuh Delana seperti orang yang tak pernah saling mengenal sama sekali.

Delana merapatkan gigi-giginya karena kesal. Ia menarik napas panjang dan membalikkan tubuhnya mengejar Chilton yang sedang menuruni tangga.

“Chil ...!” Delana menarik lengan Chilton, kemudian menghadang langkahnya dengan cepat.

Chilton mengerutkan dahinya melihat cewek yang ada di depannya seolah tak pernah saling mengenal.

“Kamu kenapa tiba-tiba berubah?” tanya Delana tanpa basa-basi.

“Apa yang berubah?” tanya Chilton tanpa menatap Delana sembari melangkahkan kakinya.

Delana menahan langkah Chilton dan menatap cowok itu tajam.

“Kamu bener-bener nggak punya perasaan ya? Dua hari yang lalu kamu ngajak aku makan, ngajak jalan. Sekarang, kamu lihat aku kayak orang yang nggak kenal sama sekali,” tutur Delana.

Chilton tersenyum sinis. “Aku cuma ngajak makan biasa. Nggak ada yang istimewa. Setidaknya bisa membayar sarapan yang kamu kasih ke aku.”

“Aku nggak minta balasan apa pun.”

“Terus?”

“Aku cuma mau kita bisa berteman.”

“Sudah.” Chilton sama sekali tidak mau menatap Delana.

“Mmh ... aku ingin lebih dari itu.”

Chilton mengernyitkan dahinya. “Kamu terlalu percaya diri. Apa kamu pikir, kamu pantas buat aku?”

Deg!

Pertanyaan Chilton membuat jantung Delana berhenti berdetak. Tapi, ia tidak mau menyerah begitu saja. Ia harus bisa membuktikan kalau perasaannya pada cowok itu sangat tulus. Dengan yakin ia berkata, “Iya.”

“Oke. Show me!” Chilton mendengus ke arah Delana. Menatap wajah gadis itu dan ia sempat terpaku sejenak melihat mata Delana yang memandangnya berbeda. Ia merasa nyaman melihat bayangannya sendiri masuk ke dalam bingkai mata Delana.

Delana tersenyum lebar menatap Chilton. Dengan senang hati ia akan membuktikan pada Chilton kalau ia perempuan yang pantas untuk cowok itu. Delana merasa tertantang dengan kata-kata Chilton. Sembari menatap mata cowok itu, ia berkata dalam hati, “pertunjukkan akan segera dimulai.”

Chilton menarik pandangannya, ia menepuk pundak Delana dan berlalu meninggalkan pergi meninggalkan cewek itu. Membiarkan Delana terpaku seorang diri dengan jantung berdebar.

Delana mengggigit bibir bawahnya sembari menghela napas begitu Chilton pergi dari hadapannya. Ia membalikkan tubuhnya, menatap Chilton yang terus berjalan menjauh. Chilton melambaikan tangan tanpa menoleh ke belakang. Cowok itu menyadari kalau Delana sedang menatap kepergiannya.

 

***

Delana semangat sekali bangun lebih pagi dari biasanya. Ia sibuk menyiapkan sarapan untuk ayah dan adiknya. Ia juga tak lupa menyiapkan sarapan untuk Chilton. Ia tersenyum menatap kotak bekal yang sudah ia isi dengan menu makanan sehat. Ia susun dengan cantik dan penuh cinta.

Delana selalu memperdulikan asupan makanan untuk keluarganya. Ia selalu membuat makanan sehat dari bahan-bahan yang berkualitas. Ayahnya sibuk kerja, adiknya juga sibuk dengan berbagai kegiatan di sekolah. Ia harus memperhatikan asupan makanan keduanya. Sehingga, ia selalu menyiapkan makanan sehat. Hampir setiap pagi ia meneriaki adiknya jika tidak mau menghabiskan porsi makanan yang ia buat.

Mulai hari ini, ada satu lagi laki-laki spesial yang akan menjadi pelanggan tetap masakannya. Ia bahagia bisa membawakan sarapan untuk Chilton.

Delana berangkat ke kampus dengan perasaan berbunga-bunga. Ia duduk di kursi taman seperti biasa. Menunggu Chilton melintas dari lari pagi.

Setengah jam berlalu, Chilton tidak muncul juga. Ia terus menghitung detik yang berjalan. “Apa dia tidak lari pagi hari ini?” gumam Delana sembari menatap jam yang ada di ponselnya.

Delana menghela napas. Ia memutuskan untuk menemui Chilton di asrama. Awalnya, ia takut untuk pergi ke sana. Namun, ia terus melangkahkan kakinya menuju gedung asrama kampus dan tidak lagi malu bertanya di mana kamar Chilton.

Delana menaiki anak tangga satu per satu menuju lantai dua. Ia mempercepat langkahnya sampai akhirnya sampai di depan kamar Chilton.

Belum sempat ia mengetuk pintu, pintu itu sudah terbuka dan Chilton keluar dari dalam kamarnya. Masih dengan pakaian rumah dan rambutnya sedikit berantakan. Sepertinya ia baru bangun dari tidurnya.

“Delana ...!” Chilton terkejut menatap cewek yang tiba-tiba sudah ada di hadapannya itu. “Kamu kok bisa di sini?” tanyanya sambil celingukan ke kanan dan ke kiri.

“Kenapa? Aku nunggu kamu di taman dan kamu nggak muncul-muncul.”

“Kayaknya kita nggak ada janjian buat ketemu di taman pagi ini,” tutur Chilton sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan karena masih menguap.

“Iya, sih. Aku inisiatif sendiri buat nunggu kamu di sana karena setiap pagi kamu selalu lari pagi.”

Chilton mengangguk-anggukkan kepalanya sambil memejamkan mata karena masih mengantuk. Ia menghabiskan waktunya semalaman untuk bermain game online.

“Ini, aku bawa sarapan buat kamu!” Delana menyodorkan kotak nasi bersusun tiga ke hadapan Chilton.

“Sebanyak ini?” tanya Chilton sembari meraih kotak nasi itu dari tangan Delana.

Delana tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. “Habiskan ya! Kamu pasti butuh makan banyak karena begadang semalaman.”

“Eh!? Kamu tahu dari mana aku semalam begadang?” Chilton menatap Delana dengan wajah bingung.

“Dari garis matamu,” jawab Delana dengan senyuman manis.

Chilton mengusap matanya. Ia masih belum yakin kalau garis matanya terlihat, padahal ia baru ini begadang sampai jam tiga pagi. Biasanya, dia selalu tidur lebih awal.

“Aku pamit dulu, ya! Jangan lupa dihabiskan sarapannya! Besok, aku tunggu di taman.” Delana mengerdipkan matanya. Ia tersenyum riang, melambaikan tangan dan berlalu pergi meninggalkan Chilton.

Chilton tertawa kecil menatap kepergian Delana. Ia menggeleng heran melihat tingkah cewek itu. Jelas-jelas ia sudah menolak perasaannya. Tapi, cewek itu tetap percaya diri dan tidak menyerah begitu saja. Ia bisa menolak Delana saat ia mengungkapkan perasaan sukanya, tapi ia tidak bisa menolak sarapan pagi yang dibawakan Delana.

Chilton tersenyum menatap kotak bekal itu. Ia kembali masuk ke dalam kamar dan langsung membuka kotak bekal itu secepatnya. Masakan Delana memang enak dan ia tidak bisa menolak makanan enak.

 

***

Keesokan harinya, Delana menunggu Chilton di taman seperti biasa. Tak perlu menunggu lama, Chilton sudah muncul dan langsung duduk di sampingnya. Sebelumnya, ia sempat menanggapi sapaan dari beberapa cewek yang ikut jogging di taman.

“Sudah lama?” tanya Chilton.

“Belum,” jawab Delana ketus.

Chilton mengerutkan dahinya melihat sikap Delana. Ia menatap kotak bekal yang ada di pangkuan Delana. “Ini buat aku, kan?” Chilton langsung merebut kotak bekal itu tanpa menunggu jawaban dari Delana.

“Masak apa hari ini?” tanya Chilton. Ia menarik sendok yang direkatkan dengan selotip di sisi kotak bekal tersebut, lalu membuka kotak bekal untuk melihat menu sarapan yang dibuat Delana hari ini.

Dari tampilannya, terlihat seperti nasi putih biasa dengan ayam dan beberapa sayuran yang disusun rapi. Chilton menyendok nasi dan mencicipinya. “Hmm ... enak. Ini pas banget nasi gurihnya.”

Delana tersenyum. Ia memang sengaja membuatkan nasi gurih dan ayam kampung untuk Chilton hari ini. Delana bangkit dari duduknya.

“Ke mana?” tanya Chilton dengan mulut penuh makanan.

“Ke kelas.”

Chilton melirik jam tangannya. “Masih lama masuknya. Sini dulu!” Chilton menarik lengan Delana agar kembali duduk.

“Sudah sarapan?” tanya Chilton begitu Delana duduk di sampingnya.

“Sudah.”

“Mau lagi? Ini enak loh!” Chilton menyodorkan kotak bekal ke hadapan Delana.

“Aku sudah makan. Ini kan masakan aku sendiri,” celetuk Delana.

“Oh, iya. Aku lupa kalau kamu pencipta masakan enak ini.” Chilton tertawa kecil.

Delana tersenyum menatap Chilton. Ia bahagia melihat cowok itu bersemangat memakan makanan buatannya. Tapi, di hatinya masih ada rasa kesal saat melihat Chilton mulai ramah dengan cewek lain.

“Minum!” pinta Chilton. Ia kesulitan menelan nasi karena menyuapkan makanan ke mulutnya terlalu banyak.

Delana langsung menyodorkan botol minum pada Chilton. “Kalau makan hati-hati! Makanannya nggak bakal pergi ke mana-mana.”

“Iya, tapi yang ngasih makanan yang bakal pergi ke mana-mana,” sambar Chilton.

“Eh!?” Delana menoleh ke arah Chilton.

“Bercanda ...,” ucap Chilton nyengir.

Usai makan, Chilton kembali ke asrama dan bersiap berangkat ke kelasnya. Sementara Delana langsung masuk ke dalam kelas seperti biasa.

 

***

Delana sibuk berkutat di dapur. Membaca resep masakan Jepang yang ia ambil dari internet. Setelah selesai memasak, ia mencicipi beberapa kali dan merasa masakannya sangat kacau. Entah kenapa tidak bersahabat di lidahnya.

Delana berteriak memanggil pembantunya, pembantunya datang dengan tergopoh-gopoh sembari memegang sapu di tangannya.

“Bude, cobain masakan aku!” pinta Delana menyodorkan hasil makanannya. “Enak nggak?” tanya Delana.

Pembantunya mencoba mencicipi masakan Delana dan terlihat berpikir.

“Kenapa? Nggak enak?” tanya Delana.

“Enak, Mbak.”

“Serius?”

“Iya.”

“Ya sudah. Lanjutin kerjaannya Bude!”

Delana meloncat kegirangan karena akhirnya bisa membuat masakan Jepang yang menjadi salah satu makanan favorite Chilton.

 

***

Setelah berjuang membuat masakan Jepang. Akhirnya Delana percaya diri membawakan bekal sarapan pagi untuk Chilton dengan salah satu menu kesukaannya. Delana berharap, Chilton akan terkesan dengan masakannya kali ini dan meminta Delana memasak untuknya setiap hari.

Delana terkejut ketika mendapati Chilton sudah duduk di kursi taman, menunggunya. Ia merogoh ponsel dan melihat jam. Ia rasa tak salah jam. Kenapa Chilton datang lebih pagi? Apa dia tahu kalau Delana membawakan masakan spesial untuknya?

Ah, Delana tak ingin banyak menduga-duga. Ia langsung tersenyum riang menghampiri Chilton yang sudah menunggunya.

“Sudah lama menunggu?” tanya Delana. Pertanyaan yang biasa diajukan Chilton di tempat ini. Sebab, Delana yang lebih banyak menunggu ketimbang Chilton.

“Hmm ....” Chilton melihat arloji di tangan kirinya. “Sepuluh tahun dua bulan enam belas hari dua jam tiga puluh lima detik,” ucapnya ngasal.

Delana tergelak mendengar ucapan Chilton. Terlebih, ia berusaha untuk melucu dengan ekspresi wajah datar dan serius. Itu menggelikan!

“Aku anggap yang terakhir. Lima detik?” tutur Delana sambil duduk di samping Chilton.

“Hmm ....” Chilton memutar bola matanya. “Kayaknya lebih.”

Delana tertawa kecil. “Karena kamu yang menunggu aku hari ini. Aku punya sarapan spesial buat kamu,” ucap Delana dengan wajah penuh keceriaan.

“Oh ya?” Chilton mengangkat kedua alisnya.

Delana menyodorkan tempat makan ke hadapan Chilton. Chilton menerimanya dengan senang hati.

“Aku membuatnya dengan susah payah. Aku belum terbiasa dengan masakan seperti itu,” tutur Delana sembari mengulurkan sendok kepada Chilton.

Chilton mengerutkan dahinya. Ia segera membuka kotak bekal dan ia benar-benar terkejut karena mendapati makanan Jepang yang ada di dalamnya. “Wow ...! Ini kamu nggak beli kan?” tanya Chilton.

“Beli,” jawab Delana datar. “Bahannya,” lanjutnya sambil tersenyum.

Chilton tersenyum kecil dan langsung mencicipi masakan Delana. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya. “Lumayan enak,” tuturnya.

Delana menaikkan kedua alisnya. Lumayan? Itu artinya masakannya belum sampai ke level enak. Seharusnya ini jadi masakan spesial, tapi Chilton justru kurang suka dengan masakannya.

“Aku lebih suka kamu masak nasi gurih atau nasi goreng,” tutur Chilton.

“Masakanku kali ini nggak enak ya?” tanya Delana tak bersemangat.

“Enak. Siapa bilang nggak enak?”

“Kamu.”

“Aku nggak bilang begitu.”

“Tapi kamu bilang lebih baik masak nasi goreng?”

“Iya. Nasi goreng buatan kamu emang lebih enak ... dan lucu.”

Delana tertawa kecil mengingat nasi goreng berbentuk sepatu yang ia berikan pada Chilton untuk pertama kalinya.

“Apa kamu nggak pernah olahraga?” tanya Chilton.

“Eh!?” Delana menoleh ke arah Chilton. Ia masih tidak mengerti kenapa Chilton berkata seperti itu.

“Aku nggak pernah lihat kamu jogging atau olahraga yang lainnya.”

“Aku? Setiap hari aku sudah jalan kaki berangkat dan pulang dari kampus. Aku rasa sudah cukup.”

Chilton mengernyitkan dahinya. “Kenapa perempuan malas banget olahraga?”

“Bukan malas, tapi sibuk.”

“Sibuk apa?”

“Sibuuuuk ....” Delana memanjangkan nada jawabannya sambil berpikir.

“Sibuk bergosip?” sambar Chilton.

“Idih .. nggak, lah. Aku nggak pernah sibuk bergosip.”

“Oh ya? Kalau gitu besok aku tunggu kamu di Lapmer jam enam pagi. Kita jogging bareng. Gimana?”

“Hah!? Serius kamu ngajak aku jogging?” tanya Delana.

“Apa aku kelihatan bercanda?” tanya Chilton.

“Tapi ...”

“Besok hari minggu. Apa kamu sudah ada janji sama yang lain?”

“Hah!? Nggak ada. Janji sama siapa?” tanya Delana.

Chilton mengedikkan bahunya. Ia melanjutkan menghabiskan sarapan paginya.

“Kenapa kamu tinggal di asrama?” tanya Delana perlahan. “Rumah kamu jauh?” tanya Delana.

“Nggak juga.”

“Terus?”

“Aku sendirian di rumah saat hari biasa. Mama cuma di rumah pas libur aja. Aku pulang ke rumah setiap weekend.”

“Oh.” Delana mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Rumahmu daerah mana?” tanya Delana.

Chilton menatap cewek itu. Apa perlu ia memberitahukan pada Delana di mana ia tinggal? Ia berpikir sejenak dan memutuskan untuk memberitahu Delana. Ia percaya, Delana bukan tipe cewek penggosip. “Gunung Dub.”

“Hah!? Serius?” teriak Delana tak bisa mengendalikan dirinya.

Chilton menganggukkan kepalanya.

“Iiih ... di sana kan pemandangannya indah banget!” tutur Delana sembari menangkup wajahnya sendiri karena gemas.

“Biasa aja.”

“Buat kamu biasa karena udah sering lihat. Buat aku ... itu luar biasa. Aku suka banget suasana di sana asri banget. Udah gitu, bisa lihat laut dari ketinggian. Bisa lihat rumah-rumah dan gedung-gedung yang ada di pesisir pantai. Tapi, aku belum pernah lihat kalau malam hari. Aku ngebayangin lampu-lampu kota itu indah banget.” Delana berbinar membayangkan tempat itu di malam hari.

“Oh. Itu? Pas di belakang rumahku.”

“Hah!? Serius?” teriak Delana lagi.

“Iya. Hotel-hotel dan mall itu bisa kelihatan dari belakang rumah.”

“Duh ... So sweet!” tutur Delana.

“Mau ke sana?” tanya Chilton.

“Mau!”

“Jadi cewek mauan banget!” celetuk Chilton sambil menahan tawa.

Delana mencebik dan langsung memukul pundak Chilton. Mereka kini selalu memulai pagi bersama sambil bercanda. Delana senang karena perlahan-lahan Chilton mau membuka diri dan mengajaknya bergurau.


((Bersambung ...))

Perfect Hero Bab 298 : Rumah Penuh Kenangan

 


“Bi, hari ini biar aku yang masak ya!” pinta Yuna.

“Tapi, Chef Rafa ...”

Yuna tersenyum ke arah Bibi War. “Aku mau masak khusus buat Yeri.”

“Terus? Mas Rafa gimana?”

“Chef Rafa kan masak buat aku, Bi. Aku nggak akan ngusir dia, kok.”

“Oh. Oke.”

“Bibi bantu aku belanja ya!” pinta Yuna. “Ini daftarnya,” lanjutnya sambil menyodorkan secarik kertas ke arah Bibi War.

Bibi War meraih kertas tersebut dan menganggukkan kepala.

“Aku tunggu di belakang,” ucap Yuna sambil melenggang ke teras belakang. Tempat ia biasa bersantai saat Yeriko sudah berangkat ke perusahaan. Ia lebih senang menikmati mentari pagi di tempat ini. Yeriko juga meletakkan karpet bulu dan beberapa boneka yang bisa digunakan untuk bersantai.

“Nggak nyangka, rumah yang dulu monoton ini ... makin lama makin girly,” celetuk Yuna sambil memeluk boneka beruang miliknya.

Yeriko melakukan banyak hal untuk Yuna. Semua yang sudah ia lakukan adalah ketidakmungkinan yang terjadi begitu saja.

Yuna menyandarkan tubuhnya ke dinding sambil mencari panggilan terakhir di ponselnya. Begitu mendapati nama Jheni, ia langsung menekan menu panggil.

“Halo ...! Kenapa nelpon pagi-pagi gini? Udah kangen sama aku?” tanya Jheni.

“Iya. Kamu masih ngejar deadline kerjaanmu?”

“Iya, Yun. Kenapa? Mau ajak aku makan di luar?”

“Kamu dong yang traktir aku makan!” pinta Yuna. “Kamu kan lagi banyak project. Duitnya pasti banyak.”

“Banyakan duitmu, Yun.”

“Aku pengangguran sekarang. Nggak punya duiit. Huuuaaaa ...!”

“Nggak usah drama!” sahut Jheni.

Mulut Yuna langsung menganga lebar. “Kamu nggak kasihan sama ibu hamil yang pengangguran ini?” rengek Yuna.

“Jangan manfaatin anak kamu buat menindas orang lain!” pinta Jheni.

“Hehehe. Kapan kamu luang, traktir aku ya!”

“Kamu mau makan apa? Aku delivery ke rumah kamu. Kasihan banget ibu hamil yang satu ini. Terkurung di dalam istana sendirian,” sahut Jheni.

“Ada banyak makanan di istanaku. Hahaha. Aku butuh kamu, Jhen. Kapan kita kencan sahabat?”

“Huh, bilang aja kamu mau pamer honeymoon kamu selama di Italy!?” dengus Jheni.

“Hahaha. Biar kamu pengen dan cepet nikah sama Chandra.”

“Nggak punya perasaan!” seru Jheni sambil mematikan teleponnya.

Yuna langsung tertawa kecil saat melihat panggilan teleponnya sudah mati.

“Mbak, belanjaannya udah Bibi taruh di dapur.”

“Astaga! Bibi ngagetin aja!” Yuna terkejut saat Bibi War tiba-tiba sudah ada di belakangnya.

Bibi War tersenyum ke arah Yuna. “Mau Bibi bantuin motongin sayurnya?”

“Bibi nggak ada kerjaan lain?” tanya Yuna sambil bangkit.

“Nggak ada.”

“Oke. Kita masak bareng!” ajak Yuna sambil merangkul Bibi War dan melangkah ke dapur.

Bibi War tersenyum sambil mengelus punggung tangan Yuna. “Mau masak apa?” tanyanya.

“Mmh ... karena Yeri belum bisa makan ikan. Aku mau buatin sup singkong aja, Bi.”

“Oh.”

Yuna tersenyum. Ia dan Bibi War berkutat di dapur sambil berbincang banyak hal.

“Bi, siang ini aku mau antar makan siang untuk Yeriko. Si Angga hari ini ke sini atau nggak, ya?”

“Belum tahu, Mbak. Mobilnya belum kelihatan.”

“Oh. Ya udah, nggak papa. Aku naik taksi aja.”

“Atau telepon Mas Riyan aja?”

“Nggak usah, Bi. Yeriko baru aja masuk kerja. Mereka pasti sibuk banget.”

“Iya. Ini baru pertama kalinya Mas Yeri ninggalin perusahaan lama banget. Biasanya, hari libur aja dia masuk kerja.”

“Emangnya, dulu Yeriko sesibuk itu ya?”

Bibi War mengangguk. “Makanya, nggak punya waktu buat pacaran.”

Yuna tertawa kecil sambil mengemas makanan untuk Yeriko. Memasukkannya dengan hati-hati ke dalam kotak bekal.

“Sekarang, dia malah lebih banyak di rumah. Baru setengah hari kerja, sudah pulang.”

Yuna tertawa kecil. “Dia begitu karena anaknya. Waktu aku belum hamil. Dia nggak pernah perhatian secara berlebihan kayak gini.”

“Kenapa selalu ngerasa rendah diri. Dari awal, dia sudah perhatian sama Mbak Yuna. Dia nggak pernah bawa cewek lain masuk ke rumah ini selain Mbak Yuna. Makanya, Ibu seneng banget waktu Mbak Yuna masuk ke rumah ini. Dia kira, Mas Yeri nggak akan menikah seumur hidupnya.”

“Kenapa gitu? Bukannya dia tampan dan kaya? Nggak sulit buat dapetin istri yang dia mau.”

“Semua perempuan pengen jadi istrinya. Tapi, Mas Yeri itu pemilih sekali. Udah banyak perempuan yang dijodohkan sama Kakek dan Ibu. Nggak ada satu pun yang dia mau.”

Yuna tertawa kecil. Ia merasa sangat bahagia karena sejak awal, Yeriko memang tidak mudah tergoda dengan wanita cantik dan seksi. “Terus, apa yang dia suka dari aku?” batinnya.

“Mbak Yuna mau berangkat sekarang?”

“Sekarang jam berapa, Bi?”

“Jam setengah sebelas.”

“Yeriko minta aku udah di sana jam sebelas. Kalo gitu, aku siap-siap dulu, Bi.”

Bibi War mengangguk. “Sini, biar Bibi yang rapikan.”

Yuna mengangguk. “Makasih, Bi!” Ia melepas appron dari tubuhnya dan bergegas naik ke kamar untuk bersiap-siap.

Beberapa menit kemudian, Yuna turun dari kamar dalam keadaan sudah rapi. Taksi yang ia pesan juga sudah menunggu di halaman rumah. Segera, ia bergegas menuju perusahaan suaminya.

Yuna langsung masuk ke dalam gedung perkantoran Galaxy Group begitu sampai di sana. Salah seorang satpam menyapanya dengan ramah dan ikut mengantar Yuna hingga ke lantai paling atas. Semua karyawan yang ia temui, juga menyapanya dengan ramah.

Sebelum masuk ke ruangan Yeriko, ia disapa oleh dua orang sekretaris yang biasa membantu urusan administrasi Yeriko.

“Selamat siang, Bu ...!”

“Siang,” balas Yuna sambil tersenyum hangat. “Bapak lagi sibuk atau nggak?”

“Sudah nunggu Ibu dari tadi.”

“Mmh ... oke.” Yuna melangkahkan kakinya masuk ke ruangan Yeriko.

“Siang .. !” sapa Yuna ceria. Ia tertegun saat melihat Fariz ada di ruangan tersebut. Ia melangkah perlahan menuju meja dan meletakkan kotak bekal ke atasnya.

Yeriko tersenyum kecil sambil menatap Yuna. “Sini!” pintanya

Yuna tersenyum kecil. Ia melangkah perlahan dan duduk di samping Yeriko.

“Mbak Yuna, ini semua dokumen pengalihan aset yang harus Mbak Yuna tanda tangani,” tutur Fariz sembari menunjuk tumpukkan map yang ada di hadapan Yuna.

“Pengalihan aset?” Yuna mengernyitkan dahinya.

Yeriko mengangguk sambil tersenyum. “Ini semua aset pribadiku. Nggak ada sangkut pautnya sama saham perusahaan.”

“Terus? Maksudnya apa?”

“Karena Mbak Yuna sudah menjadi istri sah Mas Yeri. Ini semua untuk Mbak Yuna.”

“Kenapa harus dialihkan?”

Yeriko tersenyum. “Aku nggak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Aku sendiri nggak bisa menjamin akan berjaya terus-menerus. Kalau suatu saat terjadi hal buruk. Ini semua bisa kamu gunakan untuk ...”

“Aku nggak mau!” sahut Yuna. “Aku menikah sama kamu bukan karena harta yang kamu punya. Toh, kamu suamiku. Nggak perlu mengalihkan semua aset kamu atas namaku.”

Yeriko menatap tajam ke arah Yuna. “Aku mikirin masa depan kamu dan anak-anak kita. Kalau terjadi sesuatu sama aku dan aku nggak bisa ngelakuin apa-apa buat kamu. Kamu mau anak-anak kita menderita?”

“Tapi ...” Yuna benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. “Aku boleh pilih yang aku mau?”

Yeriko menganggukkan kepala.

Yuna membuka map tersebut satu per satu dan membacanya. Ada banyak aset property milik Yeriko di dalam dan di luar kota. Bahkan, ada juga yang di luar pulau. Ia rasa, selama Yeriko masih menjadi suaminya. Ia tak perlu menandatangani pengalihan aset pribadi sebanyak ini.

“Aku cuma mau tanda tangan yang ini aja,” tutur Yuna sambil memegang satu map di tangannya.

“Yang lain gimana?”

Yuna menggelengkan kepala.

“Kenapa pilih rumah ini?”

Yuna tersenyum. “Karena ...  cuma rumah ini yang punya banyak kenangan tentang kita.”

Yeriko tersenyum kecil. “Tambah ini ya!” pintanya sambil menyodorkan map lain ke arah Yuna.

Yuna menggelengkan kepala. “Kalau kamu masih maksa, aku nggak akan tanda tangan satu pun.”

Yeriko menghela napas. “Oke.”

Yuna tersenyum.  Ia mulai menandatangani dokumen yang sudah ada di tangannya. “Apa pun yang akan terjadi di masa depan. Aku akan menghadapinya. Kita bisa hadapi sama-sama. Jangan buat aku menjadi seperti wanita yang nggak berguna!” pinta Yuna sambil meletakkan  kembali dokumen tersebut ke atas meja.

Yeriko benar-benar tidak mengerti kenapa Yuna menolak semua harta yang ia berikan. Sungguh, ia tidak ingin melihat Yuna menghadapi kesulitan bersamanya. Saat ini, ia sangat berjaya. Tapi, tidak tahu bagaimana masa depan mereka. Ia hanya mengkhawatirkan masa depan istri dan anak-anaknya. Ia harap, semua akan baik-baik saja.

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Thanks udah setia baca sampai di sini,

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 297 : Menunggu Kabar

 


Yuna mondar-mandir hingga puluhan kali karena Yeriko tak kunjung memberi kabar tentang kondisi ayahnya.

“Kenapa sih sampai sekarang nggak nelepon juga? Euuuh!” seru Yuna kesal.

“Mau ikut nggak boleh. Tapi nggak dikasih kabar sama sekali. Ngeselin banget!”

Yuna tak sabar lagi hingga akhirnya ia memilih menelepon Riyan.

Satu kali panggilan.

Tidak ada jawaban.

Dua kali panggilan.

“Nomor yang Anda tuju, sedang sibuk.”

Tiga kali panggilan.

Tidak ada jawaban.

 

 

“Aaargh …!” teriak Yuna sambil mengacak-acak rambutnya. Ia ingin sekali berlari ke rumah sakit saat itu juga.

Yuna meraih sweater yang tergeletak di punggung sofa. Kemudian mengambil tas tangan yang ada di atas meja. Tubuhnya bergerak keluar dari kamarnya.

“Mau ke mana?” tanya Yeriko yang sudah ada di depan pintu kamar.

“Mau nyusul kamu ke rumah sakit. Gimana keadaan ayah?” tanya Yuna.

“Dia baik-baik aja. Sudah ditangani.”

“Aku mau besuk dia.”

“Kamu udah makan?”

Yuna menggelengkan kepala. “Aku nggak laper.” Ia berusaha menerobos tubuh Yeriko.

“Aku bawa kamu ke rumah sakit setelah makan. Kalau nggak makan, aku nggak izinkan kamu keluar dari rumah ini.”

Yuna terdiam. Ia terlalu gelisah memikirkan ayahnya. Hingga ia lupa memerhatikan janin yang ada di perutnya.

“Setelah makan, kamu beneran antar aku kan?”

Yeriko mengangguk pasti.

Yuna tersenyum. Ia segera turun dari kamar dan langsung duduk di meja makan.

“Udah mau makan?” tanya Bibi War yang sedang menyusun makanan di atas meja.

Yuna mengangguk.

“Kenapa nggak makan dari tadi? Bibi nggak siapin kamu makan?”

“Eh!? Enggak.” Yuna melambaikan kedua tangannya. “Bibi tadi udah siapin. Cuma … aku yang nggak mau makan,” lanjutnya dengan nada yang semakin rendah.

“Kamu suka bikin anak kita kelaparan?”

Yuna menggelengkan kepala.

“Makan yang banyak!” perintah Yeriko sambil menambahkan beberapa lauk ke piring Yuna.

“Astaga …! Ini beneran porsi kuli. Kayaknya ini cukup buat makan tiga kali,”batin Yuna. “Dia beneran mau bikin aku makin gendut?” batinnya kesal.

Yeriko tersenyum. Ia benar-benar menunggu Yuna menghabiskan makanannya.

Usai makan, Yeriko memenuhi janjinya untuk membawa Yuna pergi ke rumah sakit.

“Ayah beneran udah bisa ngomong?”

Yeriko mengangguk. Ia tidak ingin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada ayah Yuna. Ia tidak ingin membuat Yuna terus khawatir.

“Kenapa nggak telepon aku? Riyan juga nggak angkat teleponku.”

“Riyan ada banyak kerjaan yang harus diurus. Aku nggak telepon kamu, karena kondisi ayah kamu baik-baik aja. Kamu nggak perlu khawatir!”

Yuna mengangguk. Ia percaya pada suaminya itu.

Yeriko terus melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat ayah Yuna mendapatkan perawatan.

Yuna terus melangkah menyusuri koridor rumah sakit dengan perasaan cemas. Ia sudah berusaha bersikap tenang, namun tetap saja ia tak bisa benar-benar tenang.

Sesampainya di ruang rawat ayahnya. Yuna langsung menghampiri Adjie yang masih terbaring di ranjangnya.

“Ayah …!” panggil Yuna lirih sembari menyentuh pipi ayahnya dengan lembut.

Adjie tetap bergeming. Ia tidak bergerak sedikit pun.

Yuna sangat sedih karena ayahnya kembali koma. Ia tidak menyangka kalau kondisi kesehatan ayahnya justru memburuk seperti ini.

“Ayah, ini Yuna. Ayah harus bertahan. Ayah harus sembuh!” pinta Yuna dengan mata berkaca-kaca.

“Kenapa Ayah jadi kayak gini?” Yuna terisak sambil membenamkan wajahnya di tepi ranjang.

“Yun, ayah kamu akan baik-baik aja. Kamu jangan seperti ini!” pinta Yeriko sambil mengelus pundak Yuna. “Kata Suster, ayah kamu mungkin akan sadar dalam waktu dekat. Kalau kamu kayak gini, ayah  kamu pasti ikut sedih.”

Yuna menghapus air matanya. Ia sudah menunggu lama ayahnya sadar dari komanya. Beberapa bulan yang lalu, ayahnya sudah bisa membuka mata walau semua anggota tubuhnya tidak memberikan respon. Tapi, beberapa kali kembali koma. Ia sangat berharap kali ini ayahnya bisa sadar dan sembuh.

“Aku mau nunggu ayah di sini sampai dia sadar,” tutur Yuna.

“Tapi …”

“Suster bilang, dia bakal sadar lagi kan?”

Yeriko menganggukkan kepala.

“Kalo gitu, aku tunggu di sini.”

“Tapi …”

“Aku nggak mau dia koma lagi. Aku harus nunggu dia sampai dia sadar.”

“Kita tunggu di rumah ya! Dokter akan ngabarin kita kalau ayah kamu sudah sadar.”

“Aku tunggu di sini dulu sebentar, please!”

Yeriko mengangguk. Ia menemani Yuna di dalam bangsal tempat ayahnya dirawat.

Tepat jam sepuluh malam, Yuna sudah menunggu di rumah sakit selama dua belas jam. Ayahnya masih belum juga tersadar dari tidur panjangnya.

“Kita pulang dulu!” ajak Yeriko. “Besok bisa ke sini lagi.”

Yuna mengangguk kecil. Ia bangkit dari sofa. Menatap wajah ayahnya yang masih terlelap di tempat tidurnya. Dengan berat hati, ia meninggalkan ayahnya di rumah sakit.

“Mau makan apa?” tanya Yeriko saat mereka sudah masuk ke dalam mobil.

“Tadi udah makan. Aku masih kenyang.”

“Yakin?”

Yuna menganggukkan kepala.

“Makan dua jam yang lalu biasanya, kamu udah laper lagi kalau udah lewat dua jam.”

Yuna memonyongkan bibirnya. “Apa aku serakus itu?”

Yeriko tersenyum kecil. “Sekarang, aku bukan cuma ngasih makan kamu. Tapi juga anak yang ada di perut kamu. Harus makan yang banyak, biar sehat terus.”

Yuna bergeming.

“Ayah kamu baik-baik aja. Kamu harus mikirin si Dedek juga, dong!” pinta Yeriko.

“Iya.”

“Iya, apa?”

“Cari makan.”

“Mau makan apa?”

“Ayam geprek.”

“Pedas, Yun.”

“Nggak pake sambelnya juga kan bisa.”

“Oke. Nggak pengen sapi geprek?”

“Aku lagi hamil. Kalo kepingin beneran gimana?”

Yeriko terkekeh. “Iya, iya.” Ia segera melajukan mobilnya ke salah satu rumah makan yang menjual ayam geprek.

“Besok ke kantor aku ya!” perintah Yeriko.

“Ngapain?”

“Ada hal penting yang harus kamu urus.”

“Apa itu?”

“Dateng aja!”

“Aku mau nungguin ayah di rumah sakit.”

“Sebentar aja, kok.”

“Oke. Jam berapa?”

“Jam sebelas sudah di sana. Jadi, kita bisa makan siang bareng.”

“Oke. Sekalian aku antar makan siang buat kamu.”

Yeriko mengangguk sambil tersenyum.

“Kamu nggak ikut makan?” tanya Yuna.

Yeriko menggelengkan kepala.

“Kenapa?”

“Kamu aja yang makan.”

“Udah nggak mual, kan?”

Yeriko tersenyum kecil. Baginya, melihat Yuna makan dengan lahap adalah kebahagiaan tersendiri untuknya. Ia benar-benar tidak tahu kenapa wanita yang ada di hadapannya itu justru menghipnotis dirinya dengan hal-hal yang sebenarnya tidak ia sukai. Yuna, satu-satunya wanita yang membuat dunianya terus tersenyum.

Yuna membalas senyuman Yeriko. Ia menyodorkan potongan mentimun ke mulut Yeriko. Seharusnya, ia tidak membuat suaminya mengkhawatirkan dirinya dan anak yang berada dalam kandungannya.

Yeriko langsung melahap potongan mentimun yang diberikan Yuna. Ia tertawa kecil sambil mengelus ujung kepala Yuna. Ia menikmati Yuna yang makan dengan lahap sebelum mereka kembali ke rumah.

 

(( Bersambung ... ))

 

Thanks udah setia baca sampai di sini,

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas