Thursday, July 10, 2025

Perfect Hero Bab 239 || Pengen Makan || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Yer, Mama udah kirim tanggal pernikahan kita,” tutur Yuna sambil bergelayut manja di pundak Yeriko.

 

“Mmh ... terus?” Yeriko sangat santai sambil membaca majalah bisnis di tangannya.

 

“Huft, aku takut.”

 

“Takut kenapa?”

 

“Kata orang, kalo mau nikah selalu ada aja ujiannya.”

 

Yeriko tertawa kecil. “Kita udah sah jadi suami istri. Apa yang kamu takutkan?”

 

“Huft, iya juga sih. Tapi ...”

 

“Mama udah urus semuanya. Kamu nggak usah khawatir. Lebih baik kamu nonton drama aja daripada mikir macem-macem!”

 

Yuna memonyongkan bibirnya. “Lagi males nonton. Pengen makan sesuatu.”

 

“Baru aja selesai makan. Mau makan apa?”

 

“Pengen makan telur ikan lele goreng.”

 

Yeriko mengernyitkan dahi. “Nyari di mana malam-malam begini?”

 

“Di mana aja, yang penting dapet.”

 

“Aku telepon Riyan,” tutur Yeriko sambil meraih ponselnya.

 

“Nggak mau!”

 

“Kenapa?”

 

“Aku mau keluar sama kamu. Kenapa malah nelpon Riyan?”

 

“Aku tanya dulu, di mana ada jual makanan begituan.”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Kamu nih udah malam kayak gini ada-ada aja mintanya.” Ia langsung menekan panggilan pada kontak Riyan di ponselnya.

 

“Belum malem banget. Baru jam sembilan,” sahut Yuna.

 

“Jam segini udah banyak warung yang tutup,” tutur Yeriko.

 

“Banyak juga rumah makan dua puluh empat jam.”

 

“Kamu ini ...!?” Yeriko mengerutkan hidungnya menatap Yuna. “Kalo nggak ada. Besok aja ya!”

 

Yuna memonyongkan bibir sambil mengerutkan alis.

 

“Nggak usah pasang muka kayak gitu, Yun!” pinta Yeriko. Ia selalu tak berdaya melihat wajah Yuna yang murung karena keinginannya tidak terpenuhi.

 

“Halo ...!” sapa Riyan dari ujung telepon.

 

“Halo ...! Yan, kamu di mana?”

 

“Di rumah, Pak Bos. Ada apa ya?”

 

“Kamu tahu nggak di mana rumah makan yang jual telur ikan lele goreng?”

 

“Telur ikan?”

 

“Iya.”

 

“Wah, nggak tahu. Belum pernah makan telur ikan digoreng. Coba aja ke rumah makan seafood. Siapa tahu di sana ada.”

 

Yeriko langsung melirik Yuna yang menunggu di sebelahnya.

 

“Bisa carikan dulu? Kalo udah dapet tempatnya, aku langsung ke sana.”

 

“Tapi Pak Bos. Ini udah malam. Aku baru mau tidur. Pak bos nyuruh aku muter-muter nyari telur ikan lele?”

 

“Iya. Kemarin aku baru aja naikkan gajimu. Kalo kamu nggak mau keluar nyarikan, aku batalin!” ancam Yeriko.

 

“Iya, Pak Bos. Aku carikan sekarang.” Riyan langsung mematikan teleponnya.

 

Yeriko mengernyitkan dahi sambil menatap layar ponselnya. “Main matiin aja nih anak,” celetuknya.

 

Yuna tersenyum ke arah Yeriko. “Ayo, jalan!” rengeknya manja.

 

“Tunggu kabar dari Riyan.”

 

Yuna menghela napas. Ia merebahkan tubuhnya di pangkuan Yeriko.

 

 

 

Satu jam berlalu ...

 

Riyan tak kunjung menelepon Yeriko dan Yuna sudah ketiduran terlebih dahulu menunggu kabar dari Riyan.

 

Yeriko meraih ponsel dan mengirimkan pesan singkat kepada Riyan.

 

Tak lama kemudian, Riyan langsung menelepon Yeriko.

 

“Halo ...! Gimana, Yan?”

 

“Nggak dapet, Pak Bos. Aku udah muter-muter dari sejam lalu. Semua rumah makan udah aku tanyain. Mereka nggak ada yang sediain makanan yang Pak Bos cari.”

 

“Oh. Ya udah. Kamu pulang aja, Yan. Ini udah malam juga.”

 

“Siap, Pak Bos. Oh ya, tadi dikasih tahu sama orang yang punya rumah makan. Katanya, kalo mau telur ikan, harus cari ikan yang lagi bertelur.”

 

“Iya. Kalo nggak bertelur ya nggak ada telurnya,” sahut Yeriko menahan geram.

 

“Eh, maksudnya ... beli ikannya sendiri, Pak Bos.”

 

“Ya udah, biar diurus Bibi War besok pagi.”

 

“Oke. Kalo gitu, saya tutup teleponnya ya, Pak. Sudah kan?”

 

“Iya.” Yeriko langsung mematikan telepon. Ia menatap wajah Yuna yang sudah tertidur pulas di pangkuannya. Ia mengelus lembut rambut Yuna. Kemudian membenarkan posisi tidur Yuna agar lebih nyaman.

 

 

 

Keesokan harinya ...

 

Yuna bekerja seperti biasanya. Namun, ia merasa ada hal aneh yang terjadi di kantornya. Semua orang menatapnya dengan tatapan risih. Hal ini benar-benar mengganggu pikirannya.

 

“Huu ....mata-mata Galaxy datang!” celetuk salah seorang karyawan yang tak asing lagi di mata Yuna.

 

“Kamu ngomong apa, barusan?” tanya Yuna kesal.

 

“Mata-mata Galaxy!” tegas Juan sambil menatap Yuna santai.

 

Yuna mengerutkan keningnya. Selama ini, hubungan kerja antara dia dan Juan baik-baik saja. Entah kenapa pria muda yang satu ini mulai mencari masalah dengan Yuna.

 

“Herjuan, kamu kenapa sih? Tiba-tiba fitnah aku kayak gini!?” sentak Yuna kesal.

 

“Sekarang, semua orang udah tahu kalau Galaxy mau akuisisi Wijaya Group. Kamu kan istrinya pemilik Galaxy itu. Kenapa kerja di sini? Bukannya perusahaan suami kamu itu lebih gede?” tanya Juan.

 

“Aku nggak ada hubungannya sama perusahaan suamiku.”

 

Juan tertawa lebar. “Nggak mungkin nggak ada hubungannya. Di berita sudah tersebar luas kalau Wijaya Group ini dulunya perusahaan ayah kamu.”

 

Yuna tertawa kecil menanggapi ucapan Juan. “Terus, kalian takut sama kehadiran aku di sini?”

 

Juan terdiam.

 

“Seandainya Galaxy emang bener-bener ambil alih saham Wijaya Group. Kalian nggak perlu takut. Kalian nggak akan kehilangan pekerjaan cuma karena pindah bendera.”

 

“Oh ... jadi, kamu emang beneran jadi mata-mata di sini supaya suami kamu bisa lebih mudah ambil alih perusahaan ini?” tanya yang lainnya.

 

“Yun, Pak Lian itu baik banget sama kamu. Kenapa kamu mengkhianati dia?”

 

“Iya, Yun. Kami juga nggak mau kerja di bawah kepemimpinan Galaxy yang otoriter itu.”

 

“Otoriter? Kalian tahu dari mana kalau suamiku begitu?” tanya Yuna. Ia tetap tidak mau kalah berdebat dengan beberapa karyawan yang mencurigai dirinya sebagai mata-mata.

 

“Semua orang di dunia bisnis kenal sama suami kamu, Si Raja Iblis Berdarah Dingin itu. Terkenal kejam dan nggak punya perasaan.”

 

Yuna tersenyum kecil. “Dia selalu melindungi karyawan-karyawannya. Kalo nggak, karyawan dia nggak akan ada yang loyal, setia bekerja di bawah kepemimpinan dia.”

 

“Kamu belain suami kamu yang kejam itu?”

 

“Iya, dong. Suamiku cuma kejam sama orang-orang yang cari masalah kayak kalian!” seru Yuna. Ia berbalik dan bergegas kembali ke ruangannya.

 

“Kesel banget aku. Kenapa sih Juan itu cari gara-gara sama aku? Biasanya, dia baik-baik aja.” Yuna merebahkan tubuhnya ke kursi dengan kesal.

 

“Yun ...!” panggil Icha dari balik pintu.

 

“Masuk, Cha!”

 

“Bu Citra ada nggak?”

 

“Nggak ada. Lagi di ruangan Lian.”

 

Icha masuk ke ruangan Yuna dan duduk di kursi yang ada si hadapan Yuna. “Juan ngajak berantem?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Kenapa sih sama anak itu? Biasanya nggak begitu.”

 

“Kayaknya, dia sakit hati sama kamu.”

 

“Sakit hati kenapa?”

 

“Aku baru tahu kalau ternyata, dia diam-diam suka sama kamu.”

 

“Hah!?”

 

“Iya. Emangnya dia pernah nembak kamu, Yun?”

 

Yuna menggelengkan kepala. “Gila aja dia tuh. Aku kan udah nikah. Kenapa juga berani-beraninya mau saingan sama Yeriko. Sekarang, dia kelakuannya kayak gitu malah bikin aku makin benci sama dia.”

 

“Bener banget, Yun. Sekarang, dia mulai deketin aku.”

 

“What!? Dia nggak tahu kalo kamu udah punya pacar?”

 

“Aku udah bilang, tapi dia masih nggak percaya dan masih aja ngejar-ngejar aku.”

 

“Iih ...kok, dia kayak gitu sih?”

 

“Iya. Aku pikir, selama ini dia baik sama kita emang karena temen kerja. Nggak nyangka kalau ternyata dia memendam perasaan. Tadi pagi dia nembak aku dan aku baru tahu semuanya.”

 

“Dia nembak kamu? Terus-terus?”

 

“Ya aku tolak. Aku bilang udah punya pacar. Dia tetep keukeuh mau deketin aku. Dia bilang, selama janur kuning belum melengkung, aku masih milik semua orang. Kurang ajar nggak tuh?”

 

“Hmm ... kayaknya, ini anak minta dikasih pelajaran. Gimana, kalo kita kerjain dia?”

 

“Gimana caranya?” tanya Icha.

 

Yuna langsung membisikkan rencananya ke telinga Icha.

 

Icha manggut-manggut sambil tersenyum sebagai tanda mengerti.

 

“Ya udah, sekarang kamu datengin si Juan sana!” perintah Yuna.

 

“Oke.” Icha bergegas bangkit dan keluar dari ruang kerja.

 

Yuna tertawa kecil dan melanjutkan pekerjaannya kembali. Ide jahilnya mulai bermunculan, apalagi saat ini ia bekerjasama dengan Lutfi yang tak kalah jahil.

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Gimana reaksi Lutfi kalo pacarnya digangguin? Tunggu besok lagi ya

Dukung terus cerita ini dengan cara kasih  review baik di kolom komentar. Sapa aku terus supaya aku tidak merasa kesepian ...

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 


Wednesday, July 9, 2025

Perfect Hero Bab 238 || Triple Couple || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Jhen, makasih banget karena kamu nggak pernah berhenti ngasih perhatian walau selama ini aku nggak pernah menyadarinya. Aku janji, mulai hari ini aku yang bakal bikinin kamu sarapan setiap hari,” tutur Chandra sambil menatap Jheni.

 

Jheni tersenyum kecil. “Sarapan doang?”

 

“Makan siang, makan malam. Mmh ... kapan pun kamu mau makan, aku bakal siapin buat kamu.”

 

“Hmm ... bisa dipertimbangkan.” Jheni manggut-manggut sambil menggigit apel yang masih ads di tangannya.

 

Chandra langsung menyambar gigitan apel yang belum sempurna masuk ke bibir Jheni.

 

Jheni tertegun. Apel yang ia genggam menggelundung ke lantai. “Kamu ...!?”

 

Chandra tersenyum kecil. Ia langsung mengunyah dan menelan potongan apel yang ada di dalam mulutnya.

 

“Lancang,” celetuk Jheni sambil menahan senyum.

 

“Eh!? Apa?”

 

“Lancang!” sahut Jheni meninggikan suaranya.

 

Chandra langsung menarik tengkuk Jheni dan mengecup bibir gadis itu. “Kayak gini lancangnya?” tanyanya sambil tersenyum menggoda.

 

“Kamu ...!?”

 

“Masih kurang lancang?” tanya Chandra. Ia kembali mengecup bibir Jheni dan menghisapnya kuat-kuat hingga Jheni kesulitan mengendalikan dirinya lagi.

 

“Ciyee ...!” Suara Yuna langsung membuat Chandra dan Jheni melepas ciumannya. “Udah baikan nih?” tanyanya sambil menatap Jheni.

 

“Yun, kamu kenapa ke sini nggak bilang dulu?” tanya Jheni.

 

“Sejak kapan aku mau ke sini harus bilang dulu?” tanya Yuna.

 

“Kita nggak boleh ke sini?” Icha ikut menggoda Jheni.

 

“Nggak gitu. Kalo tahu kalian mau ke sini ...”

 

“Chandra nggak ngasih tahu kamu?” tanya Yuna sambil meletakkan beberapa kantong plastik berisi makanan dan minuman.

 

Jheni langsung menoleh ke arah Chandra.

 

“Lupa.” Chandra meringis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

 

“Ah, udahlah. Kita bawa makanan banyak nih. Saatnya makan-makan!” seru Lutfi sambil duduk di sofa dan langsung mengeluarkan makanan yang dibawa oleh Yuna dan Yeriko.

 

“Aku juga masak banyak,” tutur Chandra.

 

“Oh. Jadi, kamu masak banyak karena udah tahu mereka mau ke sini?” tanya Jheni.

 

Chandra mengangguk.

 

“Kenapa nggak bilang sama aku?”

 

“Kamu ngambek terus. Aku jadi lupa mau ngomong sama kamu.”

 

“Kapan aku ngambek!?” dengus Jheni.

 

“Iya, nggak ngambek,” sahut Chandra. Ia bergegas ke dapur dan menyiapkan hidangan di atas meja makan.

 

“Ayo, kalian makan dulu!” pinta Chandra.

 

Semua orang langsung bergegas menuju meja makan.

 

“Chan, kami udah dapet siapa orang yang udah ngejebak Jheni di lokasi perjudian itu,” tutur Yeriko sambil melemparkan beberapa lembar kertas ke hadapan Chandra.

 

“Kamu beneran nggak pernah ngutang ke mereka kan, Jhen?” tanya Yuna.

 

Jheni menggelengkan kepala. “Kenapa tiba-tiba aku bisa punya hutang banyak banget ke mereka?” tanya Jheni pada dirinya sendiri.

 

“Itu cuma rekayasa aja yang dibuat-buat sama Amara,” tutur Lutfi.

 

“AMARA!?” Yuna, Jheni dan Icha bertanya berbarengan.

 

Chandra menghela napas dan meletakkan kertas-kertas itu ke atas meja begitu aja.

 

“Amara yang punya hutang banyak sama preman-preman itu. Dialihkan atas nama Jheni semua. Kelakuan siapa lagi kalau bukan suaminya yang tukang judi itu,” jelas Lutfi.

 

“Dia jahat banget sih!?” tutur Yuna. “Kalo emang dia nggak suka sama Jheni, nggak harus kayak gitu juga kali. Toh, Jheni nggak pernah nyakitin dia. Jheni selalu bersikap baik sama Amara. Bahkan, waktu Amara masuk rumah sakit kemarin, Jheni bawain sarapan ke sana.”

 

“Kamu beneran ke rumah sakit?” Chandra langsung menoleh ke arah Jheni.

 

Jheni mengangguk sambil tersenyum.

 

“Kenapa kita nggak ketemu?”

 

“Jelas nggak ketemu. Orang Jheni nggak jadi masuk gara-gara lihat ka-” Yuna menghentikan ucapannya karena Jheni langsung menendang kaki Yuna yang ada di bawah meja.

 

“Lihat apa?” tanya Chandra.

 

“Lihat kamu pelukan sama Amara,” sahut Yeriko.

 

“Jadi, karena itu kamu menghindar terus dari aku?” tanya Chandra.

 

“Aku nggak menghindar. Emang kamu yang nggak hubungi aku sama sekali,” sahut Jheni.

 

“Aku ...” Chandra mengerutkan dahi sambil menatap Jheni. Ia mengepal tangan dan membuang pandangannya. Ia tidak bisa mengelak apa yang diucapkan  oleh Jheni.

 

“Nggak baik berantem depan makanan,” tutur Yuna. “Kalian udah baikan. Yang terjadi kemarin, nggak usah dibahas lagi!” pinta Yuna.

 

“Iya. Mending bahas rencana pernikahan kamu yang udah deket lagi,” sahut Icha.

 

“Yakin?” goda Yuna. “Ntar kamu baper.”

 

“Iih ... nggak,” sahut Icha sambil tertawa kecil.

 

“Nggak baper, Yun. Cuma pengen nikah juga.” Jheni menimpali.

 

“Hahaha.” Semua orang tergelak. Mereka menikmati makan malam penuh suka cita.

 

Usai makan malam, mereka berpindah ke sofa ruang tamu yang tak jauh dari meja makan.

 

“Tangan kamu udah nggak sakit?” tanya Yuna sambil memeluk lengan Yeriko.

 

Yeriko menggelengkan kepala.

 

Yuna menyandarkan kepalanya di dada Yeriko. “Jangan bikin aku khawatir lagi ya!”

 

Yeriko tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia mengelus lembut pundak Yuna.

 

“Huu ... enak banget yang udah jadi suami istri. Mesra-mesraan terus di mana-mana,” celetuk Jheni yang memilih duduk di lantai sambil menikmati kacang rebus.

 

“Kamu kan udah jadian sama Chandra. Bisa mesra-mesraan juga,” sahut Lutfi.

 

Jheni memonyongkan bibirnya.

 

“Eh, main kartu yuk!” ajak Lutfi sambil mengeluarkan kartu remi dari dalam saku jaketnya.

 

“Ayo!” sahut Jheni penuh semangat.

 

“Aku nggak bisa main beginian,” tutur Icha.

 

“Nggak usah! Biar aku yang wakilin kamu main.” Lutfi langsung menarik Icha untuk duduk lebih dekat dengannya.

 

“Kamu main nggak, Yun?” tanya Jheni yang melihat Yuna masih bersandar di dada Yeriko.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Yeri aja!”

 

“Kamu ini, nempel mulu ke Yeri kayak pulut,” celetuk Icha.

 

“Kenapa? Ngiri?” sahut Yuna.

 

“Nganan aku, Yun,” tutur Jheni. “Kamu jadi cewek agresif banget.”

 

“Biar aja,” sahut Yuna sambil menjulurkan lidahnya ke arah Jheni.

 

“Puas banget yang jadi suami kalo punya istri agresif. Bukan suami yang minta jatah, tapi istri yang minta dienak-enakin terus,” celetuk Lutfi.

 

“Hush, kamu ini ngomong apa sih?” Icha langsung menoleh ke arah Lutfi.

 

“Kamu masih piyek, nggak ngerti,” jawab Lutfi.

 

“Piyek apaan?” tanya Icha.

 

“Anak ayam yang baru menetas itu, bunyinya masih piyek-piyek piyek-piyek,” sahut Lutfi sambil menirukan suara anak ayam.

 

“Hahaha.” Semua orang tertawa melihat tingkah Lutfi.

 

“Iih ... kamu ngolok banget sih!?” dengus Icha. “Tega banget pacar sendiri diolokin.”

 

Lutfi terkekeh sambil menatap Icha. “Nggak Sayangku, cuma bercanda kok.”

 

“Kalo aku masih piyek, Jheni apa dong?” tanya Icha.

 

“Dia lagi kemiwit, lagi enak-enaknya. Cobain, Chan!” goda Lutfi sambil menatap Chandra.

 

“Kemiwit apaan?” tanya Icha lagi.

 

“Kemiwit itu ... mmh ... ayam yang udah siap dikawinin. Hahaha.”

 

Jheni langsung melemparkan kulit kacang ke arah Lutfi dengan kesal.

 

“Omonganmu, Lut. Koyo ra tau sinau,” sahut Chandra.

 

“Jangan ngomong pake bahasa jawa! Aku nggak ngerti,” sahut Jheni.

 

Lutfi tertawa kecil menanggapi ucapan  Jheni. “Kamu harus belajar bahasa jawa, Jhen! Bapaknya Chandra orangnya jawa banget. Tiap hari pake blankon sama kain lurik.”

 

“Serius?” tanya Jheni.

 

“Loh, nggak percaya, Jhen? Kamu tahu nggak dalang wayang kulit paling terkenal di Jawa?”

 

“Siapa?” tanya Jheni.

 

“Nggak tahu. Hahaha.” Lutfi tergelak.

 

“Uh, kirain mau bilang kalo bapaknya Chandra dalang wayang,” celetuk Jheni.

 

“Bercanda, Jhen. Serius banget nanggepinnya.”

 

Mereka terus bercanda sambil bermain kartu.

 

“Eh, si Yuna tidur,” tutur Jheni sambil menatap wajah Yuna yang terlelap di pelukan Yeriko.

 

“Iya. Enak banget dia tidur,” sahut Icha.

 

“Yer, tidurkan di kamarku aja dulu!” pinta Jheni.

 

“Nggak usah,” sahut Yeriko sambil mengeratkan pelukannya.

 

“Kamu nggak pegel disenderin kayak gitu?” tanya Jheni.

 

Yeriko menggeleng sambil menatap beberapa kartu yang ada di tangannya.

 

“Kamu tuh Yer, sayang banget sama istri,” tutur Jheni.

 

Yeriko hanya tersenyum kecil sambil mengecup ujung kepala Yuna. Baginya, Yuna adalah sumber kebahagiaan dalam keluarganya. Ia tak akan pernah lelah melakukan semua hal untuk istri tercintanya.

 

 

(( Bersambung ... ))

Ah, Author baper ...

Dukung terus cerita ini dengan cara kasih  review baik di kolom komentar. Sapa aku terus supaya aku tidak merasa kesepian ...

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

Perfect Hero Bab 237 || Menghempas Masa Lalu || a Romance Novel by Vella Nine

 


Yuna terus gelisah selama mengerjakan pekerjaannya di kantor. Tubuhnya di kantor, tapi pikirannya melayang-layang memikirkan sahabatnya.

“Cha, kita ke tempat Chandra yuk!” ajak Yuna begitu jam kerja usai.

“Sekarang?”

“Tahun depan!” sahut Yuna kesal. “Sekaranglah. Mau kapan lagi?”

“Mau ngapain ke rumah Chandra?”

“Lihat Jheni.”

“Masih di rumah Chandra?”

“Kayaknya, sih.”

“Kamu pastikan dulu!”

Yuna langsung merogoh ponsel dan menelepon Jheni. Ia berjalan mondar-mandir di depan pintu kantor sambil menunggu Yeriko menjemputnya.

“Halo ...!” sapa Yuna begitu panggilan teleponnya tersambung.

“Halo ...!” balas seseorang dari ujung telepon.

“Chandra?”

“Iya, Yun.”

“Jheni masih di rumah kamu?”

“Aku sekarang udah di rumah Jheni.”

“Dianya mana?”

“Lagi mandi.”

“Kalian udah baikan?” tanya Yuna tanpa basa-basi.

“Lagi usaha.”

“Lagi usaha, lagi usaha. Awas kalo sampe bikin dia nangis lagi!”

“Iya, nggak.”

“Iya atau nggak!?”

“Iya, nggak bikin Jheni nangis lagi.”

“Awas kalo sampe bikin dia nangis lagi!” ancam Yuna lagi. “Ah, udahlah. Aku kalo ngomong sama kamu mau naik darah, Chan. Bilangin ke Jheni, malam ini kita mau ke sana!”

“Iya.”

Yuna langsung mematikan panggilan teleponnya. “Sumpah, ini Chandra ngeselin banget!” makinya sambil menatap layar ponsel.

“Kenapa, Yun?” tanya Icha.

“Suamiku itu orangnya cuek, tapi nggak pendiam parah kayak Chandra gini. Kalo diajak ngomong, cuma iya-nggak, iya-nggak,” omel Yuna.

“Kayaknya dia nggak pendiem banget. Itu karena kamu super bawelnya. Dia bingung mau ngomong apa. Dia baru nyahut A, kamu udah ngomong dari A-Z,” celetuk Icha.

“Apa!? Kamu ngatain aku bawel?”

“Emang iya, kan?” Icha menjulurkan lidahnya ke arah Yuna.

“Iih ... kamu udah mulai ngolok-ngolok aku ya!?” dengus Yuna sambil mengejar Icha.

Icha dan Yuna saling tertawa sambil saling menggoda. Mereka baru berhenti saat Lamborghini milik Yeriko berhenti di hadapan mereka.

“Aku pulang dulu, ya!” pamit Yuna. “Ntar malam ke rumah Jheni, jam tujuh!” perintah Yuna.

Icha mengangguk. Ia melambaikan tangannya dan langsung menuju ke parkiran.

 

Sementara itu, Chandra sengaja membuat banyak masakan sambil menemani Jheni di rumahnya.

“Eh!? Kamu masak banyak banget? Buat siapa aja?” tanya Jheni saat ia selesai mandi. Ia mengambil satu buah apel dan menggigitnya.

“Buat kita.”

“Kita?” Jheni mengernyitkan dahinya. “Emangnya masih ada kita di antara aku dan kamu?” Jheni melangkah santai meninggalkan Chandra.

“Jhen ...!” Chandra menahan lengan Jheni.

Jheni memutar kepalanya menatap Chandra. “Apa?” tanyanya santai.

“Maafin aku!”

“Emang kamu salah apa ke aku?” tanya Jheni sambil menatap Chandra.

Chandra menundukkan kepala sambil memijat kening.

Jheni menatap Chandra kesal, ia langsung menepis tangan Chandra.

“Jheni ...!” Chandra langsung menarik Jheni ke dalam pelukannya. “Maafin aku! Maafin aku! Maafin aku! Please ...!” bisiknya di telinga Jheni.

Jheni bergeming. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia ingin berteriak bahagia karena akhirnya Chandra memeluknya. Tapi, ia juga sedih karena masih ada bayang-bayang Amara dalam hubungan mereka.

“Jhen, aku tahu aku salah. Aku sudah nyuekin kamu selama ini. Kamu sibuk mengurus dan memikirkan aku, sedangkan aku sibuk memikirkan diriku sendiri,” tutur Chandra sambil mengeratkan pelukannya.

Jheni memaksa bibirnya untuk tersenyum. Ia menepuk-nepuk bahu Chandra. “Sebagai seorang teman, memang sudah seharusnya saling peduli kan? Aku nggak papa, kok.” Jheni melepas pelukannya.

“Kamu mau maafin aku?” tanya Chandra.

Jheni menganggukkan kepala sambil tersenyum.

“Makasih, Jhen. Kamu selalu ada buat aku kapan pun. Aku janji, bakal jagain kamu terus.”

Jheni tertawa kecil. “Kamu nggak perlu repot buat jagain aku. Aku bukan anak kecil. Lagipula, akhir pekan ini aku mau ke Sumatera.”

“Mau ngapain?”

“Pulang,” jawab Jheni sambil menuangkan air putih ke dalam gelas dan meminumnya.

“Berapa lama?”

“Nggak tahu. Aku mau cari kehidupan baru di sana.”

“Bukannya kamu bilang kalau kamu nggak betah tinggal di sana?”

“Dibetah-betahin aja. Lama-lama juga terbiasa.”

Chandra terdiam. Ia hanya menatap Jheni. Ia tak punya keberanian untuk mengungkapkan isi hatinya.

Jheni menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkan dalam sekali hembusan. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Menyatakan perasaannya di hadapan Chandra atau membiarkan dirinya pergi dengan memendam semua perasaan dalam hatinya.

 

Hening.

 

“Aku ...”

“Aku ...”

Jheni dan Chandra membuka pembicaraan.

“Kamu duluan!” perintah Jheni.

“Kamu duluan aja!” sahut Chandra.

“Mmh ... sebelum aku pergi ke Sumatera, aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”

“Apa?”

Jheni menarik napas dalam-dalam. Ia mengumpulkan keberanian untuk mengatakan apa yang ada di dalam hatinya selama ini.

“Dari pertama aku ketemu sama kamu, aku udah suka. Sampai akhirnya, aku tahu kamu punya tunangan. Aku bener-bener putus asa karena aku suka sama tunangan orang. Tapi ... saat kamu pisah sama Amara, aku ngerasa Tuhan berpihak ke aku. Aku berharap kamu bisa lihat keberadaanku ...”

“Tapi aku salah. Kamu bener-bener nggak pernah lihat aku,” lanjut Jheni dengan mata berkaca-kaca.

Chandra tertegun menatap wajah Jheni. Air mata yang keluar dari mata Jheni membuat pikirannya kosong seketika.

“Bohong kalo aku bilang, aku peduli sama kamu sebagai teman. Aku selalu berharap bisa lebih dari temen. Waktu aku lihat kamu lebih peduli sama Amara, aku baru sadar kalo aku salah jatuh cinta. Nggak seharusnya aku jatuh cinta sama orang yang hatinya sudah dimiliki orang lain.” Jheni mengusap pipinya yang basah.

 

“Jhen, aku juga cinta sama kamu. Cuma ...”

 

“Cuma lebih cinta lagi sama Amara?” sela Jheni.

 

“Kamu cemburu sama Amara?” tanya Chandra balik.

 

“Astaga! Kamu bego atau gimana sih!?” sahut Jheni kesal. Ia langsung berbalik dan melangkah pergi.

 

“Jheni ... Jhen!” Chandra langsung mengejar Jheni dan memeluk gadis itu dari belakang.

 

Jheni menghentikan langkahnya. Ia masih tidak habis pikir dengan sikap Chandra yang terus menarik ulur hatinya.

 

“Chan, aku ini punya hati juga!” sentak Jheni. “Sampai kapan kamu mau mempermainkan aku kayak gini?” tanya Jheni.

 

“Aku nggak berniat mempermainkan kamu sedikit pun. Selama ini, aku nggak punya keberanian buat ngungkapin perasaanku ke kamu. Malam itu, aku berusaha buat ngungkapin semuanya. Aku milih nolongin Amara, bukan karena aku masih cinta sama dia. Tapi karena aku percaya, kamu akan tetap di sisiku, mendukungku, apa pun yang akan aku hadapi. Saat sama kamu, aku kehilangan rasa takut.”

 

“Aku mau kamu tetep di sisiku. Jangan tinggalin aku! Aku butuh kamu,” pinta Chandra sambil mengerdipkan matanya yang terasa begitu perih.

 

Jheni terdiam sesaat. Ia tak menyangka kalau akhirnya, Chandra bisa memintanya untuk tetap tinggal.

 

Jheni memutar tubuhnya menghadap Chandra. “Gimana sama Amara?”

 

“Amara itu cuma masa lalu buatku. Dia udah nikah. Aku udah nggak pernah cinta sama dia.”

 

“Nggak pernah cinta?” Jheni tertawa kecil. “Jelas-jelas kamu nggak bisa move on dari dia selama ini.”

 

“Beberapa hari ini aku mencoba memahami diriku sendiri. Perasaanku ke Amara itu bukan cinta, tapi tanggung jawab. Aku cuma ngerasa bertanggung jawab sama keluarganya dia. Sama keluarga besar kami dan orang-orang yang mengetahui status hubungan kami. Aku cuma ngerasa nggak berguna karena udah ngecewain keluarga besar kami. Aku mati-matian mempertahankan hubunganku sama dia karena keluarga, bukan karena aku cinta sama dia.”

 

Jheni menatap lekat wajah Chandra. Ia tersenyum bahagia karena Chandra akhirnya bisa membalas cintanya.

 

“Kamu nggak akan pergi ninggalin aku kan?” tanya Chandra.

 

Jheni tersenyum menanggapi pertanyaan Chandra. “Aku udah beli tiket. Aku bakal tetep ...”

 

“Aku ganti uang tiket kamu,” sergah Chandra.

 

Jheni tertawa kecil. “Nggak perlu kamu ganti!”

 

“Jhen, kamu tetep mau ninggalin aku?”

 

Jheni mengangguk sambil tersenyum.

 

Chandra tertegun. Ia tidak mengerti cara merayu wanita. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan agar Jheni tetap tinggal.

 

“Huft, daripada kamu ganti uang tiket aku. Lebih baik kamu pakai buat beli tiket satu lagi!” tutur Jheni.

 

“Maksud kamu ...?”

 

Jheni tersenyum sambil menganggukkan kepala.

 

Chandra ikut tersenyum dan langsung memeluk erat tubuh Jheni.

 

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Dukung terus cerita ini dengan cara kasih  review baik di kolom komentar. Sapa aku terus supaya aku tidak merasa kesepian ...

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas