Thursday, July 10, 2025

Perfect Hero Bab 242 || Lutfi vs Juan || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Cha, kemarin malam kamu sengaja ya bikin aku malu di depan semua orang?” Juan langsung menghampiri Icha dan Yuna yang sedang berjalan-jalan santai di taman dekat kantor usai makan siang.

Icha melirik ke langit-langit.

“Dasar cewek matre!” Juan makin kesal dengan sikap Icha yang mengabaikannya.

“Apa kamu bilang?” tanya Icha sambil menatap Juan.

“Cewek matre.”

“Jangan asal kalo ngomong!” sentak Icha sambil menunjuk wajah Juan.

Juan tertawa kecil. “Pantes aja selama ini kamu nggak punya pacar. Kamu maunya cuma sama cowok berduit aja.”

Icha tersenyum sinis menanggapi ucapan Juan. “Emangnya kenapa kalo aku suka sama cowok berduit? Masalah buat kamu?”

“Iya. Aku pikir kamu cewek baik-baik. Sok polos doang! Sekalinya lintah juga.”

“Heh, kamu kalo udah ditolak sama cewek, jangan maki-maki juga!” Yuna ikut emosi mendengar ucapan yang keluar dari mulut Juan. “Harusnya kamu sadar kekuranganmu di mana. Kamu kayak gini, makin nunjukin kalo kamu cowok nggak bener.”

“Kamu yang nggak bener, Yun!” Juan ikut menyemprot Yuna.

Yuna langsung membelalakkan matanya.

“Kamu itu biasa aja, apa yang disukai sama Yeriko?” tanya Juan. “Di luar sana, masih ada banyak cewek cantik. Buta kali dia itu,” celetuknya.

“Kamu jangan asal kalo ngomong!” sahut Icha sambil mendorong tubuh Juan. “Selama ini kita baik sama kamu, kenapa tiba-tiba jelek-jelekin aku, fitnah Yuna macem-macem!?”

“Aku berubah kayak gini juga karena sikap kalian yang udah keterlaluan sama aku,” tutur Juan.

 

“Kamu udah tahu kalau aku bersuami, Icha juga udah punya pacar. Masih aja ngotot mau ngejar-ngejar. Masih banyak cewek di luar sana. Kenapa masih gangguin kita?” tanya Yuna.

 

Juan bergeming menanggapi pertanyaan Yuna.

 

“Juan, selama ini hubungan kerja kita baik-baik aja. Jangan sampai kerjaan kita hancur cuma karena masalah pribadi kita masing-masing. Harusnya, kita bisa jadi rekan kerja yang baik. Nggak lebih dari itu.” Icha menimpali.

 

“Aku udah ngungkapin perasaanku ke kamu dan aku tetep mau ngejar kamu, Cha.”

 

“Kamu gila ya!?”

 

“Iya. Aku emang udah gila. Ini semua karena kamu. Cha, kasih aku kesempatan buat deketin kamu dan membuktikan kalo aku serius suka sama kamu.”

 

“Heh, kamu masih nggak kapok gangguin pacar orang?” Lutfi tiba-tiba sudah ada di belakang Juan.

 

Juan langsung berbalik menatap Lutfi. “Kenapa kamu bisa di sini?”

 

“Kenapa? Tempat ini bukan punyamu. Suka-suka aku, dong. Lagian, aku harus jagain pacarku biar nggak diambil orang kayak kamu,” sahut Lutfi.

 

“Apa kamu nggak punya kerjaan? Cuma bisa buntutin Icha?”

 

“Tuan muda nggak perlu masuk kerja buat dapetin uang banyak. Udah banyak anak buahku yang pintar urus bisnis,” sahut Lutfi sambil mengangkat dagunya penuh percaya diri.

 

Juan geram dengan ucapan Lutfi, ia merasa dirinya begitu rendah saat berhadapan dengan Lutfi. Tapi, ia tidak akan menjatuhkan harga dirinya begitu saja.

 

“Cuma ngandalin kekayaan dari orang tua?” Juan menatap wajah Lutfi sambil tersenyum sinis.

 

“Eh, jangan asal ngomong!” sahut Lutfi sambil mendorong tubuh Juan. “Kamu pikir, aku laki-laki yang nggak bisa apa-apa, hah!?”

 

“Emang kenyataannya gitu kan? Kalo bukan karena kekayaan dari orang tua, emang bisa hidupin diri kamu sendiri? Mungkin kamu bakal lebih miskin dari aku dan Icha nggak bakal mau sama kamu.”

 

“Bangsat kamu!” Lutfi langsung melayangkan kepalan tangannya dengan cepat ke wajah Juan.

 

“Eh, jangan berantem!” seru Icha. 

 

BUG!

 

BUG!

 

Semua pejalan kaki yang ada di tempat itu langsung menunjuk-nunjuk Juan dan Lutfi yang sedang bergulat.

 

 

“STOP!” Icha berteriak sekuat tenaga.

 

Juan dan Lutfi langsung menoleh ke arah Icha bersamaan.

 

Icha langsung menarik lengan Lutfi menjauh dari Juan.

 

“Awas ya! Sampai kapan pun aku nggak akan ngelepasin Icha!” ancam Lutfi sambil menunjuk wajah Juan.

 

Juan menatap kesal ke arah Lutfi sambil berusaha bangkit dari tanah.

 

“Ayo, pergi dari sini!” ajak Icha sambil memapah Lutfi.

 

Yuna tersenyum ke arah Juan. “Jangan macem-macem lagi ya! Kalo nggak mau Yeriko juga bikin perhitungan ke kamu,” tutur Yuna sambil menepuk pipi Juan. Ia berbalik sambil mengibaskan rambutnya di hadapan wajah Juan.

 

Juan mengerutkan bibir sambil mengepalkan tangan. “Awas kalian! Aku pasti bales apa yang udah kalian lakuin ke aku!”

Yuna melenggang sambil tersenyum senang mengikuti langkah Icha dan Lutfi.

“Kakak Ipar, gimana penampilanku tadi? Keren?” tanya Lutfi.

“Hmm ... lumayan,” jawab Yuna sambil manggut-manggut.

“Lumayan?” Lutfi mengerutkan keningnya.

“He-em. Masih keren suamiku.” Yuna meringis ke arah Lutfi.

“Jangan bandingin aku sama dia. Dia memang lebih keren, tapi aku lebih ganteng. Iya kan, Cha?”

Icha mengangguk sambil tersenyum.

“Kamu tanya Icha, jelas aja dia bilang kamu lebih ganteng. Dia kan pacarmu,” dengus Yuna.

“Hihihi.” Lutfi tertawa kecil.

Yuna tersenyum, ia menarik napas dalam-dalam. “Kenapa, Yeriko yang begitu hebat bisa suka sama aku ya?” batin Yuna. Ia menatap dirinya sendiri yang terlihat sangat sederhana. Kini, ia bisa memakai pakaian dan barang mahal karena hadiah dari Yeriko dan mama mertuanya.

“Mmh ... kalian jadi ke Bali?” tanya Yuna.

Lutfi menganggukkan kepala.

“Huft, kalian ke Bali. Chandra sama Jheni ke Sumatera. Aku ke mana?”

Lutfi tertawa kecil. “Dia bingung mau ke mana? Eh, kamu sama Yeriko udah nikah. Liburan ke luar negeri, kek. Duit suamimu kan banyak.”

“Duit sih ada. Tapi waktunya yang nggak ada.”

“Ya udah. Di kamar aja. Berduaan tiap malam kan lebih enak,” tutur Lutfi.

Yuna memonyongkan bibirnya.

“Yun, semua orang iri lihat kamu sama Yeriko. Kenapa kamu jadi iri sama kami?”

“Pengen liburan juga,” rengek Yuna.

“Nanti aku bilangin ke Yeri.”

“Eh!? Nggak usah.” Yuna melambaikan kedua tangannya ke arah Lutfi. “Aku nggak mau membebani dia. Dia banyak kerjaan, Lut.”

“Halah, anak buahnya dia banyak.”

“Aku tahu, tapi dia juga punya tanggung jawab yang lebih besar. Egois banget aku kalo sampe bikin dia ninggalin urusan perusahaan cuma karena aku pengen liburan.”

“Kamu pengertian banget sih?”

“Ternyata jadi istri orang kaya raya nggak seindah yang aku bayangkan,” gumam Icha.

“Indah, kok. Asal sama dia, di mana aja jadi indah.” Yuna tersenyum manis ke arah Icha.

“Halah, menghibur diri sendiri,” sahut Lutfi. “Gimana kalo ikut liburan bareng kita?”

Yuna menggelengkan kepala. “Aku nggak akan pergi ke mana pun tanpa dia.”

“Aku traktir tiketnya, gimana?” tanya Lutfi lagi.

Yuna mengerutkan kening. “Terus? Aku suruh jadi pengawal kalian pacaran!?”

Lutfi terkekeh. “Perhitungan banget. Dulu, aku sama Chandra sering jadi pengawal buat kalian berdua. Pake acara mesra-mesraan pula. Nggak punya perasaan sama aku yang jomlo ini.”

Yuna menahan tawa. “Ah, sudahlah. Nggak usah dibahas lagi. Aku mau balik ke kantor. Kamu masih mau di sini, Cha?”

“Aku balik sama kamu,” jawab Icha. Ia berjalan beriringan bersama Yuna sambil melambaikan tangan ke arah Lutfi yang berdiri di belakangnya.

 

(( Bersambung ... ))

 

Dukung terus cerita ini dengan cara kasih  review baik di kolom komentar. Sapa aku terus supaya aku tidak merasa kesepian ...

 

Much Love,

@rin.muna

 

Perfect Hero Bab 241 || Poor Amara || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Hei, Chan! Sini!” sapa Lutfi begitu ia melihat Chandra dan Jheni muncul.

 

 

 

Juan mengerutkan kening karena Lutfi mengundang dua orang lagi ke meja makan mereka.

 

 

 

“Sini, Jhen!” Icha langsung menarik Jheni untuk duduk bersama mereka. “Lutfi udah pesenin makanan buat kalian.”

 

 

 

“Hmm ... kamu memang nomor satu kalo soal pengertian, Lut,” tutur Jheni.

 

 

 

“Iya, dong! Kalo soal makanan, aku udah hafal selera kalian satu persatu.”

 

 

 

Chandra tersenyum kecil menanggapi ucapan Lutfi.

 

 

 

“Jhen, minggu ini aku sama Icha mau liburan ke Bali. Kamu mau ikut atau nggak?” tanya Lutfi.

 

 

 

“Aku mau ke Sumatera,” jawab Jheni.

 

 

 

“Ngapain?” tanya Lutfi.

 

 

 

“Kamu jadi berangkat, Jhen?” tanya Yuna.

 

 

 

Jheni menganggukkan kepala. “Aku udah terlanjur beli tiket. Sayang, kan?”

 

 

 

“Iya juga, sih. Mau netap di sana?” tanya Yuna. “Walau kita harus jauh, kamu harus kasih kabar ke aku ya!” pintanya.

 

 

 

Chandra langsung menoleh ke arah Jheni. “Bukannya kamu bilang bakal balik sama-sama?”

 

 

 

“Tergantung suasana hati,” jawab Jheni sambil menahan tawa.

 

 

 

Yuna dan Icha juga ikut menahan tawa melihat raut wajah Chandra yang tiba-tiba berubah muram.

 

 

 

“Makanya, ada cewek baik jangan disia-siain. Giliran dia mau pergi, kamu baru uring-uringan!” dengus Yuna sambil menatap Chandra. “Jhen, kamu pindah aja ke Sumatera sana! Nggak usah balik!”

 

 

 

“Yun, kamu nggak usah ngompor-ngomporin Jheni lagi!” pinta Chandra. “Aku udah setengah mati ngerayu dia biar tetep tinggal di sini.”

 

 

 

Yuna tertawa kecil. “Aku tetep belain sahabatku walau sekarang kamu jadi pacarnya.” Ia menjulurkan lidah ke arah Chandra. “Mending dia pergi dan hidup bahagia daripada tetap tinggal dan kamu sakiti setiap hari.”

 

 

 

“Ah, parah kompormu, Yun.” Chandra menatap Yuna tak bersemangat. “Jhen ...!” Ia langsung tersenyum ke arah Jheni. “Nggak beneran pindah, kan?”

 

Jheni tersenyum menatap Chandra. “Kalo nggak mau aku pindah, harus bersikap manis!” pintanya sambil mengusap ujung kepala Chandra.

 

Chandra mengangguk-anggukkan kepalanya.

 

 

 

...

 

 

 

Di tempat lain di saat yang sama.

 

 

 

Tubuh Amara terikat di atas kursi, dikelilingi oleh banyak preman di dalam ruangan itu.

 

“Kamu berani nipu kami, hah!?” Ben langsung menekan rahang Amara tanpa ampun.

 

Amara menggeleng dengan bibir bergetar.

 

“Kamu tahu harus bayar semua ini dengan apa?”

 

“Jangan, please!”

 

“Tubuh kamu ini, nggak cukup buat bayar semuanya!” tegas Ben. Ia melambaikan tangan ke salah satu anak buahnya.

 

Anak buah Ben langsung menghampiri sambil memberikan sebotol arak ke tangan Ben.

 

Ben meraih botol arak tersebut dan memaksa Amara menghabiskannya perlahan.

 

“Hahaha.” Ben terus tertawa melihat Amara yang sudah setengah sadar.

 

Amara menatap Ben dengan wajah penuh kebencian, juga penyesalan karena telah berhubungan dengan preman-preman yang tidak berperasaan.

 

Ben tersenyum sinis sambil menatap Amara. Ia membuka mulut Amara dengan paksa dan memberikannya obat perangsang.

 

Beberapa menit kemudian, Ben melepas ikatan tali yang ada di tubuh Amara.

 

Amara mulai berada dalam pengaruh obat dan minuman keras.

 

 

 

Ben tersenyum sinis dan membiarkan Amara bergeliat di lantai. Ia berbalik dan melangkah pergi. “Kalian boleh nikmati dia sepuasnya!” seru Ben kepada sepuluh orang anak buahnya yang ada di ruangan tersebut.

 

 

 

Anak buah Ben langsung menatap Amara penuh gairah. Mereka bergantian menikmati tubuh Amara yang seksi dan menggoda.

 

 

 

Amara mulai tersadar dari pengaruh alkohol dan obat-obatan yang diberikan oleh Ben. Ia berusaha melepaskan diri dari preman-preman tersebut.

 

 

 

Saat semuanya lengah, Amara berjalan mengendap-ngendap keluar dari ruangan tersebut. Ia berlari keluar tanpa alas kaki.

 

 

 

Amara menyusuri jalanan yang gelap dan dingin tanpa alas kaki. Air matanya mengalir deras sembari memeluk tubuhnya yang begitu menyedihkan.

 

 

 

“Kenapa nasibku jadi kayak gini? Punya suami nggak becus! Sekarang, aku harus melayani preman-preman menjijikkan itu!”  Ia merasa hidupnya semakin berantakan saat ia sudah berpisah dengam Chandra. Tak ada lagi pria yang selalu melindungi dan menjaganya dengan baik.

 

 

 

Amara langsung mencegat taksi yang kebetulan melintas. Ia langsung memerintahkan supir taksi tersebut untuk membawanya ke rumah sakit. Ia langsung menyandarkan kepalanya ke kursi. Rasa sakit di tubuhnya semakin menjadi dan membuatnya sangat tidak nyaman.

 

 

 

“Harry sialan!” makinya dalam hati. “Kalo bukan karena dia, aku nggak akan punya hutang sebanyak ini dan harus menghadapi preman-preman biadab itu!”

 

 

 

“Sudah sampai, Mbak!” Supir taksi membangunkan Amara saat mereka sudah sampai di rumah sakit.

 

 

 

“Makasih, Pak!” Amara mengambil beberapa lembar uang dari tas tangannya, membayar dan bergegas keluar dari taksi. Ia berjalan sempoyongan menuju pintu masuk ruang IGD.

 

 

 

 

 

Seorang perawat langsung menghampiri Amara yang terjatuh tepat di pintu masuk ruang IGD.

 

“Kenapa, Mbak?” tanya perawat tersebut.

 

“Tolongin saya, Sus!” pinta Amara dengan suara yang hampir tak terdengar.

 

Perawat itu langsung memanggil beberapa teman untuk membantunya. Ia memeriksa denyut nadi Amara yang melemah dan segera memberikan pertolongan.

 

Beberapa menit kemudian, Amara tersadar dan sudah berada dalam ruang perawatan. Ia menatap pergelangan tangannya yang sudah dipasangi selang infus untuk memulihkan kondisi kesehatannya.

 

Amara menoleh ke atas meja, meraih tas tangannya dan mengambil ponsel miliknya. Ia langsung menelepon Chandra agar pria itu menemaninya di rumah sakit.

 

“Halo ...!” sapa Chandra begitu panggilan telepon dari Amara tersambung.

 

“Halo, Chan! Bisa tolongin aku! Aku lagi di rumah sakit. Bisa temenin aku?” pinta Amara lirih.

 

Chandra terdengar tersenyum kecil. “Kamu udah punya suami. Suamimu ke mana?”

 

“Kamu tahu sendiri, dia nggak pernah peduli lagi sama aku. Dia cuma mau uangku aja.”

 

“Kamu punya banyak uang, gunakan itu untuk mengurus diri kamu sendiri!” sahut Chandra.

 

“Chan, kenapa kamu tega biarin aku di rumah sakit sendirian?”

 

“Semua yang terjadi sama kamu, itu karena ulah kamu sendiri. Aku nggak akan ngebiarin kamu nyakitin Jheni lagi!”

 

“Chan, aku sama sekali nggak bermaksud buat nyakitin Jheni.”

 

“Nggak bermaksud? Tapi kamu udah jual Jheni buat bayar hutang suami kamu itu. Aku nggak akan ngelepasin kalian. Kalo kamu masih maksa aku buat nemenin kamu, artinya kamu ngizinin aku buat bunuh kamu sekarang juga!” ancam Chandra.

 

“Chan, kenapa kamu jadi sejahat ini sama aku? Pasti karena Jheni yang udah pengaruhi kamu, kan?”

 

“Jheni nggak pernah bikin aku jadi jahat, kamu yang bikin aku jadi jahat.”

 

“Chan, kasih aku kesempatan sekali lagi. Aku bener-bener nyesel udah ninggalin kamu.” Amara terisak. Ia menatap layar ponselnya yang tiba-tiba mati.

 

“Kenapa kamu nggak mau dengerin aku, Chan?” tanya Amara. Ia tidak bisa mengendalikan diri dan membanting ponselnya ke dinding hingga jatuh berkeping-keping.

 

“Aargh ...!” teriak Amara sambil menarik kuat-kuat rambutnya sendiri. Ia menangis sejadi-jadinya dan terus meracau tak jelas.

 

Salah seorang perawat langsung masuk ke dalam ruangan begitu mendengar teriakan Amara.

 

“Sus, tolong telepon keluarga pasien!” pinta salah seorang perawat pada perawat yang lainnya. “Sepertinya, pasien ini mengalami depresi berat.” Ia langsung menenangkan Amara, menyuntikkan cairan ke dalam cairan infus yang tersambung ke tubuh Amara.

 

 

(( Bersambung ... ))

Bikin Amara masuk RSJ, bagus nggak sih?

Dukung terus cerita ini dengan cara kasih  review baik di kolom komentar. Sapa aku terus supaya aku tidak merasa kesepian ...

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Perfect Hero Bab 240 || Pacar High Class || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Cha, jadi kan makan bareng?” tanya Juan saat Icha berdiri di depan pintu keluar usai pulang kerja.

 

“Aku bawa Yuna, boleh?”

 

“Mmh ...” Juan menatap Yuna yang berdiri di sebelah Icha.

 

“Kalo Yuna nggak ikut sama aku, aku nggak mau pergi sama kamu.”

 

“Oke. Boleh, kok.” Juan tersenyum menatap Icha. “Mmh ... aku ambil mobil dulu diperkiran.”

 

Juan melangkah penuh percaya diri. Ia yakin, dengan mobil yang baru saja ia beli bisa membuat dua wanita paling cantik di kantornya itu tertarik padanya. Yah, walaupun mobil yang ia beli baru dibayar uang mukanya saja alias kredit. Tapi hal itu sudah berhasil membuat percaya dirinya melonjak begitu tinggi.

 

“Eh, si Juan punya mobil?” tanya Yuna sambil menyenggol lengan Icha.

 

Icha mengangguk. “Kayaknya sih baru beli. Makanya mau pamer.”

 

Yuna tertawa kecil sambil menunggu Lutfi dan Yeriko datang.

 

“Kamu yakin mau ngerjain Juan kayak gini?” tanya Icha.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Kesel aku sama dia. Biar dia tahu rasanya bersaing sama Yeriko dan Lutfi,” tuturnya sambil tersenyum geli.

 

“Kamu kan tahu Lutfi kayak gimana. Aku takut aja dia keterlaluan ngerjain si Juan.”

 

“Kita lihat aja nanti!” sahut Yuna. “Wajar kan kalo Lutfi marah karena pacarnya digangguin. Berarti, dia beneran cinta sama kamu Cha.”

 

Pipi Icha menghangat saat mendengar ucapan Yuna.

 

Mata mereka tertuju pada dua mobil lamborghini yang tiba-tiba sudah berhenti di hadapan mereka.

 

Juan yang ada di belakangnya langsung membelalakkan mata dan bergegas turun dari mobil.

 

Pintu mobil lamborghini terbuka. Dari dalamnya keluar sosok tubuh yang menjulang tinggi. Jaket dengan merk ternama edisi terbatas itu membuat aura ketampanannya keluar dan berhasil menghentikan waktu selama beberapa detik.

 

Pria itu tersenyum ke arah Icha sambil membawa sebuket mawar merah di tangannya. Ia melangkah menghampiri Icha dan memberikan sebuket mawar merah ke hadapan Icha.

 

“Sore, Sayangku!” sapa Lutfi penuh kehangatan.

 

“Sore!” balas Icha tersenyum manis sambil menerima buket mawar dari tangan Lutfi.

 

Lutfi tersenyum. Ia langsung memeluk tubuh Icha dan mencium kening gadis itu dengan mesra.

 

“Heh, kamu siapa?” Juan langsung menghampiri Lutfi.

 

Lutfi mengernyitkan dahi menatap Juan. Ia memerhatikan Juan dari ujung kaki sampai ujung kepala. “Kenalin, ku pacarnya Icha.” Ia mengulurkan tangan ke hadapan Juan.

 

“Herjuan.” Juan menyambut uluran tangan Lutfi dengan raut wajah tak bersahabat.

 

Lutfi tersenyum. “Oh, kamu yang namanya Juan. Temen kerjanya Icha ya?”

 

Juan mengangguk. Matanya tertuju pada sosok Yeriko yang datang menghampiri Yuna. Matanya menatap penuh kebencian karena tidak bisa bersaing dengan Yeriko yang jelas-jelas pria berkelas. Kini, ia baru melihat kalau pacar Icha juga datang membawa Lamborghini edisi terbatas.

 

“Ah, bisa aja itu mobil nyewa doang,” batin Juan dalam hati.

 

“Kenapa masih di sini? Belum mau pulang?” tanya Yeriko sambil merangkul pinggang Yuna.

 

“Masih nunggu Icha.”

 

“Ayo, Cha!” ajak Yeriko.

 

“Icha menganggukkan kepala.”

 

“Cha, bukannya kamu udah janji kalo mau makan bareng aku?” tanya Juan.

 

“Oh, iya. Astaga! Lupa, Juan.” Icha langsung menatap Juan sambil tersenyum. “Lain kali ya!”

 

“Nggak bisa, Cha. Kamu udah janji sama aku.” Juan menarik lengan Icha.

 

“Apa-apaan pegang-pegang, hah!?” Lutfi langsung menepis tangan Juan dengan kasar. “Kamu punya nyali ngajak Icha makan di luar?”

 

“Kenapa nggak punya?”

 

“Oke. Kalo emang kamu punya nyali. Gimana kalo traktir kita makan sekalian?”

 

“Emang kamu siapa?” sahut Juan.

 

“Siapa, Cha?” tanya Lutfi sambil menatap wajah Icha.

 

“Pacar,” jawab Icha santai.

 

“Hmm ... denger ‘kan?” tanya Lutfi sambil menatap Juan. “Kamu tahu kalau Icha ini udah punya pacar. Masih aja mau kamu embat.” Lutfi semakin geram dengan sikap Juan.

 

Juan tertawa kecil. “Baru pacar, masih bisa putus.”

 

“Oh ... kamu mau saingan sama aku?”

 

Juan mengangguk penuh percaya diri.

 

“Oke. Kita ke Rucola sekarang!” tantang Lutfi.

 

“Oke.”

 

Lutfi tersenyum. Ia langsung membawa Icha masuk ke dalam mobilnya.

 

Yuna dan Yeriko juga bergegas masuk ke mobil.

 

Dua lamborghini itu berhasil menjadi pusat perhatian. Mereka melaju membelah jalanan kota dan menuju La Rucola Mediterranean Restaurant yang berada di jalan Dr. Soetomo. Di belakang mereka, mobil Juan mengikuti.

 

Juan benar-benar kesal karena rencananya mendekati Icha, terhalang oleh Lutfi. Pacar yang belum tentu bisa menjadi pasangan hidup selamanya.

 

Sesampainya di sana, Lutfi sengaja memilih private room yang ada di restoran tersebut.

 

“Sorry ya, Juan. Kami terbiasa memilih private room karena nggak suka makan dilihatin banyak orang,” tutur Icha. Di sepanjang perjalanan. Lutfi sudah melatihnya untuk terlihat elegan dan berselera tinggi.

 

“Nggak papa, Cha.”

 

Icha tersenyum. Mereka berlima duduk melingkar di meja makan.

 

“Kamu pesen apa, Cha?” tanya Lutfi sambil menyodorkan menu ke hadapan Icha.

 

“Mmh ... apa aja.”

 

“Pilih yang paling enak dan mahal. Mumpung ada yang traktir,” bisik Lutfi.

 

Lutfi mulai tersenyum licik. “Hmm ... biar aku yang pesenin makanan kalian.” Ia langsung memanggil pelayan.

 

Juan terus menatap Lutfi kesal. Ia telah salah menilai Icha. Terlihat sangat sederhana, tapi ternyata sangat materialistis dan seleranya berkelas.

 

“Kakak Ipar, kamu suka seafood kan?” tanya Lutfi.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

Lutfi langsung membuka buku menu saat pelayan sudah berdiri di sampingnya. “Mbak, aku pesen ini ... ini ... dan ini ...” Ia memesan semua menu yang ada.

 

Lutfi menutup buku menu. “Tambah lagi dolcetto dua biji sama lafite.”

 

“Yuna nggak minum. Dolcetto aja!” sahut Yeriko.

 

“Oke. Itu aja, Mbak.” Lutfi tersenyum penuh kemenangan. “Mampus lo!” batinnya dalam hati sambil menatap Juan.

 

Yuna dan Yeriko tersenyum saling pandang.

 

Juan sangat kesal saat melihat ada banyak makanan yang terhidang di atas meja. Sepertinya, Lutfi dengan sengaja ingin menjatuhkan harga dirinya sebagai lelaki di hadapan Yuna dan Icha.

 

“Cha, makan yang banyak!” pinta Lutfi. “Kalo kamu kurus, ntar dikira aku nggak pernah kasih makan.” Lutfi menyuapkan makanan ke mulut Icha.

 

Icha mengangguk sambil tersenyum.

 

“Oh ya, minggu ini aku mau ngecek resort yang ada di Bali. Kamu bisa ikut, Cha?” tanya Lutfi sambil menatap Icha, namun matanya melirik ke arah Juan.

 

“Berapa hari?”

 

“Sehari doang. Langsung balik ke sini kalo udah kelar.”

 

“Aku ngapain kalo ikut ke sana?”

 

“Nemenin. Biar aku semangat terus kalo ada kamu yang nemenin aku.”

 

Pipi Icha menghangat mendengar ucapan Lutfi.

 

“Ikut ya!” pinta Lutfi. “Sekalian liburan.”

 

Icha mengangguk sambil tersenyum.

 

“Nah, gitu dong! Kamu kalo senyum terus, makin cantik aja.”

 

Lutfi sengaja terus memberikan perhatian dan rayuan-rayuan kecil di depan Juan. Ia tidak akan pernah rela pacarnya diganggu oleh pria lain. Apalagi, pria itu adalah rekan kerjanya.

 

Sementara itu, Juan menatap mereka penuh kebencian. Ia tidak menyangka kalau Icha memiliki selera yang sangat tinggi. Ia mulai gelisah karena semua makanan yang ada di tempat ini sangat mahal dan ia harus membayar dengan uangnya sendiri.

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Dukung terus cerita ini dengan cara kasih  review baik di kolom komentar. Sapa aku terus supaya aku tidak merasa kesepian ...

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas