Monday, June 8, 2026

Perfect Hero Bab 544 : Kemarahan Mama Mertua

 


“Nggak cuma selingkuh, dia masih aja bikin malu walau sudah diceraikan sama Rudi,” tutur Mega sambil mematikan televisi setelah menyimak berita yang beredar tentang Melan.

 

“Biasanya, buah jatuh nggak jauh dari pohonnya. Si Melan sama Bellina itu kelakuannya sama persis. Bisa jadi, Bellina juga selingkuh sama pria lain. Aku nggak akan ngebiarin dia mempermainkan Lian. Apalagi sampai bikin malu keluarga.”

 

“Ini si Bellina nggak bisa ngasih tahu mamanya buat jaga sikap? Kenapa malah makin parah? Nggak ingat umur! Berasa masih tujuh belas tahun apa ya?”

 

Mega menyambar ponsel yang ia letakkan di atas meja. Ia menekan nomor kontak Bellina.

 

“Halo ...!” sapa Bellina begitu panggilan  teleponnya tersambung.

 

“Halo, kamu di mana?” tanya Mega.

 

“Baru sampai di rumah, Ma.”

 

“Dari mana? Shopping? Hambur-hambur uang lagi?” tanya Mega.

 

“Dari perusahaan, Ma. Lian lagi ngurus perusahaan yang di Semarang. Jadi, aku handle kerjaan dia dulu. Ada apa?” tanya Bellina.

 

“Ke rumah mama, sekarang juga!” perintah Mega.

 

“Iya. Belli mandi dulu, Ma.”

 

“Oke, Mama tunggu!” Mega langsung mematikan panggilan teleponnya.

 

Bellina mendesah begitu Mega memutuskan panggilan telepon. Ia merebahkan tubuhnya ke atas sofa, enggan beranjak dari tempatnya.

 

“Bel, mama mertua kamu lagi nunggu. Jangan bikin dia makin marah sama kamu!” pinta Bellina pada dirinya sendiri.

 

“Aargh ...! Kenapa hidup aku makin kacau kayak gini!?” seru Bellina sambil mengacak rambutnya sendiri.

 

“Punya suami nggak sayang, punya mama mertua galak banget. Sekarang, aku harus menghadapi kenyataan punya mama gila! Apa bagusnya si Lonan itu? Udah tua, gak ganteng, gak kaya, gak baik ... kenapa mamaku bisa tergila-gila sama laki-laki kayak gitu?”

 

“Kenapa hidupku beda jauh sama Yuna? Padahal, kita ini saudara. Selisih umur juga Cuma satu minggu. Dia dapetin banyak kebahagiaan. Disayang sama semua orang cuma modal cantik dan kecentilan doang!”

 

Bellina terus menyalahkan Yuna atas apa yang terjadi pada dirinya. Ia terus mengumpat walau sedang sibuk bersiap menemui mama mertuanya.

 

Usai bersiap, Bellina langsung bergerak menuju ke rumah mertuanya. Ia terlebih dahulu membeli obat penenang di apotek, juga membeli beberapa barang yang akan ia bawa ke rumah mama mertuanya.

 

Mega sudah menunggu kedatangan Bellina dalam waktu yang cukup lama. Amarah di dalam hatinya sudah memuncak. Begitu Bellina datang, ia langsung menyambutnya dengan raut wajah tak bersahabat.

 

“Sore, Ma ...!” sapa Bellina dengan hati-hati. Ia tersenyum kecut sambil mengulurkan tangan ke arah Mega.

 

Mega menepis tangan Bellina begitu saja. Ia tidak ingin bersikap baik pada menantunya itu.

 

“Ada apa, Ma?” tanya Bellina saat mendapati sikap Mega yang sangat ketus terhadap dirinya.

 

“Kamu nggak lihat berita heboh di luar sana soal mama kamu?”

 

Bellina tak menyahut. Ia berusaha tersenyum sambil menggenggam paper bag yang sudah ia siapkan sebagai hadiah untuk mama mertuanya.

 

“Kenapa diam?” tanya Mega saat melihat Bellina masih bergeming.

 

Bellina tak menyahut, ia meremas botol obat yang ada di tangannya. Ia tidak tahu harus mengatakan apa pada mertuanya kali ini. Semua memang kesalahan mamanya dan membuat sikap mertuanya semakin tidak bersahabat.

 

“Apa yang kamu bawa?” tanya Mega sambil menatap tangan Bellina.

 

“Eh!? Oh, ini aku bawa hadiah untuk mama,” jawab Bellina sambil meletakkan paper bag yang ia bawa ke atas meja.

 

Mega hanya tersenyum sinis. Ia sama sekali tidak tertarik dengan barang-barang pemberian Bellina. Ia malah merebut botol obat yang ada di tangan Bellina. “Ini obat apa? Buat aku?” tanyanya.

 

Bellina menggelengkan kepala.

 

Mega membaca tulisan yang tertera di botol obat tersebut dan berhasil membuat perasaannya semakin tersinggung. “Kamu mau ngasih aku obat penenang!?” serunya.

 

Bellina menggeleng. “Mama jangan salah paham! Itu obat bukan buat mama.”

 

“Kalau bukan buat mama, buat siapa? Kenapa dibawa masuk ke dalam rumah ini?” tanya Mega.

 

“Itu buat ...”

 

“Kamu udah tahu apa yang bakal terjadi sama aku kalau lihat berita soal mama kamu? Makanya, kamu bawain obat penenang buat aku? Perasaanku memang nggak tenang lihat kelakuan gila mama kamu itu, tapi nggak perlu pakai obat penenang segala!” cerocos Mega.

 

Bellina menghela napas. Ia kesulitan menjelaskan pada Mega yang sudah terlanjur mengomel panjang lebar di depannya. Meski hatinya sangat kesal, ia tak memiliki banyak keberanian untuk menghadapi mama mertuanya.

 

“Bel, kamu seharusnya bisa ngasih tahu mama kamu untuk menjaga nama baik keluarga. Biar bagaimanapun, dia itu besanku. Bikin malu keluarga Wijaya kalau seperti ini terus!”

 

“Ma, aku nggak tahu kalau Mama Melan seperti itu. Beritanya sudah menyebar luas dan aku nggak bisa mengendalikan.”

 

“Dia itu mama kamu. Bisa-bisanya kamu nggak tahu apa yang sudah terjadi sama dia?”

 

“Mama sudah bercerai sama papa dan punya kehidupan sendiri. Aku nggak punya hak apa pun sebagai anak. Itu urusan dia sama suami barunya.”

 

Mega semakin kesal dengan ucapan Bellina. “Oh, kamu belain mama kamu itu?”

 

Bellina menggelengkan kepala.

 

“Mama sama anak, kelakuannya sama aja. Kalau kamu masih mau jadi menantu keluarga Wijaya. Jaga nama baik keluarga!”

 

Bellina mengangguk. Ia tidak ingin mengeluarkan kata apa pun dan membuatnya menjadi semakin tersudut.

 

“Ingat, Bel. Kalau sampai kamu selingkuh dari Lian ... mama jamin, Lian pasti akan menceraikan kamu saat itu juga!” tegas Mega.

 

Bellina terdiam. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan jika Lian mengetahui hubungannya dengan Arjuna. Terlalu banyak hal yang ia hadapi saat ini dan membuatnya hampir gila.

 

“Mama kamu itu udah keterlaluan. Nggak ingat umur sama sekali. Sudah tua kayak gitu, masih kayak a-be-ge! Pakai pakaian seksi ke klub malam bareng laki-laki selingkuhannya. Belum lagi video syur dia yang tersebar ke mana-mana. Dia pikir, Victoria Secret bakal ngambil dia jadi model!?”

 

“Ma, semua orang punya kehidupan pribadi yang nggak seharusnya diketahui banyak orang. Aku rasa, bukan cuma mamaku yang suka ke klub. Mama mega juga pernah main ke klub atau tempat karaoke malam lain. Bedanya, Mama Melan ketahuan media dan Mama Mega enggak!”

 

PLAAAK ...!

 

Mega langsung menampar wajah Bellina. “Berani-beraninya kamu samain aku sama mama kamu? Kapan kamu lihat aku masuk ke klub? Bukannya mengakui kesalahan, malah nyari-nyari kesalahan orang lain!” seru Mega.

 

Bellina langsung memegang pipinya yang terasa perih. Matanya memerah dan mengeluarkan air dari sudut-sudutnya. Hatinya terasa sangat sakit melihat perlakuan mertuanya. Bukan hanya hatinya, tapi juga seluruh tubuhnya. Ia tidak ingin melawan mama mertua dan membuat posisi Wilian semakin terjepit.

 

Mega menatap mata Bellina yang berkaca-kaca. Ia masih ingin memaki Bellina. Tapi ia teringat akan putera kesayangannya yang masih menyayangi dan melindungi Bellina.

 

“Pulanglah dan jangan berbuat macam-macam di luar sana!”

 

Bellina menggigit bibir sambil menganggukkan kepala. Ia berbalik dan melangkahkan kakinya perlahan.

 

“Tunggu ...!” seru Mega.

 

Langkah kaki Bellina langsung terhenti. Ia memutar kepala ke arah Mega yang berdiri di belakangnya.

 

“Bawa ini sekalian! Aku nggak butuh hadiah-hadiah dari kamu!” perintah Mega sambil melemparkan paper bag ke kaki Bellina begitu saja.

 

Bellina menatap paper bag yang sudah tergeletak di lantai. Barang yang sudah ia siapkan untuk mama mertuanya, berserakan di sekitarnya.

 

“Aku nggak butuh hadiah seperti itu hanya untuk menyenangkan hatiku. Kamu pikir, aku anak kecil!?” tutur Mega ketus. Ia langsung berlalu pergi meninggalkan Bellina begitu saja.

 

Bellina membungkukkan tubuhnya  perlahan. Ia memunguti barang-barangnya dan memasukkan kembali ke dalam paper bag.

 

Bellina menarik napas dalam-dalam sambil menahan air matanya agar tak jatuh berderai. “Nggak boleh nangis, Bel. Kamu pasti bisa menghadapi semuanya. Nggak boleh menangis hanya karena makian dari orang terdekatmu! Kamu pasti bisa melewatinya dengan mudah,” batinnya pada diri sendiri. Ia melangkah perlahan, keluar dari rumah besar keluarga Wijaya.

 

 

((Bersambung ...))

 

Dukung terus biar aku makin semangat nulis cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 543 : Kehabisan Uang

 


“Yun, kamu udah lihat gosip di media soal Tante Melan?” tanya Jheni saat ia menemani Yuna merapikan tanaman bunga di halaman rumah.

 

“Udah, Jhen.”

 

“Menurut kamu gimana?” tanya Jheni.

 

“Huft, nggak tahu. Aku juga bingung. Aku kasihan sama Oom Rudi. Sebenarnya, dia itu baik. Istrinya aja yang kelakuannya kayak iblis. Sekarang, semua orang membicarakan keluarga Linandar. Aku harap, berita ini nggak sampai ke telinga ayahku.”

 

“Berita sebesar ini ... mana mungkin Oom Adjie nggak tahu. Emangnya dia tinggal di hutan yang nggak ada akses televisi dan internet? Yang salah bukan keluarga kamu, Yun. Si Melan yang nggak tahu diri itu,” tutur Jheni.

 

“Iya, sih. Tapi keluarga kami tetep jadi sorotan. Untungnya, Oom Rudi gerak cepat, langsung ceraikan Tante Melan.”

 

“Hah!? Jadi, gosip yang ada di luar sana itu bener? Tante Melan beneran udah resmi cerai?” tanya Jheni.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Mampus tuh si Maleficent! Biar dia jadi gelandangan di luar sana. Udah diceraikan sama Oom Rudi, masih sempat-sempatnya pesta foya sama laki-laki itu.”

 

 “Pesta foya gimana?” tanya Yuna sambil menyirami tanaman anggrek yang berjejer rapi di hadapannya.

 

“Kamu belum baca artikel terakhir yang muncul hari ini?” tanya Jheni.

 

“Belum, Jhen. Belum sempat.”

 

“Eyuuh...! Kamu mah kudet banget,” celetuk Jheni.

 

Yuna hanya nyengir mendengar ucapan Jheni.

 

“Lihat!” Jheni menyodorkan ponsel ka wajah Yuna. “Ini video baru aja diambil netizen tadi pagi. Lihat! Dia baru cerai, asyik shopping sama laki-laki lain. Banyak duit nih janda baru.”

 

“Jangan-jangan, itu uang tunjangan dari Oom Rudi? Laki-laki itu kan baru keluar dari penjara, Jhen. Kata suamiku, selama ini dia hidupnya dari duit yang dikasih Tante Melan. Nggak mungkin dia punya duit buat bayarin Tante Melan shopping.”

 

“Hahaha. Jadi, sekarang si Melan lagi diporotin sama laki-laki itu? Biar cepet habis duitnya, terus tidur di jalanan. Mampus!” seru Jheni sambil tertawa lebar.

 

Yuna ikut tertawa. “Aku jadi ngebayangin gimana wajah sombongnya Tante Melan tanpa duit.”

 

“Hahaha. Dia nggak bakal berani jahatin kamu lagi, Yun. Senang banget aku kalau dia jatuh miskin. Aku harus lihat gimana akhir hidup dia.”

 

Yuna tersenyum sambil bangkit dan membasuh tangannya. “Tante Melan itu licik, Jhen. Dia nggak akan menyerah begitu aja. Apalagi, pacarnya dia itu mafia.”

 

“Mafia apa sih? Aku masih nggak paham sama obrolannya Yeriko and The Gank.”

 

Yuna terkekeh. “Nggak tahu juga.”

 

Jheni langsung nyengir ke arah Yuna. “Aku keselnya, mereka kalo ngobrol suka pake kode-kodean gitu. Aku kan nggak paham, Yun.”

 

“Kode apaan?” tanya Yuna.

 

“Kode rahasia. Kamu nggak sadar kalau Yeriko sering main mata ke Chandra kalo lagi ngobrol? Aku sering perhatiin.”

 

Yuna langsung menoleh ke arah Jheni. “Berani-beraninya merhatiin suami orang!?” dengus Yuna sambil memonyongkan bibirnya.

 

Jheni terkekeh. “Bukan naksir, Yun!” sahutnya sambil menempelkan telapak tangannya ke wajah Yuna.

 

“Brrt ... byuuh! Jheni ...! Tangan kamu kotor!” teriak Yuna kesal.

 

Jheni hanya tertawa menanggapi teriakan Yuna. “Lulur wajah pakai tanah, bagus loh.”

 

“Bagus apanya!?” dengus Yuna. “Aku udah bersih-bersih, malah kamu kotorin lagi!” seru Yuna sambil menyalakan kran air dan membasuh wajahnya. “Ntar jerawatan, Jhen!”

 

“Hahaha. Kalau udah nikah, nggak bisa jerawatan lagi, Yun. Nafsunya udah terlampiaskan. Nggak ada yang ditahan-tahan,” sahut Jheni sambil terkekeh geli.

 

“Nggak ngaruh, Jhen. Jerawat itu bukan cuma karena nafsu doang. Karena kotor dan stres juga bisa.”

 

“Iya, sih. Stres karena nggak ada yang belai,” sahut Jheni sambil terkekeh.

 

“Kamu makin centil aja, Jhen. Jangan-jangan, lagi stres karena udah lama nggak dibelai sama Chandra ya?” goda Yuna.

 

Jheni menggelengkan kepala. “Chandra ke Jakarta dua hari ini. Suami kamu jahat banget!”

 

“Jahat kenapa?”

 

“Chandra dikirim ke luar terus!” sahut Jheni sambil membasuh tangannya. Kemudian, ia dan Yuna duduk di teras rumah.

 

“Jhen, Chandra itu Direktur bagian Litbang. Dia pasti sering ke mana-mana untuk mengurus proyek pengembangan bisnis perusahaan. Kamu ini aneh. Kalo mau ikut dia kan bisa. Kerjaanmu fleksibel banget. Bisa dikerjain dari mana aja.”

 

Jheni menggoyangkan bibirnya seiring dengan ucapan Yuna. “Kalo aku ikut dia, dia juga sibuk. Nggak bakal ada waktu jalan bareng.”

 

“Ya udah, dukung aja suami kamu itu! Biar bisa cepet ngelamar kamu,” sahut Yuna.

 

“Apa hubungannya sama lamaran?”

 

“Siapa tahu aja, Chandra lagi nyiapin pernikahan mewah buat kamu. Pernikahan di kapal pesiar sampai ke Eropa. Yuhu ... keren banget ‘kan?”

 

“Keren gundulmu!”

 

“Kamu nggak mau pernikahan mewah, Jhen?”

 

“Mau. Tapi nggak semewah itu juga. Lebih baik uangnya aku simpan atau aku investasikan. Lumayan kan buat masa depan anak-anakku.”

 

“Kamu udah mikir sejauh itu, Jhen?” tanya Yuna. “Udah siap punya anak?”

 

“Iih ... apaan sih!?” sahut Jheni dengan wajah merona. Ia bangkit dari tempat duduk dan berjalan menuju dapur.

 

“Hei, mau ke mana?” seru Yuna.

 

“Mau bikin jus! Mau, nggak?” teriak Jheni dari kejauhan.

 

“Boleh, deh.” Yuna tertawa kecil sambil menopang dagu. Ia merasa sangat bahagia karena Jheni punya banyak waktu untuk menemaninya melakukan banyak hal di hari-harinya menjelang persalinan.

 

 

 

...

 

 

 

Di tempat lain ...

 

Melan masih asyik menghamburkan uang yang ia dapat dari mantan suami untuk menumpahkan seluruh kekesalannya. Ia terus berbelanja dan menikmati kegilaannya bersama Lonan.

 

“Aargh ...!” teriak Melan histeris begitu ia menatap layar ponsel.

 

 “Uangku sisa segini? Tiga puluh juta, buat apa?” tanya Melan sambil menggigit jarinya.

 

“Nggak bisa kayak gini. Kalo begini terus, aku bisa kehabisan uang. Aku harus gimana?” gumam Melan.

 

“Kenapa?” tanya Lonan yang baru saja keluar dari kamar mandi.

 

“Uang di tabunganku sisa tiga puluh juta. Cuma bisa dipakai bertahan sepuluh hari. Itupun harus irit,” jawab Melan.

 

“Kamu punya anak yang kaya. Suaminya dia kaya, papanya juga kaya. Minta aja uang sama anak kamu! Dia pasti akan mengeluarkan banyak uang untuk ibunya sendiri,” tutur Lonan menyarankan.

 

“Hmm ... iya juga, ya?”

 

Lonan menganggukkan kepala. “Kamu bisa menikmati hidup mewah selama ini. Sementara, aku sudah mengorbankan semuanya demi kamu. Sekarang, waktunya kamu menunjukkan kalau kamu beneran sayang sama aku.”

 

“Maksud kamu?”

 

Lonan tersenyum sambil mengelus lembut pipi Melan. “Kita sudah sangat tua. Bisakah kita menghabiskan sisa hidup bersama? Aku cuma mau, kamu membayar semua pengorbananku selama ini dengan menemaniku setiap hari!”

 

Melan menganggukkan kepala. “Kamu nggak perlu khawatir! Aku sudah melepaskan semuanya. Aku bahkan lebih memilih menjalani sisa hidupku sama kamu dan bercerai dengan pria itu.”

 

Lonan tersenyum puas. Ia merasa sangat bahagia karena wanita yang ia cintai bisa menemaninya menjalani hari-harinya setelah ia keluar dari penjara.

 

“Apa kamu yakin kalau Bellina akan ngasih kita uang?” tanya Melan ragu-ragu.

 

“Aku yakin. Karena sebagai seorang anak, dia tidak akan pernah tega melihat ibunya menderita dan sudah seharusnya seorang anak membalas budi pada seorang ibu yang telah membesarkannya.”

 

Melan menganggukkan kepala. “Bellina juga anak yang manis dan penurut. Dia pasti bisa mengeluarkan banyak uang untuk kita.”

 

Lonan mengangguk sambil tersenyum manis.

 

“Aku akan temui Bellina sekarang juga,” tutur Melan sambil bangkit dari sofa.

 

Lonan mengangguk, ia membiarkan Melan bersiap keluar dari kamar hotel tersebut agar bisa mendapatkan uang dengan cepat dan mudah.

 

Melan sangat bersemangat untuk menemui Bellina. Ia yakin, puteri kesayangannya itu pasti akan memberikan banyak uang untuknya agar ia bisa segera membeli apartemen, tidak lagi tinggal di hotel seperti saat ini.

 

 

((Bersambung ...))

 

Penderitaan Melan belum berakhir sampai di sini ...

Dukung terus biar aku makin semangat nulis cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 542 : Diusir

 


Melan menyembunyikan senyuman dalam hati saat melihat Tarudi bergeming selama beberapa saat. Ia ingin melihat bagaimana Tarudi mempertaruhkan perasaan terhadap dirinya.

 

“Pa ... demi Bellina,  apa kita tidak bisa berbaikan dan kembali seperti dulu lagi?” tanya Melan sambil menatap wajah Tarudi penuh harap.

 

Tarudi tersenyum sambil menatap wajah Melan yang masih berlutut di bawahnya. “Aku nggak akan merubah keputusanku!” tegasnya sambil menyodorkan pena ke hadapan wajah Melan.

 

“Pa, kita sudah hidup bersama selama dua puluh lima tahun. Apa perasaan papa ke mama hanya sebatas ini?” tanya Melan.

 

Tarudi tersenyum sinis. “Apa kamu pikir, selama bertahun-tahun ini ... aku benar-benar mencintai kamu? Aku memperlakukan kamu dengan sangat baik karena aku nggak pernah cinta sama aku. Aku hanya ingin menebus rasa bersalahku karena aku lebih mencintai wanita lain daripada istriku sendiri.”

 

Melan melebarkan kelopak matanya. Ia tak menyangka kalau suaminya justru memikirkan wanita lain selama usia pernikahan mereka. Perasaannya sangat kesal, ia menatap tajam ke arah Tarudi dan bangkit dari lantai.

 

Tarudi mengangkat kedua alisnya. “Aku senang bisa melepaskan kamu dengan mudah karena perselingkuhan kamu ini. Jika tidak, mungkin aku akan menghabiskan seumur hidupku bersama wanita yang tidak pernah aku cintai.”

 

Melan menatap tajam ke arah Tarudi sambil berusaha mengendalikan pundaknya yang naik turun seiring dengan napasnya yang membara. “Wanita itu si Arum?”

 

“Aku rasa, kamu sudah mengetahui dengan jelas dari awal,” jawab Tarudi.

 

“Kamu benci sama aku karena aku memilih hidup dengan pria yang aku cintai. Kamu nggak lihat diri kamu sendiri? Kamu juga sibuk memikirkan wanita lain walau sudah menikah,” tutur Melan kesal. Ia tidak peduli lagi dengan semua yang akan terjadi. Sebab, ia tahu kalau dirinya tidak akan bisa mengembalikan keadaan seperti dulu lagi.

 

Tarudi hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Melan. “Aku memang selalu memikirkan wanita lain yang aku cintai. Tapi, aku tidak pernah berselingkuh. Aku justru menghormati dan menghargai kamu sebagai istriku. Tapi kamu ... tidak bisa menghargai keberadaan suami kamu sedikitpun. Malah berkeliaran di luar sana dan merusak nama baik suami kamu sendiri!”

 

“Aku juga nggak akan kayak gini kalau kamu nggak mikirin Arum terus!” sahut Melan tak mau kalah.

 

“Arum sudah nggak ada. Nggak bisa kamu jadikan alasan untuk membela diri kamu sendiri.”

 

Melan tersenyum sinis. “Arum emang udah nggak ada. Tapi ... gimana kalau semua orang tahu ... kamu mencintai istri kakak kamu sendiri, hah!?”

 

“Aku mencintai dia ... tapi tidak melakukan hubungan menjijikkan seperti kamu dan Lonan!”

 

“Kamu pikir, aku nggak tahu bagaimana kamu berebut wanita dengan kakak kandung kamu sendiri?” tanya Melan sambil tertawa kecil.

 

“Arum itu wanita yang baik dan bermartabat. Dia pantas dicintai oleh banyak orang seumur hidupnya. Aku nggak pernah menyesal mencintai dia walau aku nggak bisa memiliki. Aku justru menyesal memiliki wanita yang tidak pernah aku cintai sepanjang hidupku.”

 

“Aku sudah berusaha menerima dan menyayangi kamu sebagai istri. Tapi tidak melebihi perasaanku dengan almarhumah Arum. Kamu tahu ... wanita dikagumi dan dicintai oleh pria seumur hidup karena sifat dan perilakunya. Kalau kamu masih terus seperti ini, kamu akan menjadi wanita yang dibenci seumur hidup.”

 

Melan semakin kesal karena Tarudi membandingkan dirinya dengan Arum. Wanita yang bahkan sudah tidak akan pernah hadir lagi dalam kehidupan mereka.

 

Tarudi langsung menarik tangan Melan dan meletakkan pena ke telapak tangannya. “Tanda tangani sekarang juga dan bawa barang-barang kamu pergi dari rumah ini!” sentak Tarudi. Ia sudah enggan berdebat dengan Melan dan ingin menyelesaikan semua dengan cepat.

 

Melan menatap kesal ke arah Tarudi yang memperlakukannya sangat kasar. Ia tidak punya pilihan lain lagi, tak ada ruang sedikit pun untuk membalikkan keadaan. Ia menatap dokumen yang ada di atas meja dan langsung menandatanganinya.

 

Tarudi langsung tersenyum begitu melihat Melan sudah menandatangani surat perjanjian perceraian. Ia meraih dokumen dari atas meja dan memeluknya. “Bawa barang-barangmu keluar dari rumah ini!” pinta Tarudi.

 

Melan mengangguk. Ia berniat untuk mengambil barang-barang berharga miliknya. Semua perhiasan yang ia miliki, masih ada di dalam kamar. Ia bisa menggunakannya untuk bertahan hidup di luar sana.

 

“Mau ke mana?” tanya Tarudi saat melihat Melan menuju kamar tidurnya.

 

“Mau beresin barang-barangku,” jawab Melan.

 

“Sudah aku bereskan,” tutur Tarudi sambil menunjuk dua koper yang ada di sudut ruangan. “Kamu nggak perlu repot-repot membereskannya lagi! Bawa koper kamu keluar dari rumah ini!”

 

“Tapi ...” Melan langsung menghampiri koper yang ada di sudut ruangan. Ia membuka koper itu dan memeriksa barang-barangnya. Ia langsung menutup koper itu kembali begitu melihat semua pakaian yang ada di dalamnya.

 

“Masih ada barang lain yang harus aku ambil,” tutur Melan sambil melangkah menuju kamarnya.

 

“Maaf, Nyonya ...!” Dua orang pelayan menghadang langkah Melan untuk masuk ke dalam kamar.

 

“Kalian ...!?” Melan mendelik ke arah pelayan tersebut.

 

“Cuma dua koper itu yang boleh kamu bawa pergi dari sini. Aku sudah memeriksa semuanya. Saat kamu masuk ke rumah ini ... kamu hanya membawa dua koper pakaianmu. Itu juga yang harus kamu bawa saat keluar dari rumah ini,” jelas Tarudi sambil tersenyum menatap Melan.

 

“Pa ... Papa tega sama mama? Papa mau biarin mama hidup terlunta-lunta di jalanan?” tanya Melan.

 

“Kita sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Kamu bukan lagi tanggung jawabku. Aku akan mengirim tunjangan perceraian ke rekening kamu. Manfaatka itu untuk membuat hidupmu bahagia di luar sana!”

 

Melan mendengus kesal ke arah Tarudi. Ia tidak menyangka kalau ia akan kehilangan semuanya. Tarudi sudah mengetahui semuanya dan tidak membiarkannya membawa perhiasan berharga yang pernah diberikan Tarudi untuknya.

 

“Bawa wanita ini keluar dari rumah saya!” perintah Tarudi pada pelayan di rumahnya. Ia bergegas melangkah pergi dan masuk ke dalam kamarnya.

 

Pelayan yang ada di rumah itu langsung menyeret Melan keluar dari rumah tersebut.

 

“Kalian berani-beraninya sama aku. Kalian nggak ingat, aku ini siapa?” seru Melan saat pelayan di rumah itu menyeretnya keluar.

 

“Maaf, Anda bukan nyonya kami lagi!” sahut pelayan itu sambil tersenyum. Mereka melempar koper Melan keluar dari pintu dan menutup kembali pintu rumah itu rapat-rapat.

 

Melan menatap pintu utama rumah mewah bernilai miliaran tersebut. Ia menggigit bibirnya karena tak bisa lagi masuk ke dalam rumah mewah yang menjadi kebanggaannya sejak dua puluh lima tahun lalu.

 

Melan melangkahkan kakinya perlahan sambil menarik dua koper yang ada di sisinya. Air matanya mengalir deras saat ia harus meninggalkan rumah penuh kenangan itu. Di setiap tetes air matanya yang jatuh, ada bayangan Bellina kecil yang selalu tertawa bahagia saat bermain dengannya.

 

Melan berusaha menghapus air matanya. Ia tidak ingin menunjukkan kehancurannya pada semua orang. Ia merasa kalau ia bisa menghadapinya dengan mudah meski tak ada lagi dukungan besar dari suami yang selama ini selalu ia manfaatkan kebaikannya.

 

((Bersambung ...))

 

Penderitaan Melan belum berakhir sampai di sini ...

Dukung terus biar aku makin semangat nulis cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

  

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas