“Nggak cuma selingkuh, dia masih aja bikin malu walau sudah
diceraikan sama Rudi,” tutur Mega sambil mematikan televisi setelah menyimak
berita yang beredar tentang Melan.
“Biasanya, buah jatuh nggak jauh dari pohonnya. Si Melan sama
Bellina itu kelakuannya sama persis. Bisa jadi, Bellina juga selingkuh sama
pria lain. Aku nggak akan ngebiarin dia mempermainkan Lian. Apalagi sampai
bikin malu keluarga.”
“Ini si Bellina nggak bisa ngasih tahu mamanya buat jaga sikap?
Kenapa malah makin parah? Nggak ingat umur! Berasa masih tujuh belas tahun apa
ya?”
Mega menyambar ponsel yang ia letakkan di atas meja. Ia menekan
nomor kontak Bellina.
“Halo ...!” sapa Bellina begitu panggilan teleponnya
tersambung.
“Halo, kamu di mana?” tanya Mega.
“Baru sampai di rumah, Ma.”
“Dari mana? Shopping? Hambur-hambur uang lagi?” tanya Mega.
“Dari perusahaan, Ma. Lian lagi ngurus perusahaan yang di
Semarang. Jadi, aku handle kerjaan dia dulu. Ada apa?” tanya Bellina.
“Ke rumah mama, sekarang juga!” perintah Mega.
“Iya. Belli mandi dulu, Ma.”
“Oke, Mama tunggu!” Mega langsung mematikan panggilan teleponnya.
Bellina mendesah begitu Mega memutuskan panggilan telepon. Ia
merebahkan tubuhnya ke atas sofa, enggan beranjak dari tempatnya.
“Bel, mama mertua kamu lagi nunggu. Jangan bikin dia makin marah
sama kamu!” pinta Bellina pada dirinya sendiri.
“Aargh ...! Kenapa hidup aku makin kacau kayak gini!?” seru
Bellina sambil mengacak rambutnya sendiri.
“Punya suami nggak sayang, punya mama mertua galak banget.
Sekarang, aku harus menghadapi kenyataan punya mama gila! Apa bagusnya si Lonan
itu? Udah tua, gak ganteng, gak kaya, gak baik ... kenapa mamaku bisa
tergila-gila sama laki-laki kayak gitu?”
“Kenapa hidupku beda jauh sama Yuna? Padahal, kita ini saudara.
Selisih umur juga Cuma satu minggu. Dia dapetin banyak kebahagiaan. Disayang
sama semua orang cuma modal cantik dan kecentilan doang!”
Bellina terus menyalahkan Yuna atas apa yang terjadi pada dirinya.
Ia terus mengumpat walau sedang sibuk bersiap menemui mama mertuanya.
Usai bersiap, Bellina langsung bergerak menuju ke rumah mertuanya.
Ia terlebih dahulu membeli obat penenang di apotek, juga membeli beberapa
barang yang akan ia bawa ke rumah mama mertuanya.
Mega sudah menunggu kedatangan Bellina dalam waktu yang cukup
lama. Amarah di dalam hatinya sudah memuncak. Begitu Bellina datang, ia
langsung menyambutnya dengan raut wajah tak bersahabat.
“Sore, Ma ...!” sapa Bellina dengan hati-hati. Ia tersenyum kecut
sambil mengulurkan tangan ke arah Mega.
Mega menepis tangan Bellina begitu saja. Ia tidak ingin bersikap
baik pada menantunya itu.
“Ada apa, Ma?” tanya Bellina saat mendapati sikap Mega yang sangat
ketus terhadap dirinya.
“Kamu nggak lihat berita heboh di luar sana soal mama kamu?”
Bellina tak menyahut. Ia berusaha tersenyum sambil menggenggam
paper bag yang sudah ia siapkan sebagai hadiah untuk mama mertuanya.
“Kenapa diam?” tanya Mega saat melihat Bellina masih bergeming.
Bellina tak menyahut, ia meremas botol obat yang ada di tangannya.
Ia tidak tahu harus mengatakan apa pada mertuanya kali ini. Semua memang
kesalahan mamanya dan membuat sikap mertuanya semakin tidak bersahabat.
“Apa yang kamu bawa?” tanya Mega sambil menatap tangan Bellina.
“Eh!? Oh, ini aku bawa hadiah untuk mama,” jawab Bellina sambil
meletakkan paper bag yang ia bawa ke atas meja.
Mega hanya tersenyum sinis. Ia sama sekali tidak tertarik dengan
barang-barang pemberian Bellina. Ia malah merebut botol obat yang ada di tangan
Bellina. “Ini obat apa? Buat aku?” tanyanya.
Bellina menggelengkan kepala.
Mega membaca tulisan yang tertera di botol obat tersebut dan
berhasil membuat perasaannya semakin tersinggung. “Kamu mau ngasih aku obat
penenang!?” serunya.
Bellina menggeleng. “Mama jangan salah paham! Itu obat bukan buat
mama.”
“Kalau bukan buat mama, buat siapa? Kenapa dibawa masuk ke dalam
rumah ini?” tanya Mega.
“Itu buat ...”
“Kamu udah tahu apa yang bakal terjadi sama aku kalau lihat berita
soal mama kamu? Makanya, kamu bawain obat penenang buat aku? Perasaanku memang
nggak tenang lihat kelakuan gila mama kamu itu, tapi nggak perlu pakai obat
penenang segala!” cerocos Mega.
Bellina menghela napas. Ia kesulitan menjelaskan pada Mega yang
sudah terlanjur mengomel panjang lebar di depannya. Meski hatinya sangat kesal,
ia tak memiliki banyak keberanian untuk menghadapi mama mertuanya.
“Bel, kamu seharusnya bisa ngasih tahu mama kamu untuk menjaga
nama baik keluarga. Biar bagaimanapun, dia itu besanku. Bikin malu keluarga
Wijaya kalau seperti ini terus!”
“Ma, aku nggak tahu kalau Mama Melan seperti itu. Beritanya sudah
menyebar luas dan aku nggak bisa mengendalikan.”
“Dia itu mama kamu. Bisa-bisanya kamu nggak tahu apa yang sudah
terjadi sama dia?”
“Mama sudah bercerai sama papa dan punya kehidupan sendiri. Aku
nggak punya hak apa pun sebagai anak. Itu urusan dia sama suami barunya.”
Mega semakin kesal dengan ucapan Bellina. “Oh, kamu belain mama
kamu itu?”
Bellina menggelengkan kepala.
“Mama sama anak, kelakuannya sama aja. Kalau kamu masih mau jadi
menantu keluarga Wijaya. Jaga nama baik keluarga!”
Bellina mengangguk. Ia tidak ingin mengeluarkan kata apa pun dan
membuatnya menjadi semakin tersudut.
“Ingat, Bel. Kalau sampai kamu selingkuh dari Lian ... mama jamin,
Lian pasti akan menceraikan kamu saat itu juga!” tegas Mega.
Bellina terdiam. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan jika Lian
mengetahui hubungannya dengan Arjuna. Terlalu banyak hal yang ia hadapi saat
ini dan membuatnya hampir gila.
“Mama kamu itu udah keterlaluan. Nggak ingat umur sama sekali.
Sudah tua kayak gitu, masih kayak a-be-ge! Pakai pakaian seksi ke klub malam
bareng laki-laki selingkuhannya. Belum lagi video syur dia yang tersebar ke
mana-mana. Dia pikir, Victoria Secret bakal ngambil dia jadi model!?”
“Ma, semua orang punya kehidupan pribadi yang nggak seharusnya
diketahui banyak orang. Aku rasa, bukan cuma mamaku yang suka ke klub. Mama
mega juga pernah main ke klub atau tempat karaoke malam lain. Bedanya, Mama
Melan ketahuan media dan Mama Mega enggak!”
PLAAAK ...!
Mega langsung menampar wajah Bellina. “Berani-beraninya kamu
samain aku sama mama kamu? Kapan kamu lihat aku masuk ke klub? Bukannya
mengakui kesalahan, malah nyari-nyari kesalahan orang lain!” seru Mega.
Bellina langsung memegang pipinya yang terasa perih. Matanya
memerah dan mengeluarkan air dari sudut-sudutnya. Hatinya terasa sangat sakit
melihat perlakuan mertuanya. Bukan hanya hatinya, tapi juga seluruh tubuhnya.
Ia tidak ingin melawan mama mertua dan membuat posisi Wilian semakin terjepit.
Mega menatap mata Bellina yang berkaca-kaca. Ia masih ingin memaki
Bellina. Tapi ia teringat akan putera kesayangannya yang masih menyayangi dan
melindungi Bellina.
“Pulanglah dan jangan berbuat macam-macam di luar sana!”
Bellina menggigit bibir sambil menganggukkan kepala. Ia berbalik
dan melangkahkan kakinya perlahan.
“Tunggu ...!” seru Mega.
Langkah kaki Bellina langsung terhenti. Ia memutar kepala ke arah
Mega yang berdiri di belakangnya.
“Bawa ini sekalian! Aku nggak butuh hadiah-hadiah dari kamu!”
perintah Mega sambil melemparkan paper bag ke kaki Bellina begitu saja.
Bellina menatap paper bag yang sudah tergeletak di lantai. Barang
yang sudah ia siapkan untuk mama mertuanya, berserakan di sekitarnya.
“Aku nggak butuh hadiah seperti itu hanya untuk menyenangkan
hatiku. Kamu pikir, aku anak kecil!?” tutur Mega ketus. Ia langsung berlalu
pergi meninggalkan Bellina begitu saja.
Bellina membungkukkan tubuhnya perlahan. Ia memunguti
barang-barangnya dan memasukkan kembali ke dalam paper bag.
Bellina menarik napas dalam-dalam sambil menahan air matanya agar
tak jatuh berderai. “Nggak boleh nangis, Bel. Kamu pasti bisa menghadapi
semuanya. Nggak boleh menangis hanya karena makian dari orang terdekatmu! Kamu
pasti bisa melewatinya dengan mudah,” batinnya pada diri sendiri. Ia melangkah
perlahan, keluar dari rumah besar keluarga Wijaya.
((Bersambung ...))
Dukung terus biar aku makin semangat nulis
cerita yang lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi
.png)
.png)
.png)