Monday, June 8, 2026

Perfect Hero Bab 544 : Kemarahan Mama Mertua

 


“Nggak cuma selingkuh, dia masih aja bikin malu walau sudah diceraikan sama Rudi,” tutur Mega sambil mematikan televisi setelah menyimak berita yang beredar tentang Melan.

 

“Biasanya, buah jatuh nggak jauh dari pohonnya. Si Melan sama Bellina itu kelakuannya sama persis. Bisa jadi, Bellina juga selingkuh sama pria lain. Aku nggak akan ngebiarin dia mempermainkan Lian. Apalagi sampai bikin malu keluarga.”

 

“Ini si Bellina nggak bisa ngasih tahu mamanya buat jaga sikap? Kenapa malah makin parah? Nggak ingat umur! Berasa masih tujuh belas tahun apa ya?”

 

Mega menyambar ponsel yang ia letakkan di atas meja. Ia menekan nomor kontak Bellina.

 

“Halo ...!” sapa Bellina begitu panggilan  teleponnya tersambung.

 

“Halo, kamu di mana?” tanya Mega.

 

“Baru sampai di rumah, Ma.”

 

“Dari mana? Shopping? Hambur-hambur uang lagi?” tanya Mega.

 

“Dari perusahaan, Ma. Lian lagi ngurus perusahaan yang di Semarang. Jadi, aku handle kerjaan dia dulu. Ada apa?” tanya Bellina.

 

“Ke rumah mama, sekarang juga!” perintah Mega.

 

“Iya. Belli mandi dulu, Ma.”

 

“Oke, Mama tunggu!” Mega langsung mematikan panggilan teleponnya.

 

Bellina mendesah begitu Mega memutuskan panggilan telepon. Ia merebahkan tubuhnya ke atas sofa, enggan beranjak dari tempatnya.

 

“Bel, mama mertua kamu lagi nunggu. Jangan bikin dia makin marah sama kamu!” pinta Bellina pada dirinya sendiri.

 

“Aargh ...! Kenapa hidup aku makin kacau kayak gini!?” seru Bellina sambil mengacak rambutnya sendiri.

 

“Punya suami nggak sayang, punya mama mertua galak banget. Sekarang, aku harus menghadapi kenyataan punya mama gila! Apa bagusnya si Lonan itu? Udah tua, gak ganteng, gak kaya, gak baik ... kenapa mamaku bisa tergila-gila sama laki-laki kayak gitu?”

 

“Kenapa hidupku beda jauh sama Yuna? Padahal, kita ini saudara. Selisih umur juga Cuma satu minggu. Dia dapetin banyak kebahagiaan. Disayang sama semua orang cuma modal cantik dan kecentilan doang!”

 

Bellina terus menyalahkan Yuna atas apa yang terjadi pada dirinya. Ia terus mengumpat walau sedang sibuk bersiap menemui mama mertuanya.

 

Usai bersiap, Bellina langsung bergerak menuju ke rumah mertuanya. Ia terlebih dahulu membeli obat penenang di apotek, juga membeli beberapa barang yang akan ia bawa ke rumah mama mertuanya.

 

Mega sudah menunggu kedatangan Bellina dalam waktu yang cukup lama. Amarah di dalam hatinya sudah memuncak. Begitu Bellina datang, ia langsung menyambutnya dengan raut wajah tak bersahabat.

 

“Sore, Ma ...!” sapa Bellina dengan hati-hati. Ia tersenyum kecut sambil mengulurkan tangan ke arah Mega.

 

Mega menepis tangan Bellina begitu saja. Ia tidak ingin bersikap baik pada menantunya itu.

 

“Ada apa, Ma?” tanya Bellina saat mendapati sikap Mega yang sangat ketus terhadap dirinya.

 

“Kamu nggak lihat berita heboh di luar sana soal mama kamu?”

 

Bellina tak menyahut. Ia berusaha tersenyum sambil menggenggam paper bag yang sudah ia siapkan sebagai hadiah untuk mama mertuanya.

 

“Kenapa diam?” tanya Mega saat melihat Bellina masih bergeming.

 

Bellina tak menyahut, ia meremas botol obat yang ada di tangannya. Ia tidak tahu harus mengatakan apa pada mertuanya kali ini. Semua memang kesalahan mamanya dan membuat sikap mertuanya semakin tidak bersahabat.

 

“Apa yang kamu bawa?” tanya Mega sambil menatap tangan Bellina.

 

“Eh!? Oh, ini aku bawa hadiah untuk mama,” jawab Bellina sambil meletakkan paper bag yang ia bawa ke atas meja.

 

Mega hanya tersenyum sinis. Ia sama sekali tidak tertarik dengan barang-barang pemberian Bellina. Ia malah merebut botol obat yang ada di tangan Bellina. “Ini obat apa? Buat aku?” tanyanya.

 

Bellina menggelengkan kepala.

 

Mega membaca tulisan yang tertera di botol obat tersebut dan berhasil membuat perasaannya semakin tersinggung. “Kamu mau ngasih aku obat penenang!?” serunya.

 

Bellina menggeleng. “Mama jangan salah paham! Itu obat bukan buat mama.”

 

“Kalau bukan buat mama, buat siapa? Kenapa dibawa masuk ke dalam rumah ini?” tanya Mega.

 

“Itu buat ...”

 

“Kamu udah tahu apa yang bakal terjadi sama aku kalau lihat berita soal mama kamu? Makanya, kamu bawain obat penenang buat aku? Perasaanku memang nggak tenang lihat kelakuan gila mama kamu itu, tapi nggak perlu pakai obat penenang segala!” cerocos Mega.

 

Bellina menghela napas. Ia kesulitan menjelaskan pada Mega yang sudah terlanjur mengomel panjang lebar di depannya. Meski hatinya sangat kesal, ia tak memiliki banyak keberanian untuk menghadapi mama mertuanya.

 

“Bel, kamu seharusnya bisa ngasih tahu mama kamu untuk menjaga nama baik keluarga. Biar bagaimanapun, dia itu besanku. Bikin malu keluarga Wijaya kalau seperti ini terus!”

 

“Ma, aku nggak tahu kalau Mama Melan seperti itu. Beritanya sudah menyebar luas dan aku nggak bisa mengendalikan.”

 

“Dia itu mama kamu. Bisa-bisanya kamu nggak tahu apa yang sudah terjadi sama dia?”

 

“Mama sudah bercerai sama papa dan punya kehidupan sendiri. Aku nggak punya hak apa pun sebagai anak. Itu urusan dia sama suami barunya.”

 

Mega semakin kesal dengan ucapan Bellina. “Oh, kamu belain mama kamu itu?”

 

Bellina menggelengkan kepala.

 

“Mama sama anak, kelakuannya sama aja. Kalau kamu masih mau jadi menantu keluarga Wijaya. Jaga nama baik keluarga!”

 

Bellina mengangguk. Ia tidak ingin mengeluarkan kata apa pun dan membuatnya menjadi semakin tersudut.

 

“Ingat, Bel. Kalau sampai kamu selingkuh dari Lian ... mama jamin, Lian pasti akan menceraikan kamu saat itu juga!” tegas Mega.

 

Bellina terdiam. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan jika Lian mengetahui hubungannya dengan Arjuna. Terlalu banyak hal yang ia hadapi saat ini dan membuatnya hampir gila.

 

“Mama kamu itu udah keterlaluan. Nggak ingat umur sama sekali. Sudah tua kayak gitu, masih kayak a-be-ge! Pakai pakaian seksi ke klub malam bareng laki-laki selingkuhannya. Belum lagi video syur dia yang tersebar ke mana-mana. Dia pikir, Victoria Secret bakal ngambil dia jadi model!?”

 

“Ma, semua orang punya kehidupan pribadi yang nggak seharusnya diketahui banyak orang. Aku rasa, bukan cuma mamaku yang suka ke klub. Mama mega juga pernah main ke klub atau tempat karaoke malam lain. Bedanya, Mama Melan ketahuan media dan Mama Mega enggak!”

 

PLAAAK ...!

 

Mega langsung menampar wajah Bellina. “Berani-beraninya kamu samain aku sama mama kamu? Kapan kamu lihat aku masuk ke klub? Bukannya mengakui kesalahan, malah nyari-nyari kesalahan orang lain!” seru Mega.

 

Bellina langsung memegang pipinya yang terasa perih. Matanya memerah dan mengeluarkan air dari sudut-sudutnya. Hatinya terasa sangat sakit melihat perlakuan mertuanya. Bukan hanya hatinya, tapi juga seluruh tubuhnya. Ia tidak ingin melawan mama mertua dan membuat posisi Wilian semakin terjepit.

 

Mega menatap mata Bellina yang berkaca-kaca. Ia masih ingin memaki Bellina. Tapi ia teringat akan putera kesayangannya yang masih menyayangi dan melindungi Bellina.

 

“Pulanglah dan jangan berbuat macam-macam di luar sana!”

 

Bellina menggigit bibir sambil menganggukkan kepala. Ia berbalik dan melangkahkan kakinya perlahan.

 

“Tunggu ...!” seru Mega.

 

Langkah kaki Bellina langsung terhenti. Ia memutar kepala ke arah Mega yang berdiri di belakangnya.

 

“Bawa ini sekalian! Aku nggak butuh hadiah-hadiah dari kamu!” perintah Mega sambil melemparkan paper bag ke kaki Bellina begitu saja.

 

Bellina menatap paper bag yang sudah tergeletak di lantai. Barang yang sudah ia siapkan untuk mama mertuanya, berserakan di sekitarnya.

 

“Aku nggak butuh hadiah seperti itu hanya untuk menyenangkan hatiku. Kamu pikir, aku anak kecil!?” tutur Mega ketus. Ia langsung berlalu pergi meninggalkan Bellina begitu saja.

 

Bellina membungkukkan tubuhnya  perlahan. Ia memunguti barang-barangnya dan memasukkan kembali ke dalam paper bag.

 

Bellina menarik napas dalam-dalam sambil menahan air matanya agar tak jatuh berderai. “Nggak boleh nangis, Bel. Kamu pasti bisa menghadapi semuanya. Nggak boleh menangis hanya karena makian dari orang terdekatmu! Kamu pasti bisa melewatinya dengan mudah,” batinnya pada diri sendiri. Ia melangkah perlahan, keluar dari rumah besar keluarga Wijaya.

 

 

((Bersambung ...))

 

Dukung terus biar aku makin semangat nulis cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas