Tuesday, April 28, 2026

Perfect Hero Bab 530 : Takut Ketahuan Mertua

 



“Li, itu si Yuna sama Yeriko!” seru Bellina saat mereka memarkirkan mobil di depan salah satu restoran.

 

Lian langsung menoleh ke arah yang ditunjuk Bellina.

 

“Li, bilangin ke Yuna untuk ngerahasiain apa yang terjadi sama hari ini dari Mama Mega. Aku malu banget mau ketemu dia,” pinta Bellina.

 

Lian mengangguk. Ia melepas safety belt dan bergegas keluar dari mobil. Lian langsung melangkahkan kakinya menghampiri Yuna yang baru saja ingin masuk ke dalam mobil suaminya.

 

“Ayuna ...!” panggil Lian sambil menatap tubuh Yuna yang baru saja meraih handle pintu mobil.

 

Yuna langsung memutar kepalanya ke arah sumber suara yang memanggil namanya.

 

Yeriko langsung menatap Lian sambil menyandarkan satu siku tangannya ke atas mobil.

 

“Yer, aku bisa ngomong sama Yuna? Sebentar aja!” pinta Lian.

 

“Ngomong aja, Li!” pinta Yuna sambil tersenyum.

 

Lian menatap Yeriko yang memperhatikan dirinya saat ia menatap Yuna. Tatapan suami Yuna membuat Lian kesulitan untuk mengutarakan keinginannya.

 

Yeriko mengangkat kedua alis sambil menatap Lian. “Cepet, Li! Mau ngomong apa? Kami nggak punya banyak waktu.”

 

Lian tersenyum kecil. Ia melangkah mendekati Yuna. Saat Lian hanya berjarak dua meter dari tubuh Yuna, Yeriko langsung berlari menghampiri dan merangkul istrinya.

 

“Jaga jarak!” pinta Yeriko sambil menatap tajam ke arah Lian.

 

Lian menghela napas dan menghentikan langkahnya. Ia menatap wajah Yuna yang sedang tertawa tanpa suara sambil menyembunyikan wajah di ketiak Yeriko. “Yun, seharusnya aku yang ada di sana,” batinnya.

 

Lian langsung mengerjapkan mata untuk mengembalikan kesadarannya. Ia tidak ingin terus terlarut dengan khayalannya bersama Yuna. Ia menarik napas beberapa kali untuk menata perasaannya.

 

“Yer, apa yang terjadi hari ini di keluarga Bellina. Aku minta tolong untuk merahasiakannya dari siapa pun!” pinta Lian.

 

Yeriko hanya tersenyum sinis menanggapi permintaan Lian.

 

“Terutama dari mamaku,” lanjut Lian. “Aku nggak mau menambah kesedihan dan masalah untuk Bellina.”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Aku nggak akan ngomong ke siapa pun, Li. Kamu tenang aja!”

 

“Makasih, Yun ...!” ucap Lian sambil tersenyum manis.

 

“Oh ... jadi ini sikap kamu ke Yuna beberapa tahun lalu? Kamu nggak sanggup bikin pacar kamu sendiri bahagia, malah mikirin perasaan selingkuhan kamu. Sekarang, selingkuhan kamu udah jadi istri kamu, kamu malah merhatiin mantan pacar yang udah jadi istri orang lain?” tanya Yeriko sambil menatap sinis ke arah Lian.

 

“Ay, nggak usah bahas masa lalu!” pinta Yuna berbisik.

 

Yeriko tersenyum sinis. Ia tetap tidak menyukai keberadaan Wilian yang masih memperhatikan istrinya diam-diam.

 

“Yer, kamu salah paham. Aku memang masih sayang sama Yuna. Tapi, aku lebih bahagia melihat dia bahagia bersama orang yang mencintai dia dengan tulus. Aku sadar, aku bukan pria yang pantas di sisi Yuna.”

 

“Baguslah kalau kamu sadar,” sahut Yeriko.

 

Lian tersenyum kecut sambil menatap Yuna dan Yeriko. “Aku tahu, kalian masih menaruh dendam sama kami karena masa lalu. Apa yang terjadi sama Bellina hari ini, sudah setimpal dengan apa yang dia lakukan terhadap Yuna. Aku harap, kalian bisa melepaskan Bellina dan tidak memperkeruh masalah ini.”

 

Yeriko tersenyum sinis. “Hukuman yang diterima Bellina saat ini, belum setimpal dengan kejahatan-kejahatan yang dia perbuat selama ini.”

 

“Ay, udahlah. Nggak usah memperpanjang masalah ini!” pinta Yuna berbisik. Ia tidak ingin suaminya kembali bertengkar dengan Lian hanya karena masa lalunya. Sebab, apa yang ia jalani di masa lalu ... tidak ada hubungannya dengan Yeriko. Ia tidak ingin menjadi beban dan masalah dalam kehidupan suaminya itu.

 

“Yer, aku tahu ... kamu sangat mencintai Yuna dan tidak ingin melihat orang yang kamu cintai disakiti. Itu juga yang aku lakukan pada istriku. Aku harap, kamu bisa dengan bijak memutuskan semuanya!” ucap Lian sambil berbalik dan pergi meninggalkan Yuna dan Yeriko.

 

Yuna hanya tersenyum kecil sambil menatap tubuh Lian yang berlalu pergi meninggalkan mereka.

 

“Kenapa senyum-senyum? Jatuh cinta lagi sama dia?” tanya Yeriko sambil menatap wajah Yuna.

 

Yuna langsung menoleh ke wajah Yeriko. “Nggaklah. Aku seneng aja karena Lian bisa lebih peduli sama Bellina. Semoga, dia bisa bikin Bellina jadi wanita yang baik.”

 

“Bukan karena masih cinta sama dia?” tanya Yeriko menyelidik.

 

“Bukan, Sayangku!” jawab Yuna sambil menangkup kedua pipi Yeriko. “Cuma kamu yang paling aku cinta di dunia ini. Nggak ada yang lain.”

 

Yeriko memutar bola mata sambil tersenyum sinis. “Kamu pasti pernah ngomong kayak gini sama mantan pacar kamu ‘kan?”

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

“Serius!?”

 

“Tanya aja ke dia! Kalau kamu masih nggak percaya.”

 

Yeriko tersenyum kecil. “Aku selalu percaya sama kamu, kok. Jangan nakal ya!” pintanya sambil meletakkan telapak tangan ke atas kepala Yuna.

 

Yuna menganggukkan kepala sambil tersenyum. Mereka segera masuk ke dalam mobil dan bergegas pergi meninggalkan pelataran restoran yang baru saja mereka singgahi.

 

Di sisi lain, Lian langsung menghampiri Bellina yang masih duduk di dalam mobilnya.

 

“Gimana? Yuna udah kamu bilangin?” tanya Bellina.

 

Lian menganggukkan kepala. “Udah, dia pasti bisa menjaga rahasia, kok.”

 

Bellina tersenyum. Ia menggigit bibir sambil meremas safety belt yang masih melingkar di tubuhnya. Pikirannya masih tertuju pada mama mertuanya yang selalu menginginkan Wilian bercerai dengannya. “Kalau aku ketahuan jalan sama cowok lain, Lian bakal ceraikan aku juga?” batinnya.

 

Lian memperhatikan wajah Bellina yang masih melamun. “Bel, nggak mau turun dari mobil?”

 

Bellina tak menyahut. Ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri.

 

“Bel ...!” panggil Lian sambil menyentuh lengan Bellina.

 

“Eh!?” Lamunan Bellina langsung buyar begitu tangannya disentuh oleh Lian.

 

“Mau makan atau nggak?” tanya Lian.

 

Bellina menggeleng, wajahnya terlihat tak bersemangat seperti biasanya. Banyak kekhawatiran yang menyelimuti hatinya dan membuat ia tidak merasa lapar.

 

“Kenapa?”

 

“Kita makan di rumah aja!” pinta Bellina.

 

“Aku belikan makanannya dulu, ya!” tutur Lian sambil keluar dari mobil. Ia segera memesan makanan untuk ia makan di rumah bersama istrinya.

 

Beberapa menit kemudian, Bellina dan Melan sudah kembali ke rumah mereka. Belum sampai masuk ke dalam rumah, mereka dikejutkan dengan kehadiran seorang wanita separuh baya yang mengenakan jas putih dan rok warna putih.

 

Meski membelakangi keduanya, Bellina bisa mengetahui kalau wanita itu adalah mama mertuanya. “Mama ...!?”

 

Mega langsung membalikkan tubuhnya menatap Lian dan Bellina. Ia tersenyum ke arah putera dan menantunya itu. “Kalian dari mana?” tanyanya ketus.

 

“Mmh ....kami dari rumah sakit, Ma,” jawab Lian sambil menatap mamanya.

 

“Jengukin Si Rudi?”

 

Lian menganggukkan kepala. “Dia sakit apa?” tanya Mega pura-pura tidak tahu.

 

“Cuma kecapean, Ma.” Bellina menimpali.

 

Mega tersenyum sinis. “Kamu pikir, saya nggak tahu apa yang terjadi sama keluarga kamu?”

 

Bellina dan Lian saling pandang. Mereka tidak berani mengatakan apa pun di depan Mega. Mereka khawatir  akan membuat suasana semakin buruk karena kehadiran mama Lian yang tiba-tiba dan kerap berapi-api.

 

 

((Bersambung ...))

 

 

 

 

 


Perfect Hero Bab 529 : Kepedihan Hati Bellina

 



Bellina terduduk lemas di lantai sambil menopang dagu ke atas lututnya. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang telah dilakukan mamanya sendiri.

 

“Ma, kenapa mama tega kayak gini?” tanyanya lirih. Ia masih tidak bisa menerima kenyataan kalau ada pria lain yang ada dalam hidup mamanya.

 

“Bel, maafin mama!” pinta Melan sambil menghampiri Bellina.

 

Bellina langsung menepis tangan Melan sebelum wanita itu berhasil menyentuhnya. “Jangan deketin aku, Ma!”

 

Melan menarik tubuhnya menjauhi Bellina. Ia tahu, apa pun yang dikatakannya saat ini, tidak akan didengarkan oleh puterinya. Ia menoleh ke arah Lian yang berdiri di sebelah Bellina sambil termenung.

 

“Nak Lian ...!” panggil Melan lirih.

 

Lian langsung menoleh ke arah Melan. Ia juga belum bisa menerima kenyataan kalau istrinya bukan dari keluarga Linandar. Terlebih, kenyataan masa lalu Melan juga akan mencoreng nama baik keluarga besar mereka.

 

Melan menatap pilu ke arah Lian. Ia berharap kalau keluarga Linandar akan mengampuni perbuatannya kali ini. “Li, tolong hibur Bellina!” pinta Melan dalam hati sambil menatap wajah Lian.

 

Lian mengangguk kecil. Ia mengerti permintaan Melan kali ini karena ia adalah orang terdekat Bellina saat ini.

 

Lonan dan Tarudi sama-sama menatap Bellina yang terduduk di lantai. Mereka sama-sama tak berdaya sebagai seorang ayah.

 

“Li, bawa Bellina pulang terlebih dulu!” pinta Tarudi sambil menatap Lian.

 

Lian menganggukkan kepala. Ia meraih pundak Bellina sambil berusaha mengajaknya berdiri. “Bel, kita pulang dulu!”

 

Bellina menggelengkan kepala. “Aku nggak mau pulang sebelum tes DNA.”

 

Semua orang langsung saling pandang. Mereka melihat bagaimana Bellina sangat terpukul dengan kenyataan yang terjadi saat ini.

 

Tarudi menarik napas sejenak dan turun dari tempat tidurnya. Ia tetap saja tidak tega melihat Bellina yang begitu bersedih. “Li, bantu saya untuk mengurus tes DNA!”

 

Lian menganggukkan kepala. Ia bermaksud memapah Tarudi yang ingin keluar dari kamar rawatnya.

 

Bellina yang melihat papanya sudah berjalan seorang diri, memilih untuk bangkit dan menghampiri papanya itu. Mereka semua segera pergi untuk melakukan tes DNA.

 

“Pa, aku sayang sama papa. Aku nggak mau jadi anak orang lain,” batin Bellina sambil menatap Tarudi saat mereka sudah duduk di ruang tunggu.

 

Usai melakukan pengambilan sampel tes DNA, mereka kembali ke kamar rawat Tarudi.

 

Bellina terus memapah papanya hingga naik ke atas brankar. Sementara, Melan dan Lonan tidak kembali ke ruang rawat tersebut karena sikap dingin Tarudi yang tidak menginginkan keduanya menampakkan diri di hadapannya.

 

“Hati- hati, Pa!” pinta Bellina sambil membantu papanya naik ke atas brankar.

 

“Papa bisa sendiri,” tutur Tarudi sambil menepis tangan Bellina. “Pergilah!”

 

Bellina menatap wajah Tarudi. “Pa, aku sayang sama papa. Aku nggak mau jadi anak orang lain. Aku mau di samping papa terus. Aku nggak mau ninggalin papa sendirian. Di dunia ini, papaku cuma satu ... papa Tarudi.”

 

Tarudi menarik napas dalam-dalam sambil membalas tatapan Bellina. Ia tidak berani mengakui kalau Bellina adalah puteri kandungnya. Jauh dalam lubuk hatinya, ia sangat menyayangi puterinya lebih dari apa pun. Semua hal yang dilakukannya selama ini hanya untuk anak kesayangannya.

 

“Pa, aku mohon ...! Jangan benci aku karena mama. Aku juga nggak mau ini semua terjadi,” pinta Bellina dengan mata berkaca-kaca.

 

Lian menatap Bellina yang begitu bersedih karena sikap Tarudi. “Bellina benar, Pa. Dia tidak tahu apa-apa soal masa lalu mamanya. Papa tidak seharusnya membenci Bellina. Ini bukan kesalahan dia.”

 

Tarudi menghela napas. “Baiklah. Hasil tes DNA juga belum keluar. Selama belum ada kejelasan, papa tidak bisa menentukan apa pun. Sebaiknya, kalian pulang ke rumah dan tunggu hasilnya saja. Papa mau istirahat!”

 

Bellina dan Lian saling pandang.

 

“Ayo, kita pulang dulu!” ajak Lian. “Papa harus istirahat.”

 

Bellina menganggukkan kepala. “Nanti sore, aku bakal ke sini lagi. Papa mau dimasakin apa?”

 

Tarudi menggelengkan kepala. “Nggak perlu masakin apa pun buat saya.”

 

Bellina menghela napas. Ia melirik termos sup pemberian Yuna yang ada di atas nakas. Melihat termos itu, membuatnya merasa cemburu dengan perhatian Yuna yang diterima begitu saja oleh papanya.

 

Tarudi menghela napas sambil memejamkan mata. Membuat Lian dan Bellina akhirnya keluar dari ruangan tersebut agar ayahnya bisa beristirahat.

 

Bellina enggan melangkahkan kakinya keluar dari ruang rawat papanya. Matanya tak lepas memandang papanya yang terbaring di atas tempat tidur.

 

“Kasih waktu buat papa kamu!” bisik Lian sambil merangkul pundak Bellina.

 

Bellina menganggukkan kepala. Ia menatap Lian yang tersenyum ke arahnya. Ia sedikit tenang karena Lian tidak terpengaruh dengan kejadian hari ini dan tetap berada di sisinya.

 

“Li ...!” panggil Bellina sambil menghentikan langkahnya.

 

“Ya.”

 

“Apa kamu tetap mau menerima aku kalau aku bukan anak Papa Rudi?” tanya Bellina.

 

Lian hanya tersenyum kecil menanggapi pertanyaan Bellina. “Kamu nggak ada hubungannya sama masa lalu mama kamu. Aku nggak punya alasan untuk menolak kehadiranmu.”

 

Bellina tersenyum. Ia langsung memeluk tubuh Lian. “Makasih, Li ...!”

 

Lian menganggukkan kepala. Hatinya memang memiliki keraguan terhadap Bellina. Namun, ia tidak akan tega menambah luka dalam hati istrinya. Ia hanya ingin membuat Bellina terhibur, juga ingin menerima Bellina dengan status baru yang mungkin saja akan ditentang oleh keluarga besarnya.

 

“Li, aku boleh minta tolong ...!”

 

Lian menganggukkan kepala.

 

“Jangan bilang ke Mama Mega soal ini! Aku takut ...”

 

Lian tersenyum sambil menatap wajah Bellina. “Aku nggak akan bilang ke mama soal ini. Semua akan baik-baik aja.

 

“Gimana dengan Yuna?” tanya Bellina sambil menatap wajah Lian. “Gimana kalau dia bocorin ini ke Mama Mega?”

 

Lian tersenyum sambil memeluk pundak Bellina. “Kamu nggak usah khawatir! Aku akan bicara dengan Yuna untuk merahasiakan ini semua.”

 

Bellina tersenyum sambil menatap wajah Lian. “Makasih, Li ...! Aku nggak tahu gimana caranya ngadepin mama kamu kalau tahu soal ini semua.”

 

“Aku akan berusaha melindungi kamu dari mama. Asal kamu berada di jalan benar. Aku nggak mau, kamu seperti mama kamu juga.”

 

Bellina menggelengkan kepalanya. Jantungnya berdebar sangat kencang saat teringat hubungan gelapnya dengan Arjuna. Pria muda yang tiba-tiba masuk ke dalam kehidupannya.

 

“Kita pulang, sekarang!” ajak Lian.

 

Bellina mengangguk, ia bergegas melangkah beriringan dengan Lian, keluar dari rumah sakit tersebut.

 

Di balik pintu bangsal lain, Nirma memperhatikan tubuh Bellina dan Lian yang perlahan menjauh. Ia melangkahkan kakinya perlahan dengan mata tertuju pada Bellina.

 

Braaak ...!

 

Nirma rak sengaja menabrak perawat yang baru saja keluar dari kamar rawat Tarudi.

 

“Maaf, Suster! Saya nggak sengaja,” tutur Nirma sambil membantu membereskan peralatan medis yang jatuh ke lantai.

 

“Nggak papa, Mbak,” sahut perawat itu dengan lembut.

 

“Oh ya, ini ruang rawat Oom Tarudi ya?” tanya Nirma.

 

Perawat itu menganggukkan kepala.

 

“Aku dari tadi dengar suara keributan di ruangan ini. Ada apa sebenarnya?”

 

“Mbaknya siapa?”

 

“Saya keponakan Oom Rudi.”

 

“Oh. Mbaknya telat datang ya? Ribut masalah keluarga.”

 

“Masalah apa, Suster?”

 

“Kurang tahu, Mbak. Yang  saya tangkap, istrinya pasien berselingkuh dan anaknya sekarang jadi rebutan suami dan selingkuhannya itu.”

 

“Ooh ...” Nirma mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Kalau mau tahu lebih jelas, langsung ditanyakan aja sama Oom-nya Mbak!” tutur perawat tersebut sambil bergegas pergi.

 

Nirma tersenyum penuh kemenangan. Ia mengintip Tarudi yang sedang tertidur dari balik kaca pintu.

 

“Na ... na ... na ... na ....” Nirma melangkahkan kakinya sambil bersenandung riang. Ia menyusuri koridor rumah sakit dan berlari keluar sambil menari-nari dengan riang gembira layaknya seorang puteri yang baru saja mendapatkan hadiah besar di kerajaannya.

 

 

((Bersambung ...))

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Perfect Hero Bab 528 : Seringlah Bercinta

 


“Ay, kamu sengaja ngajak aku jenguk Oom Rudi ... karena ini?” tanya Yuna saat ia dan suaminya sudah keluar dari kamar rawat Tarudi.

 

Yeriko tersenyum sambil memainkan kepalanya. “Gimana? Asyik, nggak?”

 

Yuna tertawa kecil. “Aku ngerasa puas aja lihat muka Tante Melan dan Bellina kayak gitu. Cuma ... aku kasihan sama Oom Rudi. Apa dia bener-bener mau ceraikan Tante Melan?”

 

“Cuma pria bodoh yang mau mempertahankan wanita kayak Tante Melan. Ini belum seberapa,” tutur Yeriko sambil berbisik di telinga Yuna.

 

Yuna tersenyum sambil merangkul pinggang Yeriko. “Kamu punya rencana jahil apa lagi?”

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku nggak buat rencana apa-apa. Ini semua rencana Tuhan. Kita cukup menikmatinya aja,” ucapnya sambil memainkan kedua alisnya.

 

“Syukur, deh. Semoga aja Tuhan ngasih balasan yang setimpal sama nenek sihir satu itu! Dia tega banget nipu Oom Rudi demi harta. Kalau Oom Rudi nggak ketemu sama nenek sihir itu, hidupnya pasti lebih bahagia.”

 

Yeriko tertawa kecil sambil menatap Yuna. “Ini hukuman yang setimpal karena sudah membuat hidup kamu menderita selama bertahun-tahun. Sekarang, waktunya kamu bahagia dan waktunya mereka menuai hasil perbuatan mereka.”

 

Yuna tersenyum bahagia sambil menggenggam tangan Yeriko. “Pantes aja Tante Melan dan Bellina jahat banget sama aku. Ternyata, Bellina bukan anak kandung Oom Rudi.”

 

“Artinya, cuma kamu satu-satunya pewaris perusahaan Linandar. Gimana? Mau ambil alih?”

 

Yuna memonyongkan bibirnya sambil menatap wajah Yeriko. “Masih sempat-sempatnya ngomongin harta keluargaku. Kasihan Oom Rudi, dia pasti lagi sedih banget karena keadaan keluarganya sekarang. Aku nggak berniat merebut perusahaan. Belum punya kemampuan sebesar itu.”

 

“Punya suami sehebat ini, kenapa nggak dimanfaatkan?” tanya Yeriko.

 

Yuna langsung tersenyum sambil menghentikan langkahnya. “Ajarin, ya!”

 

“Ajarin apa?”

 

“Apa aja yang aku nggak bisa.”

 

“Wanita hebat sepertimu, bisa melakukan banyak hal. Bahkan, hal yang aku nggak bisa sekalipun. Cuma satu yang kamu nggak bisa.”

 

“Apa itu?” tanya Yuna sambil meneliti wajah Yeriko.

 

“Kamu nggak bisa bikin cowok di luar sana nggak tertarik sama kamu.”

 

“Eh!? Bukannya bagus? Berarti, aku ini cantik dan seksi ‘kan?” goda Yuna sambil memainkan kedua matanya.

 

Yeriko melengos dan kembali melangkahkan kakinya.

 

“Ay, aku jangan ditinggalin!” rengek Yuna sambil menghentakkan kakinya.

 

Yeriko tertawa kecil sambil membalikkan tubuhnya. “Ayo ...!”

 

Yuna tersenyum dan mengejar langkah Yeriko. Mereka kembali berjalan beriringan menuju poli kebidanan untuk memeriksakan kandungan Yuna.

 

“Ay, kita nggak ngantri?” tanya Yuna.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku udah booking dokter hari ini. Khusus pasien VVIP lewat pintu sini.”

 

Yuna tersenyum menyelidik ke arah Yeriko. “Kenapa waktu itu ... kita ngantri?”

 

“Karena aku punya banyak waktu buat nemenin kamu.”

 

“Jadi, sekarang nggak punya waktu?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Aku harus balik ke kantor. Dua jam lagi ada jadwal meeting.”

 

“Oh.”

 

Yeriko langsung menoleh ke arah Yuna. “Kenapa kok bilang ‘oh’?” tanyanya.

 

Yuna meringis sambil menatap Yeriko. “Kalau aku bilang ah, ntar kamu nafsu.”

 

Yeriko tertawa. “Kamu ini ... ada-ada aja,” ucapnya sambil mengacak ujung kepala Yuna. Ia segera memasuki ruang pemeriksaan kehamilan seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya.

 

“Selamat pagi, Dokter ...!” sapa Yeriko begitu ia masuk ke dalam ruang pemeriksaan.

 

“Pagi ...! Apa kabar?” balas dokter itu dengan ramah. “Tumben minta pemeriksaan pagi? Biasanya, selalu malam.”

 

Yeriko tersenyum kecil. “Sekalian aja, ada urusan di sini.”

 

“Oh. Silakan duduk!” perintah dokter tersebut. “Mas Yeri sibuk banget ya?”

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala. “Lumayan.”

 

“Kandungan Mbak Yuna sudah masuk bulan ke delapan. Harus banyak bergerak, ya! Biar sehat. Ikut senam ibu hamil?” tanya dokter itu sambil menatap wajah Yuna.

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

“Kenapa?”

 

Yuna langsung menoleh ke arah Yeriko.

 

“Ck, aku cuma ngelarang dia keluar rumah sendirian, Dokter. Bukan ngelarang dia ikut senam.”

 

“Senam hamil sangat baik untuk mempermudah proses persalinan. Supaya peredaran darah lancar. Ibu hamil juga nggak boleh sampai stres, Mas. Kalau Mbak Yuna nggak boleh keluar rumah, dia bisa stres. Bisa saja batinnya tertekan tapi dia nggak berani ngomong sama suami.”

 

 “Dokter, saya ngelarang dia keluar karena di luar sana sangat berbahaya buat istri saya. Dokter tahu sendiri, istri saya diculik sama orang dalam keadaan hamil. Kalau terjadi apa-apa dengan calon anak saya, dokter mau tanggung jawab? Saya begini karena saya ingin melindungi mereka.”

 

Dokter itu menghela napas sambil menatap Yeriko. “Melindungi dari orang lain memang baik, tapi jangan sampai kamu menanam duri yang bisa melukai orang yang ingin kamu lindungi.”

 

“Maksud dokter? Saya salah?”

 

Dokter itu tersenyum sambil menggelengkan kepala. “Mas Yeri tidak salah. Saya hanya khawatir kalau Mbak Yuna tertekan jika tidak diperbolehkan ke mana-mana. Banyak wanita hamil di luar sana yang bisa beraktivitas seperti orang normal. Tidak perlu berlebihan membatasi pergerakan Mbak Yuna.”

 

Yeriko mendesah kesal. Ia merasa kalau tindakannya kali ini sudah benar. Ia ingin melindungi Yuna dan anak yang ada di dalam perutnya. Namun, dokter malah menyalahkan apa yang ia lakukan kali ini dan berhasil membuatnya kesal.

 

Yuna tersenyum saat mendapati raut wajah Yeriko yang memendam kekesalan. “Dokter, saya tidak merasa tertekan sedikit pun. Saya merasa bahagia menjalani hari-hari saya di dalam rumah. Karena saya juga ingin melindungi anak saya.”

 

Dokter itu tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

 

“Banyak aktivitas di rumah yang membuat saya terus bergerak. Naik turun tangga lima kali sehari saja sudah bisa bikin saya bergerak. Ada banyak juga aktivitas lain yang bisa saya lakukan seperti menyiram tanaman, masak, nyuci baju dan lain-lain. Saya sangat bahagia menjalani hari-hari saya di rumah,” lanjut Yuna sambil tersenyum.

 

“Baguslah kalau begitu. Ada keluhan atau nggak beberapa hari terakhir ini?”

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

Dokter itu tersenyum dan mulai melakukan pemeriksaan. Ia tidak memperdulikan Yeriko yang masih menahan kesal karena mendapat teguran darinya.

 

“Suami kamu memang pemarah seperti itu?” tanya dokter itu berbisik sambil meminta Yuna untuk berbaring di atas brankar.

 

Yuna hanya tersenyum menanggapi pertanyaan dokter.

 

“Nyaman?” tanya dokter itu lagi.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Meski suaminya kerap cemburu dan marah, tetap saja menjadi tempat ternyaman baginya.

 

Dokter itu tersenyum dan mulai melakukan pemeriksaan. Usai memeriksa, dokter itu meminta Yuna untuk kembali duduk di sebelah Yeriko.

 

“Kondisi ibu dan bayinya sangat sehat. Berat badan bayi sudah normal. Sekarang, tinggal mempersiapkan proses persalinan. Karena Mbak Yuna ingin lahir normal, maka harus mempersiapkan mental dengan baik. Nggak boleh setres, nggak boleh khawatir dan harus mendapat support dari suami.”

 

“Nggak perlu khawatir! Semua wanita merasakan sakitnya melahirkan. Tapi, mereka tetap ingin punya anak lagi setelahnya. Harus kuat dan berpikir positif! Pasti bisa!” tutur dokter itu sambil memberikan semangat.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia merasa sangat bahagia karena sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.

 

“Oh ya, satu lagi. Harus sering berhubungan sama suaminya ya!”

 

“Eh!? Maksudnya?” tanya Yuna sambil mengernyitkan dahi.

 

“Masa nggak tahu? Berhubungan intim dengan suaminya ya! Itu sangat baik untuk usia kehamilan saat menjelang persalinan. Bisa merangsang bayi untuk lahir dengan sehat dan selamat.”

 

Yeriko langsung tersenyum lebar mendengar ucapan dokter tersebut. “Bagusnya, berapa kali sehari, Dok?”

 

Dokter itu tertawa kecil. “Semampunya Mas Yeri saja.”

 

Yuna mengerutkan hidung sambil menatap wajah Yeriko. “Nggak usah tanya yang aneh-aneh!”

 

“Aneh-aneh gimana? Aku serius, Yun. Kalau aku sanggup dua puluh kali sehari, bahaya atau nggak buat anak kita? Ini kan harus ditanyakan juga.”

 

Dokter itu tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

 

“Udah, jangan tanya yang aneh-aneh!” pinta Yuna sambil menarik lengan Yeriko untuk bangkit. “Kami permisi dulu, Dok!” pamitnya sambil menarik lengan Yeriko keluar dari ruangan tersebut.

 

Yeriko langsung melepaskan genggaman tangan Yuna begitu mereka keluar. “Kenapa, Yun? Aku belum kelar tanya-tanya.”

 

“Iih ... aku malu kalau kamu tanya begitu.”

 

“Malu kenapa? Dia kan dokter, nggak perlu malu sama tenaga medis. Dia juga pasti tahu posisi yang paling enak saat bercinta.”

 

Yuna mengerutkan bibirnya. “Kamu mau nanyain soal kehamilan istri kamu atau posisi seks yang bagus saat hamil?”

 

“Dua-duanya,” jawab Yeriko sambil tertawa kecil. Ia bergelayut manja di pundak Yuna. “Malam ini, aku bakal pulang cepat. Kamu mau main berapa kali?”

 

“Iih ... apaan sih!?” sahut Yuna dengan pipi bersemu merah.

 

“Kenapa masih malu, sih?” tanya Yeriko. “Perut kamu sudah sebesar ini, nggak mungkin mau ngaku ke semua orang kalau kamu masih perawan.”

 

Yuna langsung menoleh ke arah Yeriko. “Aku nggak berpikiran begitu.”

 

“Terus?” tanya Yeriko menyelidik.

 

Yuna hanya meringis mendengar pertanyaan Yeriko. Tanpa diucapkan, Yeriko juga sebenarnya sudah mengetahui kalau Yuna selalu menikmati saat-saat gairah mereka dan tidak ingin berhenti begitu saja.

 

Yeriko ikut tertawa. Ia merangkul tubuh istrinya sambil melangkah keluar dari rumah sakit. Ia tak henti menciumi pipi Yuna hingga mengalihkan semua pasang mata yang bertemu dengan mereka.

 

((Bersambung ...))

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas