Tuesday, April 28, 2026

Perfect Hero Bab 530 : Takut Ketahuan Mertua

 



“Li, itu si Yuna sama Yeriko!” seru Bellina saat mereka memarkirkan mobil di depan salah satu restoran.

 

Lian langsung menoleh ke arah yang ditunjuk Bellina.

 

“Li, bilangin ke Yuna untuk ngerahasiain apa yang terjadi sama hari ini dari Mama Mega. Aku malu banget mau ketemu dia,” pinta Bellina.

 

Lian mengangguk. Ia melepas safety belt dan bergegas keluar dari mobil. Lian langsung melangkahkan kakinya menghampiri Yuna yang baru saja ingin masuk ke dalam mobil suaminya.

 

“Ayuna ...!” panggil Lian sambil menatap tubuh Yuna yang baru saja meraih handle pintu mobil.

 

Yuna langsung memutar kepalanya ke arah sumber suara yang memanggil namanya.

 

Yeriko langsung menatap Lian sambil menyandarkan satu siku tangannya ke atas mobil.

 

“Yer, aku bisa ngomong sama Yuna? Sebentar aja!” pinta Lian.

 

“Ngomong aja, Li!” pinta Yuna sambil tersenyum.

 

Lian menatap Yeriko yang memperhatikan dirinya saat ia menatap Yuna. Tatapan suami Yuna membuat Lian kesulitan untuk mengutarakan keinginannya.

 

Yeriko mengangkat kedua alis sambil menatap Lian. “Cepet, Li! Mau ngomong apa? Kami nggak punya banyak waktu.”

 

Lian tersenyum kecil. Ia melangkah mendekati Yuna. Saat Lian hanya berjarak dua meter dari tubuh Yuna, Yeriko langsung berlari menghampiri dan merangkul istrinya.

 

“Jaga jarak!” pinta Yeriko sambil menatap tajam ke arah Lian.

 

Lian menghela napas dan menghentikan langkahnya. Ia menatap wajah Yuna yang sedang tertawa tanpa suara sambil menyembunyikan wajah di ketiak Yeriko. “Yun, seharusnya aku yang ada di sana,” batinnya.

 

Lian langsung mengerjapkan mata untuk mengembalikan kesadarannya. Ia tidak ingin terus terlarut dengan khayalannya bersama Yuna. Ia menarik napas beberapa kali untuk menata perasaannya.

 

“Yer, apa yang terjadi hari ini di keluarga Bellina. Aku minta tolong untuk merahasiakannya dari siapa pun!” pinta Lian.

 

Yeriko hanya tersenyum sinis menanggapi permintaan Lian.

 

“Terutama dari mamaku,” lanjut Lian. “Aku nggak mau menambah kesedihan dan masalah untuk Bellina.”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Aku nggak akan ngomong ke siapa pun, Li. Kamu tenang aja!”

 

“Makasih, Yun ...!” ucap Lian sambil tersenyum manis.

 

“Oh ... jadi ini sikap kamu ke Yuna beberapa tahun lalu? Kamu nggak sanggup bikin pacar kamu sendiri bahagia, malah mikirin perasaan selingkuhan kamu. Sekarang, selingkuhan kamu udah jadi istri kamu, kamu malah merhatiin mantan pacar yang udah jadi istri orang lain?” tanya Yeriko sambil menatap sinis ke arah Lian.

 

“Ay, nggak usah bahas masa lalu!” pinta Yuna berbisik.

 

Yeriko tersenyum sinis. Ia tetap tidak menyukai keberadaan Wilian yang masih memperhatikan istrinya diam-diam.

 

“Yer, kamu salah paham. Aku memang masih sayang sama Yuna. Tapi, aku lebih bahagia melihat dia bahagia bersama orang yang mencintai dia dengan tulus. Aku sadar, aku bukan pria yang pantas di sisi Yuna.”

 

“Baguslah kalau kamu sadar,” sahut Yeriko.

 

Lian tersenyum kecut sambil menatap Yuna dan Yeriko. “Aku tahu, kalian masih menaruh dendam sama kami karena masa lalu. Apa yang terjadi sama Bellina hari ini, sudah setimpal dengan apa yang dia lakukan terhadap Yuna. Aku harap, kalian bisa melepaskan Bellina dan tidak memperkeruh masalah ini.”

 

Yeriko tersenyum sinis. “Hukuman yang diterima Bellina saat ini, belum setimpal dengan kejahatan-kejahatan yang dia perbuat selama ini.”

 

“Ay, udahlah. Nggak usah memperpanjang masalah ini!” pinta Yuna berbisik. Ia tidak ingin suaminya kembali bertengkar dengan Lian hanya karena masa lalunya. Sebab, apa yang ia jalani di masa lalu ... tidak ada hubungannya dengan Yeriko. Ia tidak ingin menjadi beban dan masalah dalam kehidupan suaminya itu.

 

“Yer, aku tahu ... kamu sangat mencintai Yuna dan tidak ingin melihat orang yang kamu cintai disakiti. Itu juga yang aku lakukan pada istriku. Aku harap, kamu bisa dengan bijak memutuskan semuanya!” ucap Lian sambil berbalik dan pergi meninggalkan Yuna dan Yeriko.

 

Yuna hanya tersenyum kecil sambil menatap tubuh Lian yang berlalu pergi meninggalkan mereka.

 

“Kenapa senyum-senyum? Jatuh cinta lagi sama dia?” tanya Yeriko sambil menatap wajah Yuna.

 

Yuna langsung menoleh ke wajah Yeriko. “Nggaklah. Aku seneng aja karena Lian bisa lebih peduli sama Bellina. Semoga, dia bisa bikin Bellina jadi wanita yang baik.”

 

“Bukan karena masih cinta sama dia?” tanya Yeriko menyelidik.

 

“Bukan, Sayangku!” jawab Yuna sambil menangkup kedua pipi Yeriko. “Cuma kamu yang paling aku cinta di dunia ini. Nggak ada yang lain.”

 

Yeriko memutar bola mata sambil tersenyum sinis. “Kamu pasti pernah ngomong kayak gini sama mantan pacar kamu ‘kan?”

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

“Serius!?”

 

“Tanya aja ke dia! Kalau kamu masih nggak percaya.”

 

Yeriko tersenyum kecil. “Aku selalu percaya sama kamu, kok. Jangan nakal ya!” pintanya sambil meletakkan telapak tangan ke atas kepala Yuna.

 

Yuna menganggukkan kepala sambil tersenyum. Mereka segera masuk ke dalam mobil dan bergegas pergi meninggalkan pelataran restoran yang baru saja mereka singgahi.

 

Di sisi lain, Lian langsung menghampiri Bellina yang masih duduk di dalam mobilnya.

 

“Gimana? Yuna udah kamu bilangin?” tanya Bellina.

 

Lian menganggukkan kepala. “Udah, dia pasti bisa menjaga rahasia, kok.”

 

Bellina tersenyum. Ia menggigit bibir sambil meremas safety belt yang masih melingkar di tubuhnya. Pikirannya masih tertuju pada mama mertuanya yang selalu menginginkan Wilian bercerai dengannya. “Kalau aku ketahuan jalan sama cowok lain, Lian bakal ceraikan aku juga?” batinnya.

 

Lian memperhatikan wajah Bellina yang masih melamun. “Bel, nggak mau turun dari mobil?”

 

Bellina tak menyahut. Ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri.

 

“Bel ...!” panggil Lian sambil menyentuh lengan Bellina.

 

“Eh!?” Lamunan Bellina langsung buyar begitu tangannya disentuh oleh Lian.

 

“Mau makan atau nggak?” tanya Lian.

 

Bellina menggeleng, wajahnya terlihat tak bersemangat seperti biasanya. Banyak kekhawatiran yang menyelimuti hatinya dan membuat ia tidak merasa lapar.

 

“Kenapa?”

 

“Kita makan di rumah aja!” pinta Bellina.

 

“Aku belikan makanannya dulu, ya!” tutur Lian sambil keluar dari mobil. Ia segera memesan makanan untuk ia makan di rumah bersama istrinya.

 

Beberapa menit kemudian, Bellina dan Melan sudah kembali ke rumah mereka. Belum sampai masuk ke dalam rumah, mereka dikejutkan dengan kehadiran seorang wanita separuh baya yang mengenakan jas putih dan rok warna putih.

 

Meski membelakangi keduanya, Bellina bisa mengetahui kalau wanita itu adalah mama mertuanya. “Mama ...!?”

 

Mega langsung membalikkan tubuhnya menatap Lian dan Bellina. Ia tersenyum ke arah putera dan menantunya itu. “Kalian dari mana?” tanyanya ketus.

 

“Mmh ....kami dari rumah sakit, Ma,” jawab Lian sambil menatap mamanya.

 

“Jengukin Si Rudi?”

 

Lian menganggukkan kepala. “Dia sakit apa?” tanya Mega pura-pura tidak tahu.

 

“Cuma kecapean, Ma.” Bellina menimpali.

 

Mega tersenyum sinis. “Kamu pikir, saya nggak tahu apa yang terjadi sama keluarga kamu?”

 

Bellina dan Lian saling pandang. Mereka tidak berani mengatakan apa pun di depan Mega. Mereka khawatir  akan membuat suasana semakin buruk karena kehadiran mama Lian yang tiba-tiba dan kerap berapi-api.

 

 

((Bersambung ...))

 

 

 

 

 


0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas