“Li, itu si Yuna sama Yeriko!” seru Bellina
saat mereka memarkirkan mobil di depan salah satu restoran.
Lian langsung menoleh ke arah yang ditunjuk
Bellina.
“Li, bilangin ke Yuna untuk ngerahasiain apa
yang terjadi sama hari ini dari Mama Mega. Aku malu banget mau ketemu dia,”
pinta Bellina.
Lian mengangguk. Ia melepas safety belt dan
bergegas keluar dari mobil. Lian langsung melangkahkan kakinya menghampiri Yuna
yang baru saja ingin masuk ke dalam mobil suaminya.
“Ayuna ...!” panggil Lian sambil menatap
tubuh Yuna yang baru saja meraih handle pintu mobil.
Yuna langsung memutar kepalanya ke arah
sumber suara yang memanggil namanya.
Yeriko langsung menatap Lian sambil
menyandarkan satu siku tangannya ke atas mobil.
“Yer, aku bisa ngomong sama Yuna? Sebentar
aja!” pinta Lian.
“Ngomong aja, Li!” pinta Yuna sambil
tersenyum.
Lian menatap Yeriko yang memperhatikan
dirinya saat ia menatap Yuna. Tatapan suami Yuna membuat Lian kesulitan untuk
mengutarakan keinginannya.
Yeriko mengangkat kedua alis sambil menatap
Lian. “Cepet, Li! Mau ngomong apa? Kami nggak punya banyak waktu.”
Lian tersenyum kecil. Ia melangkah mendekati
Yuna. Saat Lian hanya berjarak dua meter dari tubuh Yuna, Yeriko langsung
berlari menghampiri dan merangkul istrinya.
“Jaga jarak!” pinta Yeriko sambil menatap
tajam ke arah Lian.
Lian menghela napas dan menghentikan
langkahnya. Ia menatap wajah Yuna yang sedang tertawa tanpa suara sambil
menyembunyikan wajah di ketiak Yeriko. “Yun, seharusnya aku yang ada di sana,”
batinnya.
Lian langsung mengerjapkan mata untuk
mengembalikan kesadarannya. Ia tidak ingin terus terlarut dengan khayalannya
bersama Yuna. Ia menarik napas beberapa kali untuk menata perasaannya.
“Yer, apa yang terjadi hari ini di keluarga
Bellina. Aku minta tolong untuk merahasiakannya dari siapa pun!” pinta Lian.
Yeriko hanya tersenyum sinis menanggapi
permintaan Lian.
“Terutama dari mamaku,” lanjut Lian. “Aku
nggak mau menambah kesedihan dan masalah untuk Bellina.”
Yuna menganggukkan kepala. “Aku nggak akan
ngomong ke siapa pun, Li. Kamu tenang aja!”
“Makasih, Yun ...!” ucap Lian sambil
tersenyum manis.
“Oh ... jadi ini sikap kamu ke Yuna beberapa
tahun lalu? Kamu nggak sanggup bikin pacar kamu sendiri bahagia, malah mikirin
perasaan selingkuhan kamu. Sekarang, selingkuhan kamu udah jadi istri kamu,
kamu malah merhatiin mantan pacar yang udah jadi istri orang lain?” tanya
Yeriko sambil menatap sinis ke arah Lian.
“Ay, nggak usah bahas masa lalu!” pinta Yuna
berbisik.
Yeriko tersenyum sinis. Ia tetap tidak
menyukai keberadaan Wilian yang masih memperhatikan istrinya diam-diam.
“Yer, kamu salah paham. Aku memang masih
sayang sama Yuna. Tapi, aku lebih bahagia melihat dia bahagia bersama orang
yang mencintai dia dengan tulus. Aku sadar, aku bukan pria yang pantas di sisi
Yuna.”
“Baguslah kalau kamu sadar,” sahut Yeriko.
Lian tersenyum kecut sambil menatap Yuna dan
Yeriko. “Aku tahu, kalian masih menaruh dendam sama kami karena masa lalu. Apa
yang terjadi sama Bellina hari ini, sudah setimpal dengan apa yang dia lakukan
terhadap Yuna. Aku harap, kalian bisa melepaskan Bellina dan tidak memperkeruh
masalah ini.”
Yeriko tersenyum sinis. “Hukuman yang
diterima Bellina saat ini, belum setimpal dengan kejahatan-kejahatan yang dia
perbuat selama ini.”
“Ay, udahlah. Nggak usah memperpanjang
masalah ini!” pinta Yuna berbisik. Ia tidak ingin suaminya kembali bertengkar
dengan Lian hanya karena masa lalunya. Sebab, apa yang ia jalani di masa lalu
... tidak ada hubungannya dengan Yeriko. Ia tidak ingin menjadi beban dan
masalah dalam kehidupan suaminya itu.
“Yer, aku tahu ... kamu sangat mencintai Yuna
dan tidak ingin melihat orang yang kamu cintai disakiti. Itu juga yang aku
lakukan pada istriku. Aku harap, kamu bisa dengan bijak memutuskan semuanya!”
ucap Lian sambil berbalik dan pergi meninggalkan Yuna dan Yeriko.
Yuna hanya tersenyum kecil sambil menatap
tubuh Lian yang berlalu pergi meninggalkan mereka.
“Kenapa senyum-senyum? Jatuh cinta lagi sama
dia?” tanya Yeriko sambil menatap wajah Yuna.
Yuna langsung menoleh ke wajah Yeriko.
“Nggaklah. Aku seneng aja karena Lian bisa lebih peduli sama Bellina. Semoga,
dia bisa bikin Bellina jadi wanita yang baik.”
“Bukan karena masih cinta sama dia?” tanya
Yeriko menyelidik.
“Bukan, Sayangku!” jawab Yuna sambil
menangkup kedua pipi Yeriko. “Cuma kamu yang paling aku cinta di dunia ini.
Nggak ada yang lain.”
Yeriko memutar bola mata sambil tersenyum
sinis. “Kamu pasti pernah ngomong kayak gini sama mantan pacar kamu ‘kan?”
Yuna menggelengkan kepala.
“Serius!?”
“Tanya aja ke dia! Kalau kamu masih nggak
percaya.”
Yeriko tersenyum kecil. “Aku selalu percaya
sama kamu, kok. Jangan nakal ya!” pintanya sambil meletakkan telapak tangan ke
atas kepala Yuna.
Yuna menganggukkan kepala sambil tersenyum.
Mereka segera masuk ke dalam mobil dan bergegas pergi meninggalkan pelataran
restoran yang baru saja mereka singgahi.
Di sisi lain, Lian langsung menghampiri
Bellina yang masih duduk di dalam mobilnya.
“Gimana? Yuna udah kamu bilangin?” tanya
Bellina.
Lian menganggukkan kepala. “Udah, dia pasti
bisa menjaga rahasia, kok.”
Bellina tersenyum. Ia menggigit bibir sambil
meremas safety belt yang masih melingkar di tubuhnya. Pikirannya masih tertuju
pada mama mertuanya yang selalu menginginkan Wilian bercerai dengannya. “Kalau
aku ketahuan jalan sama cowok lain, Lian bakal ceraikan aku juga?” batinnya.
Lian memperhatikan wajah Bellina yang masih
melamun. “Bel, nggak mau turun dari mobil?”
Bellina tak menyahut. Ia masih sibuk dengan
pikirannya sendiri.
“Bel ...!” panggil Lian sambil menyentuh
lengan Bellina.
“Eh!?” Lamunan Bellina langsung buyar begitu
tangannya disentuh oleh Lian.
“Mau makan atau nggak?” tanya Lian.
Bellina menggeleng, wajahnya terlihat tak
bersemangat seperti biasanya. Banyak kekhawatiran yang menyelimuti hatinya dan
membuat ia tidak merasa lapar.
“Kenapa?”
“Kita makan di rumah aja!” pinta Bellina.
“Aku belikan makanannya dulu, ya!” tutur Lian
sambil keluar dari mobil. Ia segera memesan makanan untuk ia makan di rumah
bersama istrinya.
Beberapa menit kemudian, Bellina dan Melan
sudah kembali ke rumah mereka. Belum sampai masuk ke dalam rumah, mereka
dikejutkan dengan kehadiran seorang wanita separuh baya yang mengenakan jas
putih dan rok warna putih.
Meski membelakangi keduanya, Bellina bisa
mengetahui kalau wanita itu adalah mama mertuanya. “Mama ...!?”
Mega langsung membalikkan tubuhnya menatap
Lian dan Bellina. Ia tersenyum ke arah putera dan menantunya itu. “Kalian dari
mana?” tanyanya ketus.
“Mmh ....kami dari rumah sakit, Ma,” jawab
Lian sambil menatap mamanya.
“Jengukin Si Rudi?”
Lian menganggukkan kepala. “Dia sakit apa?”
tanya Mega pura-pura tidak tahu.
“Cuma kecapean, Ma.” Bellina menimpali.
Mega tersenyum sinis. “Kamu pikir, saya nggak
tahu apa yang terjadi sama keluarga kamu?”
Bellina dan Lian saling pandang. Mereka tidak
berani mengatakan apa pun di depan Mega. Mereka khawatir akan membuat
suasana semakin buruk karena kehadiran mama Lian yang tiba-tiba dan kerap
berapi-api.
((Bersambung ...))

0 komentar:
Post a Comment