Tuesday, April 28, 2026

Perfect Hero Bab 528 : Seringlah Bercinta

 


“Ay, kamu sengaja ngajak aku jenguk Oom Rudi ... karena ini?” tanya Yuna saat ia dan suaminya sudah keluar dari kamar rawat Tarudi.

 

Yeriko tersenyum sambil memainkan kepalanya. “Gimana? Asyik, nggak?”

 

Yuna tertawa kecil. “Aku ngerasa puas aja lihat muka Tante Melan dan Bellina kayak gitu. Cuma ... aku kasihan sama Oom Rudi. Apa dia bener-bener mau ceraikan Tante Melan?”

 

“Cuma pria bodoh yang mau mempertahankan wanita kayak Tante Melan. Ini belum seberapa,” tutur Yeriko sambil berbisik di telinga Yuna.

 

Yuna tersenyum sambil merangkul pinggang Yeriko. “Kamu punya rencana jahil apa lagi?”

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku nggak buat rencana apa-apa. Ini semua rencana Tuhan. Kita cukup menikmatinya aja,” ucapnya sambil memainkan kedua alisnya.

 

“Syukur, deh. Semoga aja Tuhan ngasih balasan yang setimpal sama nenek sihir satu itu! Dia tega banget nipu Oom Rudi demi harta. Kalau Oom Rudi nggak ketemu sama nenek sihir itu, hidupnya pasti lebih bahagia.”

 

Yeriko tertawa kecil sambil menatap Yuna. “Ini hukuman yang setimpal karena sudah membuat hidup kamu menderita selama bertahun-tahun. Sekarang, waktunya kamu bahagia dan waktunya mereka menuai hasil perbuatan mereka.”

 

Yuna tersenyum bahagia sambil menggenggam tangan Yeriko. “Pantes aja Tante Melan dan Bellina jahat banget sama aku. Ternyata, Bellina bukan anak kandung Oom Rudi.”

 

“Artinya, cuma kamu satu-satunya pewaris perusahaan Linandar. Gimana? Mau ambil alih?”

 

Yuna memonyongkan bibirnya sambil menatap wajah Yeriko. “Masih sempat-sempatnya ngomongin harta keluargaku. Kasihan Oom Rudi, dia pasti lagi sedih banget karena keadaan keluarganya sekarang. Aku nggak berniat merebut perusahaan. Belum punya kemampuan sebesar itu.”

 

“Punya suami sehebat ini, kenapa nggak dimanfaatkan?” tanya Yeriko.

 

Yuna langsung tersenyum sambil menghentikan langkahnya. “Ajarin, ya!”

 

“Ajarin apa?”

 

“Apa aja yang aku nggak bisa.”

 

“Wanita hebat sepertimu, bisa melakukan banyak hal. Bahkan, hal yang aku nggak bisa sekalipun. Cuma satu yang kamu nggak bisa.”

 

“Apa itu?” tanya Yuna sambil meneliti wajah Yeriko.

 

“Kamu nggak bisa bikin cowok di luar sana nggak tertarik sama kamu.”

 

“Eh!? Bukannya bagus? Berarti, aku ini cantik dan seksi ‘kan?” goda Yuna sambil memainkan kedua matanya.

 

Yeriko melengos dan kembali melangkahkan kakinya.

 

“Ay, aku jangan ditinggalin!” rengek Yuna sambil menghentakkan kakinya.

 

Yeriko tertawa kecil sambil membalikkan tubuhnya. “Ayo ...!”

 

Yuna tersenyum dan mengejar langkah Yeriko. Mereka kembali berjalan beriringan menuju poli kebidanan untuk memeriksakan kandungan Yuna.

 

“Ay, kita nggak ngantri?” tanya Yuna.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku udah booking dokter hari ini. Khusus pasien VVIP lewat pintu sini.”

 

Yuna tersenyum menyelidik ke arah Yeriko. “Kenapa waktu itu ... kita ngantri?”

 

“Karena aku punya banyak waktu buat nemenin kamu.”

 

“Jadi, sekarang nggak punya waktu?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Aku harus balik ke kantor. Dua jam lagi ada jadwal meeting.”

 

“Oh.”

 

Yeriko langsung menoleh ke arah Yuna. “Kenapa kok bilang ‘oh’?” tanyanya.

 

Yuna meringis sambil menatap Yeriko. “Kalau aku bilang ah, ntar kamu nafsu.”

 

Yeriko tertawa. “Kamu ini ... ada-ada aja,” ucapnya sambil mengacak ujung kepala Yuna. Ia segera memasuki ruang pemeriksaan kehamilan seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya.

 

“Selamat pagi, Dokter ...!” sapa Yeriko begitu ia masuk ke dalam ruang pemeriksaan.

 

“Pagi ...! Apa kabar?” balas dokter itu dengan ramah. “Tumben minta pemeriksaan pagi? Biasanya, selalu malam.”

 

Yeriko tersenyum kecil. “Sekalian aja, ada urusan di sini.”

 

“Oh. Silakan duduk!” perintah dokter tersebut. “Mas Yeri sibuk banget ya?”

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala. “Lumayan.”

 

“Kandungan Mbak Yuna sudah masuk bulan ke delapan. Harus banyak bergerak, ya! Biar sehat. Ikut senam ibu hamil?” tanya dokter itu sambil menatap wajah Yuna.

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

“Kenapa?”

 

Yuna langsung menoleh ke arah Yeriko.

 

“Ck, aku cuma ngelarang dia keluar rumah sendirian, Dokter. Bukan ngelarang dia ikut senam.”

 

“Senam hamil sangat baik untuk mempermudah proses persalinan. Supaya peredaran darah lancar. Ibu hamil juga nggak boleh sampai stres, Mas. Kalau Mbak Yuna nggak boleh keluar rumah, dia bisa stres. Bisa saja batinnya tertekan tapi dia nggak berani ngomong sama suami.”

 

 “Dokter, saya ngelarang dia keluar karena di luar sana sangat berbahaya buat istri saya. Dokter tahu sendiri, istri saya diculik sama orang dalam keadaan hamil. Kalau terjadi apa-apa dengan calon anak saya, dokter mau tanggung jawab? Saya begini karena saya ingin melindungi mereka.”

 

Dokter itu menghela napas sambil menatap Yeriko. “Melindungi dari orang lain memang baik, tapi jangan sampai kamu menanam duri yang bisa melukai orang yang ingin kamu lindungi.”

 

“Maksud dokter? Saya salah?”

 

Dokter itu tersenyum sambil menggelengkan kepala. “Mas Yeri tidak salah. Saya hanya khawatir kalau Mbak Yuna tertekan jika tidak diperbolehkan ke mana-mana. Banyak wanita hamil di luar sana yang bisa beraktivitas seperti orang normal. Tidak perlu berlebihan membatasi pergerakan Mbak Yuna.”

 

Yeriko mendesah kesal. Ia merasa kalau tindakannya kali ini sudah benar. Ia ingin melindungi Yuna dan anak yang ada di dalam perutnya. Namun, dokter malah menyalahkan apa yang ia lakukan kali ini dan berhasil membuatnya kesal.

 

Yuna tersenyum saat mendapati raut wajah Yeriko yang memendam kekesalan. “Dokter, saya tidak merasa tertekan sedikit pun. Saya merasa bahagia menjalani hari-hari saya di dalam rumah. Karena saya juga ingin melindungi anak saya.”

 

Dokter itu tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

 

“Banyak aktivitas di rumah yang membuat saya terus bergerak. Naik turun tangga lima kali sehari saja sudah bisa bikin saya bergerak. Ada banyak juga aktivitas lain yang bisa saya lakukan seperti menyiram tanaman, masak, nyuci baju dan lain-lain. Saya sangat bahagia menjalani hari-hari saya di rumah,” lanjut Yuna sambil tersenyum.

 

“Baguslah kalau begitu. Ada keluhan atau nggak beberapa hari terakhir ini?”

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

Dokter itu tersenyum dan mulai melakukan pemeriksaan. Ia tidak memperdulikan Yeriko yang masih menahan kesal karena mendapat teguran darinya.

 

“Suami kamu memang pemarah seperti itu?” tanya dokter itu berbisik sambil meminta Yuna untuk berbaring di atas brankar.

 

Yuna hanya tersenyum menanggapi pertanyaan dokter.

 

“Nyaman?” tanya dokter itu lagi.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Meski suaminya kerap cemburu dan marah, tetap saja menjadi tempat ternyaman baginya.

 

Dokter itu tersenyum dan mulai melakukan pemeriksaan. Usai memeriksa, dokter itu meminta Yuna untuk kembali duduk di sebelah Yeriko.

 

“Kondisi ibu dan bayinya sangat sehat. Berat badan bayi sudah normal. Sekarang, tinggal mempersiapkan proses persalinan. Karena Mbak Yuna ingin lahir normal, maka harus mempersiapkan mental dengan baik. Nggak boleh setres, nggak boleh khawatir dan harus mendapat support dari suami.”

 

“Nggak perlu khawatir! Semua wanita merasakan sakitnya melahirkan. Tapi, mereka tetap ingin punya anak lagi setelahnya. Harus kuat dan berpikir positif! Pasti bisa!” tutur dokter itu sambil memberikan semangat.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia merasa sangat bahagia karena sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.

 

“Oh ya, satu lagi. Harus sering berhubungan sama suaminya ya!”

 

“Eh!? Maksudnya?” tanya Yuna sambil mengernyitkan dahi.

 

“Masa nggak tahu? Berhubungan intim dengan suaminya ya! Itu sangat baik untuk usia kehamilan saat menjelang persalinan. Bisa merangsang bayi untuk lahir dengan sehat dan selamat.”

 

Yeriko langsung tersenyum lebar mendengar ucapan dokter tersebut. “Bagusnya, berapa kali sehari, Dok?”

 

Dokter itu tertawa kecil. “Semampunya Mas Yeri saja.”

 

Yuna mengerutkan hidung sambil menatap wajah Yeriko. “Nggak usah tanya yang aneh-aneh!”

 

“Aneh-aneh gimana? Aku serius, Yun. Kalau aku sanggup dua puluh kali sehari, bahaya atau nggak buat anak kita? Ini kan harus ditanyakan juga.”

 

Dokter itu tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

 

“Udah, jangan tanya yang aneh-aneh!” pinta Yuna sambil menarik lengan Yeriko untuk bangkit. “Kami permisi dulu, Dok!” pamitnya sambil menarik lengan Yeriko keluar dari ruangan tersebut.

 

Yeriko langsung melepaskan genggaman tangan Yuna begitu mereka keluar. “Kenapa, Yun? Aku belum kelar tanya-tanya.”

 

“Iih ... aku malu kalau kamu tanya begitu.”

 

“Malu kenapa? Dia kan dokter, nggak perlu malu sama tenaga medis. Dia juga pasti tahu posisi yang paling enak saat bercinta.”

 

Yuna mengerutkan bibirnya. “Kamu mau nanyain soal kehamilan istri kamu atau posisi seks yang bagus saat hamil?”

 

“Dua-duanya,” jawab Yeriko sambil tertawa kecil. Ia bergelayut manja di pundak Yuna. “Malam ini, aku bakal pulang cepat. Kamu mau main berapa kali?”

 

“Iih ... apaan sih!?” sahut Yuna dengan pipi bersemu merah.

 

“Kenapa masih malu, sih?” tanya Yeriko. “Perut kamu sudah sebesar ini, nggak mungkin mau ngaku ke semua orang kalau kamu masih perawan.”

 

Yuna langsung menoleh ke arah Yeriko. “Aku nggak berpikiran begitu.”

 

“Terus?” tanya Yeriko menyelidik.

 

Yuna hanya meringis mendengar pertanyaan Yeriko. Tanpa diucapkan, Yeriko juga sebenarnya sudah mengetahui kalau Yuna selalu menikmati saat-saat gairah mereka dan tidak ingin berhenti begitu saja.

 

Yeriko ikut tertawa. Ia merangkul tubuh istrinya sambil melangkah keluar dari rumah sakit. Ia tak henti menciumi pipi Yuna hingga mengalihkan semua pasang mata yang bertemu dengan mereka.

 

((Bersambung ...))

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas