“Ay, kamu sengaja ngajak aku jenguk Oom Rudi ...
karena ini?” tanya Yuna saat ia dan suaminya sudah keluar dari kamar rawat
Tarudi.
Yeriko tersenyum sambil
memainkan kepalanya. “Gimana? Asyik, nggak?”
Yuna tertawa kecil. “Aku
ngerasa puas aja lihat muka Tante Melan dan Bellina kayak gitu. Cuma ... aku
kasihan sama Oom Rudi. Apa dia bener-bener mau ceraikan Tante Melan?”
“Cuma pria bodoh yang mau
mempertahankan wanita kayak Tante Melan. Ini belum seberapa,” tutur Yeriko
sambil berbisik di telinga Yuna.
Yuna tersenyum sambil
merangkul pinggang Yeriko. “Kamu punya rencana jahil apa lagi?”
Yeriko menggelengkan kepala.
“Aku nggak buat rencana apa-apa. Ini semua rencana Tuhan. Kita cukup
menikmatinya aja,” ucapnya sambil memainkan kedua alisnya.
“Syukur, deh. Semoga aja
Tuhan ngasih balasan yang setimpal sama nenek sihir satu itu! Dia tega banget
nipu Oom Rudi demi harta. Kalau Oom Rudi nggak ketemu sama nenek sihir itu,
hidupnya pasti lebih bahagia.”
Yeriko tertawa kecil sambil
menatap Yuna. “Ini hukuman yang setimpal karena sudah membuat hidup kamu
menderita selama bertahun-tahun. Sekarang, waktunya kamu bahagia dan waktunya
mereka menuai hasil perbuatan mereka.”
Yuna tersenyum bahagia sambil
menggenggam tangan Yeriko. “Pantes aja Tante Melan dan Bellina jahat banget
sama aku. Ternyata, Bellina bukan anak kandung Oom Rudi.”
“Artinya, cuma kamu
satu-satunya pewaris perusahaan Linandar. Gimana? Mau ambil alih?”
Yuna memonyongkan bibirnya
sambil menatap wajah Yeriko. “Masih sempat-sempatnya ngomongin harta
keluargaku. Kasihan Oom Rudi, dia pasti lagi sedih banget karena keadaan
keluarganya sekarang. Aku nggak berniat merebut perusahaan. Belum punya
kemampuan sebesar itu.”
“Punya suami sehebat ini,
kenapa nggak dimanfaatkan?” tanya Yeriko.
Yuna langsung tersenyum
sambil menghentikan langkahnya. “Ajarin, ya!”
“Ajarin apa?”
“Apa aja yang aku nggak
bisa.”
“Wanita hebat sepertimu, bisa
melakukan banyak hal. Bahkan, hal yang aku nggak bisa sekalipun. Cuma satu yang
kamu nggak bisa.”
“Apa itu?” tanya Yuna sambil
meneliti wajah Yeriko.
“Kamu nggak bisa bikin cowok
di luar sana nggak tertarik sama kamu.”
“Eh!? Bukannya bagus?
Berarti, aku ini cantik dan seksi ‘kan?” goda Yuna sambil memainkan kedua
matanya.
Yeriko melengos dan kembali
melangkahkan kakinya.
“Ay, aku jangan ditinggalin!”
rengek Yuna sambil menghentakkan kakinya.
Yeriko tertawa kecil sambil
membalikkan tubuhnya. “Ayo ...!”
Yuna tersenyum dan mengejar
langkah Yeriko. Mereka kembali berjalan beriringan menuju poli kebidanan untuk
memeriksakan kandungan Yuna.
“Ay, kita nggak ngantri?”
tanya Yuna.
Yeriko menggelengkan kepala.
“Aku udah booking dokter hari ini. Khusus pasien VVIP lewat pintu sini.”
Yuna tersenyum menyelidik ke
arah Yeriko. “Kenapa waktu itu ... kita ngantri?”
“Karena aku punya banyak
waktu buat nemenin kamu.”
“Jadi, sekarang nggak punya
waktu?”
Yeriko menganggukkan kepala. “Aku
harus balik ke kantor. Dua jam lagi ada jadwal
meeting.”
“Oh.”
Yeriko langsung menoleh ke
arah Yuna. “Kenapa kok bilang ‘oh’?” tanyanya.
Yuna meringis sambil menatap
Yeriko. “Kalau aku bilang ah, ntar kamu nafsu.”
Yeriko tertawa. “Kamu ini ...
ada-ada aja,” ucapnya sambil mengacak ujung kepala Yuna. Ia segera memasuki
ruang pemeriksaan kehamilan seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya.
“Selamat pagi, Dokter ...!”
sapa Yeriko begitu ia masuk ke dalam ruang pemeriksaan.
“Pagi ...! Apa kabar?” balas
dokter itu dengan ramah. “Tumben minta pemeriksaan pagi? Biasanya, selalu
malam.”
Yeriko tersenyum kecil.
“Sekalian aja, ada urusan di sini.”
“Oh. Silakan duduk!” perintah
dokter tersebut. “Mas Yeri sibuk banget ya?”
Yeriko mengangguk-anggukkan
kepala. “Lumayan.”
“Kandungan Mbak Yuna sudah
masuk bulan ke delapan. Harus banyak bergerak, ya! Biar sehat. Ikut senam ibu
hamil?” tanya dokter itu sambil menatap wajah Yuna.
Yuna menggelengkan kepala.
“Kenapa?”
Yuna langsung menoleh ke arah
Yeriko.
“Ck, aku cuma ngelarang dia
keluar rumah sendirian, Dokter. Bukan ngelarang dia ikut senam.”
“Senam hamil sangat baik
untuk mempermudah proses persalinan. Supaya peredaran darah lancar. Ibu hamil
juga nggak boleh sampai stres, Mas. Kalau Mbak Yuna nggak boleh keluar rumah,
dia bisa stres. Bisa saja batinnya tertekan tapi dia nggak berani ngomong sama
suami.”
“Dokter, saya ngelarang
dia keluar karena di luar sana sangat berbahaya buat istri saya. Dokter tahu
sendiri, istri saya diculik sama orang dalam keadaan hamil. Kalau terjadi
apa-apa dengan calon anak saya, dokter mau tanggung jawab? Saya begini karena
saya ingin melindungi mereka.”
Dokter itu menghela napas
sambil menatap Yeriko. “Melindungi dari orang lain memang baik, tapi jangan
sampai kamu menanam duri yang bisa melukai orang yang ingin kamu lindungi.”
“Maksud dokter? Saya salah?”
Dokter itu tersenyum sambil
menggelengkan kepala. “Mas Yeri tidak salah. Saya hanya khawatir kalau Mbak
Yuna tertekan jika tidak diperbolehkan ke mana-mana. Banyak wanita hamil di
luar sana yang bisa beraktivitas seperti orang normal. Tidak perlu berlebihan
membatasi pergerakan Mbak Yuna.”
Yeriko mendesah kesal. Ia
merasa kalau tindakannya kali ini sudah benar. Ia ingin melindungi Yuna dan
anak yang ada di dalam perutnya. Namun, dokter malah menyalahkan apa yang ia
lakukan kali ini dan berhasil membuatnya kesal.
Yuna tersenyum saat mendapati
raut wajah Yeriko yang memendam kekesalan. “Dokter, saya tidak merasa tertekan
sedikit pun. Saya merasa bahagia menjalani hari-hari saya di dalam rumah.
Karena saya juga ingin melindungi anak saya.”
Dokter itu tersenyum sambil
mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Banyak aktivitas di rumah
yang membuat saya terus bergerak. Naik turun tangga lima kali sehari saja sudah
bisa bikin saya bergerak. Ada banyak juga aktivitas lain yang bisa saya lakukan
seperti menyiram tanaman, masak, nyuci baju dan lain-lain. Saya sangat bahagia
menjalani hari-hari saya di rumah,” lanjut Yuna sambil tersenyum.
“Baguslah kalau begitu. Ada
keluhan atau nggak beberapa hari terakhir ini?”
Yuna menggelengkan kepala.
Dokter itu tersenyum dan
mulai melakukan pemeriksaan. Ia tidak memperdulikan Yeriko yang masih menahan
kesal karena mendapat teguran darinya.
“Suami kamu memang pemarah
seperti itu?” tanya dokter itu berbisik sambil meminta Yuna untuk berbaring di
atas brankar.
Yuna hanya tersenyum
menanggapi pertanyaan dokter.
“Nyaman?” tanya dokter itu
lagi.
Yuna mengangguk sambil
tersenyum. Meski suaminya kerap cemburu dan marah, tetap saja menjadi tempat
ternyaman baginya.
Dokter itu tersenyum dan
mulai melakukan pemeriksaan. Usai memeriksa, dokter itu meminta Yuna untuk
kembali duduk di sebelah Yeriko.
“Kondisi ibu dan bayinya
sangat sehat. Berat badan bayi sudah normal. Sekarang, tinggal mempersiapkan
proses persalinan. Karena Mbak Yuna ingin lahir normal, maka harus
mempersiapkan mental dengan baik. Nggak boleh setres, nggak boleh khawatir dan
harus mendapat support dari suami.”
“Nggak perlu khawatir! Semua
wanita merasakan sakitnya melahirkan. Tapi, mereka tetap ingin punya anak lagi
setelahnya. Harus kuat dan berpikir positif! Pasti bisa!” tutur dokter itu
sambil memberikan semangat.
Yuna mengangguk sambil
tersenyum. Ia merasa sangat bahagia karena sebentar lagi akan menjadi seorang
ibu.
“Oh ya, satu lagi. Harus
sering berhubungan sama suaminya ya!”
“Eh!? Maksudnya?” tanya Yuna
sambil mengernyitkan dahi.
“Masa nggak tahu? Berhubungan
intim dengan suaminya ya! Itu sangat baik untuk usia kehamilan saat menjelang
persalinan. Bisa merangsang bayi untuk lahir dengan sehat dan selamat.”
Yeriko langsung tersenyum
lebar mendengar ucapan dokter tersebut. “Bagusnya, berapa kali sehari, Dok?”
Dokter itu tertawa kecil.
“Semampunya Mas Yeri saja.”
Yuna mengerutkan hidung
sambil menatap wajah Yeriko. “Nggak usah tanya yang aneh-aneh!”
“Aneh-aneh gimana? Aku
serius, Yun. Kalau aku sanggup dua puluh kali sehari, bahaya atau nggak buat
anak kita? Ini kan harus ditanyakan juga.”
Dokter itu tertawa kecil
sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Udah, jangan tanya yang
aneh-aneh!” pinta Yuna sambil menarik lengan Yeriko untuk bangkit. “Kami
permisi dulu, Dok!” pamitnya sambil menarik lengan Yeriko keluar dari ruangan
tersebut.
Yeriko langsung melepaskan
genggaman tangan Yuna begitu mereka keluar. “Kenapa, Yun? Aku
belum kelar tanya-tanya.”
“Iih ... aku malu kalau kamu
tanya begitu.”
“Malu kenapa? Dia kan dokter,
nggak perlu malu sama tenaga medis. Dia juga pasti tahu posisi yang paling enak
saat bercinta.”
Yuna mengerutkan bibirnya.
“Kamu mau nanyain soal kehamilan istri kamu atau posisi seks yang bagus saat
hamil?”
“Dua-duanya,” jawab Yeriko
sambil tertawa kecil. Ia bergelayut manja di pundak Yuna. “Malam ini, aku bakal
pulang cepat. Kamu mau main berapa kali?”
“Iih ... apaan sih!?” sahut
Yuna dengan pipi bersemu merah.
“Kenapa masih malu, sih?”
tanya Yeriko. “Perut kamu sudah sebesar ini, nggak mungkin mau ngaku ke semua
orang kalau kamu masih perawan.”
Yuna langsung menoleh ke arah
Yeriko. “Aku nggak berpikiran begitu.”
“Terus?” tanya Yeriko
menyelidik.
Yuna hanya meringis mendengar
pertanyaan Yeriko. Tanpa diucapkan, Yeriko juga sebenarnya sudah mengetahui
kalau Yuna selalu menikmati saat-saat gairah mereka dan tidak ingin berhenti
begitu saja.
Yeriko ikut tertawa. Ia
merangkul tubuh istrinya sambil melangkah keluar dari rumah sakit. Ia tak henti
menciumi pipi Yuna hingga mengalihkan semua pasang mata yang bertemu dengan
mereka.
((Bersambung ...))
.png)
0 komentar:
Post a Comment