Bellina terduduk lemas di lantai sambil menopang dagu ke atas
lututnya. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang telah dilakukan mamanya
sendiri.
“Ma, kenapa mama tega kayak gini?” tanyanya lirih. Ia masih tidak
bisa menerima kenyataan kalau ada pria lain yang ada dalam hidup mamanya.
“Bel, maafin mama!” pinta Melan sambil menghampiri Bellina.
Bellina langsung menepis tangan Melan sebelum wanita itu berhasil
menyentuhnya. “Jangan deketin aku, Ma!”
Melan menarik tubuhnya menjauhi Bellina. Ia tahu, apa pun yang
dikatakannya saat ini, tidak akan didengarkan oleh puterinya. Ia menoleh ke
arah Lian yang berdiri di sebelah Bellina sambil termenung.
“Nak Lian ...!” panggil Melan lirih.
Lian langsung menoleh ke arah Melan. Ia juga belum bisa menerima
kenyataan kalau istrinya bukan dari keluarga Linandar. Terlebih, kenyataan masa
lalu Melan juga akan mencoreng nama baik keluarga besar mereka.
Melan menatap pilu ke arah Lian. Ia berharap kalau keluarga
Linandar akan mengampuni perbuatannya kali ini. “Li, tolong hibur Bellina!”
pinta Melan dalam hati sambil menatap wajah Lian.
Lian mengangguk kecil. Ia mengerti permintaan Melan kali ini
karena ia adalah orang terdekat Bellina saat ini.
Lonan dan Tarudi sama-sama menatap Bellina yang terduduk di
lantai. Mereka sama-sama tak berdaya sebagai seorang ayah.
“Li, bawa Bellina pulang terlebih dulu!” pinta Tarudi sambil
menatap Lian.
Lian menganggukkan kepala. Ia meraih pundak Bellina sambil
berusaha mengajaknya berdiri. “Bel, kita pulang dulu!”
Bellina menggelengkan kepala. “Aku nggak mau pulang sebelum tes
DNA.”
Semua orang langsung saling pandang. Mereka melihat bagaimana
Bellina sangat terpukul dengan kenyataan yang terjadi saat ini.
Tarudi menarik napas sejenak dan turun dari tempat tidurnya. Ia
tetap saja tidak tega melihat Bellina yang begitu bersedih. “Li, bantu saya
untuk mengurus tes DNA!”
Lian menganggukkan kepala. Ia bermaksud memapah Tarudi yang ingin
keluar dari kamar rawatnya.
Bellina yang melihat papanya sudah berjalan seorang diri, memilih
untuk bangkit dan menghampiri papanya itu. Mereka semua segera pergi untuk
melakukan tes DNA.
“Pa, aku sayang sama papa. Aku nggak mau jadi anak orang lain,”
batin Bellina sambil menatap Tarudi saat mereka sudah duduk di ruang tunggu.
Usai melakukan pengambilan sampel tes DNA, mereka kembali ke kamar
rawat Tarudi.
Bellina terus memapah papanya hingga naik ke atas brankar.
Sementara, Melan dan Lonan tidak kembali ke ruang rawat tersebut karena sikap
dingin Tarudi yang tidak menginginkan keduanya menampakkan diri di hadapannya.
“Hati- hati, Pa!” pinta Bellina sambil membantu papanya naik ke
atas brankar.
“Papa bisa sendiri,” tutur Tarudi sambil menepis tangan Bellina.
“Pergilah!”
Bellina menatap wajah Tarudi. “Pa, aku sayang sama papa. Aku nggak
mau jadi anak orang lain. Aku mau di samping papa terus. Aku nggak mau
ninggalin papa sendirian. Di dunia ini, papaku cuma satu ... papa Tarudi.”
Tarudi menarik napas dalam-dalam sambil membalas tatapan Bellina.
Ia tidak berani mengakui kalau Bellina adalah puteri kandungnya. Jauh dalam
lubuk hatinya, ia sangat menyayangi puterinya lebih dari apa pun. Semua hal
yang dilakukannya selama ini hanya untuk anak kesayangannya.
“Pa, aku mohon ...! Jangan benci aku karena mama. Aku juga nggak
mau ini semua terjadi,” pinta Bellina dengan mata berkaca-kaca.
Lian menatap Bellina yang begitu bersedih karena sikap Tarudi.
“Bellina benar, Pa. Dia tidak tahu apa-apa soal masa lalu mamanya. Papa tidak
seharusnya membenci Bellina. Ini bukan kesalahan dia.”
Tarudi menghela napas. “Baiklah. Hasil tes DNA juga belum keluar.
Selama belum ada kejelasan, papa tidak bisa menentukan apa pun. Sebaiknya,
kalian pulang ke rumah dan tunggu hasilnya saja. Papa mau istirahat!”
Bellina dan Lian saling pandang.
“Ayo, kita pulang dulu!” ajak Lian. “Papa harus istirahat.”
Bellina menganggukkan kepala. “Nanti sore, aku bakal ke sini lagi.
Papa mau dimasakin apa?”
Tarudi menggelengkan kepala. “Nggak perlu masakin apa pun buat
saya.”
Bellina menghela napas. Ia melirik termos sup pemberian Yuna yang
ada di atas nakas. Melihat termos itu, membuatnya merasa cemburu dengan
perhatian Yuna yang diterima begitu saja oleh papanya.
Tarudi menghela napas sambil memejamkan mata. Membuat Lian dan
Bellina akhirnya keluar dari ruangan tersebut agar ayahnya bisa beristirahat.
Bellina enggan melangkahkan kakinya keluar dari ruang rawat
papanya. Matanya tak lepas memandang papanya yang terbaring di atas tempat
tidur.
“Kasih waktu buat papa kamu!” bisik Lian sambil merangkul pundak
Bellina.
Bellina menganggukkan kepala. Ia menatap Lian yang tersenyum ke
arahnya. Ia sedikit tenang karena Lian tidak terpengaruh dengan kejadian hari
ini dan tetap berada di sisinya.
“Li ...!” panggil Bellina sambil menghentikan langkahnya.
“Ya.”
“Apa kamu tetap mau menerima aku kalau aku bukan anak Papa Rudi?”
tanya Bellina.
Lian hanya tersenyum kecil menanggapi pertanyaan Bellina. “Kamu
nggak ada hubungannya sama masa lalu mama kamu. Aku nggak punya alasan untuk
menolak kehadiranmu.”
Bellina tersenyum. Ia langsung memeluk tubuh Lian. “Makasih, Li
...!”
Lian menganggukkan kepala. Hatinya memang memiliki keraguan
terhadap Bellina. Namun, ia tidak akan tega menambah luka dalam hati istrinya.
Ia hanya ingin membuat Bellina terhibur, juga ingin menerima Bellina dengan
status baru yang mungkin saja akan ditentang oleh keluarga besarnya.
“Li, aku boleh minta tolong ...!”
Lian menganggukkan kepala.
“Jangan bilang ke Mama Mega soal ini! Aku takut ...”
Lian tersenyum sambil menatap wajah Bellina. “Aku nggak akan
bilang ke mama soal ini. Semua akan baik-baik aja.
“Gimana dengan Yuna?” tanya Bellina sambil menatap wajah Lian.
“Gimana kalau dia bocorin ini ke Mama Mega?”
Lian tersenyum sambil memeluk pundak Bellina. “Kamu nggak usah
khawatir! Aku akan bicara dengan Yuna untuk merahasiakan ini semua.”
Bellina tersenyum sambil menatap wajah Lian. “Makasih, Li ...! Aku
nggak tahu gimana caranya ngadepin mama kamu kalau tahu soal ini semua.”
“Aku akan berusaha melindungi kamu dari mama. Asal kamu berada di
jalan benar. Aku nggak mau, kamu seperti mama kamu juga.”
Bellina menggelengkan kepalanya. Jantungnya berdebar sangat
kencang saat teringat hubungan gelapnya dengan Arjuna. Pria muda yang tiba-tiba
masuk ke dalam kehidupannya.
“Kita pulang, sekarang!” ajak Lian.
Bellina mengangguk, ia bergegas melangkah beriringan dengan Lian,
keluar dari rumah sakit tersebut.
Di balik pintu bangsal lain, Nirma memperhatikan tubuh Bellina dan
Lian yang perlahan menjauh. Ia melangkahkan kakinya perlahan dengan mata
tertuju pada Bellina.
Braaak ...!
Nirma rak sengaja menabrak perawat yang baru saja keluar dari
kamar rawat Tarudi.
“Maaf, Suster! Saya nggak sengaja,” tutur Nirma sambil membantu
membereskan peralatan medis yang jatuh ke lantai.
“Nggak papa, Mbak,” sahut perawat itu dengan lembut.
“Oh ya, ini ruang rawat Oom Tarudi ya?” tanya Nirma.
Perawat itu menganggukkan kepala.
“Aku dari tadi dengar suara keributan di ruangan ini. Ada apa
sebenarnya?”
“Mbaknya siapa?”
“Saya keponakan Oom Rudi.”
“Oh. Mbaknya telat datang ya? Ribut masalah keluarga.”
“Masalah apa, Suster?”
“Kurang tahu, Mbak. Yang saya tangkap, istrinya pasien
berselingkuh dan anaknya sekarang jadi rebutan suami dan selingkuhannya itu.”
“Ooh ...” Nirma mengangguk-anggukkan kepala.
“Kalau mau tahu lebih jelas, langsung ditanyakan aja sama Oom-nya
Mbak!” tutur perawat tersebut sambil bergegas pergi.
Nirma tersenyum penuh kemenangan. Ia mengintip Tarudi yang sedang
tertidur dari balik kaca pintu.
“Na
... na ... na ... na ....” Nirma melangkahkan kakinya sambil bersenandung
riang. Ia menyusuri koridor rumah sakit dan berlari keluar sambil menari-nari
dengan riang gembira layaknya seorang puteri yang baru saja mendapatkan hadiah
besar di kerajaannya.
((Bersambung ...))
.png)
0 komentar:
Post a Comment