Tuesday, April 28, 2026

Perfect Hero Bab 528 : Seringlah Bercinta

 


“Ay, kamu sengaja ngajak aku jenguk Oom Rudi ... karena ini?” tanya Yuna saat ia dan suaminya sudah keluar dari kamar rawat Tarudi.

 

Yeriko tersenyum sambil memainkan kepalanya. “Gimana? Asyik, nggak?”

 

Yuna tertawa kecil. “Aku ngerasa puas aja lihat muka Tante Melan dan Bellina kayak gitu. Cuma ... aku kasihan sama Oom Rudi. Apa dia bener-bener mau ceraikan Tante Melan?”

 

“Cuma pria bodoh yang mau mempertahankan wanita kayak Tante Melan. Ini belum seberapa,” tutur Yeriko sambil berbisik di telinga Yuna.

 

Yuna tersenyum sambil merangkul pinggang Yeriko. “Kamu punya rencana jahil apa lagi?”

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku nggak buat rencana apa-apa. Ini semua rencana Tuhan. Kita cukup menikmatinya aja,” ucapnya sambil memainkan kedua alisnya.

 

“Syukur, deh. Semoga aja Tuhan ngasih balasan yang setimpal sama nenek sihir satu itu! Dia tega banget nipu Oom Rudi demi harta. Kalau Oom Rudi nggak ketemu sama nenek sihir itu, hidupnya pasti lebih bahagia.”

 

Yeriko tertawa kecil sambil menatap Yuna. “Ini hukuman yang setimpal karena sudah membuat hidup kamu menderita selama bertahun-tahun. Sekarang, waktunya kamu bahagia dan waktunya mereka menuai hasil perbuatan mereka.”

 

Yuna tersenyum bahagia sambil menggenggam tangan Yeriko. “Pantes aja Tante Melan dan Bellina jahat banget sama aku. Ternyata, Bellina bukan anak kandung Oom Rudi.”

 

“Artinya, cuma kamu satu-satunya pewaris perusahaan Linandar. Gimana? Mau ambil alih?”

 

Yuna memonyongkan bibirnya sambil menatap wajah Yeriko. “Masih sempat-sempatnya ngomongin harta keluargaku. Kasihan Oom Rudi, dia pasti lagi sedih banget karena keadaan keluarganya sekarang. Aku nggak berniat merebut perusahaan. Belum punya kemampuan sebesar itu.”

 

“Punya suami sehebat ini, kenapa nggak dimanfaatkan?” tanya Yeriko.

 

Yuna langsung tersenyum sambil menghentikan langkahnya. “Ajarin, ya!”

 

“Ajarin apa?”

 

“Apa aja yang aku nggak bisa.”

 

“Wanita hebat sepertimu, bisa melakukan banyak hal. Bahkan, hal yang aku nggak bisa sekalipun. Cuma satu yang kamu nggak bisa.”

 

“Apa itu?” tanya Yuna sambil meneliti wajah Yeriko.

 

“Kamu nggak bisa bikin cowok di luar sana nggak tertarik sama kamu.”

 

“Eh!? Bukannya bagus? Berarti, aku ini cantik dan seksi ‘kan?” goda Yuna sambil memainkan kedua matanya.

 

Yeriko melengos dan kembali melangkahkan kakinya.

 

“Ay, aku jangan ditinggalin!” rengek Yuna sambil menghentakkan kakinya.

 

Yeriko tertawa kecil sambil membalikkan tubuhnya. “Ayo ...!”

 

Yuna tersenyum dan mengejar langkah Yeriko. Mereka kembali berjalan beriringan menuju poli kebidanan untuk memeriksakan kandungan Yuna.

 

“Ay, kita nggak ngantri?” tanya Yuna.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku udah booking dokter hari ini. Khusus pasien VVIP lewat pintu sini.”

 

Yuna tersenyum menyelidik ke arah Yeriko. “Kenapa waktu itu ... kita ngantri?”

 

“Karena aku punya banyak waktu buat nemenin kamu.”

 

“Jadi, sekarang nggak punya waktu?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Aku harus balik ke kantor. Dua jam lagi ada jadwal meeting.”

 

“Oh.”

 

Yeriko langsung menoleh ke arah Yuna. “Kenapa kok bilang ‘oh’?” tanyanya.

 

Yuna meringis sambil menatap Yeriko. “Kalau aku bilang ah, ntar kamu nafsu.”

 

Yeriko tertawa. “Kamu ini ... ada-ada aja,” ucapnya sambil mengacak ujung kepala Yuna. Ia segera memasuki ruang pemeriksaan kehamilan seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya.

 

“Selamat pagi, Dokter ...!” sapa Yeriko begitu ia masuk ke dalam ruang pemeriksaan.

 

“Pagi ...! Apa kabar?” balas dokter itu dengan ramah. “Tumben minta pemeriksaan pagi? Biasanya, selalu malam.”

 

Yeriko tersenyum kecil. “Sekalian aja, ada urusan di sini.”

 

“Oh. Silakan duduk!” perintah dokter tersebut. “Mas Yeri sibuk banget ya?”

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala. “Lumayan.”

 

“Kandungan Mbak Yuna sudah masuk bulan ke delapan. Harus banyak bergerak, ya! Biar sehat. Ikut senam ibu hamil?” tanya dokter itu sambil menatap wajah Yuna.

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

“Kenapa?”

 

Yuna langsung menoleh ke arah Yeriko.

 

“Ck, aku cuma ngelarang dia keluar rumah sendirian, Dokter. Bukan ngelarang dia ikut senam.”

 

“Senam hamil sangat baik untuk mempermudah proses persalinan. Supaya peredaran darah lancar. Ibu hamil juga nggak boleh sampai stres, Mas. Kalau Mbak Yuna nggak boleh keluar rumah, dia bisa stres. Bisa saja batinnya tertekan tapi dia nggak berani ngomong sama suami.”

 

 “Dokter, saya ngelarang dia keluar karena di luar sana sangat berbahaya buat istri saya. Dokter tahu sendiri, istri saya diculik sama orang dalam keadaan hamil. Kalau terjadi apa-apa dengan calon anak saya, dokter mau tanggung jawab? Saya begini karena saya ingin melindungi mereka.”

 

Dokter itu menghela napas sambil menatap Yeriko. “Melindungi dari orang lain memang baik, tapi jangan sampai kamu menanam duri yang bisa melukai orang yang ingin kamu lindungi.”

 

“Maksud dokter? Saya salah?”

 

Dokter itu tersenyum sambil menggelengkan kepala. “Mas Yeri tidak salah. Saya hanya khawatir kalau Mbak Yuna tertekan jika tidak diperbolehkan ke mana-mana. Banyak wanita hamil di luar sana yang bisa beraktivitas seperti orang normal. Tidak perlu berlebihan membatasi pergerakan Mbak Yuna.”

 

Yeriko mendesah kesal. Ia merasa kalau tindakannya kali ini sudah benar. Ia ingin melindungi Yuna dan anak yang ada di dalam perutnya. Namun, dokter malah menyalahkan apa yang ia lakukan kali ini dan berhasil membuatnya kesal.

 

Yuna tersenyum saat mendapati raut wajah Yeriko yang memendam kekesalan. “Dokter, saya tidak merasa tertekan sedikit pun. Saya merasa bahagia menjalani hari-hari saya di dalam rumah. Karena saya juga ingin melindungi anak saya.”

 

Dokter itu tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

 

“Banyak aktivitas di rumah yang membuat saya terus bergerak. Naik turun tangga lima kali sehari saja sudah bisa bikin saya bergerak. Ada banyak juga aktivitas lain yang bisa saya lakukan seperti menyiram tanaman, masak, nyuci baju dan lain-lain. Saya sangat bahagia menjalani hari-hari saya di rumah,” lanjut Yuna sambil tersenyum.

 

“Baguslah kalau begitu. Ada keluhan atau nggak beberapa hari terakhir ini?”

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

Dokter itu tersenyum dan mulai melakukan pemeriksaan. Ia tidak memperdulikan Yeriko yang masih menahan kesal karena mendapat teguran darinya.

 

“Suami kamu memang pemarah seperti itu?” tanya dokter itu berbisik sambil meminta Yuna untuk berbaring di atas brankar.

 

Yuna hanya tersenyum menanggapi pertanyaan dokter.

 

“Nyaman?” tanya dokter itu lagi.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Meski suaminya kerap cemburu dan marah, tetap saja menjadi tempat ternyaman baginya.

 

Dokter itu tersenyum dan mulai melakukan pemeriksaan. Usai memeriksa, dokter itu meminta Yuna untuk kembali duduk di sebelah Yeriko.

 

“Kondisi ibu dan bayinya sangat sehat. Berat badan bayi sudah normal. Sekarang, tinggal mempersiapkan proses persalinan. Karena Mbak Yuna ingin lahir normal, maka harus mempersiapkan mental dengan baik. Nggak boleh setres, nggak boleh khawatir dan harus mendapat support dari suami.”

 

“Nggak perlu khawatir! Semua wanita merasakan sakitnya melahirkan. Tapi, mereka tetap ingin punya anak lagi setelahnya. Harus kuat dan berpikir positif! Pasti bisa!” tutur dokter itu sambil memberikan semangat.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia merasa sangat bahagia karena sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.

 

“Oh ya, satu lagi. Harus sering berhubungan sama suaminya ya!”

 

“Eh!? Maksudnya?” tanya Yuna sambil mengernyitkan dahi.

 

“Masa nggak tahu? Berhubungan intim dengan suaminya ya! Itu sangat baik untuk usia kehamilan saat menjelang persalinan. Bisa merangsang bayi untuk lahir dengan sehat dan selamat.”

 

Yeriko langsung tersenyum lebar mendengar ucapan dokter tersebut. “Bagusnya, berapa kali sehari, Dok?”

 

Dokter itu tertawa kecil. “Semampunya Mas Yeri saja.”

 

Yuna mengerutkan hidung sambil menatap wajah Yeriko. “Nggak usah tanya yang aneh-aneh!”

 

“Aneh-aneh gimana? Aku serius, Yun. Kalau aku sanggup dua puluh kali sehari, bahaya atau nggak buat anak kita? Ini kan harus ditanyakan juga.”

 

Dokter itu tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

 

“Udah, jangan tanya yang aneh-aneh!” pinta Yuna sambil menarik lengan Yeriko untuk bangkit. “Kami permisi dulu, Dok!” pamitnya sambil menarik lengan Yeriko keluar dari ruangan tersebut.

 

Yeriko langsung melepaskan genggaman tangan Yuna begitu mereka keluar. “Kenapa, Yun? Aku belum kelar tanya-tanya.”

 

“Iih ... aku malu kalau kamu tanya begitu.”

 

“Malu kenapa? Dia kan dokter, nggak perlu malu sama tenaga medis. Dia juga pasti tahu posisi yang paling enak saat bercinta.”

 

Yuna mengerutkan bibirnya. “Kamu mau nanyain soal kehamilan istri kamu atau posisi seks yang bagus saat hamil?”

 

“Dua-duanya,” jawab Yeriko sambil tertawa kecil. Ia bergelayut manja di pundak Yuna. “Malam ini, aku bakal pulang cepat. Kamu mau main berapa kali?”

 

“Iih ... apaan sih!?” sahut Yuna dengan pipi bersemu merah.

 

“Kenapa masih malu, sih?” tanya Yeriko. “Perut kamu sudah sebesar ini, nggak mungkin mau ngaku ke semua orang kalau kamu masih perawan.”

 

Yuna langsung menoleh ke arah Yeriko. “Aku nggak berpikiran begitu.”

 

“Terus?” tanya Yeriko menyelidik.

 

Yuna hanya meringis mendengar pertanyaan Yeriko. Tanpa diucapkan, Yeriko juga sebenarnya sudah mengetahui kalau Yuna selalu menikmati saat-saat gairah mereka dan tidak ingin berhenti begitu saja.

 

Yeriko ikut tertawa. Ia merangkul tubuh istrinya sambil melangkah keluar dari rumah sakit. Ia tak henti menciumi pipi Yuna hingga mengalihkan semua pasang mata yang bertemu dengan mereka.

 

((Bersambung ...))

 

 

Perfect Hero Bab 527 : Terkuaknya Masa Lalu Melan

 



“Kamu anaknya Melan?” tanya Lonan sambil tersenyum saat menatap wajah Bellina.

 

“Iya. Emang kenapa? Mau cari masalah di sini?” tanya Bellina sambil meneliti pria setengah baya itu.

 

Lonan tertawa kecil. “Nggak nyangka, kalau sifat kamu itu sangat mirip dengan aku.”

 

“Maksud kamu!?” Bellina membelalakkan matanya.

 

“Anak cantik ... hari ini aku ke sini, khusus untuk bertemu dengan kamu. Sudah bertahun-tahun aku nggak pernah lihat kamu. Aku sangat bahagia karena puteri kandungku dibesarkan dan dirawat dengan baik di keluarga ini,” tutur Lonan sambil tersenyum.

 

DUAR!

 

Hati Bellina serasa disambar petir begitu mendengar kalimat yang keluar dari mulut Lonan. Ia masih tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi dalam keluarganya. Ia langsung menatap Melan dan Tarudi bergantian untuk mendapatkan penjelasan.

 

“Nan, kamu keluar dari sini!” perintah Melan sambil mendorong tubuh Lonan.

 

“Kenapa? Aku nggak ketemu anak kita selama dua puluh lima tahun. Sekarang, dia sudah dewasa dan secantik ini. Apa masih perlu dirahasiakan lagi?” tanya Lonan.

 

“Bellina bukan anak kamu!” sahut Melan kesal. Ia berusaha mendorong tubuh Lonan keluar dari ruang rawat tersebut.

 

“Iya, aku nggak mungkin punya papa gembel kayak gini,” celetuk Bellina sambil menatap jijik ke arah Lonan.

 

Lonan membelalakkan matanya begitu mendengar ucapan Melan dan Bellina. Emosinya tersulut dan ia langsung mendorong tubuh Melan dari tubuhnya.

 

“Kalian nggak mau mengakui keberadaanku, hah!?” seru Lonan kesal. Ia langsung menunjuk wajah Melan. “Apa perlu aku bilang sama puteri kesayangan kita kalau kita baru aja tidur bareng malam ini!?”

 

Melan membelalakkan mata begitu mendengar ucapan Lonan. “Kamu ...!?” Ia berusaha membungkam mulut Lonan agar tidak mengungkapkan semua yang terjadi sebenarnya.

 

“Bener, Ma?” tanya Bellina sambil menggeleng-gelengkan kepala.

 

Melan tak menjawab pertanyaan Bellina.

 

Bellina menoleh ke arah Tarudi untuk mendapatkan jawaban yang ia inginkan.

 

Tarudi hanya tersenyum sinis sambil membuang wajahnya.

 

“Ma ...!” seru Bellina kesal. “Semua ini beneran!?”

 

“Bel, dengerin dulu penjelasan Mama!” pinta Melan sambil meraih kedua pundak Bellina.

 

Bellina langsung memundurkan langkahnya menjauhi Melan. “Aku nggak percaya, Mama udah berbuat sejahat ini sama kami,” ucapnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

 

“Bellina ... kamu itu anakku. Anak kandungku,” tutur Lonan sambil mendekati Bellina.

 

“Nggak! Aku bukan anak kamu!” seru Bellina.

 

“Kenyataannya, kamu adalah anak kandungku. Lihat! Sifat kita mirip banget. Kamu pasti anak kandungku,” tutur Lonan.

 

“Nggak mungkin!” seru Bellina. Ia tetap tidak bisa menerima kenyataan kalau Lonan adalah ayah kandungnya. “Kamu pasti cuma pura-pura jadi ayah kandungku. Supaya bisa memeras keluarga kami ‘kan?”

 

“Mama kamu juga nggak mengelak. Artinya, dia juga sudah mengakui kalau kamu adalah anak kandungku,” jawab Lonan sambil tersenyum ke arah Bellina.

 

“Aku nggak percaya! Kamu pergi dari sini!” seru Bellina.

 

“PERGI ...!” teriak Bellina histeris.

 

“Aku nggak akan pergi dari sini sebelum kamu mengakui kalau aku ini ayah kamu,” tutur Lonan.

 

“Nggak! Aku nggak punya ayah seperti kamu. Kalau nggak mau pergi dari sini, aku bakal panggilin polisi!” ancam Bellina.

 

“Hahaha. Walau kamu bikin aku masuk penjara sekalipun, aku ini tetap ayah kamu.”

 

Yeriko yang ada di sana ikut tersenyum sinis sambil menonton pertunjukkan keluarga itu. “Mantan narapidana, nggak akan pernah takut masuk penjara berkali-kali,” ucapnya santai sambil menatap semua orang yang ada di dalam ruangan itu.

 

“Maksud kamu!?” tanya Bellina sambil menatap wajah Yeriko.

 

Yeriko mengedikkan bahunya. “Tanyakan aja sama mama dan ayah kandung kamu itu!”

 

Lonan tersenyum kecil. “Aku memang sudah sering masuk penjara. Makanya, aku nggak pernah bisa ketemu sama puteri kesayanganku. Sekarang, aku sudah keluar dari penjara dan ingin ketemu sama puteri kandungku. Ada yang salah?”

 

“Sangat salah!” sahut Bellina kesal. Matanya juga tertuju pada Yuna yang sedang menonton perseteruan yang terjadi dalam keluarganya. Ia tidak ingin Yuna melihat dirinya sebagai lelucon.

 

Wilian hanya terdiam sambil menyandarkan punggungnya ke dinding ruangan. Ia masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat hari ini.

 

“Kamu!? Berani-beraninya melawan ayah kandung kamu sendiri! Kayak gini hasil didikan dari keluarga terhormat, hah!? Nggak ada sopan santun sedikit pun sama orang tua!?” tanya Lonan.

 

Semua orang terdiam mendengar pertanyaan Lonan.

 

“Hahaha. Walau dibesarkan di keluarga terhormat, sifat dan kelakukan kamu tetap saja seperti aku. Ayah kandung kamu sendiri. Lihat! Hahaha.” Lonan terus tertawa bahagia melihat semua orang yang menatap aneh ke arahnya.

 

“Ma, usir laki-laki ini dari sini!” seru Bellina sambil menatap wajah Melan.

 

Melan terdiam. Ia tidak bisa melawan Lonan, pria yang sudah ia cintai. Ia tidak ingin kalau Bellina membenci ayahnya sendiri. Walau ia belum yakin, siapa sebenarnya ayah biologis Bellina.

 

“Ma ...! Kalau Mama nggak mau usir laki-laki ini, artinya semua ini beneran!?” tanya Bellina lagi.

 

Melan menarik napas panjang. “Oke, oke. Mama akan jujur sama kamu. Sebenarnya ... Mama nggak tahu, kamu anak siapa.”

 

Bellina membelalakkan matanya. “APA!?”

 

Wilian langsung menoleh ke arah Bellina. Ia semakin tidak percaya dengan apa yang terjadi pada masa lalu Melan. Istrinya yang terkenal dari keluarga baik dan terhormat, ternyata hanya keturunan seorang penjahat.

 

“Mama nggak tahu kamu anak siapa. Bisa jadi, kamu anaknya Papa ... bisa jadi, kamu anak laki-laki ini.”

 

Bellina menatap wajah mamanya penuh tanya. Ia benar-benar tidak bisa menerima kenyataan yang terjadi hari ini. Terlebih, ia harus menerima kenyataan kalau ayah kandungnya tidak jelas. Artinya, mamanya selama ini berhubungan badan dengan dua pria sekaligus di masa lalunya.

 

Tarudi semakin kesal dengan Melan yang masih saja melakukan pembelaan. “Kenapa? Kamu nggak berani menerima kenyataan kalau Bellina sebenarnya anak dari laki-laki itu? Aku nggak keberatan kalau kalian pergi dari sini sekarang.”

 

“Pa, aku nggak mau percaya sama ini semua begitu aja. Aku ini anak Papa. Aku nggak mau jadi anak orang lain!” seru Bellina sambil menitikan air mata.

 

“Kenyataannya, kamu bukanlah anak papa. Kembalilah sama keluarga asli kamu. Papa tidak akan mengganggu kalian!”

 

“Maksud Papa?” tanya Bellina dengan mata berkaca-kaca.

 

“Mulai hari ini, Papa dan Mama kamu tidak akan ada hubungan apa-apa lagi. Papa sudah menyuruh pengacara untuk mengurus perceraian kami.”

 

“Pa, semuanya belum jelas. Kenapa Papa membuat keputusan secepat ini? Gimana kalau kita tes DNA terlebih dahulu. Untuk membuktikan, siapa ayah kandungku sebenarnya?”

 

Tarudi terdiam sejenak. “Oke. Papa akan turuti permintaan kamu untuk melakukan tes DNA. Namun, walau hasilnya kamu adalah anak Papa. Papa akan tetap menceraikan mama kamu.”

 

Bellina menarik napas dalam-dalam. Ia menganggukkan kepala, berharap kalau hasil tes DNA akan sama seperti yang dia inginkan.

 

Yeriko melangkah menghampiri Tarudi sambil melindungi istrinya. “Oom, cepat sehat ya! Semoga, semua bisa dilalui dengan mudah!” tutur Yeriko.

 

Yuna tersenyum sambil menatap wajah Tarudi. “Ini, aku buatkan bubur ayam untuk Oom Rudi. Diminum ya, Om ...! Semoga cepat sehat!”

 

“Makasih, Yuna!”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Kalau gitu, kami pamit dulu!” ucap Yeriko sambil mengajak Yuna keluar dari kamar rawat tersebut. Ia tersenyum sinis ke arah Bellina saat langkahnya sampai di depan tubuh wanita itu.

 

Bellina menatap Yeriko dan Yuna penuh kebencian. Ia merasa kalau Yuna dan Yeriko sengaja datang untuk melihat dirinya dan menjadikannya sebagai bahan lelucon. Kekesalan di dalam hatinya semakin memuncak saat Yuna dan Yeriko tersenyum ke arahnya.

 

 

((Bersambung ...))

 


Perfect Hero Bab 526 : Menutupi Kenyataan

 



Drrt ... Drrt ... Drrt ...!

 

Bellina langsung menyambar ponsel yang ia letakkan di atas meja rias saat ia baru saja selesai mandi.

 

“Halo ...!” sapa Bellina begitu ia menjawab panggilan telepon dari mamanya.

 

“Halo ...! Bel, papa kamu,” tutur Melan dengan suara panik.

 

“Papa kenapa, Ma?” tanya Bellina.

 

“Papa kamu masuk rumah sakit.”

 

“Hah!? Papa kenapa?”

 

“Kamu cepetan ke sini ya!”

 

“Iya. Iya. Aku sama Lian langsung ke sana, sekarang juga,” sahut Bellina sambil mematikan panggilan teleponnya. Ia buru-buru mengganti pakaiannya dan bersiap keluar dari kamar.

 

“Li, Lian ...!” panggil Bellina sambil menuruni anak tangga. Ia segera menghampiri Wilian yang sedang duduk santai sambil menonton televisi di ruang keluarga.

 

“Ada apa?” tanya Lian sambil menatap Bellina yang terlihat gelisah.

 

“Papaku masuk rumah sakit. Barusan, Mama telepon.”

 

“Hah!? Sakit apa?” tanya Lian.

 

“Nggak tahu. Kita ke sana, sekarang!” ajak Bellina.

 

Lian mengangguk dan bangkit dari tempat duduknya. “Aku ganti baju dulu!”

 

“Cepet ya!”

 

Lian mengangguk lagi. Ia segera mengganti pakaiannya dan bergegas pergi ke rumah sakit, tempat papanya Bellina mendapatkan perawatan.

 

 

 

...

 

 

 

Di rumah sakit ...

 

Melan terus menunggu di sisi Tarudi yang masih belum sadarkan diri. Ia terus menatap wajah suaminya dengan perasaan cemas. Banyak hal yang menghantui perasaannya saat ini. Ia tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan karena hubungannya dengan Lonan sudah diketahui oleh suaminya secara langsung.

 

Tarudi mengerjapkan matanya. Ia berusaha menyempurnakan pandangan yang masih samar-samar saat melihat langit-langit kamar tersebut. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan berhenti tepat di wajah Melan.

 

“Kamu ngapain di sini?” tanya Tarudi sambil membuang wajahnya. Ia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk menatap wajah Melan sedikit saja.

 

“Pa ...!” panggil Melan sambil meraih lengan Tarudi.

 

Tarudi langsung menepis tangan Melan dari lengannya. “Aku nggak mau lihat kamu lagi! Pergi dari sini!”

 

“Pa, Mama nggak bermaksud untuk ...”

 

“Pergi dari sini!” teriak Tarudi. “Perempuan nggak tahu diri kayak kamu, nggak pantas ada di dalam hidupku. Mulai sekarang, aku nggak mau lihat kamu lagi!” tegas Tarudi.

 

Melan menggeleng-gelengkan kepala. Seluruh tubuhnya bergetar karena melihat Tarudi yang telah merubah pandangan terhadap dirinya. Sementara, ia juga tak bisa membela dirinya sendiri lagi.

 

“Dokter ...!” panggil Tarudi saat dokter masuk ke dalam kamar rawatnya dan menghampiri Tarudi. “Suruh perempuan ini keluar dari kamar saya secepatnya! Saya nggak mau lihat wajah dia ada di sini!”

 

Dokter tersebut langsung menoleh ke arah Melan. “Maaf, Ibu ... demi kesembuhan pasien, kami memohon kepada ibu untuk keluar dari ruangan ini!” pinta dokter tersebut.

 

“Dok, saya ini istrinya. Saya mau nemenin suami saya, Dok.”

 

“Dia bukan istri saya, Dokter!” sahut Tarudi.

 

“Pa, kita ini suami istri. Kenapa papa bisa bilang begitu?”

 

“Mulai detik ini, kamu bukan lagi istriku!” tegas Tarudi.

 

“Pa ...!” Melan menatap pilu ke arah Tarudi.

 

“Maaf, Ibu ... silakan keluar dari ruangan ini. Kami harus melakukan pemeriksaan pada pasien. Mohon untuk tidak mengganggu pasien kami!”

 

Melan menatap pilu ke arah suaminya sambil melangkahkan kakinya keluar. Ia tidak benar-benar pergi meninggalkan suaminya. Ia menunggu di depan pintu sampai dokter selesai melakukan pemeriksaan.

 

“Gimana keadaan suami saya, Dokter?” tanya Melan setelah dokter itu selesai memeriksa Tarudi.

 

“Beliau dalam keadaan baik-baik saja. Hanya butuh banyak istirahat untuk memulihkan kondisinya,” jawab dokter itu sambil berlalu pergi untuk memeriksa pasien lainnya.

 

“Terima kasih, Dokter!” seru Melan.

 

“Ma, gimana keadaan Papa?” tanya Bellina yang tiba-tiba sudah ada di belakang Melan.

 

Melan langsung menoleh ke arah Bellina. “Papa kamu baik-baik aja. Dia cuma kelelahan.”

 

“Kenapa bisa kayak gini sih, Ma?” tanya Bellina. Ia langsung mendorong pintu kamar rawat papanya dan masuk perlahan.

 

“Papa kamu cuma kelelahan. Banyak pekerjaan akhir-akhir ini.”

 

Tarudi langsung menoleh ke arah pintu. “Kenapa? Kamu nggak punya keberanian untuk mengatakan apa yang terjadi sebenarnya?” tanyanya sambil menatap wajah Melan.

 

Bellina langsung menatap wajah papa dan mamanya bergantian. “Ini ada apa?” tanyanya bingung.

 

Tarudi terlihat sangat khawatir begitu Bellina menatapnya. Ia tidak ingin menyakiti puterinya. Namun, melihat wajah Bellina membuatnya merasakan sangat sakit. Ia teringat wajah Lonan begitu Bellina menatap sejajar ke arahnya.

 

“Pa, sebenarnya ada apa?” tanya Bellina sambil menghampiri ayahnya. Ia merasa tidak nyaman saat Tarudi menatapnya penuh kebencian.

 

“Iya, Pa. Sebenarnya ada apa? Seharusnya, Papa bisa menceritakan semuanya kepada kami.”

 

“Tanyakan sama mama kamu!” sahut Tarudi sambil menatap wajah Melan.

 

GLEG!

 

Melan menelan ludah saat Bellina dan Wilian juga ikut menoleh ke arahnya. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan pada puteri kesayangannya itu. Ia tidak ingin melukai Bellina. Tapi juga tidak bisa melanjutkan kebohongannya di depan suaminya sendiri.

 

“Ma, ada apa?” tanya Bellina sambil menatap Melan.

 

Melan menggelengkan kepala sambil tersenyum. “Nggak ada apa-apa, kok. Papa kamu cuma kelelahan. Jadi, dia terlalu banyak berpikir.”

 

Tarudi tersenyum sinis melihat sandiwara istrinya. Kini, ia menyadari kebodohannya karena sudah tertipu selama bertahun-tahun. Hal yang paling menyakitkan baginya adalah mengetahui kenyataan kalau Bellina bukan puteri kandungnya.

 

“Kamu nggak berani ngomong sama anak kamu sendiri? Mau membohongi dia untuk berapa lama? Dua puluh lima tahun, kamu membohongi saya!” tutur Tarudi sambil menatap tajam ke arah Melan.

 

Bellina dan Wilian langsung menoleh ke arah Tarudi yang berbicara penuh kebencian. Mereka semakin tidak mengerti apa yang telah terjadi pada kedua orang tua Bellina.

 

“Pa, sebenarnya ada apa?” tanya Bellina sambil menatap papanya.

 

“Tanyakan sama mama kamu itu!” sahut Tarudi sambil menatap Melan penuh kebencian.

 

Melan menatap Bellina dan Tarudi bergantian. Ia berusaha tersenyum meski bibir dan tubuhnya gemetaran. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan pada Bellina kali ini. Ia tidak mungkin mengatakan kalau Bellina adalah anak kandung Lonan. Sementara, ia sendiri tidak bisa memastikan kebenarannya.

 

“Kamu masih nggak berani jujur di hadapan anak kamu sendiri!?” sentak Tarudi.

 

“Pa, jangan kasar gini sama Mama!” pinta Bellina sambil menatap wajah ayahnya.

 

“Mama kamu yang sudah membuat Papa jadi seperti ini. Tanyakan sama dia, kenapa nggak mau jujur sama kamu?”

 

Bellina langsung menoleh ke arah Melan. “Ma, ini ada apa? Kenapa papa sampai semarah ini sama Mama?”

 

Melan tak menjawab. Ia hanya menatap Bellina penuh kekhawatiran. Ia takut jika Bellina ikut membenci dirinya jika mengetahui kenyataan yang terjadi hari ini. Ia tidak ingin kehilangan semuanya.

 

Wilian merengkuh tubuh Bellina untuk menenangkan istrinya tersebut. “Jangan emosi! Semua bisa dibicarakan baik-baik,” bisiknya.

 

Bellina melipat kedua tangan di dada sambil menatap Melan. Ia menunggu mamanya yang masih bergeming itu mengatakan sesuatu di hadapannya. Mengatakan kejujuran seperti yang diutarakan oleh papanya beberapa detik lalu.

 

“Hai ...! Selamat pagi ...!” sapa Lonan yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan tersebut.

 

Bellina langsung menoleh ke arah pintu. Matanya tertuju pada pria berpenampilan urakan yang sudah berdiri di hadapannya. Di balik pintu ruangan yang terbuka, ada Yuna dan Yeriko yang berdiri menatap ruangan tersebut tanpa melangkah masuk ke dalam ruang rawat.

 

Bellina menatap Lonan penuh kebencian. Juga sepasang suami-istri di belakangnya yang juga ia benci selama ini. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh pria setengah baya yang penampilannya sangat kacau. Melihatnya saja, ia sudah merasa jijik.

 

“Kamu siapa?” tanya Bellina sambil menatap wajah Lonan. “Tiba-tiba masuk ke ruangan ini. Kalau nggak ada kepentingan, lebih baik kamu keluar dari ruangan ini!”

 

Lonan tertawa kecil sambil menatap wajah Bellina yang mirip sekali dengan Melan. Melihat sikap Bellina yang kasar, membuat ia teringat pada dirinya sendiri. Ia merasa kalau sifat Bellina sangat mirip dengannya dan membuatnya semakin yakin kalau Bellina adalah puteri kandungnya.

 

 

 

 

 ((Bersambung ...))

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas