Tuesday, April 28, 2026

Perfect Hero Bab 526 : Menutupi Kenyataan

 



Drrt ... Drrt ... Drrt ...!

 

Bellina langsung menyambar ponsel yang ia letakkan di atas meja rias saat ia baru saja selesai mandi.

 

“Halo ...!” sapa Bellina begitu ia menjawab panggilan telepon dari mamanya.

 

“Halo ...! Bel, papa kamu,” tutur Melan dengan suara panik.

 

“Papa kenapa, Ma?” tanya Bellina.

 

“Papa kamu masuk rumah sakit.”

 

“Hah!? Papa kenapa?”

 

“Kamu cepetan ke sini ya!”

 

“Iya. Iya. Aku sama Lian langsung ke sana, sekarang juga,” sahut Bellina sambil mematikan panggilan teleponnya. Ia buru-buru mengganti pakaiannya dan bersiap keluar dari kamar.

 

“Li, Lian ...!” panggil Bellina sambil menuruni anak tangga. Ia segera menghampiri Wilian yang sedang duduk santai sambil menonton televisi di ruang keluarga.

 

“Ada apa?” tanya Lian sambil menatap Bellina yang terlihat gelisah.

 

“Papaku masuk rumah sakit. Barusan, Mama telepon.”

 

“Hah!? Sakit apa?” tanya Lian.

 

“Nggak tahu. Kita ke sana, sekarang!” ajak Bellina.

 

Lian mengangguk dan bangkit dari tempat duduknya. “Aku ganti baju dulu!”

 

“Cepet ya!”

 

Lian mengangguk lagi. Ia segera mengganti pakaiannya dan bergegas pergi ke rumah sakit, tempat papanya Bellina mendapatkan perawatan.

 

 

 

...

 

 

 

Di rumah sakit ...

 

Melan terus menunggu di sisi Tarudi yang masih belum sadarkan diri. Ia terus menatap wajah suaminya dengan perasaan cemas. Banyak hal yang menghantui perasaannya saat ini. Ia tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan karena hubungannya dengan Lonan sudah diketahui oleh suaminya secara langsung.

 

Tarudi mengerjapkan matanya. Ia berusaha menyempurnakan pandangan yang masih samar-samar saat melihat langit-langit kamar tersebut. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan berhenti tepat di wajah Melan.

 

“Kamu ngapain di sini?” tanya Tarudi sambil membuang wajahnya. Ia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk menatap wajah Melan sedikit saja.

 

“Pa ...!” panggil Melan sambil meraih lengan Tarudi.

 

Tarudi langsung menepis tangan Melan dari lengannya. “Aku nggak mau lihat kamu lagi! Pergi dari sini!”

 

“Pa, Mama nggak bermaksud untuk ...”

 

“Pergi dari sini!” teriak Tarudi. “Perempuan nggak tahu diri kayak kamu, nggak pantas ada di dalam hidupku. Mulai sekarang, aku nggak mau lihat kamu lagi!” tegas Tarudi.

 

Melan menggeleng-gelengkan kepala. Seluruh tubuhnya bergetar karena melihat Tarudi yang telah merubah pandangan terhadap dirinya. Sementara, ia juga tak bisa membela dirinya sendiri lagi.

 

“Dokter ...!” panggil Tarudi saat dokter masuk ke dalam kamar rawatnya dan menghampiri Tarudi. “Suruh perempuan ini keluar dari kamar saya secepatnya! Saya nggak mau lihat wajah dia ada di sini!”

 

Dokter tersebut langsung menoleh ke arah Melan. “Maaf, Ibu ... demi kesembuhan pasien, kami memohon kepada ibu untuk keluar dari ruangan ini!” pinta dokter tersebut.

 

“Dok, saya ini istrinya. Saya mau nemenin suami saya, Dok.”

 

“Dia bukan istri saya, Dokter!” sahut Tarudi.

 

“Pa, kita ini suami istri. Kenapa papa bisa bilang begitu?”

 

“Mulai detik ini, kamu bukan lagi istriku!” tegas Tarudi.

 

“Pa ...!” Melan menatap pilu ke arah Tarudi.

 

“Maaf, Ibu ... silakan keluar dari ruangan ini. Kami harus melakukan pemeriksaan pada pasien. Mohon untuk tidak mengganggu pasien kami!”

 

Melan menatap pilu ke arah suaminya sambil melangkahkan kakinya keluar. Ia tidak benar-benar pergi meninggalkan suaminya. Ia menunggu di depan pintu sampai dokter selesai melakukan pemeriksaan.

 

“Gimana keadaan suami saya, Dokter?” tanya Melan setelah dokter itu selesai memeriksa Tarudi.

 

“Beliau dalam keadaan baik-baik saja. Hanya butuh banyak istirahat untuk memulihkan kondisinya,” jawab dokter itu sambil berlalu pergi untuk memeriksa pasien lainnya.

 

“Terima kasih, Dokter!” seru Melan.

 

“Ma, gimana keadaan Papa?” tanya Bellina yang tiba-tiba sudah ada di belakang Melan.

 

Melan langsung menoleh ke arah Bellina. “Papa kamu baik-baik aja. Dia cuma kelelahan.”

 

“Kenapa bisa kayak gini sih, Ma?” tanya Bellina. Ia langsung mendorong pintu kamar rawat papanya dan masuk perlahan.

 

“Papa kamu cuma kelelahan. Banyak pekerjaan akhir-akhir ini.”

 

Tarudi langsung menoleh ke arah pintu. “Kenapa? Kamu nggak punya keberanian untuk mengatakan apa yang terjadi sebenarnya?” tanyanya sambil menatap wajah Melan.

 

Bellina langsung menatap wajah papa dan mamanya bergantian. “Ini ada apa?” tanyanya bingung.

 

Tarudi terlihat sangat khawatir begitu Bellina menatapnya. Ia tidak ingin menyakiti puterinya. Namun, melihat wajah Bellina membuatnya merasakan sangat sakit. Ia teringat wajah Lonan begitu Bellina menatap sejajar ke arahnya.

 

“Pa, sebenarnya ada apa?” tanya Bellina sambil menghampiri ayahnya. Ia merasa tidak nyaman saat Tarudi menatapnya penuh kebencian.

 

“Iya, Pa. Sebenarnya ada apa? Seharusnya, Papa bisa menceritakan semuanya kepada kami.”

 

“Tanyakan sama mama kamu!” sahut Tarudi sambil menatap wajah Melan.

 

GLEG!

 

Melan menelan ludah saat Bellina dan Wilian juga ikut menoleh ke arahnya. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan pada puteri kesayangannya itu. Ia tidak ingin melukai Bellina. Tapi juga tidak bisa melanjutkan kebohongannya di depan suaminya sendiri.

 

“Ma, ada apa?” tanya Bellina sambil menatap Melan.

 

Melan menggelengkan kepala sambil tersenyum. “Nggak ada apa-apa, kok. Papa kamu cuma kelelahan. Jadi, dia terlalu banyak berpikir.”

 

Tarudi tersenyum sinis melihat sandiwara istrinya. Kini, ia menyadari kebodohannya karena sudah tertipu selama bertahun-tahun. Hal yang paling menyakitkan baginya adalah mengetahui kenyataan kalau Bellina bukan puteri kandungnya.

 

“Kamu nggak berani ngomong sama anak kamu sendiri? Mau membohongi dia untuk berapa lama? Dua puluh lima tahun, kamu membohongi saya!” tutur Tarudi sambil menatap tajam ke arah Melan.

 

Bellina dan Wilian langsung menoleh ke arah Tarudi yang berbicara penuh kebencian. Mereka semakin tidak mengerti apa yang telah terjadi pada kedua orang tua Bellina.

 

“Pa, sebenarnya ada apa?” tanya Bellina sambil menatap papanya.

 

“Tanyakan sama mama kamu itu!” sahut Tarudi sambil menatap Melan penuh kebencian.

 

Melan menatap Bellina dan Tarudi bergantian. Ia berusaha tersenyum meski bibir dan tubuhnya gemetaran. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan pada Bellina kali ini. Ia tidak mungkin mengatakan kalau Bellina adalah anak kandung Lonan. Sementara, ia sendiri tidak bisa memastikan kebenarannya.

 

“Kamu masih nggak berani jujur di hadapan anak kamu sendiri!?” sentak Tarudi.

 

“Pa, jangan kasar gini sama Mama!” pinta Bellina sambil menatap wajah ayahnya.

 

“Mama kamu yang sudah membuat Papa jadi seperti ini. Tanyakan sama dia, kenapa nggak mau jujur sama kamu?”

 

Bellina langsung menoleh ke arah Melan. “Ma, ini ada apa? Kenapa papa sampai semarah ini sama Mama?”

 

Melan tak menjawab. Ia hanya menatap Bellina penuh kekhawatiran. Ia takut jika Bellina ikut membenci dirinya jika mengetahui kenyataan yang terjadi hari ini. Ia tidak ingin kehilangan semuanya.

 

Wilian merengkuh tubuh Bellina untuk menenangkan istrinya tersebut. “Jangan emosi! Semua bisa dibicarakan baik-baik,” bisiknya.

 

Bellina melipat kedua tangan di dada sambil menatap Melan. Ia menunggu mamanya yang masih bergeming itu mengatakan sesuatu di hadapannya. Mengatakan kejujuran seperti yang diutarakan oleh papanya beberapa detik lalu.

 

“Hai ...! Selamat pagi ...!” sapa Lonan yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan tersebut.

 

Bellina langsung menoleh ke arah pintu. Matanya tertuju pada pria berpenampilan urakan yang sudah berdiri di hadapannya. Di balik pintu ruangan yang terbuka, ada Yuna dan Yeriko yang berdiri menatap ruangan tersebut tanpa melangkah masuk ke dalam ruang rawat.

 

Bellina menatap Lonan penuh kebencian. Juga sepasang suami-istri di belakangnya yang juga ia benci selama ini. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh pria setengah baya yang penampilannya sangat kacau. Melihatnya saja, ia sudah merasa jijik.

 

“Kamu siapa?” tanya Bellina sambil menatap wajah Lonan. “Tiba-tiba masuk ke ruangan ini. Kalau nggak ada kepentingan, lebih baik kamu keluar dari ruangan ini!”

 

Lonan tertawa kecil sambil menatap wajah Bellina yang mirip sekali dengan Melan. Melihat sikap Bellina yang kasar, membuat ia teringat pada dirinya sendiri. Ia merasa kalau sifat Bellina sangat mirip dengannya dan membuatnya semakin yakin kalau Bellina adalah puteri kandungnya.

 

 

 

 

 ((Bersambung ...))

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas