Drrt ... Drrt ... Drrt ...!
Bellina langsung menyambar
ponsel yang ia letakkan di atas meja rias saat ia baru saja selesai mandi.
“Halo ...!” sapa Bellina
begitu ia menjawab panggilan telepon dari mamanya.
“Halo ...! Bel, papa kamu,”
tutur Melan dengan suara panik.
“Papa kenapa, Ma?” tanya
Bellina.
“Papa kamu masuk rumah
sakit.”
“Hah!? Papa kenapa?”
“Kamu cepetan ke sini ya!”
“Iya. Iya. Aku sama Lian
langsung ke sana, sekarang juga,” sahut Bellina sambil mematikan panggilan
teleponnya. Ia buru-buru mengganti pakaiannya dan bersiap keluar dari kamar.
“Li, Lian ...!” panggil
Bellina sambil menuruni anak tangga. Ia segera menghampiri Wilian yang sedang
duduk santai sambil menonton televisi di ruang keluarga.
“Ada apa?” tanya Lian sambil
menatap Bellina yang terlihat gelisah.
“Papaku masuk rumah sakit.
Barusan, Mama telepon.”
“Hah!? Sakit apa?” tanya
Lian.
“Nggak tahu. Kita ke sana,
sekarang!” ajak Bellina.
Lian mengangguk dan bangkit
dari tempat duduknya. “Aku ganti baju dulu!”
“Cepet ya!”
Lian mengangguk lagi. Ia
segera mengganti pakaiannya dan bergegas pergi ke rumah sakit, tempat papanya
Bellina mendapatkan perawatan.
...
Di rumah sakit ...
Melan terus menunggu di sisi
Tarudi yang masih belum sadarkan diri. Ia terus menatap wajah suaminya dengan
perasaan cemas. Banyak hal yang menghantui perasaannya saat ini. Ia tidak tahu
lagi apa yang harus ia lakukan karena hubungannya dengan Lonan sudah diketahui
oleh suaminya secara langsung.
Tarudi mengerjapkan matanya.
Ia berusaha menyempurnakan pandangan yang masih samar-samar saat melihat
langit-langit kamar tersebut. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan
dan berhenti tepat di wajah Melan.
“Kamu ngapain di sini?” tanya
Tarudi sambil membuang wajahnya. Ia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk
menatap wajah Melan sedikit saja.
“Pa ...!” panggil Melan
sambil meraih lengan Tarudi.
Tarudi langsung menepis
tangan Melan dari lengannya. “Aku nggak mau lihat kamu lagi! Pergi dari sini!”
“Pa, Mama nggak bermaksud
untuk ...”
“Pergi dari sini!” teriak
Tarudi. “Perempuan nggak tahu diri kayak kamu, nggak pantas ada di dalam
hidupku. Mulai sekarang, aku nggak mau lihat kamu lagi!” tegas Tarudi.
Melan menggeleng-gelengkan
kepala. Seluruh tubuhnya bergetar karena melihat Tarudi yang telah merubah
pandangan terhadap dirinya. Sementara, ia juga tak bisa membela dirinya sendiri
lagi.
“Dokter ...!” panggil Tarudi
saat dokter masuk ke dalam kamar rawatnya dan menghampiri Tarudi. “Suruh
perempuan ini keluar dari kamar saya secepatnya! Saya nggak mau lihat wajah dia
ada di sini!”
Dokter tersebut langsung
menoleh ke arah Melan. “Maaf, Ibu ... demi kesembuhan pasien, kami memohon
kepada ibu untuk keluar dari ruangan ini!” pinta dokter tersebut.
“Dok, saya ini istrinya. Saya
mau nemenin suami saya, Dok.”
“Dia bukan istri saya,
Dokter!” sahut Tarudi.
“Pa, kita ini suami istri.
Kenapa papa bisa bilang begitu?”
“Mulai detik ini, kamu bukan
lagi istriku!” tegas Tarudi.
“Pa ...!” Melan menatap pilu
ke arah Tarudi.
“Maaf, Ibu ... silakan keluar
dari ruangan ini. Kami harus melakukan pemeriksaan pada pasien. Mohon untuk
tidak mengganggu pasien kami!”
Melan menatap pilu ke arah
suaminya sambil melangkahkan kakinya keluar. Ia tidak benar-benar pergi
meninggalkan suaminya. Ia menunggu di depan pintu sampai dokter selesai
melakukan pemeriksaan.
“Gimana keadaan suami saya,
Dokter?” tanya Melan setelah dokter itu selesai memeriksa Tarudi.
“Beliau dalam keadaan
baik-baik saja. Hanya butuh banyak istirahat untuk memulihkan kondisinya,”
jawab dokter itu sambil berlalu pergi untuk memeriksa pasien lainnya.
“Terima kasih, Dokter!” seru
Melan.
“Ma, gimana keadaan Papa?”
tanya Bellina yang tiba-tiba sudah ada di belakang Melan.
Melan langsung menoleh ke
arah Bellina. “Papa kamu baik-baik aja. Dia cuma kelelahan.”
“Kenapa bisa kayak gini sih,
Ma?” tanya Bellina. Ia langsung mendorong pintu kamar rawat papanya dan masuk
perlahan.
“Papa kamu cuma kelelahan.
Banyak pekerjaan akhir-akhir ini.”
Tarudi langsung menoleh ke
arah pintu. “Kenapa? Kamu nggak punya keberanian untuk mengatakan apa yang
terjadi sebenarnya?” tanyanya sambil menatap wajah Melan.
Bellina langsung menatap
wajah papa dan mamanya bergantian. “Ini ada apa?” tanyanya bingung.
Tarudi terlihat sangat
khawatir begitu Bellina menatapnya. Ia tidak ingin menyakiti puterinya. Namun,
melihat wajah Bellina membuatnya merasakan sangat sakit. Ia teringat wajah
Lonan begitu Bellina menatap sejajar ke arahnya.
“Pa, sebenarnya ada apa?”
tanya Bellina sambil menghampiri ayahnya. Ia merasa tidak nyaman saat Tarudi
menatapnya penuh kebencian.
“Iya, Pa. Sebenarnya ada apa?
Seharusnya, Papa bisa menceritakan semuanya kepada kami.”
“Tanyakan sama mama kamu!”
sahut Tarudi sambil menatap wajah Melan.
GLEG!
Melan menelan ludah saat
Bellina dan Wilian juga ikut menoleh ke arahnya. Ia tidak tahu apa yang harus
dikatakan pada puteri kesayangannya itu. Ia tidak ingin melukai Bellina. Tapi
juga tidak bisa melanjutkan kebohongannya di depan suaminya sendiri.
“Ma, ada apa?” tanya Bellina
sambil menatap Melan.
Melan menggelengkan kepala
sambil tersenyum. “Nggak ada apa-apa, kok. Papa kamu cuma kelelahan. Jadi, dia
terlalu banyak berpikir.”
Tarudi tersenyum sinis
melihat sandiwara istrinya. Kini, ia menyadari kebodohannya karena sudah
tertipu selama bertahun-tahun. Hal yang paling menyakitkan baginya adalah
mengetahui kenyataan kalau Bellina bukan puteri kandungnya.
“Kamu nggak berani ngomong
sama anak kamu sendiri? Mau membohongi dia untuk berapa lama? Dua puluh lima
tahun, kamu membohongi saya!” tutur Tarudi sambil menatap tajam ke arah Melan.
Bellina dan Wilian langsung
menoleh ke arah Tarudi yang berbicara penuh kebencian. Mereka semakin tidak
mengerti apa yang telah terjadi pada kedua orang tua Bellina.
“Pa, sebenarnya ada apa?”
tanya Bellina sambil menatap papanya.
“Tanyakan sama mama kamu
itu!” sahut Tarudi sambil menatap Melan penuh kebencian.
Melan menatap Bellina dan
Tarudi bergantian. Ia berusaha tersenyum meski bibir dan tubuhnya gemetaran. Ia
tidak tahu apa yang harus dikatakan pada Bellina kali ini. Ia tidak mungkin
mengatakan kalau Bellina adalah anak kandung Lonan. Sementara, ia sendiri tidak
bisa memastikan kebenarannya.
“Kamu masih nggak berani
jujur di hadapan anak kamu sendiri!?” sentak Tarudi.
“Pa, jangan kasar gini sama
Mama!” pinta Bellina sambil menatap wajah ayahnya.
“Mama kamu yang sudah membuat
Papa jadi seperti ini. Tanyakan sama dia, kenapa nggak mau jujur sama kamu?”
Bellina langsung menoleh ke
arah Melan. “Ma, ini ada apa? Kenapa papa sampai semarah ini sama Mama?”
Melan tak menjawab. Ia hanya
menatap Bellina penuh kekhawatiran. Ia takut jika Bellina ikut membenci dirinya
jika mengetahui kenyataan yang terjadi hari ini. Ia tidak ingin kehilangan
semuanya.
Wilian merengkuh tubuh
Bellina untuk menenangkan istrinya tersebut. “Jangan emosi! Semua bisa
dibicarakan baik-baik,” bisiknya.
Bellina melipat kedua tangan
di dada sambil menatap Melan. Ia menunggu mamanya yang masih bergeming itu
mengatakan sesuatu di hadapannya. Mengatakan kejujuran seperti yang diutarakan
oleh papanya beberapa detik lalu.
“Hai ...! Selamat pagi ...!”
sapa Lonan yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan tersebut.
Bellina langsung menoleh ke
arah pintu. Matanya tertuju pada pria berpenampilan urakan yang sudah berdiri
di hadapannya. Di balik pintu ruangan yang terbuka, ada Yuna dan Yeriko yang
berdiri menatap ruangan tersebut tanpa melangkah masuk ke dalam ruang rawat.
Bellina menatap Lonan penuh
kebencian. Juga sepasang suami-istri di belakangnya yang juga ia benci selama
ini. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh pria setengah baya yang
penampilannya sangat kacau. Melihatnya saja, ia sudah merasa jijik.
“Kamu siapa?” tanya Bellina
sambil menatap wajah Lonan. “Tiba-tiba masuk ke ruangan ini. Kalau nggak ada
kepentingan, lebih baik kamu keluar dari ruangan ini!”
Lonan tertawa kecil sambil
menatap wajah Bellina yang mirip sekali dengan Melan. Melihat sikap Bellina
yang kasar, membuat ia teringat pada dirinya sendiri. Ia merasa kalau sifat
Bellina sangat mirip dengannya dan membuatnya semakin yakin kalau Bellina adalah
puteri kandungnya.
((Bersambung ...))

0 komentar:
Post a Comment