“Kamu anaknya Melan?” tanya
Lonan sambil tersenyum saat menatap wajah Bellina.
“Iya. Emang kenapa? Mau cari
masalah di sini?” tanya Bellina sambil meneliti pria setengah baya itu.
Lonan tertawa kecil. “Nggak
nyangka, kalau sifat kamu itu sangat mirip dengan aku.”
“Maksud kamu!?” Bellina
membelalakkan matanya.
“Anak cantik ... hari ini aku
ke sini, khusus untuk bertemu dengan kamu. Sudah bertahun-tahun aku nggak
pernah lihat kamu. Aku sangat bahagia karena puteri kandungku dibesarkan dan
dirawat dengan baik di keluarga ini,” tutur Lonan sambil tersenyum.
DUAR!
Hati Bellina serasa disambar
petir begitu mendengar kalimat yang keluar dari mulut Lonan. Ia masih tidak
mengerti dengan apa yang telah terjadi dalam keluarganya. Ia langsung menatap
Melan dan Tarudi bergantian untuk mendapatkan penjelasan.
“Nan, kamu keluar dari sini!”
perintah Melan sambil mendorong tubuh Lonan.
“Kenapa? Aku nggak ketemu
anak kita selama dua puluh lima tahun. Sekarang, dia sudah dewasa dan secantik
ini. Apa masih perlu dirahasiakan lagi?” tanya Lonan.
“Bellina bukan anak kamu!”
sahut Melan kesal. Ia berusaha mendorong tubuh Lonan keluar dari ruang rawat
tersebut.
“Iya, aku nggak mungkin punya
papa gembel kayak gini,” celetuk Bellina sambil menatap jijik ke arah Lonan.
Lonan membelalakkan matanya
begitu mendengar ucapan Melan dan Bellina. Emosinya tersulut dan ia langsung
mendorong tubuh Melan dari tubuhnya.
“Kalian nggak mau mengakui
keberadaanku, hah!?” seru Lonan kesal. Ia langsung menunjuk wajah Melan. “Apa
perlu aku bilang sama puteri kesayangan kita kalau kita baru aja tidur bareng
malam ini!?”
Melan membelalakkan mata
begitu mendengar ucapan Lonan. “Kamu ...!?” Ia berusaha membungkam mulut Lonan
agar tidak mengungkapkan semua yang terjadi sebenarnya.
“Bener, Ma?” tanya Bellina
sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Melan tak menjawab pertanyaan
Bellina.
Bellina menoleh ke arah
Tarudi untuk mendapatkan jawaban yang ia inginkan.
Tarudi hanya tersenyum sinis
sambil membuang wajahnya.
“Ma ...!” seru Bellina kesal.
“Semua ini beneran!?”
“Bel, dengerin dulu
penjelasan Mama!” pinta Melan sambil meraih kedua pundak Bellina.
Bellina langsung memundurkan
langkahnya menjauhi Melan. “Aku nggak percaya, Mama udah berbuat sejahat ini
sama kami,” ucapnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Bellina ... kamu itu anakku.
Anak kandungku,” tutur Lonan sambil mendekati Bellina.
“Nggak! Aku bukan anak kamu!”
seru Bellina.
“Kenyataannya, kamu adalah
anak kandungku. Lihat! Sifat kita mirip banget. Kamu pasti anak kandungku,”
tutur Lonan.
“Nggak mungkin!” seru
Bellina. Ia tetap tidak bisa menerima kenyataan kalau Lonan adalah ayah
kandungnya. “Kamu pasti cuma pura-pura jadi ayah kandungku. Supaya bisa memeras
keluarga kami ‘kan?”
“Mama kamu juga nggak
mengelak. Artinya, dia juga sudah mengakui kalau kamu adalah anak kandungku,”
jawab Lonan sambil tersenyum ke arah Bellina.
“Aku nggak percaya! Kamu
pergi dari sini!” seru Bellina.
“PERGI ...!” teriak Bellina
histeris.
“Aku nggak akan pergi dari
sini sebelum kamu mengakui kalau aku ini ayah kamu,” tutur Lonan.
“Nggak! Aku nggak punya ayah
seperti kamu. Kalau nggak mau pergi dari sini, aku bakal panggilin polisi!”
ancam Bellina.
“Hahaha. Walau kamu bikin aku
masuk penjara sekalipun, aku ini tetap ayah kamu.”
Yeriko yang ada di sana ikut
tersenyum sinis sambil menonton pertunjukkan keluarga itu. “Mantan narapidana,
nggak akan pernah takut masuk penjara berkali-kali,” ucapnya santai sambil
menatap semua orang yang ada di dalam ruangan itu.
“Maksud kamu!?” tanya Bellina
sambil menatap wajah Yeriko.
Yeriko mengedikkan bahunya.
“Tanyakan aja sama mama dan ayah kandung kamu itu!”
Lonan tersenyum kecil. “Aku
memang sudah sering masuk penjara. Makanya, aku nggak pernah bisa ketemu sama
puteri kesayanganku. Sekarang, aku sudah keluar dari penjara dan ingin ketemu
sama puteri kandungku. Ada yang salah?”
“Sangat salah!” sahut Bellina
kesal. Matanya juga tertuju pada Yuna yang sedang menonton perseteruan yang
terjadi dalam keluarganya. Ia tidak ingin Yuna melihat dirinya sebagai lelucon.
Wilian hanya terdiam sambil
menyandarkan punggungnya ke dinding ruangan. Ia masih tidak percaya dengan apa
yang ia lihat hari ini.
“Kamu!? Berani-beraninya
melawan ayah kandung kamu sendiri! Kayak gini hasil didikan dari keluarga
terhormat, hah!? Nggak ada sopan santun sedikit pun sama orang tua!?” tanya
Lonan.
Semua orang terdiam mendengar
pertanyaan Lonan.
“Hahaha. Walau dibesarkan di
keluarga terhormat, sifat dan kelakukan kamu tetap saja seperti aku. Ayah
kandung kamu sendiri. Lihat! Hahaha.” Lonan terus tertawa bahagia melihat semua
orang yang menatap aneh ke arahnya.
“Ma, usir laki-laki ini dari
sini!” seru Bellina sambil menatap wajah Melan.
Melan terdiam. Ia tidak bisa
melawan Lonan, pria yang sudah ia cintai. Ia tidak ingin kalau Bellina membenci
ayahnya sendiri. Walau ia belum yakin, siapa sebenarnya ayah biologis Bellina.
“Ma ...! Kalau Mama nggak mau
usir laki-laki ini, artinya semua ini beneran!?” tanya Bellina lagi.
Melan menarik napas panjang.
“Oke, oke. Mama akan jujur sama kamu. Sebenarnya ... Mama nggak tahu, kamu anak
siapa.”
Bellina membelalakkan
matanya. “APA!?”
Wilian langsung menoleh ke
arah Bellina. Ia semakin tidak percaya dengan apa yang terjadi pada masa lalu
Melan. Istrinya yang terkenal dari keluarga baik dan terhormat, ternyata hanya
keturunan seorang penjahat.
“Mama nggak tahu kamu anak
siapa. Bisa jadi, kamu anaknya Papa ... bisa jadi, kamu anak laki-laki ini.”
Bellina menatap wajah mamanya
penuh tanya. Ia benar-benar tidak bisa menerima kenyataan yang terjadi hari
ini. Terlebih, ia harus menerima kenyataan kalau ayah kandungnya tidak jelas.
Artinya, mamanya selama ini berhubungan badan dengan dua pria sekaligus di masa
lalunya.
Tarudi semakin kesal dengan
Melan yang masih saja melakukan pembelaan. “Kenapa? Kamu nggak berani menerima
kenyataan kalau Bellina sebenarnya anak dari laki-laki itu? Aku nggak keberatan
kalau kalian pergi dari sini sekarang.”
“Pa, aku nggak mau percaya
sama ini semua begitu aja. Aku ini anak Papa. Aku nggak mau jadi anak orang
lain!” seru Bellina sambil menitikan air mata.
“Kenyataannya, kamu bukanlah
anak papa. Kembalilah sama keluarga asli kamu. Papa tidak akan mengganggu
kalian!”
“Maksud Papa?” tanya Bellina
dengan mata berkaca-kaca.
“Mulai hari ini, Papa dan
Mama kamu tidak akan ada hubungan apa-apa lagi. Papa sudah menyuruh pengacara
untuk mengurus perceraian kami.”
“Pa, semuanya belum jelas.
Kenapa Papa membuat keputusan secepat ini? Gimana kalau kita tes DNA terlebih
dahulu. Untuk membuktikan, siapa ayah kandungku sebenarnya?”
Tarudi terdiam sejenak. “Oke.
Papa akan turuti permintaan kamu untuk melakukan tes DNA. Namun, walau hasilnya
kamu adalah anak Papa. Papa akan tetap menceraikan mama kamu.”
Bellina menarik napas
dalam-dalam. Ia menganggukkan kepala, berharap kalau hasil tes DNA akan sama
seperti yang dia inginkan.
Yeriko melangkah menghampiri
Tarudi sambil melindungi istrinya. “Oom, cepat sehat ya! Semoga, semua bisa
dilalui dengan mudah!” tutur Yeriko.
Yuna tersenyum sambil menatap
wajah Tarudi. “Ini, aku buatkan bubur ayam untuk Oom Rudi. Diminum ya, Om ...!
Semoga cepat sehat!”
“Makasih, Yuna!”
Yuna menganggukkan kepala.
“Kalau gitu, kami pamit
dulu!” ucap Yeriko sambil mengajak Yuna keluar dari kamar rawat tersebut. Ia
tersenyum sinis ke arah Bellina saat langkahnya sampai di depan tubuh wanita
itu.
Bellina menatap Yeriko dan
Yuna penuh kebencian. Ia merasa kalau Yuna dan Yeriko sengaja datang untuk
melihat dirinya dan menjadikannya sebagai bahan lelucon. Kekesalan di dalam
hatinya semakin memuncak saat Yuna dan Yeriko tersenyum ke arahnya.
((Bersambung ...))

0 komentar:
Post a Comment