Tuesday, April 28, 2026

Perfect Hero Bab 527 : Terkuaknya Masa Lalu Melan

 



“Kamu anaknya Melan?” tanya Lonan sambil tersenyum saat menatap wajah Bellina.

 

“Iya. Emang kenapa? Mau cari masalah di sini?” tanya Bellina sambil meneliti pria setengah baya itu.

 

Lonan tertawa kecil. “Nggak nyangka, kalau sifat kamu itu sangat mirip dengan aku.”

 

“Maksud kamu!?” Bellina membelalakkan matanya.

 

“Anak cantik ... hari ini aku ke sini, khusus untuk bertemu dengan kamu. Sudah bertahun-tahun aku nggak pernah lihat kamu. Aku sangat bahagia karena puteri kandungku dibesarkan dan dirawat dengan baik di keluarga ini,” tutur Lonan sambil tersenyum.

 

DUAR!

 

Hati Bellina serasa disambar petir begitu mendengar kalimat yang keluar dari mulut Lonan. Ia masih tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi dalam keluarganya. Ia langsung menatap Melan dan Tarudi bergantian untuk mendapatkan penjelasan.

 

“Nan, kamu keluar dari sini!” perintah Melan sambil mendorong tubuh Lonan.

 

“Kenapa? Aku nggak ketemu anak kita selama dua puluh lima tahun. Sekarang, dia sudah dewasa dan secantik ini. Apa masih perlu dirahasiakan lagi?” tanya Lonan.

 

“Bellina bukan anak kamu!” sahut Melan kesal. Ia berusaha mendorong tubuh Lonan keluar dari ruang rawat tersebut.

 

“Iya, aku nggak mungkin punya papa gembel kayak gini,” celetuk Bellina sambil menatap jijik ke arah Lonan.

 

Lonan membelalakkan matanya begitu mendengar ucapan Melan dan Bellina. Emosinya tersulut dan ia langsung mendorong tubuh Melan dari tubuhnya.

 

“Kalian nggak mau mengakui keberadaanku, hah!?” seru Lonan kesal. Ia langsung menunjuk wajah Melan. “Apa perlu aku bilang sama puteri kesayangan kita kalau kita baru aja tidur bareng malam ini!?”

 

Melan membelalakkan mata begitu mendengar ucapan Lonan. “Kamu ...!?” Ia berusaha membungkam mulut Lonan agar tidak mengungkapkan semua yang terjadi sebenarnya.

 

“Bener, Ma?” tanya Bellina sambil menggeleng-gelengkan kepala.

 

Melan tak menjawab pertanyaan Bellina.

 

Bellina menoleh ke arah Tarudi untuk mendapatkan jawaban yang ia inginkan.

 

Tarudi hanya tersenyum sinis sambil membuang wajahnya.

 

“Ma ...!” seru Bellina kesal. “Semua ini beneran!?”

 

“Bel, dengerin dulu penjelasan Mama!” pinta Melan sambil meraih kedua pundak Bellina.

 

Bellina langsung memundurkan langkahnya menjauhi Melan. “Aku nggak percaya, Mama udah berbuat sejahat ini sama kami,” ucapnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

 

“Bellina ... kamu itu anakku. Anak kandungku,” tutur Lonan sambil mendekati Bellina.

 

“Nggak! Aku bukan anak kamu!” seru Bellina.

 

“Kenyataannya, kamu adalah anak kandungku. Lihat! Sifat kita mirip banget. Kamu pasti anak kandungku,” tutur Lonan.

 

“Nggak mungkin!” seru Bellina. Ia tetap tidak bisa menerima kenyataan kalau Lonan adalah ayah kandungnya. “Kamu pasti cuma pura-pura jadi ayah kandungku. Supaya bisa memeras keluarga kami ‘kan?”

 

“Mama kamu juga nggak mengelak. Artinya, dia juga sudah mengakui kalau kamu adalah anak kandungku,” jawab Lonan sambil tersenyum ke arah Bellina.

 

“Aku nggak percaya! Kamu pergi dari sini!” seru Bellina.

 

“PERGI ...!” teriak Bellina histeris.

 

“Aku nggak akan pergi dari sini sebelum kamu mengakui kalau aku ini ayah kamu,” tutur Lonan.

 

“Nggak! Aku nggak punya ayah seperti kamu. Kalau nggak mau pergi dari sini, aku bakal panggilin polisi!” ancam Bellina.

 

“Hahaha. Walau kamu bikin aku masuk penjara sekalipun, aku ini tetap ayah kamu.”

 

Yeriko yang ada di sana ikut tersenyum sinis sambil menonton pertunjukkan keluarga itu. “Mantan narapidana, nggak akan pernah takut masuk penjara berkali-kali,” ucapnya santai sambil menatap semua orang yang ada di dalam ruangan itu.

 

“Maksud kamu!?” tanya Bellina sambil menatap wajah Yeriko.

 

Yeriko mengedikkan bahunya. “Tanyakan aja sama mama dan ayah kandung kamu itu!”

 

Lonan tersenyum kecil. “Aku memang sudah sering masuk penjara. Makanya, aku nggak pernah bisa ketemu sama puteri kesayanganku. Sekarang, aku sudah keluar dari penjara dan ingin ketemu sama puteri kandungku. Ada yang salah?”

 

“Sangat salah!” sahut Bellina kesal. Matanya juga tertuju pada Yuna yang sedang menonton perseteruan yang terjadi dalam keluarganya. Ia tidak ingin Yuna melihat dirinya sebagai lelucon.

 

Wilian hanya terdiam sambil menyandarkan punggungnya ke dinding ruangan. Ia masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat hari ini.

 

“Kamu!? Berani-beraninya melawan ayah kandung kamu sendiri! Kayak gini hasil didikan dari keluarga terhormat, hah!? Nggak ada sopan santun sedikit pun sama orang tua!?” tanya Lonan.

 

Semua orang terdiam mendengar pertanyaan Lonan.

 

“Hahaha. Walau dibesarkan di keluarga terhormat, sifat dan kelakukan kamu tetap saja seperti aku. Ayah kandung kamu sendiri. Lihat! Hahaha.” Lonan terus tertawa bahagia melihat semua orang yang menatap aneh ke arahnya.

 

“Ma, usir laki-laki ini dari sini!” seru Bellina sambil menatap wajah Melan.

 

Melan terdiam. Ia tidak bisa melawan Lonan, pria yang sudah ia cintai. Ia tidak ingin kalau Bellina membenci ayahnya sendiri. Walau ia belum yakin, siapa sebenarnya ayah biologis Bellina.

 

“Ma ...! Kalau Mama nggak mau usir laki-laki ini, artinya semua ini beneran!?” tanya Bellina lagi.

 

Melan menarik napas panjang. “Oke, oke. Mama akan jujur sama kamu. Sebenarnya ... Mama nggak tahu, kamu anak siapa.”

 

Bellina membelalakkan matanya. “APA!?”

 

Wilian langsung menoleh ke arah Bellina. Ia semakin tidak percaya dengan apa yang terjadi pada masa lalu Melan. Istrinya yang terkenal dari keluarga baik dan terhormat, ternyata hanya keturunan seorang penjahat.

 

“Mama nggak tahu kamu anak siapa. Bisa jadi, kamu anaknya Papa ... bisa jadi, kamu anak laki-laki ini.”

 

Bellina menatap wajah mamanya penuh tanya. Ia benar-benar tidak bisa menerima kenyataan yang terjadi hari ini. Terlebih, ia harus menerima kenyataan kalau ayah kandungnya tidak jelas. Artinya, mamanya selama ini berhubungan badan dengan dua pria sekaligus di masa lalunya.

 

Tarudi semakin kesal dengan Melan yang masih saja melakukan pembelaan. “Kenapa? Kamu nggak berani menerima kenyataan kalau Bellina sebenarnya anak dari laki-laki itu? Aku nggak keberatan kalau kalian pergi dari sini sekarang.”

 

“Pa, aku nggak mau percaya sama ini semua begitu aja. Aku ini anak Papa. Aku nggak mau jadi anak orang lain!” seru Bellina sambil menitikan air mata.

 

“Kenyataannya, kamu bukanlah anak papa. Kembalilah sama keluarga asli kamu. Papa tidak akan mengganggu kalian!”

 

“Maksud Papa?” tanya Bellina dengan mata berkaca-kaca.

 

“Mulai hari ini, Papa dan Mama kamu tidak akan ada hubungan apa-apa lagi. Papa sudah menyuruh pengacara untuk mengurus perceraian kami.”

 

“Pa, semuanya belum jelas. Kenapa Papa membuat keputusan secepat ini? Gimana kalau kita tes DNA terlebih dahulu. Untuk membuktikan, siapa ayah kandungku sebenarnya?”

 

Tarudi terdiam sejenak. “Oke. Papa akan turuti permintaan kamu untuk melakukan tes DNA. Namun, walau hasilnya kamu adalah anak Papa. Papa akan tetap menceraikan mama kamu.”

 

Bellina menarik napas dalam-dalam. Ia menganggukkan kepala, berharap kalau hasil tes DNA akan sama seperti yang dia inginkan.

 

Yeriko melangkah menghampiri Tarudi sambil melindungi istrinya. “Oom, cepat sehat ya! Semoga, semua bisa dilalui dengan mudah!” tutur Yeriko.

 

Yuna tersenyum sambil menatap wajah Tarudi. “Ini, aku buatkan bubur ayam untuk Oom Rudi. Diminum ya, Om ...! Semoga cepat sehat!”

 

“Makasih, Yuna!”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Kalau gitu, kami pamit dulu!” ucap Yeriko sambil mengajak Yuna keluar dari kamar rawat tersebut. Ia tersenyum sinis ke arah Bellina saat langkahnya sampai di depan tubuh wanita itu.

 

Bellina menatap Yeriko dan Yuna penuh kebencian. Ia merasa kalau Yuna dan Yeriko sengaja datang untuk melihat dirinya dan menjadikannya sebagai bahan lelucon. Kekesalan di dalam hatinya semakin memuncak saat Yuna dan Yeriko tersenyum ke arahnya.

 

 

((Bersambung ...))

 


0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas