Friday, March 27, 2026

Perfect Hero Bab 512 : Temuan Baru

 


“Gimana, Chan? Ada info terbaru?” tanya Yeriko begitu ia masuk ke dalam ruang kerjanya.

 

Chandra mengeluarkan beberapa lembar foto dari dalam saku jasnya dan meletakkan ke atas meja.

 

“Laki-laki ini siapa?” tanya Yeriko sambil memerhatikan beberapa foto yang sudah ada di tangannya.

 

“Laki-laki itu yang sering ketemu sama Melan beberapa hari terakhir.”

 

“Namanya siapa? Udah kamu selidiki?” tanya Yeriko.

 

“Namanya Lonan alias Lasiono Adnan. Mantan narapidana yang baru keluar dari penjara sebulan lalu.”

 

Yeriko memerhatikan wajah pria setengah baya yang sedang duduk di salah satu meja restoran. Foto mereka terlihat sangat intim dalam beberapa suasana. “Kasus apa?” tanya Yeriko sambil duduk di sofa.

 

“Penipuan,” jawab Chandra.

 

“Apa hubungannya sama Melan? Apa mereka sudah saling kenal sebelumnya?”

 

Chandra menggelengkan kepala. “Aku masih menyelidiki masa lalu mereka.”

 

“Belum dapat?”

 

Chandra menggelengkan kepala. “Aku masih fokus mengamati pergerakan mereka beberapa hari terakhir. Kemungkinan besar, mereka pernah terlibat hubungan di masa lalu. Masih dugaan sementara, soalnya mereka kelihatan dekat dan pria ini ... sepertinya bekerja di belakang Melan.”

 

Yeriko mengernyitkan dahinya. “Maksudnya?”

 

“Dia baru keluar dari penjara. Tapi bisa menginap di hotel mewah. Logikanya, orang yang baru keluar dari penjara ... dari mana punya uang untuk membiayai hidupnya? Apalagi, dia dipenjara karena kasus penipuan. Dia dipenjara karena nggak mampu ganti rugi.”

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala. “Kalau dia menyimpan aset, kemungkinan dia tetap memiliki uang, Chan.”

 

“Berapa sih aset yang bisa dimiliki sama seorang penipu yang nggak sanggup bayar ganti rugi? Tabungan? Dua puluh juta? Lima puluh juta? Nggak sebanding dengan gaya hidup dia sekarang yang bisa menginap di hotel bintang lima.”

 

“Kamu sudah cari tahu latar belakang keluarganya?”

 

“Aku udah tanya sama petugas lapas. Selama dia dipenjara, nggak ada orang lain yang nengokin dia kecuali ...”

 

“Melan?” Yeriko menebak ucapan Chandra.

 

Chandra langsung menganggukkan kepala. “Dari data yang aku dapat, dia nggak punya keluarga.”

 

“Jadi, pria ini mengandalkan hidupnya sama tantenya Yuna?”

 

“Betul banget!”

 

“Apa mereka terlibat dalam kecelakaan kali ini?”

 

Chandra menggelengkan kepala. “Kalo soal ini, kamu tanyakan ke Satria. Dia yang lagi mendalami kasus kecelakaan ini ‘kan?”

 

“Iya, sih. Tapi aku masih penasaran ... kamu udah selidiki latar belakang keluarganya Melan? Masa lalunya, cerita hidupnya atau apalah yang berhubungan dengan dia. Kenapa dia benci banget sama istriku, padahal dia sudah dikasih perusahaan dengan mudah.”

 

Chandra mengedikkan bahu. “Nggak tahu, Yer. Kenapa nggak ambil alih perusahaan mereka aja?”

 

Yeriko menarik napas dalam-dalam. Ia berpikir selama beberapa saat. “Yuna nggak mau membahayakan Pak Adjie, begitu juga sebaliknya. Mmh ... kamu bisa urus sama Riyan soal ini?” tanya Yeriko sambil memainkan alisnya.

 

“Urus soal ...?” Chandra mengamati wajah Yeriko.

 

“Kalau nggak bisa diambil alih, buat perusahaan itu bangkrut perlahan!” perintah Yeriko.

 

“Tapi, Yer ... kalau suatu hari perusahaan itu kembali ke tangan Yuna. Apa nggak membahayakan buat Yuna juga?”

 

“Ck, iya juga ya? Kenapa rumit banget?” sahut Yeriko sambil mengacak rambutnya sendiri.

 

“Yang aku khawatirkan, mereka kembali mengalihkan perusahaan ke tangan Yuna saat di ambang kebangkrutan. Ini akan membuat Yuna lebih menderita, Yer.”

 

“Ya udah, kamu fokus ke Melan aja. Aku mau menyingkirkan dia dari keluarga Linandar.”

 

“Kalau ini ... kayaknya bisa lebih mudah.”

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala. “Kayaknya, Oom Rudi juga ada di bawah kendali perempuan licik itu. Selidiki dua orang yang ada di foto ini sampai tuntas!”

 

“Siap, Yer!”

 

“Oh ya, gimana hubungan kamu sama Jheni?” tanya Yeriko.

 

“Baik,” jawab Chandra sambil bangkit dari tempat duduknya. “Aku pulang dulu!”

 

“Aku cuma nanya hubungan kamu sama Jheni aja. Kenapa buru-buru ngabur?” tanya Yeriko.

 

“Aku ada urusan,” jawab Chandra sambil menarik gagang pintu. Ia langsung melebarkan kelopak matanya begitu melihat Bibi War sudah berdiri di depan pintu.

 

“Kopinya, Mas!”

 

Chandra menghela napas. “Makasih, Bi!” ucapnya sambil meraih nampan yang ada di tangan Bibi War. Ia kembali masuk ke dalam ruangan dan duduk di sebelah Yeriko.

 

“Nggak jadi pulang?” tanya Yeriko sambil menahan tawa.

 

“Udah terlanjur dibuatin kopi sama Bibi. Oh ya, soal bisnis yang ada di Eropa. Beberapa outlet sudah mulai beroperasi dan hasilnya ...”

 

“Gimana?”

 

“Sukses besar!” seru Chandra.

 

Yeriko tersenyum kecil menatap Chandra.

 

“Kamu biasa aja?” tanya Chandra.

 

“Emang harus gimana?”

 

“Nggak senang sama kesuksesan penjualan kita di Eropa?”

 

“Senang.”

 

“Kenapa reaksinya biasa aja?”

 

“Aku sudah tahu sejak seminggu lalu. Aku harus apa?”

 

“Party, Yer!” pinta Chandra.

 

“Ck, kamu tahu istriku nggak suka party. Lagian, kemarin udah bikin acara syukuran di rumah kakek.”

 

“Itu kan syukuran tujuh bulanan istri kamu, Yer. Nggak ada hubungannya sama penjualan perusahaan.”

 

“Sama aja. Yang penting makan gratis ‘kan?”

 

“Nggak ada bir di sana. Ayolah! Udah lama banget kita nggak minum sampai mabuk,” ajak Chandra.

 

“Chan, ayah mertuaku lagi sakit. Aku nggak mungkin berpesta di atas penderitaan istriku. Nggak punya perasaan!”

 

“Iya juga, sih.” Chandra mengangguk-anggukkan kepala. Ia menyesap kopi yang ada di hadapannya dan berbicara banyak hal tentang bisnis yang sedang ia urus di perusahaan mereka.

 

Beberapa menit kemudian, Yuna ikut masuk ke dalam ruang kerja Yeriko.

 

“Chan, Jheni nggak ikut ke sini?” tanya Yuna.

 

Chandra menggelengkan kepala. “Dia ada janji ketemu sama editor atau kurator gitu. Buru-buru pergi sendirian.”

 

“Nggak kamu antar, Chan?” tanya Yeriko.

 

“Tahu sendiri si Jheni kayak apa. Dia lebih suka bepergian sendirian.”

 

“Oh.” Yuna mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menghampiri Yeriko yang duduk di sofa. “Ay, aku udah siap. Kita berangkat sekarang, yuk! Kasihan ayah kalau ditinggal terlalu lama di rumah sakit.”

 

“Ada suster yang jagain Pak Adjie, kok.” Chandra menatap wajah Yuna. “Kalau ada apa-apa, mereka pasti hubungi kita.”

 

“Iya, sih. Tapi ... aku tetap nggak tenang kalau ninggalin ayah sendirian di rumah sakit.”

 

Yeriko menghela napas. Ia bangkit dari tempat duduknya. “Ya udah, kita pergi ke rumah sakit, sekarang!”

 

Yuna menganggukkan kepala sambil tersenyum. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan ayahnya di rumah sakit. Ia tidak bisa berlama-lama di rumah karena ia selalu memikirkan kondisi ayahnya.

 

“Chan, kamu masih mau di sini?” tanya Yeriko sambil menatap Chandra yang masih bergeming di tempatnya.

 

Chandra menganggukkan kepala. “Duluan aja!”

 

“Oke. Kalau ada perkembangan selanjutnya, langsung kasih tahu aku!”

 

Chandra mengangguk lagi. “Satria sama Riyan juga mau ke sini sebentar lagi. Aku tunggu mereka untuk menyelidiki kasus ini.”

 

Yuna mengangguk sambil menatap wajah Chandra. “Thanks, Chan! Kalian selalu bantu aku. Maaf, kehadiranku selalu merepotkan kalian semua!”

 

“Halah, santai aja! Kayak sama orang lain aja.”

 

Yuna tersenyum ke arah Chandra. “Kami pergi dulu ya!” pamitnya.

 

Chandra menganggukkan kepala. Ia menatap kepergian Yuna dan Yeriko. Ia tak beranjak sama sekali dari ruang kerja Yeriko karena menunggu Satria dan Riyan datang ke rumah itu.

 

Sejak dulu, mereka selalu melakukan banyak hal di ruang kerja ini. Mereka akan menyelesaikan masalah sampai tuntas. Terlebih, empat sahabat itu memiliki keunggulan berbeda.

 

 

((Bersambung ...))

Babang Chandra bakal berhasil nemuin pelakunya atau nggak, ya?

Dukung terus cerita ini biar bisa bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 511 : Terlalu Istimewa di Hati

 


“Pa, Papa udah jadi telepon ayahnya Yuna?” tanya Melan saat mereka duduk di meja makan untuk sarapan.

 

“Belum. Sebentar lagi Papa telepon.”

 

Melan tersenyum sambil menatap Tarudi. “Udah lama nggak dengar kabar ayahnya Yuna. Semenjak makan malam tahun baru, kita belum ketemu lagi. Gimana, kalau kita ke sana hari ini?”

 

Tarudi menoleh ke arah Melan. Ia tersenyum karena istrinya kali ini mau memperhatikan kakak kandungnya. Tapi, ia masih tidak yakin kalau perhatian Melan kepada kakaknya itu tulus.

 

“Gimana?” tanya Melan. Ia berusaha mendesak Tarudi agar menghubungi Adjie secepatnya.

 

Tarudi menganggukkan kepala. “Papa telepon dulu.”

 

Melan menganggukkan kepala sambil tersenyum manis. Ia menanti-nantikan kabar bahagia soal keadaan Adjie kali ini.

 

Tarudi menelepon Adjie beberapa kali, tetap saja tidak bisa tersambung.

 

“Kenapa?” tanya Melan makin penasaran.

 

“Nomornya nggak aktif.”

 

“Telepon si Yuna aja!”

 

“Iya juga, ya. Dia selalu ke apartemen Kak Adjie setiap hari.”

 

Melan tersenyum sambil menganggukkan kepala.

 

Tarudi menekan nomor ponsel Yuna. Ia terus menunggu jawaban dari keponakannya itu.

 

“Halo ...!” sapa Yuna begitu panggilan telepon Tarudi tersambung.

 

“Halo, Yuna ...! Apa kabar?”

 

“Menurut Oom?” tanya Yuna balik.

 

Tarudi terdiam saat mendengar suara sengau yang keluar dari mulut Yuna. “Apa ayah kamu ada di rumah? Sejak semalam, Oom telepon dia ... nomornya nggak aktif.”

 

Yuna terdengar tertawa kecil. “Oom Rudi senang kan kalau ayahku nggak bisa jawab telepon?”

 

“Maksud kamu?”

 

“Nggak usah pura-pura nggak tahu, Oom! Apa yang Oom Rudi inginkan, semuanya sudah tercapai. Termasuk bikin ayahku bungkam dan nggak bisa bicara lagi!”

 

“Yuna, ini ada apa? Oom nggak ngerti maksud kamu. Ayah kamu kenapa?”

 

“Ayah kecelakaan. Sekarang, dia masih koma. Oom senang kan bisa lihat ayah kayak gini lagi?” tanya Yuna.

 

“Yun, kenapa kamu bilang begitu? Dia itu kakakku juga. Sekarang, kalian ada di rumah sakit mana? Oom akan ke sana untuk je—”

 

Tut ... Tut ... Tut ...!

 

Tarudi mengerutkan dahi karena Yuna menutup telepon sepihak. Ia hanya menghela napas sambil menatap panggilan teleponnya yang sudah mati.

 

“Kenapa, Pa?” tanya Melan sambil menyembunyikan perasaan bahagianya. Ia merasa sangat bahagia saat mendengar kalau Adjie berada di rumah sakit.

 

“Kak Adjie kecelakaan. Papa harus jenguk dia,” jawab Adjie sambil bangkit dari tempat duduk.

 

“Hah!? Kecelakaan? Di mana? Sekarang dirawat di rumah sakit mana?” tanya Melan.

 

“Belum tahu. Yuna nggak mau ngasih tahu keberadaan ayahnya. Aku akan cari tahu,” jawab Tarudi sambil melangkah pergi dengan terburu-buru.

 

“Hati-hati ya, Pa! Nanti kabari Mama kalau Kak Adjie sudah ditemukan di rumah sakit mana. Mama akan menyusul ...!” seru Melan sambil menatap punggung Tarudi yang bergerak menjauhinya.

 

Melan langsung tertawa lebar begitu suaminya pergi meninggalkan dirinya. “Akhirnya ... aku berhasil bikin si Adjie sialan itu koma lagi. Aku nggak akan ngebiarin kalian ngambil alih perusahaan lagi. Kalian pikir, bisa menghadapi aku dengan mudah?” tutur Melan sambil tertawa bahagia. Ia bangkit dari tempat duduk, meninggalkan makanan yang belum dihabiskan begitu saja.

 

“Saatnya memanjakan diri di salon dan shopping sepuasnya ...!” seru Melan sambil melangkah penuh bahagia.

 

 

 

...

 

 

“Paman nggak tahu diri!” umpat Yuna sambil membanting ponselnya ke atas kasur.

 

“Kenapa?” tanya Yeriko.

 

“Biasa, Oom Rudi.”

 

“Dia bikin masalah lagi?”

 

Yuna menggigit bibir sambil menggelengkan kepala. “Nggak, sih. Dia cuma nanya keadaan ayah. Kayaknya, dia nggak tahu apa-apa soal kecelakaan yang menimpa ayah kali ini. Sebenarnya, ini ada hubungannya sama Oom Rudi atau nggak ya?”

 

Yeriko menghela napas. Ia duduk di tepi tempat tidur sambil menatap Yuna. “Aku perhatikan, selama ini hubungan ayah kamu dan adiknya cukup baik. Hanya saja, kita nggak bisa memastikan apa yang terjadi sebenarnya. Tetap harus waspada!”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Aku curiga sama mereka. Mereka pasti sudah merencanakan ini semua untuk mencelakai ayah. Padahal, ayah nggak pernah membahas soal perusahaan. Kenapa mereka begitu takut kehilangan perusahaan yang seharusnya menjadi milik kami?”

 

Yeriko tersenyum sambil menatap Yuna. “Kamu tenang aja! Aku akan urus semuanya. Asal kamu izinkan aku untuk ...”

 

“Nggak usah, Ay!” pinta Yuna. “Hidup ayah jauh lebih penting dari perusahaan. Aku nggak mau mereka terus mencelakai ayah hanya karena rebutan harta. Aku sudah terbiasa hidup sederhana. Nggak perlu hidup mewah asal bisa bahagia.”

 

Yeriko tersenyum. Ia berjongkok di lantai, tepat di hadapan Yuna. “Yun, kenapa hati kamu bisa semulia ini?” tanyanya sambil menggenggam tangan Yuna dan mengecupnya.

 

“Bukan hatiku yang mulia, tapi kalian yang terlalu istimewa,” tutur Yuna sambil menatap wajah Yeriko. “Jangan lakukan  apa pun yang membahayakan untuk kamu! Aku nggak mau, apa yang terjadi sama ayah ... terjadi juga sama kamu.”

 

Yeriko tersenyum sambil menatap Yuna. Ia bangkit dari lantai dan merengkuh tubuh Yuna ke dalam pelukannya. “Apa yang aku lakukan saat ini, hanya untuk melindungi kamu,” batinnya dalam hati.

 

 

 

Tok ... Tok ... Tok ...!

 

 

 

Yuna dan Yeriko langsung menoleh ke arah pintu. “Masuk!” perintah mereka bersamaan.

 

Pintu kamar langsung terbuka. “Ada Mas Chandra datang,” tutur Bibi War.

 

“Oh, oke. Suruh tunggu di ruang kerjaku, Bi!” perintah Yeriko.

 

Bibi War menganggukkan kepala. Ia bergegas menutup pintu kembali dan turun ke lantai bawah.

 

“Yeriko mana, Bi?” tanya Chandra begitu Bibi War menghampirinya di ruang tamu.

 

“Di atas. Katanya, suruh nunggu di ruang kerjanya.”

 

“Oh, oke. Nggak papa nih aku naik?” tanya Chandra.

 

“Nggak papa. Naik aja!” perintah Bibi War.

 

“Dia sama Yuna lagi apa? Ntar aku ganggu orang lagi bercinta,” tutur Chandra sambil tertawa kecil.

 

Bibi War ikut tertawa. “Nggak akan ganggu, palingan Mas Chandra yang kepengen kalo lihat.”

 

“Eh!? Bibi ngolok aku?”

 

Bibi War terkekeh mendengar pertanyaan Chandra. “Makanya, cepet nikah! Biar rumah ini tambah ramai kalau kalian datang.”

 

“Ah, Bibi. Sama aja kayak Yeriko,” sahut Chandra sambil bergegas menaiki anak tangga menuju ke ruang kerja Yeriko.

 

“Mas Chandra mau minum apa?” tanya Bibi War sambil menatap tubuh Chandra yang sudah berada di ujung tangga.

 

“Kopi aja, Bi!” sahut Chandra sambil menghentikan langkahnya dan memutar kepala menatap Bibi War yang berdiri di bawah tangga.

 

“Pakai susu atau nggak?” goda Bibi War.

 

“Ah, Bibi mah suka gitu. Kopi campur Jheni kalau ada!” pinta Chandra sambil tertawa kecil.

 

“Maksudnya, susunya Mbak Jheni?” tanya Bibi War menggoda.

 

“Ah, Bibi bisa aja. Bikin otakku berkelana. Terserah deh mau dibikinin kopi apa. Asal jangan pakai sianida aja!” sahut Chandra sambil bergegas masuk ke ruang kerja Yeriko.

 

Bibi War tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia merasa sangat bahagia karena Yeriko dikelilingi oleh orang-orang baik yang bersedia membantu dan melindunginya kapan pun. Meski sering kasar, tapi hati anak asuhnya itu begitu peduli dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya.

 

 

((Bersambung ...))

 

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi dan mengungkap misteri yang belum terpecahkan satu per satu.

Thank’s!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 510 : Ungkapan Hati Jheni

 


“Ayah ... Ayah harus bangun!” pinta Yuna sambil menggenggam tangan ayahnya. Hingga pagi menjelang, ayahnya tak kunjung tersadar dari komanya. Membuat perasaannya semakin tak karuan.

 

“Sabar, Yun. Ayah kamu pasti sembuh, kok.” Jheni yang sudah ada di sana berusaha menenangkan Yuna.

 

Yuna menatap pilu ke arah Jheni. “Ayahku, Jhen ... dia baru sadar dalam hitungan bulan. Kenapa harus kayak gini lagi?”

 

Jheni langsung memeluk kepala Yuna yang sedang duduk di sampingnya. “Kamu kuat, Yun. Pasti bisa melewati ini semua. Kamu juga harus mikirin anak yang ada di dalam perut kamu. Kalau ayah kamu tahu, kamu seperti ini ... dia pasti akan jauh lebih sedih.”

 

Yuna menghapus air matanya. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan perasaannya lagi. Melihat ayahnya kembali terbaring, membuatnya sangat sedih. Tapi ia juga tidak bisa terlalu larut dalam kesedihan karena ia juga sangat mencintai anaknya.

 

“Yun, kamu sama Yeriko pulang dulu ya! Kalian mandi dulu! Aku akan jagain Oom Adjie. Aku akan update perkembangannya.”

 

Yuna menatap wajah Jheni. Ia tidak ingin pergi dari ayahnya walau hanya sedikit saja.

 

Jheni menghela napas. Ia menoleh ke arah Yeriko dan Chandra yang duduk di sofa.

 

Yeriko langsung bangkit, ia menghampiri Yuna dan merangkul tubuhnya. “Kita pulang dulu!” bisiknya lirih. “Sebentar aja!”

 

Yuna menganggukkan kepala.  Ia bangkit dari tempat duduk dan mengikuti Yeriko untuk pulang ke rumah.

 

Jheni menghela napas sambil menatap tubuh Yuna dan Yeriko yang perlahan menghilang. Ia menghampiri Chandra yang sibuk dengan smartphone di tangannya.

 

“Kamu lagi sibuk apa?” tanya Jheni.

 

“Ngerjain tugas dari Yeriko.”

 

“Tugas apaan?”

 

“Mau tahu?”

 

Jheni langsung menganggukkan kepala.

 

“Cium dulu!” pinta Chandra sambil menyodorkan pipinya.

 

“Sempat-sempatnya mau mesum di saat kayak gini,” celetuk Jheni.

 

“Ck, cuma cium pipi doang, Jhen. Masa mesum?”

 

Jheni memonyongkan bibirnya ke arah Chandra. “Nggak sopan di depan Oom Adjie kayak gitu.”

 

Chandra tertawa kecil sambil mengacak ujung kepala Jheni. “Lihat!” pintanya sambil menyodorkan layar ponsel ke wajah Jheni.

 

“Apaan?” tanya Jheni sambil menatap layar ponsel yang menunjukkan potret sepasang pria dan wanita di sebuah restoran.

 

“Lihat baik-baik!” pinta Chandra sambil merangkul kepala Jheni ke dadanya. Ia tersenyum sambil menatap layar ponsel yang sejajar dengan telinga Jheni.

 

“Mereka siapa? Nggak penting banget sih lihatin foto orang lagi berduaan gitu. Kenapa? Kamu mau ngajak aku makan malam di sana?” goda Jheni sambil menoleh ke wajah Chandra yang tak berjarak dengannya.

 

Chandra tersenyum sambil memerhatikan mata Jheni. Hidung mereka yang sudah saling bersentuhan tanpa sengaja, membuatnya ingin terus mendekatkan bibirnya ke bibir Jheni.

 

Jheni melengos begitu Chandra ingin menciumnya. Ia melepas perlahan lengan Chandra yang melingkar di lehernya.

 

Chandra langsung mengerutkan kening begitu Jheni melepas rangkulannya.

 

“Mister Chandra yang paling ganteng sedunia ... kita lagi di rumah sakit. Bisa ditahan dulu nafsunya?” ucap Jheni sambil tersenyum dan memainkan matanya ke arah Chandra.

 

Chandra tersenyum kecut. “Kamu terlalu perhitungan sama pacar sendiri.”

 

“Lihat sikon juga, Chan. Kita ini di rumah sakit,” tutur Jheni berbisik.

 

Chandra hanya menyunggingkan sebelah senyumnya. Ia kembali menatap layar ponsel dan mengamati beberapa foto yang ada di sana tanpa mengajak Jheni bicara lagi.

 

Jheni menghela napas sambil menatap wajah Chandra yang kembali dingin. “Iih ... ngeselin banget ini cowok!” seru Jheni dalam hati. “Untungnya dia ganteng.”

 

Chandra hanya melirik Jheni yang mulai gelisah di sampingnya. Ia hanya tertawa dalam hati tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.

 

“Chan ...!” panggil Jheni setelah mereka saling diam selama beberapa menit.

 

“Umh.”

 

“Marah?”

 

“Nggak.”

 

“Kenapa diam aja?”

 

“Emang mau ngomong apa?”

 

Jheni langsung menautkan kedua alis sambil menatap Chandra. Ia bangkit dari sofa, sengaja menghentakkan kaki lebih keras dan bergegas keluar dari ruangan itu. Ia memilih untuk berjalan-jalan santai di taman rumah sakit tersebut.

 

“Chandra tuh kenapa sih? Kenapa nggak peka banget jadi cowok?” celetuk Jheni sambil menarik daun tanaman yang ada di taman tersebut.

 

“Cinta itu butuh perjuangan. Tapi gimana mau berjuang kalau nggak punya senjata?” tanya Jheni sambil merobek-robek daun yang ada di hadapannya.

 

“Ya Tuhan ... aku harus gimana? Aku juga pengen dilamar dan nikah sama Chandra. Tapi aku takut menghadapi kenyataan? Gimana menghadapi mama tirinya yang galak itu? Chandra aja nggak berani ajak aku ketemu mamanya? Gimana cara meluluhkan hati orang tuanya Chandra?”

 

“Iih ... aku benci sama diriku sendiri!” seru Jheni sambil memukul-mukul kepalanya.

 

“Kenapa menghadapinya nggak semudah nasehatin Yuna atau Icha? Emang bener kata orang, kalo ngomong mah gampang ... tapi ngelakuinnya susah banget sih?” tanya Jheni sambil mencabuti bunga-bunga yang ada di hadapannya tanpa sadar.

 

“Chan, kenapa sih kamu nggak pernah mau kenalin aku ke keluarga kamu? Apa karena aku nggak jelas anaknya siapa? Asal-usul keluargaku nggak jelas. Apa karena aku selalu bilang takut? Iya, aku takut. Kamu harusnya ngasih aku kekuatan supaya aku berani menghadapinya. Tapi kamu selalu diam dan aku nggak tahu harus bersikap seperti apa?”

 

“Huft ...! Jheni ... Oh, Jheni! Kenapa kamu pengecut banget?” tanya Jheni pada dirinya sendiri.

 

“Aku memang takut menghadapinya. Aku takut menghadapi keluarga kandungku sendiri. Aku takut menghadapi keluarga Chandra. Aku takut menghadapi kenyataan kalau masa depanku sama Chandra itu gelap. Gelap banget!” seru Jheni sambil menyerang tanaman bunga yang sudah hampir gundul karena ulah tangannya yang bergerak liar.

 

“Aargh ...! Kamu payah banget!” seru Jheni sambil memukul tanaman pucuk merah yang ada di hadapannya itu.

 

“Aw ...!” seru Jheni saat tangannya tertusuk ranting kayu pucuk merah yang tajam.

 

“Jhen, kamu nggak mau nemenin aku di dalam. Malah ngobrol sama tanaman yang melukai kamu,” tutur Chandra sambil menarik tangan Jheni. Ia memerhatikan jari tangan Jheni yang terluka dan langsung menghisapnya.

 

Jheni membelalakkan mata. Ia menarik tangannya ke belakang tubuh. Jantungnya berdebar sangat kencang dan ingin segera menyembunyikan wajahnya. “Kamu udah dari tadi di sini?” tanya Jheni tanpa menatap wajah Chandra.

 

“Iya.”

 

“Ada lubang tikus nggak sih di sini?” batin Jheni sambil mengamati tanah yang ada di sekitarnya. Ia ingin sekali memasukkan tubuhnya ke dalam lubang tikus saat itu juga agar Chandra tak perlu melihatnya.

 

“Kamu kenapa?” tanya Chandra sambil menggenggam kedua pundak Jheni.

 

Jheni kesulitan bernapas saat pandangan matanya bertemu dengan mata Chandra. “Ka-kamu ... kamu denger semua yang aku omongin?”

 

Chandra menganggukkan kepala.

 

Jheni tersenyum kecut ke arah Chandra. Wajahnya yang merah padam tak bisa ia kendalikan lagi. “Aku malu banget!” batin Jheni sambil menutup wajahnya dan berbalik pergi.

 

Chandra langsung menarik tubuh Jheni dan membenamkan di dadanya.

 

Jheni tertegun saat ia sudah ada di dalam pelukan Chandra. Ia bisa mendengar dengan jelas detak jantung Chandra yang menempel tepat di telinganya.

 

“Jhen, katakan apa yang seharusnya kamu katakan!” pinta Chandra. “Aku memang bodoh karena nggak bisa bersikap seperti yang kamu inginkan. Tapi aku tetap mencintai kamu dan seluruh masa depanku adalah milikmu.”

 

DEG!

 

Jheni merasa jantungnya berhenti berdetak. Ia sangat mengetahui bagaimana sifat Chandra yang tertutup dan pendiam. Ia justru merasa bersalah saat Chandra mengucapkan kalimat yang begitu indah terdengar di telinganya. Bukankah ia mencintai Chandra apa adanya? Kenapa kini ia mulai menuntut Chandra menjadi orang lain?

 

“Maafin aku, Chan ...!” pinta Jheni sambil menitikkan air mata. “Nggak seharusnya aku menuntut kamu menjadi seperti orang lain karena aku mencintai kamu yang seperti ini. Kamu yang cuek, kamu yang nggak bisa ngelucu, kamu yang selalu ngomong apa adanya, kamu yang ngeselin ... yang bikin aku jatuh cinta,” lanjutnya makin terisak.

 

Chandra langsung melepas pelukannya. Ia menangkup wajah Jheni dan menatap mata yang penuh air mata cinta di dalamnya. “Jhen, mulai hari ini ... ungkapkan semua yang seharusnya diungkapkan! Bisakah? Sesulit apa pun itu ... aku akan berusaha mewujudkannya.”

 

Jheni semakin terisak mendengar ucapan Chandra. Ia merasa bersalah pada dirinya sendiri dan juga cinta yang ada di antara mereka. Ia benci pada dirinya sendiri yang mulai menuntut kehadiran Chandra dalam hidupnya. Bukan hanya menuntut pria itu untuk memenuhi keinginannya, tapi juga mulai bergantung dalam segala hal.

 

Chandra kembali memeluk tubuh Jheni. Memeluknya sangat erat hingga membuat dadanya sesak. Ia kesal dengan dirinya sendiri karena tidak pernah bisa mengerti keinginan wanitanya dengan baik.

 

“Minggu ini, kita ke Jogja. Gimana?” tanya Chandra.

 

“Ketemu sama orang tua kamu?” tanya Jheni.

 

Chandra menganggukkan kepala sambil mengecup kepala Jheni. “Apa kamu udah siap?”

 

Jheni menganggukkan kepala. “Asal bisa selalu sama kamu, aku akan berjuang untuk menakhlukan hati orang tua kamu.”

 

Chandra tersenyum kecil. “Seharusnya, aku nggak membiarkan kamu selalu berjuang untuk aku. Harusnya seorang pria yang berjuang untuk wanitanya. Setelah menghadapi keluargaku, kita cari orang tua kamu sama-sama!”

 

Jheni menganggukkan kepala. Ia tersenyum sambil melilitkan kedua lengannya ke tubuh Chandra. Ia tahu, Chandra bukan pria yang romantis seperti drama televisi. Ia tidak ingin menuntut Chandra menjadi peran yang indah. Ia hanya bisa menerima dan mencintai semua hal tentang pria itu.

 

 ((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi dan mengungkap misteri yang belum terpecahkan satu per satu.

Thank’s!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas