“Ayah ... Ayah harus bangun!” pinta Yuna sambil
menggenggam tangan ayahnya. Hingga pagi menjelang, ayahnya tak kunjung tersadar
dari komanya. Membuat perasaannya semakin tak karuan.
“Sabar, Yun. Ayah kamu pasti sembuh, kok.” Jheni
yang sudah ada di sana berusaha menenangkan Yuna.
Yuna menatap pilu ke arah Jheni. “Ayahku, Jhen ...
dia baru sadar dalam hitungan bulan. Kenapa harus kayak gini lagi?”
Jheni langsung memeluk kepala Yuna yang sedang
duduk di sampingnya. “Kamu kuat, Yun. Pasti bisa melewati ini semua. Kamu juga
harus mikirin anak yang ada di dalam perut kamu. Kalau ayah kamu tahu, kamu
seperti ini ... dia pasti akan jauh lebih sedih.”
Yuna menghapus air matanya. Ia menarik napas
dalam-dalam untuk menenangkan perasaannya lagi. Melihat ayahnya kembali
terbaring, membuatnya sangat sedih. Tapi ia juga tidak bisa terlalu larut dalam
kesedihan karena ia juga sangat mencintai anaknya.
“Yun, kamu sama Yeriko pulang dulu ya! Kalian
mandi dulu! Aku akan jagain Oom Adjie. Aku akan update perkembangannya.”
Yuna menatap wajah Jheni. Ia tidak ingin pergi
dari ayahnya walau hanya sedikit saja.
Jheni menghela napas. Ia menoleh ke arah Yeriko
dan Chandra yang duduk di sofa.
Yeriko langsung bangkit, ia menghampiri Yuna dan
merangkul tubuhnya. “Kita pulang dulu!” bisiknya lirih. “Sebentar aja!”
Yuna menganggukkan kepala. Ia bangkit dari
tempat duduk dan mengikuti Yeriko untuk pulang ke rumah.
Jheni menghela napas sambil menatap tubuh Yuna dan
Yeriko yang perlahan menghilang. Ia menghampiri Chandra yang sibuk dengan
smartphone di tangannya.
“Kamu lagi sibuk apa?” tanya Jheni.
“Ngerjain tugas dari Yeriko.”
“Tugas apaan?”
“Mau tahu?”
Jheni langsung menganggukkan kepala.
“Cium dulu!” pinta Chandra sambil menyodorkan
pipinya.
“Sempat-sempatnya mau mesum di saat kayak gini,”
celetuk Jheni.
“Ck, cuma cium pipi doang, Jhen. Masa mesum?”
Jheni memonyongkan bibirnya ke arah Chandra.
“Nggak sopan di depan Oom Adjie kayak gitu.”
Chandra tertawa kecil sambil mengacak ujung kepala
Jheni. “Lihat!” pintanya sambil menyodorkan layar ponsel ke wajah Jheni.
“Apaan?” tanya Jheni sambil menatap layar ponsel
yang menunjukkan potret sepasang pria dan wanita di sebuah restoran.
“Lihat baik-baik!” pinta Chandra sambil merangkul
kepala Jheni ke dadanya. Ia tersenyum sambil menatap layar ponsel yang sejajar
dengan telinga Jheni.
“Mereka siapa? Nggak penting banget sih lihatin
foto orang lagi berduaan gitu. Kenapa? Kamu mau ngajak aku makan malam di
sana?” goda Jheni sambil menoleh ke wajah Chandra yang tak berjarak dengannya.
Chandra tersenyum sambil memerhatikan mata Jheni.
Hidung mereka yang sudah saling bersentuhan tanpa sengaja, membuatnya ingin
terus mendekatkan bibirnya ke bibir Jheni.
Jheni melengos begitu Chandra ingin menciumnya. Ia
melepas perlahan lengan Chandra yang melingkar di lehernya.
Chandra langsung mengerutkan kening begitu Jheni
melepas rangkulannya.
“Mister Chandra yang paling ganteng sedunia ...
kita lagi di rumah sakit. Bisa ditahan dulu nafsunya?” ucap Jheni sambil
tersenyum dan memainkan matanya ke arah Chandra.
Chandra tersenyum kecut. “Kamu terlalu perhitungan
sama pacar sendiri.”
“Lihat sikon juga, Chan. Kita ini di rumah sakit,”
tutur Jheni berbisik.
Chandra hanya menyunggingkan sebelah senyumnya. Ia
kembali menatap layar ponsel dan mengamati beberapa foto yang ada di sana tanpa
mengajak Jheni bicara lagi.
Jheni menghela napas sambil menatap wajah Chandra
yang kembali dingin. “Iih ... ngeselin banget ini cowok!” seru Jheni dalam
hati. “Untungnya dia ganteng.”
Chandra hanya melirik Jheni yang mulai gelisah di
sampingnya. Ia hanya tertawa dalam hati tanpa mengalihkan pandangan dari layar
ponselnya.
“Chan ...!” panggil Jheni setelah mereka saling
diam selama beberapa menit.
“Umh.”
“Marah?”
“Nggak.”
“Kenapa diam aja?”
“Emang mau ngomong apa?”
Jheni langsung menautkan kedua alis sambil menatap
Chandra. Ia bangkit dari sofa, sengaja menghentakkan kaki lebih keras dan
bergegas keluar dari ruangan itu. Ia memilih untuk berjalan-jalan santai di
taman rumah sakit tersebut.
“Chandra tuh kenapa sih? Kenapa nggak peka banget
jadi cowok?” celetuk Jheni sambil menarik daun tanaman yang ada di taman
tersebut.
“Cinta itu butuh perjuangan. Tapi gimana mau
berjuang kalau nggak punya senjata?” tanya Jheni sambil merobek-robek daun yang
ada di hadapannya.
“Ya Tuhan ... aku harus gimana? Aku juga pengen
dilamar dan nikah sama Chandra. Tapi aku takut menghadapi kenyataan? Gimana
menghadapi mama tirinya yang galak itu? Chandra aja nggak berani ajak aku
ketemu mamanya? Gimana cara meluluhkan hati orang tuanya Chandra?”
“Iih ... aku benci sama diriku sendiri!” seru
Jheni sambil memukul-mukul kepalanya.
“Kenapa menghadapinya nggak semudah nasehatin Yuna
atau Icha? Emang bener kata orang, kalo ngomong mah gampang ... tapi
ngelakuinnya susah banget sih?” tanya Jheni sambil mencabuti bunga-bunga yang
ada di hadapannya tanpa sadar.
“Chan, kenapa sih kamu nggak pernah mau kenalin
aku ke keluarga kamu? Apa karena aku nggak jelas anaknya siapa? Asal-usul
keluargaku nggak jelas. Apa karena aku selalu bilang takut? Iya, aku takut.
Kamu harusnya ngasih aku kekuatan supaya aku berani menghadapinya. Tapi kamu
selalu diam dan aku nggak tahu harus bersikap seperti apa?”
“Huft ...! Jheni ... Oh, Jheni! Kenapa kamu
pengecut banget?” tanya Jheni pada dirinya sendiri.
“Aku memang takut menghadapinya. Aku takut
menghadapi keluarga kandungku sendiri. Aku takut menghadapi keluarga Chandra.
Aku takut menghadapi kenyataan kalau masa depanku sama Chandra itu gelap. Gelap
banget!” seru Jheni sambil menyerang tanaman bunga yang sudah hampir gundul
karena ulah tangannya yang bergerak liar.
“Aargh ...! Kamu payah banget!” seru Jheni sambil
memukul tanaman pucuk merah yang ada di hadapannya itu.
“Aw ...!” seru Jheni saat tangannya tertusuk
ranting kayu pucuk merah yang tajam.
“Jhen, kamu nggak mau nemenin aku di dalam. Malah
ngobrol sama tanaman yang melukai kamu,” tutur Chandra sambil menarik tangan
Jheni. Ia memerhatikan jari tangan Jheni yang terluka dan langsung
menghisapnya.
Jheni membelalakkan mata. Ia menarik tangannya ke
belakang tubuh. Jantungnya berdebar sangat kencang dan ingin segera
menyembunyikan wajahnya. “Kamu udah dari tadi di sini?” tanya Jheni tanpa
menatap wajah Chandra.
“Iya.”
“Ada lubang tikus nggak sih di sini?” batin Jheni
sambil mengamati tanah yang ada di sekitarnya. Ia ingin sekali memasukkan
tubuhnya ke dalam lubang tikus saat itu juga agar Chandra tak perlu melihatnya.
“Kamu kenapa?” tanya Chandra sambil menggenggam
kedua pundak Jheni.
Jheni kesulitan bernapas saat pandangan matanya
bertemu dengan mata Chandra. “Ka-kamu ... kamu denger semua yang aku omongin?”
Chandra menganggukkan kepala.
Jheni tersenyum kecut ke arah Chandra. Wajahnya
yang merah padam tak bisa ia kendalikan lagi. “Aku malu banget!” batin Jheni
sambil menutup wajahnya dan berbalik pergi.
Chandra langsung menarik tubuh Jheni dan
membenamkan di dadanya.
Jheni tertegun saat ia sudah ada di dalam pelukan
Chandra. Ia bisa mendengar dengan jelas detak jantung Chandra yang menempel
tepat di telinganya.
“Jhen, katakan apa yang seharusnya kamu katakan!”
pinta Chandra. “Aku memang bodoh karena nggak bisa bersikap seperti yang kamu
inginkan. Tapi aku tetap mencintai kamu dan seluruh masa depanku adalah
milikmu.”
DEG!
Jheni merasa jantungnya berhenti berdetak. Ia
sangat mengetahui bagaimana sifat Chandra yang tertutup dan pendiam. Ia justru
merasa bersalah saat Chandra mengucapkan kalimat yang begitu indah terdengar di
telinganya. Bukankah ia mencintai Chandra apa adanya? Kenapa kini ia mulai
menuntut Chandra menjadi orang lain?
“Maafin aku, Chan ...!” pinta Jheni sambil
menitikkan air mata. “Nggak seharusnya aku menuntut kamu menjadi seperti orang
lain karena aku mencintai kamu yang seperti ini. Kamu yang cuek, kamu yang
nggak bisa ngelucu, kamu yang selalu ngomong apa adanya, kamu yang ngeselin ...
yang bikin aku jatuh cinta,” lanjutnya makin terisak.
Chandra langsung melepas pelukannya. Ia menangkup
wajah Jheni dan menatap mata yang penuh air mata cinta di dalamnya. “Jhen,
mulai hari ini ... ungkapkan semua yang seharusnya diungkapkan! Bisakah?
Sesulit apa pun itu ... aku akan berusaha mewujudkannya.”
Jheni semakin terisak mendengar ucapan Chandra. Ia
merasa bersalah pada dirinya sendiri dan juga cinta yang ada di antara mereka.
Ia benci pada dirinya sendiri yang mulai menuntut kehadiran Chandra dalam
hidupnya. Bukan hanya menuntut pria itu untuk memenuhi keinginannya, tapi juga
mulai bergantung dalam segala hal.
Chandra kembali memeluk tubuh Jheni. Memeluknya
sangat erat hingga membuat dadanya sesak. Ia kesal dengan dirinya sendiri
karena tidak pernah bisa mengerti keinginan wanitanya dengan baik.
“Minggu ini, kita ke Jogja. Gimana?” tanya
Chandra.
“Ketemu sama orang tua kamu?” tanya Jheni.
Chandra menganggukkan kepala sambil mengecup
kepala Jheni. “Apa kamu udah siap?”
Jheni menganggukkan kepala. “Asal bisa selalu sama
kamu, aku akan berjuang untuk menakhlukan hati orang tua kamu.”
Chandra tersenyum kecil. “Seharusnya, aku nggak
membiarkan kamu selalu berjuang untuk aku. Harusnya seorang pria yang berjuang
untuk wanitanya. Setelah menghadapi keluargaku, kita cari orang tua kamu
sama-sama!”
Jheni menganggukkan kepala. Ia tersenyum sambil
melilitkan kedua lengannya ke tubuh Chandra. Ia tahu, Chandra bukan pria yang
romantis seperti drama televisi. Ia tidak ingin menuntut Chandra menjadi peran
yang indah. Ia hanya bisa menerima dan mencintai semua hal tentang pria itu.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini biar aku makin
semangat bikin cerita yang lebih seru lagi dan mengungkap misteri yang belum
terpecahkan satu per satu.
Thank’s!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment