“Gimana, Chan? Ada info terbaru?” tanya Yeriko
begitu ia masuk ke dalam ruang kerjanya.
Chandra mengeluarkan beberapa lembar foto dari
dalam saku jasnya dan meletakkan ke atas meja.
“Laki-laki ini siapa?” tanya Yeriko sambil
memerhatikan beberapa foto yang sudah ada di tangannya.
“Laki-laki itu yang sering ketemu sama Melan
beberapa hari terakhir.”
“Namanya siapa? Udah kamu selidiki?” tanya Yeriko.
“Namanya Lonan alias Lasiono Adnan. Mantan
narapidana yang baru keluar dari penjara sebulan lalu.”
Yeriko memerhatikan wajah pria setengah baya yang
sedang duduk di salah satu meja restoran. Foto mereka terlihat sangat intim
dalam beberapa suasana. “Kasus apa?” tanya Yeriko sambil duduk di sofa.
“Penipuan,” jawab Chandra.
“Apa hubungannya sama Melan? Apa mereka sudah
saling kenal sebelumnya?”
Chandra menggelengkan kepala. “Aku masih
menyelidiki masa lalu mereka.”
“Belum dapat?”
Chandra menggelengkan kepala. “Aku masih fokus
mengamati pergerakan mereka beberapa hari terakhir. Kemungkinan besar, mereka
pernah terlibat hubungan di masa lalu. Masih dugaan sementara, soalnya mereka
kelihatan dekat dan pria ini ... sepertinya bekerja di belakang Melan.”
Yeriko mengernyitkan dahinya. “Maksudnya?”
“Dia baru keluar dari penjara. Tapi bisa menginap
di hotel mewah. Logikanya, orang yang baru keluar dari penjara ... dari mana
punya uang untuk membiayai hidupnya? Apalagi, dia dipenjara karena kasus
penipuan. Dia dipenjara karena nggak mampu ganti rugi.”
Yeriko mengangguk-anggukkan kepala. “Kalau dia
menyimpan aset, kemungkinan dia tetap memiliki uang, Chan.”
“Berapa sih aset yang bisa dimiliki sama seorang
penipu yang nggak sanggup bayar ganti rugi? Tabungan? Dua puluh juta? Lima
puluh juta? Nggak sebanding dengan gaya hidup dia sekarang yang bisa menginap
di hotel bintang lima.”
“Kamu sudah cari tahu latar belakang keluarganya?”
“Aku udah tanya sama petugas lapas. Selama dia
dipenjara, nggak ada orang lain yang nengokin dia kecuali ...”
“Melan?” Yeriko menebak ucapan Chandra.
Chandra langsung menganggukkan kepala. “Dari data
yang aku dapat, dia nggak punya keluarga.”
“Jadi, pria ini mengandalkan hidupnya sama
tantenya Yuna?”
“Betul banget!”
“Apa mereka terlibat dalam kecelakaan kali ini?”
Chandra menggelengkan kepala. “Kalo soal ini, kamu
tanyakan ke Satria. Dia yang lagi mendalami kasus kecelakaan ini ‘kan?”
“Iya, sih. Tapi aku masih penasaran ... kamu udah
selidiki latar belakang keluarganya Melan? Masa lalunya, cerita hidupnya atau
apalah yang berhubungan dengan dia. Kenapa dia benci banget sama istriku,
padahal dia sudah dikasih perusahaan dengan mudah.”
Chandra mengedikkan bahu. “Nggak tahu, Yer. Kenapa
nggak ambil alih perusahaan mereka aja?”
Yeriko menarik napas dalam-dalam. Ia berpikir
selama beberapa saat. “Yuna nggak mau membahayakan Pak Adjie, begitu juga
sebaliknya. Mmh ... kamu bisa urus sama Riyan soal ini?” tanya Yeriko sambil
memainkan alisnya.
“Urus soal ...?” Chandra mengamati wajah Yeriko.
“Kalau nggak bisa diambil alih, buat perusahaan
itu bangkrut perlahan!” perintah Yeriko.
“Tapi, Yer ... kalau suatu hari perusahaan itu
kembali ke tangan Yuna. Apa nggak membahayakan buat Yuna juga?”
“Ck, iya juga ya? Kenapa rumit banget?” sahut
Yeriko sambil mengacak rambutnya sendiri.
“Yang aku khawatirkan, mereka kembali mengalihkan
perusahaan ke tangan Yuna saat di ambang kebangkrutan. Ini akan membuat Yuna
lebih menderita, Yer.”
“Ya udah, kamu fokus ke Melan aja. Aku mau
menyingkirkan dia dari keluarga Linandar.”
“Kalau ini ... kayaknya bisa lebih mudah.”
Yeriko mengangguk-anggukkan kepala. “Kayaknya, Oom
Rudi juga ada di bawah kendali perempuan licik itu. Selidiki dua orang yang ada
di foto ini sampai tuntas!”
“Siap, Yer!”
“Oh ya, gimana hubungan kamu sama Jheni?” tanya
Yeriko.
“Baik,” jawab Chandra sambil bangkit dari tempat
duduknya. “Aku pulang dulu!”
“Aku cuma nanya hubungan kamu sama Jheni aja.
Kenapa buru-buru ngabur?” tanya Yeriko.
“Aku ada urusan,” jawab Chandra sambil menarik
gagang pintu. Ia langsung melebarkan kelopak matanya begitu melihat Bibi War
sudah berdiri di depan pintu.
“Kopinya, Mas!”
Chandra menghela napas. “Makasih, Bi!” ucapnya
sambil meraih nampan yang ada di tangan Bibi War. Ia kembali masuk ke dalam
ruangan dan duduk di sebelah Yeriko.
“Nggak jadi pulang?” tanya Yeriko sambil menahan
tawa.
“Udah terlanjur dibuatin kopi sama Bibi. Oh ya,
soal bisnis yang ada di Eropa. Beberapa outlet sudah mulai beroperasi dan
hasilnya ...”
“Gimana?”
“Sukses besar!” seru Chandra.
Yeriko tersenyum kecil menatap Chandra.
“Kamu biasa aja?” tanya Chandra.
“Emang harus gimana?”
“Nggak senang sama kesuksesan penjualan kita di
Eropa?”
“Senang.”
“Kenapa reaksinya biasa aja?”
“Aku sudah tahu sejak seminggu lalu. Aku harus
apa?”
“Party, Yer!” pinta Chandra.
“Ck, kamu tahu istriku nggak suka party. Lagian,
kemarin udah bikin acara syukuran di rumah kakek.”
“Itu kan syukuran tujuh bulanan istri kamu, Yer.
Nggak ada hubungannya sama penjualan perusahaan.”
“Sama aja. Yang penting makan gratis ‘kan?”
“Nggak ada bir di sana. Ayolah! Udah lama banget
kita nggak minum sampai mabuk,” ajak Chandra.
“Chan, ayah mertuaku lagi sakit. Aku nggak mungkin
berpesta di atas penderitaan istriku. Nggak punya perasaan!”
“Iya juga, sih.” Chandra mengangguk-anggukkan
kepala. Ia menyesap kopi yang ada di hadapannya dan berbicara banyak hal
tentang bisnis yang sedang ia urus di perusahaan mereka.
Beberapa menit kemudian, Yuna ikut masuk ke dalam
ruang kerja Yeriko.
“Chan, Jheni nggak ikut ke sini?” tanya Yuna.
Chandra menggelengkan kepala. “Dia ada janji
ketemu sama editor atau kurator gitu. Buru-buru pergi sendirian.”
“Nggak kamu antar, Chan?” tanya Yeriko.
“Tahu sendiri si Jheni kayak apa. Dia lebih suka
bepergian sendirian.”
“Oh.” Yuna mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia
menghampiri Yeriko yang duduk di sofa. “Ay, aku udah siap. Kita berangkat
sekarang, yuk! Kasihan ayah kalau ditinggal terlalu lama di rumah sakit.”
“Ada suster yang jagain Pak Adjie, kok.” Chandra
menatap wajah Yuna. “Kalau ada apa-apa, mereka pasti hubungi kita.”
“Iya, sih. Tapi ... aku tetap nggak tenang kalau
ninggalin ayah sendirian di rumah sakit.”
Yeriko menghela napas. Ia bangkit dari tempat
duduknya. “Ya udah, kita pergi ke rumah sakit, sekarang!”
Yuna menganggukkan kepala sambil tersenyum. Ia
sudah tidak sabar ingin bertemu dengan ayahnya di rumah sakit. Ia tidak bisa
berlama-lama di rumah karena ia selalu memikirkan kondisi ayahnya.
“Chan, kamu masih mau di sini?” tanya Yeriko
sambil menatap Chandra yang masih bergeming di tempatnya.
Chandra menganggukkan kepala. “Duluan aja!”
“Oke. Kalau ada perkembangan selanjutnya, langsung
kasih tahu aku!”
Chandra mengangguk lagi. “Satria sama Riyan juga
mau ke sini sebentar lagi. Aku tunggu mereka untuk menyelidiki kasus ini.”
Yuna mengangguk sambil menatap wajah Chandra.
“Thanks, Chan! Kalian selalu bantu aku. Maaf, kehadiranku selalu merepotkan
kalian semua!”
“Halah, santai aja! Kayak sama orang lain aja.”
Yuna tersenyum ke arah Chandra. “Kami pergi dulu
ya!” pamitnya.
Chandra menganggukkan kepala. Ia menatap kepergian
Yuna dan Yeriko. Ia tak beranjak sama sekali dari ruang kerja Yeriko karena
menunggu Satria dan Riyan datang ke rumah itu.
Sejak dulu, mereka selalu melakukan banyak hal di
ruang kerja ini. Mereka akan menyelesaikan masalah sampai tuntas. Terlebih,
empat sahabat itu memiliki keunggulan berbeda.
((Bersambung ...))
Babang Chandra bakal berhasil nemuin pelakunya
atau nggak, ya?
Dukung terus cerita ini biar bisa bikin cerita
yang lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment