“Pa, Papa udah jadi telepon ayahnya Yuna?” tanya
Melan saat mereka duduk di meja makan untuk sarapan.
“Belum. Sebentar lagi Papa telepon.”
Melan tersenyum sambil menatap Tarudi. “Udah lama
nggak dengar kabar ayahnya Yuna. Semenjak makan malam tahun baru, kita belum
ketemu lagi. Gimana, kalau kita ke sana hari ini?”
Tarudi menoleh ke arah Melan. Ia tersenyum karena
istrinya kali ini mau memperhatikan kakak kandungnya. Tapi, ia masih tidak
yakin kalau perhatian Melan kepada kakaknya itu tulus.
“Gimana?” tanya Melan. Ia berusaha mendesak Tarudi
agar menghubungi Adjie secepatnya.
Tarudi menganggukkan kepala. “Papa telepon dulu.”
Melan menganggukkan kepala sambil tersenyum manis.
Ia menanti-nantikan kabar bahagia soal keadaan Adjie kali ini.
Tarudi menelepon Adjie beberapa kali, tetap saja
tidak bisa tersambung.
“Kenapa?” tanya Melan makin penasaran.
“Nomornya nggak aktif.”
“Telepon si Yuna aja!”
“Iya juga, ya. Dia selalu ke apartemen Kak Adjie
setiap hari.”
Melan tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Tarudi menekan nomor ponsel Yuna. Ia terus
menunggu jawaban dari keponakannya itu.
“Halo ...!” sapa Yuna begitu panggilan telepon
Tarudi tersambung.
“Halo, Yuna ...! Apa kabar?”
“Menurut Oom?” tanya Yuna balik.
Tarudi terdiam saat mendengar suara sengau yang
keluar dari mulut Yuna. “Apa ayah kamu ada di rumah? Sejak semalam, Oom telepon
dia ... nomornya nggak aktif.”
Yuna terdengar tertawa kecil. “Oom Rudi senang kan
kalau ayahku nggak bisa jawab telepon?”
“Maksud kamu?”
“Nggak usah pura-pura nggak tahu, Oom! Apa yang
Oom Rudi inginkan, semuanya sudah tercapai. Termasuk bikin ayahku bungkam dan
nggak bisa bicara lagi!”
“Yuna, ini ada apa? Oom nggak ngerti maksud kamu.
Ayah kamu kenapa?”
“Ayah kecelakaan. Sekarang, dia masih koma. Oom
senang kan bisa lihat ayah kayak gini lagi?” tanya Yuna.
“Yun, kenapa kamu bilang begitu? Dia itu kakakku
juga. Sekarang, kalian ada di rumah sakit mana? Oom akan ke sana untuk je—”
Tut ... Tut ... Tut ...!
Tarudi mengerutkan dahi karena Yuna menutup
telepon sepihak. Ia hanya menghela napas sambil menatap panggilan teleponnya
yang sudah mati.
“Kenapa, Pa?” tanya Melan sambil menyembunyikan
perasaan bahagianya. Ia merasa sangat bahagia saat mendengar kalau Adjie berada
di rumah sakit.
“Kak Adjie kecelakaan. Papa harus jenguk dia,”
jawab Adjie sambil bangkit dari tempat duduk.
“Hah!? Kecelakaan? Di mana? Sekarang dirawat di
rumah sakit mana?” tanya Melan.
“Belum tahu. Yuna nggak mau ngasih tahu keberadaan
ayahnya. Aku akan cari tahu,” jawab Tarudi sambil melangkah pergi dengan
terburu-buru.
“Hati-hati ya, Pa! Nanti kabari Mama kalau Kak
Adjie sudah ditemukan di rumah sakit mana. Mama akan menyusul ...!” seru Melan
sambil menatap punggung Tarudi yang bergerak menjauhinya.
Melan langsung tertawa lebar begitu suaminya pergi
meninggalkan dirinya. “Akhirnya ... aku berhasil bikin si Adjie sialan itu koma
lagi. Aku nggak akan ngebiarin kalian ngambil alih perusahaan lagi. Kalian
pikir, bisa menghadapi aku dengan mudah?” tutur Melan sambil tertawa bahagia.
Ia bangkit dari tempat duduk, meninggalkan makanan yang belum dihabiskan begitu
saja.
“Saatnya memanjakan diri di salon dan shopping
sepuasnya ...!” seru Melan sambil melangkah penuh bahagia.
...
“Paman nggak tahu diri!” umpat Yuna sambil
membanting ponselnya ke atas kasur.
“Kenapa?” tanya Yeriko.
“Biasa, Oom Rudi.”
“Dia bikin masalah lagi?”
Yuna menggigit bibir sambil menggelengkan kepala.
“Nggak, sih. Dia cuma nanya keadaan ayah. Kayaknya, dia nggak tahu apa-apa soal
kecelakaan yang menimpa ayah kali ini. Sebenarnya, ini ada hubungannya sama Oom
Rudi atau nggak ya?”
Yeriko menghela napas. Ia duduk di tepi tempat
tidur sambil menatap Yuna. “Aku perhatikan, selama ini hubungan ayah kamu dan
adiknya cukup baik. Hanya saja, kita nggak bisa memastikan apa yang terjadi
sebenarnya. Tetap harus waspada!”
Yuna menganggukkan kepala. “Aku curiga sama
mereka. Mereka pasti sudah merencanakan ini semua untuk mencelakai ayah.
Padahal, ayah nggak pernah membahas soal perusahaan. Kenapa mereka begitu takut
kehilangan perusahaan yang seharusnya menjadi milik kami?”
Yeriko tersenyum sambil menatap Yuna. “Kamu tenang
aja! Aku akan urus semuanya. Asal kamu izinkan aku untuk ...”
“Nggak usah, Ay!” pinta Yuna. “Hidup ayah jauh
lebih penting dari perusahaan. Aku nggak mau mereka terus mencelakai ayah hanya
karena rebutan harta. Aku sudah terbiasa hidup sederhana. Nggak perlu hidup
mewah asal bisa bahagia.”
Yeriko tersenyum. Ia berjongkok di lantai, tepat
di hadapan Yuna. “Yun, kenapa hati kamu bisa semulia ini?” tanyanya sambil
menggenggam tangan Yuna dan mengecupnya.
“Bukan hatiku yang mulia, tapi kalian yang terlalu
istimewa,” tutur Yuna sambil menatap wajah Yeriko. “Jangan lakukan apa
pun yang membahayakan untuk kamu! Aku nggak mau, apa yang terjadi sama ayah ...
terjadi juga sama kamu.”
Yeriko tersenyum sambil menatap Yuna. Ia bangkit
dari lantai dan merengkuh tubuh Yuna ke dalam pelukannya. “Apa yang aku lakukan
saat ini, hanya untuk melindungi kamu,” batinnya dalam hati.
Tok ... Tok ... Tok ...!
Yuna dan Yeriko langsung menoleh ke arah pintu.
“Masuk!” perintah mereka bersamaan.
Pintu kamar langsung terbuka. “Ada Mas Chandra
datang,” tutur Bibi War.
“Oh, oke. Suruh tunggu di ruang kerjaku, Bi!”
perintah Yeriko.
Bibi War menganggukkan kepala. Ia bergegas menutup
pintu kembali dan turun ke lantai bawah.
“Yeriko mana, Bi?” tanya Chandra begitu Bibi War
menghampirinya di ruang tamu.
“Di atas. Katanya, suruh nunggu di ruang
kerjanya.”
“Oh, oke. Nggak papa nih aku naik?” tanya Chandra.
“Nggak papa. Naik aja!” perintah Bibi War.
“Dia sama Yuna lagi apa? Ntar aku ganggu orang
lagi bercinta,” tutur Chandra sambil tertawa kecil.
Bibi War ikut tertawa. “Nggak akan ganggu,
palingan Mas Chandra yang kepengen kalo lihat.”
“Eh!? Bibi ngolok aku?”
Bibi War terkekeh mendengar pertanyaan Chandra.
“Makanya, cepet nikah! Biar rumah ini tambah ramai kalau kalian datang.”
“Ah, Bibi. Sama aja kayak Yeriko,” sahut Chandra
sambil bergegas menaiki anak tangga menuju ke ruang kerja Yeriko.
“Mas Chandra mau minum apa?” tanya Bibi War sambil
menatap tubuh Chandra yang sudah berada di ujung tangga.
“Kopi aja, Bi!” sahut Chandra sambil menghentikan
langkahnya dan memutar kepala menatap Bibi War yang berdiri di bawah tangga.
“Pakai susu atau nggak?” goda Bibi War.
“Ah, Bibi mah suka gitu. Kopi campur Jheni kalau
ada!” pinta Chandra sambil tertawa kecil.
“Maksudnya, susunya Mbak Jheni?” tanya Bibi War
menggoda.
“Ah, Bibi bisa aja. Bikin otakku berkelana.
Terserah deh mau dibikinin kopi apa. Asal jangan pakai sianida aja!” sahut
Chandra sambil bergegas masuk ke ruang kerja Yeriko.
Bibi War tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan
kepala. Ia merasa sangat bahagia karena Yeriko dikelilingi oleh orang-orang
baik yang bersedia membantu dan melindunginya kapan pun. Meski sering kasar,
tapi hati anak asuhnya itu begitu peduli dengan orang-orang yang ada di
sekelilingnya.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini biar aku makin
semangat bikin cerita yang lebih seru lagi dan mengungkap misteri yang belum
terpecahkan satu per satu.
Thank’s!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment