Tuesday, March 3, 2026

Perfect Hero Bab 493 : Semakin Khawatir

 


“Selamat sore ...!” sapa Melan saat Yuna membukakan pintu rumahnya. Di hari berikutnya, ia  dan Tarudi sengaja mengunjungi rumah Yuna sambil membawakan hadiah.

 

“Tante, Oom?” Yuna melebarkan kelopak matanya begitu melihat Tarudi dan Melan sudah berdiri di depan pintu.

 

“Kenapa pas banget aku buka pintu, mereka nongol kayak jin?” tanya Yuna dalam hati.

 

Melan tersenyum manis sambil menatap Yuna. “Apa kabar?”

 

“Baik, Tante. Mmh ... silakan masuk, Oom!”

 

Melan dan Tarudi menganggukkan kepala sambil melangkah masuk ke dalam rumah yang dilengkapi dengan furniture mewah yang tersusun rapi dan artistik.

 

“Silakan duduk, Tante, Oom!”

 

Tarudi dan Melan langsung duduk di sofa yang ada di dalam ruang tamu tersebut.

 

“Ini ... kami bawakan hadiah untuk kamu,” tutur Melan sambil meletakkan beberapa paper bag ke atas meja.

 

Yuna langsung menatap paper bag yang ada di atas meja tersebut. Ia merasa kalau kedatangan dua orang keluarganya ini ada maksud tersembunyi.

 

Melan terus tersenyum manis ke arah Yuna.

 

Yuna ikut memaksakan bibirnya tersenyum. “Oom, seharusnya nggak perlu repot bawakan hadiah. Kalau mau ke sini, ya ke sini aja!”

 

Tarudi tertawa kecil menanggapi ucapan Yuna. “Sudah lama Oom tidak melihat keadaan kamu. Masa ke sini tidak bawa apa-apa? Ini juga Oom bawakan hadiah untuk ayah kamu.”

 

“Aku dan ayah nggak memerlukan hadiah ini, Oom. Sebaiknya, hadiah ini kalian bawa pulang saja!” pinta Yuna sambil tersenyum manis.

 

Tarudi menarik napas dalam-dalam. Ia mulai resah menghadapi Yuna yang jelas-jelas statusnya jauh lebih tinggi dari keluarganya.

 

“Kamu menolak pemberian kami karena barang yang kami beri nggak ada harganya?” tanya Melan.

 

Yuna menarik napas dalam-dalam. “Ini Maleficent mulai cari gara-gara lagi sama aku?” batinnya. Ia berusaha tetap tersenyum sambil menahan kekesalan dalam hatinya.

 

“Kamu sekarang bisa sombong karena sudah jadi menantu dari keluarga yang kaya raya? Kamu nggak ingat, beberapa bulan lalu kamu masih jadi gembel di jalanan?” tanya Melan.

 

Yuna langsung memutar kepalanya. Ia khawatir kalau ayahnya yang sedang berada di teras belakang, akan mendengar suara Oom dan Tantenya itu.

 

“Ma, hati-hati kalau bicara! Wajar saja kalau kehidupan Yuna yang sekarang sudah berubah,” tutur Tarudi lembut.

 

Melan menatap wajah Yuna penuh kebencian. Ia masih sangat kesal karena keponakan yang sudah susah payah ia beri makan selama bertahun-tahun, selalu saja membangkang, bahkan menyerang dirinya.

 

“Tante sudah mengenal aku selama bertahun-tahun. Aku juga sudah mengenal Tante selama bertahun-tahun. Apa Tante pikir, aku nggak tahu apa maksud terselubung di balik hadiah-hadiah ini?”

 

Melan membelalakkan matanya sambil menatap Yuna. “Kamu ...!? Bener-bener nggak mau menghargai pemberian kami?”

 

“Tante lupa, apa yang terakhir kali Tante buat saat masuk ke rumah ini? Aku sama sekali nggak menangkap niat baik Tante. Tante ke sini cuma mau bikin onar di rumahku,” sahut Yuna.

 

“Kalau kamu nggak bersikap sombong kayak gini. Aku nggak akan emosi!” seru Melan.

 

Yuna tertawa kecil menanggapi ucapan Melan. “Aku sombong? Bukannya selama ini Tante yang selalu sombong?” tanyanya.

 

Melan semakin kesal mendengar pertanyaan Yuna.

 

“Kenapa? Tante baru sadar kalau ada orang lain yang lebih kaya dari kekayaan yang kalian bangga-banggakan itu? Aku nggak akan membalas perlakuan Tante ke aku selama ini. Tapi ... aku nggak akan pernah melupakan seumur hidupku!” tegas Yuna sambil menatap tajam ke arah Melan.

 

“Dasar, anak nggak tahu diri!” seru Melan.

 

“Ada apa ini?” tanya Adjie yang tiba-tiba sudah muncul di belakang Yuna. Ia langsung duduk di salah satu sofa yang kosong.

 

“Selamat Sore, Kak Adjie!” sapa Tarudi sambil tersenyum ke arah kakaknya.

 

Adjie hanya mengangguk kecil sambil menatap kedatangan adik dan istrinya itu. “Kalian dari rumah?” tanyanya.

 

Tarudi dan Melan mengangguk sambil tersenyum. Mereka terlihat bahagia karena Adjie lebih menerima kehadirannya daripada keponakannya sendiri.

 

“Ada apa?” tanya Adjie. Ia tidak begitu suka basa-basi dan menginginkan adiknya segera mengungkapkan maksud kedatangannya kali ini. Karena semalam, Tarudi sudah berbasa-basi, mengajaknya menikmati sate dan bir tanpa ia ketahui maksud sebenarnya.

 

Tarudi menghela napas sambil menatap wajah Adjie. “Kami ke sini karena ada hal yang ingin kami tanyakan.”

 

“Apa?” tanya Adjie.

 

“Kemarin, Bellina melihat kamu pergi ke makam Arum. Apa itu benar?” tanya Tarudi.

 

Yuna langsung menoleh ke arah Adjie begitu mendengar pertanyaan dari Tarudi. “Bener, Yah?”

 

Adjie menganggukkan kepala.

 

“Ayah sudah ingat sama Bunda?” tanya Adjie.

 

Adjie menggelengkan kepala. “Ayah hanya bermimpi kalau Bunda kamu selalu mengajak Ayah bercerita tentang banyak hal.”

 

“Oh, aku pikir ... ingatan kamu tentang Arum sudah kembali,” sahut Tarudi.

 

Adjie menghela napas panjang. “Aku akan berusaha mencari ingatanku tentang dia. Sebab, dia adalah ibu dari puteri kesayanganku.”

 

Tarudi terdiam. Perasaannya sangat sakit ketika mendengar ucapan Adjie. Ia teringat bagaimana masa lalunya dengan Adjie dan Arum.

 

Melan melirik wajah suaminya. Ia tidak bisa membaca apa yang ada di dalam hati suaminya itu. Ia tidak peduli dengan perasaan Tarudi saat ini. Ia sudah merasa menang dan bahagia karena Arum sudah mati. Tak ada lagi wanita yang selalu mengganggu perasaan suaminya itu.

 

“Kak, aku ke sini mau membicarakan masalah perusahaan,” tutur Tarudi.

 

“Ada apa dengan perusahaan kamu?”

 

Tarudi menarik napas dalam-dalam. Kata ‘kamu’ yang ditujukan sebagai pemilik perusahaan, membuatnya merasa sedikit lega. Ia sangat berharap kalau kakaknya tidak mengambil alih kendali perusahaan keluarga Lin.

 

Yuna hanya menatap wajah paman dan bibinya yang menyiratkan niat tersembunyi. Ia masih tidak mengerti kenapa keduanya kerap kali mengusik hidup ayahnya.

 

“Perusahaan dalam keadaan sangat baik. Hanya saja ... mmh ... mmh ...”

 

“Langsung aja!” perintah Adjie.

 

“Apa Kak Adjie ingin mengendalikan perusahaan lagi?” tanya Tarudi perlahan.

 

Yuna tertawa kecil mendengar pertanyaan dari pamannya. “Oom ... jadi, Oom ke sini cuma karena takut kalau ayahku akan mengendalikan perusahaan lagi?”

 

Tarudi menghela napas. “Bukankah kamu juga sudah merelakan perusahaan keluarga Lin ada di tanganku?”

 

Yuna tersenyum sinis. “Ambil aja, Oom! Perusahaan suamiku jauh lebih besar. Aku nggak mungkin ngejar-ngejar perusahaan kecil itu.”

 

“Perusahaan kecil? Kamu sombong banget!?” sahut Melan kesal.

 

Yuna tertawa kecil menanggapi ucapan tantenya. “Tante ... apa Tante nggak tahu kalau Oom Rudi sudah menjual salah satu anak perusahaannya karena defisit selama berbulan-bulan.”

 

Melan melebarkan kelopak matanya. Ia langsung menoleh ke arah Tarudi yang duduk di sampingnya. “Bener?”

 

Tarudi menggelengkan kepala. “Nggak bener. Dia cuma bohong!”

 

Yuna tertawa kecil. “Aku yang bohong atau Oom Rudi yang bohong?” tanya Yuna sambil tersenyum santai.

 

“Kamu mau nyembunyikan masalah perusahaan dari aku?” tanya Melan.

 

“Nggak, Ma. Ini semua nggak bener!” sahut Tarudi.

 

Yuna menyunggingkan setengah senyum di bibirnya. Ia merasa puas melihat Melan mulai ketakutan saat mengetahui kondisi perusahaan keluarganya.

 

“Sebaiknya, kalian bicarakan masalah perusahaan ini di rumah kalian saja! Jangan membuat keributan di sini!” pinta Adjie.

 

Yuna langsung mengejek dua orang yang di hadapannya menggunakan ekspresi wajahnya.

 

Melan mendengus kesal ke arah Yuna dan Adjie. “Ayo, Pa. Kita pulang!” ajaknya.

 

Tarudi menganggukkan kepala. Ia tidak berani membantah keinginan istrinya. Ia juga tidak bisa berlama-lama di dalam ruangan itu karena Yuna terus-menerus menyerang perusahaannya. Ia sangat khawatir karena ucapan Yuna hampir benar. Salah satu anak perusahaannya mengalami defisit, tapi belum sampai menjual anak perusahaan tersebut.

 

“Kamu tahu dari mana kalau anak perusahaan Rudi mengalami defisit?” tanya Adjie sambil menatap Yuna.

 

“Aku baca di berita. Tapi, belum sampai dijual,” jawab Yuna.

 

“Kamu bohongi tante kamu sendiri?”

 

Yuna menganggukkan kepala sambil tersenyum. “Ayah lihat sendiri gimana mukanya dia waktu aku bilang kalau Oom Rudi jual anak perusahaan. Dia udah ketakutan gitu,” jawab Yuna sambil tertawa kecil.

 

Adjie menggeleng-gelengkan kepala. “Kelakuan jahil kamu itu nggak hilang-hilang sejak masih kecil.”

 

Yuna meringis sambil menatap ayahnya. Ia sangat mengenal paman dan bibinya yang kerap memperlakukannya dengan kejam. Ia harus bisa menghadapinya dengan cara yang lebih elegan, tidak lagi menjadi Yuna setahun lalu yang selalu meluapkan emosinya dengan menggebu-gebu.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini, jangan lupa kasih Star Vote biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Perfect Hero Bab 492 : Masih di Bawah Kendali 11 Tahun Lalu

 


“Pa ...!” sapa Bellina begitu papanya masuk ke dalam rumah.

 

“Eh, Bellina!? Tumben ke sini? Sudah lama nggak main ke rumah kami.”

 

“Dia sering ke sini, Papa yang selalu sibuk di kantor,” jawab Melan sambil tersenyum manis. Ia membantu suaminya itu melepaskan jasnya.

 

Tarudi tersenyum kecil. “Maaf, akhir-akhir ini memang sangat sibuk.”

 

“Gimana dengan  perusahaan?” tanya Melan.

 

“Baik-baik aja,” jawab Tarudi sambil melepas dasinya.

 

Melan menghela napas. “Syukurlah. Mama buatkan minum dulu!”

 

Tarudi menganggukkan kepalanya.

 

“Pa ...!” panggil Bellina yang sudah duduk di sebelah ayahnya.

 

“Apa?”

 

“Tadi, aku ketemu sama Oom Adjie.”

 

“Oh ya? Ketemu di mana?”

 

“Nggak ketemu, sih. Aku cuma lihat Oom Adjie masuk ke area pemakaman Tante Arum. Dia nggak amnesia, Pa.”

 

“Kamu lihat sendiri!?” tanya Tarudi sambil menoleh ke arah Bellina.

 

Bellina menganggukkan kepala.

 

“Nggak salah lihat orang ‘kan?”

 

Bellina menggeleng lagi. “Aku nggak salah, Pa. Aku sudah tanya sama penjaga makam juga. Itu memang Oom Adjie. Dia bahkan ingat kalau Tante Arum meninggal karena kecelakaan.”

 

“Ah, mungkin hanya perasaan kamu aja. Bisa jadi, Yuna memang kasih tahu ayahnya soal ini.”

 

“Tapi ...”

 

“Adjie itu sudah koma sejak kecelakaan. Dia nggak mungkin tahu posisi makam istrinya kalau bukan Yuna yang kasih tahu.”

 

Bellina terdiam. Ia menggigit bibir sambil berpikir. “Tapi, dia ingat kejadian kecelakaan sebelas tahun lalu. Dia pasti ingat gimana Papa ambil alih perusahaan Oom Adjie. Kalau dia mau ambil alih lagi gimana?”

 

Tarudi menghela napas. “Kamu nggak perlu sepanik ini. Yuna dan Oom kamu sudah berjanji kalau mereka tidak akan mengambil alih perusahaan. Oom kamu sudah mempercayakan perusahaannya di tangan papa.”

 

“Papa yakin kalau Oom Adjie nggak berbahaya?” tanya Bellina.

 

Tarudi menghela napas. “Kamu tenang aja! Dia itu kakaknya Papa. Papa bisa mengatasi dia.”

 

“Aku tetap nggak bisa tenang, Pa. Kenapa dia harus pura-pura amnesia? Dia pasti merencanakan sesuatu di belakang kita.”

 

Tarudi menghela napasnya. Ia berusaha bersikap setenang mungkin walau hatinya mulai goyah karena sikap kakaknya yang menyimpan banyak rahasia setelah kecelakaan sebelas tahun lalu.

 

“Pa, kita tetap harus berhati-hati. Kita nggak tahu apa rencana mereka di balik ini semua,” tutur Melan.

 

Tarudi mengangguk-anggukkan kepala. “Papa mau mandi dulu,” pamitnya sambil bergegas pergi ke kamarnya.

 

Belum sampai masuk ke dalam kamar mandi. Ponsel Tarudi tiba-tiba berdering. Ia melihat layar ponsel, menatap nomor tak dikenal yang tertera di layar tersebut.

 

Tarudi menjawab panggilan telepon tersebut. “Halo ...!”

 

Hening.

 

“Halo ...!”

 

Hening.

 

Tarudi menghela napas karena tak ada suara yang keluar dari seberang telepon. Ia berniat untuk mematikan telepon tersebut.

 

“Rudi ...!” Suara berat dari seberang telepon menyapa Tarudi.

 

Jantung Tarudi berdetak lebih kencang saat mendengar suara pria yang sudah tak asing lagi di telinganya.

 

“Apa kabar, Rudi?”

 

Tarudi mengelap keringat dingin yang menetes di pelipisnya.

 

“Kamu masih ingat sama saya?”

 

GLEG!

 

Tarudi menelan ludah mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut pria tersebut.

 

“Apa kamu ingat kesepakatan yang sudah kita buat?” tanya suara berat di ujung sana.

 

Tarudi tak menjawab. Ia langsung mematikan panggilan telepon dan meletakkan ponselnya di atas meja. Ia mondar-mandir di dalam kamar sambil berpikir.

 

“Ah, aku nggak bisa kayak gini terus,” gumamnya. Ia membasuh wajahnya di kamar mandi sejenak. Kemudian menarik jaket dan keluar lagi dari kamarnya.

 

“Papa mau ke mana?” tanya Melan begitu melihat suaminya terburu-buru.

 

“Ada urusan, sebentar,” jawab Tarudi sambil melangkah keluar dari rumahnya. Ia harus memastikan apakah Adjie benar-benar hilang ingatan atau tidak. Ia tidak ingin menyerahkan perusahaan begitu saja setelah melakukan banyak hal untuk mendapatkannya.

 

“Kenapa Papa buru-buru gitu, Ma?” tanya Bellina.

 

“Mungkin, memang ada urusan penting.”

 

“Soal Oom Adjie?”

 

Melan terdiam. “Bukannya papa kamu bilang, semua akan baik-baik aja? Mungkin, urusan kantor.”

 

Bellina tersenyum sambil menganggukkan kepala.

 

“Kamu makan malam di sini ya!” pinta Melan. “Ajak Lian sekalian!”

 

“Lian lagi sibuk, Ma.”

 

“Sibuk apa?”

 

Bellina mengedikkan bahunya.

 

“Kamu ini ... bukannya bantuin Lian di perusahaan, malah nggak tahu apa kesibukan suami kamu sendiri?”

 

Bellina menghela napas. “Ada masalah dengan beberapa anak perusahaan Lian. Jadi, dia sibuk mondar-mandir ngurusin masalah perusahaan.”

 

“Masalah besar?”

 

Bellina menganggukkan kepala. “Nggak, kok. Sama aja seperti sebelumnya. Ada beberapa kendala teknis saat menjalankan proyek baru.”

 

“Kamu nggak bantu dia?”

 

Bellina menggelengkan kepala. “Lian nggak izinkan aku terjun ke divisi proyek. Jadi, aku santai-santai aja.”

 

Melan menghela napas sambil tersenyum ke arah Bellina. “Bel, walau suami kamu itu masih sering deketin Yuna. Dia sayang juga sama kamu. Pasti, nggak tega lihat kamu capek.”

 

Bellina menganggukkan kepala.

 

“Makanya, kamu harus punya anak secepatnya supaya Lian makin sayang sama kamu. Gimana, kalau dia sampai tertarik sama perempuan lain lagi?”

 

“Jangan sampai, Ma!” sahut Bellina.

 

“Bell, pria sukses itu banyak godaannya. Kamu harus jaga dia sekuat tenaga biar nggak pergi dari sisi kamu. Laki-laki kayak Lian, bisa aja suka sama perempuan lain. Sampai sekarang, dia bahkan nggak mau melupakan si Yuna sialan itu!”

 

Bellina menghela napas. Ia sudah melakukan banyak hal untuk Lian, namun pria itu tetap saja tidak mau melepaskan masa lalunya dengan Yuna. Padahal saat masih menjadi selingkuhan Lian, ia jauh lebih bahagia.

 

 

 

...

 

 

 

Tarudi terus melangkahkan kakinya memasuki lingkungan apartemen tempat kakaknya tinggal.

 

“Malam, Kak Adjie ...!” sapa Tarudi begitu Adjie membukakan pintu apartemen untuknya.

 

“Malam ...!” balas Adjie sambil mengamati tubuh Tarudi.

 

“Aku beli bir dan beberapa porsi sate. Gimana kalau kita makan bersama?”

 

Adjie menatap wajah Tarudi. “Boleh.”

 

Tarudi tersenyum lebar. Ia langsung masuk ke dalam apartemen kakaknya tanpa menunggu perintah.

 

Adjie mengangkat kedua alis sambil mengamati Tarudi hingga mereka duduk berdua di meja makan. Meski terlihat wajar, ia merasa sikap adiknya tak biasa.

 

“Rudi ...!” panggil Adjie lirih.

 

“Ya.”

 

“Gimana kondisi perusahaan yang kamu pimpin?”

 

“Baik. Sangat baik,” jawab Tarudi sambil membuka botol bir yang ia bawa.

 

Adjie mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Apa Kakak ingin kembali ke perusahaan?” tanya Tarudi sambil melirik wajah Adjie.

 

Adjie menggelengkan kepala. “Yuna tidak akan membiarkan aku pergi bekerja.”

 

Tarudi tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Dia memang anak yang baik dan berbakti.”

 

Adjie tersenyum sambil menatap adiknya yang sedang menikmati sate dengan lahap.

 

“Kak, kalau Yuna mengizinkan ... apa Kakak akan kembali ke perusahaan?”

 

“Mungkin, iya.”

 

DEG!

 

Jantung Tarudi serasa berhenti berdetak saat mendengar jawaban dari kakaknya.

 

“Kenapa?” tanya Adjie.

 

Tarudi menggeleng-gelengkan kepalanya. “Nggak papa.”

 

“Oh.”

 

Tarudi tersenyum. Ia mengajak kakaknya itu berbicara banyak hal soal masa lalu mereka untuk memancing ingatan Adjie. Ia harus menciptakan kebohongan-kebohongan soal pemindahan saham yang ia lakukan sebelum kakaknya mengalami kecelakaan.

 

 

Perfect Hero Bab 491 : Mulai Resah

 


Bellina menatap tubuh Adjie dari kejauhan. “Kok, Oom Adjie bisa ke makam sih?” Hatinya masih saja mempertanyakan hal yang sama.

 

Bellina menghela napas dan melangkahkan kakinya pergi dari pemakaman tersebut. Tapi hatinya masih saja bertanya-tanya karena yang ia ketahui, Adjie mengalami amnesia akibat kecelakaan sebelas tahun lalu.

 

“Huft, aku harus pastikan apa yang terjadi sebenarnya,” tutur Bellina sambil membalikkan tubuhnya dan kembali ke pemakaman.

 

Bellina mengedarkan pandangannya. Ia menatap pusara Arum yang sudah kosong, tak ada lagi sosok Adjie di sana. Ia terus berkeliling mencari Adjie yang tadi duduk di depan pusara istrinya.

 

“Cari makam siapa, Mbak?” tanya penjaga makam yang ada di tempat tersebut.

 

“Mmh ... tadi, kayaknya ada Oom saya. Oom saya yang badannya tinggi besar, kulitnya putih, pakai kemeja pendek kotak-kotak warna biru hitam.”

 

“Oh ... yang habis dari makam Almarhumah Ibu Arum?”

 

Bellina menganggukkan kepala. “Bapak kenal dengan dia?”

 

“Suaminya almarhumah ‘kan?”

 

Bellina mengerutkan dahinya. “Dia sering ke sini?”

 

Penjaga makam itu menganggukkan kepala. “Suami dan anak almarhumah sering mengunjungi makam ini.”

 

“Apa Oom saya itu tahu penyebab kematian istrinya?” tanya Bellina.

 

“Tahu, kecelakaan lalu lintas.”

 

Bellina menggigit bibir bawahnya. “Berarti, Oom Adjie nggak amnesia?”

 

“Ada apa, Mbak? Mau jemput Oom-nya ya? Beliau baru aja keluar dari sini.”

 

“Iya, Pak. Saya mau jemput beliau. Mungkin, dia lupa kalau abis telepon saya. Malah pergi sendirian, hehehe.”

 

“Oh.” Penjaga makam itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Masih sempat kalau mau dikejar, Mbak.”

 

“Oke. Terima kasih informasinya, Pak!” tutur Bellina sambil berlalu pergi. Ia melangkah keluar dari pemakaman tersebut. Menyusuri gang dan menghampiri mobilnya yang ia parkir di luar gang makam tersebut.

 

Bellina langsung melajukan mobil menuju rumah keluarga Linandar yang tak jauh dari pemakaman tersebut.

 

“Sore, Ma!” sapa Bellina saat melihat mamanya sedang bersantai sambil membaca majalah.

 

“Sore ...!” balas Melan. “Tumben ke sini jam segini?” tanyanya. Ia memerhatikan Bellina yang terlihat ketakutan. “Kamu kenapa?” lanjutnya.

 

“Oom Adjie, Ma. Oom Adjie ...”

 

“Adjie kenapa?”

 

Bellina menggigit jemari tangannya. “Oom Adjie nggak amnesia, Ma!” serunya.

 

Melan membelalakkan matanya. “Hah!? Kamu tahu dari mana?”

 

“Aku lihat Oom Adjie di makam hari ini.”

 

“Makamnya Arum?”

 

Bellina mengangguk-anggukkan kepala. “Gimana, dong? Oom Adjie cuma pura-pura amnesia. Apa dia mau balas dendam ke keluarga kita?”

 

“Kamu tenang dulu!” pinta Melan.

 

“Aku nggak bisa tenang, Ma! Gimana kalau Oom Adjie ambil alih perusahaan? Gimana kalau kita jatuh miskin? Gimana kalau Yuna dan ayahnya itu lagi ngerencanain sesuatu di belakang kita? Gimana, Ma!?” seru Bellina.

 

“Kamu tenang, Bel!” sentak Melan. “Kayak gini, nggak akan menyelesaikan masalah.”

 

“Oom Adjie bukan orang yang mudah dihadapi. Mama tahu sendiri kalau aku takut sama dia dari dulu. Aku nggak berani lihat Oom Adjie marah. Apalagi kalau sampai dia balas dendam. Bisa aja, dia sama Yuna diam-diam mau menghancurkan keluarga kita. Apalagi mereka bersatu dengan keluarga Hadikusuma,” cerocos Bellina.

 

“Bell, kamu tenang aja! Adjie dan papa kamu itu masih ada hubungan darah. Adjie sangat menyayangi adiknya. Dia nggak mungkin membalas dendamnya ke kita. Biar Mama dan papa kamu yang urus ini semua.”

 

Bellina menghela napas. “Ma, kalau memang Oom Adjie nggak ngerencanain apa pun, kenapa dia harus pura-pura amnesia?”

 

Melan menghela napas sambil berpikir sejenak.

 

“Mama tahu sendiri kalau suaminya si Yuna itu selalu neror aku. Jangan-jangan, mereka memang mau balas dendam dan menghancurkan hidup kita, Ma? Aku nggak mau jadi miskin!”

 

“Kamu tenang, ya! Mama dan papa kamu akan menyelesaikan ini semua. Kamu jangan bertindak gegabah dan selalu hati-hati. Kita nggak pernah tahu rencana mereka.”

 

Bellina menganggukkan kepala. Perasaannya tetap saja gelisah. Apalagi, sekarang Yuna mendapatkan pelindung baru yang selalu ada di sisinya.

 

“Udahlah, kamu nggak perlu khawatir! Mama pasti akan menyelesaikan ini semua,” tutur Melan sambil mengelus lembut pundak Bellina.

 

Bellina menghela napas sambil menatap wajah Melan. “Mama harus lebih berhati-hati lagi dalam menghadapi Oom Adjie kali ini.”

 

Melan menganggukkan kepala sambil tersenyum. “Kamu tahu Mama. Mama nggak akan ngebiarin mereka ngambil semuanya dari kita!” tegasnya.

 

Bellina menganggukkan kepala. Ia berharap kalau semuanya akan baik-baik saja. Ia tidak tahu bagaimana cara menghadapi Yeriko dan Adjie sekaligus. Dua pria kuat yang terus-menerus melindungi Yuna.

 

“Bel, lebih baik kamu fokus untuk program kehamilan kamu. Masalah Adjie, Mama dan papa kamu akan bereskan. Kamu juga harus fokus untuk punya anak lagi. Wilian adalah pewaris satu-satunya Wijaya Group. Kalau sampai kamu nggak ngasih-ngasih keturunan, keluarga Wijaya bisa nendang kamu keluar dari rumah mereka.”

 

Bellina menarik napas dalam-dalam. “Mama tenang aja! Aku pasti akan berusaha buat ngedapetin apa yang aku mau. Nggak akan menyerah gitu aja sampai titik darah penghabisan!”

 

Melan tersenyum bangga menatap wajah puterinya. “Kamu memang yang paling bisa diandalkan. Kamu harus bisa bikin saham keluarga Wijaya itu ... jatuh semua ke tangan keluarga kita!”

 

Bellina menghela napas. Ia terduduk di kursi yang tak jauh dari tempatnya berdiri. “Ma, uang lagi? Harta lagi?”

 

“Bel, kamu nggak usah munafik ya!” sahut Melan. “Baju, sepatu, tas dan semua fasilitas yang kamu dapetin sekarang ... emangnya nggak pakai uang?”

 

“Ya, ya, ya.” Bellina mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sudah mulai jenuh dengan ucapan mamanya yang gila uang. Sementara, ia mencintai Wilian bukan karena uang yang dimilikinya.

 

“Kamu ini ... kalau dikasih tahu orang tua mulai kayak gini, hah!? Kamu mau hidup melarat, hah!?”

 

“Nggak mau, Ma! Tapi, aku nggak buta juga karena uang. Lian udah kasih semuanya buat aku. Status, harta, kesenangan ... cuma cintanya dia aja yang masih ke Yuna terus!”

 

“Kamu sudah berapa lama nikah sama Lian? Kalian udah pacaran tujuh tahun lalu. Masih aja nggak bisa ngendalikan suami kamu itu, hah!?”

 

Bellina menggigit bibirnya. Ia mulai lelah menghadapi kenyataan kalau ia masih hidup dalam bayang-bayang Yuna. Yuna selalu jauh lebih unggul darinya dan hal ini membuat dia semakin kesal. Ia tidak bisa menerima kenyataan kalau Yuna bisa menjalani kehidupan yang jauh lebih baik darinya.

 

“Bel, kalau kamu bisa ngasih keturunan secepatnya. Semua harta keluarga Wijaya bisa kamu kendalikan!”

 

“Iya, Ma,” jawab Bellina tak bersemangat. Ia tak berani berkata jujur pada mamanya sendiri kalau ia sulit untuk hamil sejak ia mengalami keguguran.

 

Melan tersenyum puas menatap Bellina. Walau terkadang sulit, tapi Bellina lebih mudah untuk ia kendalikan jika dibandingkan dengan Yuna yang terus-menerus menolak perintah dan keinginannya.

 

 

 ((Bersambung...))

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas