“Pa ...!” sapa Bellina begitu papanya masuk ke
dalam rumah.
“Eh, Bellina!? Tumben ke sini? Sudah lama nggak
main ke rumah kami.”
“Dia sering ke sini, Papa yang selalu sibuk di
kantor,” jawab Melan sambil tersenyum manis. Ia membantu suaminya itu
melepaskan jasnya.
Tarudi tersenyum kecil. “Maaf, akhir-akhir ini
memang sangat sibuk.”
“Gimana dengan perusahaan?” tanya Melan.
“Baik-baik aja,” jawab Tarudi sambil melepas
dasinya.
Melan menghela napas. “Syukurlah. Mama buatkan
minum dulu!”
Tarudi menganggukkan kepalanya.
“Pa ...!” panggil Bellina yang sudah duduk di
sebelah ayahnya.
“Apa?”
“Tadi, aku ketemu sama Oom Adjie.”
“Oh ya? Ketemu di mana?”
“Nggak ketemu, sih. Aku cuma lihat Oom Adjie masuk
ke area pemakaman Tante Arum. Dia nggak amnesia, Pa.”
“Kamu lihat sendiri!?” tanya Tarudi sambil menoleh
ke arah Bellina.
Bellina menganggukkan kepala.
“Nggak salah lihat orang ‘kan?”
Bellina menggeleng lagi. “Aku nggak salah, Pa. Aku
sudah tanya sama penjaga makam juga. Itu memang Oom Adjie. Dia bahkan ingat
kalau Tante Arum meninggal karena kecelakaan.”
“Ah, mungkin hanya perasaan kamu aja. Bisa jadi,
Yuna memang kasih tahu ayahnya soal ini.”
“Tapi ...”
“Adjie itu sudah koma sejak kecelakaan. Dia nggak
mungkin tahu posisi makam istrinya kalau bukan Yuna yang kasih tahu.”
Bellina terdiam. Ia menggigit bibir sambil
berpikir. “Tapi, dia ingat kejadian kecelakaan sebelas tahun lalu. Dia pasti
ingat gimana Papa ambil alih perusahaan Oom Adjie. Kalau dia mau ambil alih
lagi gimana?”
Tarudi menghela napas. “Kamu nggak perlu sepanik
ini. Yuna dan Oom kamu sudah berjanji kalau mereka tidak akan mengambil alih
perusahaan. Oom kamu sudah mempercayakan perusahaannya di tangan papa.”
“Papa yakin kalau Oom Adjie nggak berbahaya?”
tanya Bellina.
Tarudi menghela napas. “Kamu tenang aja! Dia itu
kakaknya Papa. Papa bisa mengatasi dia.”
“Aku tetap nggak bisa tenang, Pa. Kenapa dia harus
pura-pura amnesia? Dia pasti merencanakan sesuatu di belakang kita.”
Tarudi menghela napasnya. Ia berusaha bersikap
setenang mungkin walau hatinya mulai goyah karena sikap kakaknya yang menyimpan
banyak rahasia setelah kecelakaan sebelas tahun lalu.
“Pa, kita tetap harus berhati-hati. Kita nggak
tahu apa rencana mereka di balik ini semua,” tutur Melan.
Tarudi mengangguk-anggukkan kepala. “Papa mau
mandi dulu,” pamitnya sambil bergegas pergi ke kamarnya.
Belum sampai masuk ke dalam kamar mandi. Ponsel
Tarudi tiba-tiba berdering. Ia melihat layar ponsel, menatap nomor tak dikenal
yang tertera di layar tersebut.
Tarudi menjawab panggilan telepon tersebut. “Halo
...!”
Hening.
“Halo ...!”
Hening.
Tarudi menghela napas karena tak ada suara yang
keluar dari seberang telepon. Ia berniat untuk mematikan telepon tersebut.
“Rudi ...!” Suara berat dari seberang telepon
menyapa Tarudi.
Jantung Tarudi berdetak lebih kencang saat
mendengar suara pria yang sudah tak asing lagi di telinganya.
“Apa kabar, Rudi?”
Tarudi mengelap keringat dingin yang menetes di
pelipisnya.
“Kamu masih ingat sama saya?”
GLEG!
Tarudi menelan ludah mendengar pertanyaan yang
keluar dari mulut pria tersebut.
“Apa kamu ingat kesepakatan yang sudah kita buat?”
tanya suara berat di ujung sana.
Tarudi tak menjawab. Ia langsung mematikan
panggilan telepon dan meletakkan ponselnya di atas meja. Ia mondar-mandir di
dalam kamar sambil berpikir.
“Ah, aku nggak bisa kayak gini terus,” gumamnya.
Ia membasuh wajahnya di kamar mandi sejenak. Kemudian menarik jaket dan keluar
lagi dari kamarnya.
“Papa mau ke mana?” tanya Melan begitu melihat
suaminya terburu-buru.
“Ada urusan, sebentar,” jawab Tarudi sambil
melangkah keluar dari rumahnya. Ia harus memastikan apakah Adjie benar-benar
hilang ingatan atau tidak. Ia tidak ingin menyerahkan perusahaan begitu saja
setelah melakukan banyak hal untuk mendapatkannya.
“Kenapa Papa buru-buru gitu, Ma?” tanya Bellina.
“Mungkin, memang ada urusan penting.”
“Soal Oom Adjie?”
Melan terdiam. “Bukannya papa kamu bilang, semua
akan baik-baik aja? Mungkin, urusan kantor.”
Bellina tersenyum sambil menganggukkan kepala.
“Kamu makan malam di sini ya!” pinta Melan. “Ajak
Lian sekalian!”
“Lian lagi sibuk, Ma.”
“Sibuk apa?”
Bellina mengedikkan bahunya.
“Kamu ini ... bukannya bantuin Lian di perusahaan,
malah nggak tahu apa kesibukan suami kamu sendiri?”
Bellina menghela napas. “Ada masalah dengan
beberapa anak perusahaan Lian. Jadi, dia sibuk mondar-mandir ngurusin masalah
perusahaan.”
“Masalah besar?”
Bellina menganggukkan kepala. “Nggak, kok. Sama
aja seperti sebelumnya. Ada beberapa kendala teknis saat menjalankan proyek
baru.”
“Kamu nggak bantu dia?”
Bellina menggelengkan kepala. “Lian nggak izinkan
aku terjun ke divisi proyek. Jadi, aku santai-santai aja.”
Melan menghela napas sambil tersenyum ke arah
Bellina. “Bel, walau suami kamu itu masih sering deketin Yuna. Dia sayang juga
sama kamu. Pasti, nggak tega lihat kamu capek.”
Bellina menganggukkan kepala.
“Makanya, kamu harus punya anak secepatnya supaya
Lian makin sayang sama kamu. Gimana, kalau dia sampai tertarik sama perempuan
lain lagi?”
“Jangan sampai, Ma!” sahut Bellina.
“Bell, pria sukses itu banyak godaannya. Kamu
harus jaga dia sekuat tenaga biar nggak pergi dari sisi kamu. Laki-laki kayak
Lian, bisa aja suka sama perempuan lain. Sampai sekarang, dia bahkan nggak mau
melupakan si Yuna sialan itu!”
Bellina menghela napas. Ia sudah melakukan banyak
hal untuk Lian, namun pria itu tetap saja tidak mau melepaskan masa lalunya
dengan Yuna. Padahal saat masih menjadi selingkuhan Lian, ia jauh lebih
bahagia.
...
Tarudi terus melangkahkan kakinya memasuki
lingkungan apartemen tempat kakaknya tinggal.
“Malam, Kak Adjie ...!” sapa Tarudi begitu Adjie
membukakan pintu apartemen untuknya.
“Malam ...!” balas Adjie sambil mengamati tubuh
Tarudi.
“Aku beli bir dan beberapa porsi sate. Gimana
kalau kita makan bersama?”
Adjie menatap wajah Tarudi. “Boleh.”
Tarudi tersenyum lebar. Ia langsung masuk ke dalam
apartemen kakaknya tanpa menunggu perintah.
Adjie mengangkat kedua alis sambil mengamati
Tarudi hingga mereka duduk berdua di meja makan. Meski terlihat wajar, ia
merasa sikap adiknya tak biasa.
“Rudi ...!” panggil Adjie lirih.
“Ya.”
“Gimana kondisi perusahaan yang kamu pimpin?”
“Baik. Sangat baik,” jawab Tarudi sambil membuka
botol bir yang ia bawa.
Adjie mengangguk-anggukkan kepala.
“Apa Kakak ingin kembali ke perusahaan?” tanya
Tarudi sambil melirik wajah Adjie.
Adjie menggelengkan kepala. “Yuna tidak akan
membiarkan aku pergi bekerja.”
Tarudi tersenyum sambil mengangguk-anggukkan
kepalanya. “Dia memang anak yang baik dan berbakti.”
Adjie tersenyum sambil menatap adiknya yang sedang
menikmati sate dengan lahap.
“Kak, kalau Yuna mengizinkan ... apa Kakak akan
kembali ke perusahaan?”
“Mungkin, iya.”
DEG!
Jantung Tarudi serasa berhenti berdetak saat
mendengar jawaban dari kakaknya.
“Kenapa?” tanya Adjie.
Tarudi menggeleng-gelengkan kepalanya. “Nggak
papa.”
“Oh.”
Tarudi tersenyum. Ia mengajak kakaknya itu
berbicara banyak hal soal masa lalu mereka untuk memancing ingatan Adjie. Ia
harus menciptakan kebohongan-kebohongan soal pemindahan saham yang ia lakukan
sebelum kakaknya mengalami kecelakaan.

0 komentar:
Post a Comment