Tuesday, March 3, 2026

Perfect Hero Bab 492 : Masih di Bawah Kendali 11 Tahun Lalu

 


“Pa ...!” sapa Bellina begitu papanya masuk ke dalam rumah.

 

“Eh, Bellina!? Tumben ke sini? Sudah lama nggak main ke rumah kami.”

 

“Dia sering ke sini, Papa yang selalu sibuk di kantor,” jawab Melan sambil tersenyum manis. Ia membantu suaminya itu melepaskan jasnya.

 

Tarudi tersenyum kecil. “Maaf, akhir-akhir ini memang sangat sibuk.”

 

“Gimana dengan  perusahaan?” tanya Melan.

 

“Baik-baik aja,” jawab Tarudi sambil melepas dasinya.

 

Melan menghela napas. “Syukurlah. Mama buatkan minum dulu!”

 

Tarudi menganggukkan kepalanya.

 

“Pa ...!” panggil Bellina yang sudah duduk di sebelah ayahnya.

 

“Apa?”

 

“Tadi, aku ketemu sama Oom Adjie.”

 

“Oh ya? Ketemu di mana?”

 

“Nggak ketemu, sih. Aku cuma lihat Oom Adjie masuk ke area pemakaman Tante Arum. Dia nggak amnesia, Pa.”

 

“Kamu lihat sendiri!?” tanya Tarudi sambil menoleh ke arah Bellina.

 

Bellina menganggukkan kepala.

 

“Nggak salah lihat orang ‘kan?”

 

Bellina menggeleng lagi. “Aku nggak salah, Pa. Aku sudah tanya sama penjaga makam juga. Itu memang Oom Adjie. Dia bahkan ingat kalau Tante Arum meninggal karena kecelakaan.”

 

“Ah, mungkin hanya perasaan kamu aja. Bisa jadi, Yuna memang kasih tahu ayahnya soal ini.”

 

“Tapi ...”

 

“Adjie itu sudah koma sejak kecelakaan. Dia nggak mungkin tahu posisi makam istrinya kalau bukan Yuna yang kasih tahu.”

 

Bellina terdiam. Ia menggigit bibir sambil berpikir. “Tapi, dia ingat kejadian kecelakaan sebelas tahun lalu. Dia pasti ingat gimana Papa ambil alih perusahaan Oom Adjie. Kalau dia mau ambil alih lagi gimana?”

 

Tarudi menghela napas. “Kamu nggak perlu sepanik ini. Yuna dan Oom kamu sudah berjanji kalau mereka tidak akan mengambil alih perusahaan. Oom kamu sudah mempercayakan perusahaannya di tangan papa.”

 

“Papa yakin kalau Oom Adjie nggak berbahaya?” tanya Bellina.

 

Tarudi menghela napas. “Kamu tenang aja! Dia itu kakaknya Papa. Papa bisa mengatasi dia.”

 

“Aku tetap nggak bisa tenang, Pa. Kenapa dia harus pura-pura amnesia? Dia pasti merencanakan sesuatu di belakang kita.”

 

Tarudi menghela napasnya. Ia berusaha bersikap setenang mungkin walau hatinya mulai goyah karena sikap kakaknya yang menyimpan banyak rahasia setelah kecelakaan sebelas tahun lalu.

 

“Pa, kita tetap harus berhati-hati. Kita nggak tahu apa rencana mereka di balik ini semua,” tutur Melan.

 

Tarudi mengangguk-anggukkan kepala. “Papa mau mandi dulu,” pamitnya sambil bergegas pergi ke kamarnya.

 

Belum sampai masuk ke dalam kamar mandi. Ponsel Tarudi tiba-tiba berdering. Ia melihat layar ponsel, menatap nomor tak dikenal yang tertera di layar tersebut.

 

Tarudi menjawab panggilan telepon tersebut. “Halo ...!”

 

Hening.

 

“Halo ...!”

 

Hening.

 

Tarudi menghela napas karena tak ada suara yang keluar dari seberang telepon. Ia berniat untuk mematikan telepon tersebut.

 

“Rudi ...!” Suara berat dari seberang telepon menyapa Tarudi.

 

Jantung Tarudi berdetak lebih kencang saat mendengar suara pria yang sudah tak asing lagi di telinganya.

 

“Apa kabar, Rudi?”

 

Tarudi mengelap keringat dingin yang menetes di pelipisnya.

 

“Kamu masih ingat sama saya?”

 

GLEG!

 

Tarudi menelan ludah mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut pria tersebut.

 

“Apa kamu ingat kesepakatan yang sudah kita buat?” tanya suara berat di ujung sana.

 

Tarudi tak menjawab. Ia langsung mematikan panggilan telepon dan meletakkan ponselnya di atas meja. Ia mondar-mandir di dalam kamar sambil berpikir.

 

“Ah, aku nggak bisa kayak gini terus,” gumamnya. Ia membasuh wajahnya di kamar mandi sejenak. Kemudian menarik jaket dan keluar lagi dari kamarnya.

 

“Papa mau ke mana?” tanya Melan begitu melihat suaminya terburu-buru.

 

“Ada urusan, sebentar,” jawab Tarudi sambil melangkah keluar dari rumahnya. Ia harus memastikan apakah Adjie benar-benar hilang ingatan atau tidak. Ia tidak ingin menyerahkan perusahaan begitu saja setelah melakukan banyak hal untuk mendapatkannya.

 

“Kenapa Papa buru-buru gitu, Ma?” tanya Bellina.

 

“Mungkin, memang ada urusan penting.”

 

“Soal Oom Adjie?”

 

Melan terdiam. “Bukannya papa kamu bilang, semua akan baik-baik aja? Mungkin, urusan kantor.”

 

Bellina tersenyum sambil menganggukkan kepala.

 

“Kamu makan malam di sini ya!” pinta Melan. “Ajak Lian sekalian!”

 

“Lian lagi sibuk, Ma.”

 

“Sibuk apa?”

 

Bellina mengedikkan bahunya.

 

“Kamu ini ... bukannya bantuin Lian di perusahaan, malah nggak tahu apa kesibukan suami kamu sendiri?”

 

Bellina menghela napas. “Ada masalah dengan beberapa anak perusahaan Lian. Jadi, dia sibuk mondar-mandir ngurusin masalah perusahaan.”

 

“Masalah besar?”

 

Bellina menganggukkan kepala. “Nggak, kok. Sama aja seperti sebelumnya. Ada beberapa kendala teknis saat menjalankan proyek baru.”

 

“Kamu nggak bantu dia?”

 

Bellina menggelengkan kepala. “Lian nggak izinkan aku terjun ke divisi proyek. Jadi, aku santai-santai aja.”

 

Melan menghela napas sambil tersenyum ke arah Bellina. “Bel, walau suami kamu itu masih sering deketin Yuna. Dia sayang juga sama kamu. Pasti, nggak tega lihat kamu capek.”

 

Bellina menganggukkan kepala.

 

“Makanya, kamu harus punya anak secepatnya supaya Lian makin sayang sama kamu. Gimana, kalau dia sampai tertarik sama perempuan lain lagi?”

 

“Jangan sampai, Ma!” sahut Bellina.

 

“Bell, pria sukses itu banyak godaannya. Kamu harus jaga dia sekuat tenaga biar nggak pergi dari sisi kamu. Laki-laki kayak Lian, bisa aja suka sama perempuan lain. Sampai sekarang, dia bahkan nggak mau melupakan si Yuna sialan itu!”

 

Bellina menghela napas. Ia sudah melakukan banyak hal untuk Lian, namun pria itu tetap saja tidak mau melepaskan masa lalunya dengan Yuna. Padahal saat masih menjadi selingkuhan Lian, ia jauh lebih bahagia.

 

 

 

...

 

 

 

Tarudi terus melangkahkan kakinya memasuki lingkungan apartemen tempat kakaknya tinggal.

 

“Malam, Kak Adjie ...!” sapa Tarudi begitu Adjie membukakan pintu apartemen untuknya.

 

“Malam ...!” balas Adjie sambil mengamati tubuh Tarudi.

 

“Aku beli bir dan beberapa porsi sate. Gimana kalau kita makan bersama?”

 

Adjie menatap wajah Tarudi. “Boleh.”

 

Tarudi tersenyum lebar. Ia langsung masuk ke dalam apartemen kakaknya tanpa menunggu perintah.

 

Adjie mengangkat kedua alis sambil mengamati Tarudi hingga mereka duduk berdua di meja makan. Meski terlihat wajar, ia merasa sikap adiknya tak biasa.

 

“Rudi ...!” panggil Adjie lirih.

 

“Ya.”

 

“Gimana kondisi perusahaan yang kamu pimpin?”

 

“Baik. Sangat baik,” jawab Tarudi sambil membuka botol bir yang ia bawa.

 

Adjie mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Apa Kakak ingin kembali ke perusahaan?” tanya Tarudi sambil melirik wajah Adjie.

 

Adjie menggelengkan kepala. “Yuna tidak akan membiarkan aku pergi bekerja.”

 

Tarudi tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Dia memang anak yang baik dan berbakti.”

 

Adjie tersenyum sambil menatap adiknya yang sedang menikmati sate dengan lahap.

 

“Kak, kalau Yuna mengizinkan ... apa Kakak akan kembali ke perusahaan?”

 

“Mungkin, iya.”

 

DEG!

 

Jantung Tarudi serasa berhenti berdetak saat mendengar jawaban dari kakaknya.

 

“Kenapa?” tanya Adjie.

 

Tarudi menggeleng-gelengkan kepalanya. “Nggak papa.”

 

“Oh.”

 

Tarudi tersenyum. Ia mengajak kakaknya itu berbicara banyak hal soal masa lalu mereka untuk memancing ingatan Adjie. Ia harus menciptakan kebohongan-kebohongan soal pemindahan saham yang ia lakukan sebelum kakaknya mengalami kecelakaan.

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas