Tuesday, March 3, 2026

Perfect Hero Bab 493 : Semakin Khawatir

 


“Selamat sore ...!” sapa Melan saat Yuna membukakan pintu rumahnya. Di hari berikutnya, ia  dan Tarudi sengaja mengunjungi rumah Yuna sambil membawakan hadiah.

 

“Tante, Oom?” Yuna melebarkan kelopak matanya begitu melihat Tarudi dan Melan sudah berdiri di depan pintu.

 

“Kenapa pas banget aku buka pintu, mereka nongol kayak jin?” tanya Yuna dalam hati.

 

Melan tersenyum manis sambil menatap Yuna. “Apa kabar?”

 

“Baik, Tante. Mmh ... silakan masuk, Oom!”

 

Melan dan Tarudi menganggukkan kepala sambil melangkah masuk ke dalam rumah yang dilengkapi dengan furniture mewah yang tersusun rapi dan artistik.

 

“Silakan duduk, Tante, Oom!”

 

Tarudi dan Melan langsung duduk di sofa yang ada di dalam ruang tamu tersebut.

 

“Ini ... kami bawakan hadiah untuk kamu,” tutur Melan sambil meletakkan beberapa paper bag ke atas meja.

 

Yuna langsung menatap paper bag yang ada di atas meja tersebut. Ia merasa kalau kedatangan dua orang keluarganya ini ada maksud tersembunyi.

 

Melan terus tersenyum manis ke arah Yuna.

 

Yuna ikut memaksakan bibirnya tersenyum. “Oom, seharusnya nggak perlu repot bawakan hadiah. Kalau mau ke sini, ya ke sini aja!”

 

Tarudi tertawa kecil menanggapi ucapan Yuna. “Sudah lama Oom tidak melihat keadaan kamu. Masa ke sini tidak bawa apa-apa? Ini juga Oom bawakan hadiah untuk ayah kamu.”

 

“Aku dan ayah nggak memerlukan hadiah ini, Oom. Sebaiknya, hadiah ini kalian bawa pulang saja!” pinta Yuna sambil tersenyum manis.

 

Tarudi menarik napas dalam-dalam. Ia mulai resah menghadapi Yuna yang jelas-jelas statusnya jauh lebih tinggi dari keluarganya.

 

“Kamu menolak pemberian kami karena barang yang kami beri nggak ada harganya?” tanya Melan.

 

Yuna menarik napas dalam-dalam. “Ini Maleficent mulai cari gara-gara lagi sama aku?” batinnya. Ia berusaha tetap tersenyum sambil menahan kekesalan dalam hatinya.

 

“Kamu sekarang bisa sombong karena sudah jadi menantu dari keluarga yang kaya raya? Kamu nggak ingat, beberapa bulan lalu kamu masih jadi gembel di jalanan?” tanya Melan.

 

Yuna langsung memutar kepalanya. Ia khawatir kalau ayahnya yang sedang berada di teras belakang, akan mendengar suara Oom dan Tantenya itu.

 

“Ma, hati-hati kalau bicara! Wajar saja kalau kehidupan Yuna yang sekarang sudah berubah,” tutur Tarudi lembut.

 

Melan menatap wajah Yuna penuh kebencian. Ia masih sangat kesal karena keponakan yang sudah susah payah ia beri makan selama bertahun-tahun, selalu saja membangkang, bahkan menyerang dirinya.

 

“Tante sudah mengenal aku selama bertahun-tahun. Aku juga sudah mengenal Tante selama bertahun-tahun. Apa Tante pikir, aku nggak tahu apa maksud terselubung di balik hadiah-hadiah ini?”

 

Melan membelalakkan matanya sambil menatap Yuna. “Kamu ...!? Bener-bener nggak mau menghargai pemberian kami?”

 

“Tante lupa, apa yang terakhir kali Tante buat saat masuk ke rumah ini? Aku sama sekali nggak menangkap niat baik Tante. Tante ke sini cuma mau bikin onar di rumahku,” sahut Yuna.

 

“Kalau kamu nggak bersikap sombong kayak gini. Aku nggak akan emosi!” seru Melan.

 

Yuna tertawa kecil menanggapi ucapan Melan. “Aku sombong? Bukannya selama ini Tante yang selalu sombong?” tanyanya.

 

Melan semakin kesal mendengar pertanyaan Yuna.

 

“Kenapa? Tante baru sadar kalau ada orang lain yang lebih kaya dari kekayaan yang kalian bangga-banggakan itu? Aku nggak akan membalas perlakuan Tante ke aku selama ini. Tapi ... aku nggak akan pernah melupakan seumur hidupku!” tegas Yuna sambil menatap tajam ke arah Melan.

 

“Dasar, anak nggak tahu diri!” seru Melan.

 

“Ada apa ini?” tanya Adjie yang tiba-tiba sudah muncul di belakang Yuna. Ia langsung duduk di salah satu sofa yang kosong.

 

“Selamat Sore, Kak Adjie!” sapa Tarudi sambil tersenyum ke arah kakaknya.

 

Adjie hanya mengangguk kecil sambil menatap kedatangan adik dan istrinya itu. “Kalian dari rumah?” tanyanya.

 

Tarudi dan Melan mengangguk sambil tersenyum. Mereka terlihat bahagia karena Adjie lebih menerima kehadirannya daripada keponakannya sendiri.

 

“Ada apa?” tanya Adjie. Ia tidak begitu suka basa-basi dan menginginkan adiknya segera mengungkapkan maksud kedatangannya kali ini. Karena semalam, Tarudi sudah berbasa-basi, mengajaknya menikmati sate dan bir tanpa ia ketahui maksud sebenarnya.

 

Tarudi menghela napas sambil menatap wajah Adjie. “Kami ke sini karena ada hal yang ingin kami tanyakan.”

 

“Apa?” tanya Adjie.

 

“Kemarin, Bellina melihat kamu pergi ke makam Arum. Apa itu benar?” tanya Tarudi.

 

Yuna langsung menoleh ke arah Adjie begitu mendengar pertanyaan dari Tarudi. “Bener, Yah?”

 

Adjie menganggukkan kepala.

 

“Ayah sudah ingat sama Bunda?” tanya Adjie.

 

Adjie menggelengkan kepala. “Ayah hanya bermimpi kalau Bunda kamu selalu mengajak Ayah bercerita tentang banyak hal.”

 

“Oh, aku pikir ... ingatan kamu tentang Arum sudah kembali,” sahut Tarudi.

 

Adjie menghela napas panjang. “Aku akan berusaha mencari ingatanku tentang dia. Sebab, dia adalah ibu dari puteri kesayanganku.”

 

Tarudi terdiam. Perasaannya sangat sakit ketika mendengar ucapan Adjie. Ia teringat bagaimana masa lalunya dengan Adjie dan Arum.

 

Melan melirik wajah suaminya. Ia tidak bisa membaca apa yang ada di dalam hati suaminya itu. Ia tidak peduli dengan perasaan Tarudi saat ini. Ia sudah merasa menang dan bahagia karena Arum sudah mati. Tak ada lagi wanita yang selalu mengganggu perasaan suaminya itu.

 

“Kak, aku ke sini mau membicarakan masalah perusahaan,” tutur Tarudi.

 

“Ada apa dengan perusahaan kamu?”

 

Tarudi menarik napas dalam-dalam. Kata ‘kamu’ yang ditujukan sebagai pemilik perusahaan, membuatnya merasa sedikit lega. Ia sangat berharap kalau kakaknya tidak mengambil alih kendali perusahaan keluarga Lin.

 

Yuna hanya menatap wajah paman dan bibinya yang menyiratkan niat tersembunyi. Ia masih tidak mengerti kenapa keduanya kerap kali mengusik hidup ayahnya.

 

“Perusahaan dalam keadaan sangat baik. Hanya saja ... mmh ... mmh ...”

 

“Langsung aja!” perintah Adjie.

 

“Apa Kak Adjie ingin mengendalikan perusahaan lagi?” tanya Tarudi perlahan.

 

Yuna tertawa kecil mendengar pertanyaan dari pamannya. “Oom ... jadi, Oom ke sini cuma karena takut kalau ayahku akan mengendalikan perusahaan lagi?”

 

Tarudi menghela napas. “Bukankah kamu juga sudah merelakan perusahaan keluarga Lin ada di tanganku?”

 

Yuna tersenyum sinis. “Ambil aja, Oom! Perusahaan suamiku jauh lebih besar. Aku nggak mungkin ngejar-ngejar perusahaan kecil itu.”

 

“Perusahaan kecil? Kamu sombong banget!?” sahut Melan kesal.

 

Yuna tertawa kecil menanggapi ucapan tantenya. “Tante ... apa Tante nggak tahu kalau Oom Rudi sudah menjual salah satu anak perusahaannya karena defisit selama berbulan-bulan.”

 

Melan melebarkan kelopak matanya. Ia langsung menoleh ke arah Tarudi yang duduk di sampingnya. “Bener?”

 

Tarudi menggelengkan kepala. “Nggak bener. Dia cuma bohong!”

 

Yuna tertawa kecil. “Aku yang bohong atau Oom Rudi yang bohong?” tanya Yuna sambil tersenyum santai.

 

“Kamu mau nyembunyikan masalah perusahaan dari aku?” tanya Melan.

 

“Nggak, Ma. Ini semua nggak bener!” sahut Tarudi.

 

Yuna menyunggingkan setengah senyum di bibirnya. Ia merasa puas melihat Melan mulai ketakutan saat mengetahui kondisi perusahaan keluarganya.

 

“Sebaiknya, kalian bicarakan masalah perusahaan ini di rumah kalian saja! Jangan membuat keributan di sini!” pinta Adjie.

 

Yuna langsung mengejek dua orang yang di hadapannya menggunakan ekspresi wajahnya.

 

Melan mendengus kesal ke arah Yuna dan Adjie. “Ayo, Pa. Kita pulang!” ajaknya.

 

Tarudi menganggukkan kepala. Ia tidak berani membantah keinginan istrinya. Ia juga tidak bisa berlama-lama di dalam ruangan itu karena Yuna terus-menerus menyerang perusahaannya. Ia sangat khawatir karena ucapan Yuna hampir benar. Salah satu anak perusahaannya mengalami defisit, tapi belum sampai menjual anak perusahaan tersebut.

 

“Kamu tahu dari mana kalau anak perusahaan Rudi mengalami defisit?” tanya Adjie sambil menatap Yuna.

 

“Aku baca di berita. Tapi, belum sampai dijual,” jawab Yuna.

 

“Kamu bohongi tante kamu sendiri?”

 

Yuna menganggukkan kepala sambil tersenyum. “Ayah lihat sendiri gimana mukanya dia waktu aku bilang kalau Oom Rudi jual anak perusahaan. Dia udah ketakutan gitu,” jawab Yuna sambil tertawa kecil.

 

Adjie menggeleng-gelengkan kepala. “Kelakuan jahil kamu itu nggak hilang-hilang sejak masih kecil.”

 

Yuna meringis sambil menatap ayahnya. Ia sangat mengenal paman dan bibinya yang kerap memperlakukannya dengan kejam. Ia harus bisa menghadapinya dengan cara yang lebih elegan, tidak lagi menjadi Yuna setahun lalu yang selalu meluapkan emosinya dengan menggebu-gebu.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini, jangan lupa kasih Star Vote biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas