Bellina menatap tubuh Adjie dari kejauhan. “Kok,
Oom Adjie bisa ke makam sih?” Hatinya masih saja mempertanyakan hal yang sama.
Bellina menghela napas dan melangkahkan kakinya
pergi dari pemakaman tersebut. Tapi hatinya masih saja bertanya-tanya karena
yang ia ketahui, Adjie mengalami amnesia akibat kecelakaan sebelas tahun lalu.
“Huft, aku harus pastikan apa yang terjadi
sebenarnya,” tutur Bellina sambil membalikkan tubuhnya dan kembali ke
pemakaman.
Bellina mengedarkan pandangannya. Ia menatap
pusara Arum yang sudah kosong, tak ada lagi sosok Adjie di sana. Ia terus
berkeliling mencari Adjie yang tadi duduk di depan pusara istrinya.
“Cari makam siapa, Mbak?” tanya penjaga makam yang
ada di tempat tersebut.
“Mmh ... tadi, kayaknya ada Oom saya. Oom saya
yang badannya tinggi besar, kulitnya putih, pakai kemeja pendek kotak-kotak
warna biru hitam.”
“Oh ... yang habis dari makam Almarhumah Ibu
Arum?”
Bellina menganggukkan kepala. “Bapak kenal dengan
dia?”
“Suaminya almarhumah ‘kan?”
Bellina mengerutkan dahinya. “Dia sering ke sini?”
Penjaga makam itu menganggukkan kepala. “Suami dan
anak almarhumah sering mengunjungi makam ini.”
“Apa Oom saya itu tahu penyebab kematian
istrinya?” tanya Bellina.
“Tahu, kecelakaan lalu lintas.”
Bellina menggigit bibir bawahnya. “Berarti, Oom
Adjie nggak amnesia?”
“Ada apa, Mbak? Mau jemput Oom-nya ya? Beliau baru
aja keluar dari sini.”
“Iya, Pak. Saya mau jemput beliau. Mungkin, dia
lupa kalau abis telepon saya. Malah pergi sendirian, hehehe.”
“Oh.” Penjaga makam itu mengangguk-anggukkan
kepalanya. “Masih sempat kalau mau dikejar, Mbak.”
“Oke. Terima kasih informasinya, Pak!” tutur
Bellina sambil berlalu pergi. Ia melangkah keluar dari pemakaman tersebut.
Menyusuri gang dan menghampiri mobilnya yang ia parkir di luar gang makam
tersebut.
Bellina langsung melajukan mobil menuju rumah
keluarga Linandar yang tak jauh dari pemakaman tersebut.
“Sore, Ma!” sapa Bellina saat melihat mamanya
sedang bersantai sambil membaca majalah.
“Sore ...!” balas Melan. “Tumben ke sini jam
segini?” tanyanya. Ia memerhatikan Bellina yang terlihat ketakutan. “Kamu
kenapa?” lanjutnya.
“Oom Adjie, Ma. Oom Adjie ...”
“Adjie kenapa?”
Bellina menggigit jemari tangannya. “Oom Adjie
nggak amnesia, Ma!” serunya.
Melan membelalakkan matanya. “Hah!? Kamu tahu dari
mana?”
“Aku lihat Oom Adjie di makam hari ini.”
“Makamnya Arum?”
Bellina mengangguk-anggukkan kepala. “Gimana,
dong? Oom Adjie cuma pura-pura amnesia. Apa dia mau balas dendam ke keluarga
kita?”
“Kamu tenang dulu!” pinta Melan.
“Aku nggak bisa tenang, Ma! Gimana kalau Oom Adjie
ambil alih perusahaan? Gimana kalau kita jatuh miskin? Gimana kalau Yuna dan
ayahnya itu lagi ngerencanain sesuatu di belakang kita? Gimana, Ma!?” seru
Bellina.
“Kamu tenang, Bel!” sentak Melan. “Kayak gini,
nggak akan menyelesaikan masalah.”
“Oom Adjie bukan orang yang mudah dihadapi. Mama
tahu sendiri kalau aku takut sama dia dari dulu. Aku nggak berani lihat Oom
Adjie marah. Apalagi kalau sampai dia balas dendam. Bisa aja, dia sama Yuna
diam-diam mau menghancurkan keluarga kita. Apalagi mereka bersatu dengan
keluarga Hadikusuma,” cerocos Bellina.
“Bell, kamu tenang aja! Adjie dan papa kamu itu
masih ada hubungan darah. Adjie sangat menyayangi adiknya. Dia nggak mungkin
membalas dendamnya ke kita. Biar Mama dan papa kamu yang urus ini semua.”
Bellina menghela napas. “Ma, kalau memang Oom
Adjie nggak ngerencanain apa pun, kenapa dia harus pura-pura amnesia?”
Melan menghela napas sambil berpikir sejenak.
“Mama tahu sendiri kalau suaminya si Yuna itu
selalu neror aku. Jangan-jangan, mereka memang mau balas dendam dan
menghancurkan hidup kita, Ma? Aku nggak mau jadi miskin!”
“Kamu tenang, ya! Mama dan papa kamu akan
menyelesaikan ini semua. Kamu jangan bertindak gegabah dan selalu hati-hati.
Kita nggak pernah tahu rencana mereka.”
Bellina menganggukkan kepala. Perasaannya tetap
saja gelisah. Apalagi, sekarang Yuna mendapatkan pelindung baru yang selalu ada
di sisinya.
“Udahlah, kamu nggak perlu khawatir! Mama pasti
akan menyelesaikan ini semua,” tutur Melan sambil mengelus lembut pundak
Bellina.
Bellina menghela napas sambil menatap wajah Melan.
“Mama harus lebih berhati-hati lagi dalam menghadapi Oom Adjie kali ini.”
Melan menganggukkan kepala sambil tersenyum. “Kamu
tahu Mama. Mama nggak akan ngebiarin mereka ngambil semuanya dari kita!”
tegasnya.
Bellina menganggukkan kepala. Ia berharap kalau
semuanya akan baik-baik saja. Ia tidak tahu bagaimana cara menghadapi Yeriko
dan Adjie sekaligus. Dua pria kuat yang terus-menerus melindungi Yuna.
“Bel, lebih baik kamu fokus untuk program
kehamilan kamu. Masalah Adjie, Mama dan papa kamu akan bereskan. Kamu juga
harus fokus untuk punya anak lagi. Wilian adalah pewaris satu-satunya Wijaya
Group. Kalau sampai kamu nggak ngasih-ngasih keturunan, keluarga Wijaya bisa
nendang kamu keluar dari rumah mereka.”
Bellina menarik napas dalam-dalam. “Mama tenang
aja! Aku pasti akan berusaha buat ngedapetin apa yang aku mau. Nggak akan
menyerah gitu aja sampai titik darah penghabisan!”
Melan tersenyum bangga menatap wajah puterinya.
“Kamu memang yang paling bisa diandalkan. Kamu harus bisa bikin saham keluarga
Wijaya itu ... jatuh semua ke tangan keluarga kita!”
Bellina menghela napas. Ia terduduk di kursi yang
tak jauh dari tempatnya berdiri. “Ma, uang lagi? Harta lagi?”
“Bel, kamu nggak usah munafik ya!” sahut Melan.
“Baju, sepatu, tas dan semua fasilitas yang kamu dapetin sekarang ... emangnya
nggak pakai uang?”
“Ya, ya, ya.” Bellina mengangguk-anggukkan
kepalanya. Ia sudah mulai jenuh dengan ucapan mamanya yang gila uang.
Sementara, ia mencintai Wilian bukan karena uang yang dimilikinya.
“Kamu ini ... kalau dikasih tahu orang tua mulai
kayak gini, hah!? Kamu mau hidup melarat, hah!?”
“Nggak mau, Ma! Tapi, aku nggak buta juga karena
uang. Lian udah kasih semuanya buat aku. Status, harta, kesenangan ... cuma
cintanya dia aja yang masih ke Yuna terus!”
“Kamu sudah berapa lama nikah sama Lian? Kalian
udah pacaran tujuh tahun lalu. Masih aja nggak bisa ngendalikan suami kamu itu,
hah!?”
Bellina menggigit bibirnya. Ia mulai lelah
menghadapi kenyataan kalau ia masih hidup dalam bayang-bayang Yuna. Yuna selalu
jauh lebih unggul darinya dan hal ini membuat dia semakin kesal. Ia tidak bisa
menerima kenyataan kalau Yuna bisa menjalani kehidupan yang jauh lebih baik
darinya.
“Bel, kalau kamu bisa ngasih keturunan secepatnya.
Semua harta keluarga Wijaya bisa kamu kendalikan!”
“Iya, Ma,” jawab Bellina tak bersemangat. Ia tak
berani berkata jujur pada mamanya sendiri kalau ia sulit untuk hamil sejak ia
mengalami keguguran.
Melan tersenyum puas menatap Bellina. Walau
terkadang sulit, tapi Bellina lebih mudah untuk ia kendalikan jika dibandingkan
dengan Yuna yang terus-menerus menolak perintah dan keinginannya.
((Bersambung...))

0 komentar:
Post a Comment