Tuesday, March 3, 2026

Perfect Hero Bab 491 : Mulai Resah

 


Bellina menatap tubuh Adjie dari kejauhan. “Kok, Oom Adjie bisa ke makam sih?” Hatinya masih saja mempertanyakan hal yang sama.

 

Bellina menghela napas dan melangkahkan kakinya pergi dari pemakaman tersebut. Tapi hatinya masih saja bertanya-tanya karena yang ia ketahui, Adjie mengalami amnesia akibat kecelakaan sebelas tahun lalu.

 

“Huft, aku harus pastikan apa yang terjadi sebenarnya,” tutur Bellina sambil membalikkan tubuhnya dan kembali ke pemakaman.

 

Bellina mengedarkan pandangannya. Ia menatap pusara Arum yang sudah kosong, tak ada lagi sosok Adjie di sana. Ia terus berkeliling mencari Adjie yang tadi duduk di depan pusara istrinya.

 

“Cari makam siapa, Mbak?” tanya penjaga makam yang ada di tempat tersebut.

 

“Mmh ... tadi, kayaknya ada Oom saya. Oom saya yang badannya tinggi besar, kulitnya putih, pakai kemeja pendek kotak-kotak warna biru hitam.”

 

“Oh ... yang habis dari makam Almarhumah Ibu Arum?”

 

Bellina menganggukkan kepala. “Bapak kenal dengan dia?”

 

“Suaminya almarhumah ‘kan?”

 

Bellina mengerutkan dahinya. “Dia sering ke sini?”

 

Penjaga makam itu menganggukkan kepala. “Suami dan anak almarhumah sering mengunjungi makam ini.”

 

“Apa Oom saya itu tahu penyebab kematian istrinya?” tanya Bellina.

 

“Tahu, kecelakaan lalu lintas.”

 

Bellina menggigit bibir bawahnya. “Berarti, Oom Adjie nggak amnesia?”

 

“Ada apa, Mbak? Mau jemput Oom-nya ya? Beliau baru aja keluar dari sini.”

 

“Iya, Pak. Saya mau jemput beliau. Mungkin, dia lupa kalau abis telepon saya. Malah pergi sendirian, hehehe.”

 

“Oh.” Penjaga makam itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Masih sempat kalau mau dikejar, Mbak.”

 

“Oke. Terima kasih informasinya, Pak!” tutur Bellina sambil berlalu pergi. Ia melangkah keluar dari pemakaman tersebut. Menyusuri gang dan menghampiri mobilnya yang ia parkir di luar gang makam tersebut.

 

Bellina langsung melajukan mobil menuju rumah keluarga Linandar yang tak jauh dari pemakaman tersebut.

 

“Sore, Ma!” sapa Bellina saat melihat mamanya sedang bersantai sambil membaca majalah.

 

“Sore ...!” balas Melan. “Tumben ke sini jam segini?” tanyanya. Ia memerhatikan Bellina yang terlihat ketakutan. “Kamu kenapa?” lanjutnya.

 

“Oom Adjie, Ma. Oom Adjie ...”

 

“Adjie kenapa?”

 

Bellina menggigit jemari tangannya. “Oom Adjie nggak amnesia, Ma!” serunya.

 

Melan membelalakkan matanya. “Hah!? Kamu tahu dari mana?”

 

“Aku lihat Oom Adjie di makam hari ini.”

 

“Makamnya Arum?”

 

Bellina mengangguk-anggukkan kepala. “Gimana, dong? Oom Adjie cuma pura-pura amnesia. Apa dia mau balas dendam ke keluarga kita?”

 

“Kamu tenang dulu!” pinta Melan.

 

“Aku nggak bisa tenang, Ma! Gimana kalau Oom Adjie ambil alih perusahaan? Gimana kalau kita jatuh miskin? Gimana kalau Yuna dan ayahnya itu lagi ngerencanain sesuatu di belakang kita? Gimana, Ma!?” seru Bellina.

 

“Kamu tenang, Bel!” sentak Melan. “Kayak gini, nggak akan menyelesaikan masalah.”

 

“Oom Adjie bukan orang yang mudah dihadapi. Mama tahu sendiri kalau aku takut sama dia dari dulu. Aku nggak berani lihat Oom Adjie marah. Apalagi kalau sampai dia balas dendam. Bisa aja, dia sama Yuna diam-diam mau menghancurkan keluarga kita. Apalagi mereka bersatu dengan keluarga Hadikusuma,” cerocos Bellina.

 

“Bell, kamu tenang aja! Adjie dan papa kamu itu masih ada hubungan darah. Adjie sangat menyayangi adiknya. Dia nggak mungkin membalas dendamnya ke kita. Biar Mama dan papa kamu yang urus ini semua.”

 

Bellina menghela napas. “Ma, kalau memang Oom Adjie nggak ngerencanain apa pun, kenapa dia harus pura-pura amnesia?”

 

Melan menghela napas sambil berpikir sejenak.

 

“Mama tahu sendiri kalau suaminya si Yuna itu selalu neror aku. Jangan-jangan, mereka memang mau balas dendam dan menghancurkan hidup kita, Ma? Aku nggak mau jadi miskin!”

 

“Kamu tenang, ya! Mama dan papa kamu akan menyelesaikan ini semua. Kamu jangan bertindak gegabah dan selalu hati-hati. Kita nggak pernah tahu rencana mereka.”

 

Bellina menganggukkan kepala. Perasaannya tetap saja gelisah. Apalagi, sekarang Yuna mendapatkan pelindung baru yang selalu ada di sisinya.

 

“Udahlah, kamu nggak perlu khawatir! Mama pasti akan menyelesaikan ini semua,” tutur Melan sambil mengelus lembut pundak Bellina.

 

Bellina menghela napas sambil menatap wajah Melan. “Mama harus lebih berhati-hati lagi dalam menghadapi Oom Adjie kali ini.”

 

Melan menganggukkan kepala sambil tersenyum. “Kamu tahu Mama. Mama nggak akan ngebiarin mereka ngambil semuanya dari kita!” tegasnya.

 

Bellina menganggukkan kepala. Ia berharap kalau semuanya akan baik-baik saja. Ia tidak tahu bagaimana cara menghadapi Yeriko dan Adjie sekaligus. Dua pria kuat yang terus-menerus melindungi Yuna.

 

“Bel, lebih baik kamu fokus untuk program kehamilan kamu. Masalah Adjie, Mama dan papa kamu akan bereskan. Kamu juga harus fokus untuk punya anak lagi. Wilian adalah pewaris satu-satunya Wijaya Group. Kalau sampai kamu nggak ngasih-ngasih keturunan, keluarga Wijaya bisa nendang kamu keluar dari rumah mereka.”

 

Bellina menarik napas dalam-dalam. “Mama tenang aja! Aku pasti akan berusaha buat ngedapetin apa yang aku mau. Nggak akan menyerah gitu aja sampai titik darah penghabisan!”

 

Melan tersenyum bangga menatap wajah puterinya. “Kamu memang yang paling bisa diandalkan. Kamu harus bisa bikin saham keluarga Wijaya itu ... jatuh semua ke tangan keluarga kita!”

 

Bellina menghela napas. Ia terduduk di kursi yang tak jauh dari tempatnya berdiri. “Ma, uang lagi? Harta lagi?”

 

“Bel, kamu nggak usah munafik ya!” sahut Melan. “Baju, sepatu, tas dan semua fasilitas yang kamu dapetin sekarang ... emangnya nggak pakai uang?”

 

“Ya, ya, ya.” Bellina mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sudah mulai jenuh dengan ucapan mamanya yang gila uang. Sementara, ia mencintai Wilian bukan karena uang yang dimilikinya.

 

“Kamu ini ... kalau dikasih tahu orang tua mulai kayak gini, hah!? Kamu mau hidup melarat, hah!?”

 

“Nggak mau, Ma! Tapi, aku nggak buta juga karena uang. Lian udah kasih semuanya buat aku. Status, harta, kesenangan ... cuma cintanya dia aja yang masih ke Yuna terus!”

 

“Kamu sudah berapa lama nikah sama Lian? Kalian udah pacaran tujuh tahun lalu. Masih aja nggak bisa ngendalikan suami kamu itu, hah!?”

 

Bellina menggigit bibirnya. Ia mulai lelah menghadapi kenyataan kalau ia masih hidup dalam bayang-bayang Yuna. Yuna selalu jauh lebih unggul darinya dan hal ini membuat dia semakin kesal. Ia tidak bisa menerima kenyataan kalau Yuna bisa menjalani kehidupan yang jauh lebih baik darinya.

 

“Bel, kalau kamu bisa ngasih keturunan secepatnya. Semua harta keluarga Wijaya bisa kamu kendalikan!”

 

“Iya, Ma,” jawab Bellina tak bersemangat. Ia tak berani berkata jujur pada mamanya sendiri kalau ia sulit untuk hamil sejak ia mengalami keguguran.

 

Melan tersenyum puas menatap Bellina. Walau terkadang sulit, tapi Bellina lebih mudah untuk ia kendalikan jika dibandingkan dengan Yuna yang terus-menerus menolak perintah dan keinginannya.

 

 

 ((Bersambung...))

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas